Episode 2 - Bagian Pertama

Jendela metromini membingkai wajah hari yang semrawut. Debu mengeruhkan pandangan sepasang mata murung yang berada di barisan kursi belakang. Tetapi, sepasang mata milik Ganesha itu memang tak tertarik memandang wajah-wajah tergesa orang kota atau antrean kendaraan. Sepasang mata bulat itu tengah memandang jauh ke arah masa silamnya, pada fragmen-fragmen hidupnya di mana perempuan bernama Raslene belum menyudutkannya dalam penantian.

Di kaca baris kedua mini bus yang berada di samping metromini, terlihat mata murung itu dibingkai rahang berlekuk tegas yang kedua sisinya tertutup rambut panjang berombak. Di antara sepasang itu, terdapat sepotong hidung lancip yang bernapas malas seolah kehilangan alasan melakukannya.

Klakson motor yang melaju tak sabar membuyarkan lamunan Ganesha. Lewat kaca mini bus yang berada di samping metromini yang ditumpanginya, ia memandang wajahnya semakin gelap dan tampak tua akibat terlampau sering terpanggang matahari Jakarta. Sudah tiga metromini jurusan Tanjung Priok-Senen dimasukinya bersama Rozak, sahabatnya, dan sudah enam puisi dibacakannya. Sudah terlalu banyak orang yang ditemuinya, tetapi Raslene tak pernah ada di antaranya.

Di belakang kemudi, seorang supir berusaha membunuh kantuknya dengan menyesap kopi hitam di gelas Aqua. Usai meletakkan gelas kopinya di pojok dashboard, ia mengutuk jalan pukul dua belas siang yang kepadatannya mengerikan. Di samping Supir, seorang perempuan berpakaian santai berulang kali melirik arlojinya. Sementara di pintu masuk depan, kondektur asyik menggoda perempuan cantik yang rautnya kecut di trotoar jalan.

Udara terasa pengap. Angin yang menerobos lewat jendela dan kedua pintu metromini menyebarkan bau peluh. Wanita paruh baya yang duduk di kursi ketiga dari depan terus menutup hidungya dengan tisu. “Yang Senen, yang Senen, yang Senen,” teriak Kondektur, mencoba melahap suara kondektur lain di belakangnya. Sementara itu, seorang lelaki muda berkaus hitam mengencangkan volume iPod-nya yang memutar Anna dari The Beatles.

Di sebelah Ganesha, seorang lelaki bertubuh gemuk dengan rambut mirip bulu pubis orang dewasa masih sibuk menghitung receh demi recehnya. Rozak, lelaki itu, terus mengernyitkan alis tebalnya. Bibirnya yang gelap akibat rokok, mengerucut. Hatinya memaki.

 “Nesh,” panggil Rozak, “kalau kamu biarkan aku membacakan puisiku, nggak mungkin kita cuma dapat sepuluh ribu untuk tiga metromini.”

“Zak.” Ganesha memalingkan wajah kepada Rozak. “Kita ini pembaca puisi. Bukan preman.”

Ganesha tahu semata apa yang dimaksud Rozak dengan „puisiku?. Itu cuma sekumpulan kalimat ancaman yang sering dibacakan sebagai puisi oleh banyak rekan seprofesi mereka demi kemudahan mendapatkan uang. Banyak rekan-rekan jalanan mereka yang mencari uang dengan menarasikan rasa laparnya mirip gaya membaca puisi. Yang seperti itu, biasanya punya peluang mendapatkan uang dari rasa takut orang-orang. Apalagi, mereka juga menambahkan raut seram, tubuh kumal, dan dandanan „nyentrik?.  

Bagi Ganesha, ia dan sahabatnya berbeda. Tak ada narasi rasa lapar dan kalimat mengancam pada puisi yang mereka tulis dan bacakan. Puisi mereka lahir dari hal-hal yang mereka alami dan rasakan. Tak selalu indah, tetapi menyimpan kegelisahan. Tak selalu longgar, tetapi muat untuk menampung banyak rahasia. Tak mengiba, tetapi terasa betul kepedihannya.

Mereka memilih membaca puisi semata karena ada yang perlu disuarakan. Tak peduli orang mau mendengarnya atau tidak, mau mengapresiasi atau tidak, mereka akan terus membaca puisi. Meskipun kadang, seperti hari ini, rasa lapar adalah ancaman yang sering hadir dalam keseharian mereka.

“Nesh ...” Rozak berusaha membujuk. “Ayolah. Untuk hari ini saja ...”

“Zak, kamu lupa apa yang kamu katakan dulu, hah? Kita memilih baca puisi karena kita memang mencintainya.”

“Terserah kamu saja, Shakespeare,” sela Rozak, sinis, “semoga sejarah mencatatmu sebagai orang yang rela mati kelaparan demi cinta.”

Ganesha tahu, yang diucapkan dengan sinis oleh sahabatnya hanyalah gurauan belaka. Kedua sahabat itu sudah saling paham, bahwa mereka tak sedikit pun tertarik dengan uang banyak. Itulah yang mempertemukan keduanya di jalan, setelah masing-masing melarikan diri dari kemewahan keluarganya.

“Oh, rupanya seniman kita sudah berubah haluan dan merindukan kehidupan orangorang kaya.”

Rozak tertawa. “Brengsek! Aku cuma mau makan enak. Itu beda. Orang kaya, kamu tahu, selalu punya alasan menghindari makanan enak demi gaya hidup sehat.” Rozak mengetukkan jarinya di sandaran kursi depan. “Hari ini ulang tahunku, Nesh, jadi kita mesti makan enak.”

“Wah, Bung.” Ganesha mengenggam paksa tangan Rozak. “Selamat ulang tahun!” Rozak yang jengkel segera menarik paksa tangannya.

Ganesha merogoh sakunya, ia mengambil korek gas dan menyalakannya di depan wajah Rozak. “Make a wish, Bung!”

Rozak meniup api di korek itu keras-keras. Ludahnya muncrat ke mana-mana.

“Bocah Brengsek! Kamu menyuruh aku berdoa seolah Tuhan masih ingat pernah menciptakan dua pecundang macam kita.”

**

Di metromini dengan nomor sama arah sebaliknya, Rozak hampir menyelesaikan puisi cintanya yang berjudul Mencintai Lonte, sementara Ganesha berjalan dari arah depan seraya membawa kantung plastik bekas bungkus permen menuju kursi belakang. Kemudian, ia duduk menanti Rozak menyelesaikan bait terakhirnya.  

Ganesha selalu tersenyum ketika sahabatnya membacakan puisi itu. Ia seolah bisa menghayati perasaan Rozak, dan membayangkan kisah di balik puisi yang ditulis lelaki itu untuk mantan istrinya, Miranti.

Beberapa meter di depan Ganesha, Rozak tengah berusaha menyeimbangkan tubuh gemuknya akibat metromini yang ugal-ugalan. Ia sedikit menggerutu ketika melewati seorang lelaki muda yang pura-pura tidur dengan headset buatan China terpasang di telinganya.

“Kamu nggak pernah kehilangan penghayatanmu ketika membaca puisi itu, Zak,” goda Ganesha, tepat setelah Rozak menyandarkan punggungnya di kursi metromini.

“Brengsek,” ucap Rozak, sambil menyamankan posisi duduknya. “Itu cuma upayaku profesional dan bertahan hidup. Maksudku, coba kamu pikir, apa aku harus terlihat bahagia ketika membacakan puisi sedih macam ini?” Rozak menggoyang lembar kertas puisinya di depan muka Ganesha.

Rozak selalu punya cara membantah cinta dan kerinduannya kepada Miranti. Lelaki, memang selalu punya cara mengungkapkan dan menyembunyikan kesedihan dengan sama baiknya.

“Tapi itu nggak terlihat artifisial, Zak, atau ...,” ucap Ganesha, matanya menyempit, “atau memang kamu masih sedih?”

“Tai, lah. Kalau aku memang masih sedih, aku nggak akan tega-teganya menjual kesedihan itu cuma buat merayakan ulang tahun di rumah makan padang kelas kambing.”

Ganesha tertawa puas mendengar jawaban Rozak. “Eh, Bung, nanti habis makan kita ke Pasar Senen, ya.”

**

Aroma campuran apak pakaian bekas, pesing, dan peluh memenuhi hampir seluruh lorong Pasar Senen. Aroma itu sedikit terselamatkan oleh aroma kopi jagung yang khas. Beberapa mahasiswa yang baru pertama datang ke sini menutup hidungnya dengan masker yang biasa dibeli di apotek. Bagi para penjual, masker itu bakal jadi tanda bahwa mereka bisa menembak harga mahal.

Ganesha dan Rozak berjalan mantap menyusuri ruas-ruas pasar. Mereka sudah akrab dengan semua yang ada di sini. Di antara bising rayuan para pedagang, mereka abai dan terus laju menuju lapak Bang Togar.

Tak ada barang yang jadi sia-sia di pasar ini. Segalanya bisa dijual kembali. Berbagai jenis pakaian bekas yang tak jelas asal-usulnya ini selalu bertemu jodoh barunya; entah mereka yang miskin seperti Ganesha dan Rozak, atau mereka yang mampu tetapi tak tertarik mengeluarkan banyak uang untuk sekadar bergaya. Mereka berbaur dalam hingar-bingar tawar-menawar pasar.  

Ketika mereka sampai di lapak Bang Togar, lelaki paruh baya itu tengah nyerocos tentang sejarah barang dagangannya kepada tiga mahasiswa. Melihat itu, mereka memilih menahan diri untuk menghampiri lapak Bang Togar. Alasannya, mereka tak ingin menjatuhkan harga jual dagangan lelaki asal Sumatera Utara itu. Sebab, mereka pasti diberi harga yang jauh lebih murah. Sebenarnya, soal murah atau tidaknya tergantung situasi. Tetapi yang jelas, lapak Bang Togar sudah terpercaya menjual barang-barang bagus.

Mereka berdiri tak jauh sambil menunggu transaksi itu selesai.

Bang Togar menggenggam jaket jins warna biru pudar. Mulutnya nyerocos tentang sejarah jaket dagangannya, seperti kebiasaannya saat berdagang. Seorang mahasiswa lelaki yang memakai kaus bersablon The Beatles tersihir oleh kata-katanya. Yang perempuan masih memilah-milih jaket yang tergantung. Sedangkan lelaki satu lagi, yang hendak membeli jaket itu, terlihat jengkel.

“Jadi berapa, Bang?” tanya si Wajah Jengkel, memotong bacot Bang Togar.

“Dua ratus ribu saja, Dek, buat pelanggan baru,” kata Bang Togar, percaya diri, “buat para intelektual muda yang bakal mengubah nasib negeri ini.”

Bang Togar mengisap rokoknya. “Sebagai bentuk penghormatan saya untuk bung kecil sekalian.” Seolah tak puas, ia lanjut membual.

“Mahal banget, Bang!” keluh si Wajah Jengkel.

“Lho, lho, lho! Saya tahu Adek bakal ngomong gitu. Makanya, tadi saya lebih dulu jelaskan sejarahnya. Kan seperti yang saya bilang sebelumnya, yang bikin mahal adalah lubangnya. Ini lubang akibat terjangan peluru polisi saat demonstrasi mahasiswa.”

“Lima puluh ribu gimana, Bang?” tanya mahasiswa lelaki yang lain.

“Bah! Murah kali kau menghargai sejarah!”

“Murah betul Abang hargai akal kita!” bentak si Wajah Jengkel, meniru logat Bang

Togar.

“Yasudah, seratus lima puluh ribu, gimana?”

“Bang, gimana kami bisa pintar sejarah kalau tarifnya mahal sekali. Sejarah bukan cuma milik orang-orang kaya, Bang,” saut yang perempuan, ikut meniru logat Bang Togar.

“Lubang di dada jaket ini mesti dibayar nyawa, Nona. Jangan terlalu kejam, lah, jadi perempuan.”

“Bang,” kata Wajah Jengkel, sambil mengambil satu celana jins dari tumpukkan, “ini bekas kawan mahasiswa yang mati itu?”  

“Yes, tentu saja, Bro.”

“Apa dia mati juga?”

“Alhamdulillah, tidak.”

“Kalau yang ini pantas dihargai mahal, Bang.” Wajah Jengkel merentangkan tungkai jins di tangannya. “Lubangnya di selangkangan. Pasti berat sekali perjuangan dia mesti hidup tanpa kemaluan. Berapa juta Abang hargai celana ini?”

“Ah, sudah, lah, Otak Porno. Sia-sia aku berdebat dengan orang macam kau, ni.” Bang Togar memasukkan jaket jins ke lambung plastik. “Nih, lima puluh ribu bungkus buat kalian.”

Akhirnya, ketiga mahasiswa itu pulang membawa kemenangan. Ganesha dan Rozak segera menghampiri lapak Bang Togar.

“Hei, penyair,” sapa Bang Togar kepada keduanya.

“Bang,” balas Ganesha, sementara Rozak hanya melempar senyum.

Bang Togar bertanya soal ketidakhadiran mereka yang cukup lama ke lapaknya, dan Ganesha menjawabnya dengan „biasa?. Lalu, Ganesha menyatakan langsung maksudnya untuk membeli kado ulang tahun buat Rozak.

“Sebentar, Kawan.” Bang Togar balik badan dan naik ke atas bangku kayu, mengambil satu jaket kulit yang digantung, lalu kembali ke posisi semula. “Ini jaket kulit bekas Jim Morrisson!”

“Berapa harganya?” tanya Ganesha. Sebenarnya, ide memberikan kado terbersit spontan sehingga ia tak punya rencana apa yang bakal dibeli buat sahabatnya.

“Kau suka The Doors, Bung?” tanya Bang Togar kepada Rozak. Yang ditanya masih kehilangan suara karena tak menyangka hendak dibelikan kado. “Eh, Rozak! Kau suka The Doors?!” tanya Bang Togar, lantang.

“Nggak, Bang,” sambut Ganesha, cepat. Ia tahu, jika Rozak menjawab suka kepada band yang digawangi Jim Morrisson itu, posisi tawar jaket akan jadi tinggi.

“Oh ...” Bang Togar berpikir sejenak. “Susah aku kasih harga kalau kawan kita itu nggak suka The Doors, Nesh!”

Bang Togar mengambil sebatang rokok, membakarnya. “Kalau Justin Bieber suka dia, Nesh? Aku punya jaket Adidas bekas sontoloyo itu. Kujual dua ratus ribu buat kau, lah. Biar macam ABG nanti kawan kita itu.”

Tiba-tiba saja, Ganesha teringat sesuatu.

“Aku cari jas yang seratus ribu, Bang. Warna hitam. Ada?” tanya Ganesha, tanpa bertele-tele.  

Mendegar kata „jas?, mata Rozak langsung melotot ke arah Ganesha. Ia tahu belaka, bagi mereka yang kesehariannya cuma habis dipanggang matahari Jakarta dari metromini satu ke metromini lain, jas hanyalah lelucon yang tidak lucu. Tetapi, di luar lelucon itu, ada sinar hangat dalam mata Rozak yang seperti menjelaskan sesuatu.

 “Ada, Nesh. Sebentar.” Bang Togar bangkit dan berjalan ke bagian belakang lapaknya. Ia membuka lemari hitam setinggi dadanya. Di dalam lemari itu, tergantung satu jas hitam yang terbungkus plastik penatu. Ia mengambil jas itu, tertunduk sebentar, kemudian akhirnya kembali ke posisi semula.

“Ini jas bersejarah bagiku, Kawan,” ucap Bang Togar, lirih. Di matanya, kesedihan yang tipis seolah hendak pecah.

“Aku pakai ini waktu pernikahanku.” Bang Togar menyempatkan diri mengisap rokok. “Juga waktu pemakaman istriku.”

Mendengar ucapan Bang Togar, dua lelaki di hadapannya kehilangan berat. Hiruk pikuk Pasar Senen bagai dijeda hening beberapa detik, sebelum akhirnya Rozak memberanikan diri bersuara. “Jas yang lain ada, Bang?”

“Ini paling bagus, Zak! Kau dan Ganesha kawan baikku. Aku nggak mau, lah, kasih kalian barang jelek!”

“Tapi, Bang ...,” sela Ganesha yang tak enak hati lantaran seolah membeli kenangan Bang Togar.

 “Gini, Nesh. Sebagai pedagang, aku harus bisa menjual apa yang bisa kujual. Tapi, sebagai kawan kalian, aku wajib memberikan kalian barang bagus. Lagi pula, Kawan, istriku bakal lebih senang kalau jas ini bisa digunakan buat bayar sekolah anak kami.”

“Bang ...,” ucap Ganesha.

“Hei, Seniman,” tegas Bang Togar ke arah Ganesha, “pasar bukan untuk orang-orang cengeng. Jadi, lupakan soal sejarah jas ini. Anggap aku hanya menjual jas tok. Sebab kalau pun aku mesti jual sejarahnya, uang yang kalian kumpulkan dari seribu tahun ngamen puisi pun nggak akan mampu membelinya.” Bang Togar diam sejenak. “Deal?”

“Deal, Bang,” jawab Ganesha.

Dalam perjalanan pulang dari lapak Bang Togar, Rozak terus menggerutu. Apalagi Ganesha terus mengejeknya dengan mengatakan bahwa jas itu bisa Rozak kenakan pada saat pernikahan keduanya.