Episode 8 - Bukan Begitu Caranya Menikmati Keseharian



Rian merasa hidup kembali setelah mendapat ketenangan dari menumpang di gerobak sang kepala sekolah. Namun dia sedikit merasa bersalah karena Euis rela berbohong dan sang kepala sekolah rela dibohongi.

“Cobalah untuk bersantai, Rian!”

“...”

“Alismu, setiap kali kamu merasa tegang alismu pasti menjadi rapat.”

Seperti yang dikatakan oleh Euis, Rian merasa kalau alisnya menjadi rapat karena ketegangan yang tak sadar telah dia rasakan itu.

Euis mendekat, duduk di pinggir gerobak di sebelah Rian yang duduk di bawah.

Jarak ke gerbang depan sedikit lagi sampai, dan gerobak yang mengantar mereka mulai melambat saat gerbang sudah tertutup.

“Apa kamu merasa lelah?”

“Lelah karena apa?”

“Lelah karena kamu tak bisa menikmati keseharianmu?”

“Memangnya ada apa dengan itu?”

“Tidak, hanya saja kamu seperti orang yang dalam otaknya selalu ingin bekerja tahu.”

“..benarkah?”

Rian menanyakan itu pada dirinya sendiri.

Mungkin kepekaan yang dimiliki oleh Euis dapat mengetahui kalau temannya ini memiliki masalah. Namun dia juga tak tahu, apa yang dapat dia bantu dan Rian juga tak pernah meminta bantuannya.

“Kalau kamu memiliki masalah jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan loh.”

“Kenapa?”

“Tentu saja, apa kamu tak pernah merasa kesulitan saat melakukan sesuatu?”

“Hmm, entahlah. Setiap kali aku melakukan sesuatu, kurasa tak ada kesulitan saat menghadapinya.”

“Eehh! Sebenarnya seberapa Masokisnya kamu ini!?”

“Kenapa kau menafsirkannya seperti itu?”

“Yah, karena kamu juga selalu melakukan semuanya sendirian, aku berpikir kalau kamu sebenarnya ingin mengurangi beban-nya dan tak ingin merepotkan orang-orang di dekatmu, ‘kan?”

Saat Euis mengatakan hal itu, dia merasa kalau sepertinya dia sudah memaksakan dirinya tanpa dia sadari. Bahkan saat dia menyinggung keberadaan seseorang juga, dia tahu itu, tapi di sisi lain dia juga tak bisa menolak perkataan Euis tentangnya.

“Itu mungkin benar, tapi juga salah kau tahu.”

“Benar? Salah?”

“Kau benar kalau mengatakan kalau aku memaksakan diriku. Tapi juga salah kalau kau berpikir aku melakukan itu dengan terpaksa, karena aku juga memiliki alasan yang kuat untuk tak membiarkan kalian atau orang lain terlibat dalam pekerjaan yang kukerjakan.”

“Begitu ya, yah baguslah! Karena aku takut suatu saat nanti kamu menghiraukan batasanmu dan membuat dirimu terluka. Tapi sepertinya kekhawatiranku itu percuma.”

“Jangan khawatir. Aku bukanlah orang bodoh yang menghiraukan keterbatasan dan memaksakan kehendak.”

Mereka berdua—beserta sang kepala sekolah yang berada di depan—telah sampai di pintu gerbang, seseorang keluar dengan terburu-buru dari pos jaga dan mulai membuka gerbang dengan cepat.

“Selamat pagi pak Kepsek!”

“Selamat pagi, Teguh!”

Kedua orang tua itu saling menyapa dengan akrab saat berpapasan.

“Kek Teguh, pagi!”

“Pagi, neng Euis. Hmm..”

Saat sang penjaga pos melihat sesuatu yang aneh terlihat dari belakang sosok Euis yang menghadap padanya, dia mengira kalau itu adalah sesuatu yang tak perlu diperhatikan. Namun perhatiannya kembali terfokus terhadap keberadaan sosok yang bersembunyi di balik Euis.

Teguh menatapnya dengan heran—sosok yang bersembunyi di balik Euis sedikit mengintip, dan saat setengah wajahnya telah terlihat, dia memperlihatkan senyum ketakutan terhadap Teguh.

Namun dia juga tak bisa menghentikan sosok Rian yang bersembunyi di balik Euis dan menumpang di gerobak sang kepala sekolah. Jadi dia membiarkannya seperti hal itu sudah biasa terjadi.

“Huhh! Kupikir aku bakal mati.”

“Tak perlu setakut itu juga kan, lagipula itu hanya kek Teguh.”

“Apa yang kau katakan, kalau membicarakan tentang kengerian kek Teguh itu, mungkin kau bisa merasakannya kalau menjadi murid biasa dan melepas gelar “Putri”-mu itu.”

“Eeh, seseram itukah? Hmm, ya udah deh, aku gak bakal tanya lebih lanjut.”

“Kurasa aku sampai di sini saja!”

Saat mereka sudah sampai di halaman depan lingkungan sekolah, Rian berdiri dan mencoba melompat turun dari gerobak.

“Hee~! Hei!”

Euis yang terkejut dengan perilaku Rian berteriak dan membuat laju motor terhenti.

“Maaf! Dan terima kasih juga pak Kepsek!”

Rian berlari dengan kencang menuju gedung satu dari tiga bangunan sekolah.

“Ya ampun, dia itu!”

Rian berlari dengan terburu-buru karena tak ada satupun sosok murid atau guru yang berkeliaran di lingkungan sekolah. Dia menuju ke gedung 1.

Gedung satu adalah gedung yang digunakan untuk menampung seluruh murid kelas 1 dan 2 semua jurusan.

Ruang kelas yang dituju oleh Rian ada di ujung koridor lantai 3. Tempat yang sengaja dibuat untuk menghindari kontak murid dari kelas lain dari jurusan TKJ.

Dia sampai di lantai tiga, namun ada beberapa murid dari kelas lain yang akan berpapasan dengannya. Karena mereka tampak sibuk dengan pembicaraan mereka, sampai-sampai sosok Rian tak berada dalam jarak pandang mereka.

Karena ingin menghindari kontak langsung, Rian masuk ke ruangan kosong yang tak dipakai dan hanya berisi meja dan kursi yang tak terpakai. Menunggu beberapa murid tadi lewat, dan keluar lalu berlari lagi menuju kelas.

Saat dia sudah sampai di depan pintu, dengan buru-buru bahkan tak menghentikan laju kakinya dia membuka pintu. Namun usahanya sia-sia saat ada seseorang dari dalam yang membuka pintu dan membuatnya hampir terjatuh ke depan.

“Wuoh-!”

Beberapa orang berteriak saat mereka hampir bertabrakan.

“Ketua!!”

Seorang murid laki-laki yang membuka pintu terkejut saat mengetahui seorang yang mengejutkan mereka adalah ketua kelas yang terlambat.

Nafas Rian sedikit berat karena dia terus berlari dalam perasaan gawat.

“Maaf, aku terlambat.”

“Bukan itu yang harusnya kau takutkan. Lihat penampilanmu, berantakan banget.”

“Jangan khawatirkan itu. Loh, bukannya kita sudah masuk, pak Elang ke mana?”

Seperti yang dikatakan Rian, di dalam kelas tak ada seorang pun guru yang mengajar dan teman-temannya terlihat sedang belajar sendiri—sebelum dia mengejutkan mereka semua dengan keterlambatannya.

“Woi-woi, Lek, kau baik-baik aja? Kau kelihatan habis bajak sawah sepertinya.”

“Tidak, aku baik-baik aja. Yang lebih penting, pak Elang?”

“Oh itu, pak Elang titip pesan ke salah satu murid dan mengatakan kalau kita harus belajar sendiri. Dia juga merekomendasikan kita untuk pergi ke ruang praktek.”

“Itu berarti dia ada di ruang praktek sekarang, bodoh.”

Seseorang yang berbicara dengan Rian dengan akrabnya—tak seperti murid lain yang sedikit takut dengannya—adalah seorang murid yang dianggap sebagai perawakan orang korea. Wajah tampan dengan titik hitam di dekat mata kirinya, rambutnya berwarna kuning dan memiliki mata yang tajam.

“Ooh, iya juga ya.”

Namun, ada kesan orang bodoh dari sikapnya.

“Jadi, kita di kelas aja atau gimana nih?”

“Enggak, lebih baik kita pergi ke ruang praktek, mungkin juga pak Elang sedang menunggu kita di sana.”

“Hop! Tunggu dulu.”

“Apa?”

Beni menghentikan Rian yang ingin melangkah keluar untuk pergi ke ruang praktek. Dan saat itu juga dia memandang rendah pada ketua kelas—teman lamanya itu.

“Apa?!”

Rian yang sedang dalam keadaan tak baik untuk menanggapi candaan Beni sedikit mengeluarkan aura hitam dari belakangnya. Membuat takut orang—murid di sekitarnya, namun tidak untuk Beni.

“Kau, mau pergi ke sawah atau ke sekolah sebenarnya sih?”

“Ha-! Aku tak mengerti apa maksudmu!”

“Rasma, katakan.”

“E-eh!?”

Seseorang yang disebut oleh Beni adalah seorang murid perempuan, berkacamata dan terlihat pemalu.

Rian menoleh ke arah seorang yang ditunjuk Beni—yang berada di samping mereka.

“E-eh, itu, anu...”

“Rasma, katakan saja. Kalau itu bukanlah hinaaan aku takkan marah.”

Rian menjadi sedikit tenang saat berbicara dengan Rasma.

Rasma yang percaya dengan perkataan Rian—walaupun terkesan menyeramkan—mulai bicara. Mengenai keadaan Rian.

“Rambutmu...”

“Rambut?”

“Kacamata dan juga pakaianmu..”

Karena sifatnya yang pemalu dan juga ditambah betapa menyeramkannya Rian sekarang, membuat Rasma hanya bisa mengeluarkan beberapa kata itu.

Namun, walaupun sudah disinggung seperti itu Rian tetap tak mengerti maksud dari temannya—dan juga seluruh murid yang memokuskan pandangan padanya.

“Maksudnya adalah penampilanmu, Ketua.”

“Ya, kau seperti akan membajak sawah kalau seperti itu.”

“Enggak, itu terlalu berlebihan. Setidaknya tidak untuk membajak sawah.”

“Kau seperti habis main bola kalau begitu.”

“Emm, bau keringat.”

“Tidak, lebih tepatnya dia habis berantem. Lihat aja mukanya. Serem banget gitu.”

Teman-temannya mulai melontarkan pendapat tentangnya.

Dan setelah sejauh itu barulah dia menyadari betapa berantakan penampilannya.

“Di sini ada seluruh siswa yang akan mengikutimu ke mana pun loh. Jadi setidaknya kau harus berpakaian rapi untuk menjaga martabat kita.”

Beni menambahkan pendapat tentang teman lamanya.

Pandangan seluruh siswa fokus kepadanya; seperti seorang prajurit yang akan mengikuti perkataan apapun dari sang komandan.

“Maaf, aku tak menyadarinya.”

Rian mulai menyadari hal itu dan langsung membenahi penampilannya.

“Tidak. Jangan lakukan itu.”

“Jadi aku harus apa!?”

“Rasma. Tolong ya.”

“E-eh! Aku.”

“Tolonglah.”

Beni memberikan wajah memohon yang membuat orang lain yang akan langsung mengiyakan permohonannya. Dan untuk Rasma yang pemalu pun tak memiliki pilihan lain selain membantu.

“B-baik.”

“Aku punya parfum di sini.”

“Ini, Dani juga punya minyak rambut. Pakai aja!”

“Woi, jangan seenaknya- o-oke, pakai aja.”

“Gimana sama bedaknya. Wajahnya kelihatan sangat lusuh.”

“Boleh juga. Sini biar ku pakai kan.”

“Deodoran gimana?”

Teman-temannya yang tak hanya satu yang peduli dengannya, mulai mengeluarkan barang-barang yang bisa membuatnya terlihat rapi.

“Kalian ini, aku tak menyangka kalian membawa semua itu ke sekolah.”

“E-eh!!!?”

Rian mengatakan sebuah perkataan yang memungkinkan mereka yang akan menolongnya mendapat hukuman, bahkan bukan mereka saja, hampir seluruh murid di kelas memasang wajah terkejut yang tak bisa disembunyikan.

“Baiklah, tapi hanya untuk kali ini aja. Aku akan membiarkan kalian.”

Nafas lega dapat terdengar dari mereka yang membawa barang yang tak seharusnya boleh dibawa ke sekolah. Namun kelegaan mereka masih belum hilang karena mungkin lain kali Rian akan melakukan razia pada teman-temannya.

Di saat Rian telah siap—penampilan yang rapi—kelas XI TKJ pergi ke ruang praktek yang jaraknya agak jauh.

Mereka melewati kelas-kelas lain, dan saat momen di mana mereka menampakkan diri ke siswa-siswa jurusan lain terdapat beberapa perasaan negatif yang diberikan. Namun tak sampai ke sesuatu yang ekstrim seperti sebuah sindiran yang jelas atau perisakan seperti yang ditakutkan.

Untuk itu, mereka diharuskan untuk berdiri tegak, memantapkan perasaan mereka agar tak kalah dengan perisakan tak langsung yang diberikan oleh hampir seluruh murid di sekolah terhadap jurusan TKJ.

Hal tersebut tak hanya terjadi di kelas XI, kelas X yang baru masuk terkadang mendapat perisakan yang hampir di luar batas. Tetapi kasusnya segera menghilang dan kejadian seperti itu tak pernah terdengar lagi terjadi.

Mereka sudah sampai di sebuah bangunan cukup tua yang digunakan untuk menjadi ruang Laboratotium Komputer—ruang praktek bagi anak-anak jurusan TKJ.

Pintu dibuka oleh Rian, namun tak ada satupun jejak seorang vampir yang menjadi wali mereka.

“Loh, pak Elang ke mana?”

Rian menggumamkan hal itu ketika dia menelusuri seluruh bagian ruangan.

“Ketua, ini, ada pesan untukmu!”

Teman sekelasnya menemukan sepucuk kertas yang berisi pesan untuknya dari Elang.

Dalam surat itu mengatakan mereka diberikan pokok pelajaran yang terdapat di dalam buku. Di situ juga tertulis kalau Elang membutuhkan bantuannya di kantor.

“Baiklah teman-teman, pak Elang memintaku untuk menolongnya. Tapi kita sudah diberikan pokok bahasan kali ini. Lihat di halaman 280 dan kerjakan itu sekarang selagi kami berdua tak di sini. Dani, kepemimpinannya kuserahkan padamu.”

“Sip. Aman itu mah.”