Episode 12 - Kita Semua Bisa Kembali



Mendung mulai menutupi langit.

Anak-anak sekolah telah banyak yang mulai berlarian. Dari yang mencari tempat perlindungan dan tanpa basa-basi langsung pulang.

Kekhawatiran Euis menjadi kenyataan kalau dia akan terjebak dalam hujan karena terus mengikuti setiap kelas yang ada di hari itu. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk menunggu hujan turun, reda, lalu baru dia bisa berjalan pulang. 

Dia melakukan itu karena tak mendengarkan saran dari ibunya yang mengatakan kalau hari itu akan turun hujan di penghujung sore. 

“Inilah kenapa kau harus sering mendengar perkataan dari orang tuamu, Euis.”

Dia mengeluhkan itu pada dirinya sendiri.

Berdiri di salah satu pintu keluar dari gedung tiga.

Dia berada di gedung tiga karena harus melakukan sesuatu dengan guru yang menjadi wali kelasnya. Karena dia memiliki tanggung jawab sebagai wakil kelas.

Namun, sering melupakan waktu karena kesibukan membuatnya sering terjebak dalam masalah yang membuatnya harus menunggu. Seperti waktu sekarang ini.

“Andai ada seorang pendekar yang datang menolong.”

“Euis.”

Dia bergumam. Dan sebuah suara menyambut gumaman yang di arahkan pada dirinya sendiri. Itu adalah sosok yang menjadi wakil kelas XI TKJ dan di sebelahnya terdapat seorang yang menjadi wali di kelas yang sama.

“Rian dan Pak Elang.”

“Sedang apa kau di sini?”

“Pasti takut terjebak hujan ya.”

Elang menyahut pertanyaan Rian dengan dugaan yang benar. 

Merespon perilaku usil gurunya, Rian meringis menduga.

Sedangkan, Euis bertanya-tanya kenapa Rian yang memiliki kelas jurusan hari ini bersama walinya.

“Oh, aku tadi diminta untuk membantu pekerjaannya.”

“Yaahh, karena itu pekerjaanku menjadi lebih ringan! Kau memang ketua kelas terbaik di sekolah ini, Adik dari kakak ipar!”

“Makasih.”

Elang terlihat sangat tertolong dengan keberadaan Rian. Mendekapnya seperti seorang yang sangat akrab, namun kelakuannya tak dianggap serius dan Rian menampik tangan yang mendekapnya seperti telah biasa terjadi.

“Dan apa kalian akan pulang sekarang?”

Euis bertanya karena menduga mereka akan pergi pulang bersamaan.

“Tidak. Aku memiliki sebuah pekerjaan yang masih harus kulakukan. Tapi Rian sudah bebas sekarang.”

“Ya, tapi dalam keadaan seperti ini. Aku mungkin akan menunggu hujan turun, reda, lalu baru aku bisa pulang.”

“Bagaimana kalau begini.”

Elang yang membawa payung di satu tangannya, melemparkan itu pada Rian. 

Rian menerimanya. Namun dia sedikit terkejut dengan kelakuan gurunya yang kali ini.

“Bagaimana denganmu nanti?”

“Aku, mungkin pekerjaannya akan memakan waktu yang cukup banyak. Oh iya, kalau sempat tolong sampaikan pada Ani untuk menjemputku, bagaimana?”

“Baiklah.”

Euis bertanya. Elang menjawab dengan tanpa ada masalah yang akan dia hadapi nanti.

Dengan persetujuan dari Rian, akhirnya Euis dan Rian memiliki sebuah payung untuk melindungi mereka selagi berjalan pulang.

“Nah, tolong ya!”

Elang berjalan menjauh setelah selesai dengan dua murid itu.

“Bagaimana?”

“Untuk sekarang kita ke kelasku dulu. Ambil tas.”

Sebelum mulai berjalan pulang, mereka harus mengambil tas milik Rian yang masih di dalam kelas. 

Mereka berjalan menuju gedung satu lantai tiga. Lantai di mana beberapa kelas dua di letakkan.

Setelah sampai di ujung lorong, Rian mengajak Euis untuk masuk. Tetapi Euis menolak karena suatu alasan tertentu. Rian menyetujuinya dan Euis menunggu di luar.

Di dalam kelas, masih ada beberapa murid yang sepertinya menunggu hujan turun, reda, lalu baru mereka pulang atau hanya sekedar masih ingin bermain.

“Yo, ketua!”

Seorang teman menyapanya saat dia masuk.

Beberapa juga melakukan hal yang sama, namun dengan ciri khas yang berbeda-beda.

“Hey, bagaimana kau bisa dapat payung itu? Seingatku kau terlambat dan tak kepikiran untuk membawa payung.”

Teman yang kelihatan akrab berbicara dengannya bertanya dengan menunjuk ke arah payung yang baru saja dia dapatkan.

“Ini, aku dapat dari pak Elang. Sebagai ucapan terima kasih, mungkin.”

“Lalu apa kau akan pulang sendirian sekarang?”

“Tidak. Aku bersama Euis.”

Saat Rian menyebut sebuah nama yang berasal dari kelas lain, beberapa orang mengsiul atau menyinggung padanya.

“Cie-cie.”

“Wajar aja lah. Mereka kan sudah berteman sejak kecil.”

“Kenapa kalian tak berpacaran aja sih!”

“Huss, kau ini. Rumornya Putri Gelis punya seseorang yang dia sukai dan kalau iya, tak mungkin itu ketua. Kalau enggak pasti mereka udah pacaran sejak lama bukan?”

“Iya juga sih. Tapi bagaimana kalau mereka sudah berpacaran tapi mereka sembunyi-sembunyi.”

Sisa-sisa orang di kelas itu mulai meributkan hubungan Rian dan Euis. Dan saat seorang murid perempuan memanas-manasi suasana dengan rumor yang beredar, bisik-bisik dari para murid mulai menyebar.

Ada yang mengatakan kemungkinannya adalah “iya” mereka berpacaran namun mereka merahasiakannya. Ada pula yang menduga-duga siapa sosok yang dibicarakan yang disukai oleh si pemilik gelar Putri Gelis—Euis.

“Hey, hentikan. Di saat kalian berbicara seperti itu, pasti seseorang yang menungguku di luar sedang menahan malu dan menutup wajahnya.”

Rian menghentikan semua pembicaraan yang dilakukan temannya. 

Dan seperti yang dia katakan. Seseorang yang sedang menunggunya sekarang sedang menahan malu. Wajahnya memerah, tetapi dia tak mencoba menyembunyikannya dengan menutup wajah.

Reaksi para murid yang membicarakan hal itu, terkejut. Karena mungkin saja seseorang yang dibicarakan mendengar dan akan...

Suara pintu yang digebrak mengejutkan semua.

...masuk ke ruangan.

“Kau lama sekali, Rian. Cepatlah atau hujan keburu turun!”

Beberapa orang di dalam ruangan membuka mulut mereka—menganga—karena terkejut seseorang yang mereka bicarakan benar-benar menangkap basah mereka.

“Maaf. Oke, kita sudah siap.”

Rian yang telah bersiap dengan tasnya berjalan menuju pintu.

Beberapa orang di kelas yang membicarakan Euis masih bingung untuk bagaimana bertanggung jawab kalau seseorang yang mereka bicarakan menuntut untuk membalas.

Dan benar saja, seorang yang mereka bicarakan bertolak pinggang dan menatap mereka semua. Ada yang pura-pura tersenyum tanpa tahu salahnya. Ada yang menyembunyikan wajah. Ada pula yang memaksa untuk membelok patah kan perbincangan mereka.

“Udah-udah, lebih baik ayo cepat. Entar keburu hujan lagi.”

Rian memutar tubuh Euis lewat bahu. Mendorong sosok itu menjauh untuk melupakan kesalahpahaman yang terjadi barusan.

Di dalam kelas, mereka yang terlibat dalam perbincangan panas barusan merasa ada es yang meleleh di kepala mereka. Karena akan gawat kalau seorang yang mendapati gelar Pangeran dan Putri Sekolah mempermasalahkan perbuatan mereka.

“Syukurlah~”

“Hampir aja tadi. Siapa yang bisa mengira kalau dia benar-benar ada di luar dan muncul tepat di hadapan kita.”

“Kalau dia sampai mempermasalahkan hal ini, kalianlah para laki-laki yang harus bertanggung jawab.”

“Eh! Enak aja! Bukannya kalian yang pertama kali meributkan “siapa ya yang di sukai di Putri Gelis” gitu!”

“Hee-! Tapi kalian yang pertama kali mengajak kami semua membicarakan itu.”

Dan begitulah, perdebatan antara siapa yang salah dimulai di kelas XI TKJ.

Di sisi lain.

“Tapi, bagaimana pendapatmu tentang apa yang mereka bicarakan tadi?”

Rian yang juga merasa penasaran dengan rumor itu menanyakan langsung pada sumbernya.

“Soal apa?”

“Tentang siapa yang kau sukai?”

“Ooh, itu.”

Euis tak mengatakan apapun lagi setelahnya.

Seperti dia tak menganggap penting apa yang mereka bicarakan.

Rian juga seperti tak terlalu ingin mempermasalahkannya. Namun, tentu saja dia tak bisa tenang sebelum mendengar kebenarannya. 

“Hey, apa benar tak ada—“

“Tidak ada! Apa kau puas!”

Euis membentak. Namun bentakannya tak seperti dia sedang marah, sebaliknya, dia malah merasa malu karena mereka terus membicarakan hal itu.

“Ternyata ada.”

Dan ekspresi yang dibuat Rian seperti seorang ayah yang bahagia pada anak perempuannya.

“Jadi, siapa orang itu?”

“Apa itu masih penting untuk dibicarakan?”

Di halaman depan sekolah, hujan masih belum terlihat akan turun. Namun angin kencang mulai menerpa siapapun yang ada di permukaan.

Euis masih merasa malu karena tak ingin membicarakan hal yang memalukan seperti “siapa seseorang yang kau sukai?”. Apalagi orang yang bertanya itu adalah seorang yang sejak kecil selalu bersamanya.

Meskipun ada tiga orang lagi. Rian adalah sosok yang lebih sering bersamanya. Karena itu, pembicaraan ini baru pertama kali dibicarakan. Bahkan “belum” untuk tiga orang yang lain.

“Tentu saja. Karena teman yang telah bersama ku sejak kecil memiliki seseorang yang dia sukai. Dan aku harus memastikan kalau laki-laki itu adalah orang yang baik untukmu.”

Mereka telah sampai di kaki bukit. Dan Rian masih akan terus melanjutkan pembicaraan itu sampai Euis benar-benar mengatakan siapa orangnya.

Euis masih bertahan dengan diamnya. Sampai beberapa saat kemudian dia menyerah dan mulai menceritakan yang sebenarnya.

“Baiklah aku menyerah.”

“Nah begitu dong. Kalau seperti ini dari tadi kan pembicaraannya akan cepat selesai. Wah, hujannya mulai turun.”

Sewaktu mereka sudah sedikit jauh dari sisi jalan yang di penuhi oleh pepohonan—kaki bukit, rintik-rintik hujan mulai turun.

Rian mengambil payung dan membentangkan itu untuk mereka berdua.

Setelah mengkondisikan keadaan mereka—memposisikan posisi yang pas dalam payung selagi berjalan—mereka kembali melangkah.

Tak lupa pula Rian kembali menyinggung tentang apa yang mereka bicarakan barusan.

“Jadi?”

Euis terkejut karena Rian masih ingin melanjutkan dan belum melupakan pokok bahasan sebelumnya.

Dia menghembuskan oksigen lewat mulut sesaat sebelum melanjutkan.

“Tenang saja. Dia orang yang baik kok. Bahkan kalau kau mau menilai seberapa baik dia melalui angka 1 sampai 10. Dia pasti mendapatkan 8.”

Euis dengan perasaan ceria yang tak seperti sebelumnya mengatakan itu.

Rian terkejut karena Euis bisa mengatakan hal seperti itu tanpa keraguan sedikitpun.

“Hanya saja dia memiliki masalah dalam berperilaku kepada orang lain. Yah, seperti serigala penyendiri gitu.”

Di dalam payung yang diguyur hujan, mereka terus berjalan, melewati ladang yang hampir seluruhnya di tutupi oleh air.

“Begitu ya, bagaimana kalau kau memberitahuku tanpa menyebutkan siapa orangnya? Mungkin aku bisa mengenalinya.”

“Tidak. Kau pasti akan bisa langsung mengenalinya.”

“Aku bisa langsung mengenalinya. Apa itu berarti dia orang yang dekat dengan kita. Kalau itu kepastiannya, mereka, para laki-laki yang kukenal. Sepertinya mereka semua orang yang baik.”

“Nah, kalau begitu tak ada lagi yang perlu di permasalahkan bukan!”

“Benar juga. Sepertinya aku hanya terlalu khawatir.”

Dengan begitu, mereka menyelesaikan perbincangan tentang siapa yang disukai oleh Euis.

Rian tak lagi merasa khawatir. 

Euis juga merasa sedikit lega karena telah membicarakan hal itu dengan seorang yang dia sayangi.

Perjalanan mereka hampir sampai. Dalam jarak 100 meter mereka bisa melihat perempatan dan juga sebuah mini market.

“Misi om!”

Secara tiba-tiba seseorang, mengenakan mantel, tinggi dan memiliki punggung yang menggembung melewati mereka. 

Dia berlari seperti seseorang yang sedang menggendong sesuatu.

Lalu tak lama kemudian, seorang laki-laki yang mengenakan mantel itu terpeleset. Jatuh dengan punggung menabrak aspal.

Mereka terkejut karena ada seseorang yang berada di punggung laki-laki itu. Lebih terkejut lagi ketika laki-laki yang berlari itu adalah seorang yang sangat mereka kenali.

Mereka takkan salah mengenali pemuda kelahiran sunda yang dianggap sebagai peranakan korea yang sangat tampan. 

Dia melihat ke dalam mantel yang sepertinya ada seseorang lagi. Lalu ketika dia telah memasukkan kepalanya, sebuah tangan mungil yang memiliki kekuatan besar menggamparnya dan mengirimnya ke parit.

Euis dan Rian spontan berlari karena mereka pasti menduga seseorang yang memiliki kekuatan sebesar itu adalah seseorang yang mereka kenali sebagai putri dari pendekar desa.

Mereka menyibak mantel yang menutupi seorang gadis kecil.

“Rini!”

“Loh, Euis, Rian, sedang apa kalian di sini?”

Rini yang tadi terjatuh di pinggang menerima bantuan tangan dari Euis. Sedangkan, Rian yang mengkhawatirkan temannya yang terkena serangan telak di muka melihat ke arah parit tempatnya jatuh.

“Tentu saja kami tadi sedang berjalan. Tapi seseorang menyalip kami dan setelah melihat perilaku kalian tadi. Yah, kami pikir itu pasti kalian berdua.”

“Be-begitu ya.”

Euis menjadi bingung setelah melihat temannya yang merasa malu-malu ini.

Dia basah kuyup, sedangkan mereka berdua memakai mantel untuk berjalan—berlari pulang.