Episode 80 - Serangan Balik


“Aji Pamungkas! Berhentilah bermain-main!”

“Panglima Segantang, gerakanmu masih lambat!”

“Kuau Kakimerah… Saat ini bukan waktunya kau meramu…”

Matahari baru saja terbit, membiaskan cahaya yang demikian hangat menyentuh kulit. Teriakan demi teriakan yang datang dari Canting Emas justru mengubah suasana pagi menjadi gerah.

“Kita perlu berlatih kerja sama sebagai persiapan menuju kejuaran antar perguruan!”

Aji Pamungkas hanya tersenyum kecut. Selama dua pekan terakhir ia tak memiliki waktu luang buat mengintip atau merayu murid-murid perempuan. Setiap hari dirinya dan Panglima Segantang berlatih keras di bawah panduan Sesepuh Kelima.

Berbeda halnya dengan Aji Pamungkas, Panglima Segantang sangat senang berada di bawah asuhan Sesepuh Kelima. Kemampuan silatnya tumbuh pesat. Sebagai tambahan, Sesepuh Kelima suka mengatur latih tarung. Panglima Segantang berkesempatan menghadapi kakak-kakak seperguruan yang lebih kuat.

Kuau Kakimerah pun terus tumbuh di bawah asuhan Sesepuh Ketujuh. Ia banyak mempelajari tentang keterampilan khusus sebagai peramu. Rupanya, ia memang memiliki keterampilan khusus tersebut. Sesepuh Ketujuh pun mengajari tentang teknik-teknik yang dapat menggabungkan keterampilan khusus peramu dengan kesaktian unsur kayu. Dengan kombinasi kedua hal tersebut, sungguh Kuau Kakimerah tumbuh semakin tangguh.

Lain pula halnya dengan Canting Emas. Setelah sembuh dari luka dalam akibat memaksakan penggunaan Bentuk Ketiga dari jurus Ksatria Agni, ia menjalankan latihan berat. Lihat saja sekujur tubuhnya yang dipenuhi oleh luka-luka dan balutan perban. Sebelum ini, ia berlatih di bawah panduan salah seorang paman atau kakeknya. Akan tetapi, sepekan terakhir ia dilatih oleh Maha Guru Kesatu, Cawan Arang, yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri.

Canting Emas merasa bahwa berlatih di bawah sang ibunda adalah sebuah hukuman. Menu latihannya terlalu berat dan keras. Bahkan, ia sempat berpikiran bahwa perempuan itu bukanlah ibu kandungnya, melainkan ibu tiri yang dikirim langsung dari neraka oleh Dewa Yama. Meski demikian, Canting Emas terus bertahan. Pertumbuhan yang paling signifikan dari dirinya adalah kenyataan bahwa ia semakin gampang naik darah.

“Ck…,” Canting Emas mendecakkan lidah. “Tanpa si anak hilang itu, latihan kita kurang maksimal!”

“Janganlah terlalu merisaukan perihal Sahabat Bintang,” ujar Panglima Segantang. “Apa pun taktik bertarung yang kita terapkan, aku percaya ia akan dapat menyesuaikan diri.”

“Ca-Em, aku akan selalu berada di sampingmu,” tambah Aji Pamungkas.

Kuau Kakimerah sedang memberi santapan sarapan bagi Siamang Semenanjung dengan ramuan yang baru saja selesai ia racik. Senang sekali kelihatannya binatang siluman itu.


***


“Mengapa tak ada kerjasama di antara kalian!?” teriak Anjana, mantan salah seorang Guru Muda di Perguruan Gunung Agung.

Di hadapannya, berdiri sepasang remaja lelaki dan perempuan dengan perawakan dan penampilan serupa karena memang mereka kembar. Masing-masing memegang senjata yang dikenal dengan nama bandhil. Bandhil merupakan jalinan rantai panjang dengan sebuah pegangan di satu sisi. Kemudian, terdapat semacam peluru lonjong nan tajam di sisi lainnya. Senjata yang diketahui berasal wilayah tengah Pulau Jumawa Selatan ini memiliki jangkauan jarak jauh.

Tak terlalu jauh, seorang anak remaja dan seorang gadis terlihat sibuk berlatih berdua saja. Mereka mengenakan jubah berwarna hitam. Sepertinya mereka tak peduli sama sekali dengang keadaan di sekeliling. Benar, kedua anak remaja tersebut adalah Kum Kecho dan Melati Dara.

Sungguh Anjana sebal dengan kelakuan mereka. Tak satu pun perintah dan kata-katanya didengarkan. Meski demikian, Anjana menyadari bahwa keduanya bukanlah ahli sembarang. Jurus-jurus kesaktian unsur rambut milik Melati Dara memiliki harkat keserasian yang sangat tinggi. Dengan demikian, unsur kesaktian gadis tersebut telah memiliki wujud, yaitu kuntum bunga melati.

Lain pula halnya dengan Kum Kecho. Anjana tak pernah suka, bahkan selalu curiga, pada sosok anak remaja yang berwajah pucat dan berkantung mata hitam itu. Namun, perlu diakui bahwa Kum Kecho bukanlah tokoh sembarang. Keterampilan khusus pawang dan jurus silat yang unik membuat ia bisa bertarung jarak dekat, jarak menengah, dan jarak jauh di saat yang sama. Sungguh tanpa cela!

Koordinasi pertarungan dalam kelompok sangatlah penting. Hal ini mengingat mereka akan ke Pulau Jumawa Selatan. Tempat tersebut merupakan ancaman besar bagi anggota Partai Iblis mana pun karena terdapat banyak ahli dari aliran putih, yang sebagian besarnya berlomba-lomba ingin tampil sebagai pahlawan. Sedikit saja ada yang mengendus kehadiran anggota Partai Iblis, maka berbondong-bondong mereka akan memburu.

Benak Anjana telah menyusun formasi terbaik bila harus bertarung bersama dalam kelompok. Berbekal jurus Raga Bima, salah satu dari Sapta Nirwana, dirinya bisa menjadi peredam serangan di garis depan. Sepasang kakak-beradik kembar dengan senjata mereka, adalah petarung jarak jauh. Melati Dara merupakan pembunuh bayangan. Sedangkan Kum Kecho, Anjana lebih suka bila tokoh itu nantinya menjadi petarung jarak dekat.

Akan tetapi, tanpa kerja sama yang memadai, maka Anjana yakin betul bahwa tak akan ada pendukung saat ia melangkah maju. Tanpa dukungan, sehebat apa pun jurus, kemungkinan besar ia akan habis digebuki lawan. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk berdiri.

“Kembar dari utara, bilamana tugas kali ini berjalan dengan baik, maka aku akan mengajukan promosi bagi kalian kepada Bupati Utara,” ujar Anjana berupaya mengambil hati.

“Kum Kecho!” sergah Anjana. “Bilamana tugas kali ini berjalan dengan baik, maka aku akan menjawab apa pun itu pertanyaanmu… sepanjang aku memiliki jawabannya, tentu saja.”

Kum Kecho hanya melengos. Akan tetapi, ia pun turut bergabung mendekat ke arah Anjana yang sudah ditemani si kembar. Melati Dara mengikuti di belakangnya tanpa ragu.


***


Siang hari bolong. Panasnya terik bukan kepalang. Bintang Tenggara bermandikan keringat. Ia berlari sekuat tenaga. Empat orang ahli berjubah hitam mengejar tepat di belakangnya.

Karena ulah Lampir Marapi, tengah malam sebelumnya Bintang Tenggara terpaksa pergi ke bantaran sungai mengambil cincin Batu Biduri Dimensi yang memuat pakaian, tas dan sepatu trendi. Perjalanan menuju sungai berlangsung baik-baik saja. Subuh hari ia telah tiba dan benar menemukan cincin yang tertinggal tersebut.

Akan tetapi… Akan tetapi, di saat hendak kembali ke ruangan di balik tebing, Bintang Tenggara berpapasan dengan dua orang berpakaian serba hitam! Dua orang berpakaian serba hitam lalu memanggil dua orang lagi yang juga berpakaian serba hitam. Walhasil, Bintang Tenggara kini diburu oleh orang-orang berpakaian serba hitam!

Bintang Tengara menggeretakkan gigi. Jika bukan karena cincin yang tertinggal itu, ia pastinya sedang beristirahat di ruangan di balik tebing. Ini adalah gegara si manja Lampir Marapi itu, pikirnya sebal. Andai saja ia tak membutuhkan bantuan terkait gerbang dimensi untuk pulang, maka pastinya ia tak hendak berurusan terlalu jauh dengan Lampir Marapi.

“Beritahu kami dimana si Perawan Putih dan kami akan melepaskanmu!” seru salah seorang pengejar.

“Aku tak mengenal siapa pun itu Perawan Putih?” teriak Bintang Tenggara menjawab. Ia pun mempercepat langkah larinya. Beruntung keempat orang tersebut tak lebih cepat dari dirinya.

“Jangan berpura-pura tak tahu!”

“Dimana gadis yang kau selamatkan semalam!?”

Perawan Putih? batin Bintang Tenggara. Tentunya ia sudah dapat menebak bahwa Perawan Putih yang dimaksud tak lain adalah si Lampir Marapi itu. Apa pula tujuan mereka hendak menculiknya…?

“Semalam kami berpisah di bantaran sungai!” sahut Bintang Tenggara.

“Dusta! Kau adalah salah seorang dari anggota regu pengawal!” teriak salah satu dari mereka.

Sahut-menyahut ini tak akan menghasilkan apa-apa, Bintang Tenggara sebal. Tak mungkin dirinya adalah bagian dari mereka. Andai saja mereka tahu, bahwa beberapa hari yang lalu regu pengawal yang sama ditugaskan memburu dirinya.

“Srek!” seutas temali panjang tetiba menjerat kaki Bintang Tenggara. Serta-merta ia jatuh tersungkur. Di belakangnya, terlihat salah seorang yang berjubah hitam menarik untaian tali tersebut.

“Sergap dia!”

Bintang Tenggara segera melepas jalinan tali yang membelit kakinya. Ia pun kembali berlari. Akan tetapi, kini jarak yang memisahkan dirinya dengan para pengejar semakin pendek. Terlebih lagi, ia harus waspada dengan temali yang dapat dilesatkan kapan saja.

Andai saja pengejarnya hanya seorang ahli, maka Bintang Tenggara mungkin akan memilih untuk bertarung satu lawan satu. Ia sudah benar-benar jelak dengan kegiatan mengejar dan dikejar ini. Sedari tiba di wilayah Partai Iblis, dirinya terus-menerus diburu. Apakah memang demikian kegemaran para ahli di sini?

“Bug!” tetiba Bintang Tenggara merasakan bahunya terkena hantaman keras layaknya terhimpit batu karang besar. Tubuhnya pun terlontar dan berguling-guling di semak-semak. Sesosok tubuh besar terlihat berdiri di posisi dimana ia terkena hantaman tadi. Menahan nyeri, Bintang Tenggara segera bangkit dan mengerahkan tenaga dalam ke arah kedua kaki untuk bergerak menjauh. Sekarang, ada lima ahli yang mengejar!

Baru saja Bintang Tenggara menyimpulkan bahwa ada tambahan satu pengejar, tetiba seorang lagi melesat dari arah samping untuk menyergap. Langkah kaki lawan tersebut terlihat ringan. Sepertinya kesaktian unsur angin!

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana!

Sudah cukup! Bintang Tenggara memasang kuda-kuda kursi lalu melesat cepat ke arah pengejar yang berniat memotong arah lari dari samping. Lawan dengan kesaktian unsur angin terlambat menyadari bahwa sasarannya justru mengambil inisiatif menyerang! Tiga hantaman tinju melesak tepat di ulu hati disusul dengan hantaman di pergelangan kaki. Ahli dengan kesaktian unsur angin itu roboh di tempat dan dipastikan tak akan berjalan dengan normal dalam waktu dekat!

Waktunya melancarkan serangan balik. Bintang Tenggara lalu memutar arah menuju para pengejar yang ada di belakang…

Segel Penempatan!

Lima formasi segel yang biasa digunakan sebagai tempat berpijak dilemparkan dengan sangat presisi untuk menyandung kaki lawan. Di antara kelima orang pengejar, pada posisi paling depan adalah ahli yang bersenjatakan pedang. Ia pun terhuyung deras, dimana sebuah tendangan berputar tepat menghantam rahangnya!

Keempat orang ahli yang tersisa terkejut bukan kepalang. Mereka berhenti di tempat. Di hadapan mereka, Bintang Tenggara telah memakai Sisik Raja Naga dan sedang mengeluarkan… Tempuling Raja Naga!

Sekali lagi, cukup sudah! Cukup sudah aku berlari, batin Bintang Tenggara. Jikalau saat ini kesadaran Komodo Nagaradja dapat berkomentar, maka sang Super Guru pastilah akan mencibir mengapa baru sekarang dan tidak sedari awal saja memutuskan bertarung…

“Kukatakan sekali lagi… aku telah berpisah jalan dengan gadis yang kalian incar!” Bintang Tenggara berupaya sekali lagi mengelabui lawan.

“Tutup mulutmu!” Sosok bertubuh besar melompat ke arah Bintang Tenggara. Ia melontarkan kepalan tinju.

“Tunggu!” seru temannya.

Terlambat, Bintang Tenggara telah melenting dan menikamkan Tempuling Raja Naga. Akan tetapi, ia bertanya-tanya mengapa lawan hanya melontarkan tinju tangan kosong. Apakah ada senjata rahasia?

“Bruash!” Tinju lawan yang setidaknya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8 berhadapan dengan Tempuling Raja Naga. Sebuah suara tak enak terdengar ketika tulang lengan lawan patah serta daging dan ototnya pecah. Darah segar berhamburan ke segala penjuru.

Bintang Tenggara segera menarik Tempuling Raja Naga dan melompat ke belakang. Sebuah segel penempatan memang telah ia siapkan sebagai persiapan bilamana lawan memiliki senjata rahasia. Akan tetapi, kini segel tersebut justru yang menyelamatkan jiwa lawan.

“Huaaa!” teriakan kesakitan terdengar pilu. Lengan kanan pria bertubuh besar hanya bersisa sampai sikut saja. Sungguh, meremehkan lawan yang hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 4, harus dibayar mahal.

“Bodoh! Tidakkah kau rasakan aura senjata pusaka Kasta Perak!” sergah suara perempuan. Ia lalu memberikan pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan yang mengalir deras bagai keran air yang terbuka penuh.

“Waspada! Kita harus menyerang bersamaan,” ujar perempuan itu setelah menuang ramuan dari sebuah botol. Sungguh mujarab, ramuan tersebut langsung dapat menghentikan pendarahan. Si pesakitan, tentu saja tak dapat melanjutkan pertarungan.

Lawan masih bersisa tiga orang. Kesemuanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 7. Bintang Tenggara segera menyibak kembangan. Tempuling Raja Naga bersiap siaga di kedua belah tangan. Sekarang sudah tak ada jalan mundur. Tawar-menawar pun tiada berguna.

Dua lawan merangsek dari kiri dan kanan, disusul satu orang di tengah. Bintang Tenggara mundur beberapa langkah. Gerakan lawan di kiri dan tengah terhambat Segel Penempatan, sedangkan lawan di kanan yang menghunuskan sebilah tombak sengaja dibiarkan maju. Dengan kata lain, Bintang Tenggara membuka kesempatan untuk bertarung satu lawan satu!

“Jleb!” Tombak kalah panjang dengan tempuling. Bintang Tenggara menikam paha lawan. Beruntung reflek lawan itu cepat dalam menghentikan langkah. Tempuling Raja Naga hanya menusuk daging, tak sempat mematahkan tulang. Lawan mundur tertatih.

“Srek!” Temali membelit kaki kiri dan lengan kiri Bintang Tenggara bersamaan. Segera ia menebaskan tempuling guna menjaga jarak aman dari dua orang berpakaian gelap di hadapan.

Akan tetapi, Bintang Tenggara tak sempat melepaskan temali. Tubuhnya ditarik deras ke depan. Ia kehilangan keseimbangan dan terhuyung tak berdaya. Tebasan sebilah pedang dapat ditangkis menggunakan Sisik Raja Naga. Meski, tusukan susulan menikam perut di bawah rusuk kiri Bintang Tenggara!

“Jangan dibunuh! Kita butuh dia hidup-hidup!” terdengar rintihan peringatan.

Bintang Tenggara berhasil melepas tali dan melangkah mundur. Tangan kirinya berupaya menutup darah yang mengalir dari luka tikam. Meski tikaman tak terlalu dalam, rasa sakit yang dirasakan sungguh tak terperi. Cedera di bawah rusuk memaksa Bintang Tenggara menyimpan Tempuling Raja Naga.

Kedua lawan kembali menyerang dengan niat membungkam. Mereka datang dari dua sisi, bergerak tanpa ragu. Bintang Tenggara melempar Segel Penempatan… namun sia-sia belaka. Inilah kelemahan dari segel tersebut, karena tak bisa dilakukan berulang-ulang dalam pertarungan jangka panjang. Lawan yang telah terbiasa akan dapat meresapi aura segel. Bahkan, lawan dapat melihat untuk menentukan secara pasti posisi segel semi transparan itu.

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana!

Memasang posisi kursi sambil memutar tubuh, Bintang Tenggara melesat secepat kilat. Jarak mereka kembali terpaut jauh, sekitar duapuluh langkah. Meskipun demikian, lawan terus merangsek maju.

Dua lawan berpakaian gelap segera menyusul mangsa yang terluka. Di saat mereka hendak menyergap…

Asana Vajra, Bentuk Kedua: Virabhadrasana!

Cakar di kedua lengan Bintang Tenggara mencabik-cabik ke arah lawan. Kali ini, lawan yang kurang beruntung adalah yang menggunakan temali karena ia berniat membelit dan menghentikan gerakan Bintang Tenggara. Sebuah guratan besar menyelempang dari tulang selangka di bawah leher sampai ke pinggang. Tulang belulang terlihat putih, sebelum darah segar mengalir deras!

Seorang yang berpakaian gelap yang tersisa kembali memberikan pertolongan pertama. Pendarahan berhasil dihentikan dengan cepat. Akan tetapi, kondisi komplotannya itu sungguh mengenaskan sampai ia sendiri bergidik. Untunglah, luka cakar itu tak mengancam nyawa.

Bintang Tenggara berdiri menatap seorang lawan yang tersisa. Dari suara dan bentuk tubuhnya, jelas sekali seorang perempuan muda. Andai saja ia memiliki ramuan untuk menghentikan pendarahan, pikirnya. Luka di bawah rusuk kirinya masih mengalirkan darah. Di belakangnya adalah bantaran sungai.

Perempuan berpakaian gelap semakin waspada, bahkan sedikit gentar. Bagaimana mungkin seorang ahli Kasta Perunggu Tingkat 8 dan lima ahli Kasta Perunggu Tingkat 7 menjadi bulan-bulanan ahli Kasta Perunggu Tingkat 4? Tak dapat dicerna akal!

“Blub!” tetiba gumpalan air membungkus tubuh Bintang Tenggara! Ia terkunci tak bisa bergerak di dalam balon air. Yang tersisa hanya bagian leher dan kepalanya saja. Ia mencoba meronta melepaskan diri, namun sia-sia.

“Kalian menyedihkan!” terdengar suara mengolok-olok.

Bintang Tenggara menoleh dan mendapati dua orang bergerak dari arah sungai. Salah seorang membuka telapak tangan ke arah tubuhnya. Kasta Perak, keluh Bintang Tenggara mencoba mencermati lawan. Karena tak bisa menakar tingkat keahlian salah satu dari mereka, maka ia menyimpulkan ahli tersebut berada pada Kasta Perak.

Sesungguhnya, dari sepuluh ahli berpakaian gelap yang menyusup ke Pulau Dua Pongah, terdapat dua ahli yang berada pada Kasta Perak. Seorang berjaga di kota, sedangkan seorang ahli lagi ikut menyisir hutan. Dikarenakan memiliki kesaktian unsur air, maka ahli Kasta Perak kedua ini menyusuri hutan memanfaatkan aliran sungai.

“Katakan dimana gadis itu!”

“Aku telah berpisah dengan gadis itu sejak semalam,” ujar Bintang Tenggara. Ia merasakan bahwa luka tikam di bawah rusuk yang tadinya mulai mengering kembali basah. Warna balon air perlahan berubah kemerahan.

“Bila benar demikian, maka kau tiada berguna…,” terdengar tanggapan dari sosok berpakaian gelap. Seketika itu juga Bintang Tenggara merasakan bahwa balon air yang mengunci tubuhnya mulai bergerak membungkus kepala!

“Kau masih memiliki kesempatan,” ujar sosok di hadapan memberikan peringatan terakhir.

Bintang Tenggara hanya diam. Spontan ia menarik napas panjang.

“Tanpa pengawal ini kita sama sekali kehilangan jejak,” ujar perempuan muda, salah seorang di antara mereka.

“Besar kemungkinan pengawal ini berniat mengalihkan perhatian. Kalian terlalu bodoh! Gadis itu kemungkinan besar sedang menghindar ke arah yang berlawanan!” sergah ahli Kasta Perak.

Perempuan yang mengejar dan bertarung dengan Bintang Tenggara beralih gusar karena merasa dikelabui. Teman-temannya pun mengalami cedera tang tak ringan…

Andai saja mereka tahu bahwa tak serumit itu pemikiran Lampir Marapi. Gadis itu hanya ingin cincin Batu Biduri Dimensi yang memuat baju, tas dan sepatunya kembali. Alih-alih bergerak ke arah berlawanan, saat ini ia sedang cemas apakah koleksinya sudah ditemukan atau belum.

Di dalam balon air, tangan Bintang Tenggara merogoh ke dalam ruang dimensi penyimpanan di mustika retak Komodo Nagaradja. Ia mengeluarkan selembar kartu. Lalu, formasi segel di permukaan kartu itu berpendar membuka lorong dimensi. Dari dalamnya, sesuatu melompat keluar!

“Auuummm!”

Harimau Bara terbebas! Bintang Tenggara terjerembab jatuh dan terlepas dari gumpalan balon air. Balon air itu terbuka paksa karena tak mampu menampung ukuran tubuh seorang anak remaja dan binatang siluman tersebut.

Ketiga lawan yang sedang membahas rencana lanjutan terkejut bukan kepalang. Bahkan ahli Kasta Perak merasa ancaman nyata ketika menyaksikan kehadiran binatang siluman Kasta Perak. Spontan mereka mundur beberapa langkah.

Berkas api menyala dari kedua mata serta kuku-kuku Harimau Bara. Ia langsung menerkam ke arah lawan!