Episode 84 - Kota Ahli


 

Kota Ahli, sesuai namanya, merupakan kota yang paling banyak menampung para ahli dari seantero Negeri Dua Samudera. Tidak ada diskriminasi di sini; apakah itu terhadap manusia, siluman sempurna, bahkan terhadap mereka yang berdarah setengah manusia dan setengah siluman, atau yang biasa dikenal dengan sebutan ‘peranakan siluman’. Semua diterima dengan tangan terbuka, sepanjang bertujuan untuk meningkatkan keahlian dengan jalan yang baik dan benar.

Letak Kota Ahli berada di wilayah pusat Pulau Jumawa Selatan. Kota ini tidaklah terlalu besar adanya. Namun demikian, ia menjadi magnet bagi banyak ahli karena terdapat ratusan perguruan yang berdiri. Mungkin karena terletak di tengah-tengah itulah, ia menjadi mudah dijangkau sehingga digandrungi banyak ahli perkasa untuk mendirikan perguruan.

Secara struktur pemerintahan, Kota Ahli berada di bawah wewenang Keraton Ayodya Karta dan dipimpin oleh seorang Raja. Di saat Perang Jagat lima ratus tahun lalu, wilayah Keraton digempur habis-habisan oleh serangan kaum siluman. Pasukan Keraton Ayodya Karya sempat terdesak karena perhatian terpaksa terpecah antara melindungi rakyat dan bertempur melawan siluman.

Walhasil, pusat pemerintahan Keraton terpaksa dipindahkan ke wilayah kekuasan istri dari sang Raja. Uniknya, istri Raja Keraton Ayodya Karta merupakan siluman sempurna. Sang istri memimpin kerajaan silumannya sendiri di dasar samudera di selatan Pulau Jumawa Selatan. Samudera Selatan adalah salah satu dari dua samudera yang mengapit Negeri Dua Samudera.

Atas desakan dan bantuan sang istri pulalah, Keraton Ayodya Karta berhasil mengungsikan mayoritas rakyat menuju kerajaan di bawah laut. Di bawah perlindungan sang istri, rakyat dapat hidup tenang dan damai. Sang istri yang berhati mulia tersebut dikenal dengan nama… Ratu Samudera Selatan.

Sesungguhnya Ratu Samudera Selatan berada dalam kondisi yang terjepit di saat Perang Jagat berlangsung. Di satu sisi ia adalah siluman sempurna dan Ratu dari salah satu kerajaan siluman terbesar di Negeri Dua Samudera. Di lain sisi, kekasih hatinya adalah manusia, seorang Raja pula. Walhasil, sang Ratu memutuskan untuk bersikap netral. Ia tak mendukung kedua belah pihak.

Kaisar Iblis Darah sempat meradang berang atas keputusan Kerajaan Samudera Selatan. Bagaimana mungkin sang Ratu tak hendak berpihak!? Padahal, ia adalah siluman sempurna! Akan tetapi, bahkan sang Kaisar tak hendak menyulut api permusuhan dengan kerajaan siluman di dasar samudera itu. Sebab, andai kata Kaisar Iblis Darah memusuhi Ratu Samudera Selatan, maka bisa jadi sang Ratu berbalik membela umat manusia dan menyerang kaum siluman di bawah pimpinan Kaisar. Ratu Samudera Selatan tak bisa ditebak kehendaknya.

Oleh karena itu, Kerajaan Samudera Selatan saat itu menjadi tempat netral. Non blok. Siluman, manusia, dan peranakan siluman diterima baik. Semangat Ratu Samudera Selatan ini menular dan terus berkembang di Kota Ahli.

Karena rakyatnya telah diungsikan ke tempat yang aman di dasar samudera, maka Keraton Ayodya Karta dan para ahli di Kota Ahli dapat fokus berjuang melawan gempuran demi gempuran di saat Perang Jagat. Mereka pun berhasil memukul mundur kamun siluman.

Perjuangan saat itu mendapat dukungan penuh dari perguruan termasyur dan terbaik tak hanya di Kota Ahli, namun juga di seantero Negeri Dua Samudera. Murid-muridnya berjiwa kesatria, mereka mengangkat senjata karena tak rela ditaklukkan. Perguruan Maha Patih adalah nama perguruan digdaya tersebut.

Sepuluh orang murid sedang berjaga tepat di depan gapura menuju wilayah dalam Perguruan Maha Patih di Kota Ahli. Dua di antara mereka berdiri di barisan depan. Dari gerak tubuh dan rasa percaya diri yang terpancar, tak sulit untuk menerka bahwa keduanya memiliki jabatan yang lebih tinggi daripada yang lain.

Sejak beberapa hari belakangan, mulai berdatangan perwakilan dari perguruan-perguruan yang diundang untuk mengikuti Kejuaraan Antar Perguruan. Sebagai tuan rumah, Perguruan Maha Patih telah menyiapkan pendamping dan tempat tinggal beserta kelengkapannya untuk ke-32 perguruan yang ikut serta.

Di kejauhan terlihat enam orang perempuan melangkah ringan. Paling depan adalah seorang perempuan dewasa muda. Tepat di belakangnya, dua orang gadis remaja mengikuti. Seorang gadis remaja di tengah berjalan malas. Paling belakang, dua orang lagi gadis remaja mengikuti.

Dua orang murid terdepan yang menjaga gapura segera membolak-balik lembaran-lembaran kertas catatan mereka. Sebagai murid dari Perguruan termasyur, mereka tak hendak sampai salah menyapa tamu Perguruan.

“Salam hormat. Selamat datang di Perguruan Maha Patih kami haturkan kepada perwakilan dari… Padepokan Kabut,” ujar salah seorang dari dua yang berdiri di depan. Ia adalah pemuda berambut poni, sepertinya gaya rambut ini sedang menjadi tren saat ini.

Sepuluh pasang mata memandangi satu per satu perwakilan dari Padepokan Kabut. Semuanya cantik jelita, tanpa cela. Tak lama, tatapan mereka berhenti pada gadis remaja di tengah. Gadis tersebut mengenakan jubah berwarna ungu tanpa tudung kepala. Wajahnya demikian ayu, kelopak matanya sayu, bulu matanya lentik merayu.

Namun, perhatian mereka segera teralihkan ke celah di bagian depan jubah berwarna ungu… Celah tersebut sudah tak kuasa menahan belahan dada yang berguncang pelan, setiap kali sang gadis melangkah. Setiap guncangan menghentak-hentak dada sesiapa pun yang menyaksikan.

Kesepuluh orang murid terpana… Tak satu pun dari keenam perempuan tersebut yang bersuara dan menjawab salam. Mereka melangkah tanpa sedikit pun menoleh atau sekedar mengurangi kecepatan. Kesepuluh murid Perguruan Maha Patih diabaikan ketika keenam perempuan itu melangkah ke dalam gapura.

Kesepuluh orang murid masih terpana. Seorang murid paling belakang lalu menegur murid paling depan…

“Kakak seperguruan… utusan dari Padepokan Kabut telah melangkah masuk. Bukankah tugas kita bersepuluh mendampingi perwakilan dari perguruan yang kita sambut…?” ujar murid muda yang bertahi lalat di atas bibir itu.

Si kakak seperguruan tersadar. Ia segera memutar tubuh dan menyusul tetamu yang telah melangkah masuk. Tugas sebagai pendamping diberikan kepada murid-murid golongan rendah. Mereka melayani segala keperluan perwakilan tetamu undangan. Siapa tahu, mungkin mereka bisa belajar dari putra dan putri perguruan undangan sehingga mendapat peruntungan untuk memperbaiki posisi mereka di dalam Perguruan Maha Patih.

“Yang Terhormat perwakilan dari Padepokan Kabut, kediaman telah disiapkan di sisi selatan. Mari kami antarkan…” ujar pemuda berambut poni ramah.

Perempuan dewasa muda yang mendampingi murid-murid Padepokan Kabut menghentikan langkah kaki…

“Sampaikan kepada pimpinan Perguruan Maha Patih, bahwa Padepokan Kabut hanya menerima pendamping perempuan!” ujarnya tegas.


***


“Si anak hilang belum kembali!” teriak seorang gadis remaja ke arah pepohonan bisu. Di belakangnya tiga anak remaja lain sedang giat berlatih.

Maha Guru Keempat, Sesepuh Kelima dan Sesepuh Ketujuh sedang duduk bersila.

“Sesepuh Ketujuh, esok hari dirimu akan berangkat membawa perwakilan Perguruan Gunung Agung menuju Perguruan Maha Patih di Pulau Jumawa Selatan…,” ujar Maha Guru Keempat, wajah kusut seperti biasa.

“Janganlah terlalu khawatir,” jawab Sesepuh Kelima. “Perwakilan tahun ini pastinya mampu mengharumkan nama Perguruan.”

Pada setiap kejuaraan yang pernah mereka ikuti, Perguruan Gunung Agung tak sekali pun masuk dalam peringkat sepuluh besar. Sungguh tinggi standar keahlian di Pulau Jumawa Selatan dan sungguh berbakat murid-murid mereka. Seberkas harapan muncul pada wakil-wakil yang dikirim tahun ini. Meski demikian, Sesepuh Kelima sebenarnya menyadari apa yang sesungguhnya membuat hati Maha Guru Keempat demikian gundah. Sang anak didik, Bintang Tenggara, belum kunjung pulang.

“Aku akan membawa Gundha sebagai perwakilan cadangan,” sambut Sesepuh Ketujuh tenang.


***


“Hah!” Bintang Tenggara terbangun. Kepalanya pening, perutnya kosong. Akan tetapi ia tak merasakan ada cedera di tubuhnya.

Bintang Tenggara mengamati sekeliling. Ia terbaring di atas sebuah tempat tidur besar nan empuk, dengan selimut tebal yang lembut. Ruangan teramat sangat luas. Di satu sudut, terlihat sebingkai jendela besar dan mengantarkan cahaya hangat matahari pagi membelai wajahnya.

Ia lalu menebar mata hati… ada yang berbeda dari mustika tenaga dalam di ulu hati.

“Krek...,” daun pintu besar terbuka perlahan. Seorang lelaki dewasa bertubuh besar masuk dan melangkah perlahan. Seorang gadis remaja berparas dengan pembawaan demikian anggun menyusul di belakangnya.

“Maafkan aku anak muda,” ujar lelaki dewasa itu. “Sungguh gegabah aku menganggapmu sebagai orang yang menculik putriku.” Wajahnya terlihat kusut, sepertinya ia sangat menyesal sekali.

Bintang Tenggara hanya menatap ringan. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Rasa pening yang demikian menyengat membuatnya kesulitan menelusuri ingatan.

Gubernur Pulau Dua Pongah menatap anak remaja di depannya. Karena amarah dan rasa takut akan kehilangan sang putri, ia menyerang sosok yang diketahui menyusup ke dalam formasi Segel Benteng Bening dan menculik putrinya. Apalagi, gambaran wajah anak remaja tersebut cocok sekali dengan gambaran yang diberikan Tikus Awan dan Bunglon Malam.

Meski demikian, sang Gubernur sangat merasa heran. Bagi seorang ahli Kasta Emas, sungguh tak diperlukan baginya mengerahkan jurus kesaktian atau persilatan untuk membungkam ahli yang berada pada Kasta Perunggu. Cukup ledakan tenaga dalam murni saja seharusnya dapat membunuh dengan cepat.

Saat itu, ia mengerahkan serangan tenaga dalam murni dengan niat membunuh seketika. Gelombang hantaman tenaga dalam tersebut cukup untuk meledakkan mustika tenaga dalam Kasta Perunggu. Kematian yang disebabkan oleh serangan yang sedemikian adalah ledakan mustika tenaga dalam, yang menjurus kepada ledakan tubuh.

Mata hati sang Gubernur pun mengungkapkan bahwa mustika di ulu hati anak remaja tersebut benar-benar meledak, tapi tidak dengan tubuhnya. Anak remaja tersebut seolah memiliki… dua mustika tenaga dalam! Mustika kedua menyuplai cukup jumlah tenaga dalam untuk menjaga agar mustika yang telah meledak tetap terisi dan dapat terangkai menjadi mustika baru. Sungguh pelik!

Yang tak diketahui oleh sang Gubernur, Bintang Tenggara memang memiliki dua mustika tenaga dalam. Satu adalah miliknya, dan satu lagi adalah mustika retak milik Super Guru Komodo Nagaradja. Keduanya saling terhubung. Walaupun si Super Guru sedang tak sadarkan diri, ada mekanisme naluriah untuk mengisi mustika retak dan hubungan kedua mustika tetap terjaga. Sesuai kata-kata si Super Guru saat menganugerahi mustika retak, tenaga di dalamnya dapat dimanfaatkan dalam keadaan terdesak.

Setelah mendaratkan serangan, sang Gubernur lalu mendengar penjelasan singkat dari Lampir Marapi. Terkejut bukan kepalang karena kemungkinan telah membunuh penyelamat putrinya, ia pun memeriksa tubuh anak remaja yang sudah tak berdaya. Di saat itulah ia menyaksikan bahwasanya mustika tenaga dalam yang telah meledak terangkai menjadi mustika baru. Jadi, bukannya mati karena mustika tenaga dalam meledak, anak remaja tersebut malah naik tingkat keahlian. Ia kini berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5!

Meskipun demikian, terpapar serangan tenaga dalam yang demikian besar dari seorang ahli Kasta Emas bukanlah persoalan sepele. Tubuh dan kesadaran Bintang Tenggara tetap menerima dampak yang sangat signifikan. Walhasil, tubuhnya menjadi lemah, pun tak sadarkan diri.

“Nak Gemintang,” tegur Gubernur Pulau Dua Pongah lagi. “Sungguh aku memohon maaf…”

“Berapa lama diriku tak sadarkan diri?”

“Sekitar sepuluh hari…”

Sepuluh hari! Perhitungan Bintang Tenggara saat meninggalkan ruangan di balik tebing adalah ia masih memiliki waktu sekitar dua pekan. Bila dirinya tak sadarkan diri selama sepuluh hari, maka rombongan dari Perguruan Gunung Agung pastilah sudah bertolak ke Kota Ahli!

Sontak Bintang Tenggara bangkit dari tempat tidur besar itu. Akan tetapi, ia segera terhuyung dan hampir terjatuh. Lampir Marapi bergerak cukup sigap… gadis itu segera mendorong tubuh Bintang Tenggara sampai terhempas kembali ke tempat tidur. Bintang Tenggara tergeletak lemah. Pertolongan seperti apa itu…?

Bintang Tenggara menyantap lahap makanan yang disiapkan untuknya. Ia sadar betapa harus segera menyembuhkan tubuh. Di atas meja, terdapat pula beberapa jenis ramuan penyembuhan raga yang telah disajikan pelayan. Benar, pelayan... tak ada budak di Pulau Dua Pongah. Pastilah ramuan-ramuan yang sangat berharga, batin Bintang Tenggara

Saat ini, ia sudah berada di ibukota Pulau Dua Pongah. Tak lama, tiga remaja melangkah masuk ke dalam ruang makan. Sungguh kikuk pembawaan mereka.

“Kami memohon maaf… sekaligus mengucapkan terima kasih yang tak terkira,” ujar Merpati Lonjak. Remaja itu bersama Bunglon Malam dan Tikus Awan lalu menundukkan tubuh.

“Tak ada permusuhan di antara kita,” jawab Bintang Tenggara ringan. “Yang sempat terjadi adalah kesalahpahaman belaka. Kalian pun hanya menjalankan tugas semata.”

Dua hari dan dua malam berlalu cepat. Bintang Tenggara sedang berada di depan sebuah gerbang dimensi. Tidak ada antrian, karena hari ini gerbang dimensi untuk meninggalkan Pulau Dua Pongah diperuntukkan khusus untuk dirinya seorang.

“Kakak Gemintang….”

“Sesuai kesepakatan di antara kita, kukembalikan cincin Batu Biduri Dimensi ini…,” Bintang Tenggara alias Gemintang meraih ke dalam ruang dimensi penyimpanan di dalam mustika retak, dan melemparkan sebentuk cincin kepada Lampir Marapi.

Wajah Lampir Marapi segera kembali ceria. Koleksi pakaian, sepatu dan tas miliknya akhirnya kembali setelah sekian lama. Sungguh anggun wajah dan pembawaanya.

“Ibunda memberikan cincin Batu Biduri Dimensi ini untuk Kakak Gemintang,” Lampir Marapi menyerahkan sebentuk cincin dengan hiasan batu yang lain.

Bintang Tenggara menerima hadiah cincin Batu Biduri Dimensi itu. Ia menebar mata hati dan menemukan beberapa paket Sirih Reka Tubuh, sejumlah ramuan, makanan ringan, dan sebuah lencana keemasan. Terdapat pula beberapa lembar baju dan celana remaja lelaki yang sedang tren. Bintang Tenggara segera mengetahui bahwa pakaian-pakaian pastilah pemberian Lampir Marapi sendiri.

“Terima kasih,” ungkap Bintang Tenggara tanpa basa-basi. Ia langsung menyimpan cincin tersebut ke dalam ruang dimensi mustika retak. Meski ukuran Batu Biduri Dimensi yang diterima tak sebesar milik Aji Pamungkas, Bintang Tenggara tetap merasa risih bilamana terlalu banyak mengenakan cincin.

“Perlihatkan kepadaku Kitab Kosong Melompong milikmu.”

Lampir Marapi mengeluarkan Senjata Pusaka Baginda miliknya itu, dan menyerahkan kepada lawan bicaranya. Bintang Tenggara membuka kitab, lalu pada satu halaman kosong ia memberikan sejumlah Segel Penempatan dan sejumlah Segel Petir.


“Kakanda, apakah yang dikau pikirkan?” ujar seorang perempuan cantik kepada suaminya.

“Entah mengapa, anak muda bernama Gemintang itu mengingatkan aku pada seorang sahabat,” jawab Gubernur Pulau Dua Pongah. Sepasang suami-istri itu sedang melayang di udara, memerhatikan Bintang Tenggara dan Lampir Marapi dari kejauhan.

“Siapakah gerangan sahabat tersebut…?”

“Siapa lagi kalau bukan sahabat yang membangun formasi segel Benteng Bening… Kakak Balaputera.” Di saat yang sama, sang Gubernur mengingat suatu saat lima belas tahun lalu ketika ia meminta kepada sahabatnya itu untuk menyusun sebuah formasi segel sebagai upaya perlindungan bagi putrinya yang baru lahir.

Meski, satu hal masih mengganjal di hati sang Gubernur. Bagaimana caranya anak remaja tersebut masuk ke dalam formasi Segel Benteng Bening? Kedatangannya hanya memicu isyarat penyusupan…

“Oh? Apakah ikatan pertunangan Lampir Marapi dan putra dari Kakak Balaputera masih berlaku?”

“Tentu saja,” jawab sang Gubernur ringkas.


“Kemanakah kiranya tujuan Tuan Muda?” ujar seorang lelaki dewasa. Ia merupakan petugas gerbang dimensi.

“Apakah Paman dapat mengirimkan aku ke Kota Ahli?”

“Tentu saja.” Gerbang dimensi pun segera berpendar.

Bintang Tenggara menoleh ke belakang, menatap Lampir Marapi sekali lagi. Ia lalu berucap…

“Nama asliku adalah Bintang Tenggara, dan aku dua tahun lebih muda darimu.” Dengan demikian Bintang Tenggara melangkah ke dalam gerbang dimensi dan meninggalkan Pulau Dua Pongah.