Episode 3 - Ketiga

Entah mengapa peristiwa Ollyne datang ke KCC harus kuceritakan kepada Billy dan Akash, dan entah kenapa aku menyebut kejadian itu sebagai ‘peristiwa’, seolah-olah ada yang mati setelah Ollyne datang ke KCC. Jadi aku berangkat pagi-pagi sekali dan menyiksa mama yang sedang mengantuk sambil membuat alasan yang meyakinkannya bahwa aku tidak stress dan itu cukup untuk membuatnya tersenyum dalam kantuk.

Aku sudah duduk di meja bundar kafeteria sambil di temani dua kursi kosong. 6 menit setelah duduk Billy dan Akash datang bersama dan bagiku itu sebuah kebetulan yang amat kebetulan. Sebab Billy selalu lebih dulu dari Akash dalam hal apapun.

 “Katakan padaku kalau kau baru saja menemukan kode rahasia sebuah Negara yang di dalamnya menyimpan sejuta perempuan cantik yang disembunyikan demi peradaban dunia atau kau baru saja menemukan sesuatu yang lebih hebat dari apa yang ditemukan Alan Turing,” kata Akash yang sangat berharap ada peristiwa keren karena ia melihatku datang pagi-pagi. Karena setiap di antara kami bertiga ada yang datang paling pagi artinya ia menyimpan sebuah pembahasan spektakuler.

 “Oke. Jadi begini,” mulaiku dan berhati-hati memilih kalimat agar ini terdengar sangat spektakuler “Aku bertemu Ollyne di KCC. Dan dia mengenakan HOODIE!” seruku. Dan Akash nyaris meludahiku tapi Billy berkata “Yang benar saja? Kau sedang dalam pengaruh narkoba, Robin? Astaga. Kau tahu kan ikrar pertemanan kita? Tidak ada narkoba.” Aku menyela cepat “Tidak! Aku tidak memakai narkoba! Dan aku serius! aku sampai mengurangi jam tidurku sebanyak 1 jam demi mengutarakan ini! Ollyne datang dan kami bertemu. Di KLINIK!”

 “BAHKAN KHAYALANKU TIDAK MAMPU MEMBAYANGKAN OLLYNE MENGENAKAN HOODIE!” Akash benar-benar histeris sampai kami menjadi bahan perhatian para penghuni kafeteria.

 “Ollyne adalah malaikat! Dia malaikat untuk semua orang! Ollyne adalah gadis penyebar berkat berbentuk cupcake!” kataku antusias.

 “Wow, wow. Tahan dulu, koboi. Jadi Ollyne melihatmu yang seperti Manusia Buatan itu?” Billy selalu menganggap orang-orang yang tersambung dengan selang adalah manusia buatan seolah-olah kami adalah manusia yang sedang dieksperimenkan menjadi Mutan.

 “Tidak. Untungnya aku sudah selesai ‘dibuat’”

 “Dan dia membagikan kue?” tanya Akash dan kujawab ya.

 “Dan dia mengenakan hoodie? Apa dia memakai jins?” tanya Billy dan kujawab ya dengan tekanan nada yang lebih tinggi.

 Billy dan Akash begitu antusias sampai bertanya hal-hal yang nyaris kulupakan seperti senyumnya, suaranya, cara bicaranya yang anggun, atau betapa cantiknya Ollyne saat dia dalam mode non-seragam.

 “Baiklah, dude, aku mengaku kalah,” kata Billy yang tidak bisa kutangkap apa maksudnya.

 “Awalnya Billy mempunyai berita yang sangat heboh. Tapi kini dia dikalahkan oleh Mr. Robin Turing Edison,” kata Akash yang mengubah nama belakangku—walau secara teknis aku tidak mempunyai nama belakang.

 “Baiklah. Umumkan saja sekarang,”

 “Yeah, begini, dude. Jujur saja aku jadi tidak bersemangat awalnya. Tapi begini, aku dibelikan mobil dan izin mengemudi! Dan kau tahu, aku masih 16 tahun dan belum memiliki KTP!” kata Billy dengan nada yang dibuat-buat tapi tetap saja itu mengejutkanku.

 “Artinya.. kau.. mempunyai mobil sendiri?” tanyaku.

 “Sebuah minivan Ford Fiesta warna putih susu!” Akash menyela dan aku tidak bisa berpura-pura tidak terkejut. Ini sangat mengejutkan. Jadi aku menemukan jawaban atas Akash yang datang berbarengan dengan Billy.

 “Setidaknya sekarang kita bisa pergi kemana-mana dan tidak kehujanan!”

Ini artinya Billy menjadi orang ke-7 yang membawa mobil ke sekolah swasta yang memiliki lahan parkir cukup luas untuk kendaraan roda empat. Meskipun mereka tidak sampai menyangka bahwa bakal ada 7 siswa yang membawa mobil pribadi. Aku menuju kelas dan perutku terasa sakit, sakit yang sama saat kau menunggu giliran dipanggil guru untuk menjawab soal tertentu di depan kelas. Aku gugup. Tidak berani menampakkan diriku yang kemarin baru saja berlagak sok keren di hadapannya. Dan dipikir-pikir aku sok keren pada saat-saat perbincangan kami tidak sesederhana anak kelas 2 SMA.

 Tapi saat aku mengharapkan sesuatu tidak terjadi malah itu-lah yang terjadi. Ollyne mendapati diriku yang sudah berupaya bersembunyi di balik Akash dan Billy tapi ia berhasil menatap ke arahku dan tersenyum. Tidak ada pilihan lain selain membalas senyumnya.

Dalam sekejap Kelas Kewarganegaraan berjalan begitu membosankan.

 “Kau tahu kenapa ada pelajaran ini?” bisik Akash yang duduk di sebelahku kali ini. Billy duduk sendiri tepat di depan kami.

 “Tidak,” kataku.

 “Karena Hitler nyaris menguasai dunia. Dan kau tahu apa yang akan terjadi jika itu terjadi?”

 “Tidak,” kataku.

 “Baiklah. Aku juga tidak tahu. Kejadian satu selalu membawamu ke kejadian lain dan seterusnya tapi sayangnya kita membayangkan suatu kejadian yang tidak pernah terjadi dan artinya kita harus terus membayangkan suatu kejadian lain yang tidak pernah terjadi juga.”

 “Mm, baiklah,” kataku, agak tidak mengerti. Akash selalu membuat perumpamaan panjang saat dia bosan.

 “Kau tahu kenapa kita dibesarkan sambil harus mengenal sejarah?” tanyaku kali ini.

 “Tidak,”

 “Karena kita tidak pernah benar-benar tahu pada sesuatu yang telah terjadi, begitupun seterusnya.”

 “Yeah, dan itulah kenapa dunia ini perlu seseorang yang mau menulis tentang itu semua,” kata Akash dan kami berdua mengabaikan pelajaran sesuka hati kami.

Pelajaran periode keempat yang diadakan setelah jam istirahat ditiadakan sebab ada sebuah pembicara atau apalah yang datang untuk membicarakan soal Edukasi Remaja, Seks Bebas, dan Penyakit Yang Biasa Diidap Oleh Para Remaja. Tanpa teriakan Hore dari seisi kelas, kami diatur untuk menuju aula dengan panggung kayu yang cukup besar di ujung aula. Kursi lipat sudah disusun sedemikian rupa dan kami duduk di urutan bagian tengah, diapit murid-murid yang tidak terlalu kami kenal.

 “Mr. Hanson S.E.m.p.d.e.r.g.e.” gumam Billy sambil memantau handphonenya.

 “Siapa?” tanyaku.

 “Pembicara yang dalam kurun waktu 15 menit akan berdiri di atas sana. Dan dia memiliki nama yang cukup panjang dengan berbagai gelar-gelar yang selalu membuat repot pemahat batu nisan.”

 Aku mengedarkan pandang ke seluruh sudut aula yang kira-kira setara dengan tiga perempat lapangan sepak bola internasional. Aku tidak mencari apa-apa jadi sebetulnya aku mengedarkan pandang hanya sekedar melihat-lihat. Siapa tahu ada seseorang mencurigakan yang membawa tas besar dan di dalamnya berisi bom waktu dan kita semua meninggal dengan cara meledak dan membuat tubuh utuh 296 siswa terpecah belah menjadi beribu-ribu bagian dan sesungguhnya itu cara mati yang merepotkan sekaligus menjijikan.

 “Sejujurnya setelah aku nonton telenovela Amigos X Siempre, aku memimpikan seragam sekolah yang tingkat kekerenannya melebihi orang-orang miskin saat mereka menikah. Kau tahu maksudku, kan? Setelan jas hitam, celana bahan hitam, kemeja putih, rompi, dan sebagainya. Kita akan terlihat lebih keren dan berwibawa ketimbang dengan kemeja kusut dan celana bahan superkusut,” kata Akash dalam kegiatannya yang sedang menggelantungkan kaki ke bangku di depannya.

 13 menit kemudian—setelah beberapa guru sudah hadir dan membuat semacam sambutan. Aku melihat pria tua bertampang kelabu dengan jas abu-abu dan kurasa juga memiliki imajinasi kelabu menaiki podium dan mulai bergaya seperti Motivator. Mengamblil mic dan membawanya ke mana-mana.

 “Apa semua sudah berkumpul?” tanya pria tua itu dengan menggunakan mic dan suaranya cukup berat serta serak.

 “Begini. Aku tidak ingin disebut pria tua pemakan gaji buta. Jadi aku tidak akan bertele-tele seperti kalian yang selalu mengeluh masuk pagi hari.” Dan terdengar sorakan kecil berbentuk ‘Huuu’ dari perkumpulan sebelah kanan.

 “Tidak. Tidak. Aku benar. Berhubung aku laki-laki. Aku akan menanyakan sesuatu pada laki-laki di sini. Apa yang kalian lakukan tengah malam? Nonton film porno Amerika atau Prancis?” dan entah kenapa itu membuat ruangan penuh tawa tak tulus. Maksudku bukan tertawa yang diakibatkan ada sesuatu yang lucu atau apa, ini jenis tawa menyebalkan yang membuat kerongkongan kering.

 “Nah, aku berada di sini hari ini untuk berbicara dengan kalian mengenai topik seksualitas remaja yang semakin lama membuat para dokter aborsi bisa terus makan direstoran mewah. Aku membuat penelitian menggunakan matematika dan menghitung berapa banyak dokter aborsi serta pasien mereka dalam konteks dalam kota dan aku sedikit terkejut mengetahui kalau cukup banyak dokter aborsi di kota ini. Ada yang mau nomor teleponnya? Mungkin dari kalian ada yang butuh?” dan ia membuat seisi ruangan tertawa lagi. Tidak untukku—maksudku, kami bertiga. Kami tidak menganggap hal berikut sebagai hal yang lucu. Seolah dia baru saja menemukan lelucon terbaru di dunia ini tanpa memakai kata-kata vulgar.

 “Seseorang—apalagi remaja—dan mereka laki-laki memiliki kecenderungan yang sangat amat aneh. Mereka tertawa saat mendengar salah satu bagian tubuh wanita. Misalkan saja ada Jane di sini. Aku akan mengatakan ‘jempol kaki Jane bagus’. Apa ada yang tertawa? Tidak. Tapi jika aku mengatakan ‘payudara Jane sebesar tempurung bayi kura-kura’. Lihat. Kalian tertawa.” Dan benar saja, semakin banyak tawa-tak-tulus. Dan aku mulai bosan. Setidaknya aku bersyukur dia tidak membahas tenang kebencian para remaja pada remaja lain yang harus cuci darah.

 Selama satu jam tiga puluh menit setidaknya aku menghitung ada tawa-tak-tulus sebanyak 126 kali. Setelah itu Mr. Hanson S.E.m.p.d.e—Atau apalah tidak berbicara lagi lantaran memang jam tayangnya sudah habis atau dia sudah kehabisan bahan lelucon.

 “Terdengar brengsek, tapi ada benarnya juga,” kata Billy yang sedang menyusuri jembatan akses menuju kelas untuk menjalani pelajaran terakhir.

 “Apa?” tanya Akash.

 “Aku sempat mendengarkan Mr. Hanson tentang bagaimana bisa para pria memiliki gadis di bawah umur 20 dan bahkan bisa meniduri atau menghamili mereka. Astaga, aku ingin menjadi remaja Amerika yang setiap malam berpikir ‘Besok, cheerleader mana lagi yang akan kutiduri’.”

 “Sangat berbanding terbalik denganku yang setiap malamnya berpikir tentang berkat, mimpi, atau tujuan hidup atau apalah,” timpalku.

 “Terdengar sangat culun,”

 “Yeah. Dan seperti apa yang dikatakan Mr. Hanson. Kita harus menjadi Bajingan Brengsek untuk bisa menikmati hal-hal semacam itu.” Billy terdengar lesu.

 “Tapi bagaimana caranya menjadi Bajingan Brengsek?” tanya Akash

 “Entahlah. Mungkin ada sebuah portal yang akan membawa kita menuju sebuah tempat pendaftaran menjadi Bajingan Brengsek dan setelah mendapat cap di telapak tangan maka kita menjadi Bajingan Brengsek.”

 “Wow, wow. Bisakah kita sedikit meminimalisir kadar negatif dari kata-kata barusan? Maksduku mengucapkan Bajingan Brengsek dengan jelas seperti itu terdengar sangat Brengek. Bagaimana kalau kita singkat menjadi BDB? Bajingan Dan Brengsek?” usulku.

 “Kau baru saja mengucapkan hal yang tidak boleh kita ucapkan sebanyak lima kali,” ujar Akash.

 “Baiklah. BDB.” Billy terdengar setuju dengan gagasanku.

 “Uh. Kita harus menjadi BDB agar bisa mendekati para gadis.” Akash terdengar menyesali setiap kehidupan yang telah ia lewati.

 Kami menaiki tangga kedua yang artinya masih harus melewati satu tangga lagi untuk mencapai kelas. Koridor yang bercabang begitu sepi sampai-sampai bisa menciptakan gema. Kami sampai pada lantai tiga dan Akash ingin ke kamar mandi dan kami diwajibkan untuk menemaninya. Billy duduk di kursi yang biasa diduduki guru tertentu untuk mengawasi murid yang mondar mandir tapi kali ini kursi itu kosong dan di belakangnya merupakan ruang UKS—khusus murid-murid penyakitan.

 Aku melihat gorden dari ruang UKS yang terbuka sedikit sehingga membuat celah yang bisa membawamu melihat segala sesuatu yang sedang terjadi di dalamnya dalam pandangan sempit sekitar 5 senti. Aku terdorong rasa bosan dan mengintip dari celah tersebut dan kutempelkan pipiku kekaca. Dan aku melihat Ollyne sedang duduk di samping tempat tidur seolah ada seseorang yang sedang tiduran di dalam situ. Aku memandanginya dan kini berupaya diriku bisa menembus kaca dan membuka gorden sedikit lebih lebar tapi usaha itu sia-sia.

Aku menyerah dan bergumam “Billy. Bisa tolong kau bantu aku. Tolong dengan empat matamu itu dapatkan sebuah kesimpulan dari dalam ruangan ini.” Billy menoleh ke arahku dan merasa aneh. Jadi aku menyingkir dan memberikan ruang untuknya untuk mengintip.

 “DEMI HOLY SI PENARI TELANJANG! ADA MALAIKAT!” teriakannya amat keras sampai-sampai kupikir itu mampu membuat seluruh orang seaentro kota mendengar teriakannya.

 “Tidak, tidak! Lihat Ollyne sedang apa dan apa ada orang lain di situ.”

 “Mm, sebentar. Astaga. Ya Tuhan. Tidak. Ini adegan dewasa.” Aku nyaris menghantam Billy dengan tubuh kurusku dan berdoa agar dia terhempas dan aku bisa melihat apa yang dia lihat.

 “Tahan Robin! Aku sedang menerka! Oh—astaga, aku baru ingat. Ada pria yang sedang berbaring di situ. Tunggu-tunggu, tato menyerupai ular yang melilit nadi—mm, siapa. Terkutuklah otakku, aku tahu siapa dia! oh! Marvin! Anggota Tim reguler Basket yang tidak pernah memenangkan apa-apa,” kata Billy yang masih mengintip. Aku ingin mengintip lagi tapi dia tak membiarkannya.

 “Astaga!” seru Billy dan membuatku semakin penasaran sampai aku berteriak “Kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa!”

 “Mereka.. berciuman,” kata Billy dan puncaknya aku menabraknya sekuat tenaga yang telah dikumpulkan oleh Departemen Pengolah Tenaga dan Departemen Rasa Penasaran. Aku mengintip dan hanya melihat Ollyne yang—seperti—entahlah—dia baru saja menjauh dari posisi yang kuasumsikan sedikit memajukan kepala.

 “Air kencing import memang banyak,” Kata Akash yang baru saja keluar kamar mandi dan aku menoleh ke arahnya dan ia penasaran dengan aktifitas kami dan ia menggeserku dari posisi mengintip dan kali ini Akash yang mengintip. Dia tidak berucap apa-apa dan langsung ambruk.

Setelah membangunkan Akash, kami berjalan dengan lesu menuju kelas

 “Aku tidak tahu rumor-rumornya. Dan tiba-tiba saja bisa disimpulkan bahwa mereka—astaga—aku tidak percaya mengatakan ini. Mereka berpacaran. Aku tidak sempat mengira bahwa orang seperti Ollyne juga butuh hal-hal semacam itu. Tapi setelah aku melacak riwayat hidup Marvin, dia cukup tampan dan tinggi dan aku rasa dia mengidap BDB. Kau tahu, kan? Anak-anak kelas 12 yang suka buat onar dan mereka akan diteriaki para wanita dan seolah-olah mereka baru saja mengalami klimaks bersama-sama,” kata Billy.

 “Lawan kita lebih tua, lebih tinggi, dan lebih, lebih, lebih..” kata Akash mendramatisir.

 “Kita? Sejujurnya aku tidak terlalu tertarik pada Ollyne—maksudku, kau tahu kan pajangan-pajangan mahal di rumah orang-orang kaya? Apa orang-orang kaya itu menciumi pajangan itu atau mencumbunya? Tidak, kan? Mereka hanya memandangi. Sama sepertiku yang hanya gemar memandangi,” sahut Billy.

 “Yeah. Kurasa aku juga seperti itu. Tapi versi mudahnya, aku hanya tidak mau ambil pusing urusan cewek. Dan jika cewek hanya dijadikan objek para lelaki, kau cukup mengeluarkan uang sebesar seratus lima puluh ribu dan kau bisa menikmati objek tersebut di ‘suatu tempat’” timpal Akash.

 “Dan bagaimana dengan kau, Robin?” tanya Billy dan pertanyaannya cukup menyengat—maksudku tidak secara harfiah.

 “Entahlah..” kataku ragu dan lesu. Dan kami sampai di kelas, kemudian duduk dan meresapi suasana kelas yang entah kenapa terasa menyedihkan dan terdengar musik menyedihkan juga. Tidak ada Ollyne di kursinya.

 “Astaga. Jangan bilang kau benar-benar jatuh cinta padanya? Maaf, aku tidak bermaksud menghina. Tapi kau tahu, kan. Ah, bagaimana, yah. Kau pasti tahu maksudku.” Akash sangat bersemangat dalam tiap katanya. Entah berniat menyemangatiku atau apa.

 “Aku tidak bilang jatuh cinta padanya. Aku bilang; Entahlah.”

 “Lawanmu Marvin. BDB akut. Dan untuk menghadapi BDB, kau harus menjadi BDB,” kata Billy yang entah mengapa juga mendramatisir. Aku tidak tahu caranya menjadi Bajingan dan Brengsek. Aku sudah cukup menjadi Bajingan dan Brengsek untuk kedua orang tuaku dan aku tidak ingin menjadi seperti itu ke semua orang.

 “Kau perlu menjadi Bajingan Super untuk menghantam Marvin ke sebuah planet yang belum dinamai,” timpal Akash.

 “Tidak ada BDB. Tidak ada Bajingan Super. Tidak ada semua itu. Oke? Aku juga tidak peduli. Dan aku tidak perlu peduli. Memang apa untungnya? Meskipun Ollyne mendapat gelar tercantik se-Alam Semesta tapi kan masih ada Audrey?” aku terdengar panik atau bodoh atau dua-duanya.

 “Kau berbohong.” Akash menatapku penuh kecurigaan.

 “Kau tidak pandai berbohong untuk ukuran remaja dengan ginjal rusak,” kata Billy yang lagi-lagi membuat lelucon tentang ginjal.

 “Aku tidak peduli. Bahkan diriku sendiri tidak peduli dibohongi oleh siapapun. Kau hanya perlu tutup mulut, tutup telinga, dan tutup mata. Dan hidupmu bahagia.”

 Billy dan Akash malah menganggap itu sebuah lelucon dan mereka terbahak-bahak sedangkan aku tidak. Aku tidak bisa terbahak setelah membohongi diri sendiri. Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain apa yang Ollyne lakukan di dalam situ dengan Marvin. Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain kata-kata Billy tentang ‘Berciuman’. Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain aku mengobrol dengan Ollyne kemarin di KCC. Aku tidak bisa tidak membohongi diriku. Aku tidak bisa mengakui segala hal yang terjadi di Alam Semesta ini.