Episode 10 - Bagaimana Caranya Menembus Tembok Hati Yang Membeku?




Erina mengatakan sesuatu yang jelas memberikan kecanggungan terhadap perbincangan mereka, walaupun begitu, dia tetap kuat untuk menerima jawaban yang akan diberikan.

Bagas tak menjawab. Dia menutup bukunya, menaruhnya dalam tas dan bangkit dari gubuk. 

“Cuacanya mendung, sebentar lagi akan hujan.”

Setelah mengatakan itu, Bagas pergi ke pinggir danau untuk mengambil pancingnya.

Erina mengerti apa yang dimaksud dan dengan buru-buru dia memakai sepatunya. Celana dan kaus kaki yang dia pakai sudah agak kering. Meskipun rasanya sedikit tak nyaman.

Bagas membawa kedua barang miliknya dan berjalan keluar dari tempat itu. Erina mengikuti dari belakang dan sedikit menjaga jarak. Karena dari perbincangan sebelumnya, dia mendapat sifat cuek dari Bagas.

Mungkin Bagas hanya tak ingin membahas permasalahan yang dipertanyakan Erina meskipun dia sudah mengetahui hal apa yang dimaksud.

Erina mengerti hal itu dan hanya diam mengikuti Bagas. 

“Kau...”

Panggilan Bagas memecah keheningan yang dirasakan Erina, dia terkejut dan menjawab “ya” dengan tergagap.

“Apa kau baik-baik saja?”

Erina sedikit bingung karena Bagas membuka pembicaraan dengan pertanyaan seperti itu, tetapi dia tahu hal apa yang disinggung Bagas.

“Y-ya, walaupun aku masih terkejut dengan hal yang terjadi barusan. Tapi aku baik-baik saja.”

“Baguslah. Dan juga, berhentilah membuat dirimu berada dalam situasi berbahaya.”

Bagas menyinggung tentang apa yang telah terjadi di beberapa waktu yang lalu, tak hanya hari itu, tapi juga di waktu dia diincar oleh beberapa pria. Erina hanya bisa terdiam meratapi kesalahannya telah membawa-bawa Bagas ke dalam masalahnya.

Dia juga tak bisa mengatakan permintaan maaf yang telah dia rencanakan saat mereka berdua bertemu. Namun, sepertinya keinginannya harus tersimpan untuk beberapa saat.

Mereka masih dalam keadaan itu sampai memasuki wilayah sekolah.

Bagas menuju sebuah bangunan dan Erina mengikutinya karena dia juga tak memiliki rencana untuk pergi ke mana.

Bangunan yang cukup besar. Di bangun dari kayu yang tahan segala cuaca.

Dan ketika dia telah melihat bagian dalamnya, rumah kaca yang penuh dengan tumbuhan dapat terlihat. Sewaktu dia menelusuri tanaman-tanaman apa saja yang ada di dalam rumah kaca itu, mereka adalah jenis tanaman obat-obatan.

“Halo.”

Seseorang menyapanya. Memakai jas putih dan kacamata sebagai seragam formal. Wajahnya manis meskipun berada dalam usia dia bisa saja memiliki dua anak.

“H-halo.”

“Hmm...”

“A-ada apa?”

“Jangan-jangan, Putri Eruin!”

“Putri!?”

Wanita itu langsung menyebut julukan yang sama sekali tak diketahui Erina. Dari sifatnya, dia sepertinya bisa saja berteman dengan siapa saja—supel. Bahkan dengan Erina yang mereka belum saling mengenal satu sama lain, dia bisa memberikan sikap agresif.

“Uhuhu, maaf, aku mendengar rumor julukan itu dari anak-anak.”

“Jangan-jangan anda, seorang guru?”

“Walah-walah, jangan terlalu formal begitu juga putri. Lagipula umur kita tak begitu jauh berbeda.”

“Oh, maaf. Tapi kamu juga, tak perlu memanggilku dengan julukan aneh seperti itu.”

“Aneh. Padahal itu manis. Tapi ya sudahlah, boleh aku panggil kamu Erina seperti yang dilakukan kakek Teguh.”

“Tentu saja. Dan kamu..”

Erina memasang wajah penasaran saat dia yang bahkan tak mengetahui nama dari lawan bicaranya yang telah mengetahui sedikit tentangnya.

“Oh, iya, maaf. Aku terlalu bersemangat sampai-sampai belum memperkenalkan diri. Kalau begitu, perkenalkan, namaku adalah Pepper Antonia.”

“Pepper Antonia.”

“Ya, kamu boleh panggil aku apapun yang kamu mau dari nama itu. Tapi anak-anak sering memanggilku Ibu Merica sih.”

“Ibu Merica, kenapa?”

“Itu karena dalam bahasa latin arti dari nama Pepper adalah bumbu yang terbuat dari lada. Kalau membicarakan lada, merica adalah nama lain dari lada bukan?”

“Benar juga.”

“Jadi, aku sangat penasaran sekarang. Kenapa kamu bisa bersama dengan Bagas?”

Wanita itu—yang menyebut namanya Pepper—mendekat dan memperlihatkan wajah yang sangat amat penasaran pada Erina. Membuat Erina sedikit mundur dari tekanan yang diberikan.

“Y-ya i-itu, itu karena kami bertemu di danau belakang sekolah.”

“Hmmmm....”

Pepper—yang juga menyebut dirinya sebagai Merica—mendeham panjang seakan dia sudah tahu yang sebenarnya. Karena seseorang yang sudah ahli melihat ekspresi wajah seperti Pepper tahu, kalau Erina berbohong tentang kebetulan yang dia katakan.

Sedangkan, Bagas yang menghiraukan pembicaraan mereka sekarang telah kembali dari entah di mana sambil membawa payung.

“Y-ya itu sungguhan, mungkin.”

“Hmmm, mungkin, ya~.”

“K-kalau begitu, sampai bertemu lagi!”

Pepper tak bisa lagi memberikan respon penasaran kuat yang dia miliki. Karena Bagas dengan cueknya menghiraukan pembicaraan mereka dan pergi keluar. Erina juga sudah tak tahan karena hampir saja dibuat terpojok, meskipun kebohongan yang dia tunjukkan sudah sangat terlihat jelas.

Pepper yang mengerti akan hal itu hanya bisa menarik nafas dan kembali kepada pekerjaannya.


Waktu sudah menunjukkan hampir sore hari. Namun, matahari sudah mulai menghilang karena awan hitam yang mengepul di langit menutupinya seakan mereka ingin memenjarakan sementara cahayanya.

Erina yang masih merasa canggung sedikit menjaga jarak. Dan juga sesekali dia harus mempercepat langkahnya karena langkah yang dia miliki tak sejauh langkah Bagas.

Bagas yang terus saja diikuti oleh Erina juga tak terlalu peduli akan hal itu dan terus berjalan seperti biasa.

Sewaktu mereka telah keluar dari kaki bukit, tak ada lagi yang bisa melindungi mereka dari angin yang kencang. Pemandangan yang tak memiliki pohon jauh membentang. Mulai dari situ mereka harus berusaha sendiri untuk menahan terpaan angin yang kencang.

Untuk Bagas mungkin bukan masalah, tetapi untuk Erina yang memiliki perawakan tubuh yang cukup ramping akan sedikit kesusahan. Rambutnya diterpa oleh angin dan hal itu mengganggu pandangannya. Dia juga harus menahan terpaan dengan satu tangan dan berjalan sekuat tenaga.

Sekali lagi, angin kencang menerpa dirinya dan kali ini dia harus memperkuat pertahanannya dengan menggunakan kedua tangan. Meskipun hal itu membuat pandangannya tertutup.

Sampai ada sesuatu yang melindunginya. Itu adalah sosok besar yang berdiri di sampingnya. Payung miliknya terbuka dan menahan angin.

“Kalau tak mau kesusahan, cobalah untuk tak tertinggal.”

Dengan isyarat itu, Bagas mulai berjalan. Erina juga mulai mengikutinya. Dan kali ini mereka berdua tak perlu khawatir dengan angin kencang yang bisa mengganggu pandangan.

Hanya saja, irama langkah kaki pelindungnya sedikit melambat. Mungkin saja karena dia menahan terpaan angin, mungkin juga karena dia ingin mempermudah Erina berlindung padanya.

Yang pasti, sosok itu menjadi sedikit dekat dengannya. Walaupun beberapa waktu yang lalu sosok itu terasa sangat jauh, sekarang Erina merasa sedikit mengetahui tentangnya.

Di pertengahan jalan, mereka terhadang kembali oleh hujan yang mulai turun. Bagas mengganti posisi payungnya dari menyamping menuju ke atas kepala.

Rintik hujan yang turun masih sedikit dan angin menjadikan abu-abu yang menempel di tanah beterbangan. Mengganggu mereka yang berjalan di bawah. Terkadang Erina melindungi wajahnya, terkadang hidungnya. Lain hal, wajah Bagas yang berada lebih ke atas di atas permukaan tak perlu terlalu dilindungi.

Dan dalam beberapa saat, hujan yang cukup deras mulai mengguyur. Sedikit lagi mereka mencapai jalan utama menuju desa. Hanya saja mereka tak bisa terus jalan dan harus berhenti di Mini Market yang berada di perempatan.

Bahkan Bagas yang memegang payung, bagian luar bahunya menjadi basah karena mencondongkan payungnya ke arah Erina. Erina sedikit bersalah karena perlakuan yang diberikan Bagas.

Mereka telah sampai di Mini Market. Di depan Mini Market ada beberapa tempat duduk yang terlindungi. Erina membersihkan bagian tubuh yang dirasa kotor karena terpaan angin sebelumnya. Sedangkan Bagas masuk ke dalam tanpa memerdulikan keadaannya.

Beberapa saat kemudian, Bagas keluar sambil membawa dua botol minuman susu UHT. Duduk di kursi, menaruh satu di sebelah dan mulai meminum miliknya. Erina tahu kalau satu botol yang di kesampingkan itu diberikan padanya. Namun, dia sedikit merasa malu dan canggung untuk duduk di sebelah Bagas.

Meskipun begitu, dia tak bisa begitu saja menolak kebaikan yang terus diberikan padanya. 

Dia duduk perlahan sambil mendapatkan susu miliknya. Membuka penutupnya dan meminum secara perlahan. Rasanya berbeda dengan susu yang sering dia minum. Terdapat rasa yang mungkin dapat dikatakan original. Karena bahkan susu itu tak memiliki merek. Hanya sebuah botol berukuran sedang yang diisi oleh susu. Susu itu bahkan telah dihangatkan sewaktu membeli.

Mengingat dia telah mendapat kesan canggung yang cukup banyak dengan seseorang yang ada di sebelahnya. Meminum minuman seperti itu di saat seperti ini adalah hal yang cukup menenangkan.

Saat Erina telah habis meminum susu miliknya, botolnya telah kosong. Sesaat dia bingung apa yang harus dilakukan dengan botol kosong itu. Namun, sebuah tangan yang besar mengejutkannya; mengisyaratkan untuk memberikan botol kosong itu padanya.

Erina memberikannya. Bagas bangkit dari kursi dan menuju ke tong sampah. Tepatnya, dia menuju ke samping tong sampah. Sebuah benda yang menjadi tempat botol bekas terletak di samping. Bagas meletakkan kedua botol itu di sana.

Saat itu juga Erina mengetahui, kalau sistem desa ini dibuat untuk melindungi kelestarian alam. Bahkan selama dia tinggal di desa, dia sama sekali tak melihat ada sampah berserakan di mana-mana kecuali sampah yang diproduksi oleh pepohonan. Sama sekali tak terlihat ada sampah domestik di suatu tempat.

Dia terkagum saat membayangkan betapa hebatnya sistem pedesaan yang dipakai di situ. Tak hanya desanya, bahkan sekolah di wilayah ini juga sama hebatnya.

Membuatnya terbengong sesaat sebelum Bagas mengejutkannya sewaktu kembali duduk.

Cuaca saat itu menjadi lebih dingin karena derasnya hujan yang turun. Erina menggenggam kedua tangannya untuk mendapatkan kehangatan. Beberapa kali dia juga menghembuskan hawa panas dari mulutnya untuk menghangatkan kedua tangannya.

Kakinya yang kembali basah karena terkena tetesan juga menjadi titik di mana dia bisa saja menggigil kalau dia tak menahannya.

Sampai sesuatu membuatnya mendapatkan kehangatan. Itu adalah jaket yang dia tahu tak dipakai oleh pemiliknya. Mungkin Bagas tak ingin memakainya dan hanya menyimpan itu di dalam tas.

Jaketnya berkualitas bagus. Di dalamnya terdapat lapisan yang bisa menyimpan kehangatan. Dan Erina menjadi lebih nyaman dengan perasaan itu.

Untuk sesaat dia tak berpikir kalau Bagas adalah sosok yang dia dengar dari orang-orang. Dan juga sosok yang telah dia lihat selama ini. Hanya saja, dia belum terlalu mengenal siapa Bagas sebenarnya. Sampai dia merasakan kehangatan dari perbuatan yang dia berikan kepada Erina.

“Terima kasih. Tapi... kamu bagaimana?”

Bagas tak menjawab pertanyaan Erina. 

Dia hanya menenggerkan punggungnya di kursi. Menegakkan kepala dan menutup mata. Erina tak mengerti apa yang dia lakukan. Namun sepertinya, Bagas tak memerlukan jaket itu.

Erina kembali merasa bersalah karena terus merepotkannya.

“Maaf... karena terus saja merepotkanmu.”

“Sama-sama. Dan juga, sebenarnya, apa yang diinginkan oleh orang yang merepotkan sepertimu terhadapku. Apa yang kau inginkan dariku?”

Sesaat, Bagas memberikan kesan kalau Erina adalah musuhnya. Erina tertekan dengan perkataan Bagas, tapi dia tak bisa membalas. Dia hanya bisa memendam tubuhnya yang tak bisa dia sembunyikan. Berharap jaket yang menghangatkannya kembali hangat karena perkataan tadi telah membuat hatinya dingin.

“Apa seseorang telah memintamu untuk melakukan hal ini kepadaku?”

Perkataan Bagas menjadi semakin dingin di setiap bagiannya. 

“Atau kau hanya ingin membuat hal ini menjadi kesenangan pribadi yang bisa kau tertawakan suatu hari nanti?”

“-Bukan begitu!”

Perkataan Bagas yang satu itu menjadi pemicu Erina untuk menampik. 

“Bukan seperti itu.”

Hanya saja, dia masih belum memiliki cukup keberanian untuk mengatakan alasan yang sebenarnya dari perlakuannya.

“Aku hanya...”

Dan setiap bagian dia ingin mengatakannya, mulutnya menjadi tertutup dan dia tak bisa meneruskan. Dia menjadi terdiam, membisu dan membenam wajahnya yang hampir meneteskan air mata.

Perasaannya menjadi sakit. Karena seseorang yang ingin dia selamatkan berpikir untuk menjadikannya musuh. Rambut yang panjang mungkin saja bisa menutupi kesedihannya, tetapi beberapa tetes air mata yang telah terjatuh di jaket memperlihatkan bukti kalau dia sedang menahan tangis.

“Kalau alasan seperti itu tak cukup untuk membuatmu mengatakannya. Aku bisa saja menunggu. Tapi aku takkan menanggapi isyarat atau kode bodoh yang kau lakukan tentang alasanmu terhadapku.”

Erina merasa kalau tetesan air yang menghangatkan menyentuh perasaannya. Dia tak lagi merasakan sedih, karena dia telah mendengar sebuah alasan untuk tetap maju.