Episode 81 - Pasukan Lamafa Langit


Harimau Bara mengamuk sejadi-jadinya. Ia melompat ke kiri dan kanan, mengibaskan cakar dan menghujamkan taring. Gelembung-gelembung air tak mampu menahan cakar-cakar yang menyala api. Meski berhasil memukul mundur seorang ahli Kasta Perak dan dua orang ahli Kasta Perunggu, belum ada di antara mereka yang menderita cedera cukup dalam.

“Uhuk… uhuk….” Bintang Tenggara sempat menelan air. Ia pun masih terbaring mengumpulkan napas. Sepintas ia menyaksikan Harimau Bara sedang beraksi. Di tempat itu, hanya dirinya yang mengetahui betul bahwa sang harimau itu teramat berbahaya setiap kali dikeluarkan dari Kartu Satwa. Hanya Panglima Segantang seorang yang bisa menenangkan sang harimau liar. Jangan tanyakan mengapa, tak ada yang mengetahui pasti.

Bintang Tenggara berdiri tertatih. Tanpa ia sadari, seorang ahli yang datang bersama dengan ahli Kasta Perak tadi sedang membidikkan panah ke arah dirinya. Naluri binatang siluman mengisyaratkan akan adanya ancaman. Harimau Bara segera menrangsek ke arah pemanah tersebut…

“Jleb!” Terlambat! Panah yang melesat mendarat di dada kiri Bintang Tenggara!

“Sraak!” Cakar Harimau Bara membelah busur menjadi dua bagian. Di saat yang sama, cakar tersebut juga membabat leher ahli tersebut. Empat guratan kuku tajam sang harimau hampir memutuskan leher. Korban roboh tak bersuara, meregang nyawa seketika itu jua.

Dua orang ahli yang tersisa bergerak mundur. Mereka menyadari bahwa teman mereka tak memiliki harapan. Urusan dengan seorang pengawal yang bertugas sebagai pengalih perhatian pun sudah selesai, karena telah tertembak anak panah. Mereka pun berpikiran bahwa gadis yang menjadi sasaran utama melarikan diri ke arah berlawanan, sehingga berupaya hendak mengejar secepat mungkin.

Harimau Bara tiba di samping Bintang Tenggara, lalu mengendus wajahnya perlahan. Bintang Tenggara tersadar. Anak panah yang menancap di dadanya menembus sedikit di bawah tulang selangka, bukan daerah vital. Beruntung anak panah tersebut meleset dari jantung dan tidak mengandung racun. Akan tetapi, Bintang Tenggara banyak kehilangan darah sehingga kesadarannya kembali memudar.

“Siapa kalian!? Berasal dari mana!? Sebutkan tujuan kalian!?” hardik seorang ahli ke arah dua orang yang menyamar sebagai warga Pulau Dua Pongah.

Setibanya di kota, Gubernur Pulau Dua Pongah segera mengerahkan para ahli terbaik untuk melacak penyusup. Mereka lalu menemukan seorang ahli Kasta Perak dan Seorang ahli Kasta Perunggu yang mencurigakan. Keduanya adalah anggota komplotan penyusup yang mendapat tugas berjaga di kota. Sungguh malang nasib mereka.

Keduanya hanya saling pandang, senyum kecut menghias bibir mereka. Ketika tertangkap, tak ada pilihan lain kecuali…

“Bum! Bum!”

Keduanya meledakkan diri! Setidaknya mereka berupaya membawa beberapa korban bersama-sama menuju dunia lain. Akan tetapi, Gubernur Pulau Dua Pongah cukup waspada. Dari kejauhan ia memasang segel perlindungan, sehingga tak seorang pun anak buahnya ikut meregang nyawa.

Gubernur Pulau Dua Pongah terlihat muram. Ini bukanlah kali pertama tamu tak diundang datang hendak menjemput anak gadisnya. Serba salah. Ia tak bisa mengurung anak gadisnya, dan pengawalan terlalu mencolok justru menimbulkan kecurigaan yang tak diinginkan terhadap Lampir Marapi.

Meski demikian, sang Gubernur masih memiliki secercah harapan. Formasi Segel Benteng Bening yang mengelilingi Pulau Dua Pongah bukan hanya berfungsi melindungi pulau dari ancaman luar. Segel tersebut juga mampu membekukan gerbang dimensi untuk keluar-masuk pulau. Oleh karena itu pula, hanya ada satu gerbang dimensi khusus untuk keluar-masuk Pulau Dua Pongah, yaitu yang terletak di ibukota dan sedang dijaga ketat.

Adapun, keyakinan sang Gubernur bahwa putrinya masih berada di dalam Pulau Dua Pongah sangat beralasan. Hal ini dikarenakan satu lagi kelebihan Segel Benteng Bening, yaitu kemampuan khusus mengabari posisi Lampir Marapi persis bilamana gadis tersebut bersentuhan dengan segel karena hendak dibawa keluar dari pulau. Dengan kata lain, Segel Benteng Bening dibuat khusus bagi Lampir Marapi.

Akan tetapi, dimanakah Lampir Marapi saat ini? Pertanyaan ini terus-menerus berulang di benak sang Gubernur. Ia bahkan tak menghiraukan beberapa orang petugas yang datang menghampiri.

“Yang Terhormat Gubernur Pulau Dua Pongah, kami menemukan Monyet Centil dalam keadaan sekarat. Beberapa ekor binatang siluman monyet milik gadis itu memberikan pertolongan pertama dari luka tusuk di dada. Kondisinya masih kritis, namun dalam penanganan tabib.”

“Yang Terhormat Gubernur Pulau Dua Pongah, Bunglon Malam baru saja siuman!” seorang petugas lain mengabari.

Atas laporan kedua, sang Gubernur sontak berdiri dan bergegas mendatangi Balai Pengobatan.

“Yang Terhormat Gubernur…,” rintih Bunglon Malam.

“Jangan berbasa-basi, utarakan segera tentang rangkaian kejadian yang berlangsung!”

Bunglon Malam lalu berceritera tentang seorang anak remaja yang memasuki wilayah Pulau Dua Pongah dan mereka buru selama berhari-hari. Anak remaja tersebut bersikeras bahwa ia sebenarnya tersasar. Meski hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 4, anak remaja tersebut cukup gesit dalam berkelit. Ceritera berlanjut sampai anak remaja tersebut jatuh ke dalam jurang.

Setelah itu, dirinya bersama Merpati Lonjak dan Monyet Centil berkumpul kembali untuk mendampingi Lampir Marapi. Suatu petang, Lampir Marapi kemudian memutuskan untuk mencari angin ke luar dari kota. Di saat hendak kembali, mereka disergap oleh sekitar delapan orang yang berpakaian serba gelap. Kejadian itu berlangsung tiba-tiba dan begitu cepat.

Ceritera berlanjut ketika Bunglon Malam terkena hantaman tubuh dari salah satu penyergap yang bertubuh besar. Tubuhnya terlontar menghantam pohon. Meski demikian… sesaat sebelum hilang kesadaran, Bunglon Malam menangkap sosok anak remaja yang mereka kira telah meregang nyawa karena terjatuh ke dalam jurang.

Bunglon Malam menutup ceriteranya dengan kesimpulan bahwa anak remaja tersebut kemungkinan besar merupakan bagian dari kelompok penyergap. Ia bertugas mengalihkan perhatian para pengawal…

“Mengalihkan perhatian?” gumam sang Gubernur. Ia merasakan ada kejanggalan dari rangkaian kejadian tersebut. Meski demikian, ia sendiri tak bisa menjelaskan pada bagian mana.

Kelompok berpakaian gelap kembali berkumpul. Seorang ahli Kasta Perak dan enam ahli Kasta Perunggu. Di antara ahli pada Kasta Perunggu, seorang dengan kesaktian unsur angin berjalan pincang, seorang yang bersenjata pedang rahangnya bergeser, seorang ahli bertubuh besar lengan kanannya buntung, seorang ahli bersenjata tombak kena tikaman di paha, seorang ahli yang piawai menggunakan temali tergeletak dengan luka cakar sepanjang dada. Kesemuanya disebabkan oleh Bintang Tenggara seorang. Kemudian, seorang ahli pemanah meregang nyawa akibat tebasan cakar seekor binatang siluman Kasta Perak.

“Yang ditugaskan berjaga di kota baru saja meregang nyawa,” ujar ahli Kasta Perak. Sebentuk lencana terlihat dalam genggamannya. Meski wajah tertutup rapat, kedua matanya menunjukkan rasa kesal yang mendalam.

“Aku menolak untuk menyerah!” terdengar suara perempuan dari balik balutan kain berwarna gelap. Perlahan ia membuka tutup kepala dan pakaian hitam. Kini ia terlihat sebagai khalayak biasa.

“Kalian yang cedera juga segera bertukar pakaian layaknya warga pulau dan mencari tempat berlindung. Segera kembali bilamana ada kesempatan. Kami akan menyusul ke arah berlawanan.”

Tak lama setelah dua ahli yang masih relatif bugar meninggalkan anggota komplotan yang terluka, sejumlah ahli dari Pulau Dua Pongah tiba. Mereka menjalankan perintah untuk sekali lagi menyisir hutan.

“Apa yang menimpa kalian?”

“Kami berniat menuju kota. Sungguh malang, kami berpapasan dengan sekelompok orang berpakaian gelap…,” ujar salah seorang yang menyamar.

“Mereka menyerang membabi buta!” sambung seorang lagi. Maling teriak maling.

“Apakah mereka membawa seorang gadis?”

“Sepertinya tidak.”

“Ke arah mana perginya mereka?”

“Mereka ke arah utara,” terdengar jawaban yang berniat mengelabui.

“Apakah kalian masih bisa melanjutkan perjalanan?”

“Janganlah mengkhawatirkan kami,” terdengar jawaban penuh percaya diri.

Bintang Tenggara merasakan hangat dan empuk di balik kepalanya. Tubuhnya terbaring lemah. Nyeri di bawah rusuk dan dada bagian atas sungguh tak terperi rasanya. Membuka mata pun sangat berat sekali.

Ingatan terakhir yang masih jelas tersisa adalah dirinya yang tertancap panah. Dalam keaadaan banyak kehilangan darah dan kesadaran yang memudar, sisa tenaga dimanfaatkan untuk memanjat tubuh Harimau Bara. Bintang Tenggara sempat menebar mata hati untuk memberi perintah dan lokasi tujuan kepada sang harimau. Setelah itu, kesadarannya kembali meredup.

Tak lama, ia tersadar dan sudah berada di sisi tebing, persis di depan pintu. Ia pun menebar mata hati untuk membuka pintu batu di tebing itu dan diseret masuk oleh Harimau Bara. Di saat lemas, ia tak lupa menebar mata hati untuk kembali menutup pintu.

Ketika kesadarannya hendak kembali menghilang, sekilas ia menangkap gambaran seorang dewi nan anggun….

Mungkinkah aku telah dijemput ke alam baka? Tak mungkin… Bila urut-urutan kejadian ini bukanlah mimpi, maka kemungkinan besar di balik kepala ini adalah… paha Lampir Marapi. Huh!

Bintang Tenggara membuka mata perlahan. Sepasang mata yang demikian teduh sedang menatap ke arahnya. Suasana ini persis seperti yang sering digambarkan di dalam ceritera-ceritera silat. Seorang jagoan yang terluka dan dirawat oleh kekasih yang cantik nan jelita. Klise sekali.

Ya, tentu saja itu adalah sepasang mata si Lampir Marapi. Lampir Marapi adalah penyebab penderitaan ini. Dasar gadis manja! Sialan! Bintang Tenggara mengutuk dalam hati. Ini bukan sembarang kisah silat, ini adalah nyawaku yang berada di ujung tanduk… dan aku tak akan terbuai dalam suasana apa pun itu.

Gadis pembawa sial! Lain kali, bila hendak menyelamatkan seseorang, sebaiknya jangan karena alasan wajah. Selamatkanlah seseorang yang pernah berbuat baik kepada dirimu, Bintang Tenggara berjanji dalam hati. Andai saja saat ini aku tak membutuhkan bantuan untuk menggunakan gerbang dimensi demi meninggalkan Pulau Dua Pongah, maka aku tak akan kembali ke sini… Biar saja ia membusuk di dalam ruangan ini!

“Kakak Gemintang…,” tegur suara lembut Lampir Marapi. “Apakah Kakak… menemukan cincinku…?”

Cih! Hanya pakaian, tas dan sepatu yang ia pikirkan! Monyet! Bintang Tenggara terus-menerus mengutuk dalam hati. Kesadarannya kembali memudar karena rasa kesal yang demikian mendalam.

Bintang Tenggara merasakan tubuhnya bersandar di sesuatu yang empuk dan sangat hangat. Di tempat yang sebelumnya nyeri, terasa seperti ada yang sedang menyeka. Ia pun mencium aroma yang tak biasa. Enggan rasanya membuka mata, namun ia harus bangun karena perutnya sangat, sangat lapar.

Kedua mata Bintang Tenggara perlahan membuka. Tepat di atas wajahnya, dua biji mata besar menatap balik. Lalu, ia merasakan kembali sensasi basah. Sesuai perkiraan… kini tubuhnya bersandar di tubuh Harimau Bara, dan si harimau sedang menjilati bekas luka di tubuhnya.

“Kakak Gemintang…,” sapa suara lembut Lampir Marapi. “Apakah Kakak… menemukan cincinku…?”

Cih! Hanya pakaian, tas dan sepatu yang ia pikirkan! Monyet! Bintang Tenggara lagi-lagi mengutuk dalam hati. Ia berharap kesadarannya kembali memudar karena rasa kesal yang demikian mendalam. Sayangnya tak bisa, karena sudah waktunya siuman.

Bintang Tenggara bangkit perlahan. Anak panah yang bersarang sudah dicabut. Luka-luka di atas dada dan bawah rusuk telah mengering. Terlihat pula balutan kain yang serampangan menutupi kedua luka. Ada dua kemungkinan… pertama, Lampir Marapi tak becus dalam mambalut luka; atau kedua, Harimau Bara membuat balutan kain terbuka karena jilatannya. Bintang Tenggara menyimpulkan bahwa balutan kain terbuka karena kombinasi dari balutan yang tak rapi dan jilatan binatang siluman.

Lampir Marapi datang mendekat…

“Akan kukembalikan cincinmu bilamana engkau telah menunaikan janji untuk memintakan ijin penggunaan gerbang dimensi menuju Negeri Dua Samudera,” ujar Bintang Tenggara ringan, sebelum Lampir Marapi sempat bertanya.

“Baiklah…,” ujar Lampir Marapi tertunduk lesu.

“Kakak Gemintang, aku telah membuatkan makanan untukmu…,” tambah gadis tersebut sambil menyodorkan semangkuk sayuran.

Bintang Tenggara memang sangat kelaparan. Tanpa ragu ia raih mangkok tersebut dan mulai menyantap…

“Cuih!” Bintang Tenggara meludah deras. “Apa ini? Rasanya pahit sekali!?”

Lampir Marapi terlihat sedih. “Sirih Kemuning memiliki banyak manfaat…,” gumamnya pelan.

Bintang Tenggara memastikan isi mangkuk. Di dalamnya memang terdapat daun sirih, gambir dan buah pinang. Lampir Marapi memasak bahan dasar menyirih! Gila! Untunglah Bintang Tenggara masih memiliki sisa bekal makanan.

“Berapa lama aku tak sadarkan diri?”

“Dua malam…,” jawab Lampir Marapi cepat. “Oh, Kakak Gemintang! Aku sudah mengingat mengapa nama Kakak terdengar begitu akrab….”

Bintang Tenggara hanya melengos, dan kembali mengunyah makanan.

“Apakah Kakak pernah mendengar legenda tentang Pasukan Lamafa Langit?”

“Hm…?”

“Para penikam paus…,” ujar Lampir Marapi mengangkat jari telunjuk. “Pasukan Lamafa Langit selalu tampil menonjol. Hanya puluhan lamafa jumlah mereka. Namun, setiap satunya memiliki keahlian yang luar biasa tinggi.”

Bintang Tenggara membiarkan Lampir Marapi mendongeng.

“Mereka bisa menggempur di garis depan, atau menusuk dari sisi, atau muncul di belakang barisan musuh, bahkan menjelma dari balik bayangan….” Lampir Marapi tetiba berdiri. *

“Pasukan Lamafa Langit dikomandoi oleh seorang lamafa nan gagah lagi perkasa!” Ia lalu menekuk siku seolah ingin menunjukkan otot-otot di kedua lengan.

Hmph… Bintang Tenggara meremehkan. Banyak orang yang pernah mendengar tentang Pasukan Lamafa Langit dan pastinya diketuai oleh seorang lamafa, ratap Bintang Tenggara dalam hati. Pertanyaan paling penting adalah, kemana mereka menghilang…? Lalu, menurut Ammandar Wewang, nama pasukan tersebut sesungguhnya adalah Pasukan Lamafa ‘dan’ Langit. **

“Nama pimpinan Pasukan Lamafa Langit adalah Sang Lamafa Mata Api atau… Gemintang Tenggara!”

“Uhuk!” Bintang Tenggara tersedak seperti tertelan biji salak. Gemintang Tenggara!? Siapa itu Gemintang Tenggara!? dalam hati ia menyeringai.

“Gemintang Tenggara bermata satu. Ia memiliki kesaktian unsur api. Bahkan, harkat keserasian jurus saktinya sedemikian tinggi. Wujud dari jurus kesaktian unsur apinya bernama Tempuling Api dari Neraka!” Lampir Marapi melompat ke atas dipan, lalu bergerak seolah hendak menikamkan tempuling khayalan.

Bintang Tenggara menganga. Luar biasa sekali kemampuan Lampir Marapi ini dalam mengarang ceritera. Meski demikian, dirinya mengingat pernah melihat gambar seorang lamafa bermata satu….

“Akan tetapi… sebuah petaka menimpa Pasukan Lamafa Langit…,” sambung Lampir Marapi dengan suara yang dibuat-buat seolah akan mengungkapkan kisah misteri.

Tunggu dulu… Bintang Tenggara segera mengeluarkan Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Ia lalu menebar mata hati menelusuri halaman-halaman tentang lamafa… Benar saja! Secarik gambar memperlihatkan seorang lamafa bertubuh besar bermata satu menusukkan tempuling ke dada binatang siluman, dimana sekujur tubuh binatang siluman tersebut terbakar dibalut api. ***

Bintang Tenggara mengamati dengan seksama… awalnya ia berpikir tentang sebilah tempuling yang diimbuh unsur api. Bukan… sesungguhnya tempuling itu sendiri terbuat dari api! Gemintang Tenggara…? gumamnya dalam hati.

Di saat hendak menutup buku, ia tak sengaja membalik halaman dan menemukan gambar yang memuat satu keluarga lamafa yang terdiri dari kakek, nenek, ayah, ibu dan empat orang anak yang masing-masing memegang tempuling. Lelaki bertubuh besar bermata satu berdiri paling tengah. Anak terkecil adalah seorang gadis cilik berusia tak lebih dari lima tahun, dengan tempuling bambu kuning panjang berkali-kali lipat tinggi tubuhnya.

Saat pertama kali, Bintang Tenggara hanya sekilas melihat gambar, dan ada kesan lucu melihat anak perempuan mungil berwajah dekil tersebut. Akan tetapi, setelah memerhatikan dengan lebih seksama…

“Bunda Mayang…?” gumam Bintang Tenggara pelan.

“Benar… Mayang Tenggara, putri bungsu dari Gemintang Tenggara,” tetiba Lampir Marapi menyela.

Bintang Tenggara menatap ke arah gadis remaja yang anggun itu. Polos sekali raut wajahnya.

“Eh… Ceritera belum selesai…,” Lampir Marapi menempelkan jari telunjuk di pelipis, ia berupaya mengingat-ingat.

“Sebuah petaka menimpa Pasukan Lamafa Langit. Jejak mereka menghilang di… Pulau Belantara Pusat!”


Catatan:

*) Penjelasan lebih lengkap tentang Pasukan Lamafa Langit pernah dimuat dalam Episode 18.

**) Ammandar Wewang, Sang Pelayar Langit, mengungkapkan tentang nama "Pasukan Lamafa 'dan' Langit" dalam Episode 49.

***) Episode 16.