Episode 9 - Teror Shiang Li (1)



“Hiya! Hiya! Hiya!” Kusir tua terus memberikan cambukan pada kuda. Ia tahu, jika ia mengeluh bahkan untuk setitik saja, mungkin majikannya yang sedang marah besar akan menghabisinya. Sayangnya, ia tak tahu penyebab kemarahan itu. Ya, Shiang Li tak memberi tahu bahwa Kresna telah diculik. Padahal, selama ini Shiang Li adalah majikan yang cukup baik. Walau tak banyak berinteraksi dengan orang biasa, setidaknya dia bukanlah tipe bangsawan arogan. Hanya saja, tiga hari belakangan, tatapan Shiang Li begitu mengerikan. Selain takut, kusir tua ini juga prihatin, tetapi tak berani dia bertanya. Mereka bahkan hanya berhenti untuk sekadar makan. Tidur pun hanya dilakukan selama dua jam sehari. Bukan karena Shiang Li mengantuk, tetapi karena ia tahu kusirnya butuh istirahat. 

 Sebenarnya, jarak antara istana kerajaan dengan perbatasan barat tidaklah terlalu jauh. Ini dikarenakan Ibu Kota Kerajaan Yuan, Chengxi, berada di provinsi paling barat kedua. Gagasan pemindahan ibu kota ke daerah lebih aman sebenarnya sudah dicetuskan sejak lama, tetapi karena berbagai pertimbangan seperti faktor iklim dan ekonomi, maka realisasi belum dilakukan. Namun, sejak kejadian penculikan Kresna, mungkin para politikus akan berpikir ulang tentang keamanan istana.

Diukur dari istana, jika seseorang menggunakan kereta kuda dengan kecepatan normal, maka dalam lima hari dia sudah akan sampai di perbatasan barat. Jika kereta kuda tersebut dipacu lebih cepat tanpa jeda, maka durasinya menjadi tiga hari. Lain halnya dengan kuda tunggal, jika seseorang menungganginya secara wajar, maka dalam tiga setengah hari barulah akan sampai. Namun, jika kuda tersebut dipacu tanpa henti sepanjang perjalanan, maka dalam satu hari pun bisa sampai. Hal inilah yang membuat Shiang Li yakin bahwa kelompok penculik anaknya sudah melewati perbatasan. 

“Tuan Li, kita sudah sampai di gerbang perbatasan.” Kereta kuda mulai diperlambat. Terlihat beberapa prajurit menghampiri mereka dengan wajah curiga.

“Kusir Wan, kau kembali saja. Mulai dari sini, aku akan pergi sendiri.” Shiang Li segera turun dengan hanya membawa pedang dan sebuah lencana.

“Berhenti! Katakan siapa kau dan mau apa ke sini?” celetuk salah seorang prajurit.

Tanpa basa-basi, Shiang Li segera menunjukkan lencana yang ia bawa. “Biarkan aku lewat!” tegasnya dingin.

“Le-lencana Emas Kekaisaran?” Para prajurit pun tersentak dan langsung bersujud sembah. Normalnya, pejabat kelas tiga seperti Shiang Li tetap memerlukan proses tertentu agar dapat keluar perbatasan. Apalagi Jenderal Ye memerintahkan perbatasan barat dalam kondisi siaga. Namun, berkat lencana yang diberikan Kaisar Yen Jian secara langsung, dirinya menjadi tamu penting yang harus dihormati.

Tanpa memedulikan orang-orang yang bersujud, Shiang Li melangkah menuju gerbang. “Kau...,” ia menyeru pada seorang prajurit.

“Ha-hamba, Tuan?” tanyanya menatap dari bawah.

“Iya. Apa boleh kupinjam kuda itu?” Shiang Li menunjuk kuda yang sedang diikat dan menyantap rerumputan.

Prajurit itu melirik, setelah yakin ia menjawab, “tentu saja, Tuan boleh memakainya sesuka hati.”

“Baguslah!” Shiang Li langsung melompat jauh, jaraknya belasan dacksal. Lompatan tersebut diakhiri dengan menunggangi punggung kuda. Karena ilmu meringankan tubuhnya sangat hebat, kuda tersebut bahkan tak berontak. Lalu, dengan hanya menggunakan telunjuk, ia seolah mengeluarkan angin dan memotong tambang yang membelenggu kuda begitu mudah. Hal ini membuat pedangnya terkesan tak berarti. Dengan sigap, ia tarik tali pelana kuda dan barulah kuda itu meringkik. Mulutnya berdecak, mengatur irama gerakan kuda. Setelah cukup yakin, kuda pun langsung dipecut agar melesat cepat.


Satu minggu setelahnya...

Sudah satu minggu Shiang Li melakukan perjalanan. Ia tengah menyusuri rute yang dinamakan Jalur Sutra Tengah, salah satu dari tiga rute utama yang menghubungkan negeri timur dan negeri barat. Dari tiga rute yang ada, selain terkenal sebagai yang tercepat, rute ini merupakan yang paling mematikan. 

Kenapa? 

Pertama adalah faktor iklim. Untuk dapat melalui rute ini, maka seseorang harus sanggup menahan dinginnya hawa Pegunungan Arsental yang bisa membekukan tulang. Kedua, ancaman Hewan Iblis. Memang, jalur yang dilewati para pengembara adalah bagian bawah pegunungan, tetapi jika sedang sial, terkadang Hewan Iblis kasta Bintang dapat turun gunung tanpa sebuah peringatan. Dan jika naik sampai ke puncak, bukan hal mustahil untuk menemukan Hewan Iblis kasta Semesta atau pun Surgawi. 

Selanjutnya adalah medan perang. Ya, Jalur Sutra Tengah adalah daerah medan perang ideal yang menghubungkan langsung empat negeri, Yuan, Bizantum, Oostmani, dan Wanggadha. Dalam lima ratus tahun terakhir, keempat negara pernah beperang di sini, dan peperangan itu adalah yang terparah sepanjang masa tersebut. Kendati demikian, hanya orang konyol yang mau mengobarkan perang besar lagi di tempat ini. Alasannya sederhana, banyak faktor hambatan yang membuat alur peperangan tak menentu, seperti tadi yang disebutkan, iklim dan Hewan Iblis. Walaupun dalam catatan sejarah peperangan sebelumnya dimenangkan oleh Imperium Bizantum, tetapi kerugian yang mereka terima hampir sama dengan pihak yang kalah. Maka dari itu, perang konyol tadi dinamakan War of Gambling, atau jika diartikan Perang Perjudian.

Yah, dari semua itu, selama seratus tahun terakhir tak banyak tragedi besar yang terjadi di Jalur Sutra Tengah. Dan juga, umumnya hanya para ahli setara dengan kasta Paladin yang berani memasuki Pegunungan Arsental seorang diri. Begitu pula Shiang Li, tingkatannya dalam bela diri ada pada kasta Pahlawan tahap Emas. Jikalau ada seratus Hewan Iblis kasta Bintang yang turun pun, ia masih bisa menghadapinya tanpa berkeringat. Sayangnya, masalah yang tengah dihadapinya sekarang bukan Hewan Iblis. Ia kebingungan. Kelompok Alactrus sangat cerdik untuk mengecoh pengejar. Pada sebuah persimpangan jalan yang terbagi tiga, jejak kuda yang ia ikuti juga terbagi. Entah ini sebuah tipuan licik atau memang kelompok mereka yang berpencar.

Padahal, Shiang Li sudah berhasil memangkas jarak menjadi setengah hari. Jika ia terkecoh dengan tipuan ini, jarak akan kembali melebar. Shiang Li pun turun dari kudanya. Ia berdiri mematung dan mencoba berkonsentrasi dengan memejamkan mata. Yang akan ia lakukan adalah teknik Persepsi Indrawi. Itu adalah teknik untuk merasakan aura chi seseorang. Karena ia sudah hafal gelombang aura anaknya, maka ia pikir bisa mudah mencarinya. Namun, tentu saja walau ia berada pada tingkatan Pahlawan, Persepsi Indrawinya bukanlah Maha Hebat. Paling banter, ia bisa melacak daerah seluas satu kota.

Ia pun memulai. Indranya tersebar secara merata ke setiap sudut. Ia rasakan berbagai energi, terutama dari Hewan Iblis. Kasta Meteorit, ... Bintang,... tidak, bahkan sampai ada kasta Langit yang terdeteksi, sayangnya belum ditemukan aura manusia. Indranya terus melebar, hingga akhirnya ia menemukan sebuah petunjuk. 

“Aura panas?” Ia terheran dengan sedikit menggerakkan kepalanya, matanya masih terpejam. “Tidak, ini bukanlah aura manusia,... sebuah api? Sepertinya para Bajingan itu baru saja beristirahat.”

Belum selesai keterkejutannya, ia menemukan aura lain. “Hah? Dua orang mengikutiku? Kasta Paladin tahap perak dan perunggu, ya? Apa mereka kiriman Ye Qin? Sepertinya begitu...” 

Aura pertama yang Shiang Li rasakan adalah sebuah bekas pembakaran. Karena tidak lama ditinggalkan, arang kayunya masih menyala. Lalu, aura kedua yang ia rasakan adalah dua orang ajudan yang dikirim Jenderal Ye Qin atas perintah Pangeran Yen Hwang. Tanpa memedulikan dua pengejar, Shiang Li memutuskan untuk meninggalkan kudanya dan mengejar kelompok Alactrus dengan kekuatannya.

“Wuuushh!”

Dalam sekejap mata, sejumlah aura kebiruan menyelimuti tubuh Shiang Li. Hawa dingin pengunugan bahkan terasa memudar. Kemudian, kakinya bergerak mengambil ancang-ancang, dan...

“Dashh!”

“Dashh!”

“Dashh!”

Shiang Li melompat begitu cepat. Orang awam mungkin akan mengira bahwa dirinya adalah komet yang melompat-lompat, setidaknya itulah kesan yang pantas untuk menggambarkan kecepatannya. Namun, betapa hebat pun Shiang Li, dia hanya bisa mempertahankan kecepatan ini kurang dari enam jam. Setelah itu, dia harus beristirahat memulihkan tenaga dalam. Akan tetapi, dalam kecepatan ini, sekitar setengah jam saja, maka dirinya bisa mencapai kelompok Alactrus yang berhasil ia lacak.


Sebelumnya...

Lima orang sedang berkuda dengan kecepatan tinggi. Pakaian mereka hitam. Ada yang menyarungkan pedang di pinggang, ada pula yang menyarungkannya di punggung, dan ada pula yang menggenggam semacam tongkat sihir. Masing-masing dari mereka adalah ahli kasta Prajurit, kecuali satu orang yang merupakan penyihir kasta Spellcaster. Yang paling tinggi untuk kasta Prajurit ada pada tahap Platina. Selangkah lagi sebelum ia menembus kasta Kesatria. Dan semuanya adalah orang-orang Alactrus.

Sekitar dua jam sebelumnya, bos mereka memerintahkan untuk berpencar menjadi tiga kelompok untuk mengecoh para pengejar. Dari tiga kelompok itu, lima orang pergi ke jalur kiri, enam orang ke jalur tengah, dan sisanya sekitar selusin orang ke jalur kanan. Yang di kanan adalah kawanan utama, dipimpin langsung oleh bos mereka sendiri dan dengan membawa budak berpakaian pangeran. Yang di tengah adalah kelompok pengecoh, dipimpin oleh ahli kasta Kesatria, dan merupakan tangan kanan andalan si bos, Lein. Lalu, yang terakhir adalah kelompok ini...

“Hei, apa kau pikir bos sangat pandai bisa mengganti pangeran yang hilang dengan seorang budak?” tanya seseorang di urutan ketiga dari lima baris kuda.

“Menurutku, bos itu hanya beruntung. Kebetulan saja kita bertemu pelelang budak dalam perjalanan. Coba semisal kita tidak bertemu, yang menunggu hanya kematian. Tapi yang tidak kuhabis pikir, ternyata ada orang dengan wajah sangat mirip di dunia ini,” balas seseorang di urutan kedua. Sementara temannya hanya mengangguk dan terkagum. Ia juga tak terbesit ingin membahas masalah itu lebih lanjut. Yang penting mereka selamat dari hukuman organisasi, pikirnya.

Selang beberapa saat, tiba-tiba pemimpin terdepan berseru. Ia melihat seekor kelinci menyeberang jalan dengan gesit. “Sepertinya bukan hanya bos yang sedang beruntung!” teriaknya menengok ke arah teman-temannya.

Mereka awalnya bingung tentang maksud dari ‘beruntung’, tetapi setelah melihat kelinci yang menyeberang, mereka paham maksudnya.

“Syut!” Sebuah pisau kecil dilemparkan ke arah kelinci. Walau kelinci itu sudah berlari cepat, tetap saja terjangan pisau mengenainya. Alhasil, badan kelinci tertembus dan hidupnya pun berakhir.


Kemudian...

“Hei, apa kalian yakin akan membakar Kelinci Earbow di sini?” ujar salah seorang yang sedang duduk di depan perapian. Matanya memantulkan sinar yang dikeluarkan api.

“Kau ini baru bertanya sekarang, kita sudah terlanjur membakarnya!”

“Tidak, aku hanya takut para pengejar dari Yuan akan datang selagi kita bersantai.”

Mendengar itu, seorang penyihir dalam kawanan berkata, “tenang saja, selama perjalanan, aku sudah memasang beberapa jebakan sihir. Setidaknya itu bisa menghambat mereka. Namun, belum ada satu pun jebakan sihir yang aktif, itu berarti mereka masih jauh dari kita.”

“Huh, syukurlah kalau Master Figo berkata demikian.”

“Hei, aku belum sehebat itu untuk digelari Master.”

Kemudian, seorang kasta Prajurit teratas yang merupakan pembunuh kelinci itu kembali ikut dalam percakapan. “Hahaha, Master Figo tidak perlu merendah. Setelah kita menyantap Kelinci Earbow, bukan hal mustahil kekuatan kita akan melonjak drastis. Aku tinggal selangkah lagi menembus kasta Kesatria, kuharap ini bisa menjadi terobosan untuk pelatihanku. Dan mungkin, aku bisa menjadi orang paling penting keempat di cabang kita. Tentunya setelah Bos, Lein, dan Master Figo, hahahah...!” dia tertawa dalam suka cita.

Kelinci Earbow adalah Hewan Iblis kasta Duniawi, bukanlah eksistensi yang berbahaya. Bahkan di antara makhluk setingkatnya, dia termasuk yang terlemah. Seorang anak kecil berumur dua belas tahun, jika dia mempelajari bela diri, mampu membunuhnya. Dengan syarat, dia harus berani dan kelinci itu tidak lari. Yah, kemampuan yang patut diperhitungkan dari Kelinci Earbow hanyalah larinya yang cepat, juga taringnya yang mampu mengoyak daging seperti kertas.

Seperti kebanyakan Hewan Iblis kasta Duniawi lainnya, perawakan Kelinci Earbow hampir mirip kelinci biasa. Perbedaan utama hanya terlihat pada daun telinga yang melebar seperti kuping gajah, bukan memanjang seperti kelinci normal. Lalu, jika diteliti lagi untuk menemukan kelainan fisik Kelinci Earbow, itu terdapat pada giginya yang bertaring, sifatnya yang karnivora, dan kukunya yang seperti kucing.

Dari semua itu, hal yang paling penting bagi Kelinci Earbow bukanlah bentuk fisik ataupun kastanya, melainkan khasiatnya untuk memperkuat para ahli. Dikatakan bahwa daging Kelinci Earbow setara dengan eliksir level 3, dan jika diekstrak maka bisa menjadi bahan pembuatan eliksir level 6. Yah, dalam dunia persilatan, eliksir level 3 sudah termasuk kualitas bagus, setidaknya bagi seorang petarung di bawah kasta Paladin ataupun seorang penyihir di bawah kasta Wizard. Hal ini juga yang mendorong populasi Kelinci Earbow turun drastis. Seorang ahli yang bukan berasal dari keluarga kaya raya, umumnya akan mencari Kelinci Earbow sebagai pengganti eliksir.

Sayangnya, kelompok yang mendapatkan Kelinci Earbow saat ini tidak memiliki seorang ahli alkimia. Bahkan penyihir mereka sendiri hanya memiliki pengetahuan dasar tentangnya. Jadi, mereka tidak bisa mengekstrak kelinci ini menjadi sesuatu yang lebih baik, bahan-bahan pendukungnya pun tidak ada. Maka dari itu, mau tak mau mereka hanya bisa membakar langsung daging Kelinci Earbow.

Kelinci pun matang dan siap disantap. Mereka membaginya sama rata. Namun, yang menemukan pertama kali mendapatkan jatah lebih banyak. Karena tak dicampurkan rempah-rempah, daging yang dibakar terasa cukup hambar. Yah, yang dibutuhkan bukan rasa, tetapi manfaat.

Semua orang telah selesai makan. Setiap dari mereka bisa merasakan lonjakan energi dalam tubuh. Kecuali Figo, empat rekannya mengambil posisi meditasi. Mereka mencoba mengatur aliran energi ke setiap meridian. Dan Tian mereka juga melebar sepersekian kalinya. Selanjutnya, kurang lebih setengah jam, setiap orang telah naik satu tahap. Termasuk si pembunuh Kelinci Earbow, dia benar-benar sudah naik pada kasta Kesatria.

“Wah, luar biasa, aku sudah berada pada kasta Kesatria!” serunya. Kemudian, ia melirik Figo yang tak melakukan apapun untuk meningkatkan kekuatannya. “Master Figo, kau tidak bermeditasi?” imbuhnya menanyakan.

“Yah, kau tahu kan meditasi seorang penyihir agak berbeda. Aku harus menggambar pola sihir dulu di tanah, dan itu agak memakan waktu. Aku khawatir para pengejar semakin mendekat. Nanti, jika sudah aman, baru akan kulakukan meditasi.”

“Benar juga, kita sudah cukup banyak membuang waktu. Sebaiknya kita segera pergi!”


Kolom Penulis:

Jadi, setelah saya meminta pendapat teman tentang urutan Kasta Penyihir, saya memutuskan untuk menghilangkan Kasta Witch dan menggesernya dengan Wizard. Sementara, posisi Kasta Wizard digeser dengan Kasta Arch Wizard. Perlu dicatat bahwa perubahan ini tidak mengubah jalan cerita. Hanya sistem kastanya saja yang diganti.

Jadi, ada sedikit revisi di episode 8, 9, dan 15.

Pengumuman ini juga akan ditempel pada episode yang bersangkutan. 

Terimakasih!