Episode 5 - Eksplorasi Jalur Spiral (2)



"ARRGHHH!"

Rasa sakit menyelimuti tubuh Noel. Hantaman keras dari gerakan cepat tubuh seekor slime yang tidak biasa membuat Noel terhempas ke dinding gunung, mengakibatkan HPnya turun menjadi 63/100. 

Meski merupakan sebuah game, AW memiliki painfeeler system, fitur yang diciptakan dengan mensimulasikan rasa sakit ketika avatar seorang pemain terkena serangan. Cara kerjanya dengan menggunakan aliran data yang telah dihubungkan dari utopia ke otak melalui medulla oblongata. Rasa sakit dikembangkan demi menciptakan dunia game yang lebih realistis, khususnya ketika memasuki pertarungan, tapi tidak sampai pada tingkat yang membahayakan penerimaan fungsi tubuh dan reseptori otak.

Bagaimanapun, tubuh yang sedang tertidur tidak akan merasakan pengaruh dari rasa sakit itu. Lebih jauh, tubuh hanya akan menganggap semua yang terjadi dalam dunia virtual sebagai mimpi belaka. Karena itulah, tidak ada laporan membahayakan terkait penggunaan utopia pada tubuh.

Apa yang sedang berada di hadapan mereka adalah <Crown Brother Bolly>. Monster itu berwarna hitam metalik dan berukuran sekitar sepuluh kali lebih besar dari slime biasa. Dilihat dari penampilan dan kekuatannya, lebih pantas jika dikatakan bahwa monster ini adalah sebuah batu besar berjalan. 

Di atas nama monster itu terdapat tulisan Elite, yang berarti ia jauh lebih kuat dari monster-monster normal dalam sebuah zona eksplorasi. Pola kemunculannya selalu acak, tapi jika berhasil dikalahkan dapat menjatuhkan barang, material langka, dan Zen yang tentunya lebih banyak. 

"Wahai penguasa angin, atas panduanku, menerjanglah! Sayatilah musuh melalui anak-anakmu, membelah jiwa dan raga. <<Aero Vector>>."

Serangan Tempest berhasil menurunkan HP monster itu sekitar 2%, dan mengakibatkan banyak goresan di sekujur tubuhnya.

"Njir! hampir nggak berkurang sama sekali."

<Crown Brother Brolly> lantas bergerak ke arah si pengguna sihir. Makhluk itu melaju dengan mata merah menyala. Seperti sebuah truk, ia terlihat siap menabrak apa pun dengan tubuhnya.

"AAAHHHH!"

Pekikan suara itu berasal dari Windy, karena panik melihat kerja sama teman satu party-nya kacau.

Akan tetapi...

Dengan efek pasif 'gerak cepat', sang pengguna pedang hitam berlari mengejar sambil menggeramkan rahang, mengarahkan ujung pedangnya ke sisi belakang si makhluk bola.

Ujung pedang Noel tak mampu menembus tubuh monster itu.

"Benar-benar keras."

Meski Noel berkata seperti itu, terdapat sebuah lubang kecil tercipta di tubuhnya. Meski sulit, makhluk cairan padat hitam itu masih mampu untuk dilukai.

"Dia tidak invicible!" 

Mendengar Noel, Tempest memberikan respon. "Kita butuh rencana. Mundur... MUNDUR!!!"

Terdapat secercah harapan untuk mengalahkan lawan. Noel dan Tempest, bersama dengan Windy yang berwajah panik, mundur demi menyelamatkan diri.

Trio itu sudah berlari sejauh kurang lebih tiga puluh meter. Awalnya mengejar, <Crown Brother Bolly> tiba-tiba menghilang.

"Ah... dia pasti sudah kembali ke tempat awalnya."

Monster-monster di Historia dirancang oleh tim pengembang project ALAStor menggunakan algoritma posisi; para monster tidak dapat bergerak terlalu jauh dari tempat mereka muncul. Jika bergerak sejauh dua puluh meter, sistem akan me-reset aggro, lalu berteleportasi ke posisi awal, sekaligus memulihkan kondisi monster pengejar.

Noel merasa sangat berterima kasih dengan adanya ketentuan itu. Jika tidak, mereka pasti akan terus dikejar-kejar oleh monster tadi. Hanya untuk mencapai tempat mereka sekarang membutuhkan waktu hampir tiga jam. 

Pasrah dan mati pun bukan menjadi sebuah pilihan, karena mereka akan dihidupkan kembali pada jalur masuk daerah eksplorasi. Lebih jauh lagi, adanya rasa sakit dan zona hitam tak berdasar setelah mati membuat tiga orang itu memilih untuk sebisa mungkin menghindari kematian.

Berada di tempat yang cukup aman dari zona kemunculan para monster, mereka memulai percakapan dengan duduk bersama membentuk sebuah segitiga. Bersamaan dengan itu, HP Noel mulai menunjukkan tanda-tanda pengisian akibat batang hijau di sisi kiri pandangannya menunjukkan rest mode pada bagian kanan.

"Aku takut. Aku… aku tak mau mati lagi," ujar Windy dengan tubuh gemetaran.

Memang, hari ini adalah pertama kalinya mereka berpetualang bersama, bertarung melawan monster, dan membiasakan diri dengan game bergenre realita virtual. Tapi, pengalaman dasar mereka seputar game jelas berbeda.

Noel memiliki pengalaman bermain game selama enam tahun. Tempest juga terlihat memiliki pengalaman serupa. Sebagai seorang gamer, apapun kondisinya, AW tetap terlihat sebagai sebuah game. Tapi bagi Windy, yang terlihat baru pertama kali bermain game MMORPG, konsep virtual reality dapat menyebabkan trauma batin baginya.

"Berada di belakang kami saja. Aku dan Isal akan membereskannya." 

"Kenapa tak langsung dilewati? Makhluk itu takkan sanggup mengejar kita kan?"

Kata-kata Windy ada benarnya. Pergerakan bola itu tidak sanggup mengejar ketika pemain memutuskan untuk berlari. Hanya saja bagi Noel, melakukan itu berlawanan dengan perjanjian dia dan Tempest.

"Tujuan kami bukan hanya sampai ke puncak, tahu. Sejak awal… kami berdua berniat untuk mengalahkan setiap monster yang menghadang. Apalagi, kami juga tahu kalau barang jatuhan makhluk tadi adalah bahan baku yang bagus untuk membuat senjata atau armor." Tatapan Noel ke Windy semakin lama semakin tajam. "Makanya, bantulah kami bertarung, aku sudah memikirkan cara yang bisa kamu lakukan untuk mengalahkannya."

"Serius?" Tempest merespon dengan cepat. "Katakan!" 

"Sebelum Windy bersedia ikut bertarung, percuma saja kukatakan."

Windy hanya bisa terdiam, menundukkan kepala. Tapi, dia tidak terlihat menangis. 

Sambil menjentikkan jari di atas tanah, Noel menunjukkan ekspresi heran atas kontradiksi sikap Windy.

Salah satu penyebab Noel memiliki kemampuan komunikasi yang buruk adalah tidak mampu membaca keadaan lawan bicaranya akibat ucapan dan tindakan seseorang dirasanya tidak sesuai. Sikap ini sering terlihat pada hampir semua orang di sekitarnya. “Bodo ah. Akan kukatakan dengan terus terang,” keluhnya dalam hati.

"Dengar." Noel mulai mengeraskan suaranya. "Aku tidak peduli dengan rasa takutmu. Tapi apa kamu ingat dengan sikap antusiasmu sebelum memasuki tempat ini? Apakah itu hanya pura-pura? Hei, LIHAT AKU SEKARANG!"

Windy masih menundukkan kepalanya. . 

"Kalau begitu, kutanyakan satu hal. Apa tujuanmu bermain?"

Sepuluh detik adalah waktu yang dibutuhkan untuk menunggu responnya.

"... aku... senang." Suaranya terdengar kecil dan lirih.

"Kalau kamu senang, kenapa mesti takut?"

Di wajahnya yang masih tertunduk, sang pengguna pedang menjulurkan tangan kanannya ke hadapan wanita itu.

"Ayo kita nikmati bersama, karena game ada untuk membuat tiap pemainnya bahagia."

Suasana setelah itu menjadi hening terkecuali semilir angin yang telah di atur sedemikian rupa oleh tim pengembang game. Mereka seolah membeku selama beberapa detik. Tidak tahan lagi dengan situasi yang bagi Noel tidak mengenakkan, Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil berniat untuk berdiri. HP miliknya juga telah kembali terisi penuh. Sebelum menggerakannya lengan kanannya, dia merasakan sebuah telapak tangan. Noel membalikkan pandangannya kembali, dan melihat tangan WIndy yang menyentuh lengannya.

"Ja-jangan memintaku melakukan hal sulit." 

"Waw, akhirnya Windy mau bertarung bersama." Wajah Tempest wajah terkejut sekaligus bahagia.

Noel sebenarnya tidak begitu mengharapkan Windy untuk berubah pikiran begitu saja. Dia hanya sekedar menyampaikan isi pikiran dalam dirinya. Tapi, tatapan Windy terlihat mulai berubah serius.

"Tentu saja, karena kami tahu kamu adalah pemula di antara pemula."

"Sudah kan? Kalau begitu jelaskan strateginya.” Tempest berujar sambil melihat Noel. Matanya diselimuti rasa penasaran.

"Sebentar. Ada yang ingin kutanyakan lebih dulu."

Tempest dan Noel mempersiapkan diri secara mental demi mengantisipasi apapun. Mereka sangat yakin bisa memuaskan keingintahuan Windy seputar pertanyaannya.

"Isal itu siapa?"

Ah...

Dua laki-laki itu saling menatap, dengan wajah Noel menunjukkan rasa bersalah dan wajah Tempest berwarna merah merona.


***


Peluru-peluru timah itu tidak dapat menembus tubuh monster yang sebelumnya telah sukses memukul mundur mereka.

Serangan itu berasal dari sebuah handgun. Digunakan oleh Windy, anggota party Noel dan Tempest yang sebelumnya hanya menonton aksi mereka berdua.

"Mantap! Terus tembak dari sana." 

Instruksi itu adalah satu-satunya langkah Noel untuk Windy dalam rencananya. Tidak seperti para lelaki, dia belum menciptakan skill sama sekali, akibat ketidaktahuannya seputar in-game mechanics2seorang explorer.

Dari matanya, tercipta efek visual khusus ketika tubuh sang wanita berada dalam posisi menembak. Sebuah jalur muncul secara sekilas, berbentuk seperti laser merah keluar dari moncong pistolnya. Saat tangannya menekan alat picu tembak, lintasan itu menjadi alat pandu, menunjukkan arah dimana peluru akan bergerak.

Fenomena itu terjadi akibat skill pasif ranger, 'panduan tembak'.

Tidak seperti di dunia nyata, senjata beramunisi tidak akan kehabisan peluru selama serangan itu adalah tembakan biasa. Hanya saja, dalam jumlah tertentu, senjata harus melakukan reload atau isi ulang peluru. Untuk handgun, pengisian ulang dilakukan dengan cara menarik sisi atas senjatanya ke belakang, kemudian dilepas.

Di tempat lain, Noel terus-menerus mengayunkan pedangnya dari sisi yang berbeda.

"HAAAAHHH! HEAAAAHHH!"

Ayunannya terus berlangsung tanpa henti. Tiap ayunan terpantul akibat tubuhnya yang sangat keras. Akibat serangan Noel, tubuh depan makhluk bola itu telah dipenuhi berbagai goresan. Monster itu juga terus melancarkan serangan kepadanya. Ia mencoba menabrak, melompat, dan memelarkan badannya ke hadapan Noel. Sebagai Melee, dia harus menahan aggro monster agar terus menyerangnya.

"Heh." Senyum sombong terlihat di wajahnya.

Sesekali, Noel menangkis serangan itu jika tak mampu dihindari sehingga HPnya tidak turun secara signifikan. Dikatakan begitu. Tapi serangan yang ditahan dengan pedangnya masih sanggup menurunkan HP Melee party tersebut sekitar sepuluh persen. Sangat jelas kalau Noel bukanlah seorang tank3. Meski begitu, karena slime hanya memiliki tubuh, mayoritas serangannya dapat dihindari dengan mudah. 

Sudah waktunya menjalankan rencana kedua.

Dia berhenti menyerang dan mulai berlari menjauhinya. <Crown Brother Bolly> mengejar sang pengguna pedang.

Apa yang selanjutnya dilakukan oleh Noel adalah... lari berkeliling.

Dengan Windy sebagai sumbu pusat, Noel dan monster bola hitam membentuk pola menyerupai lingkaran sejauh sepuluh meter dalam gerakannya. Mau bagaimanapun, <Bolly> tetap tak sanggup mengejar Noel.

Suara tembakan terus terdengar di telinga mereka. Karena instruksi Noel, Windy tanpa henti mengarahkan pistol ke arah monster yang sedang berada dalam posisi mengejar teman se timnya.

Tiba-tiba monster itu berhenti mengejar.

<Crown Brother Bolly> mengalihkan pandangannya ke arah Windy, bersiap untuk melaju ke arahnya.

"BERHENTI MENEMBAK!"

Windy menurunkan senjata sambil menutup mata. Apa yang dilakukannya tidak membuat monster itu berhenti menerjang ke arahnya.

Seseorang berdiri tepat di depan Windy. Orang itu adalah caster yang sejak tadi terus berada di belakang si penembak dan telah selesai melafalkan mantranya.

<<Aero Vector>>.

Bumerang-bumerang kecil menerjang sisi depannya. Tiap gesekan memberikan goresan lebih. Tapi, gerakan monster itu tidak berhenti. Ia terus maju melawan terjangan serangan itu.

"AYOOO TEMBUUUS!" Kata-kata dari Tempest, mengandung arti tujuan rencana mereka. 

Tubuh <Crown Brother Broly> mengalami keretakan pada bagian depannya.

"Sedikit lagi," keluh Tempest

"Minggir, Tem."

Sambil menyingkat nama Tempest, Windy bergerak ke samping, melanjutkan serangan. Meski begitu, dia mulai merasakan panik, takut karena usaha mereka bertiga menjadi sia-sia. 

Meski semakin dekat, tembakannya mulai tidak tepat sasaran.

Mata yang semakin memerah dari makhluk blob hitam itu berhasil menciptakan rasa takut. Si penembak tidak fokus menarik pemicu senjatanya.

<<Instant Thrust>>

Seketika, gerakan monster Itu berhenti akibat tertahan oleh sebuah tusukan. 

Ujung pedang Noel berhasil menembus tubuh kerasnya!

HP <Bolly> mendadak turun sekitar 30%. Sambil menahan posisinya, dia meneriakkan nama skillnya, sekali lagi.

<<Instant Thrust>>

Noel telah berada di belakang monster itu, dan HPnya telah jatuh ke zona merah.

Setengah tubuh monster itu telah terlihat lebih lembut dari sisi lainnya. Bagian itu, telah menunjukkan ciri-ciri umum dari monster berjenis slime.

Sangat tidak mungkin tubuh mereka keras sampai ke dalam!

Pemikiran ini muncul karena pengalamannya dalam game RPG, dimana slime adalah monster bola cairan padat dengan tubuh yang tidak begitu keras. Karena itulah, Noel membuat asumsi bahwa bagian yang terlihat hanyalah semacam membran cangkang. Dan dengan melihat kondisi pada pertarungan pertama, cangkang itu bisa dihancurkan.

Akibat <<Instant Thrust>> kedua, tubuh Noel mulai terasa berat. Dia sedang berada dalam kondisi skill out, akibat penggunaan skill secara beruntun.

"KALAHKAN DIA!!!" Teriak Noel akibat tak bisa bergerak

"... Membelah jiwa dan raga. <<Aero Vector>>."

Sebelum teriakan itu, Tempest telah melafalkan mantera serangan miliknya.

Serangan itu menjadi penutup tirai keberhasilan pertama mereka mengalahkan seekor monster elite. Di tempat mati <Bolly>, terdapat tiga benda jatuhan monster bernama <Liquid Metal>.

"Akhirnya." Tempest menutup mata sambil menyentuh dada dengan tangan kirinya. "Dengan bahan utama ini, kita bisa membuat perlengkapan baru."

Mereka bertiga lantas menyentuh masing-masing material yang berada di atas tanah eksplorasi Mount Liq.

"Kapok deh, nggak dua kali lagi kita jalan tanpa persiapan."

"Sama. Hanya karena slime, kita benar-benar dibuat kesulitan."

Kedua laki-laki itu tertawa terbahak-bahak setelah melalui pertarungan sulit melawan seekor blob hitam. Tapi, dalam tawa itu, mereka tersadar bahwa meremehkan tingkat kesulitan game ini hanya akan menciptakan masalah. Lagipula, mati oleh seekor makhluk bola tak bertangan dan berkaki dapat merusak kebanggaan seorang gamer RPG berpengalaman. 

"Benar-benar menegangkan, ya? Dari tadi aku was-was."

"Ho oh Win, kupikir juga kita sudah gagal saat sihir pertamaku tidak berhasil membunuhnya," balas Tempest.

"Kalian menghadiahiku sebuah pengalaman berharga. Makasih."

Wajah itu terlihat sangat berseri-seri, padahal sebelumnya dia terlihat panik. Mata Noel dan Tempest seolah dimanjakan oleh kecantikan wajahnya. Noel memilih untuk mengalihkan pandangan dan mengalihkan percakapan.

"Ngomong-ngomong, sedikit lagi kita sampai ke puncak. Ayo jalan."

"Eh Iya." Respon Tempest, kemudian mengakses layar menu dengan menggerakkan jari telunjuk kirinya dari depan dada ke perut. Dia kembali menutupnya setelah mengecek sesuatu. "Mana sekarang sudah jam empat. Yok Windy, sebelum matahari terbit. Kita sempatkan bersantai di kolam empat warna sebelum logout."

"Kolam empat warna?"

“Iya Win. Bagus untuk memanjakan mata.”

“Oke,” ujar Windy sambil mengangguk tersenyum.

Sisa perjalanan mereka tidak lagi bertemu monster. Tiba di puncak, terlebih dahulu mereka menambahkan daftar tempat mereka saat ini, yaitu Liq Peak, ke dalam menu teleportasi melalui crysport pada tempat itu.

Sementara itu dari balik kamuflase awan, seorang manusia dengan topeng putih menutupi wajah bagian atas mengamati mereka dari kejauhan.

Suara asing berbunyi dari dalam kepalanya.

"Bagaimana menurutmu?"

"Menarik. Dia masuk hitungan."  

Kemudian, orang tersebut tersenyum lebar.



Catatan kaki:

1. Istilah game untuk tingkat perhatian monster terhadap seorang pemain.

2. Aturan permainan dalam game.

3. Istliah game untuk pemain yang memiliki ketahanan fisik yang sangat kuat dan didukung dengan pelindung yang mumpuni.