Episode 12 - Pesan Kematian



Kembali pada dua bulan yang lalu setelah Shiang Li membantai Figo dan kelompoknya, kawanan utama Alactrus tidak menyadari petaka yang mengejar. Bukan hanya itu, mereka juga belum menyadari kesalahan mendasar tentang target penculikan. Walaupun sebagian besar malah merasa aman karena berhasil menggantikan pangeran yang hilang dengan seorang budak, sayangnya kesalahan awalnya adalah bukan Pangeran Yen Hwang yang mereka culik. Namun, setidaknya ada kelompok minoritas yang merasa janggal.

Kawanan yang terdiri dari selusin orang ini terus memacu kuda tanpa henti. Bos mereka berada di depan, pengeran budak ada di tengah, sementara yang lain mengambil posisi sesuai senioritas masing-masing. Lalu, salah seorang yang cukup veteran mempercepat lari kuda hingga mendekati pemimpin depan.

Merasa anak buahnya perlu menyampaikan sesuatu, si bos melirik dan bertanya, “ada apa?” 

Umumnya, bercakap saat menunggang kuda adalah tabu karena penunggang bisa tak sengaja menggigit lidah, apalagi kecepatannya tinggi. Namun, sepertinya hal penting memang perlu disampaikan sekarang.

“Bos, beberapa anggota masih mengkhawatirkan sesuatu,” tandas orang ini saat angin membuat rambutnya berkibar.

Ditemani derap langkah selusin kuda, si Bos sebenarnya agak kurang menangkap suara, tetapi pembacaan gerak bibir membuatnya jelas. “Apa yang kalian khawatirkan? Kita sudah mengganti pangeran yang hilang.”

Mendengar tanggapan enteng itu, orang ini merasa kurang puas. Apa bos tidak merasa aneh? Setidaknya pikiran itu ada dalam benaknya. Saat mereka mendapatkan misi, tentu sebuah potret wajah akan diberikan untuk mengidentifikasi target. Hal ini adalah biasa dalam dunia pembunuh bayaran. Namun, pangeran yang mereka culik agak berbeda dengan yang terlukis.

“Bos, ini bukan masalah itu, tetapi potret wajah sang pangeran,” jelasnya.

“Kenapa? Kau masih mau membahas itu? Bukankah sudah kujelaskan sebelumnya, mungkin saja si pelukis kurang ahli. Toh, aku sendiri yang masuk ke kamar pangeran.”

“Bos, bagaimana jika anak yang sebelumnya adalah saudara pangeran?”

“Bodoh! Kau tidak tahu apa kalau kaisar Yuan hanya memiliki anak tunggal? Dia bahkan dikenal sebagai pria yang setia karena hanya memiliki satu istri tanpa seorang selir pun. Bagaimana bisa ada anak lain yang tiba-tiba muncul?”

Tentu, informasi tentang Yen Jian yang merupakan raja unik karena tak memiliki selir dan hanya memiliki satu istri sudah menjadi rahasia umum. Namun, entah itu dari pengetahuan umum sekalipun, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi di dalam istana. Sudah menjadi permainan lama dalam politik bahwa memanipulasi informasi ke publik adalah salah satu senjata untuk memenangkan hati rakyat. Dan karena hal itu, keraguan masih menghantui pikirannya.

“Bos, mungkin saja ia anak kerabat pangeran.”

“Bodoh! Kau pikir aku tidak tahu silsilah mereka? Dengar, Yen Jian dulunya memiliki tiga saudara kandung. Dua kakak dan satu adik. Namun, kedua saudara tuanya meninggal bahkan sebelum mereka memiliki keturunan. Sekarang, mereka hanya tinggal dua bersaudara. Adik Yen Jian adalah Yen Chao yang mana dia menjabat sebagai perdana menteri dan bahkan belum menikah.

Kemudian katakan padaku, apakah kau berpikir akan ada seorang anak entah dari mana yang tiba-tiba tidur di kamar seorang pangeran?”

Jawaban panjang lebar bosnya membuat ia ragu, “kalau itu...” ucapnya sambil memikirkan suatu alasan.

“Hoi, apa kau masih meragukanku? Mau mati?” si bos geram pada keraguan anggotanya ini.

“Ti-tidak, Bos! Kalau begitu, saya permisi!” Ia memperlambat kudanya agar kembali pada barisan.

Bagaimana pun, dalam kelompok ini, semuanya sudah tahu tabiat bos mereka, Dexter Gal. Dia adalah orang yang menginginkan dominasi mutlak. Dia tak ingin disalahkan karena merasa sudah melakukan hal yang pantas. Maka dari itu, dia sangat membenci Key sebab beberapa kali Key pernah tidak memenuhi kehendaknya. Namun, sekarang hama itu sudah menghilang dari pandangan. Untung saja Gal menggunakan cara licik yang cerdas dalam membunuh Key. Jika dia membunuh Key secara terang-terangan, walaupun ia adalah pemimpin salah satu cabang Alactrus, tentu beberapa anggota akan kehilangan sedikit rasa hormat. Dan mungkin jika berita ketidakadilan ini menyebar, ketua cabang lain juga akan mencemoohnya. Yang Gal inginkan dalam hidup cukup disebutkan dalam tiga kata: harta, kehormatan, dan kekuatan.

Kendati demikian, soal kekuatan, sebenarnya Lein lah yang paling hebat di cabang ini. Dia sudah berada pada puncak kasta Kesatria, tinggal selangkah lagi sebelum menembus kasta Paladin. Jika membandingkan Lein dengan Gal, perbedaannya bagaikan langit dan bumi. Lein baru menginjak umur tiga puluhan awal, tetapi kekuatannya sudah melebihi Gal yang menginjak setengah abad. Tentunya, Gal merasa sedikit muak tentang fakta tersebut. Namun, alasan ia tak terlalu membenci Lein adalah karena Lein merupakan bawahan yang setia. Jika anggota lain merasa Gal melakukan kesalahan, Lein bahkan tidak akan memberi komentar dan hanya tunduk pada senioritas. Walaupun, dia juga tidak bisa disebut sepenuhnya mendukung Gal.


***


Ini adalah sebuah tempat di bawah tanah. Banyak sekali lorong-lorong buatan yang menjadi jalan menuju ruangan-ruangan tertentu. Di bagian luarnya, banyak jebakan sihir dan juga jebakan fisik yang melindungi tempat ini. Bahkan, jumlah jebakan di bagian dalam tidak pula lebih sedikit. Maka dari itu, tempat ini bisa dibilang sangat aman. Ya, inilah markas besar dari cabang pusat Alactus. Tak ada orang luar yang cukup gila untuk memasuki lubang buaya ini. Kalau tak mati terjebak, mungkin mati tersesat lalu dibunuh para penghuninya.

Gal akhirnya menginjakkan kaki di markas besar. Dia dipandu oleh seorang penjaga markas, sementara anak buahnya diharuskan menunggu di ruangan lain. Kini, yang sedang berjalan menyusuri lorong hanya tiga manusia, Gal, seorang penjaga markas, dan pangeran budak. Khusus untuk pangeran budak, ia diseret paksa dengan rantai menjerat kaki dan tangan. Tatapannya penuh rasa takut. Entah karena ia merasa nyawanya terancam atau karena sosok orang-orang di sekitar yang menyeramkan. Yang jelas, jika diteliti lebih dalam, anak ini pasti bukanlah budak sejak lahir. Mungkin, baru-baru ini saja dia mengemban status budak. Yah, ada beberapa faktor yang dapat menetapkan status budak pada seseorang: tawanan perang, lilitan hutang, keturunan budak lain, kriminalitas ekstrim, dan lainnya. Karena tubuh anak ini cukup terawat, mungkin saja bekas orang tuanya menjual dia akibat masalah hutang. Siapa yang tahu?

“Aku mengantar sampai di sini. Sisanya kau tangani sendiri!” Penjaga dengan otot kekar ini berkata pada Gal. Meski status Gal adalah ketua cabang, orang asli dari markas pusat tetaplah tak lebih rendah dari dia. Apalagi, walau pada kasta Kesatria yang sama, ia sudah berada pada tahap emas. Jelaslah, Gal lebih inferior, maka dari itu penghormatan berlebihan tak ditampakkan.

“Huh—“ Gal mendengus kesal. Ia lantas menarik pangeran budak dengan kasar untuk mencapai sebuah pintu besar.

Gal mengambil posisi berlutut di depan pintu. Ia juga memaksa anak itu menunduk dengan menekan kepalanya secara kasar. “Ketua Besar Roy, saya Dexter Gal datang untuk melapor!” ucap Gal dengan sopan. Bagaimana pun, Roy Delsembey adalah raja di sini. Jika dia membuatnya marah, dengan jentikan jari saja bahkan Gal akan langsung musnah dari dunia.

“Masuklah!” Sebuah suara membalas dengan gagah.

Pintu besar itu terbuka, Gal dan pangeran budak melangkah masuk. Sebuah ruangan megah terpapar. Untuk ukuran persembunyian bawah tanah, nilai seni arsitektur di sini tak kalah dari rumah para bangsawan. Langit-langitnya menjulang tinggi, lantai batu tertata rapi, dinding-dinding dihiasi berbagai lukisan dan senjata, juga perabotan umum seperti meja, kursi, dan rak buku menambah kesan estetik.

“Ketua Besar Roy...” Gal kembali mengambil posisi berlutut. Tentunya, pangeran budak juga dipaksa.

Sayangnya, Roy Delsembey bahkan belum memperhatikan Gal untuk saat ini. Matanya tertuju pada seorang gadis berusia sepuluh tahun yang tengah asyik menulis menggunakan pena. Gadis itu sepertinya sedang menyalin suatu bab dalam buku. Hanya saja, dia memakai lima bahasa yang berbeda dalam melakukannya. Dan kesemua bahasa itu adalah bahasa-bahasa utama dari benua ini.

Karena menunggu terlalu lama, Gal merasa tidak sabar. Namun, ia masih ragu apakah harus mengucapkan sesuatu lagi atau tidak. Hingga akhirnya, “Ketua Besar—“

“Ketua Gal,” Roy cepat memotong Gal, “kau pikir aku tidak mendengarmu tadi?” lanjut Roy dingin.

“Tidak, saya tidak bermaksud begitu!” Gal membalas cepat.

Suasana menghening lagi. Roy kembali memperhatikan gadis kecil itu yang benar-benar tenggelam dalam tulisannya. Untung saja, gadis itu menulis pada lembaran-lembaran kertas, bukan sebuah buku utuh. Jikalau sebuah buku utuh, mungkin saja Gal harus menunggu hingga matahari terbit dari barat.

Gadis itu akhirnya selesai. Ia meletakkan pena dan menutup botol tinta. “Ayah Angkat, Yalda telah selesai menyalin bab dua belas.” Ujarnya tanpa ekspresi berlebih. 

“Bagus! Lanjutkan dengan menyalin bab tiga belas. Tapi, lakukan di ruang atas. Ayah Angkat ada urusan di sini.” Roy tersenyum lembut. Mungkin, jika saja Gal tidak menundukkan pandangan, dia akan terkejut melihat Roy berlaku lemah lembut.

“Baik, Ayah Angkat!” Gadis ini memberi penghormatan dengan mengangkat roknya dan segera membawa sebuah buku, beberapa lembar kertas, serta pena dan botol tinta. Ia berjalan ke samping menuju sebuah lorong tangga. Namun, sebelum masuk ke dalam, ia juga sempat melirik bocah seumurannya yang dipaksa berlutut oleh lelaki tua. Entah apa yang akan terjadi di sini, gadis ini tampak tak terlalu peduli. Walau bocah lelaki di sana gemetar ketakutan, gadis ini hampir tak merasa iba. 

Sungguh, gadis ini telah melalui situasi yang bahkan lebih sulit dari pangeran budak.

Di sisi lain, Gal juga memperhatikan gadis kecil itu berjalan menjauh. Gal tidak terlalu mengenalnya. Yang ia tahu hanyalah namanya, Yalda Nazhaleya Benhaz. Ia juga tak tahu kenapa orang sekelas Roy Delsembey tertarik pada gadis kecil. Seingatnya, sekitar enam bulan lalu, Roy memperkenalkan Yalda pada seluruh ketua cabang. Saat itu Roy hanya berkata bahwa, Yalda akan menjadi anak angkatnya. Hampir semua ketua cabang tak mengerti alasan Roy melakukan ini. Begitu pula Gal, dia hanya menebak kasar bahwa gadis kecil itu mungkin memiliki potensi untuk menjadi pembunuh yang hebat, namun ada pula prasangka bahwa, mungkin Roy Delsembey memiliki sindrom penyuka anak kecil. Yang jelas, baik Gal atau ketua cabang lainnya, tak ada yang berani mempertanyakan keputusan Roy. Waktu itu, mereka semua hanya memberi selamat pada Yalda dan memanggilnya dengan sebutan Nona Besar.

“Ketua Gal, bangunlah!” Tegas Roy.

Gal yang sudah menanti kesempatan berdiri bergegas melakukannya, “Ketua Besar, saya sudah melaksanakan misi yang Anda perintahkan. Namun—“

Selagi Gal hendak menjelaskan keseluruhan cerita, Roy memotongnya. 

“Tahan! Lihat itu!” Roy menunjuk ke sebuah sudut.

Tentu, Gal penasaran dan langsung melirik ke arah yang dimaksud. Ia melihat gumpalan energi berwarna hitam menuju ke arahnya. Gumpalan itu berbentuk seperti kelelawar. Ya, itu adalah pesan sihir dari salah seorang anak buah Gal.

“Apa itu dari anak buahmu?” Roy memastikan.

“Ya, ini sihir pengirim pesan milik penyihir andalan saya, Figo.” Gal menjulurkan tangannya ke atas guna membuat kelelawar itu hinggap. Pastinya, ini bukan hal baru bagi Gal menerima pesan sihir. Maka dari itu, ia tahu bagaimana menanganinya.

Hap! Kelelawar itu hinggap di tangan Gal. Namun, tak berapa lama, setelah memastikan target penerima pesan, tiba-tiba tubuh kelelawar berubah bentuk menjadi energi abstrak dan segera masuk ke dalam kepala Gal. Kumpulan informasi secara cepat memenuhi otak Gal. Ia melihat dan mendengar semuanya, ya, semuanya tentang apa yang terjadi pada Figo dan kelompoknya. Juga yang paling penting, tentang apa yang dikatakan Shiang Li saat berbisik pada Figo.

“I-ini...” Gal pucat pasi. Wajahnya menampakkan ketakutan tiada tara. Bahkan, jika dibandingkan dengan pangeran budak, rasa takut Gal sudah berada di level berbeda.

Roy terheran. Ia menerka apa yang mungkin dikatakan dalam pesan itu. Namun ia tahu, pasti bukanlah kabar baik, “kenapa Ketua Gal? Beritahukan isi pesan itu padaku!”

“Ke-ketua Besar, ini bukan... ini maksud saya... begini...” Gal terbata tak tahu harus mulai dari mana. Awalnya, ia yakin bahwa dengan membawa pangeran budak sebagai pengganti, maka misi tetap bisa dibilang selesai. Namun, setelah pesan yang ia terima, Gal sudah berada di ujung hayatnya.

“Kenapa? Cepat bicara!” Roy memaksa.

Melihat Roy mulai geram, kaki Gal lemas. Ia akhirnya mengambil pilihan terakhir, yaitu mengemis untuk hidupnya. Ia pun cepat bersujud, “Ketua Besar, maafkan saya. Saya tahu saya salah, tapi akan saya tebus kesalahan ini. Saya mohon, berikan saya satu kesempatan lagi! Saya mohon, saya mohon, saya mohon!”

Roy terdiam dan menatap bengis. Ia merasa Gal pasti melakukan kesalahan fatal yang bahkan pantas untuk membuatnya dicincang menjadi makanan anjing. “Dexter Gal! Jika kau tidak memberi tahuku apa yang sudah kau perbuat, jangan harap kau dan seluruh anak buahmu akan keluar dari sini!”



[Tebak-tebakan] >> just for fun

Bagaimana cara Dexter Gal mati di episode berikutnya?

A. Dipenggal

B. Ditusuk pedang

C. Dicincang jadi 1000 bagian

D. Diracun

E. Semua jawaban benar

Yang menjawab benar akan mendapatkan iphone 7 (dalam mimpi :v) #peace