Episode 88 - Iba


“SELAMAT DATANG!”

Tetiba terdengar suara membahana, memecah kebisingan gelanggang utama milik Perguruan Maha Patih. Sebuah panggung besar berukuran 32 meter persegi terlihat menyeruak dari tanah di tengah gelanggang. Tingginya sekitar dua meter dari pemukaan tanah. Panggung inilah yang akan menjadi arena Kejuaraan Antar Perguruan.

Sekira 250 meter dari panggung yang baru muncul itu, telah tersusun melingkar 32 tenda yang menaungi 32 perguruan. Kemudian, berjarak sekira 250 meter dari sisi luar tenda, barulah tribun yang besar melingkar megah. Jarak pandang yang jauh tidaklah masalah bagi para ahli yang menonton, karena pastinya mereka dapat menebar mata hati atau mempertajam pandangan mata menggunakan tenaga dalam.

Dengan demikian, dapat dibayangkan ukuran keseluruhan gelanggang utama yang luar biasa besar. Berkali-kali lebih besar, dibandingkan gelanggang milik Perguruan Gunung Agung saat kejuaraan internal berlangsung. Kapasitas tribun penontonnya saja berjumlah belasan ribu bangku tempat duduk, dan saat ini sesak dipenuhi para ahli dari seluruh pelosok negeri.

Matahari menggantung di ufuk timur. Sinarnya berkilau cemerlang menyinari bumi. Di tenda-tenda perguruan, hanya murid-murid yang ikut serta diam menanti, sedangkan para pendamping menyaksikan dari tribun kehormatan. Di salah satu dari ke-32 tenda, Bintang Tenggara bermandikan sinar matahari ketika mengamati tribun penonton yang penuh sesak. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya menyaksikan sekian banyak ahli berkumpul.

Bintang Tenggara menoleh ke arah panggung bertarung yang berbentuk persegi itu. Samar-samar ia merasakan aura formasi segel yang transparan. Formasi segel lebih kental lagi terasa tepat di hadapan posisi ia berdiri. Terakhir, sebuah formasi segel lagi membentengi wilayah tribun. Tiga lapis formasi segel, batin Bintang Tenggara. Luar biasa persiapan Perguruan Maha Patih dalam menyelenggarakan perhelatan ini.

“Selamat datang di Perguruan Maha Patih!” terdengar suara menggelegar yang ikuti seruan riuh rendah dari para penonton.

“Aku adalah ketua panitia pelaksanaan Kejuaraan Antar Perguruan ini,” sambung suara itu.

Tetiba, terlihat seorang lelaki setengah baya berdiri di tengah panggung. Teleportasi jarak dekat! Pakaiannya ibarat bangsawan, pembawaannya demikian jumawa. Ia bahkan tak menyebutkan nama, karena merasa sudah ternama.

“Sebagaimana yang hadirin sekalian ketahui, Kejuaraan Antar Perguruan di Kota Ahli awalnya merupakan kejuaraan antar murid perguruan-perguruan di Pulau Jumawa Selatan. Berlangsung dua tahun sekali, kejuaraan ini telah berhasil menjaga standar mutu murid-murid di seantero pulau. Akan tetapi, sekira 100 tahun lalu, undangan juga disampaikan kepada perguruan-perguruan di Pulau Barisan Barat, Pulau Logam Utara, serta Pulau Dewa.”

Sambutan dari penonton kembali menggelora.

“Oleh karena itu, terima kasih kami sampaikan kepada 32 peserta atas kehadiran dalam Kejuaraan Antar Perguruan tahun ini!”

Sambutan dari penonton terus menggelora.

“Meskipun demikian…,” lanjut lelaki setengah baya di tengah panggung. “Ada yang berbeda dari dari Kejuaraan Antar Perguruan tahun ini!”

Hening.

Tetiba, sejumlah ubin di bagian tengah panggung perlahan membuka. Sebuah peti kayu mengkilap berwarna kecoklatan mengemuka. Ukuran peti tersebut terbilang besar, seukuran sebuah meja makan panjang. Peti kemudian melayang ringan ke atas kepala ketua panitia. Terus melayang ke udara dan berubah mengambil posisi tegak…

“Brak!” Peti hancur berkecai berkeping!

Sejumlah ahli di tribun melompat kaget. Di tribun kehormatan, sejumlah pendamping perguruan sontak berdiri. Suara riuh rendah kembali kembali mengisi pelosok gelanggang.

Aura Kasta Perak menyibak pekat. Dada sebahagian hadirin bahkan terhenyak! Napas mereka tertahan.

Kedua mata Bintang Tenggara menangkap sebilah keris yang melayang perkasa di udara. Koreksi… lebih tepat bila disebut sebagai sebilah pedang besar yang bentuknya menyerupai keris, atau sebilah keris raksasa! Apa pun itu, bentuknya berlekuk meliuk berwarna keemasan. Akan tetapi, ujungnya aneh. Ujungnya tidaklah runcing, namun bercabang seperti lidah ular. Mungkinkah keris raksasa itu… patah? batin Bintang Tenggara.

“Salah satu dari Tujuh Senjata Pusaka Baginda!” teriak ketua panitia di tengah gelanggang.

“Pedang Patah!”

Gemuruh penonton tak terbendung. Sebagian mencondongkan tubuh hendak mengingat betul bentuk senjata yang diketahui pernah dihunuskan langsung oleh Sang Maha Patih. Semua murid di dalam ke-32 tenda yang melingkari panggung melangkah keluar. Semua terpana. Murid dari beberapa perguruan bahkan terlihat seperti hendak melompat dan meraih senjata tersebut. Hanya seorang dari mereka yang terkejut dengan alasan yang berbeda.

Ha! Keris raksasa yang patah itu salah satu dari Tujuh Senjata Pusaka Baginda? pikir Bintang Tenggara. Dayung Penakluk Samudera, Selendang Batik Kahyangan dan Kitab Kosong Melompong, tak satu pun menyibak aura yang berlebihan sebagaimana benda itu. Ada dua kemungkinan, pertama keris raksasa itu sungguhan digdaya atau… sebenarnya bukanlah bagian dari Tujuh Senjata Pusaka Baginda.

Sambil memikirkan kemungkinan yang ada, Bintang Tenggara merasakan sensasi sedang diamati. Ia pun menyapu pandang tenda-tenda perguruan lain. Kedua belah matanya lalu menangkap seorang gadis yang mengenakan sebuah jubah berwarna ungu. Tentu jubah tersebut sangat ia kenal betul…

“Kakak Embun Kahyangan,” gumam Bintang Tenggara sembari melempar senyum.

Embun Kahyangan hanya menatap. Kedua mata sayunya tak menunjukkan emosi apa-apa sama sekali. Ia hanya menatap. Bintang Tenggara kebingungan, lalu mau tak mau mengalihkan pandangan. Dadanya berdetak keras.

“Pedang Patah dulunya merupakan senjata Kasta Emas yang utuh,” sambung lelaki di tengah panggung. “Akan tetapi, saat berhadapan dengan Kaisar Iblis Darah, pedang ini patah dan turun peringkat menjadi senjata Kasta Perak.”

Para ahli yang mendengarkan penjelasan terlihat mengangguk-anggukkan kepala petanda setuju.

“Pedang Patah sudah sekian lama bernaung di bawah perlindungan Perguruan Maha Patih… Mulai saat ini, ia akan menjadi piala bergilir bagi pemenang Kejuaraan Antar Perguruan!” Ekspresi lelaki itu terlihat angkuh. Seolah yakin betul bahwa pedang tersebut tak akan berpindah tangan, apalagi meninggalkan Perguruan Sang Maha Patih.

Lelaki setengah baya di tengah panggung tersebut kemudian melanjutkan penjelasan tentang aturan Kejuaraan Antar Perguruan. Peserta berusia di bawah 17 tahun dan paling tinggi berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9. Karena menggunakan sistem gugur, maka sekali kalah saja akan mendepak suatu perguruan dari Kejuaraan.

Pertarungan beregu berlangsung lima lawan lima di atas panggung utama. Anggota regu yang terjatuh dari atas panggung tidak diperkenankan kembali ke atas panggung, sedangkan anggota lain dipersilakan melanjutkan pertarungan. Kemenangan ditentukan bila seluruh anggota regu menyerah, bila seluruh anggota tak bisa melanjutkan pertarungan, atau bila seluruh anggota terjatuh dari panggung. Segala jenis senjata dan keterampilan khusus diperbolehkan. Setiap peserta dilarang membunuh lawan. Membunuh lawan dengan sengaja berarti kekalahan bagi regu.

Pertarungan akan berlangsung selang sehari agar para peserta memiliki waktu istirahat yang memadai. Hari pertama, yaitu hari ini, akan berlangsung 16 pertarungan di atas panggung. Esok adalah waktu istirahat. Sedangkan lusa, 8 pertarungan dalam sehari. Demikian seterusnya.

“Pertaruangan pertama!” tetiba suara lain bergegar seusai ketua panitia menyampaikan kata sambutan.

Sang ketua panitia pun menghilang dari pandangan. Pedang Patah tetap melayang tinggi di udara sebagai petanda Kejuaraan Antar Perguruan sedang berlangsung.

“Perguruan Nusantara! Berhadapan dengan… Perguruan Gunung Agung!”

Seluruh penonton kembali bersorak riuh-rendah. Sebagian besar sudah tak sabar menantikan pertunjukan di atas panggung. Walau, tidak sedikit yang sudah memperkirakan hasil pertarungan. Perguruan Nusantara yang merupakan salah satu perguruan unggulan, dipastikan menang mudah.

“Haha…,” terdengar tawa seorang perempuan dengan nada meledek dari salah satu sudut tribun kehormatan sisi utara, tempat para pendamping perguruan berkumpul menyaksikan pertarungan.

“Apalah gunanya Perguruan Gunung Agung mengikuti Kejuaraan Antar Perguruan…?” Suara lain lagi terdengar menyahut ledekan, sengaja diutarakan keras-keras.

Seorang perempuan tua hanya diam. Sesepuh Ketujuh tak hendak menggubris cemooh dari pendamping perguruan lain.

“Oh? Bukankah engkau Maha Guru Ketujuh dari Perguruan Gunung Agung? Perkenalkan… Aku Maha Guru Ketiga sekaligus pendamping dari Perguruan Nusantara… Haha….” Suara tawa meledek yang sama menegur Sesepuh Ketujuh.

Sesepuh Ketujuh tetap diam. Dalam benaknya, ia sedang membayangkan bilamana Maha Guru Kesatu yang mengemban tugas sebagai pendamping. Pastilah terjadi kekacauan di tribun kehormatan yang mungkin lebih seru daripada pertarungan di atas panggung di bawah sana.

“Mengapa hanya diam?” suara yang sama masih saja memancing.

Maha Guru Ketujuh tetap diam, bahkan tak menoleh. Ia memang sudah siap mental menerima kekalahan, bahkan cemoohan yang menyertai. Toh, setiap dua tahun hal tersebut kerap terjadi.

Di tenda perguruan. Canting Emas tak bisa menyembunyikan kegugupannya. Panglima Segantang tak sabar. Kuau Kakimerah tak terlihat seperti akan menjalani pertarungan besar. Aji Pamungkas menyapu pandang tribun kehormatan di sisi lain.

“Bintang Tenggara… di sana…,” Aji Pamungkas mengacungkan jari telunjuk ke arah tribun kehormatan di sisi selatan.

Bintang Tenggara menoleh. Terlihat seorang ahli berkumis dan beralis tebal sedang duduk sambil menyilangkan lengan di dada. Ia mengenakan blankon sebagai tutup kepala. Adipati Jurus Pamungkas… mengingatkan diri Bintang Tenggara akan sebuah janji.

Di atas panggung, lima remaja lelaki dari Perguruan Nusantara telah menanti. Canting Emas dan Panglima Segantang baru saja naik ke atas panggung. Kuau Kakimerah menyusul. Aji Pamungkas dan Bintang Tenggara masih berdiri di depan tenda.

“Haha… mengapa murid-murid dari Perguruan Gunung Agung itu terlihat tak kompak?” kembali terdengar cemoohan dari Maha Guru Ketiga Perguruan Nusantara, disusul gelak tawa beberapa pendamping lain.

“Mungkinkah dua yang belakang tak berani bertarung?” Ejekan yang senada bahkan mencuat di tribun selatan.

“Apa katamu…?” hardik Adipati Jurus Pamungkas. Ia menyadari ada yang merendahkan anak lelakinya yang belum beranjak naik ke atas panggung.

“Eh… A… Adipati Jurus Pamungkas…?”

“Silakan ulangi sekali lagi kata-katamu tadi… Berikan aku satu saja alasan untuk meluluhlantakkan seluruh anggota keluarga beserta tetangga-tetangggamu!” ancam Adipati Jurus Pamungkas. Kumis dan alis tebalnya meruncing.

Anggota regu Perguruan Gunung Agung akhirnya lengkap berada atas panggung. Formasi berdiri mereka berbentuk seperti anak panah. Panglima Segantang berdiri paling depan. Selangkah di belakang, Canting Emas di sisi kiri dan Bintang Tenggara di sisi kanan. Selangkah lagi di belakang adalah Kuau Kakimerah. Paling belakang, Aji Pamungkas.

Di hadapan mereka, lawan masih berleha-leha. Mereka bahkan tak merasa perlu menyusun formasi bertarung apa pun menghadapi murid-murid Perguruan Gunung Agung.

“Sesepuh Ketujuh, seluruh perwakilan dari Perguruan Nusantara berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8…,” terdengar suara merendahkan.

“Hm…? Bagaimana mungkin Perguruan Gunung Agung hanya menyuguhkan seorang perwakilan yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8?” terdengar suara menimpal.

“Haha… Bahkan ada yang masih berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5? Apakah demikian sulit memupuk keahlian di Pulau Dewa?”

Sesepuh Ketujuh menoleh. Sedikit saja lagi mungkin ia akan terpancing.

“Hahaha….” Kembali terdengar gelak tawa atas reaksi Sesepuh Ketujuh.

“Namaku Canting Emas, Kasta Perunggu Tingkat 8.”

“Tak perlu memperkenalkan diri,” terdengar tanggapan dari lawan. “Kami tak akan mengingat siapa pun kalian seusai pertarungan ini.”

“Kau cukup cantik… lebih baik bagimu untuk menyerah, dan malam ini menemani kami berlatih… Haha,” timpal seorang lagi melecehkan.

Canting Emas membalas dengan senyuman. Lesung pipitnya menyibak kehangatan. Jarang memang ia tersenyum.

“Sudah-sudah… mari kita selesaikan urusan di atas panggung ini sesegera mungkin,” seorang lagi bahkan tak hendak menatap para perwakilan dari Perguruan Gunung Agung.

“Pertarungan pertama Kejuaraan Antar Perguruan… dimulai!”

“Pencak Laksamana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti!” Panglima Segantang merangsek maju dengan kecepatan dan kekuatan di saat yang sama. Parang Hitam dalam genggaman.

“Swush!” Canting Emas dan Bintang Tenggara menyebar ke kiri dan kanan. Zirah Rakshasa: Kandik Agni menebas deras dan cakar-cakar Asana Vajra, Bentuk Kedua: Virabhadrasana mencabik apik.

“Srek!” Kuau Kakimerah menebar jalinan rotan menyusul kedua temannya yang bergerak ke samping.

“Busur Mahligai Rama Shinta! Panah Asmara, Bentuk Ketiga: Cinta Bertepuk Sebelah Tangan!” seru Aji Pamungkas.

Kelima lawan terkejut melihat kecepatan Panglima Segantang menebaskan Parang Hitam dari arah kiri bawah, dan bergerak diagonal ke kanan atas. Dua orang lawan spontan menyebar ke samping kiri dan kanan. Akan tetapi, Canting Emas dan Bintang Tenggara telah menanti di kedua sisi. Jadi, masing-masing Canting Emas dan Bintang Tenggara menutup gerak dua orang lawan. Berkat bantuan jalinan rotan, tindakan menghambat gerak langkah dua lawan sekaligus bukanlah sesuatu yang mustahil!

Seorang lawan yang tersisa di tengah mau tak mau menerima tebasan Parang Hitam dengan mengandalkan bilah tombak. Ketika parang bertemu tombak, hantaman kuat mengangkat dan mendorong tubuh lawan deras ke belakang….

Di saat itulah sebuah anak panah melesat dari belakang, tepat di sebelah telinga kanan Panglima Segantang. Anak panah tersebut segera menancap di bahu, sekaligus menambah kekuatan dorongan. Lawan pertama terjungkal jatuh dari atas panggung!

“Apa?!” Pendamping Perguruan Nusantara sontak berdiri dari tempat duduknya. Sungguh ia tak percaya bahwa seorang murid Perguruan Nusantara telah terjungkal keluar sejurus sesudah serangan pembuka.

Gerakan Panglima Segantang sebagai pembuka serangan tidak berakhir sampai di situ. Ia lanjut merangsek ke salah seorang lawan yang sedang dicegat oleh cakar-cakar petir Bintang Tenggara.

Menyadari akan ada yang membokong, spontan lawan yang menjadi incaran Panglima Segantang berupaya menjaga jarak. Ia pun melompat ke samping.

“Jleb!” Anak panah Aji Pamungkas yang tadinya menancap dan mendorong lawan pertama, telah berputar arah. Panah tersebut kini bersarang, lalu menembus paha lawan yang menghindar dari Panglima Segantang. Di sisi belakang, Aji Pamungkas terlihat menggerakkan jemari sambil berkonsentrasi penuh. Rupanya, Bentuk Ketiga dari Panah Asmara: Cinta Bertepuk Sebelah Tangan adalah… panah kendali!

Di saat lawan kedua yang pahanya tertembus panah terhuyung hilang keseimbangan, sapuan kaki Panglima Segantang serta-merta membuat ia terpental di tempat. Akan tetapi, sekali lagi, tak berakhir sampai di situ…

Belum sempat lawan tersebut terjatuh di atas ubin panggung, bogem besar dan mentah tangan kiri Panglima Segantang menghajar telak di dadanya. Darah muncrat deras dari mulutnya, kemungkinan besar tulang dadanya remuk! Di saat tiba di ubin panggung, lawan yang tadi tak hendak menyebutkan nama ketika disapa Canting Emas, sudah terlebih dahulu terlentang pingsan hilang kesadaran.

“Hah!” adalah reaksi tak percaya yang keluar dari sang pendamping di tribun kehormatan sisi utara. Begitu pula dengan beberapa pendamping perguruan lain yang tadi ikut mencemooh Sesepuh Ketujuh dari Perguruan Gunung Agung.

Di sisi kiri panggung, Canting Emas telah ditemani Kuau Kaki Merah dalam menghadapi dua orang lawan. Kandik Agni menari-nari deras. Sementara lawan, harus waspada menjaga diri agar kaki mereka tak terbelit jalinan rotan.

“Sret!” Giliran lengan lawan yang berhadapan dengan Kuau Kakimerah tertancap panah kendali.

Kesempatan ini dimanfaatkan gadis mungil tersebut untuk melontarkan kepalan tinju cepat ke ulu hati. Lawan ketiga ini sempat menghindar mundur. Akan tetapi, sungguh malang nasibnya… mundur berarti bertemu dengan Panglima Segantang di tengah, yang segera menohok bahunya dengan sisi tumpul di bagian bawah gagang Parang Hitam!

“Brak!” Bahu bertemu besi! Lawan ketiga jatuh tersungkur! Sendi peluru di bahunya terlepas!

Di saat yang sama, Canting Emas melempar Kandik Agni ke arah wajah lawan di depannya. Sigap, lawan mengelak dengan menundukkan kepala. Di belakang, Kandik Agni yang melayang disambut oleh genggaman tangan kiri Panglima Segantang.

Sebuah tendangan cepat Kuau Kakimerah menghenyak perut lawan yang perhatiannya teralihkan karena lemparan kandik. Di saat yang sama, lawan itu merasakan sentuhan tangan di kepala bagian belakang. Segera ia sadari bahwa ada tarikan dari arah depan yang hendak mambawa wajahnya berkenalan dengan… lutut Canting Emas!

“Brak!” Canting Emas menghantamkan lutut kanan ke wajah lawan. Hidungnya patah!

“Brak!” Canting Emas menghantamkan lutut kanan sekali lagi ke wajah lawan. Bibir lawan pun pecah!

“Brak!” Canting Emas menghantamkan lutut kanan ketiga kalinya ke wajah lawan yang tadi melecehkan dirinya. Gigi lawan keempat itu berhamburan!

“Ananda!” teriak Maha Guru Ketiga dari Perguruan Nusantara.

Sang pendamping tak menyangka bahwa kondisi anak kandungnya akan sedemikian mengenaskan. Spontan ia melompat ke arah panggung. Akan tetapi, dua orang ahli dari Perguruan Maha Patih sigap menghadang.

“Crash!” Cakar yang menarikan unsur petir menyobek bahu kanan lawan Bintang Tenggara. Terlihat pula sebilah anak panah yang telah menancap terlebih dahulu di bahu kiri lawan kelima tersebut.

“Aku menyerah!” teriaknya sambil berlari dan melompat turun dari panggung. Wajahnya pucat menahan sakit dan rasa takut. Di bawah panggung ia sempat terjungkal sekali sebelum tiba di tenda Perguruan Musantara. Lawan tersebut adalah yang sebelum pertarungan dimulai, berkomentar hendak “menyelesaikan urusan di panggung sesegera mungkin.”

Hening.

Di atas panggung, Panglima Segantang melangkah tegap mengantarkan Kandik Agni kepada Canting Emas. Aji Pamungkas menyeka keringat akibat terlalu khusyuk berkonsentrasi. Kuau Kakimerah kikuk seperti biasa.

Suasana masih hening.

Bintang Tenggara hendak segera turun dari Panggung.

“Perguruan Gunung Agung memenangkan pertarungan melawan Perguruan Nusantara!” Pengumuman membahana memecah keheningan.

Gemuruh teriak tak percaya seketika itu juga bergelora. Salah satu perguruan unggulan dikalahkan begitu mengenaskan. Serangan cepat tanpa jeda, bahkan cenderung brutal, sungguh tak terbendung!

“Perguruan apakah itu?”

“Biasanya perwakilan Perguruan Gunung Agung lemah!?”

“Anak remaja bertubuh besar itu… bukankah itu Panglima Segantang, Si Siluman Silat?!

“Itu adalah putri dari Cawan Arang!? Cawan Arang seorang diri pernah menggebrak Kejuaraan beberapa puluh tahun lalu!”

“Anak remaja dengan busur besar itu adalah putra dari Adipati Jurus Pamungkas!”

Maha Guru Ketiga dari Perguruan Nusantara terhenyak di bangkunya. Bibirnya bergetar, raut wajah pucat, rambut acak-acakan. Mimpi buruk apakah gerangan ini? mungkin demikian yang berkutat dalam batinnya saat ini. Tak sengaja ia menoleh perlahan ke samping…

Sesepuh Ketujuh hanya menatap Maha Guru Ketiga dari Perguruan Nusantara tersebut dalam diam. Raut wajah perempuan tua itu datar seperti biasa. Tatapan matanya tidak mencerminkan cemooh, ejekan, atau pun gelagat merendahkan. Tatapan mata Sesepuh Ketujuh hanya tulus menyibak perasaan… iba.