Episode 9 - Duel Arya dan Bentroknya Kedua Guardian



Sudah dimulai, dan kali ini tiada yang mau mengalah. Arya berlari di atas datarnya air sambil memagut kendi besi, disusul oleh Garuda yang mengudara berpuluh-puluh meter di angkasa, kendati posisinya belum sejajar dengan kepala Ymir.

 Sesaat jarak mereka hanya terpaut beberapa meter, tombak-tombak Ymir sontak bereaksi. Semuanya, nyaris dua puluh buah, melesat dengan cepat menghujani Garuda. Arya—yang sudah setengah jalan mendekati tembok pelindung Arga—tidak begitu yakin Guardian miliknya mampu menghalau serangan sebesar itu. Tidak mau segalanya kacau, dengan cekatan ia berbalik arah dan mengguncang kendi demi menolong Garuda.

“Kia harus menang!” seru Arya sejurus terdengarnya bunyi dentuman dari kendi besi. Lima bola api penuh asap terlontar ke udara, menuju tombak-tombak Ymir yang kini mengepung Garuda.

Seperti serangan-serangan sebelumnya, bola api Arya selalu saja sukses menghalau tombak air, dan sekarang pun tidak jauh berbeda. Dua bola api yang menghantam sejumlah tombak menghasilkan ledakan berseling asap pekat. Sungguh merepotkan, terlebih terbatasnya jarak pandang bagi mereka yang ingin memantau pertarungan di langit.

Kini Arya tidak tahu-menahu bagaimana nasib Garuda. Terlalu banyak kepulan di langit, juga kerikil merah yang melenting ke sana-kemari. Akan tetapi—di tengah kritisnya keadaan—sosok yang membayang di tebalnya asap mampu mengurangi kegelisah Arya, sedikit. Bayangan yang tampak sedang meremukkan tombak demi tombak dengan lengan kekarnya itu menjadi isyarat baginya untuk bergegas menghampiri Arga palsu.

Arya segera berbalik ke arah semula, di mana tembok biru melingkar kokoh. Kakinya menapak ke depan, tidak peduli pada sengitnya Garuda yang membantai tombak-tombak air, pun demikian pada Jackal yang menyaksikan seraya bersedekap. Ia hanya ingin saudara kembarnya kembali, hidup sebagai manusia sejati di dunia nyata. Arga pasti sedang menunggu, pikirnya.

“SIAL!” Arya terjerembap, wajahnya terantuk ke air.

Jelas ada sesuatu di air—menyerupai temali—yang menjerat kaki kirinya hingga sukar bergerak. Dia sama sekali tak sadar saking bersemangatnya mendatangi Arga palsu. Sungguh celaka, terutama ketika Ymir menepuk tangan besarnya hingga embusan kuat tercipta. Kini tampaklah Garuda yang tengah mematah tombak air terakhir. Ia terbang dengan anggun bersama dua pasang sayap keemasan.

“Konsep dari Guardian adalah subjek yang bertugas sebagai pelindung, bukannya subjek yang perlu dilindungi. Anda salah besar jika berpikir Garuda butuh bantuan.” Jackal bersuara di tengah gentingnya keadaan.

“Lalu aku harus apa?” celetuk Arya seraya berdiri dengan tertatih-tatih.

“Saya tidak tahu. Silakan temukan jawabannya sendiri.”

“Sialan kau!”

Raut jengkel semakin kentara di wajah Arya. Sayang ia sudah telanjur berjanji untuk tidak membantah apapun perintah Jackal. Andai tidak, pastilah dirinya akan memberontak seperti kemarin.

“Kalau begini ….” Arya memungut kendinya yang terguling di air. “Bunuh saja dari jauh!!!” Kendinya bendentang berkali-kali, menghasilkan bola api yang jumlahnya tak terhitung.

Bara api melayang-layang di angkasa, seolah ada seekor naga yang memuntahkan isi perutnya. Pelan tapi pasti, satu per satu bola api yang menukik ke bawah mulai menubruk tembok air.

“HAH?!” Arya tercekat, sejurus dengan pecahnya bola api pertama, tiba-tiba pandangannya memudar. “Lucid!!!” teriaknya.

Nihil, tak satu kata ajaib pun yang sanggup mengembalikan pandangannya. Lelaki itu terkapar lemas kehabisan tenaga. Kendati demikian, telinganya masih mampu menangkap dahsyatnya suara ledakan yang sepertinya tiada berbuah manis sedikitpun.

Situasi kian memburuk kala kilatan merah menerpa indra visual Arya. Ia merasa ada sesuatu di atas sana, yang tengah menuju ke arahnya. Benar saja! Saking kuatnya tembok yang dibuat Arga palsu, salah satu bola api bahkan terpental menuju dirinya. Senjata makan tuan!

Bungkamlah sudah lisan Arya. Kondisi terburuk menghampiri di saat-saat paling krusial seperti ini. Harapannya perlahan pupus, menyisakan ambisi yang sia-sia. Selama sepersekian detik kilatan-kilatan merah mengisi sorot matanya, kian membesar serta terik. Nafas Arya tertahan, walau ia tahu dirinya takkan mati sungguhan. Akan tetapi, kalah di kesempatan besar seperti ini serasa lebih buruk dari mati.

Detik-detik paling mendebarkan menyongsong diikuti aroma asap yang menerobos ke lubang hidung. Dekatnya jarak bola api itu sekarang dapat dihitung dengan jari. Satu, dua, demikianlah hati Arya ikut menghitung.

“Satu.”

Sang bola pijar jatuh melesak ke dalan air, menciptakan gelombang super besar, bahkan sanggup menggoyahkan Ymir yang memantau ke sana-sini. Tidak sampai tiga detik terlewat, letusan dahsyat menyusul. Amat kuat, sampai-sampai Jackal melombat kembali ke jembatan penyeberangan. Sesaat kakinya memijak aspal kusam di sana, kepala lelaaki berjubah itu langsung menengadah.

“Inilah yang Saya maksud dengan konsep Guardian,” ujarnya. “Pelindung yang tidak perlu dilindungi.”

Rupa-rupanya di atas sana, tepat di ketinggian beratus-ratus kaki dari pusat ledakan, tampak Garuda bersiaga bersama Arya dalan gendongannya. Entah seberapa cepat gerakan makhluk itu, yang jelas ia terbukti mampu meemanfaatkan kesempatan sekecil apa pun.

Lain kisah dengan Guardian-nya, Arya terkulai lemas dalam dekapan lengan kekar berbulu keemasan. Matanya yang terbuka tinggal segaris akibat kekurangan energi. Dalam kondisi semacam ini, yang bisa dilakukannya hanyalah menyunggingkan senyum tipis kepada diri sendiri.

Di kala Arya mengira bahwa keadaan telah berangsur membaik, maka dia salah besar. Terpental dalam kecepatan sedang, kurang lebih tiga bola api berasap hitam mengarah ke langit. Sorot tajam Garuda spontan menaksir seberapa besar kelajuan batu-batu terbakar itu.

Setelah perkiraannya mantap, monster burung tersebut bergegas mengambil posisi lebih tinggi lagi. Namun, sesaat keempat sayapnya mengepak, lengan-lengan Ymir yang ukurannya jadi sepanjang ular segera mencengkeram kakinya. Garuda mendengking panik, sementara Arya tiada sanggup berupaya.

Layaknya ular sungguhan, kedua lengan Ymir beringsut melilit kaki bersisik Garuda. Lengking yang menyerupai elang itu berkumandang memenuhi seisi latar mimpi Jackal. Meski sudah menyentak kasar beberapa kali, tetap saja lengan-lengan tersebut melekat erat. Mereka tidak diberikan kesempatan sama sekali untuk kabur, melainkan datangnya tiga bola api yang kian dekat saja.

Tidak kehabisan akal demi melindungi tuannya, Garuda dengan sigap mengembangkang keempat sayapnya yang sempat meringsing. Sayap-sayap kebesaran itu mengepak dengan liarnya, kendati tidak berpengaruh pada lengan Ymir. Namun, semuanya berubah ketika Garuda melejit tinggi seraya berputar-putar bagai tornado. Lengan Ymir yang terbuat dari air sontak terpilin, terus terpilin hingga akhirnya putus.

Garuda melesat super cepat menembus lapisan awan yang menggumpal putih. Jejak-jejak sayapnya di langit dapat dilihat jelas oleh siapapun. Beberapa detik setelahnya, ketiga bola api yang gagal mengenai target mulai meluncur ke bawah, berderik-derik seram. Kemudian, terpaut dua sampai tiga menit, ledakan pun pecah untuk kesekian kalinya disusul ombak-ombak ganas yang menghantam tiang-tiang penyangga jembatan.

“Ceroboh,” gumam Jackal sambil menyeimbangkan posisinya.

Kesadaran Arya tinggal seujung jari. Realita dan imaji seakan bercampur aduk di pikirannya, membuat lelaki itu kesulitan menginterpretasikan mimpi. Sayup-sayup terdengar gaung dari suara Arga, meminta dirinya bertahan demi tujuan mereka.

 Sama seperti yang mereka lakukan dulu, Arga biasanya akan berbicara melalui telepati kepadanya di berbagai latar mimpi. Akan ada banyak peran yang bicara pada Arya, tetapi kesemuanya adalah manifestasi dari Arga. Serupa dengan mimpu di hari-hari lalu, suara tak berwujud menghampiri kepalanya, berbicara mengenai banyak hal.

“Bertahanlah. Aku akan selalu di sisimu, menemanimu sampai impian kita terwujud.”

“Arga,” lirih Arya.

Jackal yang merajai latar mimpi ini dapat dengan mudah mendengar sepatah kata yang mmenelusup dari bibir Arya. Nama yang lagi-lagi menjadi semangatnya, pikir Jackal. Dia mendongak ke atas lalu mulai berucap:

“Baru kali pertama Saya menemui subjek mimpi yang bertindak sejauh ini. Entah apa yang sudah Anda lakukan padanya, tetapi subjek yang bernama Arga itu benar-benar bertingkah seperti orang nyata.”

“KAU MEMAKSANYA TERLALU KERAS!” Suara Arga menggelegar. Jackal sampai bergetar dibuatnya.

“Ba-bagaimana bisa?” Ia melongo, menghilangkan citranya sebagai sosok misterius tak terkalahkan.

“Seharusnya aku tidak membiarkanmu melakukan ini pada saudaraku. Dasar bedebah sialan!”

“K-kau? Kenapa? Bagaimana bisa?” Jackal menoleh ke sana-kemari, berusaha menemukan sosok yang barusan bicara. “Kau hanya karakter mimpi. Kau sudah mati!”

Tak disangka-sangka angin kencang berderu, melibas tubuh Jackal hingga terlempar ke bawah. Orang misterius itu menggilas permukaan air yang agak bergelombang, tetapi sedetik setelahnya ia langsung berdiri penuh waspada.

“TUNJUKKAN DIRIMU, KEPARAT!” raungnya, terkesan berbeda dari Jackal yang selama ini bertingkah penuh keformalan.

Angin dingin kembali berdesau, membawa serta deru kencang yang berbahaya. Sukses membaca pergerakan lawannya, Jackal buru-buru menciptakan gelembung ungu yang menyelubungi dirinya. Kala angin kencang mendera, gelembung tersebut sempat bergeser beberapa senti, walau masih bebas dari kerusakan.

“Katakan padaku, Arga! Mengapa kau bisa sekuat ini?” Jackal bersedekap.

“Apa pedulimu? Aku tidak tahu apa yang ingin kau perbuat pada saudaraku, tetapi saat tahu mengenai hal yang kali sepakati, aku pun ikut setuju. Namun, kini yang kau lakukan sudab di luar batas! Saudaraku bukan budakmu!” Suara Arga bergaung di seisi latar mimpi Jackal.

“Maafkan aku. Akan tetapi, latihan keras diperlukan agar tujuan Arya terwujud. Impiannya bukan main-main, ia ingin menghidupkanmu sebagai manusia sejati.” Jackal menghela napas dalam-dalam, sebelum akhirnya gaya bicara orang itu kembali normal. “Saya hanya berusaha membimbing Arya sebaik mungkin.”

“Baik, katamu?” Angin berdesau lebih keras kala nada bicara Arga meninggi.

Kini serangan kedua tegak di hadapan. Angin dingin bergumpal dengan cepatnya, membentuk bola transparan bertekanan tinggi. Lengan Jackal yang mrnyilang di dada sontak melurus. Ia kaget mendapati sekumpulan gumpalan angin datang menerjang.

Bagaikan dentam meriam, bola-bola udara tersebut merantuk gelembung ungu Jackal bergantian. Tiap benturan menghasilkan goncangan yang cukup mengganggu. Buruknya lagi, serangan demi serangan terus datang seakan tiada habisnya.

“Gari!” Jackal melempar cahaya bundar di tangannya ke angkasa.

Kemilau ungu yang menyentuh putihnya awan seketika menjelma menjadi sosok monster rubah yang meraung-raung ganas. Monster bertelinga lancip itu menghentak air dengan kaki-kaki kekarnya, dan berdiri tepat di depan gelembung Jackal.

Bola-bola udara yang melesak ke depan tentu dihadangnya dengan sigap. Lengan berotot Gari kerap kali mencengkeram gelembung yang datang, lalu meremukannya. Ia memang tak mampu melihat wujud dari udara, tetapi indra sensorik di leher Gari dilengkapi fungsi untuk mendeteksi Lucidity sekecil apa pun.

Tiga gumpalan angin meluncur ke depan sekaligus, dalam kecepatan tinggi. Gari menyiagakan diri seraya memantapkan posisi tangan serta kaki. Sesaat serangan besar itu tiba, terjadilah aksi tahan-menahan. Dorongan angin yang kuat beradu dengan kekarnya otot seekor monster hebat.

Pandangan Jackal tak kuasa lepas dari Gurdian-nya yang berjuang keras. Gari tampak mendekap ketiga bola udara sekuat mungkin. Geligi runcingnya menggertak, begitu pun telingan kelincinya yang melambai-lambai diterpa angin. Kegelisahan tercipta tatkala Jackal mendapati posisi Gari yang terseret mundur perlahaan-lahan, sedangkan lawannya terus merangasek ke depan.

“Kau tidak sehebat dugaanku,” kata Arga dengan pongahnya.

“Anda terlalu sombong,” ujar Jackal sejurus dengan berhasilnya Gari menekan ketiga bola udara hingga lenyap.

Dengan penuh nafsu, Gari melompat-lompat mendekati setiap bola udara yang tercipta. Dicabiknya gumpalan tersebut menggunakan cakar runcing, tidak peduli terhadap serangan tak kasat mata yang menggores kulit ungunya bertubi-tubi.

“Saya tidak ingin mengecawakan Arya. Dia harus lulus dari latihan dan melaju ke tahap selanjutnya.”

“Aku tidak akan membiarkanmu. Pergilah dan biarkan kami memulai segalanya dari awal.” Arga bersikeras.

“Apa yang hendak Anda mulai? Kehidupan palsu? Skenario membosankan? Kenyataan bahwa Arya dan Anda takkan bisa bersama lagi?” sanggah Jackal.

“Kurang ajar!”

Laut kenyal yang jadi pijakan Jackal seketika bergetar. Gemuruh misterius merasuk ke telinga, seolah tsunami tengah menghadang. Meski demikian, lelaki bertopeng rubah itu masih diam di posisi sembari mengawasi kejanggalan yang terjadi.

Selama sepersekian detik gemuruh terus terdengar, menyerupai petir di tengah badai. Tatkala Jackal mengira itu hanya gertakan, tiba-tiba tubuhnya ditimpa tekanan yang amat berat, seperti ditindih borton-ton batu. Sanggupkah ia bertahan lebih lama lagi?