Episode 90 - Cahaya?



Mendengar pesan dari anggota Pasukan Telik Sandi, Bintang Tenggara memutar langkah. Ia bergegas ke arah barat. Hanya awan yang menggantung nun jauh di atas langit yang menemani. Berkat dorongan angin, awan-awan menyibak rembulan setengah. Suasana malam terasa semakin dingin. Wilayah barat Perguruan Maha Patih adalah tempat yang paling sepi.

Firasat Bintang Tenggara mengatakan bahwa sesuatu yang janggal sedang berlangsung. Gundha adalah seorang murid yang sangat sederhana dan taat, ia tak akan pergi begitu saja tanpa mengabari Sesepuh Ketujuh. Menurut penjaga gerbang berambut poni, adik seperguruannya juga adalah murid yang sangat disiplin. Apakah murid-murid yang baik hati sedang diincar? Apakah ada perisak di perguruan?

Bintang Tenggara tiba di wilayah barat Perguruan Maha Patih. Ia mengamati sekeliling. Belum ada yang menarik perhatian. Langkah kakinya bergerak semakin jauh. Sebuah tembok setinggi dua orang dewasa terlihat megah membentengi antara sisi dalam dengan sisi luar perguruan.

Tetiba Bintang Tenggara memacu langkah. Kedua matanya samar-samar menangkap sesuatu di atas tanah tak jauh dari tembok tinggi. Setibanya, ia segera mengamati sebongkah batu berukuran sebesar seekor kambing…

“Jurus Tanadewa…,” gumam Bintang Tenggara pelan.

Masih segar dalam ingatan Bintang Tenggara tentang kemampuan jurus kesaktian unsur tanah milik Gundha. Keduanya berhadapan di Perguruan Gunung Agung beberapa bulan lalu. Gundha menggunakan kesaktiannya untuk memadatkan tanah dan mengubah massanya menjadi batu. Lalu, ia membuat bebatuan berbaris menyerang lawan, atau menjadi pilar tunggal untuk menahan serangan. Tambahan lagi, bentuk ketiga jurus Tanadewa adalah dimana Gundha mendorong bebatuan menggunakan pilar yang mencuat cepat dari permukaan tanah.

Bintang Tenggara memeriksa bongkahan batu yang tertancap di tanah tersebut. Dari kemiringannya, maka dapat dipastikan bahwa batu tersebut dilesatkan dari arah luar tembok barat Perguruan Maha Patih. Ia lalu memeriksa tanah yang tersibak akibat pendaratan. Masih sangat gembur, pikirnya. Mungkin beberapa jam yang lalu…

Gundha berada dalam bahaya! Bintang Tenggara menyimpulkan dalam hati.

“Hop!” Bintang Segera melompat ke atas tembok.

Kedua matanya menatap hamparan hutan lebat di sisi luar tembok. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan… Aneh sekali, tak ada penjagaan di sisi barat Perguruan Maha Patih. Mungkinkah karena wilayah ini tak menampung penginapan perguruan…?

Bintang Tenggara menimbang-nimbang. Bila Gundha berada dalam bahaya beberapa jam lalu, maka mungkin tak ada waktu baginya untuk kembali dan memanggil orang-orang. Ia pun segera melompat ke sisi luar tembok dan menelusuri ke arah yang diperkirakan merupakan asal batu.

Bintang Tenggara memacu langkah. Tak sampai lima menit, tetiba ia berhenti. Di hadapannya terlihat deretan batu-batu yang mencuat dari tanah. Lalu, ada pula sebuah pilar batu besar dan tinggi.

Gundha bertarung di sini! Bintang Tenggara membatin. Siapa gerangan lawannya? Ke arah mana ia pergi? Tunggu…

Satu per satu formasi Segel Penempatan telihat samar muncul di udara. Tak lama, Bintang Tenggara melenting-lenting tinggi. Di udara, ia menyaksikan susunan pilar-pilar batu seolah membentuk anak panah dengan pilar terbesar sebagai ujungnya.

….

“Aakkhh….” Rintih rasa sakit yang tak terbendung terdengar pilu.

“Pyar!” suara ledakan sembab yang disusul oleh daging dan darah yang berhamburan tak menentu.

“Cih! Tubuh yang ini juga tak sesuai….” Terdengar keluhan dari seorang remaja bertubuh gelap.

“Yang Kelam Raja Angkara… masih ada satu lagi tubuh yang kebetulan datang mengantarkan diri...,” ucap seorang gadis penuh harap.

Remaja berkulit gelap menoleh ke arah seorang remaja yang sedang terbungkus formasi segel berbentuk jaring-jaring di sebatang pohon. Asap-asap kemenyan menyingkap tebal dari pori-pori sekujur tubuhnya.

“Khikhikhi….”

Di saat jelang petang, sekira enam jam sebelumnya, Gundha yang sedang berhati girang karena kemenangan pertama Perguruan Gunung Agung melangkah seorang diri ke arah Perguruan Budi Daya. Ia hendak berkenalan sekaligus bertukar pikiran dengan sesama ahli dari perguruan yang dikenal dengan kelebihan atas kesaktian unsur tanah.

Dalam perjalanan, Gundha menyaksikan seorang remaja melangkah resah. Ia mengenal remaja tersebut sebagai seorang Murid Purwa di Perguruan Maha Patih, sekaligus salah seorang yang bertugas menjaga gerbang. Ia ketahui juga, bahwa murid tersebut adalah yang mengantarkan Bintang Tenggara. Berkat anak remaja tersebut, teman seperguruannya dapat tiba tepat waktu untuk mengikuti ujian usia dan keahlian, sebagai prasyarat Kejuaraan Antar Perguruan.

Sebagai salah seorang murid dari Perguruan Gunung Agung, Gundha merasa perlu turut menyampaikan rasa terima kasih. Sederhana saja pemikirannya. Ia pun mengikuti remaja dengan ciri khas tahi lalat di atas bibir tersebut. Tak lama, langkah kaki membawa dirinya ujung barat Perguruan Maha Patih. Sepi sekali di sana.

Betapa terkejutnya Gundha ketika tetiba menyaksikan remaja bertahi lalat di atas bibir disergap. Empat orang ahli menggunakan jurus kombinasi segel yang berbentuk jejaring, lalu membawa korban mereka keluar tembok Perguruan Maha Patih. Perisakan oleh murid sesama perguruan, adalah yang pertama terlintas di dalam benak Gundha. Ia pun segera mengikuti dengan niat untuk membantu.

Dalam perjalanan, kehadiran Gundha yang mengikuti disadari oleh para penculik. Satu di antara mereka lalu menghadang. Dalam pertarungan, Gundha lalu menyadari bahwa kemungkinan yang terjadi adalah lebih dari sekadar perisakan sesama murid. Lawan yang ia hadapi penuh dengan nafsu membunuh!

Gundha yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 6 tak berkutik di hadapan lawan yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9. Di tengah pertarungan, Gundha sempat berpikir untuk melarikan diri, namun lawan terlalu tangguh.

Tak berputus asa, Gundha lalu berpikiran untuk memberi penanda lokasi dan berharap akan ada yang datang menyelamatkan. Menggunakan jurus kesaktian Tanadewa, ia lesatkan sebongkah batu besar ke arah Perguruan Maha Patih. Lalu, ia kerahkan jurus pilar-pilar batu ke sana kemari, sehingga bila dilihat dari udara akan membentuk anak panah penunjuk arah.

“Apa yang kalian lakukan!?” sergah Bintang Tenggara, yang datang sebagai juru selamat untuk memenuhi harapan dan upaya Gundha.

Remaja lelaki berkulit gelap menghentikan langkah ke arah Gudha. Ia pun menoleh ke belakang. Asap kemenyan menari-nari, membuat sosoknya terlihat demikian angker.

Gundha menarik napas panjang. Degup jangtungnya berangsur normal. Bagaimana tidak, ia baru saja menyaksikan pemandangan yang sungguh mengerikan. Tubuh remaja penjaga gerbang, yang bertahi lalat di atas bibir, tadi menggelembung ketika asap-asap kemenyan meresap paksa ke dalam tubuh. Setelah itu, tubuh yang nyatanya tak sanggup menampung beban besar lebih lama lagi, hancur bercerai-berai. Kemudian, dirinya pun menjadi sasaran berikutnya!

“Tubuh yang bagus!” seru remaja yang menyibak asap kemenyan ke arah Bintang Tenggara. “Sergap dia!”

Empat orang remaja, dua lelaki dan dua perempuan, segera meninggalkan Gundha yang masih terikat di sebatang pohon. Mereka bergerak tanpa ragu untuk segera meringkus Bintang Tenggara. Pimpinan mereka, remaja yang menyibak asap, juga bergerak mengejar. Mereka menjauh dari posisi Gundha.

Jalinan formasi segel yang berbentuk jaring segera terkembang. Bintang Tenggara melangkah mundur secepat mungkin. Akan tetapi, langkah kakinya tak bisa bergerak cepat karena terhambat semak dan pepohonan. Sedangkan kelima pengejar dapat bergerak lebih leluasa.

“Sret!” Jejaring meringkus Bintang Tenggara!

Tetiba tubuh Bintang Tenggara tak dapat bergerak bebas. Sampai batasan tertentu, segel yang berbentuk jejaring itu berfungsi mengacaukan aliran tenaga dalam. Asap kemenyan pun segera menyibak pekat. Bintang Tenggara seketika meronta tatkala terbungkus kepulan asap!

“Bedebah!” Tetiba terdengar teriakan dari anak remaja yang berniat merasuk tubuh Bintang Tenggara!

“Ini… ini Reka Tubuh!”

Spontan keempat remaja yang menahan tubuh Bintang Tenggara menoleh ke arah Gundha. Sungguh terpana mereka ketika menyaksikan bahwa tawanan yang tadinya ditinggal terikat di pohon telah dilepaskan. Apalagi, yang melepaskan adalah anak remaja yang sama dengan yang saat ini sedang mereka ringkus. Menyadari telah ditipu mentah-mentah, keempatnya segera bergerak kembali ke arah Gundha dan Bintang Tenggara asli.

“Bekuk dia! Aku ingin tubuhnya….”

Beberapa saat lalu, Bintang Tenggara tiba tepat di saat Gundha ditetapkan sebagai sasaran selanjutnya. Meski tak menyaksikan tubuh remaja penjaga gerbang meledak, dari sekali pandang atas lokasi dimana potongan-potongan tubuh manusia berserakan, ia sudah dapat secara garis besar menyimpulkan apa yang telah dan sedang terjadi.

Demikian, Bintang Tenggara segera mengambil sepaket Sirih Reka Tubuh dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi, pemberian Lampir Marapi. Ia memerlukan pengalih perhatian untuk menyelamatkan Gundha. Rasa pahit demi keselamatan teman adalah sebuah pertukaran yang cukup setimpal.

“Lari!” seru Bintang Tenggara yang bersabuk hitam dalam jurus silat ‘langkah kaki seribu’.

Tanpa bertukar kata lebih lanjut, keduanya segera merangsek cepat. Selang beberapa puluh langkah, senyum kecut menghias wajah Bintang Tenggara… Lambat sekali gerakan lari ahli yang menerapkan kesaktian unsur tanah, pikirnya sambil menoleh ke belakang. Terlihat Gundha berupaya setengah mati berlari menyusul.

“Harimau Bara!”

Menyadari bahwa lawan segera menyusul, Bintang Tenggara segera meminta Gundha menunggangi sang harimau. Setelah mengirimkan perintah agar Harimau Bara segera kembali ke Perguruan Maha Patih, ia lalu berdiam diri menunggu empat orang remaja yang mengejar benar-benar menyusul. Lalu ia berencana bergerak memutar agar supaya Gundha mendapat kesempatan melarikan diri.

“Aku tak tahu siapa kalian, tapi ini adalah wilayah Perguruan Maha Patih!” gertak Bintang Tenggara.

Lalu, Bintang Tenggara terpana! Tak satu pun dari keempat pengejar yang mengindahkan gertakan. Keempatnya terus bergerak hendak meringkus. Bahkan, tak ada di antara mereka yang berupaya menyusul Gundha. Sepertinya, perintah yang diberikan oleh pemimpin mereka adalah mutlak.

“Zzzzttt…” Bintang Tenggara segera melangkah cepat dengan mengandalkan kesaktian unsur petir.

Kecepatan lari Bintang Tenggara memang bukan tandingan bagi tiga dari keempat pengejar. Akan tetapi, salah satu dari mereka, seorang gadis belia, sepertinya menerapkan kesaktian unsur angin. Langkah kaki gadis tersebut segera menyusul buruan!

Bintang Tenggara mempercepat langkah lari. Seorang ahli Kasta Perunggu walaupun berada pada Tingkat 9, belum tentu menjadi ancaman bagi dirinya. Sungguh pengalaman di Pulau Dua Pongah meningkatkan rasa percaya diri yang luar biasa tinggi.

“Zzzzttt…” Bintang Tenggara menghindar ke samping di saat lawan hendak menyergap.

Lintasan gerak unsur petir yang tak beraturan membuat bingung lawan yang hendak menyusul. Di saat yang sama, ia memutar tubuh dan melancarkan tiga pukulan cepat. Lawan yang tak menduga akan adanya serangan balik terlambat menghindar.

Meski demikian, bahkan setelah merobohkan seorang pengejar, tetiba Bintang Tenggara merasakan sesuatu yang tak nyaman. Kedua hidungnya menangkap bau kemenyan nan pekat. Tanpa ia sadari, pemimpin mereka telah tiba dan menyibak kesaktian unsur asap. Segera Bintang Tenggara berupaya mengubah arah langkah.

Terlambat! Asap kemenyan telah menyibak pekat di sekeliling tubuhnya. Bintang Tenggara yang terlalu percaya diri tak bisa berbuat apa-apa karena asap yang menyentuh tubuhnya mengacaukan mata hati dan aliran tenaga dalam!

“Khikhikhi…”

Bintang Tenggara terkesiap. Kali ini ia tak sempat mengunyah Sirih Reka Tubuh. Dirinya benar-benar berada di bawah ancaman jiwa. Perlahan namun pasti, ia mulai merasakan asap yang menyerap melalui pori-pori sudah tak bisa terbendung. Dalam kondisi tak berdaya, Bintang Tenggara sungguh-sungguh tak tahu harus berbuat apa…

Tapak Cahaya Suci!

Terbelit rasa takut dan ketakberdayaan, tetiba Bintang Tenggara menyaksikan cahaya yang bersinar terang gemilang di tengah gulita malam dan pekat asap. Entah bagaimana, cahaya tersebut seolah memberi semangat. Cahaya terang juga serta-merta melepaskan dirinya dari cengkeraman asap kemenyan!

Tanpa pikir panjang, Bintang Tenggara segera memanfaatkan kesempatan yang terbuka di saat mustika dan mata hati kembali dapat berfungsi normal. Ia segera melesat cepat menjauh. Samar-samar, sudut matanya sempat menangkap sosok hitam dari balik cahaya yang menyilaukan itu.


===


“Yang Mulia Gubernur Pulau Lima Dendam….”

“Oh? Bupati Selatan… kau sudah kembali?” sang Gubernur berpura-pura bingung.

“Apakah Yang Mulia Gubernur hendak mengirimku ke akhirat secepat itu?” sindir Lintang Tenggara. Walau tengah malam, ia sengaja mendatangi kediaman sang Gubernur sejurus setelah kembali dari Pulau Dua Pongah.

“Hahaha… Jadi, apa yang kau temukan di Pulau Dua Pongah?”

“Apakah Yang Mulia Gubernur hendak mengujiku?” Lintang Tenggara masih kesal.

“Hahaha… Aku menugaskanmu untuk memastikan sebuah kecurigaan yang beralasan,” jawab sang Gubernur santai.

“Diriku tak sempat mempelajari Segel Benteng Bening terlalu jauh… Gubernur Pulau Dua Pongah datang menyerang….”

“Oh?” Gubernur Pulau Lima Dendam kembali berpura-pura terkejut. Akan tetapi, ia menyadari bahwa memang merupakan kesalahannya karena tak berupaya lebih keras untuk menahan kepulangan Gubernur Pulau Dua Pongah.

“… Akan tetapi, kemungkinan besar formasi segel yang melindungi Pulau Dua Pongah itu disusun oleh Ayahanda Balaputera,” ungkap Lintang Tenggara tanpa ragu.

“Hm…? Kecurigaanku benar adanya. Setidaknya, sekira 15 tahun yang lalu, Balaputera sempat singgah ke Pulau Dua Pongah. Dengan mudahnya ia melenggang di dalam wilayah Partai Iblis, tanpa kita sadari….” Wajah Gubernur Pulau Lima Dendam terlihat kecut.

“Apakah tindakan kita selanjutnya?” ujar Lintang Tenggara yang memang ingin memperlajari lebih jauh tentang Segel Benteng Bening.

“Untuk sementara waktu, kita terpaksa merunduk…. Pulau-pulau lain telah mencurigai gerak-gerik kita.”

“Apakah tindakan kita selanjutnya?” ulang Lintang Tenggara. Ia tahu betul jalan pikiran sang Gubernur.

Gubernur Pulau Lima Dendam menatap Lintang Tenggara. “Kita tunggu pergerakan Pulau Satu Garang,” tutupnya.

Lintang Tenggara berpikir dalam diam. Pulau Dua Pongah berisikan para ahli buangan dari Negeri Dua Samudera. Mereka adalah orang-orang yang tertindas dan menjadi korban kesewenang-wenangan. Seorang suami yang istrinya direbut pejabat, petani yang lahannya diambil paksa, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, Pulau Dua Pongah merupakan tempat alternatif bagi anggota Partai Iblis yang hendak hidup dalam damai. Tambahan lagi, pemimpin di pulau tersebut terkenal sangat arif lagi bijaksana.

Pulau Lima Dendam, di sisi lain, adalah tempat ahli yang hendak melakukan penelitian terkait keahlian namun tak bisa meneruskan di Negeri Dua Samudera karena dibatasi oleh etika, moral, tata nilai, atau pandangan semacamnya. Cendekiawan yang dituduh menyimpang, tabib yang dituding melakukan kesalahan pengobatan…. Pulau ini adalah tempat berdiamnya para ahli ‘sesat’ seperti Lintang Tenggara sendiri.

Sedangkan Pulau Satu Garang, lain lagi motivasi penghuninya. Kerajaan Garang yang memerintah di Pulau Satu Garang memiliki kekuatan militer paling besar di Kepulauan Jembalang. Isinya adalah mereka yang haus darah seperti panglima perang yang tak rela hidup damai, pembunuh berantai, algojo, prajurit bayaran… Tujuan mereka adalah menghimpun kekuatan untuk suatu hari menabuh genderang perang menghadapi Negeri Dua Samudera. Akan tetapi, kesempatan tersebut belum kunjung datang, sementara pasukan yang telah dibangun memerlukan sasaran untuk melampiaskan kekuatan.