Episode 83 - Segel Petir


Secara teknis dua lawan dua. Pada kenyataannya, adalah empat lawan dua, karena di pihak Bintang Tenggara terdapat tiga Lampir Marapi. Meski, bila dilihat dari kasta dan tingkat keahlian, malah lawan yang unggul karena salah satu dari mereka berada pada Kasta Perak.

Kedua kubu masih berhadap-hadapan, terpisah jarak sekitar sepuluh langkah. Tentu saja Bintang Tenggara tak hendak menyerang terlebih dahulu. Ia lebih memilih untuk melancarkan serangan balik. Lagipula, telah diketahui bahwa lelaki berjambang itu memiliki kesaktian unsur air. Salah sedikit saja, maka gelembung balon air akan mengurung, bahkan membuat tak bisa bernapas.

“Bum!” Salah satu Lampir Marapi melempar kelereng yang telah diimbuh unsur api!

Bintang Tenggara hanya menghela napas panjang. Ketika ia memutuskan untuk menunggu lawan, Lampir Marapi malah membuka serangan.

Lelaki berjambang yang berada pada Kasta Perak memanfaatkan ledakan untuk merangsek maju. Ia mengincar anak remaja di hadapannya!

Menyadari bahwa dirinya yang menjadi sasaran, Bintang Tenggara bergerak mundur. Ia berniat memancing lelaki berjambang menjauh dari Lampir Marapi. Dengan demikian, Lampir Marapi akan memiliki kesempatan bertarung melawan si perempuan muda yang bersenjatakan pedang. Dengan tiga tubuh dan berbekal keterampilan khusus segel dan peluru kelereng api yang dipinjam, bukan tak mungkin bagi Lampir Marapi meraih kemenangan.

“Swush!” tetiba sebuah formasi segel berbentuk persegi panjang mengurung tubuh lelaki berjambang. Sudut mata Bintang Tenggara menangkap salah satu Lampir Marapi, kemungkinan besar Lampir Marapi C, baru saja melempar formasi segel tersebut.

Bintang Tenggara hanya bisa mendecakkan lidah. Apa yang gadis itu perbuat? Mengapa ia merusak rencanaku!? Tak hendak kehilangan kesempatan, segera ia melenting tinggi dan menikamkan Tempuling Raja Naga!

“Hyah!” Lelaki berjambang meledakkan tenaga dalam dan melepaskan diri secara paksa dari formasi segel yang mengurung dirinya. Tentu saja formasi segel milik Tikus Awan yang berada Kasta Perunggu tak dapat berlama-lama mengurung seorang ahli dengan Kasta Perak.

Di saat itu, Tempuling Raja Naga menikam tajam. Bintang Tenggara pun telah menambah berat maksimal tempuling, yaitu 200 kg. Lelaki berjambang segera memasang perisai air untuk menghambat laju tempuling. Akan tetapi, ujung tempuling yang runcing secara alami tak bisa diredam oleh pertahanan air.

Menyadari bahwa pertahanan airnya tak dapat berbuat banyak, lelaki berjambang lalu berniat menangkap tempuling dengan kedua tangan… Betapa terkejutnya ia ketika berhasil menangkap bilah tempuling, tekanan berat yang dirasakan justru mengancam jiwa. Ia pun segera mengibaskan tempuling ke samping.

Melihat adanya kesempatan yang terbuka, Bintang Tenggara melepaskan Tempuling Raja Naga dan segera melancarkan serangan mendadak.

“Badak!”

Di sisi lain, Lampir Marapi A dan Lampir Marapi B melemparkan peluru kelereng api bertubi-tubi ke arah perempuan yang menghunuskan pedang. Perempuan itu melompat gesit ke kiri dan ke kanan.

Menghindar sambil meransek maju. Itulah rencana perempuan muda itu. Ia menghunuskan pedangnya ke arah Lampir Marapi… entah ke Lampir Marapi mana. Gerakan perempuan muda tersebut cukup lincah mengincar ketiga lawan secara bertubi-tubi.

Ketiga Lampir Marapi pun bergerak luwes. Mereka menghindar dengan apik dan di saat yang sama berpencar menjaga jarak. Jika setiap gerakan mereka diperhatikan dengan seksama, maka tak akan ada yang bisa menebak bahwa sesungguhnya gadis tersebut tak mengimbuh tenaga dalam ke sendi dan otot. Sebagaimana yang diketahui, kesaktian unsur putih menghalangi mustika untuk manyalurkan tenaga dalam. Jadi, baik jurus persilatan dan jurus kesaktian tak dapat dikerahkan oleh Lampir Marapi.

Jadi, bagaimana caranya ia dapat bergerak demikian luwes jika tak memiliki kemampuan persilatan dan kesaktian? Jawabannya ada beberapa… yaitu dari berlatih keras setiap hari, serta dengan meminum ramuan penguat sendi dan otot.

Setelah berhasil dan berpencar, masing-masing Lampir Marapi segera menelan sebutir pil. Sepertinya, pil tersebut merupakan ramuan yang dapat meningkatkan kecepatan dan kekuatan dalam jangka waktu tertentu.

Perempuan muda bergerak cepat ke arah salah satu Lampir Marapi. Daripada menyerang ketiga anak gadis, ia akhirnya memutuskan menyerang satu yang utama. Lampir Marapi yang menjadi incaran adalah yang sedang memegang Kitab Kosong Melompong. Jelas sekali tujuannya, yaitu segera membekuk Lampir Marapi yang asli.

Sebagaimana diketahui, Lampir Marapi A adalah yang memegang dan membuka Kitab Kosong Melompong, Lampir Marapi B dibekali peluru kelereng api, sedangkan Lampir Marapi C mendapatkan formasi segel.

Ledakan demi ledakan kembali terjadi. Dua Lampir Marapi mencoba menghentikan langkah perempuan tersebut agar tak menjangkau sasaran. Akan tetapi, tentunya lawan mereka cukup lincah menghindar untuk terus merangsek!

“Swush!” tetiba sebuah formasi segel berbentuk segi empat mengurung perempuan yang sudah mendekat itu. Di dalam kurungan si perempuan muda terpana... Bukankah formasi segel berada di tangan gadis lain? Dirinya mengingat bahwa yang melempar formasi segel bukanlah yang memegang kitab!

Sungguh cekatan gerakan Lampir Marapi C dalam mengurung lawan yang mengincarnya. Tanpa disadari oleh lawan, Lampir Marapi A menyerahkan Kitab Kosong Melompong kepada Lampir Marapi C. Tindakan tersebut dilakukan pada satu kesempatan saat berkelit menghindar. Tujuannya memang hendak mengelabui lawan. Sungguh taktik yang sama sekali tak terduga!

Gerakan Pertama Tinju Super Sakti memukul mundur lawan meski berada pada Kasta Perak. Lelaki berjambang itu terdorong belasan meter ke belakang, sebelum ia terbatuk sekali dan darah mengalir dari sudut bibirnya. Meski demikian, ia masih bisa berdiri tegar. Bintang Tenggara mengingat Guru Muda Anjana yang memiliki jurus Raga Bima. Kemampuan tubuh lawan kali ini, walau berada pada Kasta Perak, tidaklah seberapa. Mungkin hal ini disebabkan lawan menekankan pada kesaktian unsur air, bukan persilatan. 

Wajah lelaki berjambang terlihat kusut. Dentuman apakah tadi yang menggelegar? Jurus itu... sungguh digdaya! Sudut matanya kemudian menangkap sang rekan yang sudah terkurung tak berdaya di hadapan Lampir Marapi. Wajahnya bertambah kusut.

Lelaki berjambang lalu mengangkat telapak tangannya. Uap-uap air yang berada di udara di sekitar tubuhnya kemudian berkumpul dan berubah menjadi tongkat-tongkat tajam yang panjangnya tak lebih dari setengah meter. Ia lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah Bintang Tenggara.

Tongkat-tongkat tajam yang dihasilkan dari kesaktian unsur air melesat cepat. Bintang Tenggara bergerak menghindar. Namun, tongkat-tongkat air tersebut terus mengikuti dirinya.

Tak kehabisan akal, Bintang Tenggara melempar lima segel penempatan di saat bergerak menghindar. Posisi segel ditempatkan sedemikian rupa untuk membelokkan tongkat-tongkat air. Berhasil. Tak satu pun tongkat-tongkat air dapat menjangkau Bintang Tenggara.

Bintang Tenggara lalu menghampiri Lampir Marapi. Ia pun segera mengaktifkan jurus Delapan Penjuru Mata Angin untuk mengisi kembali mustika tenaga dalam yang sempat terkuras akibat Tinju Super Sakti tadi. Di saat yang sama, keberadaan dirinya di samping Lampir Marapi membuat lelaki berjambang ragu-ragu untuk segera menyelamatkan rekannya yang terkurung.

“Kau lemparkan peluru kelereng api untuk mengalihkan perhatianya. Lalu kurung ia dalam segel. Aku akan melontarkan tinju. Satu atau dua tinju lagi kemungkinan besar ia akan tumbang…,” bisik Bintang Tenggara.

“Kakak Gemintang… diriku sudah kehabisan peluru kelereng api. Formasi segel yang tadi pun adalah yang terakhir…,” jawab Lampir Marapi santai, tanpa beban.

Bintang Tenggara melongo. Ia menoleh ke Kitab Kosong Melompong yang terbuka di tangan Lampir Marapi. Dua halaman yang terbuka terlihat… kosong melompong! Bagaimana mungkin gadis itu menghabiskan amunisi dalam keadaan sulit seperti ini!?

“Diriku masih menyisakan ini…,” Lampir Marapi memberikan sepaket sirih yang sudah siap dikunyah.

Dengan sangat berat hati Bintang Tenggara menerima paket sirih tersebut, memasukkan ke dalam mulut, dan mulai menyirih. Kedua matanya merem-melek menahan rasa pahit. Rasa pahit ini tak akan mudah hilang, keluhnya dalam hati.

“Puih!” Bintang Tenggara meludahkan gumpalan merah ke tanah.

Satu lagi Bintang Tenggara terlihat muncul berdiri di sebelah yang asli. Ia pun membuat jalinan mata hati dan memberi perintah. Mengomandoi kemampuan Reka Tubuh yang dihasilkan dari racikan sirih ini jauh lebih mudah daripada mengontrol binatang siluman.

Lampir Marapi menyodorkan satu paket lagi…

“Cukup!” Bintang Tenggara setengah merintih.

Lelaki berjambang sedang menimbang-nimbang. Ia tak berani meremehkan lawan. Padahal, anak remaja itu hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 4… Satu saja sudah menyusahkan, sekarang ada dua!

Dua Bintang Tenggara merangsek maju. Bintang Tenggara A melenting tinggi menggenggam erat Tempuling Raja Naga. Di saat yang sama, Bintang Tenggara B melempar Segel Penempatan. Bintang Tenggara A pun melenting dari satu Segel Penempatan ke Segel Penempatan lain.

Lelaki berjambang mencoreng arang di mukanya sendiri. Sebagai ahli Kasta Perak ia melangkah mundur saat berhadapan dengan ahli Kasta Perunggu. Mungkin dalam seumur hidupnya, kejadian ini adalah kali pertama baginya bertidak demikian. Sungguh, sungguh memalukan.

Asana Vajra!

“Utkatasana,” gumam Bintang Tenggara B memasang posisi kursi dan melangkah cepat menyusul lelaki berjambang.

“Virabhadrasana,” gumam Bintang Tenggara A yang telah menyimpan tempuling dan kini siap menyayat dengan cakar-cakar unsur petir!

Sungguh luar biasa Sirih Reka Tubuh. Meski rasanya pahit bukan kepalang, tubuh yang diciptakan tetap dapat mengerahkan jurus-jurus tubuh utama. Siapakah gerangan ahli berketerampilan khusus yang menciptakan ramuan hebat ini?

“Blub!” Bintang Tenggara B terkurung gelembung balon air.

“Crak!” Cakar petir Bintang Tenggara A menyayat bahu lelaki berjambang!

Darah pun mengalir dari luka cakar di bahu lelaki berjambang. Meski luka cakar tak terlalu dalam, rasa perih yang dirasakan sebagai dampak dari kesaktian unsur petir yang menyengat sangat. Mau tak mau ia pun terus bergerak mundur.

Menyaksikan lawan yang hendak menghindar, Bintang Tenggara tak mau kehilangan momentum. Ia segera melempar sesuatu ke tubuh lelaki berjambang yang lengah karena bergerak mundur, membuat tubuh lawan tersebut kaku di tempat... Bukan, bukan Segel Penempatan, melainkan… Segel Petir!

‘Segel Petir’ adalah jurus baru yang Bintang Tenggara susun setelah mempelajari kelereng peluru api milik Merpati Lonjak. Bila Merpati Lonjak dapat mengimbuh unsur api ke dalam kelereng, maka secara teori unsur petir juga bisa diperlakukan sama. Walaupun Tempuling Raja Naga yang kental unsur tanah tak bisa diimbuh dengan unsur petir, Bintang Tenggara tetap mencoba peruntungan. Rupanya berhasil. Akan tetapi, mengimbuhkan unsur petir dari Cincin Gundala ke dalam kelereng batu hanya dapat bertahan sebentar saja. Petir memudar relatif cepat.

Tak habis akal, Bintang Tenggara mengkombinasikan dengan formasi segel milik Tikus Awan. Dua kali ia terkurung dalam formasi segel berbentuk persegi panjang itu, sekali oleh Tikus Awan sendiri dan sekali lagi oleh Lampir Marapi. Walhasil, lebih efektif bila listrik dari petir dikerangkeng dalam formasi segel yang berukuran sedikit lebih besar dari kelereng, sekira ukuran dua ibu jari orang dewasa.

Waktu selama sepekan dalam menyembuhkan diri memberi waktu luang bagi Bintang Tenggara menyempurnakan jurus ini. Saat itu, ia memang terlihat seperti sedang mengutak-atik segel dan bermain kelereng. ‘Wadah’ segel persegi, atau bujur sangkar, kecil yang mengandung unsur petir itu kemudian disusun agar pecah saat bersentuhan dengan sasaran. Singkat kata, terciptalah Segel Petir. Jurus pun segera dinamai agar nanti bila dipertanyakan oleh Super Guru Komodo Nagaradja, maka langsung dapat diutarakan dengan bangga.

Lelaki berjambang merasakan tubuhnya kejang! Ia sama sekali tak dapat bergerak karena sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh. Akan tetapi, efek ini hanya bertahan selama tak lebih dari lima detik…

Lima detik sudah lebih dari cukup bagi Bintang Tenggara untuk segera menelan pil Cakra Raga yang diberikan oleh Canting Emas saat kejuaraan di Perguruan Gunung Agung beberapa waktu lalu. Dengan tambahan sepuluh persen tenaga dalam, maka…

Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!

“Beledar!” Suara dentuman menggelegar memekakkan telinga, ketika Bintang Tenggara menghantam telak dada lelaki berjambang.

Lima tinju beruntun berkecepatan supersonik yang menghasilkan gelombang kejut itu melontarkan lelaki berjambang terjungkal belasan langkah ke belakang. Darah menyembur deras dari mulutnya. Dada terasa remuk. Sulit sekali rasanya hendak bernapas.

Lelaki berjambang berupaya bangkit, namun hanya mampu bertumpu pada satu lutut. Raut wajahnya kusut. Ia sadar telah kalah telak! Rangkaian kejadian ini memerlukan waktu yang cukup panjang saat digambarkan dalam kata-kata. Akan tetapi, pada kejadian sesungguhnya berlangsung sangat cepat, hanya dalam beberapa kedipan mata sahaja.

Sosok seorang perempuan muda segera melompat ke arah lelaki berjambang. Rupanya, rekan perempuan yang tadinya disegel oleh Lampir Marapi telah terbebas. Keduanya menatap putus asa ke arah Bintang Tenggara. Mereka tak akan lupa akan wajah seorang anak remaja yang begitu perkasa, meski hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 4 sahaja.

Bintang Tenggara lalu menyaksikan perempuan tersebut memapah lelaki berjambang… Keduanya pun menghilang di balik pepohonan. Tak ada yang mengejar.

Bintang Tenggara duduk terjerembab. Dadanya naik turun, napas terengah. Bukan tak hendak mengejar, tapi memang sudah berada di ambang batas. Segera ia membuka jurus Depalan Penjuru Mata Angin untuk mengisi kembali mustika tenaga dalam yang hampir terkuras habis.

Dalam hati ia pun lega. Tak disangka dapat mengungguli seorang ahli Kasta Perak. Meski, harus diakui bahwa kemenangan tersebut diraih berkat Sirih Reka Tubuh yang diberikan Lampir Marapi. Rasa Pahit di lidah yang ia rasakan, setimpal dengan manfaat yang didapatkan.

“Mari kita lanjutkan perjalanan…,” ajak Bintang Tenggara hendak bergegas.

Anak remaja lalu menghampiri Harimau Bara yang masih terdiam bingung. Disegelnya kembali binatang siluman itu ke dalam Kartu Satwa, sebelum ia memungut cangkang siput seukuran dua kepal tangan yang masih tergeletak. Sungguh pelik. Bukankah cangkang siput ini berfungsi untuk meredam suara? Namun, dua Tinju Super Sakti tadi tetap menggelegar… Lalu, mengapa pula jalinan mata hati terputus dari Harimau Bara? Tak punya waktu menduga-duga, Bintang Tenggara pun menyimpan cangkang siput tersebut.

Sepasang anak remaja tersebut berjalan cepat menuju kota. Bintang Tenggara melangkah di depan, disusul Lampir Marapi yang merasa terpaksa ikut bergegas. Bila berlari mungkin hanya memerlukan waktu sekitar setengah jam, sedangkan bila berjalan maka akan memakan waktu dua atau tiga jam lagi. Ingin rasanya Bintang Tenggara berlari saja karena tak sabar hendak mencapai kota dengan selamat. Siapa tahu, mungkin saja masih ada anggota komplotan penculik yang membuntuti.

Di saat menghitung langkah, tetiba Bintang Tenggara merasakan tekanan yang teramat berat bergerak sangat cepat ke arah mereka. Ia pun bersiaga dengan mengaktifkan Sisik Raja Naga!

“Lancang sekali kau menculik putriku!” tetiba terdengar suara menggelegar.

Gubernur Pulau Dua Pongah tadinya sedang berkeluh-kesah dengan istrinya ketika tetiba merasakan kehadiran Lampir Marapi tak jauh dari kota. Ia pun segera melesat cepat.

Dari kejauhan, mata hati sang Gubernur telah menangkap keberadaan Bintang Tenggara. Ciri-ciri anak remaja tersebut selaras dengan gambaran yang diberikan Tikus Awan. Lalu, Bunglon Malam menegaskan bahwa anak remaja yang sama merupakan bagian dari komplotan penculik di luar gerbang kota.

“Ayahanda… Tunggu!” teriak Lampir Marapi panik.

“Bum!” Amarah yang memuncak segera tersalurkan!

Ledakan tenaga dalam menghantam tubuh Bintang Tenggara. Spontan ia mencoba menahan dengan kedua lengan yang telah dibungkus oleh Sisik Raja Naga. Akan tetapi, apalah daya… Kasta Emas dan Kasta Perunggu terpisah jarak bak langit dan bumi.

Bintang Tenggara terpental puluhan langkah ke belakang. Gelap….