Episode 1 - 27 Mei 2006 (1)

Mimpi itu berhasil menyelinap lagi ke dalam pulas katup mataku. Gelombang bagai ular raksasa dengan tubuh sehitam malam yang meliuk, memberantas bangunan, rumah penduduk, dan akhirnya menyeretku hingga terbangun pada kenyataan. Dengan napas sepenggal-penggal, aku mencoba meredakan ngilu di tubuhku.

Aku pikir, mimpi buruk itu tak lagi sanggup menjangkau tidurku. Sebab waktu yang lewat—sejak mimpi itu terakhir hadir—cukup panjang. Barangkali, hampir dua tahun.

Mimpi buruk itu, aku sungguh membencinya. Sungguh. Karena selalu membawa serta ingatan tentang gelombang yang menelan bapakku dan imanku. Beberapa bulan setelah tsunami Aceh, tak ada lagi bunga dalam tidurku, sebab yang mekar hanyalah duri. Tapi, dalam tidurku kali ini, mengapa duri tidur itu mekar kembali? Aku tak tahu.

Ranjang yang terbalut seprai hijau lumut, serta napas pendingin ruangan yang membelai lembut, tak berhasil membangkitkan kantukku. Aku memilih menyalakan laptop, membaca ulang novel yang tengah kutulis. Ketika aku sibuk menimbang ulang bahasa yang lebih mewakili kesedihan tokoh utama dalam novelku, ruangan tiba-tiba bergerak.

Fotoku bersama Bapak di dinding, jatuh. Dengan cekatan aku berlari ke luar kamar. Lantai yang bergerak membuat keseimbanganku rawan. Aku terjatuh, sebelum ujung jari-jariku sanggup menyentuh gagang pintu. Untungnya, aku berhasil bangkit dan sampai di jalan depan rumahku.

Udara masih terlampau dingin, dan pagi yang benderang masih bertengger di tenggorokan ayam jantan yang paling pemalas. Meski dengan napas dan debar tak teratur, aku merasa lega karena berhasil selamat dari kemungkinan tertimpa reruntuhan bangunan. Di sekitarku, orang-orang berhamburan bersama teriakan “Allahu Akbar” dan “lindhu”. Dengan dada ngilu, aku ikut berteriak “lindhu”, memastikan orang-orang yang masih dipeluk mimpi segera menyelamatkan diri dari kemungkinan gempa susulan.

Ternyata, gempa susulan terjadi. Aku hanya sanggup berselunjur di aspal yang bergerak, sementara teriakan nama Tuhan dan lindhu terus berkumandang; lebih rapat dan kencang.

Gempa reda, tapi gemetar lututku berlangsung jauh lebih lama. Setelah lututku diam, aku berjalan ke arah kanan untuk memastikan kondisi tetanggaku. Beberapa rumah mengalami kerusakan. Tapi yang paling parah, sejauh tempuh langkah kakiku, adalah rumah Pak Wiratman. Kanopinya yang tersusun dari kayu bermotif kembang cantik, ambruk. Dan, di tembok dekat jendela kamar, ada retakan lebar bagai petir gelap menjalar.

Nyawaku seolah melorot memikirkan Wulan. Bagaimana kondisi anak gadis mungil Pak Wiratman yang selalu melemparkan senyum dan sapaan manja ketika kami bertatapan?

Mataku mengambang. Napasku terasa sempit. Namun, sebelum tangisku pecah, terlihat Wulan dalam gendongan ibunya mendekat ke arahku. Sementara Pak Wiratman, bibirnya sibuk menggetarkan doa.

 “Mbak Laksmi, ndak kenapa-kenapa, toh?” tanya Bu Wiratman, wajahnya pucat, “alhamdulillah.”

“Ndak, Bu. Pripun Ibu dan keluarga?”

“Alhamdulillah, Mbak.”

Segera kubelai rambut Wulan. Namun, hari ini, senyum dan sapaan manja untukku tak ada, sebab tercuri bencana.

**

Matahari mulai meninggi, orang-orang masih berjaga di luar rumah masing-masing. Sementara lalu lintas desas-desus adanya gempa susulan dan datangnya tsunami, berhamburan dalam setiap percakapan. Setelah berbincang dengan beberapa tetanggaku, aku teryakini bahwa tak ada korban jiwa di lingkungan kami.

Dari tetanggaku yang masih sempat menyelamatkan radionya—yang untungnya baterainya masih bernyawa—kami mendapatkan informasi dari Sonora FM, bahwa yang terjadi adalah gempa tektonik, bukan vulkanik seperti dugaan kami sebelumnya. Arus informasi terputus, tapi untungnya Sonora FM tetap berupaya mengudara.

Aku tersenyum jengkel.

Rasanya seperti lelucon yang tidak lucu. Ketika kami terfokus pada aktivitas Merapi, hari ini, takdir, atau nasib, atau ketetapan yang tak bisa ditolak, seolah mengharuskan kami untuk meyakini betapa kami terbatas, lemah, dan sepele. Hal yang membuatku yakin, maksudku terlalu yakin, bahwa sejauh apa pun hidup kutempuh, tak akan kutemukan kembali imanku.

Dengan perasaan khawatir, kugenggam ponsel yang setengah jam lalu—dengan nyali seadanya—berhasil kuambil dari dalam rumah. Ternyata, ponsel dengan kondisi sinyal langka adalah percuma. Aku belum bisa memastikan keadaan Baskara, sahabatku. Bersama desas-desus tentang kekuatan gempa yang menggugurkan ratusan bangunan, bayangannya terus melintas. Kami punya janji lari pagi di alun-alun. Tapi, hari ini, di mana gempa hadir secara mendadak dan membentak, kakiku yang tak sanggup berlari hanya mampu menopang kencang laju jantungku.

Tiba-tiba, dari kejauhan, suara motor matic Baskara yang lebih sayup daripada bisikan angin merobek kesunyianku. Setelah sepeda motornya parkir, ia segera melompat, lalu menarikku ke dalam erat pelukannya.

“Mi, kamu nggak kenapa-kenapa, kan?” tanya Baskara dengan raut wajah khawatir, setelah melepaskan pelukannya.

“Maksudmu ... kalau dipeluk, Bas? Sejujurnya, aku keberatan, lho.”

“Asem tenan kamu, Mi. Ditanya serius malah ngguyon!” keluhnya, sambil menggelengkan kepala, membuat rambut panjang ikalnya yang jatuh di bahu bergoyang.

Aku tak tahu, mengapa lelucon masih sempat terbit dari mulutku. Mungkin, setelah beberapa kali dipecundangi takdir, aku sepenuhnya yakin perlawanan paling sengit yang bisa kulakukan terhadap takdir adalah dengan merasa seolah baik-baik saja.