Episode 11 - Tiga Paket Istimewa



 “Kresna, pada tahapan Tumpuan Langkah Naga, pertama-tama kau harus melatih kekuatan ototmu terlebih dahulu,” ujar Guru.

 “Otot, ya? Aku memang tidak terlalu sering melatihnya. Tapi Guru, aku bisa menjamin bahwa hidupku sehat, tidak ada masalah dengan ototku!” balasku.

 “Bodoh! Ini bukan masalah kau sehat atau tidak. Namun ini masalah ketahanan fisikmu. Bagaimana pun, kekuatan fisikmu masihlah seperti bocah, maka dari itu jika kau belajar Tumpuan Langkah Naga tanpa persiapan, tubuhmu akan rusak.”

 “Oh, aku paham maksud Guru.” Aku mengangguk lemah.

 “Nah, jadi, Gurumu ini akan melakukan sihir Pemberatan Raga padamu. Saat sihir ini aktif, kau akan merasakan tubuhmu lebih berat,” Guru memberi penjelasan perlahan, “lalu, Gurumu ini punya tiga paket latihan pembentukan otot. Paket Lambat, Paket Sedang, dan Paket Cepat. Mau pilih yang mana?”

 Jadi, aku disuruh memilih, ya? Kalau ditinjau dari efisiensi waktu, maka seharusnya kupilih paket cepat. Namun, aku masih ragu. Apa diriku ini yang bahkan belum pernah berlatih bela diri akan bisa ‘cepat’ jika kupilih Paket Cepat? Baiklah, akan coba kutanyakan saja.

 “Guru, boleh aku tahu, seberapa banyak waktu yang akan dihabiskan untuk melatih otot dari masing-masing tiga paket itu?” 

 “Bodoh! Semuanya tergantung pada dirimu sendiri. Tidak ada kepastian seberapa lama atau seberapa cepat ototmu akan terbentuk. Sebenarnya, entah kau memilih paket mana, jika tubuhmu memang siap dilatih, maka waktu bukanlah masalah utama.”

 Begitu, ya? Kalau begitu, maka semakin cepat semakin baik, kan? Baiklah, sudah kuputuskan.

 “Kalau begitu, aku memilih Paket Cepat saja, Guru.”

 “Biayanya 100 keping emas!”

 Eh? Harus bayar? Memangnya ini paket makanan? Tidak, mana ada makanan semahal itu. Terlebih, 100 keping emas tak mungkin dimiliki anak kecil. Dan walau aku mengorek tabunganku di rumah, setengahnya pun tidak mendekati.

 “Gu-guru, Guru pasti bercanda, kan?” tanyaku bingung.

 “Bodoh! Kalau seorang murid bahkan tak mengetahui kapan waktu bercanda Gurunya, berarti dia bukan murid yang baik. Hahaha...”

 Eh, memangnya ada peraturan seperti itu? Lagi pula, aku bertanya karena setengah yakin bahwa Guru sedang bercanda. Berarti, seharusnya aku murid setengah baik.

 “Hehehe, terserah Guru lah!” balasku datar.

 Kemudian, Guru kembali pada muka seriusnya, “Kresna, akan kutanya lagi, apa kau yakin memilih paket cepat?”

 Kenapa harus ditanyakan lagi? Bukankah menurut Guru semuanya tergantung diriku. Jadi, seharusnya Paket Cepat adalah yang terbaik untuk memangkas waktu. Atau jangan-jangan...

 “Guru, jangan bilang aku bisa mati kalau memilih Paket Cepat?” 

 Aku bertanya serius, tetapi entah mengapa Guru memasukkan satu jarinya ke lubang hidung. Apa naga juga bisa mengupil? Hal ini membuat suasana serius tadi seolah hilang begitu saja.

 “Mati...? Tentu saja tidak mungkin! Selama aku ada di sampingmu, kematian adalah mustahil.” Guru berkata dengan santai. Ditambah, sepertinya Guru sudah menemukan buruannya, sebuah kotoran hidung. Gilanya, Guru malah memasukkan kotoran itu ke dalam mulut dan menelannya bulat-bulat. Apa perbuatan ini harus kuberi komentar? Tidak, Guru pasti akan marah.

 “Guru, aku yakin memilih Paket Cepat.” Dari pada memikirkan tingkah Guru, lebih baik kupercepat latihanku.

 Tiba-tiba, Guru menampakkan senyum licik yang memperlihatkan taring-taringnya. “Bagus, sebagai muridku, kau harus berani mengambil risiko!”

 Risiko? Bukannya aku akan aman-aman saja? Waduh, perasaanku tidak enak. 

 Sayangnya, sebelum aku bereaksi untuk bertanya atas kekhawatiran ini, sebuah lingkaran sihir sudah terbentuk di bawah kakiku. Hal ini jelas membuat perhatianku teralihkan. Dengan tempo sedang, lingkaran sihir itu semakin menyisir ke atas tubuhku. Sekarang berada di lutut, lalu naik ke perut, naik lagi ke dada. Setibanya di leher, Guru berucap, “Pemberatan Raga...”-lingkaran sihir sudah mencapai dahi-“... sepuluh kali!” lingkaran sihir menghilang begitu selesai melewati ubun-ubun, tetapi...

 Gubrak! Astaga, apa ini? Aku tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan tengkurap di lantai. Tidak, ini tidak sesederhana itu. Tubuhku seolah membawa beban seberat gunung. Ini pasti karena sihir Pemberatan Raga yang Guru bicarakan. Tapi... tapi bukankah ini terlalu berlebihan? Kalau tidak salah, sebelumnya Guru bilang ‘sepuluh kali’, kan? Apa ini berarti aku mengangkat sepuluh kali beban tubuhku yang asli?

 Aku tidak kuat. Bahkan untuk menggerakkan satu jari pun layaknya perjuangan hidup dan mati. Dadaku tertekan hebat, nafasku sesak, dan mungkin tulang rusukku ada yang patah. ‘Guru, aku menyerah!’ setidaknya kalimat itu ingin kuucapkan, tetapi, bahkan mulutku tertahan lantai. Gigiku menusuk bibir, dan tusukannya cukup dalam. 

 Gawat! Aku bisa tewas. Jika mulut tak bisa kugunakan, maka akan kucoba kontak mata pada Guru. “Ehmmm...” Aku menggeram kuat-kuat.

 Sungguh gila, bahkan menggerakkan otot mata pun terasa hampir mustahil. Namun, aku tak boleh menyerah. Dahiku mengerut hebat, kukerahkan semua tenaga yang tersisa untuk menggerakkan mata ke atas. Dan yang terjadi adalah... kekecewaan besar.

 Bagaimana tidak, di saat muridnya sedang sekarat menjelang ajal, sang Guru malah mengupil dengan santai. Apa dia adalah Guruku? Bukan, apa dia bahkan punya rasa manusiawi? Tunggu dulu, dia kan memang naga. Ah,... gawat, aku sudah lemas tak bertenaga. Kesadaranku mulai kabur. Tampaknya, dalam sepuluh hitungan aku akan pingsan. Satu, dua, tiga... ternyata aku sudah pingsan pada hitungan ketiga.

 Dua jam kemudian…

 “Ah…” gumamku lemah seraya membuka mata. Aku menatap langit-langit. Semuanya adalah batu. Tanganku meraba. Kasar. Yang pasti ini bukan kasur. Lalu, ada juga cairan lengket di tubuhku, namun aku tak tahu apa itu. Tunggu… tunggu dulu! Aku sudah pernah mengalami ini. Langit batu, lantai kasar, aura kehijauan, dan bahkan lendir di tubuhku, semuanya aku tahu. 

 “Bocah, kau sudah bangun?” sebuah suara mengagetkanku. Tidak, itu bukan sebuah suara, tapi suara Guru. Sudah cukup permaian seolah pengulangan ini!

 “Guru,…” ucapku masih terlentang lemas. Aku bisa melihat leher panjang Guru dari sini.

 “Apa?” Guru membalas, tapi…

Astaga, dia masih saja mengupil! Sudahlah, siapa yang peduli.

“Apa Guru membenciku sedemikian rupa hingga ingin membunuhku dengan sihir tadi?” tanyaku datar.

“Bodoh! Bicara apa kau ini? Untuk apa aku membunuhmu? Lihat dirimu, masih sehat dan segar bugar, seolah telah tereinkarnasi kembali.”

Hahaha, Guru tahu saja bahwa aku tadi seolah mengalami pengulangan hidup.

“Guru, apa kau penjaga neraka?”

“Kresna, apa otakmu terbentur?”

“Ah, tidak, lupakan saja! Entah kenapa aku ingin berkata seperti itu.”

Wajah kami mendatar. Keadaan hening sesaat.

Kemudian, Guru menetaskan keheningan, “Kresna, lebih baik kau lanjutkan lagi latihanmu!”

“Cukup sudah! Sekarang aku akan bertanya dengan benar, berapa kali berat tubuh yang harus aku tahan dalam masing-masing paket? Tidak, dua paket sisanya saja. Paket Lambat dan Paket Sedang.” Aku berdiri dan menatap Guru dengan serius.

“Mau tahu?”

“Iya!”

“Mau tahu saja atau mau tahu banget?”

Apa-apaan Guru ini? Apa dia sedang dalam mode ‘Guru Bercanda’? Kalau boleh kukatakan, dia menyebalkan. “Tidak jadi Guru, biar kutebak saja. Paket Lambat setara dua kali beban tubuhku, dan Paket Sedang setara lima kali beban tubuhku. Apa benar?”

“Wah, apa kau bisa membaca pikiran? Bagaimana bisa tebakanmu sangat tepat?”

Syukurlah, ternyata tebakan asalku tepat sasaran. Sekarang, giliran aku yang mengerjai. “Guru, jangan salah, ayahku pernah bilang bahwa leluhur kami adalah peramal hebat. Hahaha…”

“Tidak, kau pikir aku mudah dibodohi? Tadi kau hanya menebak asal, bukan?”

Mengerikan. Guru sungguh mengerikan. Bahkan dia tahu kebenarannya. Aku tak berani kurang ajar lagi. Aku pun bersujud dan meminta maaf, “Guru, muridmu ini sangat ceroboh!”

“Eh, kenapa tiba-tiba bersujud? Apa sihir tadi belum sepenuhnya hilang? Apa kepalamu masih terasa berat?” 

“Tidak, aku hanya merasa harus melakukan ini karena merasa bersalah. Mohon Guru memaafkan!”

“Terserahlah. Jadi, pertanyaanmu sudah terjawab, kan? Mari lanjutkan latihanmu!”

“Guru, aku ingin turun paket. Aku pilih Paket Lambat,” ujarku mantap.

“Hah? Paket Lambat itu membosankan. Kau tidak akan tersiksa.”

Apa aku tak salah dengar? Ternyata Guru hanya ingin menyiksaku. Tidak, dia pasti sedang dalam mode ‘Guru Bercanda’. Walau bagaimana pun, aku tak ingin mati cepat dengan Paket Cepat. “Karena Guru bilang begitu, aku semakin ingin memilih Paket Lambat!”

“Yah… mau bagaimana lagi kalau kau memaksa.”

Latihanku pun dilanjutkan. Paket Lambat hanya membuat tubuhku dua kali lebih berat. Namun, tetap saja, aku tak bisa banyak beraktivitas. Hari pertama sampai ketiga diriku berjalan bungkuk layaknya orang tua. Hari keempat Paman Key telah selesai bermeditasi. Menurutnya, dia sekarang berada pada kasta Prajurit tahap Platina awal. Tentu saja, aku juga memberitahunya bahwa Pernapasan Yin-Yang telah kukuasai. Dia cukup terlihat senang dengan kabar tersebut. Sayangnya, itu tak lama. Setelah Paman Key melihat aku berjalan aneh, sesekali dia malah menertawai. Sial, bukannya memotivasi malah membuatku geram.

Setelah satu minggu, aku terbiasa dengan bobot tubuhku. Jalanku mulai santai, dan aku bahkan bisa berlari kecil. Satu minggu berikutnya, aku benar-benar tak merasa ada kendala. Juga, bisa kulihat beberapa otot tubuhku, terutama bagian kaki, menonjol dengan gagah. Kemudian, Guru menyuruhku untuk melatih otot di bagian lain seperti otot perut, otot lengan, otot punggung, otot pantat, dan otot bahu. Dengan beberapa gerakan khusus, aku melatih mereka satu persatu.

Satu bulan telah berlalu, aku bukan hanya melatih otot saja, tetapi terkadang juga bermeditasi ringan. Begitu pula Paman Key, walau dia tak berani lagi menyentuh kolam air panas tanpa izin Guru, tetapi menurutnya bahkan tanpa kolam itu, kecepatan penyerapan chi di dalam gua ini berkali-kali lipat dari pada tempat biasa. Dia juga sudah berada pada pertengahan tahap Platinanya. Dan sekedar informasi, nama kolam air panas itu adalah Kolam Pemurnian Naga. 

Setelah satu bulan, aku bertanya pada Guru, “Guru, apakah latihan ototnya sudah selesai?”

“Selesai? Jangan bercanda! Bahkan aku tak bisa membedakan antara ototmu dan biji jagung.”

Kejam! Bahkan setelah semua yang kulakukan, ternyata ini masih kurang. Kemudian, aku memberanikan diri menambah paket menjadi Paket Sedang. Guru langsung setuju dan mengeluarkan sihir Pemberatan Raga. Hasilnya, aku lagi-lagi harus berjalan bungkuk. Diriku yang dulu mungkin akan langsung tengkurap tak berdaya karena menahan beban lima kali. Namun, diriku yang sekarang hanya merasakan beban lebih berat dua kali saja. Tidak, lebih tepatnya dua setengah kali. Meski begitu, ini berarti aku harus mengulang proses yang sama lagi dari awal. Apa aku boleh mengeluh?

Tiga bulan berlalu, aku sekarang bisa berjalan menggunakan tangan bahkan setelah beban tubuhku menjadi lima kali lipat. Terkadang, aku juga berlomba dengan Paman Key, siapa yang dapat mengangkat tubuhnya paling banyak dengan tangan. Sayangnya, aku selalu kalah. Tidak, mungkin sebenarnya aku menang. Coba bayangkan ini, Paman Key biasanya bisa mengangkat tubuhnya dengan tangan sampai hitungan lima ratus. Sedangkan, aku menyerah di hitungan dua ratus. Namun, itu karena bebanku lebih berat lima kali lipat, kan? Bagaimana jika tubuhku normal lagi? Apa hukum perkalian berlaku? Lima dikalikan dua ratus, sama dengan seribu. Paman Key, aku tak merasa kalah darimu! Hahaha!