Episode 95 - Saweri Gading



Sebilah pedang melayang tinggi di udara. Warnanya keemasan. Bentuknya meliuk-liuk dan ujungnya bercabang dua, seolah seekor naga yang sedang mengangkasa sambil menjulurkan lidah. Aura Kasta Perak dari pedang tersebut menyibak ke seluruh penjuru gelanggang kejuaraan. Berkat sinar mentari pagi, pedang tersebut tampak semakin gemilang.

Akan tetapi, perhatian kini sedang bertumpu tepat di bawah sang pedang melayang. Di atas panggung pertarungan, Bintang Tenggara berdiri tegar menahan rasa perih di tubuhnya. Kedua matanya menatap Lembing Garpu Tala. Sungguh senjata yang membahayakan. Bagaimana pula cara kerjanya? batin Bintang Tenggara penasaran.

Jajaka Merah, di sisi lain, sangatlah berhati-hati. Ia telah mengetahui bahwa lawan di depan mata memiliki kesaktian unsur petir. Gerakan cepat dan tak beraturan, disertai cabikan deras, tak dapat dipandang sebelah mata. Dengan demikian, Jajaka Merah memilih bersabar. Ia menunggu saat yang tepat untuk melancarkan serangan mematikan.

“Hyat!”

Bintang Tenggara melenting tinggi, ia kembali menikamkan Tempuling Raja Naga deras ke arah Jajaka Merah. Lawan pun menyambut dengan tusukan Lembing Garpu Tala. Gelombang getaran bunyi merambat…

“Duar!”

Sebuah ledakan terdengar sebelum Bintang Tenggara kembali terlontar keluar dari panggung pertarungan. Setelah melompat dari satu Segel Penempatan ke Segel Penempatan berikutnya, Bintang Tenggara kembali mendarat di atas panggung. Akan tetapi, kali ini ia tak menderita luka dalam.

Ledakan tadi juga memaksa Jajaka Merah mundur beberapa langkah ke belakang. Meski sama sekali tak terluka akibat ledakan, sungguh Jajaka Merah bertanya-tanya…. Gelombang getaran bunyi tak dapat ditangkis, namun bisa diredam. Akan tetapi, tentu tak sembarang orang yang dapat meredam gelombang getaran bunyi!

Bintang Tenggara mengingat pertarungan dengan Ammandar Wewang di atas Pinisi Penakluk Samudera. Dayung Penakluk Samudera, yang merupakan salah satu dari Sembilan Senjata Pusaka Baginda, juga bergetar. Meski, getaran yang dihasilkan bukanlah gelombang getaran bunyi seperti halnya Lembing Garpu Tala.

Di saat pertarungan melawan Ammandar Wewang berlangsung, Komodo Nagaradja memerintahkan untuk mengalirkan tenaga dalam menuju Sisik Raja Naga yang sedang aktif di kedua belah lengan dan kaki. Menerima aliran tenaga dalam, Sisik Raja Naga sedikit mengembang seperti memakai balon pelampung. Lalu, pelindung itu menyerap daya serang. Kemampuan penyerapan ini, meski demikian, berbanding lurus dengan jumlah tenaga dalam yang dialirkan Bintang. Dengan kata lain, bila Bintang Tenggara mengalirkan 10 tenaga dalam, maka Sisik Raja Naga hanya dapat menyerap 10 tenaga dalam pula.

Bintang Tenggara sudah dapat memperkirakan cara kerja senjata lawan. Jajaka Merah kemungkinan besar adalah ahli dengan kesaktian unsur logam. Berbekal kesaktiannya, lawan tersebut menggetarkan bilah Lembing Garpu Tala. Hanya sedikit tenaga dalam yang diperlukan oleh Jejaka Merah untuk melakukan hal tersebut. Dengan kata lain, tak perlu terlalu banyak pula tenaga dalam yang dialirkan ke Sisik Raja Naga untuk menyerap daya serang gelombang getaran bunyi.

“Nguuunng….”

Jarak Bintang Tenggara dan Jajaka Merah terpaut jarak sekitar belasan langkah. Lembing Garpu Tala kembali bergetar. Di saat yang sama, Jajaka Merah menusukkan senjatanya tersebut ke ruang kosong di antara mereka.

“Bum!”

Ubin panggung tempat Bintang Tenggara tadinya berpijak hancur berkeping! Jajaka Merah baru saja merambatkan gelombang getaran bunyi melalui udara. Sebuah serangan jarak jauh!

Bintang Tenggara melenting tinggi ke atas untuk menghindar sekaligus melancarkan serangan balik!

“Duar!”

Ledakan kembali terdengar di saat Sisik Raja Naga menyerapkan dan melepaskan daya serang gelombang getaran bunyi. Lagi-lagi Bintang Tenggara terpental keluar dari panggung pertarungan dan lagi-lagi ia melompat balik menggunakan Segel Penempatan.

Sulit sekali, pikir Bintang Tenggara. Pertahanan gelombang getaran bunyi tak kasat mata dan dapat merambat di udara. Selain itu, bila tak memiliki Sisik Raja Naga, maka pastilah sulit sekali menghadapi lawan di hadapannya itu… Kecepatan unsur petir pun akan sulit menembus gelombang getaran bunyi!

Sambil menahan perih, Bintang Tenggara untuk kesekian kalinya melenting tinggi dan menikamkan Tempuling Raja Naga. Untuk kesekian kalinya pula Sisik Raja Naga menyerap gelombang getaran bunyi, meledak, lalu tubuh anak remaja tersebut terpental, dan kini ia melompat-lompat kembali ke atas panggung.

“Apa yang ‘Sang Lamafa Muda’ itu lakukan…?” Terdengar suara setengah mengejek dari arah tibun penonton.

Bintang Tenggara kemudian kembali melenting, menikam, menyerap, terlontar dan kembali berdiri di atas panggung.

“Membosankan… Apakah seorang lamafa hanya bisa menikam?” Terdengar komentar sinis dari penonton lain.

Bintang Tenggara lag-lagi mengulang upaya yang sama, yang masih tak membuahkan hasil apa-apa….

“Bagai menegakkan benang basah… Serangan monoton yang sia-sia belaka….” Bahkan penonton di tribun kehormatan, terdengar mulai mencibir.

Tanpa disadari, reaksi kecewa dari penonton mulai bergemuruh. Betapa tidak, dalam pertarungan-pertarungan sebelumnya, mereka menyaksikan tidak hanya sekali atau dua, melainkan tika kali kemunculan wujud dari jurus kesaktian. Lalu, kepiawaian Canting Emas dalam mengatasi binatang siluman nan angker, sungguh sesuatu yang tak biasa. Pertarungan wakil-wakil Perguruan Gunung Agung sebelumnya sungguh mencengangkan, namun mengapa yang terakhir ini justru mengecewakan. Antiklimaks.

“Sesepuh Ketujuh…,” terdengar suara menegur. “Diriku tak meragukan bahwa anak remaja itu adalah benar Sang Lamafa Muda… Namun, dengan segala rasa hormat, ia masih terlalu hijau. Dari seluruh peserta kejuaraan tahun ini, dengan hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5… ia adalah yang terlemah.”

Sesepuh Ketujuh hanya menoleh. Kedua matanya bertemu pandang dengan pendamping dari Perguruan Maha Patih, seorang sesepuh yang memang sudah sepuh.

Sesungguhnya sedari tadi pun dirinya merasa tak nyaman. Mengapa gaya bertarung Bintang Tenggara yang biasanya cepat dan akurat berubah drastis…? Kemana perginya sikap penuh perhitungan dari anak didik Maha Guru Keempat itu…? Apakah ia gugup karena terbebani peran sebagai petarung terakhir dalam laga ini…? batin Sesepuh Ketujuh.

“Yang terhormat Sesepuh Ke-15 dari Perguruan Maha Patih….” Seperti biasa, Sesepuh Ketujuh memasang wajah datar.

“Perguruan Gunung Agung memiliki alasan kami sendiri…,” sambungnya sambil menyibak senyum kecut.

“Bila demikian, maafkanlah kelancanganku…,” Sesepuh Ke-15 dari Perguruan Maha Patih kembali ke tempat duduknya. Ia sudah sepenuhnya beranggapan bahwa Perguruan Gunung Agung adalah kuda hitam dalam Kejuaran Antar Perguruan tahun ini. Demikian, ia pun menahan diri agar tak menggali lebih dalam.

Di tengah panggung, Jajaka Merah terus-menerus melancarkan serangan balik atas tikaman tajam tempuling. Awalnya ia merasa aneh mengapa gelombang getaran bunyi tak berdampak banyak. Ia telah curiga pada pelindung di kedua belah lengan dan kaki Bintang Tenggara.

Sedari awal pun, Jajaka Merah selalu waspada akan kemungkinan serangan mendadak menggunakan kesaktian unsur petir. Pada satu kesempatan, ia sempat berencana menerapkan cara lain untuk mengantisipasi tikaman tempuling, namun mengurungkan niat tersebut. Jajaka Merah memilih untuk menunggu kesempatan terbaik demi meraih kemenangan dengan sekali pukul.

Oleh karena itu, lama kelamaan Jajaka Merah terbuai dalam pola serangan monoton Bintang Tenggara. Sesuai perkiraan, Bintang Tenggara kembali melenting tinggi. Segel penempatan sudah terlihat dipersiapkan di udara di sisi luar panggung. Namun, kali ini Bintang Tenggara mengalirkan tenaga dalam untuk menambah berat tempuling sampai ke titik maksimal… 300 kilogram!

Jajaka Merah sedikit terkejut akan adanya tambahan kekuatan tikaman tempuling. Ia pun menyadari apa yang sedang terjadi, bahwa dengan menambah massa tempuling berarti turut meredam gelombang getaran bunyi. Jadi, inikah rencana lawan sejak awal? Membuat diriku terbiasa dengan kekuatan tikaman biasa, lalu tetiba mengubah massa sekaligus menambah kekuatan tempuling?

Di balik topeng yang ia kenakan, Jajaka Merah mengulum senyum. Segera ia kerahkan kesaktian unsur logam sekaligus tenaga dalam yang lebih besar ke arah senjata dalam genggaman. Gelombang getaran bunyi yang dihasilkan oleh Lembing Garpu Tala pun bertambah secara signifikan.

Inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu sedari tadi. Ketika Bintang Tenggara hendak menjebak, maka Jajaka Merah justru akan memanfaatkan kesempatan yang terbuka lebar. Jadi, di saat Bintang Tenggara terpental nanti, Jajaka Merah pun berencana mengerahkan serangan susulan secara beruntun. Ia akan merambatkan gelombang getaran bunyi melalui udara, sehingga mengantarkan serangan jarak jauh ketika tubuh lawan yang lengah masih berada di udara dan di luar panggung pertarungan!

“Hyah!” Jajaka Merah menghentakkan napas sambil mengerahkan tenaga dalam dengan jumlah yang lebih besar. Lembing Garpu Tala bergetar dan mengirimkan gelombang getaran bunyi jauh lebih deras dari sebelumnya.

“Swush!” Tetiba tubuh Bintang Tenggara menghilang! Ia meninggalkan Tempuling Raja Naga yang berat, tepat di atas tubuh Jajaka Merah.

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!

Bintang Tenggara sudah berada tepat di samping tubuh Jajaka Merah yang sedang menghunuskan Lembing Garpu Tala. Atau dengan kata lain, ia berada persis di belakang gelombang getaran bunyi yang sedang diarahkan ke depan atas!

“Buk!” Hantaman tiga tinju beruntun mendarat telak di ulu hati Jajaka Merah!

Hening. Sejumlah penonton melompat dari bangku tempat duduk mereka. Sebagian dari mereka hanya melotot ke arah panggung pertarungan.

“Apa yang terjadi!?”

“Teleportasi jarak dekat!”

“Tidak mungkin! Ahli Kasta Perunggu belum bisa terbang, apalagi melakukan teleportasi jarak!”

Gemuruh keterpanaan dan ketidakpercayaan tetiba terdengar gaduh dan semakin menyemarakkan gelanggang pertarungan.

‘Bagai harimau menyembunyikan kuku’ adalah nama Taktik Tempur bernomor seri 61, dari rangkaian 99 Taktik Tempur versi Komodo Nagaradja. Inti dari taktik ini adalah… menyembunyikan kepandaian dan berpura-pura bodoh, sehingga dapat menciptakan kesempatan di saat yang tepat.

Jangan berani tanyakan mengapa Taktik Tempur No. 61 ini bertolak belakang dengan Taktik Tempur No. 19, yaitu ‘Pamer’. Sudah demikian adanya, menurut Super Guru Komodo Nagaradja, suatu hari di Pulau Bunga.

“Pergurungan Gunung Agung memenangkan pertarungan melawan Sanggar Sarana Sakti!”

Pengumuman dari panitia mengundang gemuruh suara penonton. Perguruan Gunung Agung dipastikan masuk ke dalam peringkat delapan besar dalam Kejuaraan Antar Perguruan! Senyum tipis menghias sudut bibir Sesepuh Ketujuh, padahal ia sudah berupaya setengah mati mempertahankan wajah datar.

“Istana Danau Api berhadapan dengan Perguruan Ayam Jantan!”

Canting Emas dan Panglima Segantang yang baru saja memasuki tenda Perguruan Gunung Agung, melangkah cepat keluar. Keduanya ingin menyaksikan pertarungan lawan di atas panggung, karena pemenang laga tersebut dipastikan akan berhadapan dengan Perguruan Gunung Agung. Namun, yang lebih penting lagi, Istana Danau Api yang dikenal akan kelebihan dalam kesaktian unsur api dikabarkan selalu menyuguhkan pertarungan yang memukau. Bahkan, kemungkinan besar Istana Danau Api akan menjadi lawan mereka berikutnya.

Tiga dari lima remaja di kubu Perguruan Ayam Jantan berdarah siluman, atau biasa dikenal dengan nama peranakan siluman. Secara fisik, mereka kelihatan seperti layaknya manusia biasa. Akan tetapi, sampai batasan tertentu mereka dapat mengerahkan kemampuan siluman yang mengalir di dalam darah mereka.

Pertarungan di atas panggung berlangsung cepat dan sengit. Kesaktian unsur api milik murid-murid Istana Danau Api sungguh digdaya. Hawa panas yang tercipta bahkan terasa sampai ke tenda perguruan. Padahal, hawa tersebut telah terhalangi oleh dua lapisan segel.

“Hm…?” Bintang Tenggara terlihat sangat penasaran ketika murid-murid Istana Gunung Api melancarkan serangan.

“Banyak ahli yang melakukan kesalahan dalam memanfaatkan kesaktian unsur api,” ujar Canting Emas membaca raut wajah Bintang Tenggara.

“Benar,” timpal Panglima Segantang.

“Kesalahan yang utama adalah kesaktian unsur api seringkali diterapkan untuk menciptakan ledakan atau merambahkan hawa panas. Padahal, dasar dari api adalah membakar. Ledakan dan hawa panas adalah dampak dari proses pembakaran.”

Bintang Tenggara tertegun sejenak. Selama ini ia tak pernah terlalu memikirkan perihal kesaktian unsur api. Ia pun mengingat wujud padma api milik Canting Emas… Sungguh kemampuan membakar yang tiada banding. Memang benar kata-kata nasehat orang-orang tua, sebaiknya jangan bermain api, pikirnya dalam hati.

“Crak!”

Murid-murid Perguruan Ayam Jantan melompat keluar dari atas panggung! Jilatan api yang membakar memenuhi wilayah panggung dan membumbung tinggi. Udara di sekitar panggung pun deras berputar memberikan gizi kepada kobaran api. Di atas panggung, seolah sedang tercipta badai api yang siap siap menerjang.

Tak lama berselang, kobaran api perlahan-lahan menyusut. Samar-samar, terlihat lima remaja berdiri. Tangan mereka terangkat setinggi perut. Kobaran api sepertinya sama sekali tak berpengaruh bagi mereka. Mereka adalah kelima murid Istana Danau Api yang bekerja sama menghanguskan siapa pun lawan di hadapan.

Akan tetapi… di luar dugaan kelima murid Istana Danau Api, seorang murid Perguruan Ayam Jantan sedang menari-nari di tengah kobaran api yang masih tersisa….

“Istana Danau Api, Bentuk Ke-56: Api Dalam Sekam!”

Melihat masih ada seorang musuh di atas panggung, salah seorang murid Istana Danau Api mengerahkan jurus kesaktian khas perguruannya. Anak remaja yang menari di tengah korbaran api yang mulai menyusut kini tak bisa bergerak bebas!

“Eh!” Bintang Tenggara terkejut. Di atas panggung pertarungan ia merasakan aura yang tak asing, yaitu formasi segel berbentuk bola besar. Lalu, formasi segel tersebut mengurung tubuh murid Perguruan Ayam Jantan. Segera setelah itu, di dalam formasi segel yang sama, jilatan api berkobar garang.

Jadi, jurus yang sedang dirapal merupakan jurus keterampilan khusus segel dan jurus kesaktian unsur api, yang dikerahkan secara bersamaan. Dua jurus dalam satu!

Meskipun demikian, walau jurus Istana Danau Api demikian perkasa, murid Perguruan Ayam Jantan masih menari-nari dengan tenang. Kedua matanya terpejam, mengatur pernapasan dalam senyap.

“Tarian Massere Api…,” gumam Canting Emas pelan.

“Hm?” Giliran Panglima Segantang yang penasaran. Di matanya, tarian tersebut lebih mirip dengan gerakan-gerakan silat!

“Tarian Massere Api, salah satu jurus persilatan andalan milik Perguruan Ayam Jantan. Jurus ini juga merupakan jurus khas yang berasal dari Kota Daeng, tempat dimana perguruan tersebut berdiri. Dengan menerapkan jurus ini, penggunanya dapat menghindari jilatan api melalui gerakan-gerakan khusus mirip tarian,” tambah Canting Emas.

Di saat yang sama, Canting Emas mengingat pesan dari ibundanya, Maha Guru Kesatu, ‘Jangan sekali-kali berhadapan dengan lawan yang menguasai Tarian Massere Api!’

“Srek!”

Murid Perguruan Ayam Jantan tersebut lalu bergerak secepat kilat. Akan tetapi, kali ini ia tak lagi terlihat seperti menari-nari, melainkan menyerang dengan jurus-jurus persilatan!

“Buk!”

Kelima murid Istana Danau Api hanya bisa tercegang ketika hantaman-demi hantaman mendarat di tubuh mereka. Terlambat. Satu per satu dari mereka lalu roboh di tempat!

“Manca Baruga!” sergah Panglima Segantang.

“Eh?” tanggap Bintang Tenggara bingung.

“Manca Baruga atau juga dikenal dengan Silat Bunga 40,” tambah Panglima Segantang, kedua mata tak hendak lepas dari remaja yang berdiri di atas panggung. Walhasil, ia tak memberikan penjelasan lebih jauh.

“Perguruan Ayam Jantan memenangkan pertarungan atas Istana Danau Api!”

Di tengah sambutan sorak-sorai ribuan penonton, Bintang Tenggara menatap Canting Emas dan Panglima Segantang. Tadinya, mereka berdua menantikan kesempatan berhadapan dengan Istana Danau Api. Canting Emas hendak menguji kesaktian unsur api miliknya, sedangkan Panglima Segantang hendak menakar kemampuan murid-murid perguruan idamannya.

Akan tetapi, kini Canting Emas dan Panglima Segantang malah menantikan kesempatan berhadapan dengan seorang murid dari Perguruan Ayam Jantan. Murid tesebut memiliki kemampuan mengatasi kesaktian unsur api, sekaligus kemampuan persilatan yang demikian tinggi. Selain itu, dan yang paling utama, murid tersebut secara nyata bertarung seorang diri mengalahkan kelima wakil dari Istana Danau Api!

“Selamat, Saweri Gading!”* sambut empat murid-murid Perguruan Ayam Jantan yang menunggu di bawah panggung.



Catatan:

*) Nama ‘Saweri Gading’ diadaptasi dari nama tokoh Sawerigading dari hikayat epik kuno nusantara berjudul La Galigo atau Sureq Galigo. La Galigo merupakan kisah epik terpanjang di dunia! Sebagian ahli berpandangan bahwa hikayat ini telah ada sebelum kisah epik Mahabharata. Sebagian besar isi La Galigo merupakan puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno dengan aksara lontara Bugis. Epik ini mengisahkan tentang Sawerigading, seorang pahlawan yang gagah berani, yang terpaksa pergi merantau.

La Galigo tidak dapat dianggap sebagai epos sejarah karena penuh dengan mitos dan mistis. (Cerita fantasi, jaman dulu?) Akan tetapi, ia dapat memberi gambaran akan kebudayaan masyarakat Bugis dan nusantara sebelum abad ke-14.

6.000 lembar naskah La Galigo diketahui tersebar di museum-museum di Eropa dan sebagian di Sulawesi. Selain itu, disinyalir masih banyak bagian dari naskah epik ini yang dimiliki oleh perorangan. (Ayahanda Pendekar Bayang bahkan mengaku bahwa keluarga memiliki beberapa lembar naskah La Galigo, yang tak terbukti kebenarannya… Hahaha…)

Pada tahun 2010, pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda mendaftarkan La Galigo ke UNICEF World Heritage. Pada 2011, La Galigo resmi ditetapkan sebagai salah satu dari ‘Memory of the World Register’. Hikayat La Galigo menjadi terkenal di khalayak internasional setelah diadaptasi dalam pertunjukan teater ‘I La Galigo’ dan dipersembahkan di banyak negara… (nonton di Youtube, seru!)

(Bagi yang mengetahui tentang epik La Galigo, mungkin sudah sempat menangkap ‘sesuatu’ di dalam ceritera Legenda Lamafa… mungkin.)

Rangkuman super singkat La Galigo dapat dibaca di: https://lontaraproject.com/101-la-galigo/sejarah-lagaligo/