Episode 14 - Menyusup ke Markas Alactrus


Perjalanan dilanjutkan. Shiang Li, Ge Yan, dan Han Bing berlari dengan ilmu percepatan diri. Beberapa jebakan juga masih menghantui, tapi mereka sekarang bersikap lebih hati-hati. Akhirnya, mereka mencapai ujung lembah. Namun, ternyata itu adalah jalan buntu, atau setidaknya orang normal akan berpikir demikian...

“Sepuluh pedang!” seru Shiang Li.

“Tuan Shiang, biarkan kami saja yang menghancurkan penghalang!” Ge Yan mencegah Shiang Li membuang kekuatan. 

Kemudian, Ge Yan melempar chakram ke arah depan. Chakram itu berhenti dan mengambang tepat di depan jalan buntu. Lalu, sebuah nyala api besar tiba-tiba mengelilingi seluruh chakram. Sekarang, ini terlihat ceperti cincin api besar yang terbakar. Melihatnya, Shiang Li pun meniadakan sepuluh pedang yang sempat terbentuk. Ia merasa kedua orang ini bisa sedikit berguna.

“Han Bing, lakukan!” seru Ge Yan.

“Hiyaaaaa!” Han Bing berlari lebih cepat menuju kobaran api. Ia memfokuskan tenaga dalam di tangan kanan, lalu...

“Duuummm!” Han Bing memukul tepat di tengah lubang chakram. Namun, ini bukanlah hal konyol. Gelombang kejut dari pukulan Han Bing bersatu dengan kobaran api dari chakram dan gabungan itu seolah membentuk tubuh seekor ular api yang menerjang dinding batu.

Duaaak! Ledakan besar terdengar. Segel sihir yang dipasang pada dinding batu tak bisa menahan lonjakan energi yang kuat. Namun, ular api tak berhenti sampai di sini, ia terus menerjang ke dalam menuju lorong-lorong berliku dan membunuh beberapa orang yang berjaga.

“Ada penyusup!”

“Semua siaga!”

“Gerbang depan telah hancur!”

“Cepat, cepat, ambil posisi!”

“Tunggu, tunggu, aku sedang pipis!”

“Siapa yang peduli? Kau mau mati?”

“Iya, iya, ah... celanaku basah! Gara-gara kau aku kencing di celana, kan?”

“Hoi, serius, kita sedang di serang!”

“Iya, iya...”

Hiruk pikuk terjadi di dalam markas pusat Alactrus. Sebuah serangan dadakan membuat semua orang panik. Mereka mengambil berbagai senjata untuk bersiap menghalau penyusup yang masuk.

Ular api telah selesai melakukan tugasnya. Hanya saja, kepulan asap masih terlihat di beberapa titik. Hal ini dimanfaatkan Shiang Li dan kawannya untuk masuk tanpa diketahui. Mereka menyelinap ditengah kepulan dan terus berlari cepat.

“Kalian tetap siaga, jangan sampai penyusup itu berhasil lolos!”

Puluhan orang telah bersiap-siap di depan asap. Mereka di pimpin oleh seorang kasta Kesatria. Ia menggunakan tombak dengan ujung sebesar parang.

“Wuuushh!” Tiga buah sosok keluar dari kepulan asap. 

“Tuan Shiang, biarkan kami menghadapi yang di sini! Anda langsung ke depan saja!” ujar Ge Yan.

“Kuserahkan padamu!” Shiang Li mengerti. Ia juga tak ingin membuang tenaga melawan para cecunguk kecil. Ia pun segera mengubah ilmu langkahnya menjadi Langkah Komet Biru. Dengan kecepatan yang berlipat, Shiang Li berjalan di antara dinding lorong untuk menghindari lawan. Orang-orang yang menghalau pun walau mereka mau, tetap saja mereka tak punya kemampuan yang cukup untuk menyamai kecepatan itu.

Sementara, Ge Yan dan Han Bing menerjang langsung dari depan. Walau mereka belum pulih dari luka akibat Anaconda Pembising, dan walau lawan mereka puluhan orang, mereka cukup yakin atas kemenangan karena tak ada dari puluhan orang itu yang melebihi atau setidaknya menyamai kasta Paladin.

 Pertarungan intens terjadi. Han Bing yang ahli dalam serangan jarak dekat menghampiri musuh satu persatu. Gaya bertarung pengguna tonfa sangat sederhana tetapi efektif, jika ingin menyerang jarak dekat, tinggal memukul. Jika ingin menyerang jarak menengah, juga tinggal memukul tapi dengan memutar ujung tonfa. Dan jika bertahan, tinggal diputar lagi ujungnya kemudian menangkis serangan secara langsung. Kombinasi serangan dan pertahanan Han Bing membuat musuh sulit melawannya. Apalagi, sekali berbenturan dengan tonfa Han Bing, senjata musuh langsung retak. Wajar saja, tak ada dari puluhan orang ini yang memegang Senjata Pusaka, semuanya hanya senjata normal.

 Begitu pula Ge Yan, walau chakramnya bisa digunakan untuk serangan jarak jauh, tetapi kali ini Ge Yan mencoba bertarung jarak dekat. Tak ada musuh yang bisa mendekati saat Ge Yan memutar chakramnya ke segala arah. Beberapa orang langsung terbelah perut, tangan, atau bagian lainnya saat menyentuh chakram Ge Yan. Tak hanya itu, hawa panas yang dikeluarkan chakram juga mengintimidasi musuh-musuhnya. Hampir sama seperti Han Bing, setiap musuh yang beradu senjata dengannya akan mati kurang dari tiga sentuhan.

Kembali pada Shiang Li, ia benar-benar tak bisa ditangkap. Ia melewati beberapa kelompok orang termasuk kelompok yang dipimpin Lein. Sebenarnya, Lein tak sengaja bertemu Shiang Li. Ia hanya ingin menyelidiki sumber keributan. Tetapi, saat ia hendak ke sana, sesosok biru mendekat dengan cepat. Sosok itu, entah kenapa, membuat Lein sangat tak berdaya. Mata mereka berpapasan untuk sesaat, kendati Shiang Li tak memedulikan Lein dan terus melesat maju. Namun, dari tatapan saja, Lein langsung mendapatkan rasa ngeri tiada tara, ia juga gemetar lemas. Untung, untung saja Shiang Li tak mengetahui bahwa Lein salah satu penculik anaknya. Jika ia mengetahuinya, tak ada cara bagi Lein untuk bertahan hidup.

Shiang Li terus melesat maju. Ia menebar Persepsi Indrawi ke segala sudut lorong untuk mengatahui jalan yang tepat agar tak tersesat. Ia juga melakukan ini untuk menghindari jebakan-jebakan yang bertebaran di mana-mana. Akhirnya, Shiang Li menemukan sebuah sosok yang setara dengannya. Tanpa pikir panjang, tujuan Shiang Li sekarang adalah orang itu.

Tak berapa lama...

“Duuuummm!”

Sebuah pintu besar dirusak sehingga mengakibatkan ledakan dahsyat.

Tap! Tap! Tap! Dari kepulan debu, sosok manusia mulai berjalan pelan. Setiap langkahnya penuh aura membunuh. Ya, Shiang Li telah sampai di sebuah ruangan besar. Kemudian, sebuah suara menyambutnya.

“Saudara, aku telah menantimu!” Itu adalah Roy. Ia bangun dari singgasananya dan bersikap seolah menyambut Shiang Li.

Namun, Shiang Li diam tanpa kata. Matanya menyelidik seluruh ruang. Ia merasa aneh karena tak menemukan aura anaknya, sebelum tiba-tiba tatapannya terhenti pada sosok bocah dengan rantai di tangan dan kaki.

“Kresna!” seru Shiang Li. Dirinya cepat melompat ke arah anak tersebut dan memeluknya erat-erat. “Ayah di sini. Jangan khawatir!”

Anak itu, pangeran budak, tentunya merasa aneh. Siapa orang ini? Tidak, yang lebih penting, siapa Kresna? Pikiran itu ada dalam benaknya, tapi tak berani ia ungkapkan. Lalu, karena merasa nyaman dan terlindungi, pangeran budak ingin membalas pelukan Shiang Li, sebelum akhirnya...

“Kau...” Shiang Li melepas pelukannya. Ia tatap wajah bocah ini dalam-dalam dan ditemukanlah keanehan, “kau bukan anakku, siapa kau?” Shiang Li terkejut.

Jelas saja, pangeran budak tak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan itu. Ia bahkan juga tak tahu kenapa dirinya dibawa ke sini. Namun, suara Roy malah menjawab keheranan Shiang Li. 

“Saudaraku, biar aku jelaskan semuanya,” Roy melangkah maju menuju Gal yang masih mematung. “Orang ini, dia adalah salah satu anak buahku. Aku menyuruhnya untuk menculik seseorang, tapi karena kecerobohannya, ia justru menculik anakmu. Untuk itu, aku minta maaf yang sebesar-besarnya.”

“BAJINGAN! KALAU BEGITU, MANA ANAKKU?”

“Tenang, saudaraku. Aku belum selesai bicara. Anakmu, saat hendak di bawa ke sini, ia bisa kabur. Kemudian, karena suatu kecelakaan, ia jatuh dari tebing.”

“BANGSAT! KALIAN MEMBUNUHNYA!”

“TUNGGU!” Roy berseru. Ia ingin mencegah pertumpahan darah dengan Shiang Li. “Menurutnya, anakmu masih hidup dan kabur ke Hutan Kabut. Kawanan orang ini mencoba mengejarnya, tapi sayang anakmu malah menuju Labirin Batu Sesat. Untuk menebus kesalahan ini, aku sebagai atasannya akan mempersembahkan nyawa orang ini padamu.” Roy berucap dekat dengan telinga Gal. 

“K-ketua, tolong, jangan bunuh saya!” Untuk sekian kalinya, Gal tetap mengemis nyawa. Keringatnya sudah membasahi seluruh badan. Matanya merah ingin menangis. Namun, Roy sama sekali tak peduli.

Tlak! Roy menjentikkan jarinya. Seketika, sebuah kabut hitam muncul dari arah mata kaki kanan Gal. Gal histeris dan menjerit kesakitan, sementara kabut hitam terus menggerogotinya menuju tubuh bagian atas. Gal tersungkur. Kakinya sudah tak ada lagi. Semuanya berubah menjadi cairan hitam. Namun, kabut masih terus melahap dan melahap. Setengah badan Gal pun menghilang. Dirinya sudah berada di jurang maut. Gal akhirnya kehilangan kesadaran dan mati di tempat. Roy merasa bahwa Shiang Li belum terlalu puas, maka dari itu, saat kabut hitam hendak melahap kepala Gal, Roy buru-buru memenggalnya dengan tangan.

“Saudaraku, ini adalah bukti ketulusanku untuk meminta maaf. Kau bisa ambil kepala orang ini. Setidaknya, orang ini cukup berharga beberapa ribu emas.”

Wuing! Roy melemparkan kepala Gal seperti batok kelapa. Namun, sebelum benar-benar mencapai Shiang Li, sabetan angin datang ke arah kepala itu dan memotongnya menjadi seribu bagian. Potongan-potongan daging kecil pun berceceran, dan sudah tak bisa dikenali lagi apa ini kepala atau daging babi.

“KAU...!” Shiang Li dengan bengis menatap Roy. “KAU PIKIR INI CUKUP UNTUK MEMBAYAR SEMUANYA! KUBUNUH KAU!”

Sebenarnya, Roy sudah menduga jalur damai akan sulit didapatkan, maka dari itu Roy kembali melakukan beberapa trik. “Saudaraku, pikirkan secara logis, mungkin saja anakmu cukup beruntung dan masih hidup sekarang. Dari pada nyawamu terbuang di sini, lebih baik jika segera menjemputnya!”

“BANYAK OMONG!” Shiang Li sudah berubah menjadi mesin pembunuh. Kata-kata dangkal tak akan bisa menghentikannya saat ini.

Wuuusssh! Shiang Li mengeluarkan aura tempurnya. 

“Huh,...” Roy tampak kecewa. Plok! Ia menepuk tangan dan tiba-tiba...

Set! Set! Set! Set! Satu, dua, empat, enam, sepuluh, dua belas. Dua belas orang datang entah dari mana dan bersikap melindungi Roy. Bukan hanya itu, sesaat setelah kemunculan mereka, setiap orang memanggil Senjata Pusaka dari dalam jiwa masing-masing.

“Saudaraku, kalau kau bersih keras ingin membuang nyawamu, maka para pengawal pribadiku siap mengabulkannya!”

Roy sudah mengeluarkan cara terakhir yang dimilikinya. Jika Shiang Li tak bisa diusir secara damai, maka dia harus diusir secara paksa, walau itu tak mudah. Jika Roy bertarung satu lawan satu, hasilnya memang sulit ditebak. Namun, saat dua belas pengawal pribadinya membantu, sudah pasti angin kemenangan berhembus ke arah Alactrus. 


***


Kolom penulis:

Untuk quis 2 episode yang lalu

Jadi, ternyata Dexter Gal mati diracun+dipenggal+dimutilasi 1000 bagian dan jawabannya adalah a,c, d. Selamat telah memenangkan iphone 7 dalam imajinasi kalian... wkwkwk.