Episode 10 - Teror Shiang Li (2)



Lalu, sekarang...

“Hiya! Hiya!” Para kuda kembali dipacu. Posisinya mirip seperti tadi, lima baris ke belakang. Hanya saja, kali ini Figo ada di urutan kedua.

“Master Figo, apa belum ada jebakan sihir yang aktif?” ahli yang baru naik kasta itu bertanya.

“Belum, aku juga heran. Tidak mungkin para pengejar tak ada yang terkena satu pun jebakan sihirku.”

“Hahaha, mungkin saja mereka takut dimakan Hewan Iblis. Jadi mereka tak berani memasuki Pegunungan Arsental.” Seorang lain menanggapi.

“Kau ini ada-ada saja, yang kita culik itu pangeran mereka. Apa Yuan akan sekejam itu menelantarkannya?”

Mendengar opini tersebut, Figo sebenarnya memiliki beberapa spekulasi. “Atau, mungkin saja mereka tidak mengirim banyak orang. Tetapi hanya beberapa ahli dengan kasta tinggi.”

“Tenang saja, walaupun kita bertemu kasta Paladin sekalipun, kalau kita bertarung dalam formasi, aku yakin akan baik-baik saja. Terlebih Yuan tidak memiliki banyak penyihir, jika ini pertarungan kelompok, aku yakin kita masih bisa menang.” Orang terdepan menanggapi.

Lalu, setelah merasa kelompok mereka cukup aman, orang paling belakang hendak memuji. Tetapi,...

“Hahaha, betul, kita adalah pembunuh bayaran terhebat. Hidup Alac—...”

“Slaassshhh!”

“Hiiiikkk!” Ringkikan kuda menegangkan suasana damai sebelumnya.

Seorang paling belakang telah tewas. Setengah kepalanya terpotong, mulai dari ubun-ubun hingga rahang atas. Mayatnya kini telah berguling di tanah dingin dengan darah menyembur hebat. Ditengah kegaduhan ini, sebuah sosok yang dibalut cahaya biru menatap tajam. Mata itu seolah bisa membelah baja tebal menjadi beberapa bagian. Itu adalah mata dari seorang ahli kasta Pahlawan, Shiang Li.

Sontak, keempat orang sisanya bersikap siaga. Segera setelah ringkikan kuda tadi, mereka semua melompat ke arah samping kanan dan membentuk sebuah formasi untuk bertempur. Penyihir Figo ada di paling belakang, dua kasta Prajurit di sayap kanan dan kiri, sementara ahli kasta Kesatria menjadi ujung tombak.

“Bajingan! Apa kau pengejar dari Yuan?” Ahli kasta Kesatrian itu mencela. Itu memang bukan pertanyaan yang butuh jawaban, terlepas dia orang Yuan atau bukan, orang ini telah membunuh salah satu rekan mereka.

Dan ternyata, Shiang Li memang tidak menjawab. Malahan, ia berjalan santai menuju mayat rekan mereka dan mengambil bagian kecil kepalanya yang terpotong. Melihat kesempatan menyerang, salah satu kasta Prajurit melemparkan dua buah pisau. Pisau melesat cepat dan hendak mengincar jantung juga kepala Shiang Li dari belakang.

“Tlang! Tlang!”

Semua penjahat terkejut. Walau pun pisau tadi juga telah dialiri chi, tetapi mampu di pentalkan hanya dengan pertahanan aura birunya. Jaraknya pun bersisa dua jengkal sebelum mencapai target. Satu-satunya jawaban yang bisa diterima adalah, orang ini merupakan ahli dengan kasta tinggi.

“Dia... dia, kastanya, Pa-pahlawan?” Pelempar pisau tadi terkejut. Walau pun secara umum ahli dengan kasta lebih rendah tak mampu memperkirakan kekuatan ahli yang lebih tinggi secara pasti, tetapi saat sudah mengeluarkan aura bertarung, mereka dapat mengetahuinya.

“Senior yang terhormat, apakah kami telah menyinggung Anda sehingga teman kami pantas dibunuh?” tanya Figo dari jarak aman. Bagaimana pun, walau kemungkinan besar orang di depan mereka berasal dari Yuan, tetapi karena ia seorang diri, bisa saja ia bukan pengejar. Dan bisa jadi, di sini hanya terjadi kesalah pahaman kecil. Terlebih, seorang ahli kasta Pahlawan setara dengan jenderal besar Yuan. Kalau pun sang jenderal benar-benar mengejar mereka, apakah mungkin Yuan akan membiarkan salah satu pilar kekuatannya pergi tanpa pengawalan? Dan jika pengawalnya ternyata sedang bersembunyi pun, tidak mungkin jebakan sihir yang Figo pasang tak ada yang aktif.

Namun, Shiang Li tetap diam. Ia kini sudah berdiri tepat di depan potongan kepala mayat tadi. Tangannya mengangkat potongan itu dengan menjambak rambutnya, lalu ia berbalik ke hadapan kelompok yang sedang siaga. Matanya masih menyorot tajam, memperhatikan setiap orang dan setiap detailnya. Orang-orang tersebut pun merasa ngeri, kendati mereka terbiasa dengan darah dan pembunuhan, bagaimana pun mereka tahu bahwa Shiang Li sedang mencoba mengintimidasi. Apalagi bagian otak dari potongan kepala itu sudah bergelantungan dan akan segera jatuh ke tanah.

“Aneh,...” sebuah suara dari Shiang Li akhirnya keluar, “bukankah kalian bersama seorang anak kecil?”

Mendegar pertanyaan itu, posisi siaga menjadi waspada. Tetapi tak seorang pun dari kelompok Alactrus berani bertindak gegabah. “Senior, kami tidak mengerti maksud Anda. Bisa Anda lihat, kami hanya lima orang yang sedang berpergian dan Senior telah membunuh salah satu dari kami. Tidak ada seorang anak kecil pun di sini. Mungkin senior salah mengira orang?” Figo kembali mengambil jalan damai.

“Salah orang? Lalu kenapa orang di depanmu mengira aku pengejar dari Yuan? Bukankah kalian telah menculik seorang bocah? Apa bajingan seperti kalian bahkan punya otak untuk berbohong?” Kemudian, sekejap setelah Shiang Li berkata, genggamannya pada potongan kepala semakin mengencang dan mengakumulasikan sejumlah energi. Potongan itu pun meledak dan berceceran di tanah. Sebagiannya juga mengotori pakaian Shiang Li.

Melihat kejadian itu, orang terdepan berseru, “Master Figo!” Sebuah isyarat diberikan. Keempatnya paham apa yang harus dilakukan, bertarung.

Figo, di sisi lain, bersiap merapal mantra. “Wahai Langit Yang Agung, biarkanlah kami menjadi saksi kemuliaan-Mu, Penghubung Jiwa!” serunya, seraya mengarahkan tongkat kristal sihirnya ke arah tiga rekannya. Masing-masing dari mereka mengeluarkan aura khusus yang seragam. Berkat sihir Penghubung Jiwa, kini mereka adalah satu kesatuan.

“Hahaha, walau pun kau kasta Pahlawan, jangan pikir mudah untuk mengalahkan kami!” ujung tombak mereka tampak percaya diri. Ia adalah pemegang pedang besar. Dilihat dari postur tubuh dan senjata, tampaknya orang ini adalah petarung yang berfokus pada kekuatan.

Sementara itu sayap kiri mereka kemungkinan besar adalah petarung yang mengandalkan kecepatan. Ia ahli menggunakan pedang dua tangan. Namun, bahkan kedua pedang itu tak lebih panjang dari tangan anak kecil. Lalu, sayap kanan mereka adalah petarung ideal dengan pedang sedang selebar tiga jari dan panjang yang proporsional. Ada pula Figo sebagai pendukung kelompok, bisa dikatakan formasi tempur yang mereka miliki cukup tangguh.

“Jadi begitu, kalian merasa percaya diri karena menggunakan sihir Penghubung Jiwa? Baiklah, akan kuberi sedikit keringanan. Satu jari,...” Shiang Li mengacungkan telunjuk kanannya, “jika kalian bisa memaksaku menggunakan lebih dari satu jari ini, maka nyawa kalian akan kuampuni.”

“Cih, berlagak sombong!” 

Walaupun yang disebut Shiang Li adalah keringanan, tetapi jelas itu adalah intimidasi terselubung. Setiap orang dalam kelompok jelas merasa sedikit bimbang. Tak ada yang menyangka bahwa lawan mereka malah menganggap remeh formasi tempur yang ideal ini.

Figo pun berpikir, “lawan kami adalah kasta Pahlawan. Tetapi karena sihirku, seharusnya setiap orang seperti memiliki kekuatan dua kasta Prajurit, satu kasta Kesatria, dan seorang penyihir kasta Spellcaster. Terlebih, aku masih bisa menggunakan berbagai sihir pendukung lainnya, tetapi kalau aku diserang dulu.... cih, kalau saja kami lengkap lima orang, maka aku masih akan yakin.” Figo bimbang. Kendati mereka menang kuantitas, tetapi secara kualitas mereka lemah. Jika saja rekan mereka tidak terbunuh, setidaknya masih ada yang bisa melindungi Figo di garis belakang sembari ia memberikan berbagai sihir pendukung. Sekarang, sang penyihir harus melindungi dirinya sendiri jikalau musuh berniat membunuhnya terlebih dahulu.

“Senior, kuharap Senior bisa menjaga kata-katanya,” ungkap Figo, mencari celah.

“Penyihir, apa kau takut bahwa kau akan mati pertama?” balas Shiang Li.

Cetas! Pertanyaan ini bagaikan jarum yang menusuk pikiran seluruh kelompok. Bagaimana pun, inti dari formasi tempur mereka adalah Figo, jika Figo mati duluan, maka tak ada caranya mereka dapat menggores Shiang Li bahkan untuk secuil pun. Semua orang mengungkapkan ekspresi khawatir pada wajah mereka.

“Tenang penyihir, kau akan kubunuh paling akhir. Jika aku mengingkarinya, maka sisanya tak akan kubunuh.”

“Sebaiknya kau tidak meyesalinya!” pemegang pedang besar itu melesat maju. Ia ayunkan pedang dari punggung ke arah depan dengan menggenggamnya menggunakan dua tangan. Sebelum benar-benar menyentuh area pertahanan Shiang Li, Figo kembali merapal mantra.

“Wahai Langit Yang Agung, berilah hamba kekuatan, Penguatan Fisik!” Sihir ini diarahkan pada pemegang pedang besar. Lalu,...

Jedassss! Sebuah ledakan aura besar terjadi. Pedang besar membentur dinding tenaga dalam Shiang Li, dan mungkin saja dapat melukai kepalanya. Senyum puas pun tersimpul dari penyerang. Tetapi, sesaat setelah pancaran aura tersebut menenang dan ia hampir kehilangan keseimbangannya di udara, ia pun tersadar, ternyata pedangnya masih berjarak satu jengkal dari dahi Shiang Li. Matanya yang terkejut tak bisa percaya, keringat dingin mulai muncul. Padahal, jika diukur dengan benar, serangan ini adalah gabungan kekuatan seluruh kelompok ditambah dengan sihir Penguatan Fisik yang bisa menambah daya serang menjadi dua kalinya. Belum lagi efek tambahan dari berat pedang dan gravitasi. Bahkan setelah itu semua, menembus dinding tenaga dalam seorang ahli kasta Pahlawan ternyata masih jauh dari harapan.

“Lemah,” gumam Shiang Li. Ia langsung mengayunkan telunjuknya seperti pedang. Ayunan itu menghasilkan angin super kuat yang menghantam pedang besar dan mementalkan tubuh penggunanya menjauh.

Di sisi lain, melihat rekannya yang tidak diuntungkan, Figo malah tersenyum samar, “kena kau!” gumamnya dalam batin.

Wuuush!

Ternyata, petarung tipe kecapatan di kelompok ini sudah berada tepat di belakang Shiang Li. Dengan memanfaatkan sihir Penyembunyi Aura dari Figo dan kecepatan langkah miliknya, petarung ini seolah diuntungkan. Buktinya, ia bisa menyelinap menuju titik buta kasta Pahlawan tanpa ketahuan. Dan kini, dengan kekuatan seluruh kelompok yang difokuskan padanya, petarung ini mencoba mengincar tengkuk leher Shiang Li. Atau awalnya memang begitu...

“Mati kau!”

Tang! Terhenti. Serangan yang sudah sangat apik dan matang masih dapat dihentikan oleh Dinding Aura musuhnya. Memang, saat serangan dari petarung pertama terjadi, Shiang Li memfokuskan tenaga dalamnya ke arah depan, tetapi, itu bukan berarti bagian belakangnya terbuka lebar tanpa perlindungan. Bahkan jika itu hanya lima persen dari kekuatan Dinding Auranya, serangan kedua dari petarung tipe kecepatan ini hanya bisa mendekati tengkuk lehernya sejarak satu kuku. Nyaris melukai, tetapi sayang sekali, perbedaan kasta tetap menjadi momok menakutkan.

Namun, gempuran belum berhenti. Petarung ideal dalam kelompok mereka mengambil keputusan sendiri. Melihat rekannya dalam kebuntuan, ia cepat maju untuk menusukkan pedangnya ke arah tenggorokkan Shiang Li. Penyihir pun tanggap dan membagi kekuatan kelompok untuk dua orang. Sayang, tetap saja, walaupun digempur dari depan dan belakang, Shiang Li tak bergeming. Musuhnya menggunakan seluruh tenaga dalam mereka, tetapi bahkan Dinding Auranya tak tertembus. Kini pertarungan menjadi adu tenaga dalam. Siapa yang salah langkah atau siapa yang tidak tepat waktu melepas proses tarik menarik energi ini, akan terkena luka dalam yang parah dan mengakibatkan kematian. Tentu saja, Shiang Li bahkan tidak menggunakan sepuluh persen dari seluruh tenaga dalamnya.

Lalu, di sisi lain, petarung dengan pedang besar yang baru sadar akibat serangan sebelumnya berseru pada Figo. “Master Figo, fokuskan seluruh kekuatan kelompok padaku! Akan kugunakan Perwujudan Chi!”

“Apa kau bercanda? Kalau kufokuskan padamu, mereka akan mati!”

“FIGO, APA KAU BODOH? MEREKA TIDAK MUNGKIN MENANG! CEPAT, ATAU KITA TIDAK AKAN SEMPAT!” Kali ini, bahkan petarung pedang besar itu membentak Figo. 

Mendegar rekannya yang mempunyai ide gila, petarung ideal pun mencela. “Bangsat kau! Figo, jangan dengarkan dia! Tidak mungkin dia bisa menggunakan teknik itu!”

Lalu, temannya si petarung cepat juga meladeni percakapan ini, “Figo, kalau kau berani menarik tenaga dalam kami padanya! Aku akan menghantuimu seumur hidup!”

Tentu saja, hal ini membuat Figo bimbang. Bagaimana pun, ia tahu Shiang Li bahkan belum serius dalam beradu tenaga dalam. Walau kekuatan yang difokuskan pada dua orang rekannya yang sedang menyerang tidak dipindahkan, tetap saja Figo yakin mereka akan kalah. Di sisi lain, jika dia memindahkan seuruh kekuatan kelompok pada pemegang pedang besar, masih ada kesempatan menang menggunakan teknik Perwujudan Chi. Namun, rekannya itu baru saja menembus kasta Kesatria, tidak mungkin juga rasanya dia menguasai Perwujudan Chi secepat itu. Entah Figo akan memihak siapa, kedua pilihan yang ada membuahkan harapan kosong.

Melihat tingkah kelompok ini, Shiang Li angkat bicara, “hahahaha! Konyol sekali! Para kecoak saling berubut makanan. Hahaha, inilah yang ingin aku lihat dari kalian. Perseteruan. Keputus asaan. Hilang harapan. Menghibur! Sangat menghibur!”

Shiang Li, di tengah pertempuran ini, dia bukan hanya tak bergeming, tetapi bahkan mengejek lawannya hingga mereka frustasi. Bagaimana pun, sepertinya Shiang Li tak ingin membunuh mereka dengan mudah. Sepertinya Shiang Li mengharapkan kematian yang paling membuat lawannya menyesal bahwa pernah dilahirkan ke dunia ini.

“Jadi penyihir, apa keputusanmu?” Shiang Li menatap Figo dingin. Walau jarak mereka cukup jauh, tatapan itu terasa menusuk tulangnya.

“Figo!” teriak pemegang pedang besar.

“Figo!” teriak petarung ideal.

“Figo!” teriak petarung pemegang pedang ganda pendek.

Kemudian, Figo pun menentukan pilihannya. “Ja-jangan salahkan aku! KALIAN SEMUA YANG MEMAKSAKU!”

Dengan cepat, energi dari dua penyerang Shiang Li di arahkan pada pemegang pedang besar. Hasilnya...

Duaaakkkk! Ledakan tenaga dalam pun terjadi. Kedua orang yang tadi menyerang terpetal jauh. Kekuatan ledakan ini layaknya banjir besar dari bendungan yang hancur. Mereka berdua muntah darah di udara. Mata mereka redup, seolah cahaya kehidupannya telah direnggut paksa.

“Master Figo, keputusan bagus. Aku tak akan mengecewakanmu!” ucap pemegang pedang besar.

Lalu, dia mengambil sebuah kuda-kuda, mengarahkan pedang besarnya itu di sisi kanan tubuh. Nafasnya panjang, udara memenuhi seluruh dadanya. Bukan hanya itu, seluruh chi di sekitar seolah terkumpul menuju dirinya. Auranya kian menguat dan terus bertambah.

“Tanduk Banteng Pengamuk!” serunya lantang. Pedangnya ia ayunkan ke tanah, membuat tanah retak akibat energi yang kuat. Energi itu mengarah menuju tempat Shiang Li berdiri. Bukan hanya itu, di samping retakan tanah yang terus mengikuti arus energi, energi itu juga memiliki suatu wujud samar. Yah, wujud kepala banteng yang seolah siap menghancurkan segala rintangan di depan.

Duaaakkk! Ledakan yang bahkan lebih besar bekali-kali lipat dari sebelumnya pun terjadi. Untuk orang normal, seluruh tubuhnya pasti akan hancur berkeping-keping akibat ledakan. Inilah kehebatan teknik yang hanya bisa dikuasai jika seorang praktisi bela diri sudah berada pada kasta Kesatria. Inilah teknik Perwujudan Chi.

“Hahahah, rasakan itu!” tawa puas di arahkan pada kepulan asap di mana Shiang Li sempat berdiri. Dia memang tertawa puas, tetapi bukan berarti dia gegabah. Alasan satu-satunya mengapa sikap arogannya muncul adalah karena ia sudah menyelidiki menggunakan Persepsi Indrawinya bahwa aura Shiang Li menghilang.

“Bagaimana Master Figo? Aku tidak mengecewakanmu, kan?” dirinya berbalik ke arah Figo. Figo pun hanya menunjukkan senyum kecut karena perasaannya yang bercampur aduk. Perasaan bersalah karena mengkhianati teman, perasaan takut karena kekuatan Shiang Li, juga perasaan lega akibat kemenangan. Namun tiba-tiba, wajah Figo kembali ketakutan. Sesosok siluet muncul dari kepulan asap.

“Kenapa wajahmu seperti itu?” Tentu, pemegang pedang besar terheran, tetapi ia tak langsung menyadari bahaya yang datang. Ia tak tahu tentang kehebatan Shiang Li dalam menyembunyikan aura. Sebetulnya, Shiang Li tak perlu repot-repot melakukan itu untuk menghadapi para semut, tetapi dirinya seperti mengharapkan hal ini terjadi.

“AWAS!”

“Eh—“ sesaat sebelum ia mengerti maksud ketakutan Figo, sayatan angin menembus lehernya dari belakang. Dengan tatapan terkejut dan mata terbelalak, kepala orang ini jatuh bebas menuju tanah. Sosok terakhir yang ia lihat sebelum ajal menjemput adalah Figo yang gemetar ketakutan serta langit dan bumi yang seolah terbalik.

Potongan kepala menggelinding. Ekspresi kematian yang rumit digambarkan terpampang dari raut muka sang mayat. Namun bisa disimpulkan, dia mati dalam penyesalan mendalam. Sesaat setelah itu, leher dari tubuh yang sudah tanpa kepala pun memuncratkan darah segar sebelum akhirnya ambruk juga.

Figo yang menyaksikan kematian teman-temannya hanya bisa semakin ketakutan. Jika diizinkan, dia bahkan tak segan-segan kencing di celana sekarang. Sayangnya, bahkan rasa itu dikalahkan oleh sosok mencekam Shiang Li yang perlahan berjalan keluar dari kepulan asap. Figo pun mundur perlahan.

“Ja-jangan! Jangan bunuh aku! Kumohon!” Figo mengemis untuk nyawanya. Juga, ia hendak berbalik dan kabur. Namun sebelum aksi itu terjadi, Shiang Li melesat cepat dan menusuk sebuah titik akupuntur di sekitar uluh hati Figo menggunakan telunjuknya. Hasilnya, Figo terhenti dan benar-benar mematung, tetapi ia masih hidup...

“Penyihir, kau ingin aku mengampuni nyawamu?” tanya Shiang Li dingin.

Figo, dengan mukanya yang sangat rumit dijelaskan, serta cucuran keringat yang mengalir deras, hanya bisa menjawab lirih, “i-iya.”

“Kalau begitu, gunakan sihir yang bisa mengirim pesan pada bosmu yang isinya begini...” Shiang Li membisikkan isi pesan yang dimaksud. Semakin lama Figo mendengarnya, semakin wajahnya terlihat jelek, dan semakin rasa putus asanya menjadi-jadi.

“Mengerti?” Shiang Li selesai membisikkan.

“Se-senior, Anda menotokku, bagaimana aku bisa yakin bahwa Anda akan mengampuni nyawaku setelah saya mengirim pesan?” Ia bertanya dalam ketakutan.

“Lalu, kau ingin bagaimana?”

“Se-senior, lepaskan totokanku dahulu. Lalu biarkan saya kabur beberapa jam, barulah saya akan mengirim pesan itu.”

“Apa kau punya rasa malu?” tanya Shiang Li dengan santai. Hal ini malah membuat Figo mati kutu. Ia merasa permintaannya tadi adalah kesalahan fatal. Namun, Shiang Li kembali memberi keringanan, “bagaimana kalau begini, aku, Shiang Li, berjanji dengan surga sebagai saksi, bahwa aku tidak akan menyentuhmu secuil pun setelah kau mengirim pesannya?”

“A-apa Senior bersungguh-sungguh?” tanya Figo ragu.

“Jadi, kau lebih memilih mati sekarang?”

“Ti-tidak. Baiklah, akan saya kirim pesannya, tapi, senior menjauh sedikit...”

“Bukan masalah!” Shiang Li pun mengambil jarak sekitar lima langkah darinya.

Kendati Figo ragu bahwa Shiang Li akan menepati janjinya, sayangnya ia tak punya pilihan. Juga, sekalipun Shiang Li menepati janjinya, itu berarti dirinya akan ditinggalkan di tempat berbahaya dalam keadaan mematung. Totokan Shiang Li benar-benar membuatnya sulit bergerak. Namun, sejauh pengetahuan Figo, totokan tidak akan bertahan lama. Meski dirinya tak tahu pasti titik apa yang ditotok, tetapi batas waktu tetaplah ada. Bisa dibilang, jika Shiang Li menepati janjinya, maka harapan Figo selamat masih ada.

Perbedaan petarung dan penyihir adalah tempat mereka menyimpan seluruh energi. Seorang petarung menyimpan seluruh chi dalam Dan Tian. Sedangkan penyihir menyimpan energinya dalam suatu Tanda Sihir yang melekat di tubuh mereka. Maka dari itu, walau Figo terkena totokan di salah satu meridiannya, dia tetap bisa menggunakan sihir.

Figo pun merapal mantra. Itu adalah sihir pengirim pesan yang bisa melakukan komunikasi jarak jauh, bahkan kepada seseorang yang berada di ujung dunia sekalipun. Asalkan, ia sudah kenal pasti siapa sang penerima. Kelebihan lainnya adalah, pesan yang disampaikan cukup dipikirkan saja, barulah saat target penerima ditemukan, pesan itu juga akan masuk ke dalam pikiran penerima secara instan. Dan juga, walau pengguna sihir tewas, asalkan sihir sudah diluncurkan, pesan tetap akan terkirim. Namun, meski sudah diluncurkan, sihir ini tetap bisa digagalkan melalui sebuah campur tangan energi dari luar.

“...Hantu Kelelawar!” seru Figo setelah mantranya selesai. Sebuah bentuk menyerupai kelelawar hitam muncul di tangannya sebelum akhirnya terbang menjauh. “Se-senior, saya sudah selesai mengirim pesannya.”

“Bagus, sesuai janjiku, aku tidak akan menyentuhmu secuil pun.”

“Te-terima kasih banyak Senior mau mengampuni saya!”

“Penyihir, apa kau tahu kenapa aku tidak membunuhmu?”

Deg! Jantung Figo berdebar kencang, “Se-senior... jangan bilang...”

Shiang Li tersenyum sinis, “aku tak membunuhmu karena kau sudah mati! Yang aku totok adalah salah satu titik kematianmu.”

“Ka-kau...” gumam Figo. Kakinya mulai lemas, ia tertunduk dengan meremas jantungnya. Darah keluar dari mulut, hidung, kedua mata, dan kedua telinganya secara perlahan. Seluruh meridiannya kacau karena suatu energi besar masuk dan mengoyaknya. Kemungkinan, sebelum Figo selesai mengirim pesan, Shiang Li berkonsentrasi agar tenaga dalam yang ia masukkan ke tubuh Figo terkumpul dalam titik yang yang ia totok. Barulah setelah Figo selesai melakukan tugasnya, Shiang Li membiarkan energi yang ia kirim mengamuk dari dalam. 

Akhirnya, Figo pun tumbang. Ia menyusul empat temannya yang sudah lebih dahulu menuju alam lain. Namun, seolah tanpa iba, Shiang Li meninggalkan sekelompok mayat yang tergeletak dan pergi mengikuti kelelawar sihir tersebut. Inilah Shiang Li, seorang ayah yang diselimuti rasa dendam untuk membunuh seluruh bajingan penculik anaknya.