Episode 12 - Tantangan Pintu Keyakinan



Sang topeng burung hantu telah lenyap di balik pintu besi hitam yang sebelumnya dilalui Ruhai. Arya akan ingat, namanya Owl. Kemungkinan besar dialah orang yang menjadi guru Ruhai. 

“Baiklah. Menurut Anda di antara puluhan pintu ini yang mana yang disiapkan untuk kita?” Jackal bertanya.

“EH?!”

Pertanyaan itu, yang begitu dirisaukan oleh Arya, akhirnya berkumandang juga. Padahal ia berharap kalau Jackal takkan mau repot-repot mengurusi hal macam ini, sebab masih ada sesuatu yang lebih besar di dalam Pandora. Tentunya—sebagai guru yang dipertaruhkan harga dirinya—ia harus membela dan memberikan Arya kemudahan sebisa mungkin.

“A-anu ....” Sontaklah Arya tergagap-gagap.

“Bodoh,” umpat sang guru. “Pilih saja!”

“BIRU! Ku-kurasa.” Ia yang kaget sampai-sampai keceplosan.

“Asal Anda tahu! Dibalik pintu-pintu ini terdapat dunia yang besar, sebuah tempat yang akan mengabulkan permintaan Anda bilamana beruntung. Jika sampai di sini saja Anda sudah terlampau ragu, bagaimana saudara Anda bisa dibangkitkan kembali?” Jackal mengomel. “Jujur saja, saya tidak bisa membantu Anda selamanya.”

“DIAM!” gelegar Arya, wajahnya masih datar. “Aku tahu diriku terlalu bodoh untuk bersanding denganmu, Jackal! Tapi! Ta-tapi! Bagaimana aku bisa menebak pintunya kalau dunia macam ini saja terasa asing buatku? AKU-TIDAK-COCOK-DENGANMU!”

Sunyi melanda, hanya di antara mereka berdua, sementara yang lain masih sibuk mencoba peruntungan mereka. Jackal bersedekap seraya menundukkan kepalanya, berpikir apakah perjuangan mereka memang ditakdirkan berhenti di sini. Di sisi lain, kepalan tangan Arya belum mengendur. Urat-urat hijau kebiruan menyembul dari balik kulit lehernya.

“Justru itu adalah tantangannya,” ujar Jackal. “Lihatlah orang yang di sana!”

Seorang perempuan—berambut hitam sepunggung serta mengenakan kain sari kuning cerah—tampak berdiri di hadapan pintu merah dengan mata tertutup. Kulitnya putih bersih, sungguh sempurna bilamana melirik paras ayu berhidung mancungnya.

Tanpa membuka sedikit pun celah di antara kedua matanya, tangan kanan si perempuan beringsut memutar knop pintu merah. Raut wajahnya yakin, seakan dia tahu apa yang menunggu di balik pintu tersebut. Perlahan tapi pasti, ia memberikan secuil dorongan sehingga sang pintu berderak terbuka. 

“APA ITU?” Arya terkesiap.

Sontak merekahlah sinar merah dari dalam, menyambar-nyambar bagaikan lidah neraka. Si perempuan, meski berkeringat, tiada sedikit pun gentar. Ia justru melangkah maju, menjejaki ambang pintu yang begitu liarnya. Cahaya merah yang mulanya mengamuk dalam sekejap padam, menjelma menjadi temaram. Dan, semuanya sirna sesaat si perempuan menutup pintunya.

“Dia berhasil sampai ke dunia di balik pintu dengan selamat,” kata Jackal.

“Dia mungkin sudah tahu kalau itu adalah pintunya.” Arya bersikeras membela diri.

“Tidak ada di antara kalian semua yang diberitahu. Camkan itu!”

“Lalu apa yang kau minta dariku? Kau ingin aku menutup mata, berpakaian seperti gadis tadi, lalu sekonyong-konyong membuka pintu yang kusuka? BEGITU?”

“Lupakan tentang menutup mata dan berpakaian seperti perempuan. Saya ingin Anda menerapkan cara yang ketiga; membuka pintu yang Anda suka. TANPA RAGU SEDIKIT PUN!” Arya terdiam kala mendengar omongan gurunya.

Kadang kala, menurutku, hanya dengan keyakinan saja kita bisa memenangkan apa pun. Jadi, yakinlah dalam menghadapi segalanya. Demikianlah pesan Ruhai yang kini terngiang-ngiang di kepalanya. Pemuda berambut jabrik itu memanglah berpenampilan kacau, tetapi wawasan serta informasinya jauh lebih luas dari Arya.

“Hey, Jackal. Apakah kunci dari tantangan ini adalah keyakinan?” Arya bertanya.

“Entahlah. Saya dilarang membocorkannya.”

“Lalu mengapa ada orang yang sudah mengetahuinya dari awal?” Dahinya mengernyit.

“Apa maksud Anda?” Jackal mendelik dari balik topeng.

Arya diam untuk sejenak, kemudian kembali berucap: “Lupakan saja. Aku akan menemukan pintuku sendiri.”

Pintu besi bercat kuning menjadi pusat bagi pandangan Arya. Sebelumnya ia tak memerhatikannya sama sekali, sungguh. Namun, kini, tepatnya setelah ucapan Ruhai menjadi ilham untuknya, Arya berusaha mengumpulkan sedikit-banyak keyakinan di hati.

Sesaat tangan berjemari lima itu menyapu permukaan knop keemasan, darah Arya sontak berdesir. Matanya terpejam, kendati ia tak menginginkannya. Ada sebuah sensasi yang menggebu-gebu di batinnya, berusaha mengambil alih tubuh Arya, tetapi dalam artian yang baik, sebab yang dibawanya adalah perasaan nyaman lagi hangat.

GLEK!

Knop bundar berputar, menyuratkan percikan emas di sela-sela pintu yang longgar. Matanya masih tertutup, dan Arya dengan berani serta penuh keyakinan mendorong pintu tersebut. Satu-dua detik pertama hanya nyala keemasan yang tampak. Akan tetapi, di saat berikutnya, sepasang sayap kuning melintang anggun dari dalam pintu, merefleksikan kemilau jingga kekuningan yang berpendar-pendar.

Jackal tercengang, badannya tegang seketika. Ada satu alasan yang membuat lututnya agak bergetar kala menyaksikan peristiwa tersebut. Selama ini—dari pertama kali dirinya didaulat menjadi duta Pandora dan membimbing banyak kontestan hebat—baru sekarang didapatinya seseorang yang disambut oleh sayap suci ketika membuka pintu-pintu Pandora. 

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan duta Pandora kalau sebenarnya sayap suci adalah simbol penyambutan terlangka. Orang beruntung saja jarang mendapatkan simbol tersebut, pikirnya.

Sementara itu, di bawah hujan percikan emas yang berkelap-kelip, Arya mencoba membuka mata. Dan, sontak saja ia terperanjat kaget mendapati dua sayap besar terbentang melingkupi dirinya.

“Hebat,” ujarnya terperangah dalam ekspresi datar.

“M-masuklah,” pinta Jackal. “Saya akan menyusul.”

Arya mengangguk, kemudian mengambil langkah pertama menjejaki ambang pintu keemasan. Kehangatan segera menyapa kulitnya, lebih hangat dari air yang biasa disiapkan sang ibu sewaktu kecil. Dia mendengus pelan diikuti mata yang kini berkaca-kaca.

“Ibu! Mengapa ingat hal itu di saat-saat seperti ini?” lirihnya

Kenangan yang indah, walaupun sudah lama terpendam dalam ingatan. Begitu aromanya memenuhi batin Arya, maka sudah pasti air mata akan turun dengan sendirinya. Dia berehat sejenak, di tengah terangnya sinar jingga kekuningan. 

“A-aku berjanji ...,” ujar Arya terbata-bata. “Aku be-berjanji, aku berjanji akan membawamu pulang, Arga. Kita akan mendoakan ayah dan ibu bersama-sama dengan Romy. PEGANGLAH JANJIKU!”

“Apa yang Anda lakukan?” Jackal menceletuk.

Teriakan Arya terputus, kepalanya menoleh ke belakang. Di sana, Jackal berdiri sambil bersedekap dalam guyuran percik emas.

“A-aku hanya menyemangati diri sendiri,” katanya.

“Kalau begitu cara Anda untuk menjadi lebih kuat, maka saya rasa sah-sah saja. Namun, sekarang kita harus lekas menyeberangi lorong ini. Dunia yang sebenarnya telah menunggu.” 

“Dunia yang kau maksud itu, namanya Pandora, bukan?” Arya memamerkan informasi yang diraupnya dari Ruhai.

“Benar,” jawabnya. “Sekarang saya ingin jujur. Ini tentang tujuan dari latihan kita. Sebenarnya ....”

“Pandora itu adalah tempat digelarnya turnamen antar lucid dreamer. Itu yang ingin kau katakan, bukan? Apa namanya? Hmm ... ya, turnamen Oneironaut.” Mendengar celoteh Arya yang sok tahu, Jackal sontak keheranan.

“Siapa yang memberitahu Anda? Tentang kunci dari tantangan pintu-pintu itu juga! Siapa yang membocorkan informasinya?” Nada bicara Jackal meninggi.

“Sebelum kuberitahu, bisakah kau tepati janjimu terlebih dulu?”

“Janji?” Jackal mengulang.

“Kau berjanji akan membongkar jati dirimu setelah kita menyelesaikan latihan. Sekarang ingat?” timpal Arya.

Untuk sesaat sang topeng rubah terdiam dan tangannya menyilang ke dada. Kemilau megah masih menyala-nyala di sekeliling mereka, kala Jackal mengambil langkah kecil ke dekat muridnya. Kini kepala mereka hanya bersebelahan.

“Saya merupakan salah satu panitia dari turnamen, orang yang mengurusi segala hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan perhelatan ini. Selain itu, saya bersama delapan orang bertopeng lainnya juga ditugaskan untuk menemukan lucid dreamer kuat yang nantinya akan diadu dalam pertandingan.”

“Sialan!” Arya merangkam leher jubah gurunya. “Jadi selama ini aku hanya jadi alat taruhanmu?”

“Bisa dibilang demikian. Akan tetapi, Anda tidak sepenuhnya dirugikan. Apabila berhasil memenangkan turnamen ini, maka ambisi Anda akan terkabul. Bukankah itu yang Anda cari selama ini? Bukankah itu alasan Anda ber-lucid dream nyaris setiap hari?”

Cengkeraman Arya seketika mengendur. Gumal di jubah Jackal pun sirna perlahan-lahan. Dalam sengatan perasaan syok, pemuda itu hanya bisa melayangkan tatapan kosong. Raut datarnya tidak lagi polos seperti yang dulu-dulu, tetapi penuh akan keterkejutan.

“Bagaimana kau bisa tahu? Dari mana kau tahu kalau aku sering ber-lucid dream hanya untuk bertemu Arga?”

“Saya punya telinga, mata, juga banyak sumber informasi. Jadi, untuk hal semacam itu tidak sulit untuk diungkap,” jawab Jackal.

“Lalu apa makna sesungguhnya dari naik derajat?” Seusai menciutkan gejolak di hatinya, Arya kembali bertanya.

“Saya tidak bisa memberitahu.”

“APA-APAAN ITU? Kau sudah berjanji!”

“Janji saya akan terwujud bilamana Anda berhasil melewati latihan sepenuhnya. Sementara, sampai detik ini, Anda baru menjalani dua dari empat sesi yang saya siapkan. Ditambah, Anda tidak terlalu bagus di latihan kedua.” Jackal bersedekap.

“K-KAU! DASAR PEMBOHONG!” 

“Saya hanya bekerja sesuai kebutuhan. Asal Anda tahu, bukan makna dari naik derajat ataupun siapa identitas saya sebenarnya yang paling penting, melainkan momen langka di turnamen ini.”

Tidak bisa dipungkiri, walau sependusta apa pun Jackal, tetap saja yang diutarakannya benar. Momen yang begitu langka ini takkan pernah terpikirkan oleh Arya, bahkan sedikit saja tidak. Ia akan hidup di dunia mimpi dan menelantarkan rutinitas kehidupan nyatanya apabila kala itu Jackal tiada menyinggah.

Selama ini hari-hari Arya hanya diisi kepura-puraan belaka. Setiap kali berbicara dengan Danu dan membagi kisah-kisah menakjubkan, sebenarnya ia tidak bersungguh-sungguh. Setiap kali makan malam dan menceritakan kisahnya di sekolah, itu pun Arya masih setengah hati. Hanya Arga dan segala perihal tentangnya yang mampu diterima Arya dengan tulus, tiada secuil pun keraguan.

Sekarang dia mendapat kesempatan untuk membawa orang paling dirindukannya ke dunia nyata. Kendati dipermainkan oleh Jackal, serta berkali-kali dijejali sumpah serapah, akhirnya Arya sudah sampai sejauh ini. Tinggal sedikit lagi untuk mewujudkan impian terbesarnya. Hanya dengan menyingkirkan kontestan lain kemenangan dapat diraih.

“Saya telah mencukupi rasa penasaran Anda. Kini jawablah pertanyaan saya,” tukas Jackal. “Dari mana Anda mendapatkan informasi mengenai Pandora?”

“Aku tidak tahu namanya. Dia seorang lucid dreamer sepertiku, berkulit putih dan berambut kuning.”

“Anda bersungguh-sungguh?”

“Tentu.” 

“Baiklah, sebaiknya Anda berhati-hati dengan orang tersebut. Bisa saja itu hanya taktiknya untuk menjatuhkan lucid dreamer lain.”

“Tenang saja,” ujar Arya sesaat sukses mengelabuhi sang guru.

Langkah-langkah itu akhirnya berlanjut. Dalam lorong beralaskan awan keemasan serta lingkup dinding kuning bercahaya, Jackal dan muridnya kembali meneruskan perjalanan. Tak jauh dari pandangan mereka, tampak gemerlap cahaya putih yang menyerupai rembulan. Agaknya ujung dari lorong ini kian dekat.

Ketika jarak Jackal dan Arya semakin dekat dengan sinar bundar, tiba-tiba kumpulan akar cemerlang menyeruak, melilit tubuh mereka sungguh erat. Bahkan, Arya sampai panik dibuatnya.

“Tenanglah,” tegur Jackal.

Akar-akan itu makin lama semakin kuat saja membelit target mereka. Napas Arya tersengal akibat perutnya yang ditekan terlalu keras. Sekitar dua sampai tiga menit kemudian mereka berdua ditarik menembus sinar yang rasanya seperti membran pembatas antara pesisir dengan Pandora yang sebenarnya. 

Mata Arya terbuka, begitu lebar kala menyaksikan dunia yang eksis di balik akar-akar yang menyiksa tadi. Dari pantulan pupilnya yang bermanik-manik, tampaklah sebuah tempat yang amat menakjubkan.

“I-inikah Pandora?”