Episode 94 - Penentu Kemenangan?



Panglima Segantang memanggul tubuh lemah Aji Pamungkas di pundak lebarnya. Lalu, ia letakkan tubuh tersebut di ujung panggung. Aji Pamungkas hendak bangkit. Ia merasa bersalah karena kehabisan tenaga dalam dan tak bisa melanjutkan pertarungan. Di saat hendak bangkit itulah, Aji Pamungkas kehilangan keseimbangan dan tergolek jatuh dari panggung pertarungan….

Beruntung bagi Aji Pamungkas, perhatian para hadirin sedang terpusat di tengah panggung. Oleh karena itu, hampir tak ada yang menyaksikan kejadian yang memalukan tersebut. Walaupun demikian, di salah satu bagian tribun penonton, lima gadis remaja terlihat khusyuk memantau Aji Pamungkas.

“Gentong Bumi Jaya!” teriak Mojang Kuning sambil mengangguk-anggukkan kepala. Terlihat mengemuka sebuah gentong tanah liat yang bulat dan bertutup, ukurannya sebesar seekor anak sapi. Gentong tersebut menyibak aura formasi segel yang demikian kental.

Kemudian, Mojang Kuning melenggak-lenggok mengelilingi gentong. Gerakannya ditutup dengan menampilkan pose layaknya seorang peragawati menawan yang menawarkan barang dagangan. Sungguh pakaian ketat yang ia kenakan menampilkan lekuk tubuh yang elok.

Canting Emas terlihat muak. Mungkin lebih baik bila Aji Pamungkas saja yang berhadapan dengan perempuan bahenol ini, pikirnya dalam hati. Meski demikian, ia tetap mengenakan Zirah Rakshasa dan mengeluarkan sepasang Kandig Agni.

“Warna nyala dalam waktu dalam ruang

Selama jarak masih ada

Selama ia belum mengerti”*

Mojang Kuning terdengar seolah membacakan ajian-ajian tertentu. Lalu, ia merapal formasi segel kunci dan membuka tutup Gentong Bumi Jaya. Seketika itu, aura keruh, sekaligus panas, terasa menyibak di atas panggung. Bila tak memiliki dasar mata hati yang kuat, maka aura yang keluar itu sungguh dapat menyesakkan dada.

“Banaspati!” teriak Mojang Kuning memanggil. Seketika itu juga, keluar melayang perlahan… sebuah gumpalan bola api sebesar buah kelapa!

Di antara sekian ragam jenis binatang siluman, ada banyak yang dapat dipelihara dan dijinakkan oleh seorang ahli dengan keterampilan khusus pawang. Akan tetapi, banyak pula binatang siluman yang tak bisa, dan tak mungkin bisa, dijinakkan karena memiliki sifat yang teramat liar dan/atau haus darah. Bila menjinakkan saja tak memungkinkan, bagaimana pula caranya menyegel ke dalam Kartu Satwa!

Di Pulau Jumawa Selatan, adalah Banaspati salah satu yang teramat sukar dikendalikan. Binatang siluman ini dikenal sebagai hantu api yang bukan alang kepalang buasnya. Ia biasanya menetap di hutan kaki gunung berapi, serta suka berkeliaran dan terbang rendah, juga senang berpindah-pindah. Banaspati memiliki kecenderungan agresif terhadap binatang siluman lain. Bahkan, seringkali Banaspati menyerang dan memangsa manusia, sehingga biasa ditandai sebagai binatang siluman yang patut dihindari karena sangat berbahaya!

“Binatang Siluman Kasta Perak!”

“Gentong tanah liat itu berperan sebagai wadah penyimpanan layaknya Kartu Satwa!”

“Baru kali ini aku menyaksikan seorang pawang yang mengendalikan Banaspati!”

Sejumlah penonton bahkan berdiri karena hendak benar-benar menyaksikan seekor Banaspati, yang saat ini sedang melayang pelan di atas gentong. Beberapa orang panitia dari Perguruan Maha Patih serempak melangkah mendekat ke arah panggung. Mereka bersiaga penuh, bahkan siap menghentikan pertarungan bilamana Banaspati tersebut lepas kendali.

“Banaspati…?” gumam Canting Emas.

Sebagai ahli yang mengembangkan kesaktian unsur api, tentu saja Canting Emas pernah membaca atau mendengar ceritera seputar Banaspati. Bahkan ibunda Cawan Arang dulu pernah mewanti-wanti agar jangan bertindak nekat bila bertemu dengan binatang siluman tersebut. Pertarungan ini rupanya akan menjadi sulit sekali, keluhnya dalam hati.

Banaspati masih melayang di atas Gentong Bumi Jaya. Karena tak bisa disegel dalam Kartu Satwa, maka gentong tanah liat berperan sebagai wadah penampungan Banaspati. Namun, hal ini masih tak menjawab bagaimana caranya menjinakkan Banaspati.

Sesepuh Ketujuh menoleh ke samping. Ia menatap ke arah pendamping dari Sanggar Sarana Sakti, Maha Guru Kesatu Sangara Santang. Lelaki dewasa muda itu memanglah terkenal suka berpetualang, sehingga bukan tak mungkin dirinya yang menangkap seekor Banaspati lalu menyerahkan kepada seorang murid.

Sebagai ahli Kasta Emas berpengalaman, Sesepuh Ketujuh mengetahui bahwa Bumi Jaya merupakan kota kecil di dalam wilayah Tanah Pasundan yang terkenal dengan kerajinan tembikar dan keramik. Gentong tersebut pastilah buatan seorang ahli dengan keterampilan yang mumpuni. Menciptakan alat yang digdaya memang merupakan ciri khas Sanggar Sarana Sakti.

Sesepuh Ketujuh juga menyadari bahwa seekor binatang siluman Banaspati yang berada di atas panggung tersebut masihlah kanak-kanak, dan setara dengan Kasta Perak Peringkat 1. Meskipun demikian, binatang siluman tersebut pastilah akan merepotkan bagi Canting Emas yang masih berada pada Kasta Perunggu!

Terpapar di udara, gumpalan api yang merupakan tubuh Banaspati itu sendiri, perlahan bertumbuh besar. Kini, gumpalan api sudah seukuran sedikit lebih besar dari dua atau tiga buah kelapa!

“Ksatria Agni, Bentuk Pertama: Dananjaya!”

“Ksatria Agni, Bentuk Kedua: Dhumaketu!”

Dua jurus kesaktian unsur api dikerahkan secara bersamaan! Sepasang kepala Kandik Agni, kampak pendek, menyala api. Di saat yang sama, di atas kepala Canting Emas juga menyala api, yang kemudian merayap perlahan membungkus sekujur tubuhnya!

“Itu… salah satu dari Sapta Nirwana milik Perguruan Gunung Agung!”

“Jika gadis itu nanti memiliki memiliki wujud jurus kesaktian juga, maka aku akan membawa seluruh keluarga dan tetanggaku hijrah ke pulau Dewa!”

“Bila benar ia putri dari Cawan Arang, maka tak tertutup kemungkinan….”

Sejumlah penonton bersahut-sahutan, berlomba-lomba menyampaikan pengetahuan mereka atas apa yang sedang terjadi di atas panggung bertarung. Di saat yang sama Canting Emas telah memasang kuda-kuda.

“Bum!”

Canting Emas melompat menyerang, menyisakan ledakan kecil di tempat tadinya ia berdiri. Sasaran Canting Emas sudah jelas di depan mata, yaitu Mojang Kuning yang merupakan pawang binatang siluman!

Mojang Kuning melangkah mundur. Di saat yang sama, ia menebar mata hati dan memberi perintah kepada binatang siluman miliknya itu. Banaspati melesat ke arah Canting Emas!

“Duar!”

Sebuah ledakan terjadi ketika Banaspati menghantam permukaan panggung bertarung. Canting Emas telah mengelak ke samping dan sedikit pun tidak mempedulikan binatang siluman tersebut. Tatapan kedua mata Canting Emas terkunci pada Mojang Kuning. Ia mirip seekor harimau yang fokus mengincar mangsa. Tak ada setitik pun keraguan dari tindak-tanduknya.

“Duar! Duar! Duar!”

Banaspati menghujamkan diri berkali-kali. Ia terlihat sebagai bola api yang memantul-mantul di atas panggung pertarungan. Walau, tak satu pun hantaman mengenai Canting Emas yang lincah bergerak menghindar. Yang dilakukan Banaspati sesungguhnya hanya menghambat kecepatan Canting Emas menuju Mojang Kuning, karena gadis tersebut harus melompat menghindar ke kiri dan kanan.

“Duar!”

Canting Emas mundur ke belakang! Ia terpaksa memukul Banaspati menggunakan kedua bilah kandik dalam genggaman. Setelah diperhatikan dengan seksama, rupanya ukuran Banaspati terus membesar, sedangkan kecepatannya tak menurun.

Api melawan api. Meski Banaspati tak bisa membakar tubuh Canting Emas yang juga dibungkus api, kecepatan hantamannya bila mengenai telak maka dapat berujung bencana. Jadi, kelebihan binatang siluman tersebut adalah hantaman bola api yang membakar.

Jarak antara Canting Emas dan Mojang Kuning kembali ke posisi awal. Mereka terpisah belasan langkah dan di antara mereka, binatang siluman banaspati melayang setinggi dada. Ukurannya sudah hampir sebesar seekor sapi yang meringkuk bulat sempurna.

Canting Emas menggeretakkan gigi. Sulit baginya menjangkau Mojang Kuning dengan keberadaan Banaspati itu. Lubang-lubang yang berserakan di atas panggung pun turut menghambat gerak langkah.

“Swush!” Banaspati kembali melesat ke arah Canting Emas.

“Duar!” Banaspati kembali menghantam permukaan panggung.

Canting Emas sigap menghindar ke samping, lalu merangsek maju meninggalkan Banaspati di belakangnya. Banaspati lalu melesat cepat mengincar Pundak Canting Emas!

“Duar!”

Canting Emas menahan Banaspati dengan kedua Kandik Agni. Darah mengalir di sudut bibirnya akibat hantaman dan ledakan. Sedangkan kedua lengannya terasa mati rasa. Meski demikian, Canting Emas meminjam dorongan Banaspati untuk menambah kecepatan lesatan… ke arah Mojang Kuning!

Jarak yang memisahkan Canting Emas dan Mojang Kuning kini hanya terpaut kurang dari sepuluh langkah, dan semakin memendek! Menyadari bahwa dirinya berada dalam ancaman besar, Mojang Kuning melompat ke samping. Canting Emas pun segera menghentakkan kaki mengubah arah menyerang!

“Swush!” Tetiba sebuah gerbang dimensi berpendar dari tempat Mojang Kuning sebelumnya berdiri. Dari dalamnya, seekor harimau besar melompat dan bergerak mencabik!

“Crash!” Cakar harimau besar berhasil ditangkis menggunakan sepasang Kandik Agni di detik-detik terakhir.

“Duar!” Banaspati telak menghantam Canting Emas!

Darah mengalir dari hidung Mojang Kuning, napasnya terengah dan ia bertumpu pada satu lutut. Selembar Kartu Satwa terlihat di tangan kanannya. Ia terpaksa melepaskan binatang siluman Harimau Jumawa untuk melindungi diri. Berbeda dengan Harimau Bara yang memiliki unsur api, Harimau Jumawa merupakan binatang siluman dengan unsur angin. Harimau Jumawa yang dapat bergerak cepat, sesungguhnya merupakan senjata simpanan untuk meraih kemenangan.

Mojang Kuning segera menengguk cairan jamu dari sebuah botol. Rupanya ia memerlukan tambahan tenaga dalam untuk memperkuat jalinan mata hati dalam mengendalikan dua binatang siluman di saat yang bersamaan. Walaupun demikian, bahkan dengan tambahan tenaga dalam, ia terpaksa segera kembali menyegel Harimau Jumawa.

Kepulan debu perlahan menyusut. Samar-samar mulai terlihat Canting Emas yang berdiri meringkuk dengan menyilangkan tangan di depan wajah. Api yang menyelimuti tubuhnya sudah padam. Akan tetapi, sebagai pengganti, sebentuk lapisan segel pelindung berbentuk bola yang terlihat mirip dengan cincin gerhana melindungi seluruh tubuhnya. Di saat yang sama, kedua bola mata Zirah Rakshasa menyala merah!

Zirah Rakshasa: Segel Kala Rau!

Ketika mulut di Zirah Rakshasa yang Canting Emas kenakan membuka, maka sepasang gagang Kandik Agni mencuat keluar. Bilamana hidung Zirah Rakshasa mengembang dan mengempis, maka Cakra Pranayama perlahan aktif menyerap dan menyuling tenaga alam. Sedangkan tatkala kedua mata besar menyala, maka itu adalah ketika Segel Kala Rau dari Zirah Rakshasa melindungi dari unsur kesaktian.

Dikisahkan… Kala Rau merupakan raksasa yang memiliki kepala, namun tak memiliki tubuh. Di saat hendak menenggak air keabadian Tirta Amertha, yang diperuntukkan bagi dewa dan dewi, Kala Rau diadukan oleh Dewi Ratih sang dewi bulan. Dewa Wisnu kemudian melempar cakram dan memenggal leher Kala Rau. Akan tetapi, Kala Rau sempat menenggak Tirta Amertha sehingga kepala yang terpisah dari tubuh hidup abadi. Karena amarah dendam, Kala Rau lalu berjanji untuk memakan Dewi Ratih. Setiap gerhana bulan adalah petanda ketika Kala Rau berhasil melahap Dewi Ratih.

Darah kembali mengalir dari sudut bibir Canting Emas. Rupanya, Zirah Rakshasa: Segel Kala Rau hanya mampu menyerap 50 persen dari kekuatan hantaman dan unsur api Banaspati. Banaspati sendiri telah kembali melayang tepat di atas gentong tempat ia tersimpan.

Canting Emas menatap tajam ke arah lawan.

Saat bertatapan mata dengan Canting Emas, Mojang Kuning bergidik. Gadis tersebut tak yakin dapat meneruskan pertarungan karena keterbatasan tenaga dalam. Paling banyak, ia mungkin hanya dapat mengendalikan Banaspati hanya untuk beberapa saat lagi. Firasat dirinya pun menyiratkan bahwa kemungkinan besar Canting Emas belum mengerahkan segenap kemampuan.

“Aku menyerah,” ucap Canting Emas kembali berdiri tegak. Ia lalu memutar tubuh dan melangkah ke sudut Perguruan Gunung Agung. Mojang Kuning terpana.

“Bintang Tenggara, engkau mengemban tanggung jawab besar untuk memastikan peluang Perguruan Gunung Agung dapat berbuah manis.” Canting Emas pun tersenyum manis, menampilkan sepasang lesung pipit, lalu turun dari atas panggung.

Bintang Tenggara hanya mampu menghela napas panjang…. Padahal, sudah dapat diperkirakan bahwa Mojang Kuning tak bisa berlama-lama lagi bertarung. Mengendalikan Banaspati tentu bukan perkara mudah. Terpaksa mengeluarkan Harimau Jumawa pun tentunya membebani mata hati pawang binatang siluman itu.

Dari senyuman Canting Emas, sangat jelas diketahui bahwa gadis remaja itu hendak menyiksa lawan. Dalam hal ini, lawan adalah dirinya sendiri, Bintang Tenggara. Tak perlu telaah panjang dan dalam untuk memaklumi bahwa Canting Emas bukan seseorang yang dapat memaafkan dan melupakan sesuatu dengan mudah. Kepergian Bintang Tenggara tanpa berita dari Pulau Dewa masih membuat Canting Emas mendongkol. Gadis tersebut harus melampiaskan kekesalannya. Semoga dengan ini kekesalannya mereda, keluh Bintang Tenggara dalam hati.

Perguruan Gunung Agung dan Sanggar Sarana Sakti sama-sama memperoleh dua kali kemenangan.

Bintang Tenggara melangkah perlahan ke tengah panggung pertarungan. Mengapa aku yang harus menjadi penentu kemenangan? keluhnya dalam hati.

Hatur nuhun… abdi ucapkan kepada rekan-rekan dari Perguruan Gunung Agung,” ujar Jajaka Merah. Sesuai panggilannya, ia telah mengenakan topeng dan pakaian ketat berwarna merah. ***

“Seharusnya pertarungan kali ini sudah dimenangkan oleh Perguruan Gunung Agung. Akan tetapi, abdi mengerti bahwa sikap kesatria dari teman-teman yang ingin memberi kesempatan yang berimbang. Oleh karena itu, abdi akan berupaya sekuat tenaga untuk tak mengecewakan….”

“Eh?!” Bintang Tenggara tersentak. Mengapa perkembangan pertarungan menjadi salah arah? Sekarang, dirinya harus berhadapan dengan lawan yang akan mengerahkan seluruh daya upaya untuk meraih kemenangan…

“Lembing Garpu Tala!”

Seketika itu juga, Jajaka Merah mengeluarkan dan menghunus sebilah lembing logam sepanjang tubuh manusia. Sungguh unik bentuknya. Lembing seolah terbagi dalam dua bagian yang hampir sama panjang, yaitu: bilah lembing dan mata lembing. Mata lembing lalu bercabang dua, atau lebih tepatnya mirip garpu yang bergerigi dua. Bila diperhatikan dengan lebih seksama, maka bentuk mata lembing tersebut merupakan tabung logam mirip pipa.

Tempuling Raja Naga!

Tempuling binatang siluman terlihat mengemuka. Aura Kasta Perak menyibak kental ke seluruh penjuru panggung pertarungan. Bintang Tenggara mengangkat tinggi tempuling dan bersiap menikam. Di saat yang sama, Sisik Raja Naga aktif melindungi kedua lengan dan kaki.

“Bilah panjang apakah gerangan itu…? Tempuling!?”

“Tak mungkin! Terakhir kali munculnya seorang lamafa adalah sekitar 200an tahun lalu…?

“Benarkah kabar angin tentang kelahiran Sang Lamafa Muda?”

Sebagian penonton terdengar sibuk melontarkan penyataan dan pertanyaan. Tak sedikit dari mereka yang pernah mendengar ceritera tentang keperkasaan Pasukan Lamafa Langit di saat Perang Jagat dulu. Akan tetapi, mereka juga menyadari bahwa Pasukan Lamafa Langit menghilang tanpa bekas. Jadi, hampir tak ada penerus kearifan lamafa.

Di satu sudut panggung, seorang gadis mungil terlihat merasa sangat tak nyaman saat menyaksikan bilah tempuling. Ia pun beringsut ke balik tubuh Panglima Segantang. Meski telah mengetahui bahwa Bintang Tenggara adalah Sang Lamafa Muda, baru kali ini Kuau Kakimerah menyaksikan langsung sebilah tempuling….

Bintang Tenggara dan Jajaka Merah tak membuang-buang waktu lebih lama. Di saat senjata masing-masing telah terhunus, keduanya merangsek cepat saling menyerang.

Bintang Tenggara melenting tinggi, sedangkan Jajaka Merah menyusuri permukaan panggung bertarung. Tempuling menukik deras, sedangkan lembing menyeruduk laju!

Akan tetapi, sedikit lagi kedua senjata bersentuhan, tetiba Bintang Tenggara merasakan tubuhnya seolah dihantam gelombang pasang! Sesungguhnya, bukanlah gelombang angin, bukan pula gelombang air, melainkan… gelombang getaran bunyi!

Garpu tala pada dasarnya adalah alat musik yang hanya memiliki satu nada. Karena bentuknya yang sedemikian rupa, ia mengeluarkan gelombang getaran bunyi. Gelombang getaran bunyi tentunya dapat merambat melalui medium seperti zat padat, zat cair, bahkan gas. Ketika hal ini terjadi maka, gelombang getaran bunyi menciptakan degungan! ***

Bintang Tenggara sempat mendengar suara berdengung, sesaat sebelum tempuling yang sedikit lagi menyapa lembing, bergetar keras. Bahkan, Sisik Raja Naga yang telah aktif hanya mampu menahan sekitar separuh dari getaran yang merambat.

“Nguuung….”

Gelombang getaran bunyi tetiba merambat dan menghantam tubuh Bintang Tenggara! Sebuah kekuatan tak kasat mata lalu melontarkan tubuhnya melayang keluar dari atas panggung pertarungan! Sigap, Bintang Tenggara melempar beberapa Segel Penempatan untuk berhenti di udara, sebelum tubuhnya melompat-lompat kembali ke atas pangung.

“Uhuk!”

Bintang Tenggara memuntahkan darah. Gelombang getaran bunyi yang merambat di udara, menuju tempuling, lalu meresap ke tubuhnya sungguh tak dapat dibendung. Pertarungan baru dimulai, bahkan mereka baru saling bertukar jurus pembuka… Akan tetapi, Bintang Tenggara sudah menderita luka dalam akibat serangan lawan!


Catatan:

*) Kutipan dari puisi berjudul ‘Warna’ karya sastrawan Ajip Rosidi.

**) Bahasa sunda. Hatur nuhun: terima kasih.

***) Dengungan: resonansi.