Episode 7 - Keseharian yang Melelahkan



Di sebuah rumah yang kelihatannya terlihat sangat sibuk. Seorang anak sekolah berpakaian seragam SMK sedang buru-buru untuk pergi ke sekolah. Bermodalkan seragam jurusan berupa jaket dan tas berlari keluar rumah.

“Aku pergi!”

Pakaiannya kacau, rambutnya terkesan acak-acakan, bahkan letak kacamata-nya hampir tak pada tempatnya.

Berlari dengan nafas yang sudah kelihatan kelelahan. Melewati jalan di desa menuju jalan utama ke sekolah. Sempat pula dia membalik sapa beberapa penduduk yang menyapanya.

Ada pula yang menyindir ringan tentang kebiasannya yang sering terlambat pergi sekolah. 

Saat itu sekitar jam setengah delapan. Setengah jam lagi bel sekolah bersembunyi. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke sekolah dengan berlari. Dan dia sudah mengeluarkan sedikit keringat walaupun mandi pagi sudah dilakukannya.

Dan saat dia sudah sampai di jalan utama menuju sekolah. Selang beberapa saat dia menemukan sesuatu yang hampir membuatnya terkejut. 

Seseorang sedang jongkok menatap ke arah aliran parit yang ada di pinggir jalan. Rambut hitam sepunggung dan menggunakan seragam SMK yang sesuai dengan jurusannya.

Dia mendekat pada sosok yang sangat dia kenali itu. Menatapnya sesaat sebelum membuatnya menyadari keberadaannya. Namun sosok itu sudah menyadari keberadaannya dengan pantulan dirinya di air. 

“Selamat pagi, Rian!”

Sapa sosok yang dia kenal sebagai Euis—teman masa kecilnya.

“Pagi.”

Rian membalas dengan nada yang sedikit tertahan, karena dia tahu kalau keadaan mereka tak mengharuskan menjadi seceria seperti yang dilakukan Euis.

“Kamu kelihatan berantakan. Apa kamu sudah mandi pagi atau belum?”

“Sudah.”

“Sudah sarapan?”

“Sedikit.”

“Sudahkah bersiap untuk pergi ke sekolah?”

“Apa maksudmu?”

Seperti yang diherankan Rian, perkataan Euis di satu sisi dianggap sebagai pertanyaan, namun pernyataan sekaligus.

Euis berdiri dan kembali berkata.

“Sudahkah bersiap untuk sekolah?”

Nada yang dia ucapkan cukup aneh. Rian pun tak mengerti apakah dia sedang mengatakan pertanyaan atau pernyataan.

“Kenapa kau bisa setenang itu?”

“Kamu belum menjawab.”

“Memangnya apa yang harus kujawab?”

Meskipun terlihat ingin marah, Rian tak bisa memperlihatkan sisi keseramannya pada wajah setenang Euis. 

“Ya ampun, inilah kenapa para perempuan kebanyakan mengatakan kalau laki-laki tak bisa mengandalkan hati dibandingkan otot dan otak untuk mengerti satu sama lain.”

“Aku sama sekali tak bisa mengerti apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan. Tapi aku tak bisa meladenimu sekarang, karena aku—aakk!”

Saat Rian ingin mengakhiri sekenario-nya dengan Euis, dia mencoba untuk berlari meninggalkannya, tapi Euis tak mengijinkannya dengan cara menarik dasi yang dia pakai. Menyebabkan lehernya tercekik dan dia tertarik kembali ke hadapan Euis.

“Huuhhh! Perlu kau tahu aku tak bisa meladenimu sekarang. Jadi biarkan aku pergi, kumohon.”

“Tidak, kamu belum bersiap untuk pergi ke sekolah.”

Saat mereka saling berhadapan satu sama lain, membuat perbedaan tinggi yang kelihatan sedikit cocok. Dengan Rian yang memiliki tubuh atletis dan tinggi yang lumayan, dipasangkan dengan Euis yang memiliki bentuk tubuh yang cukup membuat orang-orang berpikir dia perempuan yang maskulin.

Jika orang-orang dari luar daerah atau orang yang tak dikenal melihat mereka melakukan itu—Euis yang sedang merapikan penampilan Rian—pasti akan berpikir kalau mereka adalah sepasang kekasih. Padahal mereka hanyalah teman masa kecil yang sangat akrab, bahkan hampir membuat masing-masing dari mereka menganggap satu sama lain sebagai sebuah keluarga.

“Hei, sudahlah. Jangan repot, lagipula kalau aku berlari nanti akan berantakan lagi jadinya!”

“Jangan melawan!”

Euis yang tak ingin kalah dengan perlawanan Rian terus mengeratkan tangannya yang dicoba untuk disingkirkan oleh Rian. 

“Nah, sekarang rambutmu. Hei, bahkan kamu gak pakai minyak rambut?!”

“Sudahlah. Nanti aku akan terlambat—apalagi sih!?”

Rian yang lagi-lagi ingin kabur dihentikan oleh Euis. Penampilannya sudah cukup rapi sebagai seorang siswa, jaketnya telah dipakaikan dan pakaiannya juga tak seberantakan sebelumnya. 

Namun masalahnya, rambutnya masih terlihat acak-acakan. Euis yang ingin dia terlihat rapi tak bisa membiarkan hal itu dan menahannya untuk pergi—menarik lengan bajunya sambil satu tangan lain membuat basah tangannya dengan air parit yang terlihat jernih.

“Apalagi sih!”

“Biarkan aku untuk merapikan rambutmu dulu.”

Seperti yang dikatakan, Euis membasahi tangannya,menyisir rambut Rian,dan merapikannya.

“Um! Dengan begini kamu sudah siap untuk berangkat sekolah.”

“Ahh! Aku pasti akan terlambat—apalagi sih!!!”

Rian yang untuk ketiga kalinya mencoba berlari kembali, dihentikan oleh Euis. Membuatnya sedikit membentak, walaupun begitu Euis tak merasa kalau dia salah sama sekali. Dan dengan santainya menarik kerah baju Rian untuk mencegahnya pergi.

“Kalau kamu berlari lagi nanti apa yang kulakukan jadi sia-sia.”

“Kalau gitu apa yang harus kulakukan!?”

Pertanyaan keras Rian sama sekali diremehkan oleh Euis. 

Dia lalu berjalan dengan santainya melewati Rian yang sedang kesal dengannya.

“Bukannya kamu seharusnya sudah tahu. Berjalan saja seperti biasa.”

“Aahh! Kalau aku kena hukuman, jangan coba-coba melarikan diri dan jelaskan semuanya!”

“Seperti yang kamu minta.”

Dan begitulah, Rian akhirnya mengalah terhadap perasaan optimis Euis dengannya. 

Berjalan berdampingan menuju ke sekolah dengan santainya. Euis memecah keheningan dengan memulai sebuah pembicaraan.

“Apa kamu tak lelah?”

“Lelah karena apa?”

“Kemarin kan kamu sangat sibuk.”

“Aah, itu, tidak juga.”

“Hmm...”

“Kenapa?”

“Tidak, kupikir kamu sangat bekerja keras untuk orang lain, begitu.”

“Oohh.”

Pembicaraan mereka terhenti saat jawaban singkat oleh Rian keluar.

Mereka pun kembali ke dalam keheningan yang walaupun begitu tak mengganggu siapapun.

Angin pagi itu sedikit sejuk namun tak membuat perasaan dingin sama sekali. Hal itu karena cahaya matahari terik menyinari pagi yang cerah. Ladang-ladang di sepanjang mata memandang pun terlihat menikmati cuaca pagi itu.

Padi-padi yang terlihat masih berusaha untuk tumbuh membiarkan dua orang—hanya dua orang—yang melewati jalan menuju sekolah menikmati kesejukan angin pagi dan teriknya cahaya matahari.

“Tunggu!”

Meskipun begitu, Rian yang telah banyak bergerak pagi itu membuatnya menjadi sedikit berkeringat. Euis yang tak ingin melihat penampilan teman masa kecilnya buruk menghentikan laju langkah kaki mereka.

“Apa?”

Lalu dia mengeluarkan sapu tangan dari kantung jaketnya dan mengelap keringat Rian dengan itu.

“H-hey!”

“Diam dan tenanglah.”

Rian yang merasa aneh dengan perilaku Euis—walaupun sudah hampir menjadi kebiasaan mereka—mencoba menyingkirkan sapu tangan itu dari mukanya. Namun, sikap Euis menjadi lebih keras kepala dan menekan Rian untuk menerima perlakuannya.

“Oke, sudah!”

“Kau tak perlu mengotori sapu tanganmu setiap kali melihatku berkeringat di pagi hari bukan!?”

“Hmm.. iya juga sih. Tapi ya sudahlah, terlanjur.”

Dan mereka kembali berjalan.

“Oh iya, tadi malam Kak Eruin menghilang dari rombongan kita bukan. Kira-kira pergi ke mana dia ya?”

“Iya juga, tiba-tiba dia pergi, tiba-tiba juga dia datang ke kak Afita. Lalu meminta dua cangkir minuman dan pergi lagi. Kupikir dia pergi ke kak Afita, tapi kenapa dia tak memberikan minuman itu ke kak Afita dan malah menghilang? Kira-kira dua cangkir minuman itu... siapa ya?”

“Jangan-jangan-!”

Setelah menyadari sesuatu, meraka mengatakan hal itu bersamaan dengan memandang satu sama lain.

“Ahaha, gak mungkin, itu gak mungkin. Kalau kak Eruin bisa bersama Bagas!”

Euis menolak pemikirannya sendiri. Sedangkan Rian masih berpikir tentang kemungkinan hal itu terjadi.

“Tapi...”

“Hey, lagipula untuk gadis seaktif kak Eruin mana mungkin Bagas bisa tahan bersamanya. Dan juga, ini Bagas loh. Apa kak Eruin bisa dengan begitu mudahnya menemukan Bagas dan mengajaknya ke festival. Kalaupun iya, pasti Bagas takkan tahan dan dia pasti akan kabur bagaimanapun caranya.”

“Hm, iya juga sih. Tapi kan...”

“Kamu ini kalau berpikiran seperti itu. Sudahlah, lagipula kita bisa menanyakanya langsung kalau bertemu dengannya.”

Euis yang juga menolak pemikiran Rian mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka. 

Dan tanpa sadar mereka sudah berada tepat di atas bukit—lokasi sekolah.

Di saat mereka berdua akan beranjak naik, sesuatu menghentikan langkah kaki mereka.

“Hey, kalian berdua!”

Sebuah panggilan datang dari belakang bersamaan dengan suara sepeda motor tua.

“Kakek!”

“Pak kepala sekolah. Selamat pagi!”

“Selamat pagi.”

Seorang tua dengan pakaian rapi yang sepertinya adalah kepala sekolah dari SMK dan seorang kakek—dari Euis.

“Kalian berdua belum masuk. Padahal bel sekolah sudah berbunyi itu!”

Kepala sekolah—kakek dari Euis memberitahukan hal itu tepat saat bel sekolah berbunyi yang bunyi-nya sampai ke kaki bukit—lokasi dari tiga orang itu.

“Kalau neng Euis sih bisa diwajarkan. Tapi nak Rian...”

“Ah! Dia tadi berjalan bersamaku, sewaktu di rumah tadi aku membuatnya melakukan sesuatu dan sampai akhirnya menjadi terlambat seperti ini.”

Saat sang kakek—kepala sekolah melihat Rian dengan keheranan—Rian yang juga menjadi objek pandangan merasa takut, Euis melindunginya dengan berbohong agar kakeknya tak marah akan perilaku Rian.

“Hmm...”

Kepala sekolah yang sedikit tak yakin dengan penjelasan Euis—cucu-nya itu melihat dengan dekat di atas sepeda motor yang dia naiki ke arah Rian. Rian yang merasa terdapat perasaan diskriminatif dari pandangan kepala sekolah menjadi takut di buatnya.

“Ya sudah deh.”

Karena tak ingin meragukan penjelasan sang cucu, sang kakek pun membuat perilaku santai sama persis yang seperti dilakukan cucu-nya.

“Ayo naik.”

“Yey!”

Sang kakek yang menaiki sepeda motor—sepeda motor yang digandengkan dengan sebuah gerobak yang terbuat dari besi, mengajak dua orang siswa SMK itu naik ke belakang, memberikan sebuah tumpangan.

Euis yang kesenangan dengan ajakan kakeknya itu spontan melompat naik ke gerobak. Rian yang berada di belakang awalnya merasa ragu, tapi keraguannya disingkirkan oleh sikap ceria dari Euis.

Dia memberikan satu tangannya pada Rian, pertanda bahwa dia memberikan bantuan kepadanya.

Rian yang telah diselamatkan pun tak bisa memilih pilihan lain selain menurut dan menerima bantuan Euis.

Namun karena perbedaan berat tubuh, Euis sedikit mengerang saat mencoba menarik tubuh Rian ke atas.

“Fiuh, oke, ayo jalan!”

“Siap.”

Saat mereka berdua sudah naik, motor yang diberhentikan tadi mulai melaju dengan pelan. Sepeda motor bebek yang termasuk dalam kategori antik karena modelnya yang berada pada tahun 90-an itu berjalan dengan lembut menaiki bukit. 

Euis berada di depan, berdiri dengan berpegangan pada kedua pundak kakeknya. Sedangkan Rian yang merasa tak seharusnya jadi seperti ini duduk di bagian belakang, mencoba menikmati silirnya angin yang dia dapat dari menaiki gerobak yang tengah berjalan.