Episode 8 - Petarung, Penyihir, Hewan Iblis, dan Kasta



“Dengar Kresna, dalam dunia ini, orang-orang hebat dibedakan menjadi dua jenis. Yang pertama adalah Petarung. Yang kedua adalah Penyihir. Keduanya memiliki hierarki tersendiri yang disebut sebagai Kasta.

Untuk petarung, kasta mereka dari yang terendah ke yang tertinggi adalah: Pendekar, Prajurit, Kesatria, Paladin, Pahlawan, Maharaja, dan Sage. Totalnya ada tujuh. Lalu, untuk dapat naik menuju kasta di atasnya, petarung harus melewati empat tahap, yaitu, Perunggu, Perak, Emas, dan Platina. Sampai di sini paham?”

Aku hanya memberikan tatapan serius yang antusias. Guru tanggap dan melanjutkan penjelasannya.

“Nah, lalu kita beralih ke Penyihir. Penyihir juga memiliki tujuh kasta: Magician, Sorcerer, Spellcaster, Wizard, Arch Wizard Magus, dan Mage. Lalu-...”

“Guru, kenapa kasta penyihir menggunakan bahasa Bizantum?” Aku memotong.

“Oh, kau tahu itu bahasa Bizantum? Lumayan juga. Yah, alasannya karena, sihir pertama kali ditemukan di wilayah barat yang mana sekarang menjadi Kerajaan Bizantum. Maka dari itu, kasta penyihir juga menggunakan bahasa mereka.

Nah, aku lanjutkan yang tadi. Dari tujuh kasta penyihir, mereka juga harus melewati empat tahap untuk bisa naik tingkat, yaitu, Awal, Menengah, Akhir, dan Penyempurnaan. Lalu-...” Aku memotong lagi.

“Guru, kenapa untuk tahap penyihir menggunakan bahasa Yuan?”

“Astaga, untuk apa kau memikirkan hal-hal kecil seperti itu? Apa perlu aku jawab?” Guru menatapku untuk memastikan. Aku menatapnya balik untuk mengisyaratkan ‘ya, itu perlu’. “Baiklah, alasannya karena, itu mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Yuan. Puas?”

“Hah, cuma itu?”

“Ya, ada masalah memangnya?”

“Tidak, apapun kata Guru, pastilah itu benar.” Aku tersenyum lebar sedangkan Guru menatapku sebal.

“Baiklah, lalu ada pula yang disebut Hewan Iblis. Kau pernah dengar, kan?”

“Wah, aku tahu, aku tahu. Aku pernah membaca buku yang berisi gambar-gambar Hewan Iblis. Tapi, memangnya kenapa Guru?”

“Apa dalam buku yang kau baca menyebutkan bahwa Hewan Iblis juga memiliki kasta?”

“Ehmm, buku itu hanya menampilkan gambar dan deskripsi singkatnya saja. Jadi, Hewan Iblis juga punya kasta, ya?”

“Tentu saja punya! Sama seperti manusia, kasta Hewan Iblis juga ada tujuh. Dimulai dari kasta Duniawi, Meteorit, Bintang, Langit, Angkasa, Semesta, dan yang terkahir adalah Surgawi. Mereka juga memiliki empat tahapan untuk naik tingkat, yaitu Nimfa, Imago, Mutasi, dan Evolusi.

 Ngomong-ngomong, kau sudah cerita sebelumnya, tapi saat dalam pelarian di Hutan Kabut, apa kau benar-benar tidak bertemu Hewan Iblis?” 

 “Oh, waktu itu.Waktu itu aku sama sekali tidak memedulikan sekitar. Jadi, entah ada Hewan Iblis atau tidak, aku tidak tahu dan hanya berjalan lurus,” jelasku seadanya.

Memang, sewaktu dalam pelarian dari kelompok Paman Key, aku hanya tenggelam dalam kata lurus. Entah akan ada bahaya apa yang mendekat, diriku hanya ingin berjalan lurus. 

“Wah, kau sungguh anak yang beruntung, Kresna. Umumnya, manusia yang berani dan bisa selamat setelah memasuki Hutan Kabut minimal petarung kasta Prajurit ataupun penyihir kasta Sorcerer. Itu pun, kemungkinan selamatnya masih sangat rendah.”

Beruntung? Benarkah aku beruntung? Jika aku beruntung, maka diri ini tak perlu diculik. Jika aku beruntung, maka diri ini tak perlu jatuh dari tebing curam. Jika aku beruntung, maka aku tidak perlu terjebak dalam gua labirin. Yah, lupakan! Itu semua adalah pemikiranku yang dulu. Sekarang, jika kupikirkan secara positif, kesimpulannya cuma satu, ‘aku beruntung’.

 “Yah, sepertinya aku memang bernasib baik, Guru,” ujarku tersenyum kecil. “Oh, ya, Guru, bukankah Teknik Bela Diri Naga itu khusus untuk petarung? Kenapa di tingkat kesembilan dan di atasnya terdapat kata ‘sihir’ yang melekat?”

“Hahahahah,” Guru tertawa lagi, aku paham gelagat ini. Ini adalah tawa kesombongannya. “Kresna, Teknik Bela Diri Naga itu spesial. Kau bukan hanya akan mempelajari bela diri, tapi juga sihir. Jika kau mampu menguasai minimal sampai tingkat kesebelas, maka kasta petarungmu akan ada ditingkat Pahlawan, dan kasta penyihirmu akan ada ditingkat Witch. Namun, jika kau giat berlatih, menjadi Sage atau Mage secara bersamaan adalah sesuatu yang mudah.”

“Guru, entah kenapa aku merasa seperti orang curang,” ungkapku.

“Hahaha, sudah, jangan terlalu dipikirkan!”

“Oh, ya, kalau Paman Key itu petarung, kan? Dia ada pada kasta apa?”

“Penjahat Key? Dia hanyalah orang rendahan yang ada di kasta Prajurit tahap Perak. Tapi, sekarang dia sudah naik menjadi tahap Emas. Yah, kolam air panas itu memang bisa mempercepat kenaikan tingkat dengan bermeditasi di dalamnya.”

“Kalau begitu, kenapa Guru tidak menyuruhku melakukan meditasi di sana?”

“Kresna, kau pikir Gurumu ini tidak mengatur latihanmu dengan baik? Khusus tingkatan pertama Teknik Bela Diri Naga, aku tidak mengizinkanmu memasuki kolam itu. Alasannya karena, energi panas yang dihasilkan kolam akan mengganggu Pernapasan Yin-Yang-mu. Tapi, kalau kastamu sudah lumayan dan dirimu sudah terbiasa dengan Pernapasan Yin-Yang, maka kau harus selalu melakukan meditasi di sana agar cepat naik tingkat.”

“Guru, memangnya aku berada di kasta apa sekarang?”

“Kau masih berada di kasta Pendekar tahap Perunggu. Itu tingkatan paling rendah. Namun, jika diukur dari waktu latihanmu yang hanya tiga hari, prestasimu sudah cukup mengesankan!”

“Guru, kenapa Pendekar adalah kasta terendah? Aku pikir seharusnya ini menjadi kasta tertinggi. Orang-orang kan biasanya menyebut praktisi bela diri sebagai Pendekar, bukan sebagai Sage ataupun Maharaja.”

“Kresna, untuk menjawab pertanyaan ini, mungkin akan sedikit terdengar filosofis. Bagaimana pun, dari banyaknya manusia yang memilih jalan sebagai petarung, mayoritas dari mereka berada pada kasta Pendekar. Bagi orang biasa, menaikkan kasta terasa cukup sulit karena berbagai faktor seperti, tidak mempunyai tempat meditasi yang baik, tidak mendapatkan guru yang hebat, ataupun karena tidak mengonsumsi eliksir berkualitas.

Nah, karena banyak dari mereka yang gagal untuk naik kasta, maka jumlah orang di kasta Pendekar pun membeludak. Hal ini membuat banyak praktisi bela diri yang ditemui hanya pada kasta tersebut. Jadi, stigma masyarakat pun secara alami memanggil para praktisi bela diri sebagai pendekar. Dan akhirnya, kata ‘pendekar’ mengalami perubahan makna bukan sebagai kasta terendah, tetapi sebagai rujukan para pegiat bela diri. Apa penjelasanku terlalu berat untukmu?”

“Jadi begitu, ini kesalahan kaprah yang dijadikan kebenaran mayoritas. Hm, hm, terima kasih atas pencerahannya, Guru,” ujarku mengangguk-angguk. “Guru, aku mau bertanya lagi.” Aku mengacungkan tangan.

“Apa lagi, kalau itu pertanyaan sepele tidak akan kujawab!” tegas Guru.

“Begini, aku hanya penasaran. Guru ada pada kasta apa? Guru itu sebenarnya Petarung, atau Penyihir, atau mungkin Hewan Iblis?”

“Hahahahahah,” tawa ini, tawa keangkuhan, “Kresna, jangan kau samakan Gurumu dengan manusia! Dan juga, jangan kau samakan Gurumu dengan mahkluk rendahan seperti Hewan Iblis! Tetapi, jika kau memaksaku untuk memberi tahu...”

“Aku tidak memaksa,” potongku.

“Begitu ya, jadi kau benar-benar ingin tahu? Baiklah, sepertinya Gurumu tidak mempunyai pilihan...”

“Dibilangin, aku tidak memaksa, kan?”ujarku, yang kali ini hanya bisa dilantangkan dalam batin.

“Kresna, dari tiga hal yang kau sebutkan tadi, Petarung, Penyihir, dan Hewan Iblis, Gurumu bukanlah ketiganya. Namun, bisa dibilang Gurumu ini juga ketiganya. Paham maksudku?”

“Tidak, tidak, tidak, penjelasan macam apa itu? Guru ketiganya, tetapi juga bukan ketiganya? Ini namanya kontradiksi.”

“Sudah, tidak perlu diambil pusing. Nanti saat waktunya tepat, kau juga akan tahu kebenarannya.”

“Hehehe,” aku tertawa kecut. “Lalu, jika Guru ketiganya tapi juga bukan ketiganya, kasta apa yang Guru miliki sekarang?”

“Hahahahah,...” tawa itu lagi.

“Maaf Guru, tidak usah dijawab!” cetusku, agar perilaku aneh Guru tak kambuh lagi.

“Tidak perlu malu begitu! Gurumu ini akan menjawab rasa penasaranmu. Kresna, untuk menentukan kasta apa yang Gurumu miliki, sebaiknya manusia membuat standar baru dalam hierarki kasta. Harus ada kasta yang lebih tinggi dari Sage, Mage, ataupun Surgawi. Jadi, gurumu ini telah melebihi ketiganya. Paham?”

Entah kenapa, tadinya aku malas mendengarkan. Namun saat mengetahui bahwa tingkatan Guru berada di atas semua orang, aku merasa ini adalah sesuatu yang keren. Senyum seorang bocah yang kegirangan pun kembali merekah dari bibirku. Mataku juga berbinar-binar menatap Guru. Walau terkadang sifatnya menyebalkan, tetapi Guru ya Guru, mau diapakan lagi? Dia adalah teladan sekaligus panutan terbaik dalam hidupku ini. Bahkan, posisi ayah sebagai panutan nomor satuku tergeser olehnya. Ayah, maafkan anakmu yang sedikit lancang ini.

Ah, ngomong-ngomong soal ayah, aku bertanya-tanya, sedang apa dia sekarang? Apa dia sedang mencariku? Apa dia sedang bersedih? Atau jangan-jangan, dia malah belum mengetahui bahwa aku menghilang? Tidak, tidak, itu mustahil. Yang pasti, ayah, apapun yang sedang dilakukanmu sekarang, kuharap jangan terlalu memaksakan diri.

“Kresna, sepertinya cukup di sini penjelasan tentang beberapa sistem dunia persilatan. Untuk mempercepat waktu, bagaimana kalau kau melanjutkan latihanmu sekarang?” Guru menganjurkan.

“Baik, Guru, jadi tingkatan kedua itu, tu..., tu...” Aku mencoba mengingat nama tingkatan teknik yang akan kupelajari.

“Tumpuan Langkah Naga!” Guru membenarkan.

“Ah, iya, itu!”

“Jadi Kresna, Tumpuan Langkah Naga memiliki beberapa tahap. Pertama, kau harus bisa mengalirkan chi dari Dan Tian bawah menuju kakimu. Lalu, dari chi yang sudah terakumulasi pada kaki, kau harus bisa menguasai dasar-dasar ilmu meringankan tubuh. Kau lihat lompatan Penjahat Key sewaktu dia hendak mencabut pedang, kan?”

“Ah, iya, Paman Key sungguh hebat bisa melakukan lompatan yang jauh dan indah.” Aku terkagum.

“Apanya yang hebat? Itu hanya teknik dasar dari ilmu meringankan tubuh. Sudahlah, aku lanjutkan. Setelah kau menguasai ilmu dasar meringankan tubuh, lalu kau diharuskan menguasai ilmu percapatan diri. Singkatnya, itu adalah tingkat lanjut dari ilmu meringankan tubuh. Yang terakhir, kau diharuskan bukan hanya sekedar mengalirkan chi menuju kaki, tetapi memfokuskannya pada satu titik di telapak kaki. Paham maksudku?”

“Kurang lebih aku paham intinya.”

“Bagus, bagus. Jadi, apa kita bisa memulainya sekarang?”

“Baiklah, Guru!”

Kemudian, dimulailah kembali latihanku untuk menguasai tingkatan kedua dari Teknik Bela Diri Naga, yaitu Tumpuan Langkah Naga. Aku berharap, diriku bisa cepat dan mudah menguasainya. Tidak seperti tingkatan pertama yang sudah kukuasai dasarnya sejak lama, di tingkatan kedua ini, segala sesuatunya terasa asing bagiku. 

Kira-kira, berapa lama aku bisa menguasainya, ya?



Kolom penulis:

PENGUMUMAN!

Jadi, setelah saya meminta pendapat teman tentang urutan Kasta Penyihir, saya memutuskan untuk menghilangkan Kasta Witch dan menggesernya dengan Wizard. Sementara, posisi Kasta Wizard digeser dengan Kasta Arch Wizard. Perlu dicatat bahwa perubahan ini tidak mengubah jalan cerita. Hanya sistem kastanya saja yang diganti.

Jadi, ada sedikit revisi di episode 8, 9, dan 15.

Pengumuman ini juga akan ditempel pada episode yang bersangkutan. 

Terimakasih!

 Bagi yang masih bingung dengan sistem dunia persilatan di sini, berikut rinciannya:

>Petarung:

  -Kastanya: Pendekar, Prajurit, Kesatria, Paladin, Pahlawan, Maharaja, Sage

  -Tahapnya: Perunggu, Perak, Emas, Platina

>Penyihir:

  -Kastanya: Magician, Sorcerer, Spellcaster, Wizard, Arch Wizard, Magus, Mage (M 2S 2W 2M> >> biar gampang hafalin)

  -Tahapnya: Awal, Menengah, Akhir, Penyempurnaan

>Hewan Iblis:

  -Kastanya: Duniawi, Meteorit, Bintang, Langit, Angkasa, Semesta, Surgawi

  -Tahapnya: Nimfa, Imago, Mutasi, Evolusi