Episode 6 - Mengintip Kenyataan



 “Jadi Kresna, akan kujelaskan gambaran umum dari Teknik Bela Diri Naga.” Guru berucap, aku memasang tampang serius. “Teknik ini dibagi menjadi 12 tingkatan. Tingkatan pertama adalah Pernapasan Yin-Yang. Tingkatan kedua adalah Tumpuan Langkah Naga. Ketiga adalah Raungan Amarah Naga. Keempat adalah Cakar Pemburu Naga. Kelima adalah Mata Batin Naga.

Lalu, yang keenam adalah Harmoni Sayap Naga. Ketujuh, Penguatan Fisik Naga. Kedelapan, Hibernasi Naga. Kesembilan, Sihir Naga Elemental. Kesepuluh, Sihir Naga Pelindung. Kesebelas, Sihir Naga Penghancur. Dan yang terakhir, Keabadian Naga. Bagaimana, sampai sini hafal?”

“...” Aku melongo. Apa Guru tidak tahu artinya pelan-pelan?

“Hahah, dari wajahmu sepertinya kau tidak ingat, ya? Sayang sekali, aku pikir kau bocah pintar.” Guru menyombong.

“Guru,...” wajahku mendatar, “lagi pula di dunia ini, siapa juga yang bisa ingat nama jurus sebanyak itu dalam sekejap?” kesalku, membuat wajahku berubah geram. “Terus, kenapa semua tingkatan ada embel-embel ‘naga’ sedangkan yang tingkatan pertama malah tidak ada?”

“Terserah yang membuat, jangan banyak protes! Sebaiknya kau ikuti saja. Lagi pula, tadi hanya gambaran dasar. Tidak perlu dipikirkan, nanti juga hafal sendiri.”

“Tidak perlu dipikirkan? Bukannya Guru yang mengejekku karena tidak hafal?” gunjingku dalam batin.

Yah, di dunia manapun, selalu ada peraturan mutlak antara murid dan guru. Pasal pertama, guru selalu benar, murid selalu salah. Pasal kedua, jika guru salah, maka kembali ke pasal pertama. Inilah kediktaktoran dunia pendidikan. Hahah, aku merasa konyol.

“Baiklah, kita akan memulai tingkatan pertama, yaitu Pernapasan Ying-Yang. Tapi sebelum itu, kau mendekatlah!”

Aku maju, menuruti perintah Guru. Ia dekatkan kepala naganya ke tubuhku. “Guru, bukannya aku kurang ajar, tapi napasmu sedikit bau,” kulanjutkan dalam hati, “banyak malah!”

“Lancang! Sudah, kau diam saja!” Guru menyelidik tubuhku. Tatapannya berubah. Lensa matanya menyipit tajam layaknya mata ular. Kalau naga memang sejenis ular, mungkin ini ada hubungannya. Tidak, aku tidak boleh durhaka dengan mengatainya.

“Sudah kuduga,” ujar Guru.

“Apanya Guru?”

“Kresna, bukannya kau bilang belum pernah belajar bela diri?”

“Memang aku belum pernah. Lagi pula, kupikir bela diri hanyalah kekerasan, untuk apa melatihnya? Lebih baik aku membaca buku seharian saja.”

“Kalau begitu, kenapa semua titik akupunturmu sudah terbuka dan jaringan meridianmu sudah mengalir lancar?”

Aku tidak tahu maksud Guru. Namun, istilah akupuntur dan meridian bukanlah hal asing bagiku. Hanya saja, kenapa Guru mengatakan ini sudah terbuka dan lancar?

Melihatku yang kebingungan, Guru melanjutkan penjelasan. “Begini Kresna, dalam ilmu chi kung, tahapan paling dasar adalah menguasai teknik pernapasan. Kegunaan teknik pernapasan adalah untuk membuka semua titik akupuntur dan melancarkan meridian di dalam tubuh. Jika dua hal tersebut terpenuhi, barulah kau bisa menyerap chi, mengakumulasi chi, dan juga mengendalikan chi. Hanya saja, tidak mungkin titik akupuntur dan meridian terbuka dan mengalir secara tiba-tiba tanpa dilatih. Apa kau sudah menguasai teknik pernapasan dasar?”

Menguasai? Yang benar saja. Tapi, kalau aku pikirkan baik-baik, ayah selalu menyuruhku bangun sebelum fajar. Lalu, aku dianjurkan untuk selalu melakukan pernapasan khusus yang ayah ajarkan selama dua jam. Ayah bilang, itu semua untuk kesehatan tubuh, jadi aku percaya saja. Toh, ada benarnya, aku merasa jarang mendapatkan rasa lelah saat beraktivitas berat.

“Guru, kalau dipikir-pikir, ayahku selalu menyuruhku bangun fajar dan melakukan sebuah pernapasan khusus.”

“Kresna, apa ayahmu itu ahli bela diri?”

“Hahaha, tidak mungkin! Ayahku hanya seorang pejabat kelas 3 di kerajaan. Keahliannya hanya sebatas menandatangani dokumen, memungut pajak, dan juga bepergian menemui para pejabat lain.”

“Kresna, asal kau tahu, chi keturunanmu sangat kuat, auranya juga biru indigo. Hanya seorang anak dari keturunan ahli bela diri yang bisa mendapatkan anugerah ini. Untuk orang biasa, walaupun dia jenius sekalipun, aura chi-nya paling hanya sebatas kuning tua.”

“Tunggu Guru, jadi maksudmu, ayahku adalah ahli bela diri? Lalu apa maksudnya aura, chi keturunan dan sebagainya?”

“Hah, dengar ya, setiap manusia pasti memiliki chi alami dalam tubuh mereka. Chi tersebut tidak lain diwariskan dari orang tua mereka. Itulah yang dinamakan chi keturunan. Lalu, setiap chi memiliki warna auranya masing-masing. Urutan aura dari yang terlemah sampai yang terkuat adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, biru indigo, dan ungu. Yah, di antara warna-warna tersebut masih ada berbagai gradasi warna yang berbeda, tetapi intinya, aura chi berada pada takaran warna-warna itu.”

“Tu-tunggu, Guru! Tidak mungkin ayahku ahli bela diri. Aku bahkan tidak pernah melihatnya memegang pedang atau memukul orang. Dan juga, yang mengajariku tentang kebiadaban dunia persilatan adalah ayahku sendiri. Bukankah itu kontradiksi dengan pengajarannya?”

“Kresna, kau tidak akan tahu suatu minuman adalah sebuah racun sebelum kau merasakannya sendiri.” Guru memberi analogi. Itu sederhana, tapi akalku seolah tumpul.

“Apa maksud Guru, katakan dengan jelas!” Aku sedikit membentak.

“Kresna, walaupun kau memang bocah, tapi jangan manja dan menolak kenyataan! Seperti kataku tadi, ayahmu kemungkinan besar adalah ahli bela diri yang sudah pensiun dari dunia persilatan. Dia menyembunyikan identitasnya yang asli darimu untuk menjagamu tetap aman. Mungkin, ayahmu tidak ingin kau merasakan kebiadaban yang kau bicarakan tadi.

Yah, selama seribu tahun lebih hidupku, dunia persilatan memang selalu membawa pertumpahan darah, peperangan, perseteruan, dan banyak hal kejam lainnya. Namun Kresna, aku tegaskan lagi, jangan manja! Bukankah impianmu adalah mengubah kekejaman dunia ini? Atau ternyata itu hanya omongan naif seorang anak kecil? Kalau boleh kukatakan, IMPIANMU SUNGGUH NAIF! Itu hanyalah omong kosong!

Membuat dunia tanpa perang? Memaafkan lebih utama dari pada mendendam? Semua kehidupan bernilai sama? Jangan bercanda! Kalau dunia seperti itu benar-benar ada, maka manusia sudah menjadi dewa sekarang ini!”

Apa-apaan itu? Guru menghinaku? Jangan bercanda sialan! Bukannya kau sendiri yang bilang akan mendoakan impianku? Lalu, apa-apaan ayah itu? Bukannya dia yang menyuruhku tidak mendekati persilatan? Tapi,... lelucon apa ini? Dia sendiri adalah pelaku utamanya, kan?

Pembohong! Pembohong! PEMBOHONG! Semuanya adalah kepalsuan! Hidupku, prinsipku, cita-citaku, keluargaku, dan bahkan guruku, semuanya penuh dengan kebohongan! Sialan! Sialan! Sialan! Sialan!

Aku berlutut. Mataku terbelalak tak mau menerima realita. Lama kelamaan, sebutir air mata mulai turun, lalu diikuti kawanannya yang berebut keluar. Jatuh. Membasahi lantai. Aku menangis layaknya anak bayi yang permennya dicuri. Semuanya terasa hilang. Apa ini yang Paman Key rasakan? Keputus asaan?

Shiang Kresna, sungguh, masa kecilmu ini penuh lelucon. Tuhan, dewa, surga, takdir, semuanya benar-benar mempermainkanmu. Jangan-jangan Yen Hwang, seseorang yang kau anggap teman berharga, juga mempermainkanmu? Jangan-jangan dari belakang, dia menganggap semua hal yang kau katakan hanyalah omong kosong, lalu dari singgasananya dia tertawa keras padamu. Pada impian bodohmu.

Semua pikiran negatif itu menghantuiku. Seluruh tubuhku seolah tertelan rasa sakit hati yang membuatnya mati rasa. Aku, aku, aku ingin... apa yang kuingankan? Ini bukanlah hal sepele seperti pulang. Ini adalah keinginan untuk menghilang. Iya, aku tahu jawabannya, kematian. He... hehehehehehe...!

Namun, sebelum aku benar-benar dikuasai hasrat bunuh diri, Guru angkat bicara. “SADARLAH, SHIANG KRESNAAAA!” teriaknya, keras, lantang, dan panjang. “Aku mengatakan itu semua bukan untuk membuatmu putus asa. Tapi agar kau melihat kenyataan. Di dunia ini, semua hal yang kau pikirkan baik belum tentu baik. Dan, semua hal yang kau pikirkan buruk, belum tentu buruk. Selalu ada sebuah daerah abu-abu di antara keduanya. Impianmu itu, mungkin sekarang terdengar konyol, mungkin sekarang layaknya ocehan bocah naif, mungkin sekarang hanya omong kosong, tapi, kalau kau tidak mau itu semua terjadi, maka buktikanlah padaku bahwa kau bisa benar-benar mewujudkannya!

Paham maksudku? Kalau belum, akan aku lanjutkan. Jadi, dunia persilatan yang kau anggap buruk, belum tentu semuanya buruk. Masih ada secercah kebaikan di dalamnya. Yang kau perlukan hanyalah mencari kebaikan itu, lalu menyebarkannya kepada sesama. Bukankah kau mencegahku membunuh penjahat Key itu karena kau yakin dia bisa berubah? Maka dari itu, jika kau yakin bisa mengubah dunia, bangkitlah, berdirilah, dan raih impianmu itu! Kalau itu sakit, setidaknya kau tidak sendiri. Masih ada temanmu kan, si Yen Hwang? Apa yang kukatakan bisa kau pahami?”

Aku memandang Guru penuh kagum. Walaupun masih berair, mata bocahku seolah mendapatkan cahaya baru. Ini seperti permen yang dicuri digantikan dengan mainan mahal. Sebuah mainan yang menusuk langsung jiwaku. Menyadarkanku betapa naif, bodoh, dan tidak berpengalamannya aku ini. Memang, dibandingkan anak seumuranku, masalah belajar aku nomor satu, tetapi jika disandingkan dengan Guru, aku bukanlah apa-apa. Hanya sebuah debu di hamparan padang pasir.

Guru,... Guru,... kau sungguh menyelamatkan jiwa anak kecil ini dari kehancuran.

Aku pun mengusap mataku dari tangisan. “Guru, terimakasih banyak! Aku, Shiang Kresna, bersumpah akan selalu mengikuti ajaranmu dan akan kuwujudkan impianku ini sehingga nantinya, Guru bisa bangga telah mengajarkan sesuatu yang bermanfaat padaku. Guru, terimalah hormat dari muridmu ini.” Aku bersujud. Satu kali, dua kali, tiga kali, dan terus berlanjut.

“Sudah, sudah! Aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu bersikap kaku. Itu akan terasa membosankan. Cukup hormati aku sewajarnya saja.”

“Guru, mana bisa murid bersikap wajar padamu, murid akan selalu patuh!” Kembali, aku bersujud.

“Sudah! Kau mau mulai latihan atau mau sujud?” geram Guru.

Setidaknya, mulai detik ini aku tahu, semua yang Guru katakan semata-mata untuk membuatku berlatih dengan serius. Mungkin di matanya, diriku adalah permata yang belum dipoles. Maka dari itu, dia tidak ingin aku memiliki hati setengah-setengah mempelajari tekniknya.

Mulai detik ini pula, akan kuubah sedikit idealismeku. Hitam dalam putih, dan putih dalam hitam. Semua hal pasti mempunyai dua sisi, maka dari itu, sebelum diri ini mengenal sesuatu atau seseorang, aku tidak akan sembarangan mengambil kesimpulan. Dan juga, masalah ayah. Dari pada melihat ayah lewat sisi buruknya, aku harus berpikir positif. Ayah adalah orang tua yang tidak ingin anaknya menghadapi bahaya, jadi dia jauhkanku dari persilatan. Ayah adalah orang tua yang menganugerahiku chi dan aura yang hebat, jadi aku seharusnya bersyukur.

Sungguh, ajaran Guru sangat mencerahkanku. Sampai mati pun tak akan pernah kulupakan.

Yah, memang rasa hormatku pada Guru berlipat ganda. Namun selama masa latihanku ke depannya, karena sifat menyebalkan Guru selalu kambuh. Aku pun kembali pada sikap semula. Menghormati, tetapi terkadang bertindak di luar batas. Selama kami semua bahagia, itu bukanlah masalah. Benar, kan?



Waktunya belajar... >_<

Jadi, bagi yang belum hafal 12 tingkatan Teknik Bela Diri Naga, berikut urutannya:

1. Pernapasan Yin-Yang

2. Tumpuan Langkah Naga

3. Raungan Amarah Naga

4. Cakaran Pemburu Naga

5. Mata Batin Naga

6. Harmoni Sayap Naga

7. Penguatan Fisik Naga

8. Hibernasi Naga

9. Sihir Naga Elemental

10. Sihir Naga Pelindung

11. Sihir Naga Penghancur

12. Keabadian Naga

Lalu ada pula urutan aura chi dari terlemah ke terkuat : ingat saja Me, Ji, Ku, Hi, Bi, Ni, U, (tapi nila diganti dengan biru indigo)

Untuk meridian dan akupuntur, akan dijelaskan lebih rinci di episode selanjutnya.

Oke, karena masih misteri, tetap ikuti perkembangannya.

Jangan lupa tinggalkan komentar untuk memotivasi penulis :3