Episode 10 - Segala yang Belebihan



Jackal tersungkur tetapi belum menyerah. Riak udara yang semakin menjadi-jadi terkesan menambah beban pada tubuh berbalut jubah itu.

“Sial,” umpatnya saat mendapati retakan kecil pada gelembung ungu. “Anda tidak bisa mengubah kenyataan dengan cara semacam ini.”

“Jaga omonganmu, Bedebah! Setidaknya aku dan saudaraku bisa bersama di sini.” Arga membantah.

“Anda kira Arya akan senantiasa di sisi Anda, di dunia mimpi? Anda harus tahu, usianya akan terus bertambah dan cepat atau lambat kepribadian Arya akan semakin dewasa. Dia pasti akan melupakan segala hal tentang lucid dream, termasuk Anda.” Jackal berbicara sambil memerhatikan retakan demi retakan yang terbentuk.

“Saudaraku bukan tipe orang seperti itu. Dia pasti akan selalu mengenang diriku, tidak peduli sampai kapan pun.”

“Ja-jawab pertanyaan Saya! Mengapa Anda mampu berkembang sejauh ini?” Tubuh Jackal membungkuk karena tak kuasa menahan beban udara.

“Aku tidak berkembang! Dari dulu kekuatanku, kemampuanku, kehebatanku sudah seperti ini. Dan, jangan pernah panggil aku karakter mimpi. Aku tidak serendah mereka!” Suara Arga menggelegar.

“Sa-saya tidak mengerti. Kejadian ini jelas berlawanan dengan pedoman dunia mimpi. Tidak ada karakter mimpi yang kemampuannya seimbang, bahkan melebihi sang pemimpi. Itu sudah ketentuan.” Jackal jatuh tersungkur.

“Masa bodoh dengan pedoman bodohmu! Aku ada dan—“

“Dapat,” desis Jackal. “Gari! Di samping Guardian Arya!” serunya kemudian.

Gari yang sedari tadi berusaha mendeteksi sensor energi Arga, akhirnya mendapat perintah tuannya untuk menyerang. Monster bermoncong panjang itu membumbung tinggi, coba meraih sosok tak kasat mata yang melayang di samping Garuda. Tepat sekali! Karena sesaat kepalan tangannya menoyor daerah tersebut, terasa sesuatu yang terpental menjauh.

Arga terpelanting ke air, wujudnya pun langsung tampak. Lelaki itu bangkit sambil mengumpulkan energi untuk balas menyerang, tetapi Jackal lekas-lekas menahannya dengan sergapan dua orang berjaket bulu merah. Lengan Arga yang digenggam erat sontak kesulitan bergerak untuk menyalurkan Lucidity.

“Sombong. Sifat Anda persis seperti Arya,” tukas Jackal.

“Aku akan membinasakanmu!”

“Sebenarnya … Anda sudah terkepung.” Jackal memandangi lebih dari dua puluh orang berjaket bulu merah yang mengelilingi Arga, juga Gari yang meraung-raung tak jauh dari posisinya.

Gelembung Jackal menghilang. Kini lelaki itu berjalan menghampiri musuhnya yang begitu keras kepala. Bahkan, di detik-detik kekalahannya, Arga masih meronta-ronta ingin dilepas. Namun, pegangan orang-orang berjaket terlalu kuat baginya.

“Anda adalah fenomena abnormal. Penuh akan Lucidity liar tetapi sanggup memanipulasinya sedemikian baik. Sungguh menakjubkan.” Jackal mendekatkan kepalanya ke wajah Arga. “Saya rasa kita perlu membuat kesepakatan.”

“Tidak akan! Aku tidak mau bekerja sama denganmu.”

“Kalau begitu Anda tidak ingin menjadi nyata,” kata Jackal.

Arga hanya diam. Kepalanya menunduk, berusaha menyembunyikan raut kecewa yang menjalar cepat.

“Saya percaya pada potensi Arya. Maka dari itu, semua rentetan latihan ini dibuat sedemikian sulit untuk mempertajam kemampuannya.”

“Tapi apakah kau juga memikirkan keselamatannya? Kehidupannya di dunia nyata?” Arga menatap Jackal dengan sengit.

“Lucid dream hanyalah mimpi, dan mimpi tidak berdampak banyak pada kenyataan.”

“Kau memang—“

“Turnamen!” potong Jackal sesaat Arga ingin melanjutkan kalimatnya. “Saya ingin mendaftarkan Arya di turnamen Oneironaut.”

“Kau bercanda?” Arga menatap geli.

“Tidak, karena hadiahnya adalah satu permintaan untuk dikabulkan.” Ucapan Jackal menghapus segala keraguan Arga kepadanya. “Pada waktu-waktu tertentu, pintu Pandora akan terbuka dan orang-orang terpilih diizinkan memasukinya. Di dalam sanalah, semua orang terpilih diberi kebebasan untuk saling unjuk kemampuan.”

“Jadi saudaraku termasuk orang terpilih?” Arga bertanya.

“Dia lebih dari sekadar terpilih. Dia ada dalam bimbingan Saya, salah satu dari delapan duta Pandora.”

“Duta Pandora?”

“Kami adalah perwakilan yang diutus penyelenggara untuk menemukan orang-orang berpotensi di antara yang berpotensi.” Jackal bersedekap. “Arya akan mendapat perlakuan khusus di sana. Dia juga berkemungkinan besar menjadi pemenang.”

“Mengapa kau begitu yakin?”

“Sebab Saya merupakan duta di peringkat pertama. Penentuan peringkat duta diatur berdasarkan seleksi ketat. Kemampuan kami saling diadu guna menentukan siapa yang pantas merajai daftar peringkat.”

Angin laut berdesir pelan, mengibarkan rambut Arga yang menatap Jackal lekat-lekat. Dia tidak begitu yakin pada hasutan pria yang bahkan tak sudi menunjukkan wajahnya. Akan tetapi, ia benar-benar ingin mengulang waktu bersama Arya. Tidak ada hasrat yang besarnya melebihi keinginan tersebut.

“Aku … akan melepaskan saudaraku, dengan syarat—“

“Syarat apa yang ingin Anda minta?”

“Izinkan aku masuk ke dalam kepengurusan turnamen untuk terus mengawasi saudaraku.”

“Itu tidak mungkin. Anda bukan makhluk nyata,” protes Jackal.

“Aku tahu, Bodoh! Selama kau tidak memaksa Arya melupakanku, maka wujudnya akan tetap bertahan.” Arga memberitahu.

“Sekarang Saya mengerti,” ujar Jackal mengangguk kecil. “Alasan Anda punya kemampuan menandingi Sang pemimpi adalah karena memori yang dimiliki Arya tentang Anda sudah di luar batas. Ini berbanding lurus dengan pedoman mimpi yang mengatakan bahwa, memori adalah unsur terburuk dalam penciptaan subjek mimpi.”

“Bla, bla, bla, tutup saja mulutmu. Aku ingin mendengar jawabannya segera!”

“Tentu, Anda akan direkrut sebagai duta Pandora kesembilan secepatnya.”

“Bagus.” Arga menyeringai puas. “Kapan turnamen yang kau bicarakan itu dimulai?”

“Lusa adalah hari pembukaan. Saya akan pastikan Arya mendapat kemudahan di hari pertama.”

“Baiklah, Arya sepertinya akan bangun dalam beberapa menit lagi. Sekarang lepaskan aku,” pinta Arga.

Tanpa pikir panjang, Jackal segera memerintahkan prajuritnya untuk menjauhi tawanan mereka. Sesaat orang-orang berjaket bulu merah telah lenyap dari pandangan, barulah Arga menyunggingkan senyum kemenangan. Dia menatap Jackal dengan tajam.

“Kau mau tahu mengapa ingatan Arya terhadapku begitu kuat?” Lelaki beralis belah itu bertanya.

“Tentu, jika Anda bermurah hati,” sahut Jackal.

“Kami punya urusan yang tidak sempat selesai di dunia nyata. Urusan yang begitu penting sampai-sampai takkan cukup bertahun-tahun untuk melupakannya.”

“Urusan macam apa itu?” Jackal kian penasaran.

“Aku mati dalam kecelakaan pesawat, begitu pun semua penumpangnya. Dan kkau tahu? Arya yang menyebabkan semua itu.”

“Apa maksud Anda?”

“Arya yang—“

Tiba-tiba saja Arga menghilang. Kejadian itu disusul oleh lenyapnya Garuda di angkasa dan meninggalkan Arya yang segera jatuh melayang-layang di ketinggian beratus-ratus kaki. Jackal mendecak kecil seiring hatinya yang jengkel tak bisa mendapat jawaban. Rupa-rupanya Lucidity Arya sudah tidak mumpuni untuk melanjutkan mimpi.

Mata Jackal yang tersembunyi dalam sepasang lubang di topengnya terus memerhatikan Arya. Meter demi meter lelaki bergigi gingsul itu arungi untuk sampai ke dasar, tempat ia akan terbangun sesegera mungkin.

“Gari!” Jackal menyeru. “Pastikan kau ingat wajah orang itu. Aku ingin kau bantu dia di pertandingan pertama nanti.”

Gari meraung-raung tidak setuju. Akan tetapi, Lucidity Jackal yang terbilang besar memaksanya mengiyakan perintah tersebut. Memang sebuah fakta jika Guardian takkan sudi melindungi orang selain penciptanya. Jackal pun sebenarnya agak kurang berkenan memberi bantuan pada Arya.

“Guardian anak itu terlalu lemah untuk ikut serta dalam turnamen bertaraf internasional. Lagi pula latihan yang kuberi belum cukup banyak untuk menempa potensinya. Sial! Ini karena si memori kurang ajar itu.”

Sesaat kalimat Jackal berakhir, Arya tapak sudah menyentuh permukaan air dan melesak jauh ke dalam. Ia tersedak, seolah air selaut masuk ke dalam tubuhnya. Arya sontak kelabakan. Tangannya yang terlalu lemas bersikeras menjangkau permukaan, tetapi ketika jarinya baru menyentuh lantai air di atas, pandangan pemuda itu telah menghitam.

“HWAAHH!” Arya bangkit dengan terbatuk-batuk.

Iris hitamnya menelusuri keadaan di sekitar, sebelum akhirnya ia sadar bahwa kini dirinya ada di dunia nyata, tepatnya di dalam kamar. Cepat-cepat Arya melirik jam dinding, berharap ia tidak terlambat untuk apa pun.

“Syukurlah,” gumamnya tatkala mengetahui kalau sekarang pukul satu dini hari.

Di kamar yang remang-remang Arya coba mengingat kejadian di dunia mimpi barusan. Bukan sesuatu yang wajah, kali ini ingatannya tidak begitu baik. Dia lupa mengenai keseluruhan sesi latihan dengan Jackal. Bisingnya gonggong anjing di luar menambah kekesalan Arya. Belum lagi dengan gema tiang listrik yang memberitahu waktu kepada masyarakat.

Dahi Arya mengerut, ia perlu tenang untuk mendapatkan memorinya. Maka dari itu, diputuskannya untuk pergi ke dapur untuk meminum beberapa gelas air.

Menuruni anak tangga yang berderit kala malam merupakan sesuatu yang cukup menyeramkan buat Arya. Pasalnya, baru kali ini ia terjaga sewaktu tengah malam, terlebih setelah ber-lucid dream yang cukup menguras tenaga.

Pemuda itu berjalan cepat melewati ruang tengah, kemudian berbelok ke dapur seraya mendekati rak di mana peralatan makan tertata rapi. Sesaat mengambil gelas yang tergantung, ia bergegas menuang air dari teko. Ketika ingin minum, Arya sempat merasakan hawa aneh yang menghampiri tengkuknya. Akan tetapi, ia sepakat untuk tidak menghiraukannya.

“Kurasa aku belum mengalahkan Arga palsu atau raksasa pelindungnya,” ujar Arya sesaat menenggak habis minumannya. “Jika memang benar, paling tidak satu atau dua hari lagi Jackal akan mengajakku untuk melanjutkan latihan.”

Tiba-tiba saja angin dingin menyapa kulit Arya. Sontaklah ia menggigil, terlihat dari giginya yang menggertak cepat. Wajahnya memucat, kepalanya pun terasa nyeri. Arya nyaris jatuh karena kakinya kram seketika. Untungnya ia berhasil bertumpu pada meja makan.

“Apa ini?” Dia berehat sejenak di kursi seraya memijat-mijat pelan lututnya.

Semakin lama, rasa nyeri di kepala Arya kian menjadi-jadi. Tiada suara uang paling sering terdengar selain napasnya yang menderu seperti habis lari berpuluh-puluh kilometer. Sendi-sendi di tubuh Arya perlahan-lahan melesat. Ia berusaha menguatkan diri di kala pandangannya mulai kabur.

Namun, satu-dua detik kemudian akhirnya Arya ambruk. Ia jatuh ke lantai, menyenggol gelas kaca hingga pecah beberapa langkah darinya.

Sebelum penglihatannya hitam sempurna, Arya masih bisa memandangi benda-benda di sekitarnya.

“ARYA!” Teriakan Romy seolah bergaung di telinganya. “Sadar, Arya!”

Selama sepersekian detik Arya berkutat dengan rasa sakit di tubuhnya, hingga akhirnya ia kehilangan kesadaran.

Romy dengan sigap menggendong adiknya yang begitu lemas, kemudian membawanya menaiki anak tangga untuk segera direbahkan di kasur.

“Ada apa denganmu, Arya?” gumamnya seraya menepuk-nepuk tubuh adiknya.

Sungguh sial bagi Romy. Sepeda motornya baru saja dititipkan di bengkel akibat beberapa kerusakan, dan Arya pingsan di waktu yang benar-benar tidak tepat. Ia seolah kehabisan pilihan. Jadi maklumlah uang bisa diupayakannya hanya mengompres kepala adiknya itu dengan air hangat sambil berharap ia segera siuman.