Episode 6 - Modus


Selasa, 2 Mei 2051

"... So, do not forget to submit your video presentation before the day of our next meeting. I hereby close the class."

Kata-kata tadi menjadi penutup dari mata kuliah Integrated English Course kategori speaking. Suasana kelas sebenarnya sedikit tegang karena Pak Ansar, nama pak dosen itu, sempat menegur sikap pasif mahasiswanya. Meskipun jurusan ini adalah jurusan bahasa Inggris, mayoritas mahasiswa memilih untuk membisu. Hampir semua yang berada di kelas itu kesulitan untuk mengekspresikan suaranya melalui kata-kata.

Jam tepat menunjukkan pukul sebelas siang. Satu per satu mahasiswa mematikan layar catatan yang keluar dari V-ring mereka. Sebagian masih mencatat hal-hal yang dianggap penting, termasuk Noel. Catatan itu berisi seputar PR yang harus mereka lakukan.

Duduk di samping Noel adalah Isal. Sambil melipat tangan, dia melihat Noel yang masih terfokus di depan layarnya. Menguatkan keputusannya, dia memulai percakapan dengan Noel.

"Bentar malam, ke gunung para slime lagi?"

Tapi, Noel tidak menjawab. Selain empat jari yang mengepal, Ibu jarinya menggosok-gosok dagu secara horizontal. Sedari tadi, dia hanya memikirkan apa yang harus dilakukan mengenai tugas pak dosen. 

"Bagaimana ini?" Noel berbisik dalam hatinya. Wajahnya terlihat sedikit mengeluarkan keringat. Pikirannya menjadi buntu, sebab tugas ini harus dilakukan secara berkelompok minimal tiga orang.

Selama delapan hari mereka kuliah, satu-satunya teman bicara Noel cuma Isal, dan hanya dia yang benar-benar dikenalnya. Mengajak orang asing adalah solusi. Sayangnya, dia tidak berani untuk melakukannya.

"Oi, soal kelompok, kan?" Tebak Isal dengan nada santai. Sebelah bibirnya sedikit tersenyum. Ekspresi Noel yang sekarang membuatnya terhibur. "Ngomong-ngomong, sebentar malam bagaimana?" Tanyanya sambil merangkul.

"Bentar sodara… masih fokus soal tugas sekarang."

"Beneran kan soal kelompok?" Isal mengecilkan suaranya, lalu sedikit mendekatkan bibirnya ke telinga Noel. "Solusinya ada di belakangmu." 

Kelopak mata Noel sedikit melebar. Dia menengadahkan wajahnya ke arah Isal terlebih dahulu, sebelum mengalihkan pandangannya tepat ke belakang. Di dekatnya, terdapat seorang wanita yang berpakaian sangat rapi, berambut hitam setinggi leher. Penglihatan si mahasiswa dengan milik seorang wanita seukuran bocah SD normal saling bertemu. Tingginya sama dengan Noel yang sedang duduk.

Adelia?

Wanita itu adalah ketua tingkat mahasiswa jurusan bahasa Inggris tahun 2051, Adelia Nurfitri. Wajahnya mulai menunjukkan ekspresi kebingungan. Menolehkan kembali wajahnya ke arah Isal, Noel bertanya untuk meyakinkan dirinya.

"Maksudmu... dia , sodara?" Lengan kiri Noel menekuk. Sendi pergelangan tangannya mengarah ke wajah Adelia dengan jari-jari mengepal, kecuali jari telunjuk yang hampir menyentuh dahi ketua tingkat. Sontak, Adelia mengambil satu langkah mundur.

"Tidak sopan, tahu!" Tegur Adelia. "Lagian, masalah kalau aku mau gabung sama kalian?"

"Bukan... bukan begitu." Balas Noel sambil menggelengkan kepala dan kedua telapak tangan. "Aku hanya terkejut karena kita mau gabung dengan kami. Itu saja.... Be-beneran." 

Wajah Adelia terlihat masih meragukan kata-katanya.

"Dia nggak bohong, kok. Memang dia gitu, ekspresinya kadang terlalu berlebihan." Isal membantu meyakinkan sambil melihat Adelia. "Ngomong-ngomong Adelia, kenap--"

"Adel!" Potongnya dengan nada kesal. Lirikan matanya memberi sinyal pada Isal untuk segera setuju.

"Ok, Adel." Isal meralat ucapannya, kemudian melanjutkan pertanyaan. "Kenapa mau gabung sama kami? Tadi sempat dengar-dengar tadi kalau kita1 menolak orang-orang yang mengajakmu bergabung."

"Dengar? Telingamu tajam juga," puji Adel. "Pasti sering digunakan buat mencuri dengar terus dijadiin gosip," tebaknya.

"Rasanya, saya jadi orang jahat." Nada Isal terdengar datar.

"Bukan, itu karena dia punya ketertarikan dengan wanita bertubuh kecil."

Respon Noel mengejutkan mereka berdua. Semula, Noel menganggap Isal akan membalas perkataan itu dengan kebanggaannya sebagai pecinta loli. Tapi, yang terjadi adalah dia ditatap dengan tajam oleh keduanya, lalu berbicara secara bersamaan.

"Baca situasinya, woi!"

"Isal itu pedo, ya?"

Merasa melakukan sebuah kesalahan, Noel spontan berdiri dan membungkukan badannya berulang-ulang ke arah Isal. Melihat hal itu, Adelia tidak merasa ilfil dan menutup mata sejenak, kemudian membuka kembali setelah menghela nafas panjang. Beberapa orang dalam ruangan kelas itu melihat aksi Noel dan mulai berbisik-bisik soal sesuatu.

"Tolong, berhenti!" Perintah Adel. "Tingkahmu memalukan untuk dilihat." Ujaran itu dilakukan dengan gelak tawa kecil darinya.

Noel menghentikan bungkukan dan menegakkan badannya, meskipun wajahnya masih tertunduk ke bawah. "Lagi-lagi gagal," katanya dalam hati. Dengan pose tangan kiri bertolak pinggang, Adelia mulai bicara.

"Kita itu aneh banget ya. Tadi apaan coba main bungkuk-bungkuk? Sumpah, beneran gak ngerti.” Adelia lanjut menyuarakan kebingungannya dengan lantang. “Sebenernya, hidupmu itu seperti apa… sampai tingkahmu kayak gitu?"

"Yang dilakukannya tadi cuma meminta maaf kok," terang Isal

"Tetap saja aneh di mataku." Balas Adel setelah menghembuskan nafas dan menutup mata.

"Yah… begitulah kalau tidak terbiasa. Tapi bagaimana? Dia unik kan?"

Mereka berdua mulai tertawa lepas. Noel yang sejak tadi terdiam mulai berasumsi bahwa mereka seperti meledek kebodohannya. Dia merasa bahwa mereka sudah pernah membicarakan tentang dirinya di suatu tempat yang dia tidak tahu. 

Ah sudahlah. Pikiran Noel memilih untuk pasrah. 

Tidak mempedulikan mereka berdua lagi, Noel kembali duduk dan menatap layar di hadapan meja untuk menyimpan data tulisan, kemudian menonaktifkan V-ring miliknya. Suara tertawa mereka telah mereda. Kembali menatap Adel, Noel mengungkit kembali pertanyaan Isal menggunakan nada serius setelah menghembuskan nafas panjang dan mengenakan topinya kembali.

"Jadi, apa alasanmu?"

"... Kita," senyum Adel. Gigi-gigi putih tersusun rapi terlihat darinya.

"Ha?” Mata Noel menyipit saat mendengarnya. “Tolong jelaskan sebelum ada kesalahpahaman lebih jauh." Noel mengucapkannya dengan nada serius. Responnya demikian, karena kata 'kita' mengandung banyak arti terselubung, lebih-lebih kalau diucapkan oleh lawan jenis. Isal mendengarkan dengan seksama maksud perkataannya.

"Kalo pelajaran, kita itu... terlihat pintar."

"Emmm, meski aku cukup percaya diri mengenai bahasa Inggris, tapi aku—"

"Itu maksudku." Adel langsung memotong penjelasan dengan telapak tangan kanan mengarah ke wajah Noel.

Ah... iyaya. Toh, ini soal tugas.

Setelah menggumam dalam hati, Noel melihat Isal yang merasa sedikit kecewa dengan jawaban Adel. Isal membalas tatapan temannya dengan sebuah anggukan. Melihat itu, Noel melemparkan pandangannya kembali.

"Bentar jam empat sore bisa gak?"

"Bisa kok. Di mana?"

"Kopi Kamu."

"KopKam? Oke," balas Adel riang.


*****


Tugas yang diberikan pak Ansar adalah presentasi sebuah tempat dalam bahasa Inggris selama lima belas menit. Mereka boleh melakukan apapun selain promosi, asalkan dalam selang waktu tersebut semua anggota kelompok harus aktif dalam menjelaskan soal tempat yang dikunjungi.

Bagi Noel, berkunjung ke tempat seperti ini adalah kali pertama, mengingat pola hidupnya dahulu. Hanya saja, dia sudah tidak merasa asing dengan pemandangan semacam ini, setelah melihat keramaian di dalam mal. Dia dan Isal datang satu jam sebelum waktu yang dijanjikan dengan Adelia. Sebelum tugas itu datang, mereka sudah berjanji untuk ke sana sejak dua hari yang lalu.

Langit biru membentang bersama dengan sekumpulan awan panjang yang terpisah-pisah satu sama lain, terlihat dari atap berlapiskan kaca. Dua laki-laki dari sekian orang sedang berada di lantai dua Kopi Kamu, tempat populer bagi orang-orang yang berniat nongkrong di kota ini. Sedang duduk saling berseberangan di antara sebuah meja kaca melingkar kecil yang sanggup menampung empat piring makan jika dirapatkan, mereka saling bertukar cakap dalam bahasa Inggris. 

"I going to KopKam bekoz I happy."

"... How do you get here?"

"... Car?"

"... You mean your car?"

"Nonononono, I say... Angkot."

"Ah, public transportation."

"Yes!"

Bahasa Inggris Isal… terdengar buruk.

"Kalau begini, mending coba menghapal teks saja, sodara."

"Tidak mau, Aku benar-benar ingin bisa bicara lancar. Di kelas Pak Ansar tadi, kayaknya cuma kamu yang bisa melakukan speaking dengan baik."

Noel menghela nafas sebentar, kemudian membalas kata-kata Isal setelah meminum teh hangat yang sudah dipesannya sejak tadi.

"Dalam hal apapun, orang bisa karena terbiasa, kan? Aku gini karena… gitu."

"Setidaknya, aku masih bisa mengerti apa yang kamu katakan."

"Memang. Tapi, yang kupikirkan nanti itu penilaianmu. Meski ini tugas kelompok, penilaian dilakukan secara individu."

"Aku bukan belajar karena nilai, tapi karena ilmunya!" tegas Isal. Matanya terlihat membara.

Sesaat, Noel terhenyak setelah sebelumnya saling membalas kalimat. Bagaimanapun, termasuk keluarga Noel, para orang tua lebih menginginkan nilai yang bagus dibandingkan proses belajar mereka karena nilai dapat dilihat dan menjadi hasil proses belajar anaknya. Sayangnya, ketidakjujuran dan kepalsuan seringkali mengambil alih. Apa yang ditawarkan oleh Noel adalah kedua hal itu.

"Memang keluargamu ngga pernah bertanya soal nilaimu?" tanya Noel.

"Kok nanya-nanya soal keluarga?" Isal balas tanya

"Penasaran…"

Melihat Noel yang serius, Isal memberikan sebuah jawaban. "Keinginan bapak ibuku sederhana, sodara. Hiduplah dengan jujur dan jangan merasa malu dengan keinginanmu, selama itu bukan hal buruk."

Dia terdiam. Sejenak, dia kepikiran salah satu hal idealis yang selalu bersemayam di dalam hatinya. Kalau semua berpikir kayak gini, mungkin perilaku semacam korupsi bisa dihapuskan kali ya?

Melihat Noel senyam-senyum sendiri, Isal merasa diledek. Menempelkan siku kanannya ke atas meja dengan telapak tangan menahan dagu, Isal menggeramkan rahang dan menajamkan matanya.

"Mengejekku?"

Tersadar, Noel dengan spontan membalas pikiran negatif Isal. "Ti-tidak, sodara. Justru… aku malah kepikiran kalau semua orang kayak kamu, mungkin takkan ada lagi korupsi di negara ini."

"Njir! jauh amat pola pikirmu. Akunya gagal paham."

Mereka berdua lantas tertawa kecil, bukti bahwa tidak ada bibit-bibit permusuhan yang tercipta.

Dari belakang Isal, sesosok wanita yang tidak lain merupakan Adelia, akhirnya memperihatkan batang hidungnya. Tapi di mata Noel, pakaian dan aksesoris yang melekat dirasa tidak sesuai dengan kondisi fisiknya, terkhusus untuk kalung emas dan tas jinjing. "Terlihat seperti anak yang sedang main ibu-ibuan." Ujarnya dalam hati. Wanita itu lantas menyentuh pundak Isal, sebelum mengambil tempat duduk yang telah tersedia pada sisi berbeda dengan Noel dan Isal.

"Akhirnya, kita datang juga. Dari tadi sudah ditunggu." Isal memulai percakapan.

"Dari tadi? Janjiannya kan sekarang." 

"Iya. Kami ini datang duluan karena sudah janjian untuk nongkrong sebelumnya."

"Begitu, toh? Kirain salah dengar seputar jam, tadi. Bentar, ya. Mesen dulu." 

Adel mengarahkan telunjuknya ke tengah-tengah meja kaca bundar. Disana, terdapat sebuah tombol kecil yang jika ditekan, akan memunculkan menu tempat itu secara holografis. Dia menarik layar itu ke hadapannya, memilah-milah menu, lalu menekan hidangan atau minuman yang akan dipilih. Setelah menekan 'ya' pada sisi kiri bawah, layar itu lenyap, kemudian tinggal menunggu pesanannya diantarkan. Pembeli wajib membayar setelah pesanannya sampai.

"Anyway, kalian sudah menentukan tempat yang akan dijadikan presentasi?" tanya Adel

"Sudah." Isal langsung merespon. Jari telunjuk diarahkan ke bawah. "Tempat ini."

"Bisa ganti nggak?" Adel memohon dengan nada agak merengek.

Isal mengalihkan pandangan ke Noel yang sejak tadi hanya diam karena fokus membaca postingan orang-orang di facenote miliknya. Sebenarnya, Noel mendengar, tapi matanya tidak merasa nyaman dengan gaya berpakaian Adel saat ini. Melihat tangan Isal yang mengetuk meja kaca di sisi Noel. Dia akhirnya angkat bicara.

"Gak masalah. Selama kalian tidak berniat menunda tugas ini, ngikut aja." Pandangan Noel tetap terpaku pada layar facenote saat dia berbicara.

"Ok fix. Tempatnya udah ada. Hal ini juga menjadi penyebab utama aku bergabung sama kalian." Sebelum berbicara lebih jauh, dia melirik sekitar terlebih dahulu. Merasa aman, dia pun melanjutkan. "Dengar-dengar, kalian main AW."

Raut wajah Noel dan Isal berubah. Mulut dan mata mereka sedikit melebar. Mereka berdua menatap Adel dengan alasan yang sama. Arah pembicaraannya sudah sangat jelas.

"Aku ingin tugas presentasi kita pada tempat wisata AW yang kupilih."



Catatan kaki:

1. Versi lebih sopan dari kata kamu dan kau. Aslinya, merupakan bagian dari adat kesopanan suku Bugis. Kebiasaan ini berasimilasi dengan kebudayaan setempat, menciptkan pemikiran untuk menghindari penggunaan kata kamu dan kau seminimal mungkin dalam percakapan sehari-hari.