Episode 13 - Seperti Dulu Lagi



Hujan sudah mulai reda.

Namun, rintik-rintik masih dapat membasahi tubuh.

Setelah perbincangan mereka yang berujung pada diam seribu bahasa, Erina terus menundukkan wajahnya di balik rambutnya yang seperti padi yang telah tua. Sedangkan, Bagas merasa ingin cepat-cepat pergi dari situ.

Dia melihat ke arah di mana ada empat orang yang sangat dia kenal yang sepertinya sedang bermain-main. Erina masih seperti itu bahkan setelah keributan yang mereka buat. Dan sepertinya inilah saatnya untuk pergi.

Tanpa memerdulikan apapun, dia bangkit. Membawa serta payungnya dan berjalan pulang.

Dia merasakan tatapan yang sangat familiar di balik payung yang menutupi sosoknya. Satu pandangan yang selalu ingin memukulnya di saat dia melakukan hal yang jahil. Namun takkan ada lagi momen di mana sumber tatapan itu bisa bersenda gurau dengannya lagi seperti waktu dulu.


***


Beni menjadi basah kuyup dan terdapat sebuah bekas tamparan di pipi kanan.

Dia terduduk di aspal sebentar setelah ditolong Rian.

Rini dengan cekatan memeriksa bekas serangan yang dia berikan.

“M-maaf!”

“Ha, oh, gak apa-apa kok, sudah biasa. Yang lebih penting, kau gimana? Aku tadi terpeleset dan sempat menimpamu.”

“Gak usah mengkhawatirkanku. Lebih penting kita cepat pulang kalau tidak kau akan kena masuk angin.”

Setelah itu mereka segera bangkit dan mulai berjalan.

Rian diam berdiri sewaktu tiga temannya mulai melangkah. Euis mendatanginya karena penasaran apa yang sedang dia lihat.

“Lihat apaan sih?”

“Oh, enggak, tadi ada jangkrik.”

“Apaan sih, bawa-bawa jangkrik segala.”

Euis merespon candaan kilat Rian. 

Rian mengubah topik karena dia tak ingin tahu kalau seseorang yang sempat mereka lihat barusan adalah seseorang yang istimewa baginya.


***


Erina masih dalam keadaan yang sama sebelum empat orang temannya yang baru saja pulang sekolah menyadarkannya.

“Loh, kak Erina, sedang apa di situ?!”

Rini menyapanya dari seberang jalan.

Erina mengangkat wajahnya yang masih dalam keadaan menahan rasa sakit yang tak terlihat.

Dia lalu tersadar setelah angin semilir menerpa wajahnya. Hujan sudah mulai reda. Langit sedikit memerlihatkan parasnya dan matahari segera menghangatkan permukaan yang baru saja terkena badai dingin.

Dia berdiri dan wajahnya dia buat sekuat mungkin agar mereka yang bertemu dengannya tak tahu kalau hatinya sedang kacau. Dia mulai melangkah setelah mengetahui kalau seseorang yang baru saja bersamanya telah menghilang, dia mengetahui hal itu bahkan tanpa melihat ke arah di mana seorang tadi duduk.

Rintik-rintik masih bisa membasahinya, tetapi itu tak perlu dikhawatirkan kalau kau langsung membasuh diri setelah kembali pulang.

“Kak Erina, apa yang kakak lakukan di situ, dan jaket siapa itu?”

Euis menanyainya pertama setelah dia bergabung dengan kelompok empat orang.

“Oh ini, seseorang tadi meminjamkannya padaku.”

Dia mengatakan itu sambil memerlihatkan jaket yang sepertinya bukan milik siapa-siapa. Hal itu dapat diketahui karena jaket setiap orang akan diberi nama di atas kantung. Dan hal seperti tak memiliki bet nama adalah aneh untuk diketahui.

“Tapi..”

“—Sudah-sudah, daripada meributkan hal itu, sebaiknya kita kembali pulang atau Beni akan mati kedinginan.”

Rian menghentikan pertanyaan Euis yang tak sempat dia selesaikan.

Di samping itu, Erina melihat kalau ada dua orang yang telah basah kuyup. Satunya masih dapat menahan dingin, tetapi yang satunya lagi seperti bor yang sedang beroperasi—bergetar hebat.

Namun, ada satu hal aneh yang ada pada mereka, mereka berdua memiliki mantel untuk melindungi diri. Tetapi mereka sudah basah kuyup, yang berarti.

“Sepertinya sudah lama semenjak terakhir kali kalian bermain hujan seperti ini ya.”

Erina mengatakan itu pada mereka yang basah kuyup.

Salah satunya bereaksi dengan menampakkan wajah yang malu, dan satunya lagi tampak tak bereaksi karena dia sudah penuh dengan kesibukan; menghangatkan diri dengan terus bergerak.

“Baiklah, ayo kita pulang cepat.”

***

Dengan komando Rian mereka mulai berjalan kembali.

Setelah berjalan beberapa saat, mereka menemui tiga jalan yang menuju ke arah yang berbeda.

“Kalau begitu, kami lewat sini.”

Rini berpamitan setelah mendapati jalan yang akan dia dan Beni lewati menuju rumah ada di sebelah kiri. 

“Setelah kembali pulang, biarkan Beni yang mandi duluan, Rini!”

“Atau mungkin kalian bisa mandi berbarengan kalau mau!”

Rian dan Euis memberi ucapan sampai jumpa yang membuat Rini hampir terbakar karena rasa malu.

“Kalian ini, jangan cuma karena tinggal serumah bisa kalian anggap seperti itu!!”

Rini berbalik dan berteriak pada dua sahabat yang bercanda padanya. Setelah itu berbalik lagi dan berjalan memerlihatkan ekspresi kesal. Sedangkan untuk Beni, dia sama sekali tak menanggapi candaan dua sahabatnya dan terus berjalan sambil gemetaran.

“Oh iya, kau diminta untuk memberitahukan ke kak Ani kalau pak Elang bakal telat kan, Rian.”

“Ya, tentu saja aku ingat.”

“Kalau begitu aku pulang duluan.”

“Eh, kenapa?”

“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus ku lakukan cepat!”

Euis berlari setelah berpamitan. Meninggalkan Rian dengan payungnya dan juga Erina.

Rian menutup payung setelah dirasa tak diperlukan lagi. 

“Ayo jalan.”

Mereka kembali berjalan menuju ke kompleks kontrakan. 

Mereka tak berbicara sedikitpun walaupun jarak menuju komplek agak sedikit jauh. Hal itu mungkin karena kepribadian mereka berdua yang tidak cocok untuk saling banyak berbicara.

Mereka sudah sampai di komplek. Berjalan sedikit ke dalam dan menemukan dua rumah yang mereka tuju. 

Rumah kontrakan yang dibangun minimalis. Berkisar 6x10 meter dan memiliki semua layanan yang diperlukan oleh sebuah keluarga kecil.

Menyatu menjadi satu. Dua rumah digabung dan dibagi di sisi kiri dan sisi kanan.

Sisi kiri adalah milik Afita, seseorang yang memberikan tumpangan pada Erina. Dan satunya lagi adalah milik pasangan Elang dan Ani.

“Kalau begitu, kita berpisah di sini.”

“Oh iya, kak Erina, bisa bicara sebentar?”

Rian menghentikan Erina yang telah membuka pintu gerbang depan.

Erina berbalik dan memasang wajah penasaran pada Rian.

“Apa kakak, telah melakukan kontak dengan Bagas?”

Rian langsung menuju ke poin utama pembicaraan. Erina menjadi terkejut karena Rian mengetahui apa yang seharusnya tak diketahui oleh orang lain, selain yang mengetahui alasan Erina untuk ingin dekat dengan Bagas. 

Dan bahkan untuk sahabat yang telah lama berteman dengan Bagas, tak mungkin dia mengetahui hal itu.

“B-bagaimana kamu tahu itu?”

Erina tak ingin membuang waktu dan langsung merespon dengan jawaban jujur.

“Yah, aku melihat kalian duduk berdua di depan mini market. Dan saat aku melihat ekspresi Bagas sewaktu dia meinggalkan kakak, entahlah, aku hanya merasa kalau dia pasti sudah merasa diganggu.”

Erina begitu terkejut karena Rian langsung mengetahui masalah yang telah dia hadapi. Meskipun begitu, bahkan tak diberitahu oleh Rian sekali pun, Erina sudah tahu kalau menurutnya dia telah menjadi pengganggu bagi Bagas.

Namun, demi alasan yang telah dia pendam sekian lama, dia tak bisa berhenti di sini jika saja seorang sahabat dari orang yang dia sayangi memintanya untuk berhenti.

“Dan, di sini aku ingin meminta pada kakak untuk...”

“—Aku tak bisa melakukannya, Rian.”

Rian terkejut saat kata-kata yang ingin dia ucapkan bertimbang balik dengan apa yang Erina katakan barusan. Dan saat dia ingin menjelaskan apa yang sebenarnya ingin dia katakan, Erina melanjutkan dengan ekspresi teguh.

“Karena, aku memiliki alasan yang sangat kuat untuk melakukan hal seperti itu. Jadi, aku tak bisa berhenti untuk menjadi pengganggu bagi kehidupan Bagas.”

Rian sekali lagi terkejut karena Erina mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang baru saja dia coba mengerti. Namun, keterkejutannya menghilang setelah mendengar kata-kata Erina yang satu itu.

“Begitu ya.”

Rian bernafas lega setelah keinginan yang bahkan belum dia katakan mungkin saja bisa terwujud.

“Kalau begitu, kakak bisa meminta padaku untuk mengatakan apa yang ingin kakak ketahui tentang Bagas, yah, walaupun aku tak tahu tentang semua yang ada padanya sih. Tapi, jika itu berkaitan tentang kenapa, kapan dan bagaimana mungkin aku bisa menjawab.”

Erina menjadi bingung karena Rian mengatakan sesuatu yang rumit untuk dia mengerti. Dia pikir Rian akan menghentikannya, tetapi sekarang dia malah menawarkan bantuan.

“Nah, jadi, sebaiknya kakak masuk ke dalam karena cuaca sedang sangat dingin. Dan juga, jangan lupa untuk mengembalikan itu, kalau kakak tak bisa, mungkin aku bisa melakukannya untuk kakak.”

Rian menyinggung tentang apa yang sedang berada di kedua tangan Erina. Sebuah jaket yang sedang menghangatkannya. 

“E-eh, tidak, biar aku saja. Tapi..”

“—Jadi, sampai jumpa besok.”


***


Rian berpaling dari Erina bahkan sebelum dia menyelesaikan perkataannya.

Namun, dia juga tak ingin mempermasalahkan hal itu karena dia telah memiliki kepercayaan dari seseorang yang sangat dekat dengan Bagas.

Dia membuka gerbang depan yang setinggi pinggangnya dan mulai melepas sepatu yang basah saat sudah berada di depan teras.

Dia mengambil sepasang sandal jepit di depan pintu. Memakainya dan mulai mengetuk pintu.

“Kak Afita, ini aku, Erina. Aku pulang!”

Erina sedikit berteriak di pintu depan. Dan selang beberapa waktu suara langkah kaki terdengar menuju pintu.

Pintu terbuka dan wajah seorang ibu yang akan berkepala tiga terlihat. Wajah yang mirip dengan pasangan hidup Elang. Hal seperti itu dikarenakan Afita dan Ani memiliki hubungan darah sebagai kakak adik.

Lalu seseorang yang berada di gendongannya adalah seorang bayi berumur hampir satu tahun. Bayi yang terlihat tampan dan memiliki lesung pipi di bagian kiri wajahnya.

“Selamat datang!”

Seorang ibu itu menerima kedatangan Erina yang telah kembali pulang. Begitu pula bayi yang berada di gendongan. Dia menjadi sangat hiper saat melihat Erina berada di pintu depan.

“Hai~ Adi, kamu merindukanku ya.”

Bayi itu begitu senang dengan kedatangan Erina dan sempat pula bergerak sangat aktif di gendongan ibunya.

“Dia menjadi sangat kesepian setiap kali kamu pergi, Erina.”

“Haha, maaf ya aku sedikit terlambat karena hujan turun. Oh, jangan dulu, aku basah dan tak bisa bermain denganmu sekarang.”

Bayi itu menginginkan Erina untuk mengangkatnya. Namun Erina menolak karena dia masih dalam keadaan tak bisa menggendong seorang bayi yang baru berada dalam fase vegetatif.

“Kalau begitu, bisa kamu bawa dia mandi bersamamu. Soalnya kakak masih harus menyiapkan makan malam.”

“E-eh, bukannya itu sedikit berbahaya! Apalagi aku tak memiliki pengalaman dengan seorang bayi.”

“Nah, kalau gitu ini bisa menjadi pengalaman yang baik untukmu.”

“Tu-tunggu dulu!”

“Sudahlah, lagipula ini adalah Adi. Dia takkan berbuat macam-macam seperti mencuri ciuman pertama kamu.”

“B-bukan begitu~!”

Afita terlihat semakin bingung dengan kelakuan Erina yang terus menolak tawaran.

“Apa kamu menginginkan seorang bayi?”

“E-eh, kenapa jadi menyinggung ke arah situ. Lagipula aku belum memiliki pasangan untuk melakukannya.”

“Nah, jadi ini bisa menjadi pengalaman yang baik untuk kamu loh. Bayangkan saja, suatu hari kamu sudah memiliki seorang suami dan kalian sudah memiliki seorang anak. Pada suatu saat kamu ingin memandikan bayi kalian, dan itu bukan menjadi masalah karena kamu sudah pernah melakukannya.”

Meskipun begitu, membayangkan untuk memandikan seorang bayi yang pintar seperti Adi dan seorang bayi yang baru lahir itu sedikit membingungkan. Lebih membingungkan lagi kalau Erina sampai menolak tawaran Afita yang akan terus memaksanya.

Dan setelah menerima tawaran dengan sedikit rasa khawatir, akhirnya Erina mandi berdua dengan Adi kecil. Seorang bayi yang telah dianggap pintar walaupun umurnya baru saja menginjak 11 bulan.

Dia sama sekali tak menyusahkan Erina dan menurut dengan perkataan yang dia dengarkan.

Erina bahkan menjadi terkejut karena bayi yang bahkan belum bisa berpikir untuk memakan sendiri makanannya bisa sepintar itu.

Beberapa saat setelah mandi, keluarga kecil itu mulai makan malam. 

Makan malam hari itu adalah sup ayam. Sayur yang sangat pas dengan cuaca yang dingin. Untuk dua orang yang masih belum memiliki kewajiban dalam sebuah pekerjaan, masakan seperti itu adalah masakan yang paling mengenakkan.

Sedangkan, untuk dirinya yang telah menyiapkan makanan yang bisa dilahap dengan ekspresi senang, hal itu merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.

Setelah selesai makan malam, Erina menjaga Adi kecil sedangkan Afita sedang mencuci piring.

Di ruang tamu, dua orang sedang asik-asiknya melihat sebuah film yang menegangkan. Tak jarang salah satu dari mereka menggigit kerah baju karena saking menegangkannya.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Waktu yang sangat berat untuk membiarkan seorang bayi tertidur di pangkuan seorang dewasa. Bahkan untuk seorang dewasa yang memangkunya, setelah semua kelelahan yang dia rasakan, menahan rasa kantuk tak lagi bisa dilakukan.

Pada akhirnya, seorang bayi berada di gendongan ibunya dengan memasang wajah pasrah. Sedangkan, untuk seorang dewasa yang telah dibangunkan karena harus berpindah tempat, berjalan seperti layaknya zombie.


Epilogue


Pagi hari sudah menyongsong.

Akhir semester adalah waktunya untuk para murid datang lebih awal karena harus memulai pelajaran lebih awal diakibatkan karena tekanan harus mengejar nilai yang tinggi.

Namun, untuk seorang penumpang yang akan pulang hari ini, menjadi pagi yang cukup berat karena harus meninggalkan keluarga yang telah menampungnya dalam beberapa waktu.

“Apa kamu akan kembali lagi ke sini?”

Seorang ibu yang menggendong bayinya sedikit tak bisa melepas seseorang yang telah dia anggap sebagai kakak dari bayi miliknya.

“Mungkin setelah semester ini berakhir. Uuhh, jangan menjadi seperti itu, Adi kecil. Kamu membuatku menjadi berat untuk meninggalkan tempat ini.”

Erina menghampiri seorang bayi yang kelihatan sangat sedih untuk membiarkan Erina pergi. Dia memalingkan wajahnya ke pelukan ibunya saat Erina mendekat; ketidakrelaan membuatmu tak ingin untuk melihat kepergian seseorang yang kau sayangi.

“Jadi, bagaimana pengalamanmu setelah beberapa hari hidup di desa ini, Erina?”

“Yah, begitulah. Aku mendapatkan teman baru, pengetahuan baru, dan yang terpenting aku menemukan sesuatu yang menarik tentang fakta orang-orang yang ada di sini. Seperti Beni yang sebeneranya adalah anak dari pasangan suku sunda asli, namun memiliki wajah seperti penduduk korea selatan.”

Erina mulai bercerita tentang pengalaman yang dia dapatkan setelah Ani bertanya. Dan tak hanya sampai di situ saja, dia masih memiliki beberapa yang ingin dikatakan sebelum dia pergi.


“Dan juga, Rini yang memiliki tubuh yang kecil tapi memiliki kekuatan yang besar karena mendapatkan warisan kekuatan dari ayahnya yang merupakan pendekar dari suku betawi.”

Erina mulai membuat matanya berkaca-kaca karena harus kehilangan tempat yang bisa memberinya kebahagiaan lebih.

“Ada pula seorang pak de yang selalu dapat menolong orang lain tanpa disengaja, siapa ya namanya, pak Slamet, iya pak Slamet. Dan juga...”

*Tin Tin

Suara klakson terdengar dari arah belakang sebelum Erina dapat berbicara lebih lanjut. Itu adalah mobil sedan hitam yang dikhususkan untuk menjemput Erina.

“Baiklah, pak sopir sudah tak sabar untuk membawamu pulang. Jadi, mainlah lagi ke sini kapan-kapan.”

Ani mengatakan itu setelah melihat ketidakrelaan Erina untuk pergi dari desa. Namun, apa yang bisa dia lakukan, menolak ajakan pulang, tidak bisa. Dia juga memiliki suatu urusan yang harus dia lakukan setelah kembali ke rumah.

“Kembalilah sesegera mungkin kalau kamu bisa, kami pasti akan selalu menyediakan tempat untukmu kembali.”

Afita mengatakan itu untuk sedikit menenangkan Erina yang tak bisa menerima kenyataan tersebut.

Di pangkalan pemberhentian angkutan umum yang menyambungkan desa dengan kota yang jauh jaraknya, dua orang wanita desa sedang melepas kepergian dari seorang putri bangsawan dari negeri di benua eropa.

Erina dengan sedikit berat hati masuk ke dalam mobil.

Memberikan salam perpisahan pada dua orang yang telah membantunya selama hidup di desa. Itu bukanlah pertama atau terakhir kali bagi Erina. Karena dia akan selalu mendapatkan kesempatan untuk pulang jika dia bisa melakukan hal yang menjadi alasan dia pergi ke desa.

Karena itu, dia harus berusaha untuk bisa kembali sekali lagi. Untuk mendapatkan kesempatan di mana dia bisa hidup tanpa penyesalan. Baik apa yang menjadi tujuannya terwujud atau tidak.


***


“Eh?”

Dia menatap bingung setelah mendengar pernyataan yang didengar dari Afita.

“Tapi tak masalah, Dion akan tidur di ruang tengah dan kamu bisa tidur bersama kami.”

“Tu-tu-tunggu dulu, aku tak bisa melakukan seperti itu.”