Episode 87 - Pangkalima Rajawali



Matahari pagi mengawang semakin tinggi. Lintang Tenggara sedang terbang lambat di atas laut menuju Pulau Dua Pongah. Mau tak mau, suka tak suka, ia harus menjalankan perintah dari Gubernur Pulau Lima Dendam. Dalam hati, ia tak merasa tugas memeriksa Segel Benteng Bening adalah penting. Apa manfaatnya membantu Pulau Dua Pongah… Pulau Lima Dendam sendiri masih memiliki banyak permasalahan yang belum teratasi.

Formasi segel itu memang megah mengelilingi Pulau Dua Pongah. Seorang ahli segel berkasta emas mana pun dapat membuat formasi pertahanan seperti itu. Lebih baik memanfaatkan waktu menjalankan penelitian, keluhnya dalam hati.

Yang tak Lintang Tenggara ketahui adalah, Segel Benteng Bening memuat beberapa prasyarat. Misalnya saja, segel mampu mencegah gerbang dimensi yang tak memiliki izin keluar-masuk dan secara akurat mendeteksi posisi Lampir Marapi bilamana bersentuhan dengan formasi segel tersebut.

Kini tubuhnya melayang tepat di sisi luar segel. Setelah merenungi dalam-dalam kebiasaan Gubernur Pulau Dua Pongah yang sarat muslihat, ia segera berhenti meratap. Mungkin ada sesuatu alasan mengapa sang Gubernur menugaskan dirinya untuk memeriksa segel tersebut.

Lintang Tenggara memerhatikan formasi segel yang cukup rumit. Jemari tangan kanannya lalu menyentuh ringan formasi Segel Benteng Bening…

“Ini…?” Lintang Tenggara terpana. “Segel Benteng Bening ini mirip dengan….”

“Hentikan perbuatanmu!” sergah seorang lelaki dewasa yang tetiba muncul dari arah belakang tubuh Lintang Tenggara.

Pemuda tersebut bahkan tak menoleh. Ia tertegun mengamati formasi segel tersebut. Rasanya tak asing…

“Enyah!” Tetiba hentakan tenaga dalam melesat dari tubuh lelaki tersebut.

Lintang Tenggara yang konsentrasinya tersedot ke formasi segel menjadi sasaran empuk. Tubuhnya terlontar deras ke dalam formasi segel dan jatuh terjerembab di atas pasir di tepi pantai.

“Uhuk!” Lintang Tenggara memuntahkan darah. Meski, ia mengangkat tubuh dan berdiri tegar. Kedua matanya mengarah tajam kepada lelaki yang melayang tinggi di udara.

Gubernur Pulau Dua Pongah terkejut bukan kepalang. Pemuda yang terkena hantaman tenaga dalamnya justru mendarat di sisi dalam Segel Benteng Bening. Seharusnya, pemuda tersebut menghantam dinding segel dan tetap berada di sisi luar pulau. Selain itu, seharusnya hantaman tenaga dalam tadi cukup membuat ahli Kasta Perak hilang kesadaran. Akan tetapi, pemuda tersebut masih bisa bangkit berdiri, bahkan lagaknya sepertinya hendak menantang!

“Sebutkan namamu!” perintah Gubernur Pulau Dua Pongah. Perlahan ia melayang mendekat.

Lintang Tenggara tak menjawab. Ia mengangkat kedua tangan, dan membuka telapak tangan ke arah lelaki yang mendekat itu.

Daya Tarik Bumi, Bentuk Pertama: Tangan Menggenggam Tangan!*

Gubernur Pulau Dua Pongah kembali terkejut. Pemuda yang hanya berada pada Kasta Perak Tingkat 1 benar-benar mengajak bertarung! Keterkejutannya pun tak berakhir di situ. Tetiba ia merasakan sekujur tubuhnya terasa berat sekali. Kedua matanya menangkap sepasang telapak tangan ilusi yang demikian besar menggenggam tubuhnya erat. Gubernur Pulau Dua Pongah ditarik paksa turun ke bawah.

Meski demikian, sebagai ahli Kasta Emas yang berpengalaman, sang Gubernur dapat menenangkan diri dengan cepat. Unsur daya tarik bumi… dengan harkat keserasian jurus yang demikian tinggi, sehingga menghasilkan bayangan ilusi berbentuk sepasang telapak tangan. Siapakah pemuda ini? batinnya bertanya-tanya.

Aksamala Ganesha!**

Tetiba Lintang Tenggara mengeluarkan sebuah tasbih besar dengan jalinan sembilan manik-manik emas di depan tubuhnya. Setiap manik-manik berukuran sebesar buah semangka. Tasbih tersebut tadinya hanyalah berbentuk seutas gelang biasa yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Setelah mendapat aliran tenaga dalam dan perintah menggunakan mata hati, gelang tasbih berubah bentuk menjadi sedemikian besar!

Dewa Ganesha yang merupakan perwakilan ilmu pengetahuan, selalu digambarkan sebagai manusia berkepala gajah dan berlengan empat. Pada salah satu dari keempat lengan, Dewa Ganesha memang memegang seutas tasbih atau aksamala.

“Hraghh!” Gubernur Pulau Dua Pongah meledakkan tenaga dalam.

Ledakan tenaga dalam melepaskan sang Gubernur dari cengkeraman wujud jurus daya tarik bumi. Akan tetapi, belum sempat ia menatap lawan, seketika itu juga sembilan buah manik-manik emas melesat deras ke arah tubuhnya.

“Bletak!” Sang Gubernur menepis tiga buah manik-manik besar menggunakan punggung tangan kanan. Sejenak, sekujur lengan kanannya terasa seperti kesemutan, bahkan mati rasa. Kembali lagi ia terpana, senjata pusaka Kasta Emas! Di saat yang bersamaan, enam buah manik-manik datang dari enam penjuru arah: depan-belakang, kiri-kanan, serta atas-bawah.

“Swush!” Tepat di saat keenam buah manik-manik emas hendak menghantam tubuh, sang Gubernur menghilang dari tempatnya. Teleportasi jarak dekat!

Kini, giliran Lintang Tenggara yang terperangah. Teleportasi jarak dekat memindahkan tubuh sang Gubernur hanya beberapa langkah di hadapannya!

Daya Tarik Bumi, Bentuk Kedua: Menggenggam Tiada Tiris!***

Lintang Tenggara merapal jurus dengan cepat. Sepasang telapak tangan ilusi kembali mengemuka. Kali ini, tubuh sang Gubernur digenggam dan serasa ditarik ke belakang. Sebagai pengendali daya tarik bumi, Lintang Tenggara dapat menentukan titik pusat daya tarik. Menggunakan bentuk kedua dari jurus Daya Tarik Bumi, ia menetapkan titik pusat daya tarik di sisi belakang lawan.

Tentu saja jurus ahli Kasta Perak tersebut tak dapat menahan sang Gubernur yang berada Kasta Emas dalam waktu yang lama. Akan tetapi, setidaknya Lintang Tenggara memperoleh kesempatan untuk mundur cepat ke belakang. Senjata pusaka Aksamala Ganesha, yaitu sebuah tasbih dengan sembilan manik-manik emas sebesar buah semangka, kini melayang mengitari tubuhnya.

Berhadapan dengan seorang ahli yang berada pada Kasta Emas, Lintang Tenggara cukup tenang. Ia lalu memasang kuda-kuda. Tampaknya, ia hendak merapal jurus lain…

“Sebutkan siapa namamu sebelum kau mati konyol!” Sekali lagi Gubernur Pulau Dua Pongah menyergah pertanyaan.

“Ahli Kasta Emas seperti apa yang membokong lawan Kasta Perak dari belakang!?” seru Lintang Tenggara, mata melotot. Darah di sudut bibirnya telah mengering karena tak sempat diseka.

Gubernur Pulau Dua Pongah tertegun. Padahal tadi ia sudah menegur… Hanya saja, pemuda itu memang terlalu khusyuk mengamati segel.

“Aku adalah Gubernur Pulau Dua Pongah. Kau melanggar di dalam wilayah kekuasaanku!”

Lintang Tenggara terperangah. Pada dasarnya ia ‘ditugaskan’ oleh Gubernur Pulau Lima Dendam untuk membantu Pulau Dua Pongah mencari tahu kelemahan Segel Benteng Bening. Walau, beberapa saat lalu ia akhirnya berhasil menebak maksud dan tujuan Gubernur Pulau Lima Dendam dalam mempelajari segel tersebut.

“Bupati Selatan Pulau Lima Dendam, Lintang Tenggara, memohon maaf atas kesalahpahaman yang sempat terjadi kepada Yang Mulia Gubernur Pulau Dua Pongah…,” ujar Lintang Tenggara sambil membungkukkan tubuh.

“Lintang Tenggara!?” Tak terhitung berapa kali sudah sang Gubernur dikejutkan oleh pemuda tersebut. Mungkinkah…?

Lintang Tenggara melirik sepintas ke arah sang Gubernur. Ia menangkap reaksi yang tak biasa. Mungkin Gubernur tersebut baru teringat bahwa dirinya memang ditugaskan ke Pulau Dua Pongah, pikir Lintang Tenggara.

“Siapakah engkau bagi Balaputera?”

“Diriku adalah anak pertama dari Ayahanda Balaputera.” Lintang Tenggara segera menyimpulkan bahwa Gubernur tersebut mengetahui tentang ayahnya.

“Enyah dari hadapanku!” Tetiba Gubernur Pulau Dua Pongah naik darah.

“Tetapi hamba ditugaskan untuk…”

“Duar!” Hentakan tenaga dalam kembali menghantam tubuh Lintang Tenggara. Ia terpental puluhan meter ke arah laut. Meski, kali ini senjata pusaka Kasta Emas, Aksamala Ganesha, melindungi tubuhnya.

Di kejauhan terlihat Lintang Tenggara kembali membungkukkan tubuh menghadap Gubernur Pulau Dua Pongah. Pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Pulau Lima Dendam.

“Segel Benteng Bening…,” bisik Lintang Tenggara pelan. “Aku perlu mencari kesempatan demi mempelajari formasi segel itu.”

===

“Kita akan bergerak ke arah Kota Ahli,” gagas Anjana.

“Jangan terbawa emosi…,” timpal Kum Kecho.

“Kau yang terbawa emosi… Apa yang kau ketahui tentang Raja Angkara? Apakah kau takut bertemu dengan Raja Angkara?” Anjana menyergah sambil berupaya membaca reaksi Kum Kecho.

“Kau…,” Kum Kecho menghentikan niat untuk mendebat Anjana.

“Semua juga tahu… Lima Raja Angkara sudah mati di tangan Sang Maha Patih,” tambah Anjana. “Kekuatan Ketiga yang kita telusuri kini hanyalah sisa-sisa… orang-orang jompo yang tak memiliki nilai!”

“Jangan sesumbar!” hardik Kum Kecho. “…dan jangan kau sebut-sebut nama ‘orang itu’ di hadapanku!”

“Katakan apa yang kau ketahui….” Anjana sengaja memancing reaksi lawan biacaranya. Ia sepenuhnya sadar bahwa Kum Kecho menyimpan banyak rahasia. Saat ini adalah sebuah kesempatan untuk mengungkapkan sedikit dari rahasia tersebut. Atas alasan apa Kum Kecho ini membenci Sang Maha Patih? batin Anjana.

Kum Kecho berupaya menenangkan diri… “Jika kau menyadari bahwa tak ada gunanya memburu Kekuatan Ketiga, maka lebih baik kita menelusuri jejak Balaputera ke wilayah timur.”

Mendengar nama Balaputera, Anjana raut wajah sedikit melunak. Sosok yang selalu berada selangkah, bahkan dua-tiga langkah, di depan. Segala daya upaya yang dikerahkan oleh Partai Iblis, tak sekali pun membuahkan hasil dalam menemukan Balaputera. Bagi Anjana, keberadaan Balaputera telah menjadi semacam obsesi. Ia ingin membuktikan diri sekaligus membalas budi Maha Guru Keenam dan kakak seperguruan yang telah membantu memperbaiki mustika retak. Jadi, Kekuatan Ketiga bukanlah sebuah prioritas.

Apa yang telah ia ucapkan sebelum ini pun merupakan sesuatu yang ia percaya benar; bahwa tak ada manfaatnya mengejar Kekuatan Ketiga. Meskipun demikian, jauh di dalam lubuh hatinya selalu ada yang janggal dari Kekuatan Ketiga. Bilamana Sang Maha Patih telah membunuh Lima Raja Angkara, dan bilamana Kekuatan Ketiga muncul seusai Perang Jagat, maka tak mungkin jaringan tersebut dikepalai oleh salah satu Raja Angkara. Anjana kembali menimbang-nimbang.

“Sesuai prioritas, kita akan bergerak ke timur. Setelah itu, baru kita menelusuri Kota Ahli,” ujar Anjana Pelan.

===

“Ada apa denganmu, hai Balaputera!?” usik Sang Kancil.

Keduanya baru saja keluar dari gerbang dimensi berwarna putih. Penampilan Sang Kancil pun sudah kembali seperti sedia kala. Akan tetapi, lain pula halnya dengan Balaputera. Sekujur tubuhnya berkeringat dingin, wajahnya pucat. Daripada mirip gelandangan, ia kini lebih terlihat seperti seseorang yang baru saja melihat hantu.

“Yang terjadi hanyalah serangan seperti biasa?” ujar Sang Kancil. “Belakangan ini sepertinya kau menjadi lembek….”

Balaputera terduduk bersandar di akar sebuah pohon yang besar. Ia memejamkan mata, lalu duduk berlahan. Seperti berupaya keras menenangkan tubuh dan pikiran.

“A… aku harus mengabari istriku…,” gumam Balaputera terbata-bata.

Perlahan Balaputera mengangkat tangan kanannya. Sebuah formasi segel berpendar, lalu mengambil bentuk lonjong. Sepasang sayap mengemuka dari formasi tersebut, sebelum akhirnya berwujud seperti burung layang-layang nan kecil. Formasi segel yang setengah transparan tersebut melayang ringan, lalu melesat ke arah tenggara….

“Hm… Kau beristirahatlah. Aku akan mendongeng untukmu….”

Balaputera hanya diam, tak kuasa untuk berkomentar.

“Dongeng ini mengisahkan tentang seorang pemimpin yang agung di Pulau Belantara Pusat. Ia menjabat sebagai panutan spiritual, panglima perang, guru, sekaligus tetua bagi oloh itah, atau masyarakat dayak. Bahkan, ia dikenal sebagai manusia terkuat di Pulau Belantara Pusat,” ujar Sang Kancil penuh semangat.

Sang Kancil kemudian melanjutkan... Terdapat banyak versi ceritera tentang pemimpin tertinggi yang maengayomi masyarakat dayak. Ada yang mengisahkan tentang wujud gaib yang dapat mengubah-ubah bentuk, menjadi baik laki-laki atau perempuan tergantung situasi. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau telah tiada, namun melalui ritual tertentu para panglima dapat berbicara bahkan memanggil diri sang pemimpin untuk kembali ke dunia fana. Ada lagi yang mengisahkan bahwa saat ini beliau masih hidup dan bersembunyi di balik lebat rimba belantara, menunggu saat yang tepat untuk kembali bilamana dibutuhkan.

Kali ini adalah ceritera dengan versi yang berbeda. Yang pasti, adalah Panglima Burung, atau Pangkalima Rajawali, sebutan sang pemimpin. Sosok Pangkalima Rajawali mewakili masyarakat dayak secara umum. Tindak-tanduknya menjadi panutan, dan wataknya menjadi ajaran. Sang pemimpin memiliki pembawaan yang tenang, sabar dan ramah. Sungguh mencerminkan kehidupan masyarakat yang damai dan tenteram, serta diberkahi anugerah dari rimba belantara.

Akan tetapi, janganlah melangkahi kebaikan budi dan pekerti Pangkalima Rajawali, serta masyarakat dayak. Salah seorang Raja Angkara pada akhirnya menelan pil pahit kemurkaan. Merasa bahwa masyarakat dayak tak berani melawan balik, siluman sempurna itu bersama pasukannya mengamuk dan meluluhlantakkan puluhan pemukiman, tanah, dan rimba belantara yang menaungi masyarakat dayak.

Di saat itu, ketika merasa bahwa kedaulatan mereka dijajah, dan masyarakat dihadapkan pada ancaman malapetaka besar, Pangkalima Rajawali mengambil tindakan. Setelah melaksanakan upacara adat, ia segera mengedarkan Cawan Merah! Secara tampilan, cawan tersebut hanyalah mangkuk yang terbuat dari tanah liat yang berisi arang, daun juang, bulu ayam dan darah sang pemimpin. Akan tetapi, peran utamanya adalah sebagai sebuah media komunikasi pelbagai rumpun dayak di seluruh penjuru Pulau Belantara Pusat.

Dengan beredarnya Cawan Merah, setiap panglima di pemukiman yang terpisah jarak segera menyadari isyarat siaga dan ajakan perang. Setiap panglima dayak setempat lalu menyerahkan satu tetes darah mereka sendiri ke dalam Cawan Merah. Hal ini merupakan petanda bahwa pasukan mereka setuju, dan akan ikut serta dalam perang. Menyadari bahwa Cawan Merah saat itu berasal langsung dari Pangkalima Rajawali, darah dayak bergejolak!

Kecepatan terkumpulnya darah dukungan sungguh tak dapat dicerna akal. Hanya dalam semalam, sebuah Cawan Merah beredar ke seluruh penjuru Pulau Belantara Pusat, dan kembali ke tangan Pangkalima Rajawali… Mangkuk darah tersebut telah terisi penuh dengan darah segar. Genderang perang pun ditabuh, dan Perang Jagat antara umat manusia melawan kaum siluman di tengah Pulau Belantara Pusat berlangsung sengit!

Perlu diketahui, bahwasanya persilatan masyarakat dayak tiada tara. Seutas ilalang menyerang garang, sumpit melejit gesit, dan mandau berkilau mengayau.

Kesaktian yang dikerahkan pun tiada dua. Ketika unsur-unsur alam bersatu padu meramu, lahirlah unsur-unsur yang perkasa.

Keterampilan khusus pun beraneka rupa. Berkat komunikasi dengan roh nenek moyang, para pendekar tangguh generasi terdahulu, mereka meminjam kemampuan luhur. Rajah di sekujur tubuh pun menjadi hidup dan dapat dikendalikan sedemikian rupa dalam bertahan dan menyerang. Ramuan sakti beredar bebas karena sumber daya alam yang hampir tak terbatas.

Gaung murka Pangkalima Rajawali di Pulau Belantara Pusat dimana ratusan rumpun dayak yang terdiri dari ribuan pasukan bahu-membahu mengangkat senjata, sampai pula ke Pulau Jumawa Selatan. Bahkan, di saat mendengar kabar berita tersebut, Sang Maha Patih sendiri segera datang berkunjung ke Pulau Belantara Pusat untuk memberi hormat. Beliau lalu menghabiskan waktu yang cukup lama bekersama dengan masyarakat dayak.

“Sebuah berita baik dibawa pulang ke Pulau Jumawa Selatan ketika Sang Maha Patih kembali…,” lanjut Sang Kancil. “Bahwa Pangkalima Rajawali bersedia bergabung sebagai salah satu dari Jenderal Bhayangkara!”

Sang Kancil menutup ceritera dengan suara membahana. Dagunya terangkat tinggi. Sorot matanya seolah hendak membelah langit. Matanya lalu menatap tajam ke arah Balaputera yang sedang… tertidur pulas.


Catatan:

*) Peribahasa ‘tangan menggenggam tangan’ berarti: sangat kikir.

**) Dalam Episode 73, disebutkan bahwa Lintang Tenggara membawa salah satu senjata pusaka milik Perguruan Gunung Agung.

***) Peribahasa ‘menggenggam tiada tiris’ berarti: sangat berhemat.