Episode 86 - Kecurigaan


Matahari baru akan terbit ketika siluet tubuh empat remaja bergerak beriringan cepat. Anjana berlari paling depan, disusul Ambariningsih yang terlihat gelisah sekali. Kum Kecho dan Melati Dara menyusul paling belakang. Mereka menelusuri hutan menuju ke arah barat.

“Kami berpisah di persimpangan ini,” ujar Ambariningsih tanpa menghentikan langkah. “Diriku ke kiri, sedangkan kakak ke kanan.”

Anjana menghentikan langkah lari, lalu terdiam sejenak. Ke arah kanan dari persimpangan tersebut diketahui adalah jalur langsung menuju ke Kota Ahli. Walaupun, masih diperlukan perjalanan sekitar dua hari menuju kota tersebut. Apakah mungkin anggota kelompok mereka itu bertemu dengan gerombolan ahli dari Negeri Dua Samudera? Kalau pun benar, seharusnya dapat menghindar dengan mudah karena tak mengenakan atribut Partai Iblis.

Anjana kembali mempercepat langkah. Ia ingin segera menemukan anggota yang hilang, agar dapat kembali bergerak ke arah timur. Tugas adalah prioritas utama. Sampai sejauh ini, mereka sama sekali belum mengendus jejak Kekuatan Ketiga maupun Balaputera. Padahal, sudah sekitar sepekan mereka tiba di Pulau Jumawa Selatan.

Beberapa jam berlalu. Mereka berlari ringan menelusuri jalan setapak yang di sisi kiri dan kanannya dipenuhi ilalang tinggi menjulang. Masih tak ada tanda-tanda dari anggota regu mereka. Anjana mulai gelisah, semakin jauh mereka bergerak, maka semakin dekat mereka ke Kota Ahli. Kota tersebut saat ini paling hendak dihindari karena banyak ahli Negeri Dua Samudera sedang berkumpul.

“Berhenti!” tetiba Kum Kecho berseru dari belakang. Ia seperti merasakan sesuatu yang tak nyaman.

“Ada apa?” Anjana terlepas dari lamunannya.

Kecapung Terbang Layang!

Seekor binatang siluman berukuran tubuh dan mata besar keluar dari balik Jubah Hitam Kelam. Mengabaikan pertanyaan Anjana, Kum Kecho segera menaiki pundak binatang siluman tersebut. Ia pun melesat tinggi ke udara.

“Jauh di balik ilalang tinggi ini terdapat wilayah yang terbuka,” ujar Kum Kecho mendekatkan capung ke arah kelompok. “Aku menemukan keganjilan.”

“Srek…” Anjana melompat cepat ke dalam tumpukan ilalang. Ia ingin segera menuntaskan permasalahan yang ada dan kembali ke tugas utama.

Ambariningsih segera menyusul di belakang. Sedangkan Melati Dara melompat ke atas pundak capung raksasa, dan bersama Kum Kecho melesat ke arah wilayah yang mencurigakan tersebut.

“Apa yang terjadi di sini!?” Anjana terkejut bukan kepalang.

Ambariningsih tiba di samping Anjana. Ia menutup mulut dan hidung tanda terkejut. Tak lama, Kum Kecho dan Melati Dara melompat turun dari capung. Kesemuanya tertegun sesaat menyaksikan pemandangan yang demikian mengerikan.

Wilayah tempat mereka berpijak luasnya tak lebih dari sekitar tiga meter persegi. Ilalang terlihat layu, bahkan mati. Di tengah-tengah terlihat kubangan berwarna merah. Merah darah! Di berbagai tempat lalu terlihat gumpalan-gumpalan berbagai ukuran tulang dan daging manusia. Bau amis bercampur busuk pun mulai menyibak pekat. Tubuh terasa sesak seolah ditarik masuk ke liang jagal yang gelap dan pengap. Dada terasa senak, ketika batin membeku karena kengerian yang mengintai…

Hanya Kum Kecho yang masih berada di alam sadar. Sepertinya pemandangan seperti ini bukanlah seuatu yang baru. Biasa saja, malah. Ia mengamati sekeliling, berupaya mencari petunjuk atas apa yang telah terjadi.

Lintah Intai Sergap!

Pawang binatang siluman itu lalu memerintahkan binatang siluman lintah untuk memeriksa salah satu gumpalan daging. Tak perlu waktu lama… Kedua matanya pun bertemu dengan tatapan Anjana. Hanya dari tatapan mata, terbersit keduanya telah membangun kesimpulan yang senada. Ambariningsih terpaku kaku.

“Kakak…,” ratap Ambariningsih pilu. Dadanya sesak, bibirnya bergetar deras, air mata mengalir dari kedua bola matanya. Ia terhuyung ke belakang.

Melati Dara bergerak sigap menangkap dan menopang tubuh Ambariningsih. Ia paham betul bagaimana rasanya kehilangan anggota keluarga. Perasaan duka, putus asa, marah, pilu… berbaur menjadi satu.

“Apa yang dapat kau ketahui?” ujar Anjana masih menatap ke arah Kum Kecho.

“Sesuatu berupaya merasuk paksa ke tubuhnya…,” jawab Kum Kecho menyampaikan hasil penelusuran sang lintah.

“Hm…?” Anjana berpikir keras. Awalnya ia sempat menduga akan kemungkinan kegagalan naik peringkat sehingga mustika tenaga dalam meledak dan menghancurkan tubuh. Mendengar kata-kata Kum Kecho, ia pun semakin yakin dengan dugaan lain... Jurus persilatan atau kesaktian seperti apa yang dapat meledakkan tubuh seorang ahli sampai sedemikian mengenaskan. ‘Merasuk paksa’, apakah maksudnya? Anjana membatin.

Lintah kemudian terlihat bergerak lambat merayap, menelusuri gumpalan-gumpalan daging lain. Lendir lengket terlihat bersisa di jalur lintasannya. Di tengah-tengah pemandangan yang mengerikan itu, sang lintah terlihat nyaman-nyaman saja.

“Apakah kau dapat mengetahui perkiraan waktu kematian?” lanjut Anjana ingin memastikan.

“Petang… sehari yang lalu,” jawab Kum Kecho. “Sepertinya ia sedang bergerak ke arah tempat kita berkumpul.”

Air mata semakin deras membasahi pipi Ambariningsih. Akan tetapi, ia tidak menangis tersedu-sedu, atau bahkan meratap. Sebagai seorang ahli, ia menyadari betul risiko yang dihadapi ketika menjalankan tugas.

“Apakah ada informasi lain?” Anjana memerhatikan lintah yang masih merayap pelan. Ukuran tubuhnya sepanjang lengan, berwarna abu-abu gelap dengan dikelilingi garis berwarna kuning. Binatang siluman apakah ini?

“Asap kemenyan…,” lanjut Kum Kecho ketika lintahnya menangkap residu kemenyan dari gumpalan daging.

Benak Anjana berkutat deras. Apakah pembunuhan direncana atau tak disengaja? Bila direncana, mengapa belum ada yang menyerang kelompok mereka? Pertanyaan demi pertanyaan membanjiri benak Anjana. Ia telusuri kemungkinan-kemungkinan yang tersedia. Sebagai pimpinan regu, jangan sampai mengambil keputusan gegabah.

Anjana pun masih harus memutuskan apakah menelusuri pembunuh anggota regu… Atau dengan kata lain, kemungkinan besar mengharuskan mereka mendekat ke Kota Ahli. Sedangkan, meneruskan misi penelusuran Kekuatan Ketiga dan Balaputera ke wilayah timur Pulau Jumawa Selatan, masih menjadi pertimbangan utama.

Dari informasi yang tersedia di tempat kejadian perkara… tubuh yang berserakan mengenaskan, dan keberadaan asap kemenyan, maka dapat disimpulkan didalangi oleh pelaku yang digdaya. Bila kejadian ini merupakan hasil perbuatan dari seorang ahli dari Negeri Dua Samudera, pastilah ahli yang demikian kejam sudah menjadi incaran pemerintah dan/atau pendekar aliran putih. Mungkinkah kebetulan ini justru menjurus kepada… jejak Kekuatan Ketiga?

“Jelaskan kepadaku tentang Kekuatan Ketiga…,” tetiba Kum Kecho mengajukan pertanyaan. Sepertinya, ia pun mengarah kepada kesimpulan yang sepadan dengan Anjana.

“Kekuatan Ketiga bertujuan menghancurkan Negeri Dua Samudera tanpa terkecuali. Mereka adalah sebuah sekte aliran sesat. Saking sesatnya, mereka hanya menginginkan kehancuran….”

Kum Kecho hanya diam. Informasi ini sudah pernah disampaikan oleh Lintang Tenggara sebelumnya. Dengan demikian, rupanya memang tak banyak informasi tentang Kekuatan Ketiga…

“Kekuatan Ketiga diperkirakan dibentuk oleh salah satu dari… Lima Raja Angkara,” tambah Anjana menyampaikan hasil penyelidikannya sendiri.

Kum Kecho yang biasa berlagak tenang tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia terhuyung mundur setengah langkah. Kedua matanya mengisyaratkan kepedihan yang tak terperi… Ia seolah sedang mengingat sesuatu yang pahit.

“Apakah yang membuatmu gusar…?” Anjana mengernyitkan dahi. Ia menangkap jelas arti dari raut wajah kusut Kum Kecho.

Kum Kecho hanya diam. Ingatannya tak mengelabui. Dari ke-Lima Raja Angkara, dua dari mereka adalah umat manusia yang membelot. Lalu, satu di antara dua manusia tersebut, memang ada seorang yang memiliki kesaktian unsur asap.

Akan tetapi, Anjana tak mengaitkan Raja Angkara dengan kesaktian unsur asap. Kum Kecho menyadari bahwa kemungkinan besar informasi ini tak diketahui oleh ahli di jaman ini. Awalnya, ia pun menepis kecurigaan terkait asap kemenyan, namun bila pernyataan Anjana tadi benar adanya, maka…

“Sebaiknya kita melanjutkan tugas ke wilayah timur,” timpal Kum Kecho tanpa memberi penjelasan.

Bila harus berhadapan dengan salah seorang Raja Angkara, maka sama saja halnya dengan mengantarkan nyawa di atas sebuah piring saji. Kum Kecho sadar diri. Ia sadar bahwa saat ini dirinya tak cukup kuat untuk berhadapan langsung dengan salah seorang Raja Angkara.

“Aku belum memutuskan. Akan tetapi, kita perlu merapikan sisa tubuh yang berserakan…,” ujar Anjana cepat, sambil menatap ke arah Ambariningsih.

“Apakah engkau hendak jasadnya dikubur atau dibakar?” ujar Anjana pelan.

“Dikebumikan di bawah pohon besar itu,” jawab Ambariningsih yang sudah mulai tenang. Ia pun menunjuk ke sebuah pohon beringin tak jauh dari sana.

Seribu Nyamuk Buru Tempur!

Kum Kecho melepaskan nyamuk-nyamuknya. Ia pun memberi perintah agar kerumunan binatang siluman tersebut memungut setiap gumpalan daging dan tulang. Ia lalu melangkah perlahan ke arah pohon beringin besar.

Melati Dara terlebih dahulu. Dengan mengerahkan kesaktian unsur rambut, cepat sekali gerakannya menggali liang makam. Anjana dan Ambariningsih pun tiba di lokasi pemakaman darurat.

Upacara pemakaman tak berlangsung lama. Hanya hening. Ambariningsih tak lagi menangis. Akan tetapi, sorot matanya menatap tajam ke arah barat, hatinya pun menjadi mantap.

Anjana menancapkan sebuah nisan sederhana. Di bagian depan tertulis nama… ‘Ambarawa’.


***


“Brak!” Sebuah meja hancur berkeping-keping di saat menerima gebrakan sebuah telapak tangan yang perkasa.

“Katakan! Siapa di atara kalian yang mengirimkan utusan untuk menculik putriku!" Gubernur Pulau Dua Pongah menggeram. Urat-urat darah mencuat dari pelipisnya. Siapa pun akan ia hadapi dalam pertarungan saat ini juga!

“Gubernur Pulau Dua Pongah, bersabarlah…,” ujar seorang perempuan belia menegur. Meski berpenampilan belia, kedua bola matanya berwarna merah. Sungguh mengerikan.

“Aku pun setuju dengan apa yang disampaikan Gubernur Pulau Empat Jalang,” ujar seorang lelaki setengah baya. Ia adalah Gubernur Pulau Lima Dendam. “Mohon Gubernur Pulau Dua Pongah menahan diri.”

“Kau mengancamku!?” sergah Gubernur Pulau Dua Pongah bangkit dari tempat duduknya.

“Plok, plok, plok!” terdengar tepuk tangan ringan, disusul seorang lelaki muda memasuki ruangan. Langkahnya petantang-petenteng

“Apa yang kalian orang tua-tua ributkan di pagi hari nan cerah ini?” ujar lelaki muda tersebut santai... “Apakah agenda pertemuan bulanan para Gubernur kali ini merupakan ajang pertarungan?”

“Gubernur Pulau Satu Garang! Apakah engkau yang mengirimkan orang untuk menculik putriku?” Gubernur Pulau Dua Pongah menatap tajam dan bersiap untuk bertarung.

Di sisi lain meja yang telah hancur, Gubernur Pulau Lima Dendam memicingkan mata. Ia tahu persis bahwa memanglah Gubernur Pulau Satu Garang itu yang mengirimkan regu penculik, meski berakhir kegagalan. Bagaimana kiranya Gubernur Pulau Satu Garang berkelit dari permasalahan ini?

“Oh! Perihal Perawan Putih?” ujarnya santai.

“Rupanya memang benar kau biang keladinya!” Seketika itu juga tenaga dalam Gubernur Pulau Dua Pongah memuncak!

“Bila tiba waktunya nanti, aku berencana hendak datang langsung demi mempersunting putrimu…,” jawab Gubernur Pulau Satu Garang ringan. “Adinda Lampir Marapi akan mendapatkan kehormatan besar sebagai permaisuri di Kerajaanku.”

“Kau…” Gubernur Pulau Dua Pongah menggeretakkan gigi.

Gubernur Pulau Lima Dendam berpura-pura tenang. Dalam hati ia tersenyum. Sungguh licin. Si lancang itu tak menyangkal dan tak juga membenarkan mengirim penculik. Ekspresinya pun tak gentar, sama sekali tak menyiratkan telah melakukan kesalahan terhadap Gubernur lain.

Meski, harus diakui bahwa Pulau Satu Garang adalah pulau terkuat di antara kelima pulau yang mengelilingi Markas Besar Partai Iblis. Sistem pemerintahannya pun berbeda. Pulau Satu garang merupakan sebuah kerajaan dengan pemerintahan tangan besi. Rakyatnya teramat sangat setia, bahkan rela bila harus mengorbankan nyawa demi sang raja. Lelaki muda yang angkuh itu adalah Gubernur sekaligus Putra Mahkota dari Kerajaan Garang di Pulau Satu Garang.

“Janganlah sembarang menyalahkan pihak lain…,” terdengar suara lelaki menyapa namun tak terlihat ada sosok tubuh lain di dalam ruangan. “Kaulah yang lalai. Andai saja kau tak merahasiakan unsur kesaktian putrimu, maka tentunya kami dapat memberikan bantuan pengamanan.”

“Gubernur Pulau Tiga Bengis… apakah kau hendak membela si lancang ini!?” seru Gubernur Pulau Dua Pongah.

“Menurutku, kejadian ini adalah pelajaran bagi kita semua,” sela Gubernur Pulau Empat Jalang. “Bahwasanya, banyak pihak-pihak di dalam daerah kekuasaan kita yang memiliki kehendak sendiri, dan status sebagai Gubernur tak lagi membuat mereka kecut.

“Tenanglah sejenak, wahai sahabatku Gubernur Pulau Dua Pongah,” ujar Gubernur Pulau Lima Dendam. “Aku telah mengirimkan seorang ahli untuk memeriksa Segel Benteng Bening… Mungkin ia dapat menemukan jejak penyusup....”

“Apa katamu!?” hardik Gubernur Pulau Dua Pongah. “Siapa yang memberimu wewenang!?”

“Mari kita fokus membahas agenda pertemuan bulanan,” kembali terdengar suara perempuan menyela.

“Kalian semua membuat aku muak! Tak ada yang perlu dibahas hari ini!” Dengan demikian, Gubernur Pulau Dua Pongah terbang melesat meninggalkan ruangan pertemuan.

“Masing-masih dari kita ditugaskas oleh Markas Besar untuk menelusuri gerakan Kekuatan Ketiga di setiap Pulau Utama Negeri Dua Samudera. Belum ada perkembangan dari pihak kami.” Gubernur Pulau Empat Jalang pun segera pergi meninggalkan ruangan.

“Begitu pula dengan kami…,” ujar Gubernur Pulau Tiga Bengis. Ia lalu memutus jalinan mata hati.

Di dalam ruangan hanya menyisakan Gubernur Pulau Lima Dendam dan Gubernur Pulau Satu Garang.

“Paman Sumantorono, aku mengucapkan terima kasih tak terkira atas informasi perihal Perawan Putih…,” ujar lelaki angkuh tersebut.

“Pangeran janganlah berlebihan… Sebagai sesama ahli dan anggota Partai Iblis, sudah sewajarnya kita saling membantu.” Gubernur Pulau Lima Dendam menyibak senyum.

“Hahaha… Sudah bertahun-tahun aku terpaut di Kasta Perak Tingkat 7. Setelah merenggut Perawan Putih, aku akan melompat langsung ke Kasta Emas Tingkat 7. Saat itu terjadi, siapa di Partai Iblis, bahkan Negeri Dua Samudera yang tak akan bertekuk lutut di hadapanku…?” Gubernur Pulau Satu Garang mengangkat dagu tinggi ke udara.

“Di saat itu terjadi, kuharap Pangeran tak melupakan kesepakatan kita?” sela Gubernur Pulau Lima Dendam memicingkan mata.

“Hahaha… Tentu… tentu saja aku tak akan lupa.” Dengan demikian, Gubernur Pulau Satu Garang meninggalkan ruangan pertemuan.

Hanya Gubernur Pulau Lima Dendam yang masih tinggal di dalam ruang pertemuan. “Ah… darah muda terkadang membuat diriku yang sudah tua ini iri…,” gumamnya pelan.

“Sungguh licik… Kau menjual informasi terkait Perawan Putih,” tetiba terdengar suara menegur menggunakan jalinan mata hati.

“Gubernur Pulau Tiga Bengis, kumohon kau tak mencampuri urusanku….”

“Sumantorono, muslihat apa yang sedang kau susun? Tindakanku mencampuri atau tidak... akan bergantung pada jawabanmu.”

“Kau tak perlu mengancam…,” ujar mantan Maha Guru Keenam Perguruan Gunung Agung itu ringan. “Aku memiliki kecurigaan bahwa Gubernur Pulau Dua Pongah memiliki hubungan khusus dengan Balaputera.”

Jalinan mata hati Gubernur Pulau Tiga Bengis terdiam sejenak… “Lalu, di saat penyusup dari Pulau Satu Garang beraksi di Pulau Dua Pongah, apa tujuanmu mengirimkan regu yang menunggu di luar Segel Benteng Bening?”

“Regu itu adalah jaminan….” Sebuah senyum kecut menghias ujung bibir Gubernur Pulau Lima Dendam. Di saat ia menyusun muslihat, rupanya ada pihak yang berhasil mengendus…

“Kau berencana menyergap Perawan Putih dari tangan Pulau Satu Garang, kemudian membiarkan mereka yang terkena getahnya…,” hardik jalinan mata hati dari Gubernur Pulau Tiga Bengis.

“Gubernur Pulau Tiga Bengis, kau masih memiliki utang padaku… sebaiknya jangan mendesak terlalu jauh,” ujar Gubernur Pulau Lima Dendam, sambil melancarkan sebuah jurus perkasa yang dikenal dengan nama… ‘menagih utang’.

“Heh… sayangnya, tipu muslihatmu kali ini berbuah hampa.” Dengan demikian jalinan mata hati terputus.

Gubernur Pulau Lima Dendam masih duduk diam di dalam ruangan pertemuan. Raut wajahnya sepertinya sedang menikmati sesuatu. Selalu ada kesempatan baru yang terbuka bahkan dari sebuah kegagalan…, batinnya berujar. Semoga Lintang Tenggara dapat menguak rahasia di balik Segel Benteng Bening.