Episode 11 - Mungkin Saja Nanti



Waktu telah mengatakan untuk para anak sekolah harus pulang. Akan tetapi hanya beberapa ratus murid saja yang melakukan itu. Sisanya masih tinggal di sekolah untuk melakukan beberapa hal, seperti bermain atau pun berlatih olahraga. Menghabiskan waktu mereka di ruang klub dengan melakukan kegiatan atau hanya sekedar ingin tinggal di sekolah lebih lama lagi.

Seorang murid perempuan yang mengenakan pakaian perawat—yang menjadi seragam jurusan—sedang berjalan di koridor. Menuju ruang klub yang dia tahu itu adalah ruang yang mana temannya pasti sedang menunggu.

Pintu dibuka.

Di dalam terdapat seorang laki-laki yang sedang meneteskan air mata. Di depannya terletak kanvas yang baru saja selesai di lukis. Lukisan itu terlihat sedikit rumit untuk dilihat, tetapi maksudnya pasti sudah jelas. Bahwa lukisan itu melambangkan kesedihan seseorang.

“Beni.”

Murid perempuan itu memanggil sosok lelaki yang dia kenal sebagai pelukis sekolah.

“Rini.”

“Apa kau baik-baik saja?”

“Oh ini, aku teringat film yang kulihat tadi malam. Jadinya terbawa sewaktu melukis.”

Lukisan yang membawa kesedihan bagi Beni itu adalah pemandangan laut yang sangat indah. Rini tak mengerti dengan arti di balik kesedihan laut yang ada di lukisan. Namun, ketika dia mengingat film yang tayang tadi malam dan itu berkaitan dengan laut, pantas saja Beni bisa terbawa dan meneteskan beberapa air mata.

“Oke, aku akan bersiap-siap sebentar.”

“Sini kubantu.”

Ruangan itu terlihat cukup bersih dan tenang. Mungkin karena yang memakai ruangan itu hanyalah Beni seorang. Oleh karena itu, sesuatu seperti kekacauan atau beberapa hal yang bisa membuat ruangan itu berantakan dapat dihindari.

Beni membereskan peralatan yang dia pakai. Sedangkan Rini membereskan peralatan belajar Beni, menaruhnya di dalam tas lalu memberikan kepada pemiliknya.

“Ayo...”

Di saat Rini mengajak pulang, angin kencang masuk ke dalam ruangan. Membuat mereka melindungi diri dari angin kencang tersebut.

“Waahh, cuacanya kelihatan buruk.”

“Sebaiknya kita cepat-cepat pulang sebelum hujan turun.”

Beni dan Rini melihat keluar jendela dan mengetahui kalau cuaca saat itu sedang memburuk. Awan hitam sedang berkumpul. Angin kencang berkemungkinan membuat hujan semakin cepat turun.

Mereka melangkah agak cepat keluar sekolah. Namun, akibat dari jarak antara tinggi Beni dan Rini membuat mereka seperti sedang balapan.

“Tunggu, bukannya kamu gak kecepetan jalannya!”

“Kau juga, kenapa tak berjalan lebih cepat lagi sih.”

“Apa katamu?! Kamu mau mengatakan kalau tinggi badanku yang salah, begitu!”

“Yah, tentu saja. Karena 181 dan 152 itu perbedaan yang cukup jauh bukan.”

Beni mengatakan fakta bahwa tinggi mereka yang berbeda jauh itu adalah penyebab dari konflik yang mereka alami. Walaupun begitu, Rini tak menganggapnya benar dan menyalahkan Beni atas hal itu.

“Humm! Dasar cowok, selalu menyalahkan sesuatunya kepada cewek. Kenapa sih kalian begitu susahnya untuk mengerti kami.”

Pipi dikembungkan. Ekspresi cemberut diperlihatkan. Rini yang sedang kesal tersebut tampak tak begitu menyeramkan bagi Beni. Itu karena ekspresi Rini yang sedang marah adalah salah satu ekspresi favorit bagi Beni.

“Awww! Apaan sih!?”

Beni menyubit pipi kembung Rini. 

“Haha, soalnya kau manis kalau sedang marah.”

Beni mengatakan hal yang sangat rumit bagi Rini dengan mudahnya. Ekspresi tanpa dosa yang bisa menyebabkan kesalahpahaman kalau ada seseorang yang melihat mereka.

“Bodooohh!!”

Rini meneriakkan hal itu sebelum kembali berjalan.

Beni yang telah terbiasa dengan perlakuan itu hanya tersenyum senang sambil mengikuti Rini dari belakang. 

Saat mereka telah keluar dari gedung sekolah, angin bertiup kencang. Membuat Rini harus melindungi wajahnya.

“Waahh, kayanya sebentar lagi mau hujan deh. Gimana, mau terus atau menunggu?”

“Langsung pulang aja deh. Soalnya aku udah janji sama Rafa untuk pulang cepat.”

“Terserah deh.”

Rini meminta untuk terus melangkahkan kaki menuju rumah. Dan begitulah, mereka meneruskan langkah kaki mereka untuk pulang.

Saat para murid lain berlari untuk menghindari hujan yang akan turun, ada dari mereka yang pergi pulang dan ada pula yang mencari tempat untuk berlindung.

Beni dan Rini cukup berjalan sedikit santai walaupun keadaan mereka sedikit kacau. Itu karena seseorang tidak bisa menahan kencangnya angin yang menerpa. Membuatnya berjalan cukup pelan. Dan untuk seseorang yang berjalan di sampingnya, dia tak memiliki pilihan lain selain ikut berjalan dengan pelan.

Sewaktu mereka telah turun dari kaki bukit. Hal yang ditakutkan telah terjadi. Hujan mulai turun.

“Hujan.”

“Tunggu, aku bawa payung...”

“Ada apa?”

Rini merasa terkejut saat sesuatu yang seharusnya dia bawa ketinggalan di rumah.

Mereka terdiam karena tak tahu harus melakukan apa. Hanya menatap satu sama lain, berharap masing-masing dari mereka memiliki rencana untuk keluar dari sini.

“Kita kembali ke gerbang depan!”

“Tidak bisa!”

“Kenapa!?”

“Itu karena...”

Hujan mulai deras dan mengguyur. Mereka berdua terdiam dan membiarkan air mulai membanjiri tubuh.

Salah satu memandang satunya dengan tatapan menyalahkan. Satunya lagi tak ingin menatap yang lain karena tak ingin disalahkan.

“K-karena kita sudah terlanjur basah. Mau bagaimana lagi, lebih baik melanjutkan dan tak usah membuang-buang waktu.”

Dengan perkataan itu, tanpa kesepakatan yang menguntungkan pihak lain, mereka kembali berjalan ke arah desa. Satunya hanya bisa meratapi nasib karena dia selalu berada dalam situasi di mana dia tak bisa memilih untuk kebaikan mereka, satunya lagi terus memalingkan wajahnya karena merasa kalau keputusannya adalah yang paling benar.

Sebelum mereka kembali berjalan, tas yang memiliki mantel anti hujan dikenakan untuk menghindari sesuatu yang ada di dalamnya basah. Sedangkan, pemilik dari kedua tas tersebut merelakan tubuh mereka untuk sampai ke rumah dalam waktu dekat.

Mereka mulai berjalan.

Air yang terjatuh dari langit terus saja mengeroyok. Rambut sudah seperti dikeramas. Pakaian seperti sudah siap untuk dikeringkan. Dan manusianya telah siap untuk menerima akibat dari tindakan ceroboh mereka.

Rini mulai merasakan kedinginan. Sedangkan, Beni yang tak bisa berkata apapun lagi hanya bisa menerima semua itu dan terus berjalan.

“Hachuuu!”

Seseorang bersin.

Lalu menggigil.

“Sudah lama kita tak main hujan-hujanan seperti ini ya~!”

Mengetahui kalau seseorang di sebelahnya hampir mencapai batasnya, Beni menyinggung keputusan yang telah dibuat dan singgungan itu tepat mengenai sasaran.

“Baiklah, aku minta maaf karena telah memaksa untuk terus!”

Rini mengakui kesalahannya. Namun sepertinya, dia masih tak terima bila disalahkan dan mengembungkan pipinya.

“Oh iya...”

“Apa? Waaahhh~! Apa yang kau lakukan!?”

Beni menyadari sesuatu dan mulai menyepakkan air yang menggenang dan mengenai Rini.

“Sudah kubilang bukan, kalau sudah lama kita tak bermain hujan seperti ini. Dan waktu seperti ini adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.”

Rini mengerti dengan sikap anak-anak Beni. Hanya saja, dia masih tak bisa menerima situasi yang menimpa mereka. 

Pakaian yang dia kenakan telah basah seluruhnya. Apalagi pakaian tersebut di desain sesuai pakaian seorang perawat sungguhan. Itu artinya sedikit bagian pahanya terekspos dan bagian itulah yang menjadi titik paling dingin yang dia rasakan.

“Cukup!! Iya aku minta maaf, maaf! Menyerah-menyerah!”

“Haha. Hayo-hayo, hahaha!”

Beni dengan tanpa rasa bersalah terus mengirim air untuk mengguyur Rini. Bahkan dia turun ke ladang dan menggunakan air parit yang lebih mudah digunakan.

“Cukup, kumohon...”

Rini mulai hampir pada batasnya. Bukan karena dia kedinginan. Tetapi karena dia telah kesal dengan situasi itu. Dan mereka mulai berperang untuk membasahi satu sama lain saat Rini turun untuk membalas Beni.

“Rasakan ini!”

Rini melompat. Beni terkejut karena dia melompat tepat ke atasnya. Karena tak bisa menghindar, Beni hanya bisa menerima serangan itu.

Rini menjatuhkan Beni dan posisi itu sangat menguntungkan Rini untuk menyerang.

“R-rini, wajahmu menyeramkan.”

Lalu tanpa basa-basi, Rini mulai menyerang Beni.

Posisi mereka berada di jalan yang dibuat agar bisa melewati ladang. Dan di bawah ada bagian yang digunakan untuk menanam. Bagian itu memiliki genangan air yang cukup untuk diambil dan diguyur. Hal seperti itulah yang akan dilakukan Rini.

“Waahh, jangan wajahku!”

Rini menyendok air di ladang menggunakan tangan dan mengguyur itu ke Beni. 

Karena itu adalah sebuah permainan. Beni hanya berpura-pura terkena serangan telak dan menerima perlakuan Rini kepadanya.

“Oi!”

Seseorang memanggil mereka.

“Oh, neng Rini dan kang Beni toh. Jangan bermain-main air seperti itu, lebih baik kalian segera pulang kalau tidak, bisa kena masuk angin loh!”

Mereka telah menyadari kalau kelakuan mereka yang seperti anak-anak itu telah diperhatikan oleh seorang tua. Hal itu membuat mereka menghentikan tingkah laku yang memalukan dan bangkit lalu kembali ke jalan.

“Ini, pakailah.”

Seorang pria tua yang memergoki Beni dan Rini memberikan sesuatu kepada mereka, itu adalah sebuah mantel. Dan jumlahnya hanya ada satu.

Beni menerima itu sambil berpikir bagaimana mereka akan memakainya.

“Segeralah pulang dan hangatkan diri kalian ya!”

“Terima kasih, pak Slamet!”

Pria tua yang dipanggil Slamet itu kembali mengayuh sepeda menuju desa. Terlihat dia juga memakai mantel, tetapi, bagaimana bisa dia memiliki dua sedangkan hanya dipakai untuk satu orang.

Rini yang tak tahan dengan perasaan malu hanya bisa terdiam. Bahkan panggilan Beni tak dihiraukan dan dia malah membuang muka karena perasaan malu.

“Bagaimana kami harus memakainya? Ini, pakailah.”

Beni mencoba untuk menyerahkan mantel itu pada Rini. Namun kelihatannya, Rini masih tak bisa menahan perasaan malu dan terus berada dalam posisi dia tak menghadap pada siapapun.

Beni menyerah untuk memberikan itu pada Rini dan akhirnya dia memakai pada dirinya sendiri.

Tas dia kenakan di depan. Lalu saat dia telah siap.

“Ayo!”

Dia mengarahkan punggungnya pada Rini.

Rini masih merasa canggung akibat kejadian barusan. Tetapi pada akhirnya dia tak bisa menolak ajakan Beni yang pada akhirnya dia menyerahkan tubuhnya untuk diangkat dan mengendarai Beni sampai ke rumah.

“Oi, kenapa di luar!”

“Eh?”

“Di dalam kan bisa!”

Rini mengerti maksud Beni dan masuk ke dalam mantel. 

Seperti yang diduga, mantel itu bisa dikenakan oleh dua orang jika posisinya seperti yang mereka lakukan.

“Oke!!’

“Wahh!”

Di dalam mantel, Rini sedikit terkejut saat dirinya diangkat.

Dia tak bisa menatap keluar karena lubang pada mantel hanya ada satu yang bisa digunakan untuk kepala. Karena itu, dia hanya bisa bersandar pada punggung lebar Beni.

“Ayo jalan!”

“Waa~! hei, pelan-pelan aja!”

“Kalau gitu kapan sampainya! Kita tingkatkan kecepatan!”

Begitulah, mereka berlari—tepatnya Beni berlari sambil menggendong Rini di belakang—untuk sampai ke desa.

Hujan sudah cukup lama berlanjut. Dan volume turunnya air sudah berada pada tingkat yang tak cukup menyakitkan bila terkena langsung oleh tubuh.

Setelah terus berlari, akhirnya Beni bisa melihat perempatan dan sebentar lagi mereka akan sampai.

Di dalam mantel, Rini merasakan kehangatan sewaktu pegangannya pada Beni menjadi semakin erat. Walaupun sesaat yang lalu dia merasa kedinginan, tetapi saat ini dia merasa bahwa kehangatan itu ada kalau seseorang yang kau cintai berada di dekatmu.

“Kita sampai. Eh—“

“...”

Mereka berdua—Beni terpeleset saat itu juga.

Hal itu cukup mengejutkan bagi mereka, sampai-sampai posisi jatuh yang terlihat memalukan tak mereka sadari sampai beberapa saat berlalu.

“Aduduh.”

Beni mengeluhkan sakit yang dia rasakan sambil bersandar pada dada seseorang.

Di dalam mantel, Beni tak menyadari kalau kepalanya telah masuk ke dalam dan menyandari sesuatu yang bisa membuat seseorang mati karena rasa terkejut sekaligus malu.

Mungkin hal itu berlaku pada Beni, tetapi tidak pada Rini—sang korban. Dia merasakan dadanya terasa sesak sekaligus jantungnya bisa copot kapan saja bila hal itu berlanjut. Karena itu.

“Aaahhh-!!”

Dia harus menyingkirkan penyebab perasaan itu.

“Apaan sih!?”

Beni telah terlempar keluar dari mantel. Sedangkan Rini masih menahan perasaan meledak di dalam dadanya sewaktu masih berada di dalam mantel.

“Woi, kau baik-baik saja?”

“Hyaaa!!”

Sebuah tamparan kuat terkena tepat sasaran dan membuat korbannya terbang ke udara, berputar beberapa kali sebelum tercebur ke parit.


Catatan: 

Heterochrome kini terbit Rabu dan Minggu!