Episode 2 - 27 Mei 2006 (2)

Laksmi Astuningtyas, si perempuan anti-theodise. Pasti kalimat itu diucapkan Baskara berkali-kali dalam hatinya. Bisa kulihat dari lengkung alis tebal dan lengkung senyumnya yang condong ke kiri. Namun sungguh, aku tak ambil peduli soal itu. Meskipun sedikit banyak aku sadar, barangkali, mendengar bacotku tentang di mana letak keadilan Tuhan secara berulang pasti terasa memuakkan.

Pikiranku masih kacau dan sesuatu yang terasa sesak di dadaku, menandakan jelas tangisku tak tumpah tuntas. Sekitar dua jam lalu—sebelum kami berselunjur di depan rumahku, kami memutuskan untuk meninjau keadaan di beberapa wilayah.

Masih kuingat jelas rumah-rumah yang ambruk, bangunan-bangunan yang runtuh, dan jalan di Bantul yang dijalari retak selebar jengkal tangan remaja. Bangunan Institut Seni Indonesia yang kokoh hampir roboh. STIE Kerja Sama dalam posisi miring, seperti siap merebahkan diri. Lalu lintas jerit, doa, tangis, serta segala yang murung meski tanpa meminjam suara bersilang arah, mempertegas resah.

Yang paling menyakitkan ketika kami dalam perjalanan kembali ke rumahku. Jalan di wilayah utara Jogjakarta begitu padat dan penat. Klakson berderet tak sabar, sebab orang-orang membawa desas-desus soal tsunami di kepalanya. Memang, setelah kejadian tsunami Aceh silam, ada memori kolektif soal bencana susulan setelah gempa; gelombang laut yang merayap ke daratan, menyikut dan memberantas semua yang dilewatinya, seolah—bagi sebagian orang—memberantas dosa. Seorang lelaki tua di Kaliurang—teriakannya masih menabuh gendang telingaku, berkata: bencana ini karena dosa kita! Karena dosa kita!

Aku tak mengerti, siapa saja bagian dari ‘kita’.

“Mi, kita ke rumah Adi saja, piye?” tanya Baskara, membuyarkan lamunanku, “sekalian aku mau memastikan kondisi teman-teman. Dan hari ini, mungkin kita bisa memberikan bantuan untuk korban. Minimal dengan tenaga yang kita punya, lah.”

“Oke, Bas. Aku beres-beres barang dulu, ya. Sekalian arep ngunci rumah ndisik.”

Dengan sedikit ngeri, aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil beberapa barang penting. Tak lama. Kemudian segera keluar, agar Baskara tak protes. Setelah mengunci pintu, ia terlihat di atas sepeda motornya sudah mengambil ancang-ancang melaju.

** 

Kami sampai di rumah Adi, di Kaliurang. Perjalanan cukup cepat karena kerumunan orang telah berkurang. Baskara mengetuk pintu, namun tak ada jawaban. Ia segera menuju pot kembang kamboja yang terletak di kaki bangku semen, menemukan kunci terselip di sana, kemudian membiarkan kami masuk tanpa mengantongi izin si tuan rumah. 

Aku berbaring di sofa, sementara lelaki bertubuh gempal itu menyelinap ke dapur bagai kucing bebas yang mencari sisa kopi di stoples, atau sisa nasi goreng bekas makan malam yang sedikit beku di kulkas. Aku tak heran pada tingkah liarnya. Rumah Adi, bisa dikatakan sebagai basecamp, atau sesekali—apabila bosan di rumah—tempatku menulis, atau sering kali menjadi suaka para begundal melankolis—begitu aku menyebut para sahabat lelakiku—ketika mengalami kisah cinta yang tragis.

Beberapa tokoh dalam novelku, bahkan kuambil dari sosok mereka. Adi sebagai Yudis yang bijaksana, Moli sebagai Nunu seorang pecinta medioker, dan Baskara tetap menjadi Baskara yang skeptis. Sedangkan Laksmi, diriku, tak pernah mendapatkan peran dalam novelku sendiri. Menyedihkan.

Mungkin, ada benarnya si Skeptis. Apa yang kuketahui soal cinta? Toh, aku tidak pernah merasa dicintai dan mencintai lelaki lain, selain Bapak. Ia satu-satunya.

Bapak lelaki jawa yang, setelah kematian Ibu, memilih mengajak putri semata wayangnya berpindah ke Aceh—kota kelahiran Ibu. Waktu itu usiaku masih sedikit, dan aku masih belum mengerti mengapa Bapak memilih kota yang menyusun ingatan mesra mereka. Bukankah itu malah menambah dukanya? Atau mungkin, cara terbaik melupakan, baginya, adalah dengan terus-menerus mengingat. Atau yang paling tepat, ia memang tak pernah ingin melupakan Ibu. Tapi yang jelas, ia tak memilih beristri kembali. Dan Aceh; negeri dengan tatapan jantan ke arah samudera itu; negeri berpantai panjang itu, menyediakan hal-hal indah pada masa kecilku.

Masih hangat teringat bagaimana Bapak mengajariku menikmati kental-pekat Aceh Gayo, dibandingkan genit sanger (kopi dengan susu dan gula) di kedai-kedai kopi. Di Aceh Selatan, sempat kulihat pula Seni Dabus Rapa’i Ngadap yang biasa diadakan di meunasah setiap malam Jumat.

Aku bertumbuh menjadi remaja ceudaih, begitu kata Ayahwa Banta Amat dan banyak teman baru Bapak di Aceh. Sebab, kata mereka, mataku bulat cerlang, hidungku lancip, rahangku tirus-kokoh—sebagai satu-satunya warisan fisik dari Ibu—dan warna kulitku cokelat terang. Tapi, entahlah, di negeri kaum lelaki itu, aku tak berhasil membuat satu pun lelaki jatuh cinta dan mabuk gayo. Jika kuingat lebih teliti, mungkin ada satu-dua lelaki yang mengajakku berkencan—maksudku, sekadar jalan-jalan—tapi tanpa kelanjutan. Pasti mereka terlambat menyadari kalau aku seorang kutu buku tanpa kacamata. Meskipun, ummm, ya, harus diakui ceudaih. Ya, aku pun tak ambil peduli pada dua lelaki tanpa minat baca itu.

Aku berpindah ke tanah ari-ariku dimakamkan, Jogjakarta, setelah diterima di Studi Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada. Dalam aktivitasku sebagai mahasiswa, aku bertemu dengan Baskara dan Adi. Baskara merupakan aktivis kampus dengan orientasi perjuangan yang bimbang, sedangkan Adi sejenis kutu buku yang sering kali digambarkan dalam film komedi: kurus, berkacamata tebal, dan berambut ikal. Bersama mereka, aku menjalani kehidupan kampus yang begitu menyenangkan. Sampai akhirnya, kami lulus serempak dengan prestasi seadanya.

Dengan jas gelap serta dasi rapi mengikat lehernya, Bapak hadir ke acara wisudaku. Disematkannya rasa bangga di dadanya, dan rasa bahagia di dadaku. Selama satu minggu, kami menjadi wisatawan di tanah kelahiran kami sendiri. Sampai akhirnya, ia pulang ke Aceh, sementara aku menetap di Jogjakarta. Kupikir, Jogja adalah tanah paling subur bagi tumbuhnya benih kata-kata—di mana romantisme kekal dalam segala cuaca.

Aku memilih menjadi novelis. Meskipun tak satu pun novel karanganku yang mencuri perhatian pembaca, setidaknya aku bisa membuktikan bahwa aku sanggup merawat mimpiku. Sedangkan untuk urusan perut, aku mengandalkan pekerjaan-pekerjaan lepas yang diberikan Adi dan Baskara. Mereka menjalankan usaha Event Organizer yang telah cukup maju.

Pada Desember 2004, saat usiaku belum genap 24 tahun, gempa bangkit dan laut menerjang bapakku. Membuatku mulai sering bertanya: Tuhan, mengapa?

Aku sudah kehilangan salah satu orangtuaku, dan masih terlalu muda untuk kehilangan keduanya. Lagi pula, kenapa harus bapakku? Ia lelaki yang taat, lurus, dan mengesampingkan godaan dunia. Namun, saat aku menengadah ke langit untuk bertanya, langit cuma punya diam, membuatku terlalu kecewa.

** 

Malam jatuh, menyempurnakan gelap Jogjakarta yang kehilangan nyala sebab listrik padam. Dari ruang tamu Adi, kudengar sayup suara motor dan derit sendi pagar yang kaku dibuka. Tak lama berselang, Adi dan Baskara terlihat dengan wajah lusuh dan mata keruh. 

“Di, piye kondisinya?” tanyaku, sambil memutar sendok di cangkir kopi.

“Parah, Mi. Banyak korban ditempatkan di lorong-lorong rumah sakit, bahkan di tenda-tenda darurat di parkiran. Kapas dan perban berserakan, darah berceceran. Ngilu aku ngelihatnya.”

Mata mendung Adi menjatuhkan hujan dalam dadaku.

“Bahkan, kata seorang warga, di daerahnya banyak korban yang masih menunggu giliran antar ke rumah sakit,” timpal Baskara.

“Tapi aku terenyuh melihat banyak orang dari sekitar rumah sakit datang memberikan bantuan,” lanjut Adi, setelah menyalakan sebatang rokok dan mengembuskan asapnya.

Mendengar apa yang dikatakan mereka, aku merasakan ngilu dan sesal mengapa tadi siang, kuikuti saran Baskara untuk sementara tidak ikut mereka memberikan bantuan. Meskipun ada kelegaan yang ganjil melihat dua sahabatku, tanpa mengenal takut menelusuri reruntuhan kota dan kemungkinan gempa susulan.