Episode 89 - Sebongkah batu besar yang tertancap


“Perguruan Gunung Agung meraih kemenangan dalam pertarungan pertama melawan…. Perguruan Nusantara,” terdengar suara orang tua mengabari. “Bintang Tenggara telah bergabung ke dalam regu….”

“Brak!” sebuah dipan hancur berkeping tatkala seorang maha guru dengan parut panjang di wajah sampai ke belakang leher melompat berdiri. Ekspresinya penuh dengan suka cita.

“Kau terlalu berlebihan…,” ujar Maha Guru Kesatu kepada Maha Guru Keempat.

“Hahaha…,” Maha Guru Keempat yang biasa murung tertawa lepas.

“Sesepuh Ketiga, apakah Sesepuh Ketujuh tidak merinci bagaimana mereka meraih kemenangan?” ujar Maha Guru Kesatu dengan nada datar.

“Serangan cepat terhadap lawan yang meremehkan…,” jawab Sesepuh Ketiga. Sebuah lencana terlihat dalam genggamannya.

“Lalu?”

“Canting Emas menyarangkan tiga sodokan lutut ke wajah seorang lawan. Hidung lawan tersebut patah, bibirnya pecah dan giginya lepas…,” ungkap Sesepuh Ketiga menyadari maksud sesungguhnya pertanyaan Maha Guru Kesatu.

“Ck…,” Maha Guru Kesatu terlihat kesal. “Sudah kusampaikan kepada anak itu… jikalau menyerang wajah, setidaknya sarangkan empat pukulan. Pastikan rahang lawan juga terlepas… Aku harus mendidiknya lebih keras lagi!”

“Jangan kau turunkan kebiasaan sadis ke putrimu sendiri…,” ujar Sesepuh Kelima yang sedari tadi hanya diam.

“Gebrakan Panglima Segantang dan panah kendali Aji Pamungkas yang membuat lawan kewalahan…,” tambah Sesepuh Ketiga.

“Tentu saja. Mereka berlatih di bawah asuhanku. Sungguh tak mengecewakan,” kini giliran Sesepuh Kelima membanggakan diri.

“Akan tetapi, sesuai pesan Sesepuh Ketujuh, pada pertarungan pembuka lawan terlalu meremehkan kemampuan murid-murid Perguruan Gunung Agung. Keberuntungan yang sama tak akan berulang….”


===


“Dimana Ambariningsih!?” sergah Anjana.

“Subuh tadi ia berangkat ke arah Kota Ahli,” jawab Kum Kecho ringan.

“Mengapa kau diamkan!? Mengapa kau tak memberitahu aku?! Kita telah sepakat untuk bergerak ke wilayah timur terlebih dahulu!”

Kum Kecho hanya diam. Ia memang menyadari bahwa Ambariningsih pergi diam-diam karena hendak segera menelusuri pembunuh saudara kembarnya. Gadis tersebut hendak membalas dendam. Atas tujuan tersebut, Kum Kecho tak hendak melarang.

“Cih! Kita akan menyusul gadis itu, baru kemudian kembali ke rencana awal!” dengan demikian Anjana segera melangkah pergi. Sungguh ia sebal dengan kelakuan Kum Kecho.

“Kau akan mati konyol!” hardik Kum Kecho.

“Kau yang hendak membiarkan gadis itu mati konyol!” sergah Anjana membalas, tanpa menoleh.

Wajah Kum Kecho terlihat kusut. Meski demikian, dengan berat hati ia pun segera menyusul.

Hari jelang siang. Anjana dan Melati Dara berlari beriringan semakin mendekat ke Kota Ahli. Karena Kejuaran Antar Perguruan telah dimulai, maka jalan setapak yang mereka telusuri sangatlah lengang.

Di udara, Kum Kecho menunggangi binatang siluman capung miliknya. Capung tersebut hanya dapat ditunggangi paling banyak oleh dua orang saja. Itu pun membuat terbangnya melambat secara signifikan.

“Di utara!” tetiba Kum Kecho berteriak.

Anjana segera berbelok mengubah arah. Ia pun mempercepat lari.

“Duar!” sebuah ledakan melontarkan tubuh Ambariningsih ke udara. Luka yang ia derita tidak ringan adanya. Saat hendak mendarat di tanah, ia merasakan tubuhnya ditangkap oleh sosok besar dengan sepasang lengan besar pula. Kesadaran Ambariningsih kemudian memudar.

Anjana telah mengerahkan jurus silat Raga Bima miliknya. Sebagaimana diketahui, Raga Bima merupakan salah satu dari Sapta Nirwana milik Perguruan Gunung Agung.

Setelah menangkap tubuh Ambariningsih yang penuh luka, ia baru menyaksikan lima remaja di hadapan. Tiga lelaki dan dua perempuan. Di antara ketiga remaja lelaki, yang paling tengah bertubuh gelap dan menyibak aura… Kasta Perak!

“Khikhikhi…,” terdengar tawa melengking yang dengan mudahnya dapat merusak keindahan nuansa pagi. Suara tawa tersebut pun seolah dapat menyayat-nyayat jiwa.

“Aku merasakan tubuh yang cukup bagus…,” sambung suara melengking ke arah Anjana.

Dua pasang remaja lelaki dan perempuan serta-merta menyebar dan melompat ke arah Anjana. Bersama-sama, mereka mengerahkan jurus yang menghasilkan semacam jaring-jaring. Jurus kombinasi! Sepertinya mereka hendak segera meringkus sasaran!

Anjana masih membopong Ambaringsih sehingga gerakan mundurnya sedikit melambat…

“Sret!” Di saat jaring hendak meringkus, enam gumpalan rambut berwarna hitam pekat menahan jaring sehingga Anjana terlepas dari ancaman. Melati Dara telah tiba!

“Ngiiingg….” Sekumpulan nyamuk kemudian memaksa keempat remaja yang gagal meringkus Anjana mundur. Kum Kecho pun telah tiba!

“Khikhikhi…,” tawa melengking kembali terdengar dari anak remaja lelaki yang sedari tadi masih berdiri di tempatnya.

“Ayo pergi!” sergah Kum Kecho.

“Khikhikhi… siapakah gerangan engkau yang mengenakan Jubah Hitam Kelam…?”

Kum Kecho terpana di tempat. Lawan mengenal Jubah Hitam Kelam! Ia berupaya mengenali remaja berkulit gelap itu, tapi tak pernah merasa mengingat wajah remaja lelaki di hadapannya. Akan tetapi, ia melihat asap hitam menyibak tipis di sekujur tubuh anak remaja tersebut. Aroma kemenyan yang dibawa angin terasa mistis.

Kedua mata Anjana pun menatap lawan di hadapan. Ia turut menyaksikan asap tipis dan mengendus aroma kemenyan. Tak diragukan lagi, kelompok ini adalah yang membunuh Ambarawa, kakak lelaki Ambariningsih.

“Kita tak akan menang!” sergah Kum Kecho.

Di hadapan mereka seorang lawan Kasta Perak, kemungkinan Tingkat 2 atau Tingkat 3. Sisanya adalah Kasta Perunggu Tingkat 9. Di sisi lain, dengan merapal Raga Bima, maka Anjana setara dengan Kasta Perak Tingkat 1, Kum Kecho berada pada Kasta Perunggu Tingkat 7 dan Melati Dara berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5. Lima lawan tiga ditambah Ambariningsih yang sudah terluka cukup parah dan kini tak sadarkan diri. Tak ada kemungkinan menang. Mereka kalah jumlah dan kalah peringkat keahlian.

Keempat remaja kembali bergerak. Mereka segera mengepung!

“Siapakah kalian!? Mengapa kalian membunuh teman kami!?” sergah Anjana mencoba mengulur waktu.

“Oh? Anak semalam adalah temanmu. Kumohon maafkan aku. Kukira tubuhnya akan cocok… Khikhikhi….” Tanggapan yang dingin bahkan membuat Anjana sedikit bergidik

“Hragh!” Anjana tetiba menyerang salah seorang remaja yang mengepung mereka. Di saat yang sama, ia melempar tubuh Ambariningsih ke arah Melati Dara.

Melati Dara menangkap tubuh Ambariningsih yang tak sadarkan diri dengan jalinan rambutnya. Lalu, segera ia meletakkan tubuh tersebut di atas capung yang sedang bersiaga.

Trio Kutu Gegana Ledak! Kum Kecho memerintahkan masing-masing kutu mengincar tiga lawan lain yang mengepung. Di saat yang sama, ia memerintahkan Kecapung Terbang Layang untuk segera mengudara dan terbang menjauh.

“Dum!” Tetiba Anjana menghentikan langkah, sambil mengerahkan tenaga dalam dan menghantam keras ke tanah. Hantaman tersebut mengepulkan debu tebal.

“Dududum!” Tiga ekor kutu meledakkan diri berurutan meski belum mencapai sasaran yang menghindar.

Berkat kemelut yang tercipta, Melati Dara, Kum Kecho dan Anjana segera bergerak mundur. Mereka berlari sekuat tenaga menghindari lawan yang mengerikan itu.

Keempat remaja segera hendak mengejar…

“Tak perlu dikejar… Biarkan mereka pergi. Kita bergerak sesuai rencana…,” ujar remaja berkulit gelap yang sedari awal sama sekali tak beranjak dari posisinya berdiri.

“Baik, Yang Kelam Raja Angkara.” Serentak dua pasang remaja mematuhi perintah.

“Firasatku mengatakan bahwa salah satu dari mereka akan datang kembali dengan sendirinya… Khikhikhi….”


“Kita harus segera melapor kepada Gubernur Pulau Lima Dendam,” ujar Anjana sambil memacu langkah.

“Mengapa mereka tak mengejar…?” sela Melati Dara.

“Jika perkiraanku benar… maka mereka tak sengaja bertemu dengan Ambarawa dan membunuh karena sesuatu alasan,” balas Anjana. “Tadi pun kurasa mereka diserang oleh Ambariningsih dan hanya mempertahankan diri.”

Melati Dara kembali menoleh ke belakang, memastikan sekali lagi bahwa memang tak ada yang mengejar.

“Selain itu, sepertinya ada sesuatu yang perlu mereka kerjakan,” tambah Anjana. “Kemungkinan besar mereka adalah salah satu regu dari… Kekuatan Ketiga!”

Kum Kecho terlihat bimbang. Batinnya sungguh penasaran dengan sosok remaja yang mengenali Jubah Hitam Kelam….

“Gerbang dimensi menuju Partai Iblis masih cukup jauh…,” Anjana memacu langkah.


===


“Kalian terlalu mencolok!” keluh Bintang Tenggara di dalam tenda.

“Aji Pamungkas, seharusnya kau lesatkan panah-panah biasa saja. Tak perlu panah kendali,” tambahnya.

“Panglima…,” Bintang Tenggara menghentikan kata-katanya. Ia baru menyadari tak ada gunanya menceramahi Panglima Segantang. Si tubuh besar itu selalu sepenuh hati dalam setiap pertarungan. Bahkan bila berhadapan dengan lawan lemah sekalipun, Panglima Segantang tak akan mengendorkan serangan.

“Canting Emas….”

“Apa!?” sergah Canting Emas terlebih dahulu.

“Lupakan saja…,” tanggap Bintang Tenggara. Ia baru menyadari bahwa bila Canting Emas tersenyum sebelum pertarungan, maka hal itu berarti gadis tersebut berniat menyiksa lawan.

Bintang Tenggara melangkah keluar. Pertarungan kedua sudah dimulai. Lebih baik baginya mengamati pertarungan bakal lawan, daripada menghabiskan energi berdebat dengan Canting Emas atau menasehati Panglima Segantang.

“Mengapa kau mengendus pakaianku?” ujar Bintang Tenggara risih.

“Siapa gadis yang bersamamu belakangan ini?” Aji Pamungkas menatap tajam.

Kedua mata Aji Pamungkas terasa semakin berbeda. Apakah gerangan maksud Adipati Jurus Pamungkas ketika mengatakan bahwa kemampuan mata siluman anaknya akan terbuka? batin Bintang Tenggara.* Meski demikian, ia hanya diam. Tak mungkin ia sampaikan bahwa pakaian yang sedang dikenakan merupakan pemberian dari Lampir Marapi. Aji Pamungkas akan menghantui hidupnya selama berbulan-bulan.

“Bukan siapa-siapa…,” jawab Bintang Tenggara.

“Ck… benar dugaanku!”

Sebagian besar pertarungan pertama perguruan-perguruan lain berlangsung cepat. Setelah istirahat makan siang, pertarungan di atas panggung kembali berlanjut. Bintang Tenggara sedang memerhatikan pemandangan unik. Setiap wakil salah satu perguruan di atas panggung mengenakan pakaian pelindung yang ketat, mengkilap, dan berwarna-warni. Mereka pun mengenakan topeng. Di tangan mereka, berbagai senjata unik nan canggih dikerahkan untuk menghadapi lawan.

“Bintang Tenggara…,” Aji Pamungkas terlihat ragu.

Bintang Tenggara mengabaikan si pengganggu.

“Murid-murid Sanggar Sarana Sakti itu mirip ‘pawer renjes’…,” bisik Aji Pamungkas.

Bintang Tenggara menoleh pelan. Siapa pula ‘pawer renjes’? batinnya bertanya-tanya. Kembali ia abaikan Aji Pamungkas.

“Apakah kau pernah mendengar tentang ‘dunia paralel’?” tetiba Aji Pamungkas serius bertanya. Jarang sekali fenomena seperti ini terjadi.

“Teori dunia paralel menjelaskan tentang dunia-dunia berbeda yang berlangsung beriringan di waktu yang sama,” ungkap Bintang Tenggara cepat. Ia lalu kembali mengamati pertarungan di atas panggung.

Informasi tentang dunia paralel pernah Bintang Tenggara dapatkan sepintas dari Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian di kala bersembunyi di sebuah goa kecil. Saat itu, ia sedang bersembunyi dari Merpati Lonjak dan ingin mencari tahu lebih jauh tentang gerbang dimensi. Akan tetapi, membuka gerbang dimensi bukan berarti menghubungkan dengan dunia paralel. Dimensi hanyalah ‘ruang lain’ di dalam dunia yang sama.

Aji Pamungkas tersenyum tipis. Ia pun meninggalkan Bintang Tenggara.

Tak terasa hari pertama Kejuaran Antar Perguruan berakhir cepat. Malam telah tiba dan rombongan Perguruan Gunung Agung kembali di kediaman sementara mereka.

“Esok tidak ada pertarungan,” ujar Sesepuh Ketujuh di ruang tengah. “Kalian sebaiknya berlatih bersama untuk memantapkan kerja sama saat bertarung. Dalam pertarungan pertama tadi, Bintang Tenggara masih cenderung bertarung sendiri.”

“Heh…,” Canting Emas tersenyum mengejek.

“Selain itu, taktik menggempur cepat kemungkinan besar tak lagi bisa diterapkan… Lawan berikutnya pastilah lebih waspada,” tambah Sesepuh Ketujuh.

“Apakah kalian mengetahui kemana perginya Gundha?” tanya Bintang Tenggara seusai pembahasan taktik bertarung.

“Kemungkinan besar ia pergi mengunjungi Perguruan Budi Daya,” ujar Canting Emas.

“Perguruan Budi Daya?”

“Seperti halnya Sanggar Sarana Sakti, Perguruan Budi Daya juga berasal dari wilayah barat Pulau Jumawa Selatan,” sela Aji Pamungkas. “Perguruan tersebut menekankan pada kesaktian unsur tanah dan keterampilan khusus peramu.”

“Benar. Sebagai ahli dengan kesaktian unsur tanah, tentunya Gundha sangat ingin bertemu dengan para perwakilan dari Perguruan Budi Daya,” tambah Canting Emas.

“Sahabat Bintang janganlah khawatir,” sela Panglima Segantang. “Gundha dapat menjaga dirinya sendiri. Lagipula, kita berada di dalam wilayah Perguruan Maha Patih.”

Hari beranjak malam. Seperti biasa, Bintang Tenggara sedang membaca Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Bedanya, beberapa waktu belakangan tak ada Super Guru Komodo Nagaradja yang mengganggu setiap kali ia membaca. Terbersit sedikit rasa rindu akan gurunya itu. Akan tetapi, yang lebih membuat gundah, adalah mengapa Gundha tak kunjung kembali…?

“Sreeek!” Bintang Tenggara menangkap suara dari ruang tengah dan segera melangkah keluar kamar tidurnya. Akan tetapi, yang ia saksikan kembali dengan mengendap-endap adalah… Aji Pamungkas. Kemungkinan besar anak remaja tersebut baru saja selesai ‘berlatih malam’.

Bintang Tenggara tak merasa tenang. Ia segera melangkah keluar dari penginapan khusus Perguruan Gunung Agung. Di luar, ia menemukan beberapa murid Perguruan Maha Patih yang sedang ronda malam. Berdasarkan petunjuk mereka, ia mengetahui lokasi penginapan Perguruan Budi Daya.

“Yang Terhormat Maha Guru, adik seperguruanku menghilang,” terdengar suara memelas.

Sontak Bintang Tenggara melangkah menuju suara yang tak asing di telinganya. Kedua matanya segera menangkap remaja berponi yang bertugas menjaga pintu gerbang tempo hari. Anak remaja tersebut sedang berhadapan dengan lelaki setengah baya yang pagi tadi membuka kejuaraan, sekaligus merangkap sebagai ketua panitia Kejuaraan Antar Perguruan.

“Jangan berlebihan!” sergah sang maha guru. “Engkau hanya akan meresahkan para tetamu undangan. Jangan mempermalukan Perguruan Maha Patih!”

Wajah remaja berponi semakin resah. “Ta… tapi…”

Sang maha guru tersebut hanya mengibaskan tangan, lalu ia pergi begitu saja.

Menyaksikan kejadian tersebut, Bintang Tenggara semakin tak nyaman. Segera ia melesat cepat ke arah penginapan Perguruan Budi Daya.

“Tak ada ahli bernama Gundha dari Perguruan Gunung Agung yang datang berkunjung,” jawab salah seorang perwakilan Perguruan Budi Daya.

Bintang Tenggara melesat ke arah gerbang Perguruan Maha Patih. Di sana ia menemukan remaja berponi sedang melamun menatap awan di langit malam.

“Kakak Rambut Poni,” tegur Bintang Tenggara. “Apakah gerangan yang terjadi?”

“Namaku bukan Rambut Poni…,” jawab remaja tersebut kembali dari lamunan.

“Adik seperguruanku, kau tahu… yang ada tahi lalat di sudut bibir… menghilang sejak siang….”

“Menghilang?”

“Iya, menghilang. Ia tak pernah pergi tanpa meninggalkan pesan. Lagipula, ia seharusnya bertugas jaga bersamaku malam ini. Ia sangat disiplin, sehingga tak mungkin lalai….”

Bintang Tenggara mengingat remaja bertahi lalat yang bertugas sebagai pengingat di gerbang dan mengantarkan dirinya ketika terlambat tiba di Perguruan Maha Patih.

“Apakah kakak telah menelusuri kediamannya?”

“Kami menetap di Asrama Purwa yang sama. Tentu saja aku telah memeriksa ke asrama.”

Mungkinkah hanya kebetulan? Dua orang murid menghilang begitu saja. Bintang Tenggara tak tahu harus melapor kemana atau kepada siapa. Ia hampir kehabisan akal… Mungkin Sesepuh Ketujuh bisa meminta Perguruan Maha Patih untuk menelusuri, pikirnya.

Langkah kaki Bintang Tenggara bergerak cepat kembali ke penginapan. Di saat yang sama, ia merogoh ke dalam ruang dimensi penyimpanan mustika retak. Segera ia menebar mata hati ke arah sebuah lencana, lalu melontarkan pertanyaan…

“Rekan Pasukan Telik Sandi di wilayah Perguruan Maha Patih, Bintang Tenggara bertanya apakah ada kabar berita tentang murid yang menghilang atau suatu kejanggalan lain?”

Tak lama, Lencana Pasukan Telik Sandi bergetar pelan. “Rekan Bintang Tenggara, belum ada laporan tentang murid yang menghilang. Akan tetapi, di sisi barat perguruan, tetiba ditemukan sebongkah batu besar yang tertancap di tanah.”

“Sebongkah batu besar yang tertancap!?” Bintang Tenggara menyeringai.



Catatan:

*) Disampaikan oleh Adipati Jurus Pamungkas dalam Episode 74.