Episode 14 - Seleksi Asrama



“Selamat datang di gelanggangnya Goro! Silakan duduk dengan nyaman di tempat yang sudah disediakan.”

“Gelanggang Goro sudah menanti! Duduklah dan nikmati pertandingannya.”

“Duduk dan tontonlah acara sakral di gelanggangnya Goro!”

Begitu banyak suara yang menggema, tetapi menjurus pada satu tujuan; mempromosikan sesi turnamen di arena milik sang naga mengerikan. 

Penuh kegarangan, Goro bergelung di tengah gelanggangnya. Mata merah monster itu sangat kentara, bagaikan lentera di tengah malam. Mengawasi aktivitas demi aktivitas yang terjadi di sekitarnya

Dari arah berlawanan—tepatnya di depan lorong-lorong gelap—terlihat gerombolan orang yang memandang sang naga. Sebagian masih tegak, sementara sisanya gemetar terlumat takut.

“Apa kita akan melawannya?”

“Se-semoga aja Guardian-ku bisa melawannya.”

“Waduh! Ka-kalo begini bisa-bisa aku langsung kalah.”

Keluh demi keluh senantiasa terdengar, terus saja sampai-sampai yang awalnya membusungkan dada mulai beringsut pelan-pelan. 

Faktanya, seberingas apa pun Goro, dia tetaplah makhluk mimpi yang tak kuasa melukai lucid dreamer.

“Ta-tapi, tapi aku tidak mau berakhir di sini,” ujar lelaki botak berpeluh dingin.

“Kita nggak pantas buat ajang semacam ini,” timpal gadis berambut ikal, wajahnya pucat.

Berbeda dari yang lain, seorang pemuda tampan berpakaian kasual justru melempar sorot mengancam pada sang naga. Rambut pirangnya berkilat-kilat diterpa sinar mentari, berpadu dengan kulit putih bersih. Kala menatap, iris hitamnya kian bulat.

“Aku nggak setuju, Miku.” Dia melirik si gadis ikal. “Menurutku siapa aja berhak ikutan turnamen Oneironaut, biarpun kita nggak berteman sama orang-orang bertopeng.”

“Taki, kamu nggak takut ya sama naga itu?”

“Nggak! Lagian ini cuma sebatas mimpi. Kalau kalah, paling-paling kita bakalan bangun di kasur lalu ngelakuin rutinitas di dunia nyata,” ujar si pemuda pirang. Sampai sejauh ini, orang-orang memanggilnya Taki.

Di sisi lain, Arya dan Jackal hampir mencapai ujung lorong. Terbukti dari secercah cahaya yang merebak menandingi redupnya obor-obor. Mata Arya kian membulat kala dirinya sampai di zona transisi—antara gelap dan terang—lalu melongo ketika menyaksikan puluhan orang yang berkumpul tepat di hadapannya.

“Wah! Ternyata sudah banyak yang datang,” katanya.

“Tak perlu dipikirkan. Ini bukan pertandingan kita.” Jackal menimpali.

“Apa lagi ini, Jackal? Aku benar-benar tidak mengerti ucapanmu,” protes Arya.

Tanpa berceloteh lebih panjang, Jackal bergegas menarik lengan Arya, membawanya ke sisi kiri gelanggang, tepatnya ke tribun yang sudah penuh sesak akan penonton.

Tribun yang cukup besar, tersusun atas enam tingkat dengan tempat duduk panjang yang mengelilingi gelanggang. 

Arya tak habis pikir mengenai asal muasal para penonton itu, sungguh. Bagaimana tidak? Sepanjang perjalanan tak satu pun didapatinya pemukiman atau rumah minimalis selain di hutan kenari. Satu-satunya yang menemani perjalanan pemuda tersebut hanyalah panas serta pasir.

Jika ditaksir-taksir, sepertinya ada sekitar lima puluh ribu orang yang menyempatkan diri guna menyaksikan pertandingan ini. Mereka berteriak-teriak kegirangan, sebagian juga sibuk menenggak air kelapa muda, kemudian sebagian lagi tampak asyik mengutak-atik alat menyerupai teropong emas.

“Kita akan jadi penonton?” Arya coba menebak ke mana arah dari perbuatan Jackal.

“Bukan, kita adalah pemantau.” Jackal menerobos gerombolan manusia berjubah usang. “Pemantau bukan hanya sekadar menonton, tetapi juga menganalisis setiap pertandingan.”

“Syukurlah kalau begitu. Kukira naga bernama Goro itu akan jadi lawanku.”

“Goro hanyalah awal. Tes yang lebih sulit sedang menunggumu.”

Sejurus dengan omongan Jackal, tiba-tiba Goro bangkit. Mengibas-ngibaskan ekor martilnya yang mengilap lalu memutar bola mata merah itu sekali lagi.

“Akhirnya.”

Sang naga telah bangkit bersama raungan menyeramkan. Para penonton, bukannya takut, justru bersorak gembira. Mereka seolah meluapkan antusiasme seiring lantangnya gerungan Goro, kendati di tengah arena terlihat para lucid dreamer yang menyiagakan diri. 

Sedetik berikutnya Goro mengalihkan pandang ke tribun kiri, tempat Jackal dan Arya duduk bersama duta Pandora yang lain. 

“Satu, dua.” Monster itu tampak menghitung. “Lima. Ini sudah cukup.”

Benar saja, kursi di deretan Jackal dan Arya merupakan zona spesial, di mana hanya duta Pandora bersama muridnya yang diperbolehkan duduk. Tempak yang strategis untuk memantau pertandingan jika menilik letaknya yang ada di tingkat ketiga.

“Nama saya Goro,” ujarnya memadamkan keramaian. “Selamat datang di gelanggang milik saya. Di sinilah tes seleksi asrama akan dilaksanakan. Perlu diingat, tes ini menentukan tempat tinggal lucid dreamer selama mengikuti turnamen Oneironaut.”

“Aku jadi penasaran,” gumam Arya keheranan.

“Tentang apa?” sahut Jackal. 

“Tata cara tes ini. Gadis yang kita temui di padang pasir itu pernah bilang kalau lucid dreamer yang didampingi duta Pandora adalah lucid dreamer yang hebat. Sementara di sini, didikan duta Pandora justru dijadikan pengamat pertandingan. Itu artinya pertarungan yang terjadi hanya seputar lucid dreamer biasa-biasa saja, bukan?”  

“Pikiran Anda terlalu pendek. Bodoh, kalau kata saya.” Jackal bersedekap. “Biar bagaimanapun, lucid dreamer yang berhasil melalui tes pintu kecocokan merupakan kontestan di atas rata-rata, kendati di antara mereka pasti masih ada yang kurang kompeten. Akan tetapi, bisa saja kemampuan mereka bisa lebih hebat dari murid-murid duta Pandora.”

“Kalau begitu artinya berada di bawah didikan duta Pandora bukan tanda bahwa kami adalah lucid dreamer yang hebat?” tanya Arya.

“Seharusnya begitu. Duta Pandora hanya akan berburu lucid dreamer hebat demi mempertahankan peringkat mereka. Itulah teori dasarnya. Namun, ada kriteria lain yang memengaruhi penilaian kami.”

“Begitukah?” Arya menengok sang guru.

“Benar.”

“Aku … masih tidak mengerti.”

“Bodoh.”

Angin panas menderu-deru, membawa serta butiran pasir yang meliuk-liuk ke angkasa. Dalam lingkup arena seukuran lapangan bola, Goro melebarkan kedua sayapnya, juga mengangkat leher panjangnya itu tinggi-tinggi. Terhitung dari saat ini, sudah ada lebih dari dua puluh kontestan tes seleksi asrama di depan lorong-lorong gelap.

“Saya akan menyampaikan peraturan dari tes ini,” katanya. “Inti dari seleksi asrama adalah duel antar lucid dreamer. Dua orang kontestan akan dipanggil berdasarkan waktu ketibaan mereka di gelanggang ini. Setelah itu, keduanya dipersilakan bertarung sesuka hati. Yang menang diperbolehkan memilih satu dari empat asrama yang disediakan: Asrama Siang, Malam, Sore, dan Fajar. Sementara yang kalah akan ditempatkan ke asrama yang dipilihkan oleh pihak yang menang.”

“Peraturannya nggak terlalu sulit,” ujar Taki.

“Tapi lawan kita belum tentu selevel sama peraturannya, kan?” sahut Mizu.

“Nggak usah dipikirin. Yang penting kita harus ngeluarin semua tenaga di tes ini. Harus semuanya, supaya kita bisa selevel sama lucid dreamer manja.”

“Manja?” Mizu penasaran.

“Itu kata buat lucid dreamer yang dibantu sama orang-orang bertopeng. Mereka itu sebenernya nggak pantas ada di turnamen ini. Dan, aku yakin kalau mereka nggak sehebat yang kita kira.” Pandangan Taki menusuk tepat ke sorot datar Arya.

“Apa-apaan orang itu.” Arya berdesis.

Terus dan terus saja, kelima lorong gelap tak lepas dari kedatangan lucid dreamer. Mereka yang tanpa pendamping terpaksa berehat di tengah arena bersama lucid dreamer biasa lainnya. Sedangkan lucid dreamer manja (sesuai kata Taki) langsung di arahkan ke tempat istimewa di tribun sebelah kiri. 

Frog dan si hoodie merah contohnya. Mereka yang barusan sampai bergegas menaiki tangga kecil ke tingkat tiga guna menakimati pertandingan yang sebentar lagi akan dihelat.

Si hoodie merah—yang tampangnya pucat serta bermata hijau zamru—mengekor di belakang Frog. Sekali lagi, pandangannya bertemu dengan Jackal. Perselisihan kecil telah mengawali pertemuan mereka, dan kini keduanya harus dipertemukan dalam satu tribun, lebih-lebih di deret yang sama.

“Oy, Jackal!” sapa Frog begitu riangnya. “Udah siap untuk kalah?”

Jackal hanya diam. Wajahnya berpaling ke arena, tiada bergerak sedikit pun lagi. Mendapati hal tersebut, Frog justru terkekeh. Ia merasa sudah melampaui posisi Jackal yang ada di puncak peringkat, padahal seharusnya dia malu berbuat demikian di hadapan duta Pandora lain.

“Perlu saya ingatkan! Sepanjang pertandingan akan ada waktu-waktu tertentu di mana saya akan datang dan mengacau pertandingan. Siapa pun yang kurang sigap dan terkena serangan mematikan, maka akan langsung dieleminasi. Sebaliknya, barang siapa yang dengan cekatan membuat saya menyerah, maka dia berhak menjuarai tes ini.” Goro menjelaskan. “Untuk babak pertama, lucid dreamer yang pertama kali menjejakkan kaki di gelanggang ini; KAGAMI TAKI! Akan berhadapan dengan lucid dreamer yang sampai di urutan kedua; SARASVATI!” Riuh penonton seketika menggema. 

“Baiklah! Di akhir tes ini, AKU BAKALAN MEMILIH ASRAMAKU SENDIRI!” Taki berseru.

“Semangat, Taki!” tambah Mizu. “Semoga lawanmu nggak sulit.”

Sesegera mungkin, Goro memerintahkan semua kontestan tes beralih ke tribun sebelah kanan di deret pertama untuk menunggu giliran. 

Kini yang tersisa hanyalah Taki dengan kaos berlapis jas cokelat bersama seorang wanita berambut hitam panjang di arah yang berlawanan. 

“Hah! Itukan gadis yang waktu itu,” desis Arya menahan kaget.

“Si gadis yang membuat Anda semangat, ya?” celetuk Jackal.

“Bukan seperti itu!” Arya protes. “Gadis bersari kuning waktu itu. Dia yang membuka pintu tanpa keraguan sedikit pun. Ya! Aku ingat betul.” 

“Sarasvati, Goro memanggilnya demikian.”

Bersamaan dengan terbangnya Goro ke angkasa, tes seleksi asrama babak pertama dimulai. 

Tampak begitu tenang, Taki mencoba mengatupkan mata. Segelumit inspirasi menghampiri kepalanya, berbuah menjadi kemampuan untuk melawan. Sesaat membuka mata, sebongkah kubus hitam sudah tergenggam erat di tangannya.

“Aku harus menangin pertandingan ini,” ujar Taki disusul berderaknya kubus tersebut. Pelan-pelan, kubusnya pecah menjadi bongkahan yang lebih kecil lalu bergerak membentuk wujud lain. “Cukup satu tembakan aja!” Tangan Taki kini memegang sebuah pistol gelap berlapis baja.

Dia mulai membidik Sarasvati yang agaknya terlalu lamban untuk menyadari bahwa dirinya berada dalam kompetisi. Mata kanan Taki terpejam, sementara yang satunya bergerilya guna menemukan titik yang tepat.

“DAPAT!!!” 

Sebiji timah panas memelesat ke arah target. Begitu cepat sampai-sampai para penonton kehilangan konsentrasi mereka, terkecuali yang punya teropong emas.

Sedikit lagi dan pastinya Taki akan mengungguli pertandingan. Namun, sesaat seringai di wajahnya nyaris terlukis, tiba-tiba peluru tersebut melenting entah ke mana. Taki tercekat, matanya terbeliak.

Diamnya Sarasvati bukan tanpa alasan, melainkan dirinya punya pelindung tak kasat mata yang mampu menghalau serangan secepat barusan. Tidak menyerah, Taki kembali membidik, kali ini pastinya akan ada agresi besar.

Dentang tembakan senantiasa menggema tatkala pemuda itu melancarkan bertubi-tubi serangan ke arah Sarasvati. Peluru yang keluar sudah tak terhitung, dan Taki hanya butuh hasil untuk berpuas diri. 

Cukup dekat untuk melihat sejauh mana batas kemampuannya.

“APA?!” Dia terkesiap ketika mendapatinya semua pelurunya—yang mulanya saling berkejaran—kini melenting ke sembarang arah satu per satu. Para penonton pun sama kagetnya dengan Taki, terutama pada peluru yang datang bagaikan hujan. Untungnya Goro bergegas merendahkan posisi lalu mengayunkan ekornya sehingga semua peluru terpental ke luar arena.

“Kau pasti bukan lucid dreamer sembarangan, kan?” Taki menatap sengit.

Sarasvati sepakat untuk menggubris omongan Taki dengan serangan balasan. 

Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, seolah dirinya akan menggapai sesuatu. Satu-dua detik kemudian, birunya langit langsung penuh sesak akan cahaya putih, sungguh benderang. Semua penonton melindungi mata mereka, tak terkecuali Arya yang kaget ketika indera visualnya sedikit nyeri.

“Sial! Apa ini?” omelnya.

“Guardian telah dipanggil.”

ZBLAR! 

Guntur seketika menghantam arena pertandingan, menyisakan kemilau yang amat cemerlang beserta embus angin sekencang badai. Asap pekat sontak menyelubungi pertandingan, para penonton lagi-lagi menutupi mata mereka. Terlalu buram untuk menyaksikan pertandingan lebih jauh lagi. 

Meski begitu, Arya masih dapat menilik bayangan Goro yang berputar-putar di atas gelanggang. Agaknya naga itu menganggap hal seperti ini biasa-biasa saja. 

Selama sepersekian detik, semua orang dibuat buta oleh asap putih yang tebalnya minta ampun. Bahkan, ada salah seorang lucid dreamer yang batuk-batuk kekurangan bernapas.

Sesaat asapnya mulai menyusut, barulah tampak apa yang tegak di samping Sarasvati.

“WOOOH!!!”

“KEREN!”

“HEBAT!”

Siapa yang dikagumi dan eksis di antara sorak sorai penonton adalah Guardian-nya Sarasvati. Berdiri di atas retakan sepanjang enam puluh satu sentimeter, dialah manusia gajah dengan belalai yang panjangnya mencapai perut. 

Putih, itulah warna yang mendominasi kulitnya. Dilengkapi mata sebesar ceri, makhluk itu menatap Taki begitu tajam. Perutnya boleh jadi sebuncit semangka, tetapi gading Guardian yang satu ini sudah bagaikan pedang melengkung.

“Gawat.” Taki berucap.


VS