Episode 91 - Bauran Jurus

 


Tingkatan dalam jurus persilatan biasa dikenal dengan sebutan ‘gerakan’. Misalnya: Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak; Pencak Laksamana Laut, Gerakan Pertama: Tuah Sakti Hamba Negeri; atau Tapak Suci, Gerakan Pertama: Remuk Redam.

Dalam kesaktian yang melibatkan unsur, tingkatan jurus kemudian dikenal sebagai ‘bentuk’. Sebagai contoh: Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana atau Gema Bumi, Bentuk Pertama: Kuat Akar Karena Tanah.

Bilamana antara ahli yang merapal bentuk jurus kesaktian atau gerakan jurus persilatan mencapai harkat keserasian yang tinggi dengan jurusnya, maka akan terlahir ‘wujud’. Misalnya: pohon petir, padma api, pakaian tempur komodo, bulan sabit angin, kuntum rambut, atau genggaman daya tarik bumi.

Selain gerakan, betuk dan wujud sebagaimana yang telah disebutkan di atas, masih ada satu lagi jenis jurus yang sangat, sangat langka. Jenis tersebut terjadi bilamana seorang ahli mampu merapal sebuah jurus yang menggabungkan ‘gerakan persilatan’ dengan ‘bentuk kesaktian’.

Proses penggabungan ini tidaklah mudah karena seorang ahli harus sepenuhnya mencapai pencerahan atas jurus persilatan dan unsur kesaktiannya. Dalam kondisi ini maka tingkatan jurus gabungan tersebut dikenal sebagai ‘bauran’.* Meski, setiap jurus yang memiliki bauran, hanya terdiri dari satu tingkatan saja.

Remaja berkulit gelap, yang diketahui sebagai salah satu dari Lima Raja Angkara, terjungkal belasan langkah ke belakang. Meski demikian, ia tetap dapat mendarat mulus di kejauhan.

“Khikhikhi… Jurus bauran….”

“Siapakah engkau!?” sergah Kum Kecho.

“Cahaya… Sungguh unsur kesaktian yang unik. Kau mengingatkanku pada seseorang…”**

Dengan demikian, Tapak Cahaya Suci merupakan gabungan dari persilatan dan kesaktian. Sebagaimana diketahui, Kum Kecho memiliki jurus silat andalan bernama Tapak Suci. Lalu, bilamana ia mengimbuhkan kesaktian unsur cahaya ke dalam jurus persilatan itu, maka terlahirlah jurus Tapak Cahaya Suci, sebagai jurus bauran dari persilatan dan kesaktian.

“Jawab pertanyaanku!” Kembali Kum Kecho berseru.

Sehari sebelumnya, anak remaja yang mengenakan Jubah Hitam Kelam tersebut akhirnya mengambil keputusan. Setibanya di gerbang dimensi milik Partai Iblis, Kum Kecho yang gamang akhirnya memantapkan diri untuk mencari tahu lebih lanjut tentang tentang ahli yang memiliki kesaktian unsur asap.

Dengan alasan hendak menyelidiki lebih jauh tentang Kekuatan Ketiga dan janji untuk menghindar dari pertarungan, Anjana terpaksa memberi ijin. Akan tetapi, Anjana berkesimpulan bahwa langkah yang demikian berbahaya hanya dapat dilakukan seorang diri. Kum Kecho pun segera menyetujui bahwa lebih baik Melati Dara tidak menemani dan kembali bersama Anjana ke Partai Iblis.

“Khikhikhi… Sesuai perkiraanku, engkau pasti kembali….”

Sejak memutuskan mengikuti jejak Raja Angkara, Kum Kecho cukup percaya diri karena ia memiliki kesaktian unsur cahaya yang dapat meredam kesaktian unsur asap. Ketika akhirnya berpapasan dengan lawan, ia menyaksikan remaja berkulit gelap tersebut sedang lengah karena mencoba merasuki seseorang – walau Kum Kecho tak menyadari siapa sebenarnya calon korban yang berada di balik kepulan asap kemenyan.

Oleh karena itu, kesempatan yang tersedia segera dimanfaatkan untuk melancarkan serangan jurus bauran Tapak Cahaya Suci. Jadi, rencana Kum Kecho saat ini adalah membungkam lawannya, lalu mengiterogasi paksa.

“Apa tujuanmu!?” hardik Kum Kecho lagi.

Remaja berkulit gelap menyeka darah yang mengalir dari sudut bibir. Meski, ia tak terlihat kesakitan, padahal serangan Kum Kecho tadi mendarat telak di punggungnya.

“Kuyakin di balik Jubah Hitam Kelam itu terdapat tubuh yang bagus. Sangat disayangkan, aku tak bisa memanfaatkan tubuhmu karena unsur kesaktian cahaya….”

Di saat ia berucap, empat orang kaki tangannya tiba. Bahkan gadis yang terkena hantaman cepat dari Bintang Tenggara terlihat siap menyerang. Kum Kecho hanya menggeretakkan gigi. Ia salah perhitungan. Akibat terburu-buru melihat celah kesempatan, ia melupakan bahwa ada empat ahli lain yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9. Sungguh sebuah kecerobohan.

“Bungkam dia!” seru salah seorang dari remaja yang telah tiba.

Seribu Nyamuk Buru Tempur! Trio Kutu Gegana Ledak!

Kum Kecho mengambil inisiatif terlebih dahulu! Nyamuk-nyamuk menyebar menyerang ibarat gumpalan awan hitam yang siap mendatangkan badai. Di saat yang sama, ketiga ekor kutu siap menyergap dan meledakkan diri, sebuah tindakan yang cukup membanggakan.

Keempat remaja yang ditugaskan menyerang Kum Kecho terlihat kewalahan berhadapan dengan kerumunan nyamuk dan ketiga ekor kutu. Meski demikian, Kum Kecho menyadari bahwa upaya nyamuk dan kutu untuk mengalihkan perhatian tak akan berlangsung lama. Ia pun segera bergerak mundur. Untuk sementara ini, terpaksa ia menggigit jari karena tak memperoleh jawaban dari lawan.

Tepat di saat ia hendak bergerak mundur, mata hati Kum Kecho merasakan bahaya mendekat cepat. Sebuah gumpalan asap yang ukurannya demikian besar, hampir sebesar sebuah perahu layar, menghantam. Gumpalan asap pekat tersebut berwujud seperti seekor ikan raksasa yang berkepala besar, bermulut lebar dan berkumis. Kesaktian unsur asap dengan harkat keserasian yang tinggi, sehingga menciptakan wujud ikan sembilang raksasa!**

Kepik Cegah Tahan!

“Bum!”

Giliran Kum Kecho bersama kepiknya yang terdorong belasan langkah ke belakang. Di saat yang sama, dua orang remaja berhasil melepaskan diri dari gerombolan nyamuk. Ketiga kutu pun sudah tak lagi terlihat, kemungkinan besar mereka telah mengorbankan diri.

Kum Kecho berupaya menghindar serangan dari dua orang remaja. Di atas kertas, kedua remaja tersebut berada di tingkat keahlian yang lebih tinggi. Oleh karena itu, hanya waktu saja yang memisahkan mereka. Cepat atau lambat, mereka menunggu terbukanya kesempatan untuk menyergap Kum Kecho.

“Bum!”

Kum Kecho memanfaatkan jurus Kepik Cegah Tahan untuk kali kedua dalam menangkis hantaman wujud jurus asap yang berbentuk ikan sembilang itu. Ia lalu memanfaatkan kekuatan dorongan untuk bergerak mundur dengan cepat.

“Buk!”

Sebuah tendangan dari seorang gadis yang memiliki kesaktian unsur angin mendarat di perut Kum Kecho. Menahan rasa sakit, Kum Kecho pun membalas dengan sebuah serangan.

Tapak Suci, Gerakan Pertama: Remuk Redam!

Gadis remaja yang berbekal kesaktian unsur angin tangkas menghindar. Meski demikian, telapak tangan Kum Kecho sempat menyerempet pinggulnya. Gadis remaja tersebut terjungkal menahan rasa sakit. Dapat dipastikan bahwa ia tak akan kembali bertarung dalam jangka waktu dekat.

Tapak Cahaya Suci!!

Berkas cahaya berhadapan dengan kepulan asap! Meski demikian, jurus bauran Kum Kecho belum memiliki wujud. Lalu, perbedaan antara Kasta Perunggu dan Kasta Perak menjadi jurang yang terjal memisahkan mereka berdua. Secara teori, Kum Kecho percaya bahwa kesaktian unsur cahaya miliknya dapat mengalahkan kesaktian unsur asap, akan tetapi kenyataan di depan mata berkata lain.

Cahaya dari jurus bauran Kum Kecho tak dapat menyurutkan asap, sehingga asap tersibak ke segala penjuru.

Dua remaja lain berhasil keluar dari kerumunan nyamuk yang menjauh karena gumpalan asap yang tersibak akibat berbenturan dengan cahaya. Rupanya, pimpinan mereka sengaja menyerang lalu menebar asap kemenyan untuk mendorong nyamuk-nyamuk yang terus-menerus berupaya mencegat langkah.

Kum Kecho kembali mundur. Meski sejauh ini ia belum terluka, tenaga dalam di mustika menyurut cepat. Bagaimana tidak, berkali-kali sudah Kum Kecho mengeluarkan jurus yang banyak memakan tenaga dalam.

Sambil berlari, Kum Kecho menyaksikan bahwa ketiga remaja di belakangnya menebar formasi segel yang berbentuk jaring-jaring.

Kecapung Terbang Layang!

Tak ada pilihan lain. Kum Kecho harus segera menyelamatkan diri selagi masih memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Ia pun segera memerintahkan nyamuk-nyamuk yang tersisa untuk memperlambat gerak ketiga remaja yang mendekat cepat.

“Bum!”

Sebuah hantaman gumpalan asap berwujud ikan sembilang mendarat telak saat Kum Kecho hendak melompat ke atas binatang siluman capung. Meski demikian, Kum Kecho masih sempat mengeluarkan kesaktian unsur cahaya sehingga sekitar 30 persen kekuatan jurus lawan menyusut.

Kum Kecho yang sudah hampir kehabisan tenaga dalam beberapa kali memuntahkan darah. Tubuhnya pun terlontar belasan meter ke udara. Binatang siluman capung segera terbang menyusul dan menyambut tubuh majikannya di atas pundak. Lalu, capung tersebut melesat cepat memenuhi perintah untuk melarikan diri.

“Bedebah!” umpat remaja bertubuh gelap.

“Apakah kami perlu mengejar?” Salah seorang remaja berujar cepat.

“Kalian berdua segera susul dia… Kemungkinan ia mengetahui tentang jati diriku. Jikalau tak bisa menangkap hidup-hidup, habisi nyawanya!”

Sepasang remaja lelaki dan perempuan bergerak sigap tanpa tanya menyusul ke arah terbang capung.

“Pawang binatang siluman dan kesaktian unsur cahaya…,” gumam si Raja Angkara kesal. “Mungkinkah ia keturunan dari betina itu...?”

“Yang Kelam Raja Angkara… bagaimana dengan anak yang sebelumnya berhasil melarikan diri?” seorang remaja lelaki menantikan perintah selanjutnya dari remaja berkulit gelap.

“Khikhikhi….”

Bintang Tenggara tiba di dalam tembok sisi barat Perguruan Maha Patih. Hari ini, keberuntungan sungguh berpihak pada dirinya. Ia sepenuhnya menyadari bahwa dirinya tadi benar-benar bagai telur di ujung tanduk. Siapakah gerangan ahli yang menyelamakan dirinya dengan menebar cahaya?

“Bintang Tenggara, apa yang harus kita lakukan…? Aku menyaksikan tubuh murid Perguruan Maha Patih meledak!” seru Gundha yang tergopoh-gopoh menghampiri Bintang Tenggara.

“Ayo, segera kita melapor!”

Bintang Tenggara bersama Gundha lalu mendatangi bangunan khusus panitia. Di Balai Panitia ini, setiap perguruan yang ikut serta dalam Kejuaraan Antar Perguruan berhak mengajukan pertanyaan atau keluhan.

“Kami hendak melapor,” ucap Gundha cepat.

Seorang petugas lalu mengeluarkan secarik kertas dan hendak mulai mencatat.

“Apakah di tengah malam ada keluhan yang mendesak?” sela suara lelaki setengah baya terdengar santun.

Bintang Tenggara menoleh dan menemukan Ketua Panitia, seorang Maha Guru dari Perguruan Maha Patih, menghampiri dirinya dan Gundha. Bintang Tenggara sempat mencuri dengar pembicaraan lelaki tersebut dengan remaja berponi… Maha Guru ini juga mengemban tugas menjaga citra Perguruan Maha Patih selama Kejuaraan berlangsung.

Menyadari siapa tokoh yang hendak mendengarkan laporan, Gundha segera menyampaikan runtutan kejadian yang berlangsung. Penjabaran di mulai dari murid Perguruan Maha Patih yang diculik, lalu menjadi korban orang-orang tak dikenal, sampai bagaimana mereka berhasil menyelamatkan diri.

Maha Guru yang merangkap Ketua Panitia itu terlihat terkejut. Beliau segera menugaskan beberapa orang murid Perguruan Maha Patih untuk menemani Gundha dan Bintang Tenggara kembali ke penginapan mereka. Beliau juga berjanji akan segera menyelidiki dan memberikan kabar berita secepat mungkin.

“Namaku Segoro Bayu. Kalian beristirahatlah terlebih dahulu. Esok pagi kemungkinan kami akan meminta keterangan lebih lanjut.”

“Murid Perguruan Gunung Agung Bintang Tenggara dan Gundha, Maha Guru Segoro Bayu mengundang kalian ke Balai Panitia.”

Bintang Tenggara terlihat mengantuk. Ia dan yang lainnya sedang melakukan pemanasan sebelum memulai latihan pagi.

“Hei! Kita perlu berlatih…,” hardik Canting Emas.

“Pergilah,” ujar Sesepuh Ketujuh mengijinkan.

“Kakak Rambut Poni,” tegur Bintang Tenggara kepada murid Perguruan Maha Patih yang menjemput mereka, “seperti apakah kakak bertahi lalat dulu?”

“Namaku bukanlah Rambut Poni… Namaku… Poniman,” ucapnya resah.

“Kakak Poniman, seperti apakah keseharian kakak bertahi lalat itu?” ulang Bintang Tenggara.

Poniman hanya diam. Sepertinya ia sungguh sedang berduka.

“Namanya adalah Wirabraja…,” ujar Poniman. “Ia adalah salah seorang murid tahun kedua di Perguruan Maha Patih.

“Walau… sungguh aneh bagiku mengapa ia digolongkan sebagai Murid Purwa,” lanjut Poniman sambil melangkah. “Padahal, dengan bakat persilatan dan kesaktian unsur air yang dimiliki, setidaknya Wirabraja layak digolongkan sebagai Murid Madya, bahkan mungkin Murid Utama.”

“Hm…?” Bintang Tenggara terlihat penasaran.

“Bahkan, kecerdasannya berada di atas rata-rata murid dan kepribadiannya sungguh tiada cela…,” tambah Poniman.

Sungguh pelik, pikir Bintang Tenggara. Jika kata-kata Kakak Poniman benar adanya, maka bukankah Perguruan Maha Patih melanggar prinsip dasar mereka tentang non diskriminasi?

“Selamat pagi!” ujar Maha Guru Segoro Bayu menyambut.

“Salam Hormat, Maha Guru!” jawab Bintang Tenggara, Gundha dan Poniman.

“Aku tak akan mengambil waktu kalian terlalu lama, sang Maha Guru membuka pembicaraan. “Regu yang kutugaskan semalam tak menemukan apa-apa. Mungkin mereka menyisir wilayah yang salah….”

Dengan demikian, Bintang Tenggara, Gundha, Poniman beserta Maha Guru Segoro Bayu dan beberapa murid Perguruan Maha Patih lain menyusuri hutan di luar tembok barat Perguruan Maha Patih.

“Hah!?” Gunda menyeringai. Jelas bahwa ia terkejut bukan kepalang.

Anak remaja itu berdiri tepat di bawah pohon di mana pada malam sebelumnya dirinya terikat. Namun, di sekeliling wilayah tersebut tak ada keanehan sama sekali. Kedua matanya bertatapan dengan Bintang Tenggara, yang juga terlihat kebingungan.

Bintang Tenggara menyisir tempat yang ia rasakan sebagai pusat ledakan tubuh Wirabraja, diikuti Gundha. Keduanya yakin sekali bahwa pada malam sebelumnya terdapat gumpalan daging dan tulang yang berserakan. Kalau pun ada pihak yang memungut sisa-sisa tubuh manusia, maka hampir tak mungkin membersihkan dari bercak darah yang tersebar kemana-mana. Bahkan, serangga seperti lalat yang biasa tertarik pada aroma bangkai pun tak terlihat beterbangan!

“Apakah kalian yakin ini tempatnya?” Maha Guru Segoro Bayu hendak memastikan sekali lagi.

“Benar,” jawab Bintang Tenggara cepat. Akan tetapi, benaknya berpikir deras. Sungguh tak mungkin membersihkan wilayah ini dalam setengah malam.

Bintang Tenggara dan Gundha berjalan dan mengamati sekeliling, namun masih tak ada tanda-tanda sama sekali. Setetes bercak darah pun tak terlihat. Jurus atau alat sakti seperti apakah yang dapat membersihkan suatu wilayah yang sebelumnya terlihat persis seperti rumah jagal!?

“Tidak mungkin!” Gundha masih saja berupaya mencari bukti atas kejadian semalam.

“Hm… mungkinkah kalian dikerjai oleh murid-murid iseng?” keluh Maha Guru Segoro Bayu. Ibu jari dan telunjuk tangan kirinya mengusap-usap dagu.

“Mungkin saja…,” jawab seorang murid Perguruan Maha Patih yang menyertai sang Maha Guru.

“Masih ingatkah Maha Guru kejadian beberapa tahun lalu… dimana sekelompok murid membuat perangkap halusinasi untuk mengerjai teman-temannya…” Salah seorang murid lain menimpali.

“Benarkah demikian…?” Maha Guru Segoro Bayu terlihat sedikit curiga.

“Jadi, terdapat kemungkinan bahwa Wirabraja sesungguhnya masih hidup!” teriak Poniman melihat secercah harapan.

“Mari kita kembali ke Perguruan. Nanti aku akan mengirimkan regu ke wilayah ini untuk menelusuri lebih jauh…,” ajak sang Maha Guru.

Dengan penuh tanda tanya, Bintang Tenggara dan Gundha mengikuti rombongan Perguruan Maha Patih kembali.

“Bintang Tenggara dan Gundha, kalian berdua kembalilah ke penginapan Perguruan Gunung Agung. Akan tetapi, kumohon untuk sementara waktu ini tidak menyebarkan informasi perihal kejadian ini. Janganlah menimbulkan kepanikan sebelum kita menemukan titik terang.”

Bintang Tenggara berpikir keras sepanjang perjalanan kembali. Ingin rasanya ia membolak-balik Buku Pandai Persilatan dan Kesaktian untuk menelusuri tentang jurus atau alat yang dapat menyapu bersih suatu wilayah. Lagipula, ia yakin seyakin-yakinnya bahwa kejadian semalam bukanlah halusinasi. Aneh sangat.

“Gundha,” tegur Bintang Tenggara. “Apakah semalam engkau menyimpan pakaian yang kau kenakan sesuai permintaanku?”

“Iya. Ini adalah pakaian yang kukenakan semalam,” jawab Gundha sambil menyodorkan seonggok kain.

“Apakah ini bercak darahmu?”

“Bukan! Semalam aku tak terluka.”

Mungkinkan ini bercak darah Wirabraja? batin Bintang Tenggara. Jarak pohon dimana tubuh Gunda terikat dan lokasi tubuh Wirabraja meledak memang tak terlalu jauh. Bila benar darah Wirabraja yang menempel di pakaian Gundha, maka kejadian semalam tentu bukan halusinasi.

Bintang Tenggara berpikir keras. Benaknya tak dapat menyingkirkan keanehan perlakuan si Maha Guru Ketua Panitia ketika berbicara dengan Poniman saat pertama melaporkan kecurigaan menghilangnya Wirabraja... Dibandingkan dengan ketika dirinya dan Gundha yang melapor, perlakuan lelaki setengah baya tersebut sangatlah bertolak belakang.

Sebagai ketua panitia, Maha Guru itu juga mengemban tugas menjaga citra Perguruan Maha Patih selama Kejuaraan berlangsung. Mungkinkah ia berupaya menutup-nutupi kejadian ini karena tak hendak mempermalukan Perguruan Maha Patih? Bintang Tenggara mulai sedikit curiga.

“Hei, Bintang Tenggara!” sergah Canting Emas seperti biasa. “Tak bisakah engkau memusatkan pikiran dalam berlatih!?”



Catatan:

*) Dalam Episode 65, Balaputera juga pernah menyampaikan tentang ‘keunikan’ unsur kesaktian Kum Kecho

**) Anatomi ikan sembilang mirip dengan ikan lele. Bedanya, ikan sembilang tinggal di laut dan berbisa.