Episode 13 - Tidak Terlalu Lelah




Berbeda dari pesisirnya, Pandora sendiri ternyata berupa daratan luas dengan hamparan langit biru di atas, serta tanah berseling tanaman di bawah. Pohon-pohon kenari berderet lurus, mengikuti sebuah jalan dari bata kuning. Tampaknya nyaman untuk dijejaki, sebab batanya disusun begitu rapi sampai-sampai tiada celah untuk tersandung

Cicit burung memang sudah sepantasnya memanjakan telinga, apalagi kali ini berpadu dengan kelincahan para tupai kelabu yang melompat dari pohon ke pohon. Tangan mereka terlihat mendekap erat buah kenari kecoklatan yang serasa enak disantap. Bukan bagi manusia tentunya, pikir Arya.

Angin berdesau kala dia dan sang guru berlalu di samping rumah minimalis berpagar besi. Terkesan seram jika melirik pekarangannya yang sesak akan daun, merah serta kisut. Akan tetapi, Arya segera menepis segala prasangka miring mengenai dunia yang indah ini. Ia yakin tidak ada yang namanya hantu di Pandora.

“Jadi tempat ini juga punya penduduk?” Arya coba memastikan.

“Iya, sekaligus tidak.”

“Oh, Jackal! Kalau bicara yang jelas. Aku jadi bingung, tahu!” protesnya.

“Memangnya dunia ini sudah jelas buat Anda?” Jackal melayangkan pertanyaan paling mendasar.

Pemuda itu bungkam, cukup lama. Matanya hanya mengerjap-ngerjap canggung karena malu omongan sok hebatnya dibantah telak oleh Jackal. 

Bahu Arya terangkat, sementara tanganya menyelip ke dalam kantung celana jins hitam. Dengan penampilan seperti itu—rambut hitam sekening, tampang datar, jaket katun biru berkerah tinggi, serta celana panjang semata kaki—dia sebenarnya cukup necis. Namun, sifat Arya-lah yang kadang membuat dirinya sendiri terpuruk.

Tak sanggup menyumpal pertanyaan dari Jackal, alhasil Arya cuma bisa memandang langit tak berawan. Iris hitamnya terpaku pada objek misterius yang mengudara di langit. Sontak saja mata pemuda itu menyipit, berusaha memperjelas pandangannya. Sialnya, semakin dipantau justru kian buram.

“A-anu ….” Arya coba memberitahu Jackal. “Ada se—WOY!”

Sekelebat bayangan hitam memelesat dengan cepatnya, menghasilkan terpaan angin yang sanggup menyeret tubuh Arya beberapa jengkal. Dia tersungkur, sedangkan Jackal bertahan di posisi seraya mengawasi yang barusan lewat.

“APA-APAAN ITU?” geram Arya.

Lagi-lagi sebintik objek misterius tercetak di langit. Jaraknya lumayan tinggi sehingga pandangan Arya terganggu oleh teriknya mentari. Akan tetapi, ia yakin kalau bayangan tersebut bukan sekadar berputar-putar di angkasa.

“LIHAT!” Arya berseru.

Dalam sekejap, bintik langit itu melebar, terus saja meluncur ke bawah layaknya tombak raksasa. Desau angin menyeruak nyaring mengisi hutan kenari yang kini bergoyang-goyang cepat. Dedaunan sontak beterbangan, dua-tiga helainya bahkan menampar wajah Arya yang pucat nan datar.

Begitu nyaris menghantam daratan, sepasang sayap bergerigi seketika mengepak di kanan-kiri bayangan tersebut. Sungguh besar lagi gelap, terlebih ujung-ujungnya yang ditumbuhi duri sebesar cula badak. 

Arya tercengang. Bukan bintik langit yang ia temui, melainkan seekor naga hitam sepanjang bis sekolah yang meraung-raung ganas. Mata merah sebulat kelereng dengan lensa vertikal, puncak tubuh yang ditumbuhi gerigi menyerupai gergaji, juga moncong berlapis baja kelabu. Sudah sepantasnya kaki Arya gemetaran kala bertatap muka dengan monster tak realistis.

Naga tersebut mendarat di atas jalur bata kuning. Keempat kakinya yang super besar menghasilkan suara ‘gedebam!’ yang begitu menyeramkan. Kumpulan burung gereja saja sampai terbang berhamburan. Namun, bukan itu cara Jackal memposisikan diri. Dia justru mendekati sang naga berekor martil dengan tenang.

“Apa maksud kedatangan Anda, Goro?” ujarnya.

“KACAU! Sudah saya bilang semuanya akan kacau bilamana dia dijadikan bagian penting. Orang itu bukan makhluk hidup sungguhan.” Sang naga bersuara parau. Leher panjangnya meliuk-liuk kala bicara.

“Kita bisa membicarakan ini nanti,” ucap Jackal.

“TIDAK! Sama sekali tidak. Saya ditugasi sebagai dewan seleksi asrama untuk suatu alasan. SANGAT TIDAK ADIL!” Goro merayap mengelilingi Jackal yang berdiri jauh di depan Arya.

“Saya akan merundingkannya dengan yang lain.”

“Hanya boleh ada delapan penjelajah mimpi di Pandora. Apabila aturan itu dilanggar, maka keburukan akan menjangkiti dunia ini. Anda sudah berani menentang Owner,” protes Goro.

“Beri aku waktu untuk menye—“

“TIDA—“

“DIAMLAH, NAGA SIALAN!” Suara Jackal menggelegar. “Tidak akan ada hal buruk yang menjangkiti Pandora. Saya berjanji. Sekarang pergilah!”

“Anda tidak akan lolos dari semua ini.” Sang naga berpetuah seraya mengepakkan sayap-sayap lebarnya, lalu tak berapa lama kembali mengudara ke angkasa. 

Jackal menengadah sejenak bersama lengannya yang bertaut di dada. Janji barusan lebih menyerupai celoteh baginya. Sebab, memanglah dia sudah melanggar aturan. 

Sesuatu yang buruk tengah mengintai para lucid dreamer, pun demikian duta Pandora yang terkenal kehebatannya. Semua ini berakar pada memori yang merepotkan.

“Temanmu, kah?” Arya memberanikan diri mendekat. 

“Dia yang akan mengatur tes selanjutnya.” Jackal berbalik, melanjutkan langkah kakinya yang sempat berehat.

“Tunggu, tunggu! Apakah aku akan menghadapinya? Naga besar itu?” Arya jadi kelabakan.

“Kita akan lihat nanti.”


~~Para Pengendali Mimpi~~


Hutan pohon kenari telah lenyap di ujung sana, berganti dengan bentang tanah tandus beratapkan sinar menyilaukan. Tiada tumbuhan setangkai pun, melainkan tumpukan pasir yang menjamur puluhan meter ke depan. 

Sungguh kontras bila menilik ke belakang, di mana sebelumnya terdapat hutan yang asri. Akan tetapi—di balik panas dan teriknya langit—satu per satu orang mulai terlihat mengisi perjalanan. Agaknya mereka sama-sama lucid dreamer yang ingin sampai ke tujuan.

“Panas.” Sepatah lirih sampai ke telinga Arya.

“Kapan padang tandus ini bakal habis, sih?”

“Haduh! Aku udah kepanasan, nih!”

Setidaknya ada delapan orang yang berjalan di depan sana, tiga di kanan-kiri Arya, dan empat yang tertinggal di belakang. Tiada satu pun orang bertopeng yang terdeteksi oleh matanya. 

Untuk sekarang Arya benar-benar tenang karena yakin mereka semua tidak sehebat dirinya.

“STOP!” Teriakan lantang seketika menggema.

Arya yang asyik menikmati keluhan orang-orang di belakang sontak tercekat. Kaki-kakinya langsung kaku layaknya terinjak lem. 

Bagaimana tidak? Seorang gadis berkulit cokelat eksotis tiba-tiba saja menghadang mereka. Dalam balutan jubah kelabu, lengannya terlihat menyelip keluar dan menahan tubuh Arya yang tingginya setara.

“Woah! Kamu jalan sama orang bertopeng. Pasti kamu orang hebat, kan?” Rambut merah mudah setengkuk gadis itu melambai-lambai kala ia bersuara dengan antusias.

“Pergilah!” celetuk Jackal lalu menarik lengan Arya menjauh.

“Eits! Sabar, dong! Kenalkan, namaku Vida. Aku lucid dreamer dari Meksiko. Sebenernya aku bukan pemimpi yang hebat, sih, tapi kemampuanku masih bisa diadu, kok. Kalau berhadapan dengan gurun panas seperti ini aja, harusnya aku nggak kalah. Semuanya demi impianku untuk jadi orang terkaya di dunia. Makanya—“

“Hentikan! Kami tidak tertarik dengan ceritamu.” Jackal menyela.

Vida yang terbawa suasana sontak terdiam, begitu pun kakinya yang mengikuti langkah Arya dan Jackal. Gadis itu tertinggal di belakang, menatap mereka yang pergi dengan angkuh. Lengkung kecewa tercetak jelas di bibir tipisnya.

“Ternyata memang bener. Orang hebat selalu aja sombong,” katanya.

“Arya Kusuma, itu namaku.” Arya berhenti melangkah. “Aku tidak merasa hebat, sungguh. Akan tetapi, aku juga punya impian untuk dicapai. Jadi, mari bersaing demi impian kita masing-masing.”

Mereka pergi, menembus kabut pasir yang perlahan menutupi pandangan. Vida termenung di antara orang-orang yang melaju ke depan. Mata beriris biru cerahnya mengiringi kepergian Arya yang menyisakan sejuta pesona. Terang saja, dengan raut sedatar itu, cukup mengejutkan bagi Vida mendengar perkataan seperti barusan.

“Arya Kusuma, bakal kuingat namamu sampai kita ketemu nanti.”


~~Para Pengendali Mimpi~~


Delapan puluh meter ke depan, berdiri kokoh, sebuah bangunan melingkar dari bebatuan pualam pilihan, juga marmer sebagai lantainya. Arya yang barusan sampai jadi berpikir-pikir kalau bangunan tersebut menyerupai stadion sepak bola. Bedanya, bangunan yang satu ini terkesan agak kuno. 

Selain lorong-lorong yang menjadi akses masuk, juga jendela setengah lingkaran yang menghias di bagian atas, bangunan ini ternyata difungsikan sebagai arena bertatung, seperti kata Jackal.

“Gelanggangnya Goro. Di tempat inilah Anda akan bertemu dengannya.”

“Dengannya?” Arya mengulang, nada bicaranya tertekan. “Naga yang waktu itu, kah?”

“Benar. Selain itu, seleksi asrama juga akan dilakukan di sini.”

“Apa itu seleksi asrama?” tanya Arya.

“Anda tentunya takkan berada di Pandora selama satu atau dua hari. Itu terlalu singkat. Demi mencapai predikat juara, mendapatkan kenaikan derajat dan mewujudkan ambisi, Anda diharuskan menjalani serangkaian tes turnarmen jangka panjang.” Jackal menjelaskan.

“Hah?” respons Arya. “Jadi maksudmu aku harus mendekam di dunia ini? YANG BENAR SAJA!”

“Untuk sekadar informasi, Pandora bukan dunia yang terikat dengan waktu. Kami hanya mengenal konsep ruang, sehingga Anda tidak perlu mengkhawatirkan rutinitas di dunia nyata.” 

“Begitu, kah?” Kurasa tidak ada ruginya memilih asrama di Pandora.” Arya menyeringai senang.

“Omong-omong, saya sudah memilihkan asrama untuk Anda.” Jackal beringsut ke arah salah satu lorong gelap.

“Oy, Jackal! Tunggu dulu! Asrama apa yang kau pilihkan untukku?” Arya berteriak-teriak seraya menyusul sang guru.

Kendati di luar adalah padang pasir terpanas yang pernah dirasakan oleh siapapun, nyatanya ketika memasuki lorong, dinginnya dinding pualam segera menyapa kulit Arya. Begitu sejuk sampai-sampai ia menghela napas keenakan.

Lorong itu cukup panjang, dan setiap beberapa jengkalnya disediakan obor sebagai penerangan. Tiada suara yang menggema selain tapak kaki Arya dan Jackal, juga derik api yang menyambar-nyambar. Perjalanan mereka nyaris tenang tanpa gangguan, terkecuali Arya yang kelewat penasaran mengenai asramanya

“Beritahu aku, Jackal. Kau orang yang baik, bukan?” Dia berucap tepat di telinga kanan Jackal.

“Diamlah! Anda akan mendapatkan tempat yang layak. Jadi tak perlu khwatir.”

“Hmm … tapi kan aku cuma ingin tahu,” gerutu Arya. “Jangan-jangan kau sengaja pilihkan aku ditempat yang paling jelek, ya?”

“Tidak akan! Sebagai murid panitia nomor satu di turnamen ini, Anda pastinya akan diberikan kemudahan. Entah itu asrama, pelayanan, atau pun akses langsung terhadap duta Pandora.”

“Wah-wah!” mata Arya berbinar-binar. “TERIMA KASIH BANYAK, GURU!” Dia melangkah cepat mendahului Jackal lalu menjabat tangan lelaki bertopeng itu erat-erat.

“Hentikan! Tukarlah kata terima kasih itu dengan kemenangan di turnamen nanti.” Jackal menarik lengannya dengan kasar.

“Baiklah, Guru.” Arya menyengir geli. “Ah! Omong-omong karena tinggi kita sama, aku jadi penasaran dengan usiamu. Oy, Jackal! Berapa umurmu?”

“Bukan urusan Anda. Kita tidak mengenal usia di Pandora. Yang ada hanyalah ambisi.”

Mendapat respons yang kurang baik, Arya hanya mengangguk ringan. Dirinya tak ambil pusing mengenai hal sepele itu, sebab apa yang menunggu di depan jauh lebih baik dari apa pun yang pernah dibayangkannya.

“Aku sudah tidak sabar memenangkan turnamen ini,” ujarnya antusias.