Episode 11 - Lucid Dreamer yang Sok Tahu



“Siapa namamu?”

“Namaku Arya Kusuma.”

“Apa impian terbesarmu, Arya Kusuma?”

“Aku ingin membangkitkan saudara kembarku dari kematiannya. Aku ingin dia kembali hidup sebagai manusia sejati.”

“Arya Kusuma bermimpi untuk membangkitkan saudara kembarnya dari kematian. Selamat kau diizinkan berpartisipasi. Ingat ini! Mimpi yang besar mengandung risiko yang besar pula.”

Temaram senja menerpa matanya yang sayup terbuka. Debur ombak, kicau camar, bahkan belai angin sungguh berinteraksi baik dengan kulit kuning langsatnya. 

Hamparan pasir putih beratapkan lembayung mulai tercipta, dan ketika mata itu sepenuhnya terbuka, barulah bunyi tapak kaki orang-orang merasuk lantang.

“Sampai?” Satu kata yang menyelusup ke luar, sarat akan makna. 

“Maaf telah mengganggu kehidupan nyata Anda.” 

“Sampai?” Kata yang lagi-lagi terucap dari mulutnya. “Apakah kita sudah sampai ke tujuan dari latihan sebelumnya?” Arya bertanya.

“Terkesan terburu-buru, tetapi hasilnya tidak buruk. Anda lolos verifikasi dengan mulus.” Jackal menyahut.

“Ada di mana kita?” Kedua matanya memantau nyaris puluhan orang berpakaian aneh. Terus saja berlalu-lalang seakan pesta kostum se-Indonesia tengah digelar.

“Dunia nyata dan mimpi sama halnya dengan air dan minyak, tiada pernah menyatu. Apabila mereka dipaksa bersatu, maka akan ada batas, suatu garis yang begitu kontras. Di sanalah kita berada. Kami menyebutnya pesisir Pandora.”

Selagi bibir pantai masih kuyup akan air laut, Jackal bergegas menuntun lengan muridnya ke depan, menerobos kumpulan manusia. Jejak kaki mereka membekas di pasir, tetapi berhenti sesaat dua orang menghampiri.

“Wah! Udah sampai rupanya.” Sosok pria bertopeng katak bersuara. Jubah hijau toskah yang menutupi tubuh pendeknya tampak senada dengan warna sang penutup wajah. “Muridku juga udah datang,” ujarnya seraya melirik pemuda ber-hoodie merah. Poninya gelap sehidung.

“Permisi, kami ingin lewat.” Jackal merespons.

“Oy, Jackal! Ayolah. Aku kan cuman dua peringkat di bawahmu.”

“Diam kau, Frog!” Lengan Jackal bergerak merangkam leher jubah lawan bicaranya. Akan tetapi, pemuda berwajah pucat di samping Frog segera menghalau.

Jackal—kendati dari topengnya—tampak beradu pandang dengan si pemuda. Begitu sengit, keduanya seakan meluapkan kebencian masing-masing. 

“Oy, Jackal! Jangan mentang-mentang aku ada di bawahmu, kamu jadi berbuat seenaknya,” protes Frog. “Kita bakalan lihat urutan peringkat tahun ini. Dan aku yakin kalau akulah yang ada di puncaknya!”

“Terserah.” Jackal lekas-lekas menarik lengan Arya menjauh.

Langkah yang sempat tertunda, kini kembali berlanjut. Silaunya mentari senja menerpa pasir pantai kala itu. Memang aneh; mulanya temaram dan kini sinarnya kian terik. Deret pohon kelapa melambai pelan mengiringi tiap langkah yang membekas di alas pesisir Pandora.

“Siapa orang tadi? Dia kelihatannya tidak suka padamu.”

“Hanya penjelajah mimpi yang terlampau optimis untuk mengungguli saya. Dia memang kuat, tetapi belum pantas untuk berada di puncak,” tutur Jackal.

“Lalu, siapa yang ada di sampingnya?” Arya melontarkan pertanyaan lanjutan.

“Sama seperti Anda. Dia adalah lucid dreamer beruntung yang didatangi oleh penjelajah mimpi.”

Mata Arya masih belum puas mengawasi. Berbagai raut wajah dilihatnya: gugup, sumringah, angkuh, bahkan ada yang terkesan menutup-nutupi ekspresinya. Semua itu, segala bahasa hati yang tercetak jelas di wajah mereka memanglah beraneka ragam. Namun, entah mengapa Arya yakin bahwa kesemuanya ditujukan pada satu tujuan; ambisi terbesar mereka.

“Apa yang Anda lihat?” Jackal bersuara.

“Aku hanya penasaran dengan ambisi yang tersembunyi di balik raut wajah mereka,” ujarnya.

“Mengapa tak Anda coba untuk menganalisis raut wajah Anda sendiri? Kita sudah sama-sama tahu apa ambisi Anda.”

Arya sontak memegangi wajahnya. Berulang kali diraba, dirinya seolah tidak menemukan apa pun yang mengindikasikan sebuah ekspresi, baik lekukan atau kerut. 

Tampang pemuda kelas dua SMA itu terkesan datar-datar saja. Akan tetapi, ia tahu betul kalau hatinya penuh akan ambisi untuk membawa Arga kembali ke dunia nyata.

“A-aneh.”

“Ada apa? Anda kehilangan sesuatu?”

“Ini sungguh aneh. A-aku tidak bisa membuat ekspresi.” Arya bersikeras menggerak-gerakkan wajahnya.

“Ternyata benar,” ucap Jackal.

“Ada apa?”

“Anda selalu saja bodoh.”

“Apa maksudmu, Jackal?” Arya—walaupun marah—tetap tidak mampu membuat ekspresi di wajahnya. 

“Mimpi yang besar mengandung risiko yang besar pula. Anda mengingatnya?”

“Ya, kurasa.”

“Asal tahu saja, jumlah orang di pesisir Pandora ini ada lebih dari lima puluh orang. Masing-masing dari mereka memikul ambisi yang perlu diperjuangkan. Dan, kita tahu sendiri bahwa tidak ada ambisi yang sama ....”

“Langsung saja ke intinya!” Arya menyela.

“Singkatnya, dari semua ambisi yang ada di sini, ambisi Andalah yang terbesar sekaligus tersulit untuk diwujudkan. Maka dari itu, dewan verifikasi memutuskan untuk mengambil sesuatu dari diri Anda sebagai jaminan.”

“Kau serius?” Wajah datar Arya menutupi kekagetannya.

“Saya sangat serius. Anda ingin menukar kemenangan dengan nyawa seseorang. Itu ambisi yang cukup menguras kemampuan kami, jujur saja.”

“Begitukah?” Pandangan Arya menerawang ke bawah. Selama sepersekian detik ia diam, memikirkan sesuatu yang rasanya bergolak-golak di kepala. “Sepertinya itu impas. Lagi pula yang hilang dariku tidak terlalu penting.”

 Obrolan singkat usai, berganti tapak kaki yang bergerak maju. Bibir pantai sudah jauh di ujung sana, dan yang menunggu tepat di hadapan mereka adalah deretan pintu besi beraneka warna. Tampak jelas orang-orang yang masuk ke pintu pilihan mereka; ada yang memutar knopnya penuh keyakinan, ada pula yang kelewat gugup sampai jatuh gemetaran.

Mendapati hal demikian, Arya lantas heran. Ia tahu dirinya juga akan memasuki satu dari puluhan pintu tersebut, dan buruknya tidak ada satu pun emosi yang dirasakannya. Sekali lagi sepasang mata itu mengamati pintu-pintu yang tertutup rapat di depan, tiada sedikit pun meninggalkan celah untuk diintip. Yang berwarna biru terkesan aman, tetapi sebelumnya ada seseorang yang begitu ketakutan masuk ke pintu yang sama. Entahlah, pikir Arya.

“Pintu-pintu ini dinamakan—“

“JACKAL!” Suara serak terdengar dari belakang.

Sontak saja Jackal menoleh, dan mendapati seseorang berjubah putih lengkap dengan topeng burung hantu. Dia berbicara melalui paruh pendek yang mencuat dari penutup wajahnya.

“Aku perlu bicara denganmu.”

“Mohon maaf, tetapi saya sedang sibuk.” Jackal memalingkan kepalanya.

“Kau yakin tidak ingin bicara padaku?” Sang pria bertopeng burung hantu bicara, suaranya terkesan mengancam.

“Ini bukan waktu yang tepat.”

“Ini waktu yang tepat jika aku mau.”

“Baiklah.” Jawaban Jackal terdengar pasrah. “Tunggulah di sini, Arya.”

Sementara kedua pria bertopeng itu hengkang untuk membincangkan sesuatu, Arya kembali mengalihkan pandang ke arah deret pintu misterius. Orang-orang pun masih sama ramainya dengan yang tadi, tentu beserta ekspresi mereka masing-masing ketika memutar knopnya.

“Ke mana sebenarnya pintu ini berujung?” gumam Arya.

“Ke dunia yang diimpi-impikan lucid dreamer dari seluruh penjuru dunia, Kawanku.” Pemuda berperawakan kekar dengan rambut jabrik kelabu, dialah yang barusan menyahut. “Bukankah jika berada di sini berarti kau sudah tahu semuanya?”

“S-siapa kau?”

“Oh! Hahaha ... maafkan aku karena bicara seenaknya.” Si rambut jabrik menggaruk-garuk tengkuknya. “Namaku Ruhai, salah satu peserta turnamen Oneironaut.”

 “Turnamen? Apa maksudmu?” Dahi Arya mengernyit.

“Kau benar-benar tidak tahu? Pandora merupakan tempat berlangsungnya pertandingan paling besar sedunia mimpi. Hanya ada sedikit lucid dreamer yang diizinkan masuk ke sini sekaligus mengikuti turnamen Oneironaut. Jika kau berhasil sampai di pesisir Pandora, artinya kau sudah lolos tes verifikasi.”

“Hmm ....” Arya terdiam.

“Kau masih ingat dengan suara-suara yang bertanya mengenai nama dan impianmu?” Ruhai menanggapi bungkamnya Arya.

“Ya, sedikit. Aku tidak ingat persisnya, tetapi aku ingat kalau suara itu menanyakan tentang impianku.”

“Nah! Itulah tes verifikasinya. Hanya lucid dreamer dengan impian besar yang diizinkan mengikuti turnamen. Jika impianmu tidak cukup besar, maka otomatis kau akan gugur.”

“Baiklah, terima kasih,” ucap Arya.

“Tentu. Omong-omong kenapa wajahmu jadi sedatar itu? Lain kali cobalah berekspresi sesekali.” Ruhai mengusap-usap dagunya. “Ah! Siapa namamu?”

“Arya.”

“Hmm ... sudah kuduga. Kau dari Indonesia, bukan?” 

“Ya, dari Kotabaru, Kalimantan selatan,” ujar Arya.

“BENARKAH? Aku juga dari Kalimantan, tapi bagian tengah. Senang berkenalan dengan, Arya.” 

Ruhai mengulurkan tangan berkulit sawo matangnya, tak lupa senyum lebar penuh makna yang menimbulkan impresi aneh. Mulanya agak ragu, tetapi di detik berikutnya Arya menggapai lengan tersebut. Mereka bersalaman sebagai tanda perkenalan.

“Sekarang aku harus memasuki pintuku.” Ruhai menatap pintu besi berwarna hitam.

“Hey, Ruhai. Bisakah kau memberitahuku mengapa ada yang ketakutan saat memasuki pintu-pintu itu? Aku hanya penasaran.”

“Asal tahu saja, jumlah pintu ini sengaja disamakan dengan jumlah peserta oleh dewan tes pra-turnamen. Dengan kata lain, setiap peserta harus memasuki pintunya masing-masing. Jika ada dua peserta yang pintunya tertukar, maka mereka akan dieliminasi. Untuk sekarang hal yang seperti itu masih dianggap rumor oleh sebagian peserta, sehingga ada yang begitu ketakutan saat membuka pintu. Ya, sesederhana itu.” Ruhai menjelaskan panjang-lebar.

Seolah tak rela melontarkan sepatah-dua patah kata, Arya hanya memandang pintu-pintu yang berderet di depannya bagaikan benteng terkuat. Jikalau yang dikatakan Ruhai benar, sudah pasti dirinya akan kalah karena kurangnya pengetahuan mengenai hal semacam ini. Bahkan, ia tidak tahu-menahu perihal turnamen yang selama ini disongsongnya.

“Sepertinya kau masih ragu, ya.” Ruhai bersuara.

“Sepertinya aku akan kalah.”

“Haduh,” desahnya. “Kalau begini mana bisa bertemu di Pandora.”

“Kau sendiri, mengapa bisa seyakin itu?” Arya sebenarnya jengkel dengan jawaban Ruhai, tetapi wajah datarnya berkata lain.

“Entahlah,” sahutnya menyeringai. “Aku cukup yakin dengan peruntunganku. Selain itu, aku juga punya guru yang hebat.”

Bersama matanya yang menyipit, Arya melirik Ruhai di sisinya. Lelaki yang agaknya lebih tua satu-dua tahun darinya itu berbicara seolah kebal terhadap kekalahan. Pun demikian, penampilannya yang bertelanjang dada serta bercelana pendek kian menyurutkan kepercayaan Arya. Bisa saja dia cuma asal bicara, pikirnya.

“Kadang kala, menurutku, hanya dengan keyakinan saja kita bisa memenangkan apa pun. Jadi, yakinlah dalam menghadapi segalanya,” tukas Ruhai.

“Pergilah.” Arya menyahut ketus. “Kita akan bertemu lagi jika beruntung.”

Lelaki berhidung mancung itu mengangguk seraya menyunggingkan senyum tipis. Iris hitam cerahnya sekali lagi beradu pandang dengan Arya, sebelum akhirnya tangan itu mulai memutar knop pintu hitam. 

“Aku yakin kita akan bertemu lagi,” ujar Ruhai lalu masuk ke dalam pintu pilihannya. Kemilau hitam berkobar-kobar seakan mau mendobrak pintu tersebut. Namun, sesaat ia menutup pintunya, cahaya senja kembali berkuasa.

Tidak lama kemudian, Jackal bersama si topeng burung hantu menghampiri. Walaupun terlindungi topeng, kegundahan Jackal sama sekali tidak sirna. Siapa pun dapat membaca kecemasan dari gerak-geriknya. Sementara itu, si topeng burung hantu terlihat tenang-tenang saja. Ia berjalan tegap, menghadap ke depan.

“Aku akan menyusul muridku,” ujarnya seraya memutar knop pintu hitam.

“HAH?!” Arya terperangah. 

“Ada apa?” Jackal bersuara.

Jika dugaannya benar, berarti si topeng burung hantu adalah gurunya Ruhai. Pantas saja dia begitu tenang saat menghadapi pintu-pintu membingungkan ini. 

Selagi si topeng burung hantu melangkah masuk, Arya melempar pandang ke arah gurunya. Napas pemuda itu menderu.

“Siapa nama orang itu?”

“Owl, seingat saya.”