Episode 7 - Pernapasan Yin-Yang



[Key]

Key hanya terduduk lemas. Punggungnya menyentuh kristal merah, wajahnya tanpa harap, dan sesekali dia tertawa ringan layaknya orang gila. Key tengah melamunkan sesuatu. Bisakah dirinya keluar dari sini? Mungkin, jika dia memaksa, dirinya dapat pergi dari lubang labirin tempat ia datang tadi. Sayang, dia tak yakin keberuntungan akan berpihak padanya. Bisa saja, labirin itu kembali bergerak tak karuan dan menghimpit tubuhnya hingga remuk. Atau bisa saja, dia terjebak seumur hidup di sana tanpa menemukan jalan keluar. Atau bisa juga, lahar panas melalapnya hingga tak bersisa.

Lalu, meskipun bisa keluar, dia tak yakin dapat selamat dari Hutan Kabut. Setidaknya, saat dia mengejar Kresna, kelompoknya melawan lima ekor Hewan Iblis peringkat Meteorit. Memang, dalam kasta Hewan Iblis, mereka masih tergolong rendah, tetapi Key sendiri hanya petarung peringkat Prajurit tahap Perak. Temannya Darwn satu tahap di bawahnya, sedangkan Ritz berada pada tahap yang sama dengannya. Lalu, karena ada Bos mereka yang merupakan petarung peringkat Kesatria tahap Perunggu, kelima Hewan Iblis yang mereka hadapi bukanlah ancaman besar. Sayangnya, kali ini dia sendirian. Dirinya pun terluka, tak mungkin dia bertahan hidup melewati Hutan Kabut. Belum lagi, sejak melihat sosok naga seperti Shenlong, dia yakin ada Hewan Iblis dengan kasta di atas peringkat Meteorit berkeliaran.

Tidak sampai di situ, Key tak bisa membayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang bocah sepuluh tahun untuk mempelajari teknik seekor naga? Menurutnya, Shenlong adalah Hewan Iblis dengan peringkat di antara Semesta atau Surgawi. Itu adalah dua kasta teratas Hewan Iblis. Walau tak pernah sebelumnya ia bertemu Hewan Iblis dengan kasta tersebut, tetapi anggapannya pada Shenlong bukanlah sesuatu yang berlebihan, pikirnya. Dengan demikian, teknik Shenlong pasti akan sangat sulit dipelajari. Bahkan, untuk dirinya sendiri yang sudah mempelajari tiga kitab pedoman pembunuh bayaran, dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menguasai kitab pertama. Dua sisanya memang memerlukan waktu lebih singkat, hanya saja itu masih dalam hitungan tahun. Lalu, bagaimana dengan Kresna? Dua puluh tahun? Tiga puluh tahun? Atau mungkin seratus tahun?

Key kemudian menatap guru dan murid itu dengan pasrah. Yang dia lihat, mereka sedang membahas hal tertentu. Entahlah, karena rasa putus asa, inderanya seolah tak berfungsi, tetapi beberapa kata masih bisa didengarnya.

 Salah satunya adalah ‘meridian’. Wajar saja, pikirnya. Bagi seorang bocah, meridian pasti bukanlah istilah mudah. Setidaknya, Key cukup tahu bahwa tubuh seorang manusia memiliki 8 meridian pokok, 12 meridian istimewa, serta ratusan meridian cabang. Belum lagi jika ranting-ranting kecil meridian dihitung, jumlahnya bisa ribuan. Walau begitu, bukanlah hafalan meridian yang penting dalam chi kung, tetapi bagaimana mengalirkan chi melewati meridian tersebut.

Lalu, ada pula kata-kata chi dan aura yang dibicarakan. Mendengarnya, Kresna menampakkan wajah keheranan. Ini membuat Key semakin tak banyak berharap. Bagaimana pun, jika hal dasar seperti itu bahkan belum dipahami Kresna, kenapa dia bisa sangat yakin dapat menguasai teknik naga itu? Key pun berpikir, dirinya pasti hanya akan mati membusuk di sini. Kemudian, tawa kecil keputusasaan lagi-lagi dikeluarkannya.

“Alicia, maafkan aku, mungkin aku tak akan bisa kembali padamu. Aku sudah tak bisa membelaimu, memelukmu, juga mencumbumu. Alicia, kuharap kau merelakanku. Jangan terlalu berlarut dalam kesedihan, sesungguhnya kau adalah wanita tangguh.”

“Darwn, walau terkadang kau menyebalkan, tetapi humor-humor yang kau keluarkan selalu membuatku tertawa. Waktu itu kau bilang apa? Ah, ya, persamaan kunci gembok dan suami-istri. Hahaha, dasar otak mesum! Pantas saja tak ada wanita yang mau denganmu.”

“Ritz, kita sudah menjadi sahabat baik sejak lama. Tidak, bahkan lebih dari itu, kita adalah saudara. Aku berharap, saat diriku telah tiada, kau bisa menjaga Alicia dengan baik. Aku tahu, sebenarnya kau juga menyukainya, tetapi kau tak ingin bersaing dengan saudaramu sendiri. Jangan biarkan Tua Bangka Sialan itu menyentuhkan jarinya secuil pun pada Alicia! Jika sampai Alicia menangis, maka akan kuhantui kau setiap hari. Hahaha...”

Di tengah lamunan pupus harapnya, tiba-tiba teriakan Shenlong menyadarkan Key. Sebuah teriakan yang memekakkan telinga, membuat semua inderanya kembali berfungsi. Ia melihat Kresna yang menangis dan Shenlong yang berbicara panjang lebar. Semua perkataan Shenlong sangat menusuk bagi Kresna. Itu adalah perkataan yang cukup menghina impian Kresna. Key pun tahu itu, tahu bahwa impian Kresna hanyalah angan bocah. Angan yang tak mungkin tercapai. Tetapi, Key heran, kenapa tiba-tiba Shenlong bersikap kejam pada muridnya?

Ia cermati baik-baik setiap hinaan itu, bahkan namanya pun disebutkan. Hingga akhirnya, ia tahu mengapa Shenlong bersikap kasar pada Kresna. Shenlong, naga merah raksasa itu, ingin menyadarkan Kresna tentang kerasnya kehidupan. Dia ingin kenaifan bocah itu menghilang dan bisa memahami kenyataan. Yah, jika dunia yang diimpikan Kresna benar-benar ada, maka dirinya tak perlu menjadi pembunuh, tak perlu menjadi budak, dan tak perlu menjadi manusia sampah seperti sekarang.

Kemudian, sampailah hinaan Shenlong menjadi sebuah perkataan motivasi bagi Kresna. Wajah menyedihkan bocah itu berganti menjadi kegembiraan. Di sini, entah kenapa, Key juga merasakan suatu dorongan. Dorongan yang menyuruhnya untuk tidak menyerah. Dorongan yang menyuruhnya agar percaya pada Kresna, pada kemampuannya, pada impiannya.

Alhasil, Key pun bangkit dari ketidakberdayaan. Dia berencana untuk menyembuhkan luka dalamnya. Dia lalu menuju sisi pinggir altar dan turun ke bawah. Perlahan, dia semakin mendekati kolam air panas. Awalnya, ia ingin mengambil Anggur Jiwa dan kembali memakannya untuk penyembuhan. Namun, sejauh pengetahuannya di dunia persilatan, eliksir dengan khasiat sedahsyat ini tak boleh dikonsumsi secara berlebih. Itu karena, mungkin saja gejolak energi menghancurkan jaringan meridiannya. Yang ada nanti dirinya mengalami kelumpuhan.

Jadi, sekarang dia berpaling ke jalur meditasi. Tebakannya, kolam air panas ini pastilah bukan kolam sembarangan. Airnya kemungkinan besar memiliki khasiat luar biasa. Ia pun berencana bermeditasi di sini. Ia tanggalkan baju hitamnya sehingga dirinya bertelanjang dada. Lalu, segera ia masuk dan mengambil posisi bersila untuk meditasi. Entah naga raksasa itu akan marah atau tidak dengan tindakkannya kali ini, yang jelas, sekarang dia belum boleh mati.


[Aku]

Aku mengambil posisi duduk sila. Mataku terpejam. Tampangku serius, mencoba berkonsentrasi. Seperti yang kuketahui baru-baru ini, pernapasan dasar sudah lama kukuasai. Maka dari itu, dalam latihan Pernapasan Yin-Yang ini, aku langsung memasuki tahap akhirnya.

Pada dasarnya, pernapasan adalah proses mendapatkan energi. Energi itu merupakan chi dari alam. Di dalam ilmu chi kung, energi alam tersebut akan diakumulasi menuju titik-titik Dan Tian. Titik Dan Tian adalah induk yang menyimpan seluruh chi dalam tubuh manusia dan jumlahnya ada tiga. Dan Tian atas, terletak di dahi. Dan Tian tengah, terletak di antara dada dan pusar. Dan Tian bawah, terletak di antara pusar dan kemaluan. Ketiganya berada pada sumbu sejajar yang vertikal.

Jika dilihat dari sisi lain, pernapasan bisa juga diartikan sebagai proses penyerapan udara dingin yang bersifat Yin, lalu mengeluarkannya sebagai udara panas yang bersifat Yang. Nah... masalahnya, Pernapasan Yin-Yang sedikit menyimpang dari aturan tersebut. Jadi, aku diharuskan mempertahankan kondisi udara Yin yang masuk, lalu mengeluarkan udara yang seimbang antara Yin dan Yang. Setahuku, aturan dasar konsep Yin-Yang adalah, jika Yin membesar, maka Yang mengecil, begitu pun sebaliknya. Maka dari itu, menurut pemahamanku, saat udara Yin dalam tubuhku akan digusur menjadi udara Yang, aku harus cepat-cepat mengeluarkan udara tersebut saat posisi mereka seimbang. Jadi, keakuratan waktu adalah kuncinya.

Sudah tiga hari aku memikirkan ini. Bagaimana agar waktu pernapasanku akurat? Manusia secara alami bernapas tanpa mereka sadari. Sekarang, aku malah harus bernapas dalam kondisi sadar. Namun, jika aku memikirkannya secara sadar, napasku malah tidak karuan. Bisa terlalu cepat, bisa terlalu lambat. Ah, Guru juga tidak mau membantu lebih. Saat aku bertanya, dia hanya bilang, “aku sudah memberitahu dasarnya, sisanya pikirkan sendiri!”

Baiklah, sepenggal ide terbesit dalam pikiranku. Konsep Yin-Yang memiliki yang namanya sebuah ‘batas’. Yaitu, kondisi di mana hitam dan putih tidak bisa bercampur. Bagaimana kalau aku menentukan sebuah batasan dalam pernapasanku, bukannya kapan waktu bernapas yang tepat?

Aku pun memulainya. Pertama-tama, kubayangkan sebuah garis dalam lingkaran. Garis itu membagi lingkaran sama besar. Lalu, isi lingkaran tersebut adalah dua jenis cairan berbeda warna, hitam dan putih. Keduanya saling bergejolak dan menekan setiap saat. Terkadang, cairan hitam menekan putih, dan terkadang cairan putih menekan hitam. Namun, ada saat di mana kedua cairan itu sejajar dengan batasan yang kubuat.

“Rasakan, rasakan, rasakan,” gumamku dalam hati. “Sekarang!” imbuhku seraya membuka mata.

“Wuusssh!”

Tekanan udara meledak dari tubuhku. Aku bisa merasakan aliran energi dahsyat menyelimutiku. Namun, aliran energi itu mempunyai sifat yang berbeda.

“Bagus, Kresna! Kau sudah menguasai Pernapasan Yin-Yang. Menakjubkan! Lebih cepat dari harapanku.” Guru langsung berkomentar setelah mengetahui kondisiku.

“Guru, apa benar aku sudah menguasainya?” tanyaku polos. Setidaknya karena latar belakangku tidak pernah mempelajari bela diri, keraguan masih membayangiku.

“Tentu saja, apa yang kau rasakan di tangan kananmu?” Guru mencoba memastikan.

“Panas...” balasku singkat.

“Lalu, apa yang kau rasakan di tangan kirimu?”

“Dingin...”

“Bagus, sekarang coba tukar kedua energi itu!”

Aku pun kembali memejamkan mata. Diriku membayangkan lingkaran tadi berputar seratus delapan puluh derajat. Lalu, aku merasakan aliran energi yang menyelimuti tubuhku berputar searah jarum jam. Mataku terbuka.

“Sekarang, apa yang kau rasakan di tangan kananmu?” Guru kembali bertanya.

“Dingin...”

“Tangan kiri?”

“Panas...”

“Bagus, itu artinya kau sudah menguasai tingkatan pertama Teknik Bela Diri Naga, Pernapasan Yin-Yang.”

Aku senang. Senyuman merekah dari bibirku. Aku berpaling dari Guru dan menoleh ke arah Paman Key. “Paman Key, kau dengar itu? Aku sudah menguasai tingkatan pertamanya.”

Sayang, respon yang kuharapkan tidak terjadi. Aku melihat Paman Key tengah bermeditasi. Dadanya terbuka, dan tubuhya berendam dalam kolam air panas. Alhasil, kabar baikku sama sekali tak ia dengar.

“Guru, Paman Key sedang bermeditasi juga?” tanyaku memastikan.

“Oh, dia. Dia sedang mencoba mengobati luka dalamnya. Yah, sebenarnya kemarin lukanya sudah sembuh total, tapi sepertinya dia masih tetap ingin melanjutkan meditasi,” jelas Guru. “Dasar! Memakai kolamku seenaknya!” umpat Guru dalam batin.

“Oh, maksud Guru luka yang ia terima saat mencoba mencabut pedang sudah sembuh?”

“Ya, begitulah. Salah dia sendiri bertindak seenaknya. Apa dia pikir dengan tenaga dalam rendahan dapat mencabut pedang itu?” ejek Guru, “yah, tapi dia juga beruntung karena kastanya belum tinggi. Jika dia berada minimal di kasta Paladin dan menggunakan tenaga dalamnya untuk mencabut pedangku, sekarang pasti dia sudah jadi mayat.

Kresna, jika kastamu nanti sudah tinggi, dengan Pernapasan Yin-Yang kau bahkan bisa menguapkan atau membekukan danau hanya dengan menyentuhnya. Bagaimana? Hebat bukan teknikku itu? Hahaha...!” Guru menyombongkan diri.

“Apa maksudnya kasta? Aku tidak mengerti, Guru.”

“Oh, benar juga, kau kan belum pernah belajar bela diri sebelumnya. Baiklah, apa perlu sesi belajar-mengajar dilanjutkan?” Guru mengakhirinya dengan senyuman dan tawa ringan.