Episode 92 - Jurus Kuno



Hari kedua di Perguruan Maha Patih berlangsung cepat. Jelang malam, Bintang Tenggara sudah tak terlalu memikirkan kejadian malam sebelumnya. Lagipula, berkat tindakan Maha Guru Segoro Bayu yang meningkatkan pengamanan di sana-sini, maka tak ada kejadian aneh-aneh yang mengikuti.

Di pagi hari kedua, matahari bersinar cemerlang. Awan berarak-arak tipis. Angin berhembus lembut membawa aroma khas Kota Ahli, yaitu berbagai jenis tetumbuhan yang diramu menjadi jamu.

Rombongan Perguruan Gunung Agung memasuki wilayah gelanggang pertarungan. Rasanya hari ini tribun penonton semakin sesak, terpantau dari kerumunan yang semakin padat dan sorak sorai yang semakin membahana.

Di tengah gelanggang, panggung pertarungan terbentang megah. Ia telah siap menjadi saksi bisu pertarungan remaja-remaja terpilih dari setiap perguruan. Tepat di atas panggung, tinggi melayang tegak di udara, salah satu dari Tujuh Senjata Pusaka Baginda yang berwarna keemasan menebar aura demikian perkasa. Pedang Patah, bentuknya meliuk mirip sebuah keris raksasa, meski ujungnya bercabang mirip lidah ular.

Lima orang anak remaja dan seorang perempuan setengah bayah tengah memasuki wilayah gelanggang. Anak remaja yang berjalan paling belakang mengamati sekeliling. Jumlah tenda yang dua hari sebelumnya berjumlah 32 buah, hari ini telah berkurang menjadi hanya 16. Tentu saja, di hari pertama setengah dari peserta awal Kejuaraan Antar Perguruan telah tersingkir.

“Jangan lengah,” ujar Sesepuh Ketujuh sebelum mereka berpisah arah.

Seperti pada hari pertama, sang sesepuh hanya akan menonton dari tribun kehormatan khusus pendamping di sisi utara gelanggang. Saat menaiki anak tangga tribun, tatapan mata yang mengamati sudah berbeda dari sebelumnya. Meski, masih ada beberapa pendamping dari perguruan yang masih mencibir sinis.

“Keberuntungan tak akan berulang dua kali…,” samar terdengar bisik-bisik.

Lima orang anak remaja terlihat menuju tenda yang diperuntukkan bagi mereka. Bintang Tenggara, yang melangkah santai di urutan paling belakang, melewati salah satu tenda perguruan lain. Sepintas, ia menangkap bayangan sebuah jubah berwarna ungu. Kedua matanya lalu menangkap sepasang mata sayu, saling bertatapan, meski hanya sepintas.

“Perguruan Gunung Agung! Berhadapan dengan… Sanggar Sarana Sakti!”

Seketika itu juga gemuruh teriakan ribuan penonton menyambut kehadiran sepuluh anak remaja yang melangkah keluar dari tenda perguruan masing-masing. Sebagian teriakan menyemangati, sebagian menantikan pertarungan seru, sebagian lagi masih tak percaya Perguruan Gunung Agung telah menyingkirkan Perguruan Nusantara.

“Pertarungan dimulai!” Terdengar suara membahana, disambut dengan teriakan riuh-rendah yang tak kalah bergelora.

Di hadapan, terlihat juga tiga remaja lelaki yang kasep dan dua remaja perempuan nan geulis. *

Wilujeng enjing, sadayanaAbdi memohon waktu sejenak untuk memperkenalkan diri,” ujar seorang remaja lelaki dari Sanggar Sarana Sakti. Ia berdiri paling depan. **

“Hm…?” Canting Emas tak terlihat kebingungan. Ia membiarkan saja lawan yang terlihat hendak memperkenalkan diri itu. Toh, berdasarkan pengamatan atas pertarungan pertama para perwakilan Sanggar Sarana Sakti, taktik bertempur hari ini bukanlah serangan mendadak.

Remaja lelaki dari Sanggar Sarana Sakti tersebut maju selangkah. Tetiba ia mengangkat dan menggerakkan lengan ke kiri dan ke kanan, diikuti dengan langkah kaki yang seirama. Sungguh unik gerakannya.

Jajaka Merah!”**

Remaja tersebut berseru sambil menutup gerakannya dengan menggangkat dan membuka tangan tinggi di udara, kedua kakinya pun terbuka. Ia terlihat seperti huruf ‘X’. Di saat yang sama, seluruh pakaiannya berubah menjadi ketat dan berwarna merah. Sebuah topeng berwarna senada pun menutup wajahnya. Yang paling penting, tenaga yang terpancar dari remaja tersebut juga meningkat.

Seluruh penonton bersorak-sorai menyaksikan remaja tersebut mengubah penampilan. Bintang Tenggara menatap dalam diam… Bagaimana caranya remaja itu bertukar pakaian demikian cepat!?

Di sisi kanan dan kiri Jajaka Merah, dua remaja lelaki lain mulai bergerak bersamaan. aksi keduanya mirip seperti bercermin saja. Bila yang kiri mengangkat lengan kiri, maka yang kanan mengangkat lengan kanan. Demikian seterusnya berkesinamnungan.

“Jajaka Biru!” Remaja lelaki sebelah kiri berujar. Sama seperti sebelumnya, pakaiannya berubah berwarna biru. Juga mengenakan topeng biru.

“Jajaka Hitam!” Remaja lelaki yang kanan berubah mengenakan pakaian dan topeng serba hitam. Pose tubuhnya seperti hendak menerkam ke samping.

Sebelum regu dari Perguruan Gunung Agung sempat berpikir lebih jauh, dua gadis remaja paling belakang melompat maju!

Mojang Kuning!”**

“Mojang Hijau!”

Setelah mengenakan pakaian dan topeng sesuai warna yang diteriakkan, serta meningkatkan tenaga dalam, kedua gadis remaja mengambil posisi mengapit Jajaka Merah. Dengan demikian, lengkap sudah perubahan penampilan murid-murid Sanggar Sarana Sakti. Kini terlihat kelimanya berpose gagah. Sungguh kreatif!

“Jajaka dan Mojang Sanggar Sarana Sakti… siap beraksi!” ujar mereka serempak. Karena mengenakan topeng, yang kasat mata hanyalah mereka menggaguk-anggukkan kepala setiap selesai mengucap satu kata.

Sorak-sorai penonton terdengar menggema. Sepertinya memang sedemikianlah atraksi pembuka Sanggar Sarana Sakti, dan rupanya sangat dinanti-nanti… Bintang Tenggara terpana, sungguh simetris pose lawan di hadapannya.

“Tunggu sejenak!” teriak Aji Pamungkas menyela. “Mojang Hijau, bukankah dikau seharusnya berwarna merah muda!?”

“Mojang Merah Muda sedang tak enak badang di saat Jajaka dan Mojang Sanggar Sarana Sakti harus berangkat,” jawab Mojang Hijau mengangguk-anggukkan kepala.

“Kita berhadapan dengan lawan berat…,” bisik Aji Pamungkas. “Pawer Renjes selalu dapat membalikkan keadaan di detik-detik akhir.”

“Ha?” Canting Emas menganga. “Siapakah gerangan Pawer Renjes?”

“Jangan terlalu dipikirkan,” ujar Bintang Tenggara sebelum khayalan Aji Pamungkas menulari orang lain.

“Abdi punya saran…,” ujar Jajaka Merah, tak lupa mengangguk-angguk. “Bagaimana jikalau kita bertarung satu lawan satu….”

“Baiklah!” jawab Panglima Segantang cepat.

“Tidak masalah,” susul Canting Emas. “Peraturannya sederhana. Perguruan yang paling banyak meraih kemenangan, dialah yang akan keluar sebagai pemenang.

“Baik, silakan Perguruan Gunung Agung yang menentukan hendak berhadapan dengan sesiapa,” jawab Jajaka Merah.

“Bintang melawan si Merah, Panglima si Hitam, Aji si Biru… Kuau melawan si Hijau, dan aku sendiri berhadapan dengan si Kuning,” ujar Canting Emas cepat.

“Tunggu! Aku hendak berhadapan dengan si Kuning,” sergah Aji Pamungkas.

“Bila demikian kehendakmu, maka kau harus berhadapan dengan aku terlebih dahulu…,” jawab Canting Emas mencibir. Ia tak hendak memberi kesempatan pada Aji Pamungkas bertindak yang bukan-bukan saat mewakili Perguruan Gunung Agung.

Pilihan cara bertarung seperti ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Pada pertarungan pertama pun, para jajaka dan mojang itu menerapkan pilihan bertarung satu lawan satu. Saat itu, mereka menyapu bersih satu per satu lawan di atas panggung.

Wasit di pinggir panggung terlihat tak keberatan menyaksikan gelagat anak-anak remaja yang membuat aturan sendiri di atas panggung.

“Yang Terhormat Sesepuh Ketujuh dari Perguruan Gunung Agung,” seorang lelaki dewasa muda datang menghampiri.

Sesepuh Ketujuh hanya menoleh dengan muka datar.

“Namaku Sangara Santang dari Sanggar Sarana Sakti dan aku sangat berterima kasih karena Perguruan Gunung Agung bersedia memenuhi permintaan perwakilan kami,” tambahnya ramah.

Sesepuh Ketujuh sedikit tertegun. Ia mengetahui bahwa lelaki yang berusia sekitar 25 tahun dan berwajah tampan tersebut tak lain adalah Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti. Meski masih terhitung sangat muda, nama lelaki yang juga merupakan keturunan bangsawan tersebut, tersohor sebagai Si Anak Ajaib yang tumbuh sebagai seorang ahli tak terkalahkan. Bahkan, khabar angin mengatakan bahwa Sangara Santang tak mengetahui warna darahnya sendiri, karena tak pernah terluka.

Berkat keikutsertaan Sangara Santang, Sanggar Sarana Sakti pernah menjuarai Kejuaran Antar Perguruan belasan tahun lalu. Saat itu, adalah salah satu kejadian langka dimana Perguruan Maha Patih melepas gelar sebagai juara bertahan.

“Kurasa serangan mendadak dan cepat tak akan dapat mengalahkan Sanggar Sarana Sakti,” ujar Sesepuh Ketujuh bangkit dari bangkunya. Meski dari segi usia lebih tua, ia tetap menghargai keramahan lawan bicaranya.

“Oh?” Maha Guru Kesatu, Sangara Santang dari Sanggar Sarana Sakti, tertegun.

“Apa pun itu, semoga kemenangan berpihak kepada yang layak,” sambung Sesepuh Ketujuh.

“Semoga….” Lelaki dewasa muda tersebut lalu kembali ke tempat duduknya.

Jajaka Hitam melangkah maju ke tengah panggung. Dari ukuran tubuh, ia tak kalah besar dari Panglima Segantang yang telah menunggu. Di saat yang sama, masing-masing anggota perguruan yang lain melangkah ke sudut panggung. Panggung bertarung yang luasnya 32 meter persegi, tentu menyisakan cukup ruang bagi peserta yang berperan sebagai penonton. Perguruan Gunung Agung di sisi barat, dan Sanggar Sarana Sakti di sisi timur.

Tetiba Jajaka Hitam berdiri tegak dan merentangkan kedua belah lengan…

“Tempurung Kura-Kura Mentari!” Sebuah pelindung melesat dan tepasang menutup dada dan punggung Jajaka Hitam.

“Kulit Buaya Muara!” Sekujur lengan sampai ke bahu yang terbentang lalu dibalut oleh lapisan kulit keras dan bergerigi.

“Sisik Trenggiling Tanah! Bagian paha bawah sampai pergelangan kaki Jajaka Hitam terbungkus sisik-sisik tajam dan tebal.

Sorak-sorai penonton kembali bergema di seluruh penjuru gelanggang. Senang sekali mereka menyaksikan anak remaja yang mengenakan perisai-perisai yang terbuat dari berbagai binatang siluman langka tersebut.

“Taring Harimau Jumawa!” teriak Jajaka Hitam untuk terakhir kalinya.

Sebilah pedang besar tetiba mengemuka. Sebagaimana sebelumnya, semua peralatan tempur dikeluarkan dari dalam Batu Biduri Dimensi. Pedang tersebut sungguh menarik perhatian… bukan hanya karena oleh aura Kasta Perak yang tersibak, akan tetapi lebih karena sebuah taring besar dan tajam tersemat di bagian ujung pedang. Jadi, Pedang Taring Harimau Jumawa itu terlihat mirip sebuah palu yang kepalanya merupakan taring sepanjang lebih dari 30 cm!

Panglima Segantang menyaksikan dengan kekaguman sekaligus semangat menggebu-gebu. Terlihat sekali bahwa ia tak sabar untuk bertarung. Meskipun demikian, ia menyadari bahwa lawan tak bisa dipandang sebelah mata. Meski tanpa perisai-perisai yang dikenakan, Jajaka Hitam adalah seorang ahli yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8.

“Parang Hitam!” seru Panglima Segantang.

Remaja bertubuh besar dari Kerajaan Serumpun Lada itu lalu menebaskan parang besar tersebut ke ke kiri dan ke kanan. Terlihat jelas bahwa ia sedang melakukan gerakan-gerakan peregangan tubuh.

“Hya!” Jajaka Hitam merangsek maju.

“Brak!” Parang Hitam menangkis Pedang Taring Harimau Jumawa yang datang dari arah atas.

Panglima Segantang merasakan tekanan yang teramat berat. Namun, tetiba taring harimau di ujung pedang tersebut memanjang dan mengincar bahu! Panglima Segantang berkelit ke samping, di saat yang sama ia melepaskan tendangan sapuan ke tulang kering Jajaka Hitam. Akan tetapi, betapa terkejutnya ia karena tendangan sapuan tersebut sama sekali tak berpengaruh. Pelindung yang terbuat dari Sisik Trenggiling Tanah, bahkan membuat lawan tak bergeming!

“Trang!” Parang Hitam menebas punggung yang dilindungi Tempurung Kura-Kura Mentari.

Kembali Panglima Segantang terpana sejenak. Tebasan parangnya bak menghantam tebing batu. Sungguh kuat sekali pertahanan lawan! Meski demikian, Panglima Segantang tak kehabisan akal. Sebuah tendangan tinggi melesat ke arah wajah Jajaka Hitam yang terlindung topeng. Akan tetapi, lengan lawan tersebut sigap meredam dengan Kulit Buaya Muara.

Panglima Segantang segera mundur beberapa langkah ke belakang. Tujuan dari rangkaian serangan pembuka terpenuhi sudah. Setiap satu pelindung yang dikenakan lawan telah ia uji sendiri. Kesimpulan sementara ini adalah tangguh, tapi bukan tanpa cela.

“Hya!” Jajaka Hitam merangsek maju.

Pedang Taring Harimau Jumawa menebas buas ke segala penjuru arah. Meski demikian, serangan Jajaka Hitam terkesan serampangan. Mengapa? Tentunya dikarenakan ia sangat percaya diri dengan daya tahan pelindung di dada dan punggung, kedua lengan, serta kedua kaki. Jadi, Jajaka Hitam menyerang sekuat tenaga tanpa ragu.

Panglima Segantang berkelit ke kiri dan ke kanan. Terkadang ia menahan dengan Parang Hitam. Walau setiap serangan balik yang ia kerahkan tak dapat mencederai lawan, tak sedikit pun langkah kakinya bergerak mundur. Demikian semangat seorang prajurit saat bertarung, baik di atas panggung pertandingan maupun di tengah medan perang.

“Pencak Laksmana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti!”

“Parang Naga, Gerakan Ketiga: Taring Mencabik Lautan!”

Dua jurus silat sekaligus! Panglima Segantang mengerahkan kombinasi dua jurus silat. Pertama, ia menambah kekuatan tenaga dan kecepatan gerak. Kemudian, ia melebarkan dan memanjangkan Parang Hitam dengan tenaga dalam!

“Brak! Brak! Brak!”

Tebasan demi tebasan Parang Hitam menebas deras. Meski tak satu pun serangan menembus pertahanan lawan, selangkah demi selangkah Jajaka Hitam terpaksa mundur akibat hantaman keras yang ia terima. Panglima Segantang tak sedikit pun mengendorkan serangan.

“Sret!”

Tetiba Jajaka Hitam mengelak ke samping. Rupanya ia sadar bahwa sedikit lagi tubuhnya yang dipaksa mundur, akan tiba di pinggir panggung…

“Brak!”

Panglima Segantang mengerahkan tebasan andalannya! Tebasan diagonal dari arah kanan bawah menuju kiri atas merangsek telak di rusuk kiri Jajaka Hitam. Meski tak terluka, tubuh Jajaka Hitam terdorong ke belakang, sedikit lagi ia akan terjatuh ke luar panggung!

“Jajaka Hitam!”

“Jajaka Hitam… berjuanglah!”

“Engkau bisa! Jajaka Hitam!”

Sorak-sorai penonton terdengar membahana. Tak sedikit dari mereka yang memberikan dukungan kepada Jajaka Hitam. Mendengar dukungan dari penonton, Jajaka Hitam pun bangkit bersemangat.

“Jajaka Hitam… Ragam Tempur!” teriak remaja bertopeng itu mengangguk lebih dalam.

Segera setelah itu, terjadi perubahan pada pelindung yang ia kenakan. Tempurung Kura-Kura Mentari di dada menyala terang kekuningan. Gegigi Kulit Buaya Muara di lengan meruncing. Sisik Trenggiling Tanah di kaki mengembang menjadi bilah-bilah tajam. Pedang Taring Harimau Jumawa di dalam genggaman meraung garang!

“Hya!”

Jajaka Hitam merangsek maju. Gempuran demi gempuran melesakkan Panglima Segantang. Perlahan namun pasti, Panglima Segantang terdorong mundur. Keadaan berbalik dalam beberapa tarikan napas!

Bintang Tenggara menyaksikan Panglima Segantang yang berupaya bertahan. Sungguh pertahanan dari anggota tubuh binatang siluman tak dapat dipandang sebelah mata. Bahkan Panglima Segantang yang bertubuh besar mulai terdesak dan tak dapat melancarkan serangan balik. Tanpa disadari, mata hatinya pun menebar ke mustika retak milik Super Guru Komodo Nagaradja. Berapa lama lagi gerangan sang guru yang sering mengganggu itu…

“Gema Bumi, Bentuk Kedua: Hancur Badan Dikandung Tanah!”

Panglima Segantang terpaksa mengerahkan kesaktian unsur tanah. Tanah dari permukaan panggung melesat dan menempel ke tubuh Panglima Segantang. Tanah membungkus di kedua bahu, sikut dan melingkari pinggang. Di saat yang sama, tanah juga membalut lutut sampai ke tulang kering. Terakhir, tanah melingkupi dada dan pundak Panglima Segantang.

“Bum!”

Massa tanah lalu berubah menjadi batu granit berwarna hitam. Akan tetapi, bila tadinya hanya pada bagian dada saja pakaian tempur tersebut berwujud komodo, kini di bagian bahu juga terlihat menyerupai komodo. Sebagaimana diketahui, ini adalah harkat jurus kesaktian yang sedemikian tinggi dari jurus Gema Bumi!

“Hah! Wujud dari jurus kesaktian?! Komodo!”

“Bukankah anak itu masih berada pada Kasta Perunggu!?”

“Apa yang dilakukan Perguruan Gunung Agung terhadap Panglima Segantang?!”

Decak kagum bercampur ketidakpercayaan terdengar di berbagai penjuru gelanggang. Belasan ribu pasang mata tak hendak percaya akan apa yang mereka saksikan. Beberapa tamu kehormatan dan pendamping perguruan bahkan sontak berdiri hendak memastikan pemandangan di atas panggung.

Tak lama, salah seorang pendamping perguruan di tribun utara berdiri dari tempat duduknya…

“Yang Terhormat Sesepuh Ketujuh dari Perguruan Gunung Agung…,” tegur seorang lelaki tua. “Sejak kapan dan darimana Perguruan Gunung Agung memperoleh naskah arkais jurus Gema Bumi?” ****

“Yang terhormat Sesepuh ke-15 dari Perguruan Maha Patih… Mohon maaf, namun aku tak berhak mengungkapkan rahasia perguruan,” jawab Sesepuh Ketujuh datar. Ia pun bangkit dari tempat duduknya.

Benar. Sebuah rahasia besar, karena sepengetahuan Sesepuh Ketujuh, hanya Panglima Segantang seorang yang mengetahui tentang asal-muasal jurus tersebut. Ketika ditanyakan, Panglima Segantang enggan memberikan jawaban. Dengan kata lain, bahkan Perguruan Gunung Agung tak mengetahui dari mana Panglima Segantang mempelajari jurus Gema Bumi.

Sebagai tambahan, kenyataan bahwa seorang sesepuh yang merangkap pendamping dari Perguruan Maha Patih sampai mendatangi untuk bertanya, adalah bukti bahwa benar adanya jurus tersebut merupakan salah satu jurus yang menggegerkan Negeri Dua Samudera saat Perang Jagat berlangsung! Oh… andai saja mereka tahu bahwa oleh sang pemilik aslinya, jurus kuno itu hanyalah jurus sampingan yang digunakan untuk bertahan.

“Bila demikian adanya, aku mohon maaf atas kelancangan pertanyaan tadi…,” Sesepuh Ke-15 Perguruan Maha Patih terlihat kecewa. “Sungguh sekian lama sudah aku tak berkunjung ke Perguruan Gunung Agung, sehingga melewatkan sebuah kabar besar,” tutup orang tua itu.

Sesepuh Ketujuh hanya melontarkan senyum. Beberapa pasang mata pendamping dari perguruan lain menatap tajam ke arahnya. Bilamana tatapan mata dapat mencabik-cabik, maka dipastikan saat ini sekujur tubuh Sesepuh Ketujuh bergelimang darah.

Di atas panggung, Panglima Segantang mulai memukul mundur lawan. Setiap langkah kakinya seolah menyibak aura penguasa daratan bumi! Ditambah dengan dengan keahlian silat di atas rata-rata, maka remaja bertubuh besar itu semakin mendominasi.

“Brak!”

Jajaka Hitam terhuyung beberapa langkah ke belakang… sebelum akhirnya jatuh terjerembab di sisi panggung. Beraneka pelindung dari bagian tubuh binatang siluman, bukanlah tandingan bagi pakaian tempur yang merupakan wujud kesaktian jurus. Sungguh, Jajaka Hitam tak memiliki kesempatan meraih kemenangan.

“Aku menyerah…,” seru Jajaka Hitam.


Catatan:

*) Bahasa sunda. Kasep: tampan. Geulis: cantik.

**) Bahasa sunda. Wilujeng enjing, sadayana: Selamat pagi, semua. Abdi: Saya (halus).

***)Bahasa sunda. Jajaka: remaja lelaki. Mojang: remaja perempuan.

****) arkais/ar•ka•is/ a 1 berhubungan dengan masa dahulu atau berciri kuno, tua;