Episode 96 - Meradang




Hari ketiga Kejuaraan Antar Perguruan yang bertempat di Perguruan Maha Patih, Kota Ahli, berlangsung cepat. Akan tetapi, menyaksikan kedelapan pertarungan sungguh melelahkan bagi Bintang Tenggara. Ia lelah memikirkan pertarungan-pertarungan yang berlangsung di atas panggung dan bagaimana cara mengantisipasi setiap perguruan. Sebagai tambahan, tubuhnya memang sedang menderita luka dalam, meski tidak fatal.

“Selamat!” Sesepuh Ketujuh tak dapat menyembunyikan kegembiraan. “Kalian berhasil menembus delapan besar dalam kejuaraan tahun ini,” sambungnya di saat menjemput para perwakilan Perguruan Gunung Agung ke tenda mereka.

Kelima murid di hadapan Sesepuh Ketujuh hanya diam. Mereka terlihat khawatir. Sungguh di luar perkiraan… Bahwa lawan selanjutnya adalah Perguruan Ayam Jantan, yang mana salah seorang muridnya saja mampu membungkam kelima wakil perguruan Istana Danau Api.

“Aku tak hendak membebani kalian. Dalam pertarungan berikutnya, sudah cukup bagiku bila kalian berusaha sebaik mungkin.”

Bagi Sesepuh Ketujuh, prestasi dalam kejuaraan tahun ini sudah sangat baik. Kalau pun tak bisa melangkah lebih jauh, dua tahun dari sekarang dan dengan persiapan yang lebih matang, bukan tak mungkin kelima murid di hadapannya menjuarai Kejuaraan Antar Perguruan ini.

Petang segera tiba. Kelima murid perwakilan Perguruan Gunung Agung, ditambah Gundha dan Sesepuh Ketujuh, melangkah meninggalkan gelanggang kejuaraan.

“Kalian kembalilah terlebih dahulu,” ujar Sesepuh Ketujuh. “Aku dan Gundha hendak mengunjungi Perguruan Budi Daya.

“Si lucu… Si pesing… Pujaan hatiku… Aji Pamungkas! Aji Pamungkas!” tetiba terdengar nyaring suara perempuan-perempuan memanggil.

Tubuh Aji Pamungkas pun tetiba kaku, di saat lima orang gadis remaja yang cantik-cantik mengerubungi dirinya. Dua orang gadis menggandeng lengan kiri dan kanan, satu memeluk kepalanya, sedangkan dua lagi mendatangi Canting Emas dan Kuau Kakimerah. Mereka menyisir dengan seksama.

“Siapa kalian!?” sergah Canting Emas tak terima dipelototi.

“Cantik. Kurus. Terlalu galak….”

Kuau Kakimerah bersembunyi di balik tubuh Panglima Segantang.

“Manis. Imut. Pemalu….”

“Siapa kalian!?” Canting Emas kembali berseru.

“Mereka kakak-kakak perempuanku…,” Aji Pamungkas menggeretakkan gigi. Sungguh ia merasa tak nyaman.

Bintang Tenggara melengos pergi. Apa rasanya menjadi anak bungsu dengan lima orang kakak perempuan? pikirnya dalam hati. Mungkin kelakuan Aji Pamungkas selama ini dikarenakan kakak-kakak perempuan yang terlalu protektif. Apa kabarnya Lintang Tenggara…? Benarkah ia kakak kandungku…?


“Maha Guru Ke-10, adik Segoro Bayu… mengapa sampean ngelamun?” tegur Sesepuh Ke-15. Sebagaimana diketahui, lelaki tua ini berperan sebagai pendamping bagi murid-murid perwakilan dari Perguruan Maha Patih.

“Oh… Sesepuh Kertawarma, kula hanya sedikit lelah,” jawab sang Maha Guru yang menjabat sebagai Ketua Panitia kejuaraan tahun ini.

Kula mendengar perihal akan adanya sedikit gangguan….” Sesepuh Kertawarma berujar dengan bahasa yang halus. Meski demikian, ia memicingkan mata.

“Bukan apa-apa… Hanya beberapa murid yang kemungkinan berhalusinasi,” jawab sang Maha Guru menyembunyikan kekhawatirannya.

Inggih… Baiklah, bila demikian….” Sang Sesepuh melangkah ke arah penginapan murid-murid Perguruan Maha Patih.

Di depan Balai Panitia, Maha Guru Segoro Bayu masih berdiri seorang diri. Raut wajahnya terlihat gelisah.


Setelah meninggalkan kelompoknya tadi, Bintang Tenggara melangkah ringan. Dalam hati ia sedang menghitung setiap langkah yang diambil, sebuah kebiasaan lama yang tak pernah hilang. Pada hitungan ke 1.143, tetiba seorang murid melangkah ke arahnya.

“Murid dari Perguruan Gunung Agung, Bintang Tenggara… telah ditemukan petunjuk atas kejadian beberapa malam lalu,” ujar seorang murid Perguruan Maha Patih. Napasnya terengah.

Bintang Tenggara mengenal remaja lelaki di hadapannya itu. Ia adalah salah seorang murid Perguruan Maha Patih yang tempo hari menemani Maha Guru Segoro Bayu, Poniman, Gundha dan dirinya menelusuri hutan di balik tembok barat.

“Sudikah kiranya sampean mengikutiku sejenak? Maha Guru Segoro Bayu sedang menantikan kehadiranmu.” Ia terlihat hendak bergegas.

Bintang Tenggara tak hendak ikut campur atas apa pun kejadian di hutan bagian barat Perguruan Maha Patih. Sungguh berisiko besar. Saat ini Gunda sudah aman, sehingga tak ada keperluan untuk melibatkan diri lebih jauh. Namun, ia harus menanggapi, lalu menolak dengan santun.

“Kurasa kita perlu mengajak Gundha…,” ujar Bintang Tenggara berbasa-basi. Kali ini dapat dipastikan bahwa Gundha bersama Sesepuh Ketujuh sedang mengunjungi Perguruan Budi Daya. Bilamana menyusul ke sana, maka kemungkinan Sesepuh Ketujuh akan menolak memberi ijin.

“Adik Bintang Tenggara seorang sudah memadai. ”

“Hm…?”

“Maha Guru Segoro Bayu yang meminta….”

Bintang Tenggara, walau enggan dan masih cedera, tak mungkin menolak permintaan tokoh sekelas Maha Guru Segoro Bayu. Ia hanya bisa menghela napas panjang.

Keduanya kemudian bergegas ke arah tembok barat Perguruan Maha Patih. Seperti biasa, keadaan di sana sepi sekali. Matahari terlihat jauh di ufuk barat. Hari beranjak malam.

“Kakak, apakah unsur kesaktian Maha Guru Segoro Bayu?” tanya Bintang Tenggara hendak memastikan.

“Api…,” ujar murid tersebut mempercepat langkah.

Jawaban tersebut menepis sedikit keraguan di benak Bintang Tenggara. Sepertinya Maha Guru Segoro Bayu adalah yang menyelamatkan dirinya kala itu. Cahaya yang ia saksikan sepintas, kemungkinan besar berasal dari kesaktian unsur api yang sedang menyala. Mungkinkah sang Maha Guru telah membekuk pelaku kejahatan? Ia pun segera melompat ke atas tembok dan keduanya bergegas melangkah ke dalam hutan.

Sisik Raja Naga terlihat aktif di kedua lengan dan kaki. Meski tak meragukan murid Perguruan Maha Patih yang menuntun arah, Bintang Tenggara tetap waspada. Bentuk Ketiga dari Jurus Silek Linsang Halimun telah siap sedia, sementara Kartu Satwa Harimau Bara pun dalam genggaman. Bila terjadi hal-hal di luar dugaan, ia akan melakukan teleportasi jarak dekat, melepas Harimau Bara, lalu berlari secepat kilat.

Keduanya telah melewati lokasi dimana Gunda sempat bertarung. Pilar-pilar batu masih terlihat mencuat dan menjadi penunjuk arah. Langkah kaki pun dipercepat.

Tetiba, teman seperjalanan Bintang Tenggara berhenti di tempat… “Kakak Seperguruan…?” gumam remaja tesebut ragu.

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!

Bintang Tenggara segera melakukan teleportasi jarak dekat sejurus setelah ia menangkap kehadiran sosok yang berdiri menanti di hadapan. Sosok tersebut tak lain adalah remaja berkulit gelap dengan kesaktian unsur asap. Mungkinkah Maha Guru Segoro Bayu saat itu tak berhasil meringkusnya? Ataukah….

“Khikhikhi….”

Bintang Tenggara melesat secepat kilat mengadalkan kesaktian unsur petir. Ia tak mempedulikan teman seperjalanannya, karena mungkin saja remaja tersebut bersebahat dengan remaja berkulit gelap itu.

“Bum!”

Tetiba sebuah ledakan tenaga dalam menghantam tubuh Bintang Tenggara! Ia pun terjungkal belasan langkah ke belakang. Luka dalam yang didapat dari pertarungan melawan Jajaka Merah semakin parah. Akan tetapi, kesadarannya belum memudar. Oleh karena itu, ia masih sempat menangkap kehadiran seseorang yang mencuri serangan dari arah depan, tapi segera menghilang…

“Khikhikhi…”

Bintang Tenggara tak bisa menggerakkan tubuhnya. Sensasi yang ia rasakan mirip dengan ketika menerima hantaman tenaga dalam dari Gubernur Pulau Dua Pongah. Meski, kekuatan hantaman kali ini seolah sengaja dibatasi agar tak mengancam jiwa….

Tak lama berselang, Bintang Tenggara merasakan dirinya terangkat perlahan. Bau kemenyan demikian menyengat. Sekujur tubuhnya telah dibungkus asap gelap nan kelam. Mata hati dan tenaga dalam pun tak berfungsi sebagaimana mestinya. Kini, rasa perih terasa mulai merayap ke pori-pori di sekujur tubuh…

“Aku terlahir kembali di tubuh yang kurang sesuai…,” sebuah suara terdengar senang. “Aku memerlukan tubuh yang tepat agar bisa membangun keahlian seperti sedia kala….”

Bintang Tenggara mulai pasrah. Sepantasnya ia lebih curiga akan kemungkinan terburuk. Pelajaran yang ia terima malam ini agaknya datang terlambat…

Di saat benar-benar akan hilang kesadaran, Bintang Tenggara merasakan kehadiran sesuatu yang ia kenal sangat, sangat dekat… mengemuka!

“Bum!” Suara ledakan tetiba bergema di tengah hutan, di malam nan sepi.

Mata hati Bintang Tenggara tetiba terlepas dari pengaruh kesaktian unsur asap. Samar, ia menyaksikan keberadaan sesosok tubuh bernuansa merah, tinggi dan besar. Rambutnya panjang, lebat mengembang. Sepasang kelat tersemat ketat di lengan yang besar… Seutas kalung menyangga sekeping medali bulat besar dengan corak matahari, yang menggantung di leher. Selembar kain menyelempang di pundak… dadanya demikian bidang. Wajah sosok tersebut seperti sedang… meradang!

Tubuh Bintang Tenggara jatuh tergolek. Ia pun kehilangan kesadaran.

Tanpa Bintang Tenggara sadari, akibat ledakan yang tadi tercipta, remaja berkulit gelap terpental belasan langkah ke belakang!



“JEBAAAAAT!” Terdengar teriakan meradang berkumandang!

Remaja berkulit gelap yang terjungkal bangkit berdiri.

“Apa… yang… hendak… kau lakukan… pada… muridku!?”

“Ko… Komodo Nagaradja!” Remaja berkulit gelap tergagap.

Sosok tubuh Komodo Nagaradja terlihat melayang tepat di atas tubuh Bintang Tenggara. Saat ini ia sedang mengacungkan tinju. Sungguh perkasa pembawaannya.

Remaja berkulit gelap menatap tajam. Ia mengamati dengan seksama. Kemudian, sebentuk senyum tipis menghias sudut bibirnya…

“Khikhikhi… Apakah kau sudah berubah menjadi gentayangan, hai Jenderal Ketiga Pasukan Bhayangkara? Sejak kapan pula kau memiliki murid?”

“Hang Jebat! Raja Angkara Durhaka… Sekali lagi kutanyakan, apa yang hendak kau lakukan pada muridku!?”

“Aku telah terlahir kembali….” Remaja berkulit gelap yang oleh Komodo Nagaradja dikenal sebagai Hang Jebat, melangkah mendekat.

“Enyah dari hadapanku!” sergah Komodo Nagaradja. Sungguh geram rasanya terbangun dari tidur panjang, hanya untuk bertemu dengan salah seorang Raja Angkara.

“Apa yang dapat gentayangan tanpa tubuh seperti dikau perbuat? Haa? Nasibku jauh lebih baik… Khikhikhi…”

“Bertobatlah, Jebat!”

“Bertobat? Kalian yang seharusnya bertobat! Bangsat!” hardik Jebat. “Kalian membunuh kakakku!”

“Jebat… kaulah punca terbunuhnya Kakak Tuah!” sanggah Komodo Nagaradja.

“Cih… Bedebah! Kau selalu membuatku muak!” Jebat melangkah semakin dekat.

Komodo Nagaradja membatin. Ia memejamkan mata, lalu membuka rahang perlahan. Sebuah gumpalan sebesar kelereng, berwarna hitam pekat, terlihat melayang keluar dari dalam mulut. Pemandangan ini membuat Jebat berhenti mendadak, bahkan mundur setengah langkah.

“Segel Hitam…,” kesah Jebat gelisah.

“Bilamana terpaksa, Jebat….”

“Sang Maha Patih memercayakan prahara di tanganmu….” Jebat berupaya mengulur waktu.

“Jangan kau pikir aku tak bernyali….”

“Kau dan aku, muridmu… bahkan kota ini akan binasa!”

“Pergilah, Jebat… Aku tak peduli dengan apa pun itu rencanamu. Jaman sudah berubah.”

“Komodo Nagaradja… Siluman sempurna… Naif seperti biasa….”

Komodo Nagaradja menanggapi dengan diam.

“Cih! Aku akan mengabaikan muridmu…,” akhirnya sang Raja Angkara yang terpaksa mengalah. Sepertinya, ia cukup mengenal Komodo Nagaradja untuk tak bertindak gegabah.

“Tapi… jangan campuri urusanku di kota ini!”

“Sepakat!”

Remaja berkulit gelap, salah seorang dari Lima Raja Angkara yang rupanya bernama Jebat, kemudian melangkah pergi. Raut wajahnya kusut. Akan sulit baginya merasuk dan mengambil alih tubuh remaja yang sedang pingsan itu. Sangat disayangkan, karena menurut pengamatannya, tubuh anak remaja itu kemungkinan besar akan sangat sesuai baginya.

Komodo Nagaradja mengamati kepergian Jebat. Raut wajahnya sama kusut. Setelah memastikan bahwa Jebat benar-benar angkat kaki, jiwa dan kesadaran sang Super Guru pun kembali ke tempat ia bersemayam.

Tak lama berselang, sesosok tubuh manusia mendarat tepat di sebelah tubuh Bintang Tenggara. Ia mengamati sekeliling. Cukup lama. Sepertinya ia sedang menimbang-nimbang apakah menyusul ke arah Jebat menghilang, atau tidak. Namun, akhirnya ia mengurungkan niat. Dengan mudahnya ia membawa pergi tubuh Bintang Tenggara.


===


Matahari pagi membelai wajah Kum Kecho. Rasa hangat yang menyilaukan, membuat dirinya segera terjaga. Ia mendapati tubuhnya tergeletak di rerumputan. Capung miliknya terlihat sedang menyantap pucuk dedaunan di atas pohon.

Dimana ini? batin anak remaja itu. Ingatan terakhir adalah dirinya menerima hantaman telak kesaktian unsur asap yang berwujud ikan sembilang dari seorang ahli Kasta Perak. Kesadarannya memudar tak lama setelah itu, di saat berada di pundak capung.

Kum Kecho bangkit berdiri. Anggota tubuh luar tak menderita luka. Setelah memastikan lebih lanjut, dirinya menyadari bahwa sesungguhnya ia menderita luka dalam. Pastilah akibat dari wujud kesaktian unsur asap. Ia menyapu pandang ke sekeliling.

Tepat di hadapan, Kum Kecho menyaksikan hamparan bata merah berserakan sejauh mata memandang. Di sana-sini terlihat puing-puing tembok yang tinggi dan tebal. Samar-samar, Kum Kecho menangkap sebuah gapura yang demikian besar, atau setidaknya puing-puing bekas gapura. Di sisi dalam, tergeletak sebuah pintu besar yang terbuat dari logam dengan berbagai ukiran yang dulunya pastilah sangat indah.

“Sastra Wulan…,” gumam anak remaja itu lirih.

Tak perlu waktu lama bagi Kum Kecho untuk melangkah meninggalkan bekas ibukota Negeri Dua Samudera itu. Dari raut wajahnya, tercermin kegetiran yang mendalam. Namun, belum sempat berjalan terlalu jauh, tetiba Kum Kecho menghentikan langkah kakinya….

“Hehe… Akhirnya pengejaran kita membuahkan hasil….”

Sepasang anak remaja lelaki dan perempuan berdiri terpisah belasan langkah dari Kum Kecho.

Kum Kecho segera mengingat mereka sebagai kaki tangan remaja berkulit gelap. Keduanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9. Gigih sekali mereka, mengejar dari wilayah pusat, sampai masuk ke wilayah timur Pulau Jumawa Selatan.

Kecapung Terbang Layang!

Kum Kecho segera melompat ke pundak binatang siluman miliknya. Saat ini, ia tak berada dalam kondisi yang layak untuk bertarung. Oleh karena itu, keputusan jatuh pada pilihan menghindar, dan bergerak menuju gerbang dimensi milik Partai Iblis terdekat.

Kedua remaja pengejar menggeretakkan gigi. Mereka tak sengaja berpapasan dengan sang buruan. Kalau saja tadi mereka melihat terlebih dahulu, tentunya mereka akan berupaya menyembunyikan diri lalu menyergap. Karena, perintah sang tuan adalah meringkus… bilamana kesulitan, barulah berupaya membunuh.

Kum Kecho melayang tinggi di udara. Kedua pengejarnya berupanya setengah mati menyusul. Pada akhirnya, mereka menyerah dan menghentikan pengejaran.

Gerbang dimensi milik Partai Iblis sedang berpendar ketika Kum Kecho tiba, petanda sedang ada yang menggunakan dan akan segera tiba. Tak lama, sesosok tubuh berjubah hitam melompat keluar.

“Tuan Guru!” Melati Dara setengah bersorak. Ia pun segera duduk bersimpuh.

“Apa yang hendak kau perbuat?”

“Budakmu mengkhawatirkan Tuan Guru,” jawab Melati Dara dalam suka cita. “Budakmu hendak mengantarkan beberapa Kartu Satwa milik Tuan.”

Kum Kecho terdiam sejenak. Luka dalam yang ia derita berangsur pulih.

“Apakah kau membawa ramuan Jamu Pasak Raga?”

“Banyak, Tuan.”

“Waktunya berburu!” ujar Kum Kecho menatap ke arah barat.