Episode 13 - Anaconda Pembising



Roy Delsembey. Pria berumur setengah abad bertampang muda sekitar setengah dari usia aslinya. Dia adalah ketua pusat dari kelompok pembunuh bayaran terbesar seantero benua, Alactrus. Rambutnya pirang bercampur hitam dengan panjang sepinggul. Matanya biru muda dengan tatapan misterius. Walau orang yang kejam, Roy terbiasa bersikap elegan layaknya bangsawan. Ia selalu rapi berpakaian, terutama yang berwarna putih. Jika bukan karena posisinya, dari luar Roy tampak seperti orang suci.

Namun, sebaik-baiknya bangkai dikubur, baunya tetap akan tercium. Dibalik pesona dan karismanya, Roy merupakan ahli racun hebat. Ya, ia dikenal sebagai Roy Si Racun Kabut Hitam. Jika dia serius meracik racun, setetes saja bisa membunuh seluruh penduduk kota.

Dan... yang sekarang sedang terjadi adalah, Roy dibuat marah. Ia geram, tetapi tak mengekspresikan secara berlebih, sikap elegan dijaga semaksimal mungkin. Pria di depannya, Dexter Gal benar-benar telah membuat kesalahan fatal. Di antara cabang Alactrus yang lain, cabang milik Gal memang yang terlemah, tetapi tetap saja, Roy tidak menyangka bahwa dia akan salah perhitungan.

“Jadi, biar kujabarkan lagi kesalahanmu: salah menculik pangeran, kehilangan anak buah, dan mungkin memancing seorang ahli kasta Pahlawan kemari, benar begitu?” Roy berkata dingin.

“Ampun, ampun, Ketua Besar!” Gal, di sisi lain hanya bersujud tanpa berani menatap. Ia berharap, setidaknya Roy memberi keringanan.

Sementara, pangeran budak hanya terbengong. Rasa khawatirnya seolah hilang karena ada orang yang terlihat lebih ketakutan. Selain itu, dia juga tak mengerti bahasa Bizantum. 

“Dexter Gal, kalau tidak salah, tatomu ada di atas mata kaki kanan, kan?”

Mendegar itu, Gal terkejut bukan kepalang. Sehingga, ia akhirnya berani menatap Roy layaknya anjing yang meminta belas kasih manusia. Ia tahu, sesuatu yang sedang Roy bahas dapat menentukan hidup-mati-nya dalam sekejap. “Ketua Roy, ampun, ampuni saya! Saya akan menebusnya. Saya akan kembali ke Yuan dan menculik Yen Hwang. Saya juga akan membunuh ahli kasta Pahlawan itu. Kumohon, jangan bunuh saya!”

“Dexter Gal, sudah terlambat. Ahli itu sekarang ada di depan gerbang.” Roy, dengan Persepsi Indrawinya, bisa merasakan aura kuat yang mendekat. Bukan hanya aura kuat dari tenaga dalam, tetapi juga aura kuat dari rasa haus darah. Keinginan membunuh yang intens.

Sontak, Gal tak bisa lagi berpikir jernih. Ia tak tahu harus berbuat apa. Jika tetap diam, dia mati. Jika kabur, dia juga mati. Namun, pilihan terakhir seseorang yang terdesak pastilah melarikan diri. Walau kemungkinan besar hasilnya akan sama, Gal bangkit berdiri dan mencoba kabur. Namun...

Tok! Tok! Tok! Roy langsung merangsang maju dan menotok tiga nadi dari Gal. Satu di leher kanan, dua di sekitar dada. Alhasil, Gal mematung tak bisa bergerak.

“K-ketua Roy, mohon jangan bunuh saya!” Gal bersusah payah dalam berbicara.

“Tenang saja, kau tidak akan mati sekarang. Nyawamu akan kujadikan alat tukar untuk perdamaian kepada ahli tersebut.”

Pupus sudah. Gal hanya akan memperpanjang hidupnya sedikit lebih lama. Wajahnya kian memucat dan ekspresinya bertambah abstrak. Keringat dingin yang berjatuhan seolah bagaikan tetesan nyawanya yang mulai meluntur.

     ***

Terik mentari. Lembah tandus yang luas. Sedikit tetumbuhan dan pepohonan. Serta, gugusan batu setinggi bukit menjulang di kanan dan kiri Shiang Li.

Tap! Shiang Li melangkah, sebelum ia menyadari sebuah segel sihir aktif di bawah kakinya. Secara refleks, ia mundur ke belakang dengan ilmu meringankan tubuh. Dirinya seolah meluncur tanpa gesekan berarti pada tanah. Lalu, disusulah belasan ledakan hebat yang ternyata menyebar ke segala sisi jalan lembah. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menyentuh Shiang Li, selain hanya beberapa debu.

“KELUARLAH!” Shiang Li menyalak tanpa sebab.

Ternyata, dua bayangan cepat turun dari sisi bukit batu. Itu adalah manusia. Dua orang ahli kasta Paladin. Mereka memosisikan diri berlutut membelakangi Shiang Li.

“Hormat kepada Tuan Shiang!” ucap mereka bersama.

“Aku tahu kalian kiriman Ye Qin, tapi kalau kalian hanya menghambatku, lebih baik pulang saja!”

“Tuan Shiang, kami pasti akan membantu sebisa mungkin!” Salah seorang yang berada pada tahap Perak kasta Paladin berkata.

“Tuan Shiang, apa yang saudara saya katakan benar, kami akan berusaha membantu Anda!” Orang lainnya menguatkan. Ia satu tahap di bawah yang sebelumnya.

“Terserah! Namun, aku tak menjamin keselamatan kalian!” Shiang Li menegaskan.

Kemudian tanpa basa-basi lagi, Shiang Li mengeluarkan aura tempurnya.

“Wuuusshh!”

Dia pun merangsang maju dengan kecepatan tinggi. Persepsi Indrawinya menebar ke segala arah untuk menemukan langkah tepat agar tak terkena jebakan. Melihat ini, dua ahli tadi mengikuti jejak Shiang Li. Mereka juga mengeluarkan aura tempur dan bergerak maju menyusul.

Walau sudah berhati-hati, beberapa jebakan sihir dan jebakan fisik masih ada yang aktif. Untungnya, kecepatan dan insting ketiganya membuat dampak yang ditimbulkan tak membahayakan. Jalur lembah ini cukup panjang, terjal, dan berliku. Mungkin saja, sebenarnya ada jalan masuk rahasia yang aman, tetapi jelas, selain anggota Alactrus tak mungkin mengetahuinya.

Tiba-tiba, ketiganya diberhentikan karena sesuatu.

“Hm, mereka punya peliharaan yang cukup menarik ternyata...” Shiang Li berucap sinis.

Di hadapan ketiga orang ini, batu-batu lembah menjadi berlubang. Diameternya setara dengan tiga orang dewasa yang diletakkan segaris. Dan... yang membuat lubang-lubang ini seram adalah, suara desisan yang saling bersahutan. Ini jelas seperti desisan ular. Suaranya menggaung dari arah kegelapan lubang.

“Tuan Shiang, ini adalah sarang Anaconda Pembising. Sebaiknya kita bekerja sama!” 

“Siapa namamu?” Shiang Li bertanya pada orang itu.

“Oh, saya Ge Yan, dan saudara saya Han Bing!” terangnya.

“Kalian punya Senjata Pusaka, kan?” Kembali, Shiang Li menginterogasi.

“Itu...” Ia agak ragu menjawab.

“Cukup bilang, ya atau tidak!” Shiang Li menekankan.

“Ya, kami punya.”

“Bagus, kalau begitu, kalian bisa mengurus diri sendiri!”

Senjata Pusaka mengacu pada benda berusia ratusan tahun ke atas yang mana itu memiliki kesadaran independen. Bentuknya bisa bermacam-macam, dan karena memiliki kesadaran, tidak sembarang orang bisa menguasainya. Secara umum, Senjata Pusaka memilih tuannya, namun ada beberapa cara yang bisa memaksa Senjata Pusaka tunduk. Maka dari itu, dalam dunia persilatan, hal ini adalah tabu untuk bertanya apakah seseorang mempunyai Senjata Pusaka atau tidak. Yah, benda seperti ini adalah harta berharga yang mana seluruh kota mungkin akan saling membantai hanya untuk mendapatkannya.

Namun, tentu saja Shiang Li tak tertarik dengan Senjata Pusaka orang lain. Alasannya karena, pedang yang digenggamnya juga adalah pusaka berharga yang berusia lima ribu tahun. Sayangnya, Shiang Li tak bisa menundukkan pedang itu secara penuh. Ia cuma menjalin kontrak tak utuh yang mana Senjata Pusaka tersebut hanya akan membantunya secara terbatas. Walau begitu, untuk menghadapi Anaconda Pembising yang hanya berada pada kasta Langit, Shiang Li tak perlu menunjukkan kehebatan pedangnya.

“Wuushhh!” Shiang Li mengumpulkan angin pada tangannya. Angin itu terus terkonsentrasi ke arah telapak dan jari. Ia mendempetkan telunjuk dan jari tengah, lalu membuat angin itu layaknya pedang dengan kedua jarinya sebagai gagang.

“Kalau tak mau mati, sebaiknya keluarkan Senjata Pusaka kalian!” tegur Shiang Li.

Kedua orang itu mengerti dan mematuhi perintah. Mereka berkonsentrasi penuh dan menyalakkan suatu nama.

“Keluarlah, Chakram Gerigi Api!” 

“Terbentuklah, Tonfa Emas Kembar!”

Perlahan, butiran-butiran aura keluar dari dada mereka. Butiran itu kian menggumpal dan membentuk suatu wujud. Ya, itu adalah wujud Senjata Pusaka. Karena bisa diresap dalam jiwa mereka, itu berarti kedua orang ini telah sepenuhnya menundukkan benda tersebut. Ge Yan menggenggam sebuah chakram besar yang melingkar melebihi tubuhnya sendiri. Warnaya kemerahan dengan gerigi tajam di seluruh pinggiran. Sedangkan, Han Bing menggenggam tonfa keemasan di kedua tangan. Meski senjata tumpul, tonfa itu masih terlihat mematikan.

“Wuushh!” 

Shiang Li melesat duluan. Lubang terdekat yang ia datangi mengeluarkan cahaya dari pantulan mata monster. Dan... seperti yang diduga, sesosok makhluk melontarkan kepala beserta tubuh panjangnya menuju Shiang Li. Makhluk ini adalah Anaconda Pembising, dengan panjang tubuh puluhan dacksal dan diameter sedikit lebih kecil dari lubang, ditambah semacam sirip di kedua sisi leher, membuat sosok mengerikan yang tiada tara.

Mulut Anaconda Pembising menganga lebar, jaraknya dengan Shiang Li tersisa beberapa langkah di udara. Dari posisi ini, Shiang Li tampak akan dicaplok bulat-bulat. Namun...

“Slaasssh!” Kibasan angin tajam di arahkan pada mahkluk ini. Tubuhnya terbelah dua secara simetris hingga ujung ekor.

Satu mangsa tewas!

Melihat kegagahan Shiang Li, Ge Yan dan Han Bing tergenjot semangatnya. Dengan cepat, mereka berpatisipasi dalam pesta. Ge Yan melempar chakramnya menuju beberapa lubang yang diperkirakan akan memunculkan sosok Anaconda Pembising. Chakram itu terbang secara vertikal, dan hebatnya, serangan ini sangat jitu. Chakram menyisir tiga lubang, ketiga lubang tersebut mengeluarkan sosok kepala, sosok kepala itu langsung terpenggal. Belum sampai di situ, selesai membunuh tiga korban, chakram kembali menuju pemiliknya seolah-olah bumerang.

Sementara itu, Han Bing juga memburu mangsanya. Dengan tonfa, terlalu tak efektif untuk bertarung jarak jauh. Ia hanya akan menunggu mangsa mendekatinya. Lalu, dua Anaconda Pembising datang bersamaan di kanan dan kirinya. Set! Han Bing memutar tonfanya sehingga bagian yang panjang berada di depan. Kemudian, ia melompat ke atas untuk menghindari kepungan sehingga membuat dua kepala Anaconda Pembising saling bertabrakan. Tentu, tabrakan itu tak cukup untuk membunuh mereka secara bersama, Han Bing pun turun lalu meninjukan kedua ujung tonfa ke arah kepala makhluk-makhluk itu. 

Duuumm! Suara dentuman terdengar nyaring. Tak seperti kedua petarung lain yang memiliki senjata tajam, tonfa Han Bing tentu tak membelah Anaconda Pembising, melainkan meremukkan tengkorak dan menghancurkan otak mereka.

Enam mangsa tewas! Tidak, ternyata jauh di depan Shiang Li telah menambah belasan korban. Tujuh belas mangsa tewas!

Beberapa lusin Anaconda Pembising yang tersisa di dalam lubang merasa terancam. Insting mereka mengatakan bahwa, serangan biasa tak akan bisa membunuh ketiga orang tersebut. Kemudian, entah sebuah kebetulan atau tidak, semua Anaconda Pembising yang tersisa mengeluarkan serangan yang sama. Ya, serangan suara yang menyebabkan gelombang kejut terjadi. Dengan sirip di kedua sisi leher mereka melebar, maka suara bising nan keras akan terdengar memekikkan telinga. 

Tentu, ini merupakan sebuah ketidakberuntungan bagi tiga manusia ini. Apalagi, suara yang dikeluarkan bersamaan akan mengakibatkan resonansi kuat. Ditambah, kondisi geografis yang merupakan jalur di antara tebing seolah membuat tempat ini layaknya penjara kebisingan.

Ketiganya terhenti. Han Bing berusaha menutup telinga kuat-kuat. Ge Yan tertunduk lemas di tanah. Sementara Shiang Li berdiri mematung. Jika ini berlanjut, mereka akan mati dalam kebisingan. Pembuluh darah akan meledak. Dan tenaga dalam akan terkuras. Kondisi tersebut adalah kepastian bagi kasta Paladin. Dinding aura mereka tak cukup kuat untuk bertahan. Untuk mengeluarkan teknik lain pun dirasa hampir mustahil. Apalagi, jika ditilik secara kekuatan, Anaconda Pembising memang setara dengan petarung kasta Paladin. Jika saja Ge Yan atau Han Bing tak memiliki Senjata Pusaka, adalah mustahil bagi mereka menghabisi banyak Anaconda Pembising sekaligus.

Namun, kelompok ini masih memiliki harapan, yaitu Shiang Li. Dia tak hanya diam tanpa sebab, tetapi mencoba berkonsentrasi mengeluarkan jurus lain. Dinding aura kasta Pahlawan masih cukup kuat menahan serangan gabungan Anaconda Pembising. Gangguan suara ekstrim memang menyulitkan untuk mengatur tenaga dalam, namun bagi Shiang Li yang sudah sering menghadapi situasi hidup dan mati, hal ini dapat ditanganinya.

“Sepuluh pedang, terbentuk!” gumam Shiang Li dalam batin. Dan ternyata, di sekeliling tubuh Shiang Li memang terbentuk sepuluh pedang dari chi yang berputar-putar. “Tiga puluh pedang.” Pedang kian bertambah. “Enam puluh pedang... seratus...!”

Seratus pedang telah mengitari tubuh Shiang Li, ia pun membuka mata. Lalu, dengan sedikit gerakan tangan, Shiang Li seolah memerintahkan seratus pedang tersebut menyerang musuh-musuh yang ada. Semua pedang tersebar masuk ke dalam setiap lubang di tebing. Sesaat setelah semua pedang memasuki lubang, teriakan kesakitan terdengar di mana-mana, hanya saja, kali ini kebisingan teriakan tidak membuat gelombang kejut. Malahan, gempuran suara terasa mereda perlahan.

Slaaash! Slaaash! Slaaash! Slaaash!

Pembantaian sunyi terjadi dalam kegelapan lubang. Lama kelamaan, setiap suara mulai menghilang dan membuat suasana menjadi tenang. Han Bing sudah melepaskan tangannya dari telinga. Namun, sedikit darah terlihat mengalir dari lubang telinga dan hidung. Ge Yan masih tertunduk lemas, tetapi ia mulai mengatur pernapasan. Sejak tadi, ia memfokuskan tenaga dalam untuk bertahan. Hasilnya, tenaga dalamnya tinggal setengah saja. Sementara di sisi Shiang Li, ia mulai meniadakan dinding auranya dan juga mengatur pernapasan ringan. Setidaknya serangan tadi menguras sepuluh persen tenaga dalamnya.


***


Kolom penulis: 

Gambar tonfa (google): http://vignette4.wikia.nocookie.net/dynastywarriors/images/d/de/Sun_ce.jpeg/revision/latest/scale-to-width-down/2000?cb=20130626044531 

Gambar chakram (google):

https://iblos3om.files.wordpress.com/2009/07/sb_morimotonari.jpg