Episode 93 - 2-1


Jajaka Hitam sudah tak lagi mengenakan pakaian ketat dan topeng berwarna hitam. Ia berjalan ke sudut Sanggar Sarana Sakti. Sepertinya ia sedang meminta maaf kepada teman-teman seperjuangan. Setelah itu, ia pun turun dari panggung dan menunggu di bawah. Dengan demikian, sesuai peraturan bersama, anak remaja tersebut telah tersingkir dari pertarungan hari ini.

Pertarungan kedua segera berlangsung. Kuau Kakimerah dan Mojang Hijau sudah berhadap-hadapan di tengah panggung. Mojang Hijau lalu menggerakkan tangan ke kiri dan kenakan, setelah itu…

“Wayang Golek!” seru Mojang Hijau. “Air! Angin! Tanah!”

Tetiba muncul tiga boneka kayu seukuran tubuh manusia di depan Mojang Hijau. Ketiganya mengenakan pakaian mirip bangsawan, namun tetap mempertahankan nuansa hijau. Ketiga boneka kayu tersebut segera mengelilingi Mojang Hijau yang berperan sebagai dalang, dan membangun semacam formasi bertarung.

Pada dasarnya, Wayang Golek merupakan seni pertunjukan boneka kayu yang tumbuh dan berkembang di wilayah pasundan, bagian barat Pulau Jumawa Selatan. Wayang Golek yang dimainkan oleh seorang dalang, biasanya mengisahkan ceritera pewayangan.

Setelah sebelumnya menyaksikan lawan yang mengandalkan pelindung dari berbagai anggota tubuh binatang siluman, kini seorang lagi perwakilan dari Sanggar Sarana Sakti yang menggunakan peralatan dalam bertarung. Peralatan kali ini tak lain adalah ketiga boneka kayu tersebut. Sepertinya, Mojang Hijau memiliki teknik khusus, sehingga dapat mendalangi ketiga Wayang Golek miliknya.

Kuau Kakimerah menyipitkan kedua belah matanya, yang memang sudah sipit. Kesaktian unsur kayu, pikirnya dalam hati. Pengamatan Kuau Kakimerah tentu tak meleset. Berkat kesaktian unsur kayulah, Mojang Hijau dapat menjadi dalang yang mengendalikan Wayang Golek.

“Air dan Angin… Serang!” seru Mojang Hijau sembari menganggukkan kepala.

Dua dari tiga boneka wayang kayu merangsek maju. Boneka yang dipanggil dengan Air, melontarkan gelembung-gelembung cairan ke arah Kuau Kakimerah. Sedangkan Angin, melesat cepat sambil menebaskan tangannya hendak menyayat tajam ke arah lawan.

Kuau Kakimerah berupaya mundur ke belakang. Akan tetapi, salah satu gumpalan cairan membungkus kaki kanannya yang berwarna merah, sehingga membuat gerakan mundur melambat. Seketika itu juga, tebasan angin menyanyat tipis lengan kirinya.

Benar, Kuau Kakimerah telah menyadari bahwa Wayang Golek memiliki kesaktian unsur air, angin dan tanah. Sepertinya, Tanah lebih bersiaga sebagai pertahanan sang dalang.

Dengan demikian, Mojang Hijau yang memiliki kesaktian unsur kayu dan berperan sebagai dalang mempu mengendalikan tiga boneka Wayang Golek. Kemudian, masing-masing Wayang Golek besar sebagai sarana dalam bertarung memiliki unsur kesaktian yang berbeda-beda pula. Sungguh teknik dan peralatan yang digdaya. Bagaimana tidak, seorang ahli dapat menggunakan empat unsur kesaktian sekaligus dalam pertarungan!

Kuau Kakimerah telah melepaskan gumpalan cairan yang membelenggu kakinya. Ia sepenuhnya menyadari bahwa akan sulit melawan boneka-boneka yang tak memiliki rasa takut dan rasa sakit. Di saat sedang berpikir, kembali kedua Wayang Golek merangsek maju!

Kuau Kakimerah bergerak lincah ke kiri dan ke kanan. Ia terlihat kesulitan menghadapi Wayang Golek Air yang memiliki jangkauan jarak menengah, dan Wayang Golek Angin yang menyerang jarak jauh. Sulit baginya menjangkau sang dalang yang berada di belakang sana…

“Rotan Bunian… Tambat! Bebat! Rambat!”

Tiga jurus sekaligus! Kuau Kakimerah melepaskan rotan panjang ke Wayang Golek Angin, namun segera dibabat oleh ketajaman kesaktian unsur angin. Meski, rotan berduri segera mengikat erat tubuh boneka tersebut. Di saat ini terjadi, Kuau Kakimerah telah merangsek maju dan memerintahkan rotan rambat menjalar dan menghujamkan akar-akar kecil ke tubuh Wayang Golek Air

Di hadapan Kuau Kakimerah, kini berdiri Wayang Golek ketiga yang bertugas melindungi dalangnya. Di saat jarak semakin memendek, Wayang Golek Tanah menghentakkan kaki dan panggung tanah bergegar, membuat Kuau Kakimerah kehilangan keseimbangan. Di saat itu pulalah kedua kaki Kuau Kakimerah terbungkus cairan dan sabetan angin merangsek deras ke arahnya!

Baru di saat itu Kuau Kakimerah menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam perangkap. Mojang Hijau berpura-pura membuat Wayang Golek Angin dan Air seolah tak berdaya menghadapi rotan-rotan bunian. Di saat lawan lengah, barulah kedua boneka tersebut mengepung dan menyerang!

Kehilangan keseimbangan, kedua kaki terkunci, dan serangan deras mengarah ke aranya... Kuau Kakimerah sungguh tak berdaya…

“Siamang Semenanjung!”

Segera seekor kera besar berbulu lebat dan berwarna kelabu keluar dari ruang dimensi di balik Kartu Satwa. Siamang Semenanjung segera menggerakkan lengan yang dibungkus bilah-bilah besi untuk melindungi tuannya. Beberapa helai rambut siamang putus dan darah mengalir dari irisan luka-luka kecil. Tak memperdulikan, ia segera mengangkat Kuau Kakimerah dan melompat keluar dari kepungan tiga Wayang Golek!

Menyaksikan pertarungan yang cukup mendebarkan di atas panggung, para penonton kembali bersorak-sorai. Senang sekali hati mereka menyaksikan dua gadis remaja sengit bertempur.

Di tribun utara, tempat para pendamping perguruan berkumpul, Sesepuh Ketujuh tersenyum. Sepertinya ia sedang menantikan sesuatu dari anak didik yang sedang bertarung di atas panggung.

Kuau Kakimerah berdiri dengan Siamang Semenanjung yang memayungi tubuhnya. Di hadapan, Mojang Hijau berdiri di balik ketiga Wayang Golek. Di tribun penonton, ribuan hadirin berdiri dan bersorak-sorai tak sabar menyaksikan kelanjutan pertarungan. Sebagian besar dari mereka sudah mulai percaya bahwa Perguruan Gunung Agung tak lagi dapat dipandang sebelah mata!

Kedua kubu belum juga bergerak. Kuau Kakimerah menimbang-nimbang. Bahkan dengan mengandalkan Siamang Semenanjung, sulit baginya menjangkau Mojang Hijau. Di lain sisi, Mojang Hijau tak hendak gegabah. Tanpa mengetahui kemampuan binatang siluman kera besar itu, lebih baik menunggu lawan menyerang terlebih dahulu, lalu bertahan dan mencari kesempatan serangan balik.

Dari tas selempang lusuh yang masih setia menemani, Kuau Kakimerah lalu mengeluarkan dua botol kecil ramuan. Segera ia menyegel kembali Siamang Semenanjung, lalu menenggak sebotol. Ia lalu menyiramkan isi sebotol ramuan lagi di kedua pundaknya sendiri.

“Aji Pamungkas, bersiaplah… Sebentar lagi giliranmu,” ujar Canting Emas menyibak senyum. Sepasang lesung pipit menghiasi wajah tirusnya.

“Wahai Mambang Segala Mambang…,” gumam Kuau Kakimerah. “Kumohon inayat akan kekuasaan… Rotan Bunian: Kepak!”

Burung kuau, adalah unggas yang berukuran besar. Burung kuau jantan dewasa dapat mempunyai panjang hingga dua meter, sedangkan burung kuau betina hanya sekitar 75 cm, dengan ekor dan bulu sayap lebih pendek. Berat badan unggas ini pun mampu mencapai 10 kg lebih. Warna kaki burung kuau memanglah kemerahan.

Terdapat dua jenis burung kuau, yaitu burung Kuau Raja dan burung Kuau Bergaris Ganda. Keduanya adalah binatang asli dari wilayah Negeri Dua Samudera. Kuau Bergaris Ganda tidak pernah ditemukan lagi, karena memang sudah punah. Meski demikian, kedua burung kuau ini adalah binatang biasa. Sedangkan burung kuau yang disaksikan oleh ayahanda Kuau Kakimerah saat kelahiran putrinya itu, adalah binatang siluman… Kuau Raja Ganda.

Sebagai tambahan, yang tak banyak orang ketahui dari burung kuau adalah ia memiliki bulu-bulu ekor yang tak kalah indahnya dengan cenderawasih. Ekor burung kuau dapat berdiri dan mengembang demikian indah.

Akan tetapi, mari lupakan sejenak perihal burung kuau, karena bukan burung tersebut yang sepatutnya menjadi pembahasan saat ini. Di atas panggung, terlihat rotan-rotan besar dan kecil merambat cepat membungkus pundak dan dada Kuau Kakimerah. Bermuara di punggung, rotan-rotan tersebut merangkai dan menjalin cepat dan erat, kemudian seolah hendak membungkus tubuh.

“Flap!”

Tetiba jalinan rotan terkembang! Angin menderu deras ke segala penjuru panggung bertarung. Panjang bentangan jalinan rotan di satu sisi saja mencapai lebih dari tiga meter. Tak perlu dicermati dengan seksama untuk mengetahui bahwa jalinan rotan tersebut berwujud… kepak sayap burung rajawali! Demikian megah dan perkasa!

“Wujud!”

“Jalinan rotan berwujud sayap raksasa!”

“Apa yang diajarkan di Perguruan Gunung Agung!?”

Bintang Tenggara terkesima. Ia pernah menyaksikan sayap dari senjata pusaka rompi yang dikenakan Merpati Lonjak di Pulau Dua Pongah. Bentangan sayap Merpati Lonjak tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan bentangan sayap dari jalinan rotan tersebut.

Kuau Kakimerah melesat maju. Sepayang sayap yang seolah tumbuh di punggungnya kini membentuk huruf ‘V’. Gerak langkah kakinya ringan seperti biasa.

Mojang Hijau menyadari akan bahaya besar di depan mata. Gadis mungil yang kaki kanannya berwarna merah itu kini terlihat seperti seekor burung rajawali perkasa yang siap menghunuskan cakar-cakar panjang nan tajam!

Meski demikian, Mojang Hijau hanya terpana untuk beberapa saat. Segera, Wayang Golek Air melempar gumpalan cairan dan Wayang Golek Angin melepas tebasan-tebasan angin.

Sayap kiri dan kanan Kuau Kakimerah bergerak sigap. Betapa mudahnya gumpalan cairan ditepis dan tebasan angin dipatahkan… Lalu, Wayang Golek Tanah yang hendak membangun pertahan, dilibas sayap-sayap perkasa sampai terpental keluar panggung bertarung!

“Buk, buk, buk!”

Beberapa pukulan cepat dan beruntun Kuau Kakimerah mendarat mulus di ulu hati Mojang Hijau.

“Cyaaat…”

Aji Pamungkas berteriak keras, lalu melompat ke tengah panggung. Kuau Kakimerah baru saja menarik dan mengurai sayap-sayap rotan. Segera gadis mungil tersebut kembali ke sudut Perguruan Gunung Agung, sebelum Aji Pamungkas mengucapkan selamat sambil berniat memberi pelukan.

“Dua kemenangan beruntun…,” terdengar bisik-bisik para pendamping dari perguruan lain.

Sesepuh Ketujuh menyibak senyum tipis. Hanya dirinya seorang yang mengetahui persis… bahwa wujud kepak dari jurus kesaktian unsur kayu milik anak didiknya itu, hanya dapat bertahan tak lebih dari sepuluh detik. Jurus pun cuma dapat dikerahkan bilamana Kuau Kakimerah meminum dan melumuri tubuh dengan ramuan khusus. Hal terakhir inilah yang Sesepuh Ketujuh dengan keterampilan khusus peramu ciptakan untuk anak didiknya itu.

“Jajaka Biru siap menderu!”

Seorang remaja bertopeng dan berpakaian serba biru melompat ke tengah panggung. Di saat yang bersamaan, sebilah sumpit panjang terlihat di kedua tangan. Anehnya, di salah satu ujung sumpit, terlihat dua gagang melintang…

“Bedil Sumpit!”*

Jajaka Biru lalu membidik ke arah Aji Pamungkas!

“Dor, dor, dor!”

Rentetan peluru logam berdesing dan melesat secara beruntun dari ujung Bedil Sumpit. Rupanya Jajaka Biru memiliki kesaktian unsur api yang dikombinasikan dengan peralatan tempur. Bila biasanya para ahli yang memiliki kesaktian unsur api berperan sebagai petarung jarak dekat atau jarak menengah, berkat sarana sakti yang ia miliki, Jajaka Biru menjadi penembak jitu dengan jangkauan jarak jauh.

Aji Pamungkas melompat lincah ke kiri dan ke kanan menghindar dari peluru-peluru logam. “Senapan…,” gumamnya menatap tajam ke arah senjata unik milik Jajaka Biru.

“Dor, dor, dor!” Rentetan peluru logam kembali berdesing.

“Hei, Aji Pamungkas!” teriak Canting Emas. Wajahnya merah padam. Di tangannya, sepasang Candik Agni bersiaga. Kuau Kakimerah terlihat di balik tubuh gadis ramping tersebut.

“Menghindarlah ke arah lain,” sambung Bintang Tenggara. Ia berada di balik tubuh Panglima Segantang, yang memegang Parang Hitam untuk menangkis peluru-peluru yang melesat ke arah mereka.

Aji Pamungkas tersenyum kecut. Tak ia sadari bahwa di belakangnya berdiri teman-teman seperguruan. Tapi, ia tak ambil pusing. Pandai-pandailah kalian melindungi diri sendiri, pikirnya dalam hati

“Busur Mahligai Rama-Shinta!”

Pertarungan jarak jauh pun berlangsung sengit. Aji Pamungkas dan Jajaka Biru terlibat dalam baku tembak. Berkat pakaian yang ia kenakan, Jajaka Biru dapat melompat ke kiri dan kanan dengan lincah. Di samping itu, pose tubuh yang ia kerahkan sungguh mencermintan kepiawaian dalam menembak.

Di sisi lain panggung, pose Aji Pamungkas sungguh aneh-aneh. Ia memanah dari balik punggung, dari kolong selangkangan, sambil kayang, sambil berjingkrak. Kini, seperti pernah dipraktekkan dalam pertarungan di Perguruan Gunung Agung, ia sedang menarik dawai busur menggunakan giginya.

“Duar!”

Tetiba sebuah ledakan berdentam. Aji Pamungkas terpental dan terjerembab jatuh. Kedua matanya lalu menangkap Jajaka Biru sedang memanggul sebilah bambu sebesar betis orang dewasa di pundaknya. Akibat gerakan yang aneh-aneh tadi, Aji Pamungkas lengah dalam mengamati lawan yang telah mengeluarkan senjata lain!

“Rentaka Bambu!” seru Jajaka Biru memperkenalkan senjata yang sedang ia panggul di bahu. **

“Panah Asmara, Bentuk Pertama: Cinta Sejati!”

“Panah Asmara, Bentuk Kedua: Cinta Segitiga!”

Aji Pamungkas terlihat berang. Akibat jatuh terjerembab, pakaiannya yang berwarna putih kotor sekali. Apabila murid-murid Perguruan Maha Patih yang mendampingi tak hendak mencucikan pakaiannya nanti, Jajaka Biru haruslah bertanggung jawab!

“Bedil Sumpit!”

“Panah Asmara, Bentuk Pertama: Cinta Sejati!”

“Rentaka Bambu!”

“Panah Asmara, Bentuk Kedua: Cinta Segitiga!”

Pertarungan bertambah sengit. Kedua belah pihak tak hendak mengalah. Formasi segel yang melindungi panggung bertarung sudah jebol sedari tadi. Untungnya, segel lapis kedua yang berada di depan deretan tenda perwakilan perguruan masih tegar bertahan.

“Tomong Lautan Api!”***

Di hadapan Jajaka biru kini bertengger sebuah meriam! Ukuran larasnya saja sebesar batang pohon kelapa. Sepasang roda pedati terlihat menopang kokoh.

Aji Pamungkas memicingkan mata. Luar biasa sekali daya tampung Batu Biduri Dimensi miliki Jajaka Biru, pikirnya dalam hati. Kedua matanya lalu memandangi lirih ke Batu Dimensi Biduri yang tersemat di ibu jari kanan dan telunjuk jari kiri. Wajahnya berubah kecut. Aku harus membeli cincin baru, batinnya.

“Panah Asmara, Bentuk Ketiga: Cinta Bertepuk Sebelah Tangan!”

Sebuah busur berbentuk bulan sabit mengemuka! Busur tersebut terbuat dari angin yang berputar deras. Perlahan, terlihat busur tersebut mengayun-ayun. Aji Pamungkas pun bergerak seolah menarik dawai busur. Meski tak terlihat adanya bilah anak panah yang mengikuti tarikan, gerakan tersebut membuat busur angin menjadi melengkung dan terlihat seperti bulan sabit berwarna biru!

“Wujud lagi!”

“Bulan sabit angin!”

“Kutanyakan sekali lagi… APA yang diajarkan di Perguruan Gunung Agung!?”

Gemuruh suara penonton seolah tak terbendung. Mereka sepenuhnya menyadari bahwa perlengkapan, alat, atau senjata yang dimiliki Sangar Sarana Sakti sungguh digdaya. Akan tetapi, kedigdayaan tersebut tak dapat mengimbangi harkat jurus kesaktian yang sedemikian tinggi dari murid-murid Perguruan Gunung Agung.

Sebagian besar penonton mengetahui bahwa harkat jurus, atau tingkat keserasian jurus dengan perapalnya, dapat dibangun. Namun demikian, untuk mencapai harkat di atas 85%, maka diperlukan latihan menggunakan jurus yang panjang dan keras, serta keberuntungan. Maka dari itu, paling cepat seorang ahli agar memiliki wujud jurus kesaktian adalah bila mereka telah berada pada Kasta Perak!

“Beledar!” Tomong Lautan Api meletus, melontarkan peluru besar ke arah Aji Pamungkas.

“Swush!” Aji Pamungkas melepaskan jemari tangan kanannya.

Seketika itu juga busur bulan sabit melesat deras! Jadi, bukanlah anak panah angin yang menderu menyerang, melainkan busur bulan sabit angin itu sendiri yang terlihat deras berpilin. Biasanya, angin tornado berputar tegak seperti segitiga terbalik. Akan tetapi, pada jurus milik Aji Pamungkas ini, segitiga angin tornado yang seperti bulan sabit, bergerak mendatar menyapu ke arah lawan.

Peluru meriam Jajaka Biru tertahan oleh pusaran tornado, lalu ikut terbawa derasnya angin. Menyaksikan bahaya depan di depan mata, Jajaka Biru segera melompat ke samping. Di saat yang sama, beberapa ahli dari Perguruan Maha Patih yang bersiaga di pinggir panggung pertarungan segera bergerak.

Permukaan panggung dilibas, meninggalkan guratan dalam. Tomong Lautan Api hancur terkena sapuan. Akan tetapi, tornado bulan sabit itu tidak berhenti, ia menghantam dan menembus lapisan formasi segel kedua. Lalu, terus bergerak deras menuju tribun selatan. Beberapa penonton kehormatan segera bangkit hendak menghindar. Adipati Jurus Pamungkas berdiri tegak. Di tangannya sebilah tombak besar yang juga merupakan wujud dari unsur angin telah bersiaga.

Di saat tonado bulan sabit hendak menghantam formasi segel tribun kehormatan, beberapa orang panitia dari Perguruan Maha Patih terlihat merapal berbagai jurus. Tak lama, tornado yang melesat segera mereda, lalu menghilang dengan sendiri.

Di sisi panggung, Jajaka Biru bangkit berdiri. Ia sudah tak lagi mengenakan topeng dan pakaian ketat yang bernuansa biru. Tertatih, ia melangkah ke tengah panggung dimana seorang remaja lelaki tergeletak lemas.

“Aku menyerah,” rintih Aji Pamungkas yang telah kehabisan tenaga dalam.

“Eh…?” Jajaka Biru terlihat bingung. Kedatangannya adalah dengan niat hendak memberikan ucapan terima kasih atas pertarungan yang sengit, dan mengucapkan selamat karena Aji Pamungkas telah mengungguli dirinya. Mengapa lawannya itu malah menyerah?

“Sudahlah…,” tetiba Canting Emas menyela. “Sanggar Sarana Sakti telah memenangkan pertarungan ini. Nilai sementara adalah 2-1.”



Catatan:

*) bedil/be•dil/ n senjata api (terutama senapan model kuno).

**) rentaka/ren•ta•ka/ n meriam kecil yang dapat diputar-putar. (Bentuknya mirip Rocket-propelled grenade (RPG)).

***) tomong/to•mong/ n meriam kecil; mortir