Episode 5 - Tercabutnya Pedang?!


“Jadi Kresna, bisa kita mulai latihanmu?” tanya Guru padaku. Urusan kami dengan pria jahat itu bisa dibilang selesai. Setelah diancam oleh Guru, pria itu hanya terduduk di sisi jauh sambil mencoba mengobati luka dari serangan Guru. Sebenarnya, jika saja Guru mau menjilatnya lagi, luka itu perihal sepele. Namun, orang ini sudah terlanjur membuat Guru hilang kesabaran.

“Guru, sebelum itu, aku lupa menanyakan hal penting.”

“Hal penting? Hal penting apa?”

“Aku tahu belajar teknik ini mungkin tidak mudah. Dan waktunya mungkin bisa berbulan-bulan, tapi, bagaimana caraku bertahan hidup tanpa makanan?” tanyaku polos.

“Berbulan-bulan? Dirimu terlalu menyepelekan ini, Kresna,” ungkap Guru dalam batinnya. “Hahahaha,” tiba-tiba tawanya kembali mencuat, “kupikir hal penting apa, ternyata masalah makanan. Kau lihat kolam di ujung sana?”

“Oh, kolam air panas itu?”

“Iya, bukankah di dekatnya ada tanaman merambat? Kau bisa makan buah tanaman itu.”

“Guru, bukannya aku tidak tahu diri, tapi, aku adalah anak kecil yang sedang dalam masa pertumbuhan. Kurasa, buah kecil dengan jumlah yang tidak seberapa itu, paling hanya bisa membuatku bertahan tiga hari.”

“Kresna, pernahkah kau mendengar ungkapan ‘Jangan menilai tumbuhan dari buahnya’?”

“Kupikir itu ‘Jangan menilai buku dari sampulnya’.”

“Artinya sama saja! Intinya, coba dulu berkenalan dengan sesuatu yang asing. Setelah itu, barulah kau bisa mengambil kesimpulan. Baiklah, akan kuambilkan buah itu untukmu!”

Guru mengeluarkan sejumlah energi. Sensasinya hampir mirip seperti saat dia menghajar bandit itu. Hanya saja, kali ini tak ada satu jari pun bergerak. Hebatnya, sebutir buah dari tanaman itu tiba-tiba melesat cepat ke hadapanku. Sejujurnya, dari jauh kukira ini buah anggur, tetapi saat dilihat sedekat ini, aku agak ragu. Walau bentuknya sama, tetapi warnanya putih, dan bahkan hampir transparan.

“Kresna, ambil buah ini dan makanlah!”

Aku pun mengambil buah yang melayang tersebut. Hap! Langsung kukunyah dan kutelan. Rasanya... rasanya sangat, sangat, sangat hambar. Benar-benar sesuatu yang belum pernah kucicipi sebelumnya. Namun, dengan makanan tanpa rasa seperti ini, bagaimana caraku bertahan hidup?

“Guru, buah ini tak ada rasanya sama sekali. Bukankah sesuatu yang manis yang bisa menghasilkan banyak energi? Kalau aku harus memakan buah ini, mungkin dalam tiga hari aku benar-benar mati kelaparan.”

“Kresna, apa kau benar-benar tidak merasakan perubahan secuil pun?”

“Perubahan? Hm... kalau dirasa-rasa, tubuhku menjadi hangat.”

“Baguslah! Nama buah ini adalah Anggur Jiwa. Sebutir saja kau memakannya, maka energi chi dalam tubuhmu akan meningkat dan kau tidak akan merasa kelaparan selama seminggu.”

“Jadi ini masih dalam kelompok buah anggur? Tapi, bukankah terlalu mengada-ngada jika sebutir saja bisa membuatku tidak lapar seminggu?”

“Kresna, kau pikir Gurumu ini penipu? Anggur Jiwa bukanlah anggur biasa. Walau tidak manis dan tanpa rasa, kemampuan menghasilkan energinya sangat hebat. Bahkan jika kau bandingkan dengan eliksir kualitas atas, Anggur Jiwa masih seratus kali lebih baik.”

“Guru, apa Anggur Jiwa juga punya efek penyembuhan?” tanyaku penasaran.

“Tentu saja, khasiatnya bisa untuk menyembuhkan luka tenaga dalam ataupun racun mematikan.”

Mendengar penjelasan ini, otakku memikirkan suatu hal. “Guru, tunggu sebentar!” Wajah Guru terheran, tetapi tak lekas melontarkan pertanyaan.

Aku berpaling dari Guru dan segera berlari menuju tempat Anggur Jiwa tumbuh. Rutenya kupilih seperti saat hendak mencabut pedang, hanya saja kali ini bukan menuju altar. Ternyata, jika kuperhatikan baik-baik, gemericik air dari kolam terdengar syahdu dan menenangkan. Kalau dipikir, tubuhku belum mendapatkan asupan air sejak kemarin. Aku pun berinisiatif meminum air kolam itu. Kedua tangan kucelupkan, seciduk air terangkat. Aku meminumnya perlahan, air ini sungguh nikmat. Baik kehangatan, rasa, dan kejernihannya benar-benar pas. Dahagaku terobati.

Setelah dirasa cukup, aku beralih ke tujuan awal, yaitu memetik Anggur Jiwa. Tumbuhan ini menjalar pada dinding gua, sulurnya menyebar ke segala penjuru, tetapi masih tampak teratur. Jika kuhitung secara kasar, buah yang dihasilkan tumbuhan ini ada sekitar lima puluhan, semuanya berasal dari delapan kelompok gumpalan, di mana setiap gumpalan berisi lima sampai delapan buah anggur. Namun, ada sebuah gumpalan yang aneh. Buah di salah satu tangkainya menghilang. Asumsiku, ini adalah tangkai dari buah yang dicabut Guru. Hanya saja, jika mataku tak salah lihat, sebuah butiran kecil sudah tumbuh pada tangkai ini. Mungkin saja, itu adalah anggur muda, dan kalau dugaanku benar, maka secepat apa reproduksi Anggur Jiwa? Sungguh tumbuhan yang luar biasa. Maafkan aku karena meragukanmu, wahai Anggur Jiwa!

Usai mengagumi, segera kupetik sebuah Anggur Jiwa dari tangkainya. Senyum puas seorang bocah menyimpul di wajahku. Aku berbalik dan kembali ke tempat semua orang. Setelah mendekat, barulah Guru bertanya, “Kresna, mau kau apakan lagi anggur itu?”

“Guru, maafkan aku! Tapi, aku harus melakukan ini.” Aku langsung berlari menuju penjahat itu. Ia masih duduk bersila, tetapi matanya tetap memperhatikan gerak-gerikku.”

Melihatku yang mendekati orang itu, Guru menyimpulkan sesuatu. “Kresna, jangan bilang kau mau memberinya Anggur Jiwa?”

“Paman, ini untukmu!” ujarku menyodorkan. Sayang, dia masih ragu untuk menerimanya. Apalagi, ia tahu pasti Guru tidak akan senang.

“Kresna, beraninya kau mengabaikan Gurumu! Buat apa kau menyembuhkan penjahat sepertinya?” Guru mulai geram.

“Guru,” aku berbalik, “bukannya tadi kita sudah sepakat? Asalkan Paman ini tidak mencoba menyerangku, maka tidak apa-apa kan, aku membantunya?”

“Astaga, dasar bocah ini! Terserah kau sajalah!” Guru bersikap tak peduli. Namun, aku tahu Guru tetap memperhatikan kami.

“Terima kasih, Guru,” aku kembali berbalik ke arah pria itu, “nah, Paman dengar sendiri kan? Ini, ambil saja!” Ia tetap ragu. Akhirnya, aku pun memaksa. Kutarik tangan kanannya, dan kujatuhkan Anggur Jiwa tepat di telapak.

Dia tertawa ringan, “namamu Kresna, kan?” wajahnya mulai santai. Ketegangan di antara kami seolah hilang.

“Margaku Shiang. Namaku Kresna. Shiang Kresna. Kalau boleh tahu, Paman sendiri namanya siapa?” jawabku dengan senyum.

“Panggil saja aku, Key!”

“Oh, jadi Paman Key, ya? Paman bukan orang Yuan, kan? Asal Paman dari mana?”

“Tidak perlu buru-buru. Aku makan ini dulu, ya.” Paman Key melahap Anggur Jiwa yang kuberi. Selama dia mengunyah, aku mengamati wajahnya. Rambut coklat kemerahan. Mata biru. Nama yang asing. Juga, sebuah ikat kepala perak di dahinya.

“Paman, aku mengerti. Paman dari Kerajaan Bizantum, kan?” ucapku spontan.

“Wah, hebat juga. Bagaimana kau mengetahuinya?”

“Yah, rambut Paman warnanya aneh. Mata Paman juga biru, berarti Paman ras Austris, kan? Di benua ini, satu-satunya kerajaan dengan banyak ras Austris cuma Kerajaan Bizantum?”

“Hmm, lumayan. Tapi, Yuan juga memiliki sedikit populasi ras Austris. Kenapa kau tidak mengira aku orang Yuan?”

“Biasanya, ras Austris di Yuan juga mengganti nama mereka dengan nama khas Yuan. Yang aku tahu begitu. Kecuali Paman punya nama depan, mungkin? Seperti diriku contohnya. Ayahku ras Han, dan ibuku ras Indrava. Makanya namaku juga agak aneh, tapi masih memiliki nama khas Yuan.”

“Hahaha, untuk ukuran bocah, kau tahu banyak juga. Biar kubocorkan sedikit, aku kecil di Yuan tetapi tak memiliki nama marga. Saat umurku dua belas tahun, aku pindah ke Bizantum. Oh ya, ngomong-ngomong, kenapa Tuan Naga menjadikanmu seorang murid?” Paman Key menyelidik.

Aku tak curiga atas pertanyaannya, jadi kujawab spontan, “oh, itu. Aku menjadi murid Guru untuk bisa mencabut pedang yang ada di sana! Lihat, kan?”

Paman Key melirik sejenak, “oh, kenapa harus dicabut?”

“Kenapa? Bukannya Paman juga ingin keluar?”

Tiba-tiba, Paman Key mencengkram erat bahuku. Itu bukan tindakan untuk membunuh, tetapi otot dewasanya benar-benar membuat tubuh kecilku tercekik. “Jadi, kalau pedang itu dicabut, kita bisa keluar?” wajahnya penuh harap.

“Paman, sakit...” ujarku lirih.

“HOI!” Itu Guru. Suaranya keras menggema. Guru mungkin mengira Paman Key hendak menyakitiku.

Menyadari perbuatannya, Paman Key cepat melepaskan cengkraman. “Ah, maaf, maaf! Aku benar-benar tidak ada maksud buruk.”

“Tidak apa-apa, Paman!”

“Baiklah,” Paman Key segera berdiri. Sepertinya cederanya sudah sembuh, “Adik Kresna yang baik, terima kasih padamu, sekarang aku benar-benar merasa bugar. Bahkan, belum pernah aku merasa seluar biasa ini.” Ia mengusap rambutku dengan kasar. Memang menjengkelkan, tapi entah kenapa diriku menyukainya. Ah, benar juga, mungkin karena rasa rindu. Dulu, saat aku masih memiliki ibu, ayah selalu mengusap rambutku ketika aku berhasil membuatnya terkagum. Namun, sejak ibu meninggal, ayah hanya menyuruhku belajar dan belajar. Walau aku tahu dia masih sayang padaku, hanya saja aku tidak pernah diperlakukan seperti bocah lagi sejak saat itu. Kendati demikian, berkat ini pula, aku jadi tahu kesenangan belajar. Perasaan bergelora saat mengubah sesuatu yang asing menjadi sesuatu yang familiar. Kurasa, sedikit pengorbanan masa kecil bukanlah hal buruk.

Belum puas diri ini dengan usapan, Paman Key tiba-tiba melesat jauh. Ia melompat dengan sangat indah. Dirinya seperti daun yang ditampar angin. Kakinya hanya sedikit menyentuh tanah, tetapi jarak lompatannya benar-benar di luar nalarku. Kesan mengeluarkan banyak kerja otot pun tidak terlihat. Hanya dengan delapan kali menyentuh tanah, ia sudah berada di atas altar.

“Jangan-jangan, Paman Key mau mencabut pedang itu?” pikirku.

“KRESNA!” teriaknya dari altar, “AKAN KUBALAS JASAMU TADI!”

Ternyata benar. Paman Key sungguh akan mencabut pedang itu. Apa kami bisa segera keluar? Tetapi menurut Guru, aku harus mengusai Teknik Bela Diri Naga untuk bisa mencabutnya, kan? Ah, masa bodoh. Kalau Paman Key berhasil, aku juga untung. “PAMAN! BERJUANGLAH!” balasku memberi semangat.

Namun, ditengah interaksi kami, aku mendengar Guru mendengus. Taringnya menonjol dari bibir. Guru seolah ingin tertawa, tetapi ditahan kuat-kuat.

“Dengan chi yang melimpah dari anggur itu, aku pasti bisa mencabut pedang ini.” Paman Key membatin. Ia tampak sangat percaya diri. Setidaknya, wajahnya mirip seperti wajahku saat hendak mencabut pedang.

Hap! Kedua tangannya sudah menggenggam gagang pedang. Matanya terpejam dan wajahnya mulai serius. Dalam hitungan satu, dua, “Hiiiiiyaaaa!” Paman Key berusaha mencabut. Ototnya mengeras, tubuhnya juga mengeluarkan aura dari chi. Sayangnya,...

“Duaaak!”

Apa itu? Sebuah ledakan? Aku tak tahu pasti, yang jelas, tubuh Paman Key terpental ke belakang. Dan bukan hanya itu, kristal merah yang menyegel pedang menjadi bercahaya, lalu tak berapa lama redup kembali.

Aku terkejut. Mataku melotot. “PAMAN! KAU BAIK-BAIK SAJA?” teriakku lantang.

“HAHAHAHAHAHAHAHA!”

Guru, dia tertawa dengan sangat keras. Lebih keras dari pada tawa-tawa sebelumnya. Sekian banyak Guru berbicara, hanya saat-saat seperti tetawalah yang bisa menggerakkan rahangnya. Itu jelas bukan dari pernapasan perut. Tawa panjang yang memang bertujuan untuk mengejek.

“Orang bodoh, kau pasti berpikir, ‘mungkin aku bisa mencabut pedang ini setelah mengonsumsi Anggur Jiwa’, benar, kan? Hahahaha, itu merupakan kesalahan besar. Kau pikir segel sihir yang terdapat pada pedang itu bisa dihancurkan dengan mudah? Penyihir tingkat Mage sekalipun, tidak akan bisa merusak segel itu secara paksa. Jika kau melawannya dengan chi-mu, itu hanya akan berbalik melukai diri sendiri. Hahaha! Rasakan!”

“Guru, bukannya itu keterlaluan? Kenapa Guru tidak memberitahunya dari awal?”

“Ha? Kresna, biar aku luruskan ini. Di sini, siapa orang yang bertindak seenaknya? Dan siapa orang yang tidak memberitahu tentang cara mencabut pedang itu padahal aku sudah memberi tahunya? Kau pasti tahu jawabannya kan, Kresna?”

Jleb! Deretan pertanyaan itu seolah menusuk jantungku. Ya, di sini yang salah bukanlah Guru. Yang salah adalah aku dan Paman Key. Paman Key bertindak seenaknya dengan mencabut pedang, sedangkan aku melakukan kesalahan karena tidak memberitahunya cara yang diberitahu Guru.

“Paman Key, maaf! Aku tidak memberi tahumu. Cara mencabut pedang itu adalah dengan belajar teknik bela diri dari Guru.” Aku berkata bimbang, tak kulantangkan suara karena rasa bersalah yang mendominasi. Aku hanya bisa berharap Paman Key mendengar permintaan maafku dan dia bisa menerimanya.

“Hahahaha,” suara tawa kembali muncul, tetapi bukan dari Guru. Asalnya dari balik altar. Itu Paman Key. Aku bisa melihat dia merangkak dari anak tangga di sisi lain altar. Sesudah sampai di atas pun, tawanya belum hilang, dan dirinya tetap merangkak. Namun, ada yang aneh. Aku bisa melihat cairan merah menetes dari mulutnya. Apa itu darah? Jadi Paman Key terluka lagi?

“Apa kalian semua tahu? Akhir-akhir ini, aku benar-benar sial. Kemarin, aku dipukuli oleh tua bangka sialan! Lalu, aku ditumbalkan di dalam labirin. Lalu, aku bertemu seorang anak kecil. Aku pikir... aku pikir dia anak yang kucari. Tapi, apa katanya? Namanya Kresna. Bukan bocah yang aku cari. Lalu, aku dihajar habis-habisan oleh seekor naga. Hahaha, lucu sekali, bukan? Lelucon terbaik abad ini. Dan sekarang apa? Aku malah terluka oleh benda mati, hahahaha!”

Paman Key terlihat sudah putus asa. Omongannya melantur tak karuan.

“AKU HANYA INGIN PULANG!” teriaknya melanjutkan bicara. Air matanya mulai menetes. “Sungguh,... aku hanya ingin pulang. Aku sudah tidak peduli pada Yen Hwang,.. pada Alactrus,... pada pembunuh bayaran,... pada harta,... pada Yuan,... pada Bizantum,... AKU TIDAK PEDULI SEMUA ITU! Yang kuinginkan hanyalah menemui istriku, Alicia. Kumohon, Tuan Naga, izinkan aku keluar dari sini!” pintanya.

“Heh, kenapa juga aku harus membantumu menemui istrimu?” Guru menanggapinya sinis. “Kresna, jangan hiraukan orang putus asa itu, sebaiknya kau segera mulai latihanmu!” Guru beralih padaku, tetapi...

Aku berlari kencang ke depan. Tidak terlalu jauh, tepatnya sampai bibir tangga sebelum menjorok ke bawah. “PAMAN KEEEY!” teriakku panjang dengan kedua tangan yang disatukan sebagai pengeras, “AKU, KRESNA, BERJANJI AKAN MENGUASAI TEKNIK BELA DIRI NAGA. LALU, AKU AKAN MENGELUARKAN KITA DARI SINI!”

Gema di gua, gemericik air, tatapan naga, tatapan manusia, cahaya hijau, sebilah pedang, semuanya menjadi saksi dari janjiku. Walaupun Paman Key hanya merespon dengan wajah tanpa harap, tetapi aku, Shiang Kresna, bersumpah akan menguasai Teknik Bela Diri Naga.

“Guru,...”

“Apa?”

“Bisa kita mulai latihannya sekarang?”

Senyum lebar Guru menandai dimulainya latihanku.