Episode 82 - Ramalan Berlanjut


Tiga hari berlalu. Bintang Tenggara dan Lampir Marapi hidup bersama di dalam ruang tersembunyi itu. Secara teori, bilamana sepasang anak manusia menghabiskan waktu bersama dalam jangka waktu tertentu, maka akan terjalin kedekatan yang menjurus kepada semacam ikatan batin. Walaupun demikian, situasi Bintang Tenggara dan Lampir Marapi bertolak belakang dengan teori tersebut.

“Kakak Gemintang, diriku memohon agar cincin itu segera dikembalikan….”

“Nanti saja di saat aku bisa menggunakan gerbang dimensi….”

“Apakah Kakak Gemintang tidak percaya kepada diriku?”

“Sangat tidak percaya.” Bintang Tenggara masih mengingat jelas bahwa hanya karena sebentuk cincin itu, gadis tersebut pernah mengancam untuk tak menepati janji, bahkan mengajak bertarung.

Meski berkata demikian, Bintang Tenggara mau tak mau terpaksa memercayai ceritera tentang Pasukan Lamafa Langit dan Gemintang Tenggara. Penjabaran tentang Gemintang Tenggara senada dengan gambar di dalam Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Lelaki bermata satu bertubuh besar dengan kesaktian unsur api yang berwujud tempuling… kemungkinan besar adalah kakeknya sendiri.

Setelah bertanya lebih jauh kepada si gadis manja, maka diketahui bahwa ceritera tersebut didengar dari sang ayah sebagai dongeng pengantar tidur. Di saat libur dari perguruan nanti, aku akan mengkonfirmasi langsung kepada Bunda Mayang, pikir Bintang Tenggara.

Kondisi luka anak remaja itu pun sudah membaik. Rupanya, di dalam cincin Batu Biduri Dimensi lain milik Lampir Marapi, terdapat banyak persediaan makanan dan obat-obatan yang sudah siap pakai. Bintang Tenggara sangat kesal bila mengingat bahwa ia sempat diberi makan sayur daun sirih, gambir dan buah pinang. Sayur dari bahan dasar menyirih itu sangatlah pahit. Rasa pahitnya sampai sekarang pun masih membekas di lidah.

Tiga hari kembali berlalu. Bintang Tenggara sudah bisa bergerak bebas. Ia sedang mengutak-atik sebuah formasi segel dan bermain kelereng. Di satu sudut ruangan, Lampir Marapi membuka sebentuk kotak kayu.

“Jangan seenaknya membaca jurnal harian orang lain….”

“Apakah jurnal ini milik Kakak Gemintang? Bila bukan, maka diriku bebas membaca isinya.”

Lampir Marapi melengos lalu kembali membolak-balik halaman. Bintang Tenggara hanya mampu mendecakkan lidah. Andai saja ia tak membutuhkan bantuan gadis manja itu, maka sudah sejak berhari-hari lalu ia terjang keluar dari ruangan persembunyian.

“Berapa usiamu?”

“Diriku berusia lima belas tahun.”

“Kau dua tahun lebih tua dari aku….”

Lampir Marapi menoleh, lalu menatap tajam. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia merasa tersinggung. Ia pun kembali membolak-balik halaman jurnal harian itu.

Bintang Tenggara sedang menghitung waktu yang telah ia habiskan di dalam wilayah Partai Iblis. Sekitar sebulan waktu telah berlalu sejak pertama kali menjejakkan kaki di pesisir pantai Pulau Dua Pongah. Ia hanya memiliki waktu sekitar dua pekan untuk kembali ke Perguruan Gunung Agung. Bila tidak, maka ia akan absen dari kejuaraan di Kota Ahli. Ia membayangkan seorang Adipati menyeramkan yang berkumis dan beralis tebal, serta mengenakan blangkon, datang menagih janji.

“Apakah kau mengenal seseorang bernama Lintang?” Bintang Tenggara mencoba peruntungan.

“Hm… Di Pulau Lima Dendam, kalau tak salah ada seorang Bupati bernama Lintang.”

“Pulau Lima Dendam?” Bintang Tenggara segera membolak-balik halaman buku Bunga Rampai Partai Iblis.

“Esok pagi kita akan meninggalkan ruangan ini,” ujar Bintang Tenggara ke arah Lampir Marapi. Ia masih mengutak-atik formasi segel dan bermain kelereng.

Lampir Marapi hanya terdiam. Bukan, bukan karena ia tak hendak berpisah… Akan tetapi, ia sedang serius membaca jurnal harian yang bukan miliknya. Bintang Tenggara pun mengabaikan Lampir Marapi yang mengabaikan dirinya.

Pintu batu tempat berlindung perlahan terbuka. Bintang Tenggara melangkah keluar. Hari sudah beranjak petang. Langit terlihat cerah, berwarna jingga. Semilir angin bertiup lembut, membelai ringan di sekujur tubuh.

Bintang Tenggara berdiri sambil berpikir keras. Ia masih tak percaya bahwa keseluruhan pulau ini merupakan ruang dimensi tersendiri. Bahkan, terdapat empat pulau lain berukuran serupa dan satu pulau lagi yang jauh lebih besar. Siapakah gerangan yang membuka ruang dimensi ini? Apa tujuan sebenarnya?

Pertanyaan demi pertanyaan semakin mengganjal di dalam benak Bintang Tenggara. Bagaimana cara kerja ruang dimensi? Bila kembali ke perguruan nanti, aku harus segera mempelajari tentang dimensi dan gerbang dimensi, simpulnya dalam hati.

Lampir Marapi masih asyik membaca. Di halaman-halaman belakang ia menemukan kalimat-kalimat tak biasa. Mungkin ini adalah puisi, pikirnya.

“Bintang di langit tenggara.

Agar ditopang sembilan unsur.

Langkah pertama menuju agung.

Tindak kedua memikat putih.

Gerak ketiga meraih gilang.”

Lalu, bagian bawah halaman tersebut tersobek. Atau mungkin sengaja disobek… Tak merasa terlalu penting, Lampir Marapi menutup jurnal harian itu. Ia lalu melangkah keluar menyusul Bintang Tenggara.

“Di dalam dua kotak yang tak bisa terbuka, kemungkinan besar memuat senjata pusaka,” ujar Lampir Marapi sambil menatap langit.

“Kau menyimpulkan setelah membaca jurnal harian itu?”

“Benar.”

Setelah menghabiskan waktu sepekan memulihkan diri, Bintang Tenggara kini cukup kuat untuk kembali ke kota. Asal tak bertemu dengan ahli Kasta Perak, ia merasa cukup percaya diri untuk dapat menghadapi lawan yang berada pada Kasta Perunggu. Setidaknya, ia cukup percaya diri untuk dapat melarikan diri.

Sebagai persiapan, Bintang Tenggara pun sempat menebar mata hati dan memeriksa mustika tenaga dalam yang telah terisi penuh. Anehnya, mustika retak Super Guru Komodo Nagaradja pun terisi. Rupanya, meski sang Guru sedang tak sadarkan diri, ada mekanisme naluriah untuk menjaga agar mustika retak tetap dapat menyerap tenaga alam seperti sedia kala. Meski, seperti biasa, tenaga dalam yang terisi perlahan merembes keluar karena kondisi retak.

Lampir Marapi terlihat senang. Sebentar lagi ia akan mendapatkan kembali cincin Batu Biduri Dimensi yang memuat koleksi pakaian, tas dan sepatu.

“Lampir Marapi, kau berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5, namun mengapa kau tak mendalami persilatan dan kesaktian?” Bintang Tenggara hendak menakar kemampuan bakal teman seperjalanannya. Kalau terjadi sesuatu yang di luar dugaan, kemungkinan ia harus bekerja sama dengan gadis manja itu.

“Diriku tak bisa berlatih persilatan dan kesaktian,” jawab Lampir Marapi ringan.

Kau tak bisa atau kau tak ingin karena malas? cemooh Bintang Tenggara dalam hati. Tapi, bagaimana mungkin seorang ahli dapat menaikkan kasta dan peringkat keahlian tanpa berlatih? Walau, dalam kondisi tertentu, peringkat keahlian Panglima Segantang dapat tumbuh tanpa perlu bersusah payah menggelembungkan dan memecahkan mustika tenaga dalam.

“Apa penyebabnya?”

“Penyebabnya… karena unsur kesaktian diriku tak dapat dilatih”

“Tak dapat dilatih!?” Bintang Tenggara tak menyembunyikan keterkejutan. Ia pun menatap tajam ke arah Lampir Marapi. Apakah gadis ini juga memiliki unsur kesaktian lubang hitam!? ia berseru dalam hati.

“Unsur kesaktian apakah gerangan yang tak dapat dilatih?” Bintang Tenggara pura-pura kebingungan.

“Unsur kesaktian putih….”

“Putih?”

“Ya, unsur kesaktian putih. Sama seperti unsur kesaktian hitam, unsur kesaktian putih tak dapat dilatih dan dikembangkan. Terlebih lagi, unsur kesaktian putih menjadi penghalang aliran tenaga dalam dari mustika di ulu hati.”

Sungguh sulit dipercaya. Unsur kesaktian putih ini lebih kejam daripada unsur kesaktian lubang hitam. Bila tak dapat memanfaatkan mustika tenaga dalam, tentu saja seorang ahli sama sekali tak dapat berlatih dan membangun keahlian, Bintang Tenggara terpana.

“Karena itukah kau hanya bisa mengandalkan senjata pusaka?”

“Benar.”

Matahari baru saja terbit. Keduanya telah menapak menuju hutan. Jika tak ada kendala, maka mereka akan tiba di kota jelang petang. Bintang Tenggara penasaran dengan keahlian unsur putih yang disebutkan Lampir Marapi.

“Lalu, apa alasan orang-orang hendak menculikmu? Apakah karena mengincar tebusan?”

Lampir Marapi menatap dalam ke arah Bintang Tenggara. Sungguh keanggunan wajahnya dapat meluluhkan jiwa dan raga. Gadis itu lalu menghela napas panjang.

“Unsur kesaktian putih hanya bermanfaat bagi ahli lain…”

“Hm?”

“Sekali dalam seumur hidup, berbekal unsur kesaktian putih, diriku dapat meningkatkan kasta keahlian ahli lain. Bila seorang ahli saat ini berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8, maka berkat kesaktian unsur putih ia dapat meloncat ke Kasta Perak Tingkat 8,” ujar Lampir Marapi gundah.

“Meloncat satu kasta penuh…? Apakah hal tersebut benar-benar memungkinkan?” Bintang Tenggara semakin penasaran dengan unsur kesaktian putih.

“Benar. Syaratnya, ahli tersebut haruslah lelaki. Caranya pun terbilang mudah…,” Lampir Marapi berhenti sejenak. Wajahnya kusut. Ia terlihat ragu…

“Bila hendak meningkatkan keahlian satu kasta penuh, maka seorang ahli lelaki hanya perlu… merenggut keperawananku.”

“Hah!” Bintang Tenggara terperangah. Ia lalu teringat kelompok yang berpakaian gelap tempo hari. Mereka mengincar…

“Perawan Putih…,” gumam Bintang Tenggara pelan.

Gubernur Pulau Dua Pongah sangat bimbang, bahkan menjelang putus asa. Lebih dari sepekan sudah anak gadisnya menghilang. Segala daya upaya telah ia kerahkan dan tempuh sendiri. Anehnya lagi, tak ada petanda dari formasi Segel Benteng Bening yang mengisyaratkan bahwa Lampir Marapi telah meninggalkan wilayah Pulau Dua Pongah.

Saat ini, sang Gubernur sedang menggenggam erat sebentuk lencana yang berwarna putih….

“Suamiku, apakah ada kabar terkait ananda Lampir Marapi?” seorang wanita muncul dari balik tubuh sang Gubernur. Wajahnya tak kalah gelisah dibandingkan dengan sang suami.

“Belum ada petanda sama sekali…,” sang Gubernur memejamkan mata. Sebagai seorang ahli Kasta Emas, baru kali ini ia merasa demikian tak berdaya. Keahlian yang telah dipupuk selama ratusan tahun, bahkan umur panjang yang ia miliki, terasa sia-sia belaka.

“Apakah Lencana Putih masih utuh…?” sang istri hendak memastikan.

“Benar… Lencana Putih masih seperti sedia kala. Belum ada yang merenggut kesucian putri kita….”

“Hah!” tetiba Gubernur Pulau Dua Pongah terkejut dan sontak berdiri.


***


“Lintang Tenggara!” terdengar suara berseru.

Lintang Tenggara sedang menulis jurnal harian. Ia mencatat segala macam perkembangan penelitian yang sedang berlangsung. Mendengar suara memanggil, ia pun segera keluar dan melesat terbang ke udara.

“Salam Hormat, Gubernur Pulau Lima Dendam.”

Gubernur Pulau Lima Dendam lalu melesat terbang. Lintang Tenggara menyusul. Kecepatan terbangnya memang kalah jauh. Di atas sebuah bukit nan sepi, sang Gubernur mendarat. Tak lama, Lintang Tenggara mendarat di sisinya.

“Apakah kau pernah mendengar tentang… Perawan Putih?” sang Gubernur memulai pembicaraan.

“Perawan Putih adalah seseorang perempuan yang memiliki unsur kesaktian putih. Unsur kesaktian ini tak bisa mengalirkan tenaga dalam dari mustika,” Lintang Tenggara berhenti sejenak.

“Hm….”

“Oleh karena itu, bila memiliki unsur kesaktian putih, maka seorang gadis tak bisa memupuk persilatan dan kesaktian. Akan tetapi, Perawan Putih memiliki kemampuan untuk meningkatkan kasta keahlian ahli lain,” tambah Lintang Tenggara cepat. Sewajarnya ia telah mempelajari banyak tentang Perawan Putih.

“Bagaimana pandanganmu?”

“Menurut hematku, Perawan Putih hanyalah mitos belaka,” jawab Lintang Tenggara cepat.

“Perawan Putih adalah jawaban bagi permasalanmu. Dengan Bantuan Perawan Putih, kau bisa membatalkan paksa Segel Mustika. Dari Kasta Perak Tingkat 1, kau pun bisa melompat ke Kasta Emas Tingkat 1,” ujar Gubernur Pulau Lima Dendam.*

Lintang Tenggara hanya terdiam. Sungguh suatu dilema. Ia ingin mempelajari Segel Mustika yang dirapal Ayahanda Balaputera. Di saat yang sama, usianya tak lagi banyak tersisa. Membatalkan paksa Segel Mustika, berarti kehilangan kesempatan mendalami segel tersebut, namun bisa memperpanjang usia secara signifikan.

“Kabar angin dari Pulau Satu Garang… membawa berita bahwa seorang Perawan Putih telah diketahui berada di Pulau Dua Pongah. Pulau Satu Garang pun telah mengirimkan sekelompok ahli untuk ‘menjemput’ si Perawan Putih.”

Lintang Tenggara tak berkata-kata.


***


“Sesuai perkiraanku, kalian belum pergi jauh dari hutan ini…” gumam seorang lelaki bertubuh besar. Wajahnya berjambang.

“Serahkan gadis itu!” sambung seorang perempuan muda.

Sial. Sungguh sial nasibku, keluh Bintang Tenggara dalam hati. Ia dan Lampir Marapi sedang melangkah menuju kota. Namun, siapa nyana, para pengejar belum menyerah. Walau hanya berdua saja, mereka bersikeras untuk tinggal ketika anggota komplotan yang lain telah pulang ke Pulau Satu Garang.

Lawan tak lagi berpakaian gelap dan menyembunyikan wajah. Mereka sudah semakin membaur dengan warga pulau. Seorang ahli yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 7 dan seorang lagi ahli Kasta Perak entah tingkat berapa. Mimpi buruk Bintang Tenggara datang di waktu yang sangat tepat.

“Harimau Bara!” ujar Bintang Tenggara mengeluarkan harimau kesayangan Panglima Segantang.

Tanpa basa-basi, Bintang Tenggara segera mengangkat dan mendorong bokong lembut Lampir Marapi ke atas pundak Harimau Bara. Ia pun mengirim perintah dengan mata hati, sangat berharap akan dipenuhi oleh harimau itu. Lalu, segera ia menarik napas panjang dan melesat lari menyusul.

Lagi-lagi, Bintang Tenggara berlari. Saat ini ia sudah terbiasa sekali melarikan diri. Bila kejuaran antar perguruan di Kota Ahli nanti adalah kejuaraan maraton, maka ia sangat percaya diri untuk memenangkan lomba.

Kedua ahli sempat terkejut menyaksikan pemandangan di hadapan mereka. Berhari-hari mereka menunggu. Di saat penungguan membuahkan hasil, mereka langsung menyergah. Benar, menyergah! Seharusnya tadi langsung saja menyergap. Apa gunanya memberi kesempatan kepada anak remaja yang senang berlari itu… untuk melarikan diri!?

“Kejar!”

Harimau Bara berlari paling depan, dengan Lampir Marapi yang berpegangan erat di atas pundaknya. Bintang Tenggara tertinggal di belakang. Ia pun mengerahkan kesaktian unsur petir untuk menyusul. Menurut perkiraannya, masih memerlukan waktu sekitar satu jam untuk mencapai kota.

Seperempat jam berlalu. Kecepatan lari ahli Kasta Perak tentu jauh berada di atas ahli Kasta Perunggu. Lelaki berjambang segera menyusul Bintang Tenggara. Sambil berlari ia mengeluarkan sebuah cangkang siput berukuran besar. Kemudian, ia lempar cangkang siput tersebut ke arah Harimau Bara!

“Srek!” Harimau Bara tetiba melambat dan berhenti. Harimau itu terlihat kebingunan.

Bintang Tenggara tiba di sisi Harimau Bara. Ia mengirimkan perintah menggunakan mata hati layaknya seorang pawang binatang siluman… Akan tetapi, Harimau Bara hanya terdiam. Bintang Tenggara menyadari bahwa ia bukanlah seorang pawang asli yang memiliki jalinan mata hati yang kuat dengan binatang siluman.

Sudut mata Bintang Tenggara menangkap keberadaan cangkang siput tak jauh dari posisi mereka. Bukankah cangkang siput itu memiliki kemampuan meredam suara!? Mengapa pula bisa membuat bingung binatang siluman!?

“Swush,” lelaki berjambang tiba di dekat cangkang siput yang tergeletak. Sebuah senyum tipis menghias sudut bibirnya. Sesuai perkiraan, anak remaja itu bukanlah seseorang yang memiliki keterampilan khusus pawang, sehingga hubungannya dengan binatang siluman sangat terbatas.

Rekan perempuan yang berlari di belakang pun menyusul. Dua lawan dua.

Lampir Marapi menuruni Harimau Bara. Ia melontarkan tatapan tajam ke arah Bintang Tenggara yang sempat meremas bokongnya kala mengangkat ke atas pundak sang harimau. Di tangan gadis itu terlihat Kitab Kosong Melompong dan mulutnya sedang mengunyah keras.

“Cuih! Cuih!” Lampir Marapi meludah dua kali… ke kiri dan ke kanan. Dua gumpalan lembek berwarna merah melesat ke tanah. Dari sudut pandang Bintang Tenggara, gadis itu mengunyah dua paket sirih sekaligus sehingga terlihat persis seperti seorang nenek dukun… nan anggun.

Dua orang Lampir Marapi kemudian mengemuka. Reka Tubuh! Lampir Marapi A lalu mengeluarkan peluru unsur api dari lembaran Kitab Kosong Melompong, dan memberikan kepada Lampir Marapi B. Sementara, Lampir Marapi C mendapatkan formasi segel. Sungguh membingungkan.

Dengan keterbatasan kesaktian unsur putih, Lampir Marapi bertarung menggunakan senjata pusaka. Kebetulan, Senjata Pusaka Baginda yang ia miliki memungkinkan dirinya meminjam kesaktian dan keterampilan khusus milik ahli lain. Kesaktian unsur api dalam bentuk peluru kelereng api, keterampilan khusus peramu dalam Reka Tubuh, dan keterampilan khusus segel dalam bentuk formasi kerangkeng.

Dua orang lawan di hadapan, bahkan Bintang Tenggara, tertegun. Terbersit dalam benak mereka bahwa sosok tersebut bukalah gadis manja sembarang… Sosok tersebut adalah gadis manja yang terbiasa bertarung!

Bintang Tenggara tak mau kalah. Sisik Raja Naga melapisi kedua lengan dan kaki. Ia pun mengeluarkan Tempuling Raja Naga!

“Tempuling…” gumam Lampir Marapi A.

“Tempuling?” Lampir Marapi B penasaran.

“Tempuling!” seru Lampir Marapi C.

Bintang Tenggara menoleh… Mengapa setiap satu dari Lampir Marapi bereaksi dengan nada yang berbeda-beda!?


Catatan:

*) Segel Mustika pertama dibahas dalam Episode 57.


Nantikan Episode Bayangan pada hari Sabtu pukul 19.30 WIB.