Episode 9 - Kesendirian Yang Bukan Kesepian



Tak jauh dari letak sekolah yang berada di tengah-tengah bukit, terdapat sebuah tempat yang dijadikan sebagai tempat wisata bagi pihak sekolah. Namun karena suatu kasus yang mengakibatkan seorang korban tewas, tempat wisata itu tak lagi pernah dikunjungi.

Letaknya sekitar 500 meter dari belakang sekolah, menuruni bukit yang dipenuhi dengan pepohonan.

Sebuah danau yang sangat indah. 

Awalnya itu menjadi tempat wisata favorit bagi para murid maupun guru, bahkan para warga tak jarang mengunjungi tempat ini untuk menikmati keindahannya.

Akan tetapi, terdapat rumor yang sedikit menyeramkan yang berada di dalamnya, sebuah ikan monster yang telah memakan seorang korban—murid dari sekolah—mendiami danau. Setelah saat itu, tempat itu dianggap angker dan tak lagi pernah dikunjungi.

Rumornya, ada seseorang yang sepanjang tahun terus pergi ke danau. Seorang yang disebut sebagai Serigala Penyendiri. 

Dan untuk membuktikannya, seorang pengunjung sekolah datang ke tempat itu sendirian. Awalnya dia ditawari sebuah bantuan dari seorang satpam penjaga gerbang, namun karena dia juga memiliki urusan pribadi dalam menanggapi masalah ini, jadi dia menolak.

Dia berjalan sendirian melewati jalanan yang hampir seluruhnya tertutup oleh daun.

Setelah melewati jalanan yang tampak seram, dia sampai ke tempat yang dituju.

Sebuah pemandangan yang menggoda mata untuk terus menikmatinya. Danau yang cukup eksotis kelihatannya sedang menunggu untuk dinikmati oleh mata yang mencari keindahan.

Mata berwarna ungu cerah sedang meneliti tempat itu. Karena dia baru pertama kali masuk ke wilayah ini, dia sedikit berhati-hati jika ada sesuatu yang dapat menakutinya atau skenario terburuk mungkin dapat menyakitinya.

Setelah memastikan semuanya aman dia berjalan mendekat ke arah danau. 

Airnya kelihatan sangat jernih, bahkan bebatuan yang ada di dalamnya dapat terlihat jelas. Danau yang ukurannya berkisar diameter 30 meter berbentuk oval. 

Air mengalir dari arah barat menuju timur yang terbelah menjadi dua anak sungai. Di pinggirannya terdapat cukup banyak batu yang berukuran besar dan dapat menjadi tempat duduk.

Seorang gadis yang ingin menikmati tempat wisata itu melepas sepatunya. Meletakkannya di atas batu dan mulai merendam kakinya di pinggiran.

“Dingin~!”

Saat kakinya yang terlihat seperti tumpukan salju menyentuh air danau, dia merasakan dingin yang lumayan. Membuatnya sedikit menggigil.

Matanya menyusuri tempat itu, tak jauh dari posisi, dia melihat sebuah gubuk. Namun gubuk itu tampak tertutup oleh pohon. Jadi dia tak bisa melihatnya dengan jelas.

Setelah menikmati air yang menyentuh kakinya, dia sepakat pada dirinya sendiri untuk menikmati perasaan itu lebih lama. Damai. Tenang. Seakan dia terapung di atas air yang mengalir.

Dan di saat dia masih menikmati perasaan itu, sesuatu bergerak di dalam air. Warnanya tak jelas. Bahkan itu tak dapat diidentifikasi sebagai sebuah benda. 

Sesuatu itu bergerak dan dia mendapat firasat buruk sewaktu mulai melihat sesuatu yang bergerak itu.

Dia mulai keluar dari air dengan perlahan. Namun, sebuah perasaan membuatnya terhenti. Pikirannya kosong. Dia tak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Dan sebuah perintah memberitahukannya kalau dia harus berjalan kembali ke dalam danau. 

Semakin dalam.

Perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya. Masuk menuju air. Lebih dalam. Sehingga membuat celana yang dia pakai basah sampai ke betis.

Dia telah sampai ke tempat di mana dia tak dapat kembali lagi. 

“Apa yang kau lakukan!!”

Dia terus berjalan.

Sampai sebuah suara menghentikan langkah kakinya. Lalu cengkaraman tangan yang kuat menariknya keluar dari air. Menyentak tubuh serta pikirannya. 

Cengkraman tangan itu cukup kuat dan poisinya sekarang telah berada di pinggiran. 

Dalam momen yang sekejap. Dia dapat melihat sepasang mata berwarna biru keabu-abuan merasa marah, khawatir, sekaligus terkejut padanya.

Dan untuk sesaat mereka masih dalam pose seperti itu. Mereka saling memandang karena terkejut dengan keberadaan masing-masing.


***


Bagas seperti biasa berada danau belakang sekolah dengan maksud untuk memancing ikan yang kemungkinan takkan dia dapat. Sepanjang tahun itulah yang dia lakukan, entah karena alasan dia ingin menjauhkan diri dari keramaian atau alasan membohongi dirinya sendiri demi menghindari masalah yang lebih besar—yang tak dapat dia selesaikan.

Dia terus berada di tempat yang bisa memberikannya ketenangan dan kedamaian. Namun semua itu sirna karena kedatangan seseorang. Kedatangan seseorang yang sudah beberapa kali mengusik ketenangannya.

Dan seseorang itu sekarang berada di tempat ini. Bagas awalnya hanya ingin membiarkannya sampai dia sendiri yang mendatanginya. Tapi sesuatu membuatnya mengingkari perkataannya itu.

Seseorang itu sedang merendam kakinya ke danau dan setelah beberapa saat dia melakukan itu, dia mulai untuk melangkah maju lebih dalam ke danau.

Bagas dengan terburu-buru bangkit dari ketenangannya, berlari kecil ke arah seseorang yang mungkin sedang dalam keadaan bahaya itu. 

Bagas telah berada di belakang seseorang itu, tapi suaranya yang telah terus-menerus memanggilnya tak dihiraukan. Seseorang itu malah meneruskan langkah kakinya. 

Maju semakin dalam.

Hal itu membuat Bagas tak sabar dan segera memasukkan kaki yang masih mengenakan sepatu ke air untuk menyadarkannya. 

Kemarahan mungkin merasuki dirinya, sehingga dia menarik seseorang itu dengan kuat ke pinggiran. 

“Apa yang kau lakukan!!”


***


Erina telah terselamatkan. Dua kali. Oleh orang yang sama. Oleh seseorang yang dia harapkan kedatangannya. Namun ada sesuatu yang mengganjal hatinya, seseorang itu terlihat marah.

Bahkan cengkramannya mulai menyakiti tangannya.

“S-sakit.”

Erina mengerang karena rasa sakit yang diberikan.

Setelah mendengar keluhan itu, seseorang yang telah menyelamatkan Erina—Bagas—melepaskan cengkramannya. Dan mulai berjalan ke gubuk yang dia lihat tadi.

Erina tak mengharapkan maaf dari perlakuan Bagas, tapi setidaknya dia ingin berterima kasih karena telah menyelamatkannya.

“Jangan terus berdiam diri di situ.”

Sebuah suara menyadarkannya dari penyesalan yang mungkin mendatanginya. 

Bagas tak menatapnya, tapi dia tahu perkataan itu ditujukan kepadanya.

Setelah mengambil sepatunya, Erina buru-buru mengejar sosok Bagas yang sangat jauh keberadaannya.

Di gubuk yang tak sempat dia lihat seutuhnya tadi, Erina melihat pemandangan yang tak biasa dari gubuk itu. Walaupun tempat wisata itu ditinggalkan, namun gubuknya terlihat sangat bersih. Mungkin Bagas yang melakukannya.

Tentu saja, seseorang takkan ingin duduk, tiduran, atau melihat gubuk yang hampir sepanjang tahun menemaninya terlihat jorok. 

Di atas gubuk itu, dia dapat melihat sebuah buku pelajaran serta pulpen terletak berdampingan. Di dalamnya telah tercoret oleh tulisan. Beberapa soal telah di isi. Dan halaman dari buku itu telah sampai di bagian akhir.

Erina sempat terpikir; apakah Bagas mengerjakan seluruh soal itu sendirian tanpa bimbingan seorang guru?

Jawabannya; mungkin saja. 

Karena dari yang dia dengar Bagas sama sekali tak pernah terlihat masuk ke kelas untuk mengikuti sebuah pelajaran. Tak sekalipun di kelas umum ataupun kelas jurusan.

Dan dia bisa mendapat gelar satu dari tujuh murid paling pintar di sekolah.

Erina terkagum sesaat sewaktu menyadari kenyataan itu. Lalu dia melihat ke arah Bagas yang berada di pinggiran sungai, memeriksa pancing yang dia sandarkan ke atas batu.

Menyadari kakinya mulai merasa kedinginan—hampir sebagian celananya basah dan bertelanjang kaki—dia duduk di atas gubuk. 

Dia merasa menyesal sekaligus senang karena mendapat pengalaman yang hampir mencelakainya itu. Meskipun pada akhirnya dia tak mengetahui apa yang dia lihat dan rasakan sebelumnya. Dia berjanji pada dirinya untuk tak melakukan hal seceroboh itu lagi.

Karena kemungkinan akan ada seseorang yang merasa lebih marah dari sebelumnya jika dia melakukan hal yang sama dua kali.

“Apa kau baik-baik saja?”

Pertanyaan Bagas mengejutkannya dan dengan sekejap dia menatap Bagas.

“E-eh, y-ya, aku baik-baik saja kok!”

“Soal yang tadi ,maaf, sepertinya aku terlalu berlebihan.”

“Tidak juga! Malahan aku sangat berterima kasih karena telah menyelamatkanku!”

Mungkin karena kecanggungan yang dia rasakan, Erina menjadi sedikit tak bisa mengendalikan dirinya dan menjawab perkataan Bagas secara terburu-buru.

Bagas menatapnya dengan keheranan. Erina menarik kembali dirinya setelah mendekat kepada Bagas dan dia mulai merasa malu karena telah berperilaku seperti itu.

Mereka mendapatkan suasana canggung setelah kejadian yang terjadi barusan. Erina mungkin merasakannya, tetapi sepertinya Bagas tak terlalu memerdulikan hal itu dan mulai kembali memegang buku dan pulpen. Mengerjakan soal yang belum sempat dia kerjakan.

Di balik bayangan gubuk. Erina mendapat cahaya matahari di depannya untuk mengeringkan bagian celana yang basah. Blazer yang dia pakai mungkin berwarna hitam dan bagian yang basah tak terlalu kelihatan, tetapi tetap saja dia bisa merasakan dingin dari bagian yang basah.

Mereka masih mendapat keheningan walaupun biasanya dua orang harus memulai pembicaraan untuk menghilangkan kecanggungan. Namun Erina terlalu malu untuk memulai, dan Bagas juga masih tak terlalu kelihatan peduli akan suasana itu.

Karena merasa tak tahan, Erina akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.

“B-bagas, apa kamu selalu belajar sendirian seperti ini?”

“Ya, memangnya kenapa?”

“Tidak, bukannya belajar sendirian itu cukup sulit untuk dilakukan. Apalagi kamu masih berstatus pelajar yang masih membutuhkan bimbingan.”

Tak disangka Bagas menanggapi pertanyaan Erina dengan santai tanpa ada sedikit perasaan canggung sedikitpun. Tak seperti Erina yang mulai tak tahan, Bagas terus berbicara seakan dia tak peduli dengan perasaan-perasaan bodoh yang membuatnya sulit untuk berbicara.

“Memangnya ada yang salah dengan itu. Orang-orang menjadi pintar bukan karena sebuah bimbingan, melainkan dari sebuah keinginan. Keinginan akan menuntun manusia untuk mendapatkan sesuatu yang sangat ingin dia miliki. Dan elemen yang diperlukan adalah usaha dan kerja keras. Tapi kalau manusia tak memiliki keinginan untuk menjadi pintar dan juga tak ingin berusaha dan bekerja keras, untuk apa mengajarinya. Usaha yang sia-sia untuk dilakukan.”

Perkataan Bagas mengejutkan Erina karena dia bisa berbicara lancar sekaligus menjelaskan apa yang ingin dia terangkan. Perkataannya juga tak sampai di situ saja dan dia melanjutkan.

“Sistem seperti itulah yang digunakan SMK Bidang Karya Bersahadja. Tak perlu memaksa murid untuk dicekoki oleh pelajaran yang tak ingin mereka serap. Biarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan untuk menjadi pintar. Sebab itulah sekolah menjadi top karena sistem pendidikannya yang berbeda.”

Sekarang Erina mengerti alasan kenapa Bagas bisa menjadi seperti ini. 

Dari penjelasan yang diterangkan oleh Bagas, dia bisa menangkap semuanya dan memvisualisasikan keadaan sekolah yang dia lihat setiap kali berkunjung. 

Dia mungkin sudah tahu keadaan sekolah yang memang bisa selalu sukses mendidik murid menjadi pintar setiap tahunnya. Namun setelah mengetahui semua itu, dia merasa sedikit sedih karena seseorang seperti Bagas bisa bebas tak berkomunikasi kepada teman-teman sekolahnya.

Akan tetapi apa yang bisa dia lakukan. Dia cuma seseorang yang telah seenaknya masuk ke dalam kehidupan Bagas, mengganggu kedamaiannya, serta menjadi masalah baginya di beberapa waktu yang lalu.

Tidak. Beberapa hal itu mungkin benar. Tapi juga salah. Dia memiliki alasan untuk melakukan semua ini. Dan dia tak bisa berhenti di saat seseorang yang istimewa baginya—yang membutuhkan pertolongannya—ada di hadapannya. 

Dia harus menjadi kuat. Teguh akan keadaan yang dia hadapi. Dia harus menjadi lebih agresif untuk menghadapi seseorang seperti Bagas. 

“Hei, apa aku boleh bertanya sesuatu?”

Karena itu, dia harus menjadi penyerang di sini.

“Apa kamu tak apa terus seperti ini?”