Episode 85 - Lawan Berat



Bintang Tenggara tiba di wilayah luar Kota Ahli. Akhirnya.

Sama seperti halnya di Pulau Dua Pongah, hari masih pagi. Ini adalah kali pertama ia menjejakkan kaki di Pulau Jumawa Selatan, salah satu dari lima pulau utama di Negeri Dua Samudera. Ia pun melangkah bergegas ke arah kota yang sudah terlihat di depan mata.

Terlintas dalam benaknya betapa silang-selimpat perjalanan menuju kota ini. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, dirinya hampir meregang nyawa. Di balik semua itu terdapat satu pelajaran yang teramat sangat penting, yaitu: jangan bertindak impulsif. Ia menyadari bahwa terburu nafsu melangkah ke dalam gerbang dimensi menuju Partai Iblis merupakan punca permasalahan.

Walaupun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa petualangan di Pulau Dua Pongah memiliki sejumlah manfaat tersendiri. Bintang Tenggara kini mengetahui lebih jauh tentang Pasukan Lamafa Langit dan Gemintang Tenggara; memperoleh cangkang siput yang belum jelas kegunaannya; mendapat hadiah cincin Batu Biduri Dimensi yang berisi barang-barang berharga; memahami tentang Partai Iblis; serta menciptakan Segel Petir. Bahkan, mustika tenaga dalamnya naik satu peringkat.

Tak perlu waktu lama bagi Bintang Tenggara mencapai tengah kota. Sebuah alun-alun atau lapangan persegi terbentang luas. Di tengah-tengahnya, berdiri tegar sepasang pohon beringin yang berukuran luar biasa besarnya. Banyak ceritera yang berkutat seputar pohon beringin kembar tersebut.

Bintang Tenggara mempercepat langkah ke arah utara. Ia menyaksikan bangunan Keraton. Sungguh megah. Akan tetapi, wilayah Keraton sedang disesaki oleh berbagai ahli. Banyak sekali jumlah mereka berlalu-lalang. Para abdi dalam Keraton juga turut membaur bersama ahli-ahli lain. Sampai batasan tertentu, Keraton terbuka bagi khalayak umum.

Dari seorang abdi dalam yang luar biasa santunnya, Bintang Tenggara mengetahui bahwa Perguruan Maha Patih masih ke arah utara. Ia merasa rugi tak sempat melihat-lihat ke dalam Keraton, karena terpaksa harus bergegas.

Hari jelang siang. Bintang Tenggara melihat gapura besar milik Perguruan Maha Patih yang dilatarbelakangi sebuah gunung. Ukuran gapura tersebut lebih besar dibandingkan gapura di Perguruan Gunung Agung. Ia pun memacu langkah.

“Berhenti, hai anak dusun! Hendak kemanakah diri engkau?” sergah seorang remaja dengan rambut berponi.

“Aku adalah salah seorang perwakilan dari Perguruan Gunung Agung.”

“Dusta! Lima murid perwakilan Perguruan Gunung Agung bersama pendamping mereka telah tiba kemarin!” seru remaja berponi.

“Bila demikian, apakah aku diperkenankan bertemu dengan perwakilan Perguruan Gunung Agung?”

“Tidak bisa. Ujian ‘usia dan keahlian’ telah dimulai. Kau tahu apa itu artinya? Artinya setiap peserta harus berada di bawah usia 17 tahun dan di bawah Kasta Perak!” Remaja berponi terlihat bangga dengan pengetahuan yang ia miliki.

Bintang Tenggara hanya diam. Mungkinkah sudah terlambat? Ia segera memutar tubuh. Urusan dengan Adipati Jurus Pamungkas biarlah diatasi oleh Maha Guru Keempat nantinya.

Baru Bintang Tenggara hendak melangkah pergi, seorang remaja bertahi lalat di di sudut bibir yang berdiri di barisan paling belakang berseru…

“Kakak seperguruan, bukankan pendamping dari Perguruan Gunung Agung menitipkan pesan, bahwa bilamana ada seorang murid yang datang menyusul, maka kita hendaknya memberi ijin masuk?”

Remaja berponi seperti teringat akan sesuatu. Ia pun segera membuka dan membolak-balik lembaran catatan di tangannya. “Tunggu! Sebutkan nama dan tunjukkan lencanamu!”

“Bintang Tenggara,” terdengar jawaban ringan. Ia sambil menunjukkan Lencana Utama Perguruan Gunung Agung.

“Adik seperguruan, segera antarkan dia!” sergah remaja berponi mendengarkan nama dan menyaksikan lencana tersebut.

Bintang Tenggara diarahkan menuju sebuah gelanggang yang berukuran sedang. Di sekeliling gelanggang, terlhat 32 tenda berukuran sedang yang mewakili setiap perguruan. Sesuai kata-kata remaja berponi, hari ini khusus diperuntukkan untuk memastikan usia dan peringkat para perwakilan perguruan sesuai aturan, yaitu tak melebihi usia 17 tahun dan tak berada pada Kasta Perak.

“Kakak, terima kasih atas bantuanmu…,” sapa Bintang Tenggara kepada remaja yang mungkin dua atau tiga tahun lebih tua itu.

“Adalah kewajiban kami mendampingi setiap perwakilan perguruan,” ujarnya bangga. Tahi lalat yang menghias sudut bibirnya seolah ikut tersenyum.

“Kasta Perunggu Tingkat 8, 16 tahun.”

“Kasta Perunggu Tingkat 7, 16 tahun.”

“Kasta Perunggu Tingkat 8, 16 tahun.”

Sayup-sayup Bintang Tenggara mendengar pengumuman peringkat keahlian dan usia. Kedua matanya lalu menangkap sejumlah remaja di atas panggung. Mereka baru saja melewati pengujian.

“Perguruan Gunung Agung!” terdengar suara memanggil. Dari salah satu tenda, terlihat lima anak remaja sedang bersiap. Mereka melangkah keluar, lalu manapaki anak tangga menuju panggung.

“Gundha, kau kembalilah ke dalam tenda…,” ujar perempuan setengah baya ringan.

“Baik, Yang Terhormat Sesepuh.”

“Selamat datang… Bintang Tenggara,” sambung Sesepuh Ketujuh menyibak senyum.

Di depan tenda, terlihat seorang anak remaja tergopoh-gopoh panik ketika mendengar panggilan kepada Perguruan Gunung Agung. Kilatan petir menari di kedua kakinya.

“Sahabat Bintang!”

“Anak hilang, telah datang.”

“Bintang di langit tenggara….”

“Aku mengendus aroma seorang gadis? Cantik sekali…. Apa yang kau lakukan belakangan ini!?”

Gundha menyibak senyum. Ia sadar bahwa tempat yang tersedia memang milik Bintang Tenggara. Ikut dalam rombongan menuju Perguruan Maha Patih saja sudah cukup menyenangkan bagi anak petani seperti dirinya.

“Murid Bintang Tenggara memohon maaf kepada Yang Terhormat Sesepuh…”

“Tak perlu formalitas, segeralah naik ke atas panggung.”

Di dalam tenda, Sesepuh Ketujuh pun bersandar pelan. Di balik pembawaan yang tenang, ia adalah yang paling cemas menantikan kedatangan anak didik Maha Guru Keempat itu. Harapan besar seluruh tetua dan murid Perguruan Gunung Agung saat ini bersandar di pundak Sesepuh Ketujuh sebagai pendamping murid-murid yang turut serta dalam kejuaraan. Dengan bakat cemerlang murid-murid tahun ini, mereka harus masuk ke posisi sepuluh besar!

“15 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 8!” terdengar suara seorang petugas mengumumkan ketika Canting Emas meletakkan telapak tangan di atas sebuah prasasti batu di tengah panggung.

“14 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 7!” Panglima Segantang berdiri tegar.

“14 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 5!” Kuau Kakimerah masih saja terlihat canggung.

“15 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 6.” Aji Pamungkas mengangkat tangan tinggi seperti hendak menggapai langit.

“13 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 5!” Bintang Tenggara melangkah santai.

Setelah menjalani ujian usia dan peringkat keahlian, rombongan Perguruan Gunung Agung harus menunggu sampai perguruan-perguruan lain menyelesaikan pengujian. Langkah selanjutnya adalah pengambilan nomor undian.

Canting Emas naik ke atas panggung. Ia menjulurkan tangan ke sebuah kendi dan merogoh ke dalam. Dari secarik kertas yang ia raih, terlihat tulisan ‘No. 2’ tertera di permukaannya. Dengan demikian, Perguruan Gunung Agung akan tampil dalam pertandingan pembuka.

Formalitas keikutsertaan dalam kejuaraan rampung sudah. Rombongan Perguruan Gunung Agung kembali ke sebuah bangunan yang diperuntukkan bagi mereka. Beberapa orang murid Perguruan Maha Patih senantiasa setia menemani dan melayani.

Bintang Tenggara memerhatikan bentuk rumah yang unik. Atapnya tinggi berbentuk trapesium. Terdapat empat pilar utama yang menyangga. Menurut penjelasan salah seorang murid Perguruan Maha Patih, bentuk sedemikian adalah ciri khas rumah joglo. Kesan yang tertangkap sungguh bangunan joglo ini kokoh dan megah.

Mereka melangkah masuk. Di dalam, terdapat ruang tengah yang demikian luas. Di sisi kiri dan kanan tiga ruang kamar tidur saling berhadapan. Tiga kamar di kanan, masing-masing ditempati oleh Sesepuh Ketujuh, Canting Emas dan Kuau Kakimerah. Di seberangnya adalah kamar Panglima Segantang, Aji Pamungkas dan Gundha. Karena datang belakangan, Bintang Tenggara tak kebagian kamar.

“Sahabat Bintang, dikau diperkenankan berbagi kamar denganku,” seru Panglima Segantang.

“Tidak apa-apa. Aku sekamar dengan Gundha saja,” jawab Bintang Tenggara cepat.

Panglima Segantang mendengkur keras, Aji Pamungkas memiliki kebiasaan keluar kamar untuk ‘berlatih’ di malam hari. Pilihan paling logis memang berbagi kamar dengan Gundha.

“Tunggu dulu!” terdengar seruan…

“Bintang Tenggara, latihan seperti apa yang kau lakukan selama satu setengah bulan terakhir ini?” Canting Emas menyilangkan tangan di depan dada, sepertinya ia menantikan penjelasan rinci dan lengkap. Jangan sampai latihan Bintang Tenggara lebih ringan dari dirinya…

“Sahabat Bintang, apakah Tetua Komodo Nagaradja menjemputmu…?” bisik Panglima Segantang pelan.

Bintang Tenggara menatap santai. Sepertinya mereka telah menyimpulkan bahwa dirinya berangkat berlatih bersama seorang guru. Sepintas ia mengingat pengalaman di Pulau Dua Pongah. Berhari-hari dihabiskan berlari, berlari dan berlari menyelamatkan diri, bahkan hampir meregang nyawa. Sungguh ‘latihan’ super berat. 

“Benar, aku dipanggil berlatih,” jawabnya cepat.

“Latihan seperti apa!?” seru Canting Emas mengulang pertanyaan.

“Hari ini kalian beristirahatlah lebih awal,” sela Sesepuh Ketujuh. “Esok, kalian berkesempatan menjalani pertarungan pembuka.

Bintang Tenggara segera melangkah menuju ruang kamar. Ia tak hendak diinterogasi oleh Canting Emas.

"Tapi sebelum itu, ada yang hendak aku sampaikan.”

Sesepuh Ketujuh menghela napas panjang. Ia telah mencatat setiap nomor undian yang diambil oleh para perwakilan perguruan. Dengan mempertimbangkan sistem gugur yang diterapkan dalam Kejuaran Antar Perguruan ini, maka ia pun memperkirakan kemungkinan perguruan mana saja yang akan mereka hadapi.

Malangnya, kemungkinan terburuk telah terjadi. Dari 32 perguruan yang ikut serta, lawan anak-anak remaja yang berdiri di hadapannya itu nantinya adalah perguruan-perguruan terberat yang ada. Bahkan, ia tak pernah mengingat bahwa Perguruan Gunung Agung pernah meraih kemenangan atas mereka.

“Perhatikan baik-baik, bila memenangkan setiap pertandingan maka kalian kemungkinan besar akan berturut-turut menghadapi lima perguruan besar…,” ujar Sesepuh Ketujuh berupaya tetap tenang. Beliau lalu menjabarkan satu per satu dari kelima perguruan yang menurutnya digdaya dan akan mereka hadapi.

Pertama, ‘Perguruan Nusantara’ yang berasal dari ibukota baru Negeri Dua Samudera di wilayah barat Pulau Jumawa Selatan. ‘Nusantara’ merupakan gabungan dari kata ‘nusa’ yang berarti ‘pulau’ dan ‘antara’ yang berarti ‘di tengah-tengah’. Kata tersebut sesungguhnya mewakili Negeri Dua Samudera. Sebagaimana diketahui, Negeri Dua Samudera terdiri dari pulau-pulau besar, sedang dan kecil yang terletak di tengah-tengah dua samudera dan dua benua.

Karena berada di ibukota negeri, perguruan ini memiliki dukungan kekayaan sumber daya yang hampir tak terbatas dari pemerintah pusat. Murid-murid terbaik dari seantero Negeri Dua Samudera pun berlomba-lomba untuk mendaftarkan diri. Walhasil, mereka selalu dapat menjaring murid-murid terbaik, dan sungguh perguruan ini rutin menelurkan ahli-ahli perkasa di Negeri Dua Samudera.

Selanjutnya, ‘Persaudaraan Batara Wijaya’ dari timur Pulau Jumawa Selatan. Terletak dekat dengan ibukota lama Negeri Dua Samudera, Sastra Wulan. Mereka menyanjung diri sebagai ahli-ahli yang berkaitan darah dengan Sang Maha Patih. Bahkan, perguruan ini memiliki cara untuk memeriksa apakah di dalam nadi mereka mengalir darah keluarga Sang Maha Patih.

Meski, perihal hubungan darah tersebut sering menjadi pergunjingan banyak ahli. Diketahui bahwa Sang Maha Patih memegang ikrar bahwa beliau tak akan merengkuh kenikmatan duniawi, termaksud menikah, sebelum dapat mempersatukan Negeri Dua Damudera. Oleh karena itu, tak mungkin mereka adalah keturunan langsung dari Sang Maha Patih. Paling-paling, mereka hanyalah keturunan dari saudara-saudara kandung atau sepupu-sepupu Sang Maha Patih.

Apa pun itu, Persaudaraan Batara Wijaya sangat ketat dalam penetapan murid. Murid Utama dan Murid Madya hanya yang diketahui berdarah ‘biru’. Bila tidak memiliki darah Sang Maha Patih, maka sehebat apa pun keahlian seorang murid hanya akan digolongkan sebagai Murid Purwa. Walaupun demikian, murid-murid perguruan tersebut memiliki tingkatan keahlian jauh di atas rata-rata.

Ketiga, ‘Istana Danau Api’ dari wilayah utara Pulau Barisan Barat. Perguruan ini menekankan pada keahlian unsur api dan hanya menerima murid dari wilayah Pulau Barisan Barat. Mereka diberkahi oleh danau yang mendidih pada setiap musim kemarau. Tambahan, pulau di tengah Danau Api memiliki konsentrasi tenaga alam yang tinggi. Berkat kombinasi anugerah dari alam tersebut, murid-murid dari perguruan ini dapat berlatih maksimal dalam menempa persilatan dan kesaktian. *

Keempat, ‘Sanggar Sarana Sakti’ yang berasal dari wilayah barat Pulau Jumawa Selatan, atau daerah yang biasa dikenal dengan nama Tanah Pasundan. Perguruan ini menekankan pada pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan dan mendukung keahlian. Murid-murid kreatif yang menuntut ilmu di perguruan ini terus-menerus berkarya dalam menciptakan alat atau metode baru terkait persilatan dan kesaktian. Dengan kata lain, mereka lazimnya bertarung menggunakan peralatan tempur yang canggih-cangih.

Terakhir, Perguruan Maha Patih dari Kota Ahli, sang tuan rumah. Pandangan umum menganggap bahwa perguruan ini adalah yang terbaik di Negeri Dua Samudera, dan memang demikianlah adanya. Hampir di setiap kejuaraan, murid-murid perguruan digdaya ini selalu tampil gemilang. Selama ratusan tahun, hanya beberapa kali Perguruan Maha Patih melepas gelar juara bertahan.

Entah apa rahasia Perguruan Maha Patih, banyak ahli yang kerap mempertanyakan bagaimana mereka dapat selalu tampil digdaya. Kabar angin yang beredar di kalangan ahli adalah adanya tempat berlatih khusus yang disediakan oleh Ratu Samudera Selatan di bawah samudera sana. Sebagai tambahan, Perguruan Maha Patih dan Persaudaraan Batara Wijaya terlibat dalam perang dingin. Mungkin gegara nama perguruan. Mungkin.

“Dua kali kemenangan akan membawa Perguruan Gunung Agung ke dalam peringkat delapan besar,” tutup Sesepuh Ketujuh.


***


“Di arah barat, belakangan ini banyak ahli dari Negeri Dua Samudera yang berkumpul ke Kota Ahli,” terdengar seorang gadis remaja perempuan berwajah tirus memberi laporan, sepertinya ia baru saja kembali. Ia adalah salah seorang dari pasangan kembar

“Rupanya kejuaraan antar perguruan segera dimulai…,” gumam Anjana. “Sebaiknya kita menghindar dari Kota Ahli untuk sementara waktu.”

Kelima orang ahli Partai Iblis yang berasal dari Pulau Lima Dendam telah tiba di wilayah Pulau Jumawa Selatan sejak sepekan lalu. Persisnya, mereka berada di perbatasan wilayah pusat dan wilayah timur Pulau Jumawa Selatan. Tak ada kendala berarti sampai sejauh ini. Meskipun demikian, Anjana yang berperan sebagai pimpinan regu cukup waspada. Alon-alon asal kelakon, biarlah lambat asal selamat… demikian peribahasa yang cukup terkenal di wilayah dimana mereka berada saat ini.

“Tak ada pergerakan yang mencurigakan di wilayah timur,” tetiba terdengar laporan tambahan dari seorang gadis lain. Rupanya Melati Dara baru saja kembali.

Sungguh Anjana sangat teliti. Hanya berdasarkan bandhil, yaitu senjata milik si kembar, ia mengetahui bahwa mereka awalnya berasal dari wilayah pusat Pulau Jumawa Selatan. Lalu, ia juga menelusuri jati diri Melati Dara, dan mengetahui bahwa gadis tersebut pernah menuntut keterampilan khusus peramu di sebuah perguruan kecil di wilayah timur Pulau Jumawa Selatan. Atas dasar pengetahuan tersebut, tiga hari sebelumnya ia menugaskan mereka memantau ke arah barat dan ke arah timur.

Akan tetapi, kemampuan mengumpulkan informasi Anjana masih belum kunjung menemukan titik terang terkait jati diri Kum Kecho. Hal ini membuat Anjana semakin curiga. Walaupun, ia harus mengenyampingkan perihal Kum Kecho untuk sementara ini. Ada tugas yang lebih penting dan mendesak, yaitu mencari tahu kegiatan Kekuatan Ketiga serta menelusuri jejak Balaputera.

“Kita akan menyisir ke arah timur,” ujar Anjana ringan. Karena memang telah diketahui bahwa jejak Balaputera terakhir berada di wilayah timur.

“Kakak Anjana, apakah saudara lelaki Ambariningsih sudah melapor?” tanya si gadis kembar yang baru saja kembali itu. Rupanya ia bernama Ambariningsih.

“Bukankah kalian berangkat bersama-sama?”

“Benar, tapi kami memutuskan untuk berpencar di satu persimpangan jalan agar dapat memantau wilayah yang lebih luas….” Terpancar kegelisahan dari wajahnya.

“Kita tunggu ia kembali,” jawab Anjana ringan. Akan tetapi, ia merasa ada sesuatu yang tak kena.

“Melati Dara, tetap waspada. Aku merasakan ada aura yang busuk,” ujar Kum Kecho, sengaja dengan suara yang cukup keras agar turut didengar oleh Anjana. Ia lalu menatap ke arah timur laut, lokasi ibukota lama Sastra Wulan. Sejenak, wajahnya terlihat kusut.

“Apa maksudmu?” sela Anjana. “Apakah ada yang kau ketahui?”

“Ngiiiing…” tetiba ratusan ekor nyamuk berukuran sekepal tangan orang dewasa terbang dari balik jubah Kum Kecho. Nyamuk-nyamuk tersebut berpencar ke segala penjuru arah.

“Aku tak tahu…,” jawab Kum Kecho. “Nyamuk-nyamuk ini akan berjaga dalam radius 250 m. Mereka akan mengabari bilamana ada keganjilan.”

Anjana berdiam diri. Menebar binatang siluman dalam radius 250 m hanya bisa dilakukan oleh ahli yang berada di Kasta Perak. Terlebih, hanya ahli pawang Kasta Perak tingkat menengah yang telah memiliki jalinan mata hati cukup memadai untuk mengotrol demikian banyak binatang siluman di saat yang bersamaan.

Hari beranjak malam. Kebisuan malam mulai merambat cepat. Belum ada tanda-tanda kepulangan saudara lelaki Ambariningsih.

“Kakak Anjana, aku hendak menyusul…,” ujar Ambariningsih memecah keheningan.

“Kau baru saja kembali. Beristirahatlah malam ini. Esok pagi-pagi kita akan menelusuri jejak saudara lelakimu bersama-sama….”

“Melati Dara, kau juga beristirahat terlebih dahulu. Aku akan berjaga…,” Kum Kecho berujar, lalu menenggak sebutir pil.

Melati Dara mengangguk pelan. Hanya dirinya yang paling memahami bahwasanya untuk tetap terjaga dan untuk menebar mata hati jarak jauh dalam jangka waktu yang panjang, sesungguhnya Tuan Guru Kum Kecho memanfaatkan berbagai ramuan sakti.



Catatan:

*) Istana Danau Api pernah dibahas dalam Episode 15.


Cuap-cuap:

Apakah para ahli sekalian dapat menebak nama asli dari perguruan-perguruan tersebut?

Silakan kalau ada yang hendak sumbang saran nama perguruan yang layak mengikuti kejuaraan…