Episode 6 - Akhir Festival (Penyelamat yang Diselamatkan)


Tanpa tahu ke mana tujuan dia mencari, Erina terus berlari di dalam kegelapan. Mencari-cari sosok yang tadi bersamanya. Namun karena suatu alasan, sosok itu memisahkan diri dengannya.

Di setiap sudut jalan yang bisa dia lihat, Erina terus mencari, walaupun kecil kemungkinan dia akan menemukannya.

Bahkan dia sampai melupakan paru-paru yang membutuhkan pasokan oksigen yang banyak dengan pergerakannya yang gesit seperti itu.

Setelah beberapa lama dia pun berhenti,bukannya menyerah tapi sedikit menenangkan diri dan mengambil nafas. Karena dia tahu, mencari Bagas yang sepertinya telah terbiasa dengan kegelapan akan sulit kalau dia hanya mencarinya dengan asal-asalan.

Sampai tanpa disadari dia masuk ke dalam situasi yang sedikit gawat.

“..ahh!”

Dia menabrak seseorang dan membuat minuman yang masih ada bersamanya tumpah dan mengotori pakaian seseorang yang dia tabrak.

“Woii!”

Seorang pria yang dia tabrak, berteriak ketika mengetahui bajunya basah karena tumpahan minuman Erina.

“Nasib sialmu!”

“Hhahaha, kasihan deh lo!”

“Udah, jangan peduliin dia. Lihat!!”

Seorang pria yang dia tabrak tak sendirian, dia bersama tiga—empat temannya termasuk yang satu lagi yang tak ikut bicara.

“..maafkan aku! Aku buru-buru, jadinya...”

“Haa-!”

Pria yang ditabrak protes keras walaupun Erina telah meminta maaf padanya.

“Lu pikir maaf bisa bersihin baju gue-!”

Cara bicaranya sedikit aneh, tapi mengingat bagaimana penampilannya yang mencerminkan satu kata, “jelek”. Membuat Erina sedikit jijik bahkan hanya dengan melihat wajahnya yang marah, namun dia mencoba untuk tak membuat rasa jijiknya itu terlihat jelas agar tak menimbulkan masalah yang lebih besar.

“Ya, aku sungguh-sungguh minta maaf.”

“Oi, dia udah tulus banget tuh minta maafnya.”

“Maafin aja deh, daripada gak kelar-kelar nanti masalahnya.”

“Masalah sepele doang di besar-besarin.”

Tiga orang temannya nampak membela Erina. Namun, hal itu hanyalah siasat mereka agar bisa mendekati Erina dengan satu cara; memberi satu dan menerima satu pula.

“Hoi!”

“Sudahlah, lagipula sangat disayangkan kalau emas berharga seperti ini dibiarin cuma buat kamu marah-marahin.”

Pria yang ditabrak Erina memprotes perilaku teman-temannya. Dan temannya yang membalas perkataannya mulai mendekat dengan suatu perasaan aneh yang membuat Erina merasakan bahaya.

“J-jadi, apakah aku dimaafkan.. -ahh!”

“Tidak semudah itu kucing nakal.”

Pria yang menahan amarah temannya yang tertabrak maju ke depan Erina, menggenggam tangannya ketika dia hendak lari.

“Kamu sudah mengotori baju teman kami, mata dibalas mata, mulut dibalas dengan mulut pula, dan perbuatan kamu itu juga harus ada pertanggung jawabannya.”

Seakan memberi pertanda bagi teman-temannya, pria itu mengeluarkan aura yang siap untuk menelan Erina secara bulat-bulat. Bukan hanya itu, dua orang temannya yang ikut menahan amarah temannya yang tertabrak juga mengeluarkan aura seperti itu.

Mereka seperti melihat sekotak ice cream yang sangat lezat yang bisa mereka nikmati bersama-sama. Membuat Erina merasa ngeri dan mulai berteriak untuk pertolongan.

“Tolong~! Siapa saja, tolong aku!”

Teriakannya cukup kuat untuk memanggil siapa saja yang berada di dekat situ, namun karena desa sekarang sedang dalam keadaan sepi. Tak ada satupun yang mendengar permintaan tolongnya.

“Percuma saja. Gak ada siapapun di sini kecuali jangkrik yang bakal mendengarkanmu kucing nakal.”

“...lepaskan!”

Erina memberontak dengan segenap tenaganya. Tapi dua pria lain ikut membantu temannya memegangi Erina dan membuat perlawanannya sia-sia.

“Hei-hei, kalau kamu bersikap baik. Kami gak akan menyakitimu loh.”

Tawaran yang cukup baik, namun bukan itu yang diinginkan Erina. Dia ingin dilepaskan—dilepaskan dari binatang-binatang buas yang menatapnya seperti seekor mangsa.

“Hahahaha—oohhh!”

“Kupikir itu sudah cukup.”


***


Walaupun berpikir untuk menjauh, Bagas masih tak tahu harus ke mana selain pulang untuk menjauh dari Erina. Namun, karena tugasnya belum selesai dia masih belum bisa untuk pulang.

Memikirkan desa yang sedang dalam keadaan sepi membuatnya sedikit khawatir dan dia berjalan kembali ke jalan utama desa.

Sampai dia menemukan sosok yang mencari-carinya, dilihat dari keadaannya sosok itu telah mencarinya kemanapun di dalam desa.

Bagas yang mengerti hal itu bersembunyi di dalam bayangan, seolah dia sudah sering melakukannya, dan benar saja, kehadirannya tak disadari bahkan untuk lima orang pria yang berjalan melewatinya.

Lima orang pria itu berjalan menuju Erina. Bagas tahu mereka akan berbuat apa, tapi dia masih menyembunyikan sosoknya dan hanya melihat.

Seperti yang diduga, sosok lima orang pria itu mendekati Erina dengan maksud tertentu. Tentu saja, Bagas takkan membiarkan hal itu terjadi.

Namun dia masih menunggu saat yang tepat—saat yang tepat untuk keluar dan menyelamatkan Erina. Berpikir kalau dia bisa saja menyelamatkan Erina dan menghindari konflik dengan lima orang pria yang lebih dewasa darinya itu.

Dia tak melakukannya, karena maksudnya sudah sangat jelas terlihat, kalau dia ingin Erina menjauh darinya. Dan jangan lagi coba-coba mendekat karena kemungkinan bahaya seperti itu bisa saja menimpanya.

Pria yang terlihat sebagai pemimpin mereka terlihat akan menyentuh Erina lebih jauh. Waktunya sudah tiba, dia harus menghentikan mereka dan memperlihatkan pada Erina kalau sedikit berbahaya jika terus mengejarnya.

“Hahahaha—oohhh!”

“Kupikir itu sudah cukup.”

Bagas menggenggam tangan pria yang mencoba menyentuh Erina lebih jauh, menariknya dan membuatnya terjatuh dengan punggung membentur tanah.

Pria yang lainnya terkejut, mencoba menjauh setelah mereka ingin mendempetkan tubuh mereka pada Erina.

“Kalian lagi ternyata, aku tak habis pikir kenapa kalian begitu terobsesi dengan terus mengulang kesalahan yang sama berulang-ulang.”

Bagas menghela nafasnya sebelum bicara, seakan telah mengerti tingkah laku dari orang-orang yang kelihatannya takut dengannya itu.

“Bocahh! Kurang ajar kau!”

Pria yang terlihat sebagai pemimpin bangkit dan rasa kesal keluar dari wajahnya. Sedangkan pria yang lain bersiaga untuk menerima perintah apapun dari pemimpin mereka.

“Huuhh! Oke aku mengalah, tapi sebelum itu, aku ingin bertanya. Dia—perempuan itu siapa?”

“Siapa, kupikir kalian sudah mengenalnya walaupun tak kuberitahu namanya.”

Membelakangi Erina, Bagas berhadapan dengan empat—lima orang pria dengan termasuk pria yang sejak awal terus terdiam.

“Bukan, bukan itu maksudku. Ahh, aku tahu, lebih jelasnya, apa hubungan kalian? Aku tak melihat suatu hubungan apapun untuk membuatmu melindunginya. Kau tahu, kalau kau terus saja ikut campur dalam urusan orang lain; maka yang akan kau dapatkan adalah masalah.”

Si pemimpin itu pintar, dia tahu kalau Erina dan Bagas tak memiliki suatu hubungan istimewa apapun untuk melindunginya. Dan bermaksud untuk memisahkan mereka.

Bagas melihat Erina sejenak sebelum membuat keputusan untuk berbicara. Erina yang melihat ada suatu pancaran aneh dari balik mata Bagas sedikit khawatir karenanya.

Bagas berbalik setelah cukup melihat ke belakang, menundukkan kepalanya dan menghembuskan nafas tanda tak senang.

“Memangnya apa hubungannya denganmu—dengan kalian. Aku tak melihat alasan apapun untuk membiarkannya, lagipula, kalau sampai ada suatu kabar aneh yang membuat desa ini buruk reputasinya, bukannya gawat. Cuma alasan itu, aku perintahkan kalian untuk membiarkannya dan pergi dari sini.”

Daripada meminta, Bagas lebih suka untuk memakai kata perintah pada orang-orang dewasa yang kelihatan takut dengannya.

Tentu saja, karena setelah melihat pemimpin mereka dijatuhkan tanpa kekuatan dan cara yang berlebihan. Membuat mereka lebih berhati-hati dan berpikir dua kali untuk melawan Bagas.

Si pemimpin terlihat kesal dengan tingkah laku Bagas yang seolah-olah lebih kuat dari mereka semua.

“Kau bocah sialan! Jangan pikir kejadian yang sama akan terulang kembali, waktu itu aku—kami sendirian, tapi lihat sekarang. Aku—tidak, kami banyak dan kau cuma satu orang, kau pikir kami takut!”

Si pemimpin melancarkan sebuah ancaman pada Bagas, dan teman-temannya bereaksi terhadap ancaman itu. Mereka tampak bersiap untuk menyerang Bagas secara bersamaan.

Merespon hal itu, Bagas hanya memperlihatkan ekspresi mengejek sekaligus memiliki pertanda ‘maju kalau berani’ pada matanya yang menatap jengkel pada mereka.

Si pemimpin mengonfirmasi kepada dua teman yang ada di sampingnya, setelah mengangguk tanpa berbicara, mereka maju secara bersamaan. Melancarkan pukulan yang mengarah pada Bagas.

Langkah mereka semakin mendekat, tangan yang menggenggam sejumlah kekuatan di arahkan pada wajah Bagas. Dan tak sampai beberapa saat ketika mereka sampai pada jarak pukulan, si pemimpin terlempar ke belakang setelah sebuah tendangan kuat sederhana telak mengenai perutnya.

Momen yang cepat itu pula, tangan kanan yang berukuran besar mencengkram leher pria yang menyerang dari sisi kanan. Membuatnya menghentikan pukulan di saat lehernya merasakan sakit setelah tertekan di telaknya.

Pria yang menyerang dari arah kanan mendapat momen untuk memukul, tapi itu hanya perkiraannya saja. Sampai tangan kanannya yang seharusnya mengarah tepat ke wajah Bagas terangkat dan dia merasa tak berdaya setelah tangannya dikacaukan dengan beberapa gerakan yang bisa mematahkan tangannya.

Menyusul pria yang ditabrak Erina tadi, dia maju dengan pose yang sama yang dibuat oleh teman-temannya. Telapak tangannya menggenggam sejumlah kekuatan untuk memukul wajah Bagas, sampai sebuah benturan kepala dengan kepala membuatnya terhuyung.

Sebelum terjatuh, pria itu juga tertindih saat temannya yang tak berdaya di sisi kiri Bagas dilemparkan padanya. Mereka berdua terjatuh dan tergeletak lemah di tanah setelah hanya menerima beberapa serangan.

Sedangkan untuk pria yang sejak awal terus terdiam, tiba-tiba saja wajahnya yang terkesan cukup seram maju untuk menyerang.

Bagas sudah mengantisipasi hal itu, karena itulah pria yang menyerang dari sisi kanan masih berada dalam genggamannya setelah kepalanya dibenturkan pada pria yang tertabrak tadi.

Pria yang satu ini kelihatan cukup tangguh untuk melakukan perlawanan, terlihat dari caranya menghindari pria yang dilemparkan padanya.

Setelah menghindar; dengan gesit dia mengarahkan tendangan yang menuju kepala Bagas.

Seakan serangannya tak berbobot, Bagas dengan mudahnya menangkap tendangan itu. Memutarkan kaki beserta tubuhnya dan melemparkannya seperti membuang air dalam ember.

Namun, serangan balik dari Bagas itu tak membuatnya jatuh. Malahan dia berhasil bertahan dan dengan cepat bangkit untuk menyerang Bagas lagi.

Kali ini sebuah pukulan, berasal dari tangan kanannya. Sebelum pukulan itu sampai ke jarak serang, dia menggantinya dengan pukulan yang mengarah ke bilik kiri dari perut Bagas yang tak terjaga.

Bagas mengerti apa yang harus dilakukan, hanya saja dia sengaja untuk membuat titik itu tak terjaga dan membiarkannya. Dan tendangan yang mengarah ke perut bagian kiri tak terjaga karena tangannya akan melancarkan serangan. Bagas menyerang titik buta itu, dan kena bahkan sebelum tangan kiri itu mencapai badan Bagas.

Kuat dan telak, jika itu lawannya yang sebelumnya mereka pasti akan terjatuh dan mengerang kesakitan. Namun, pria yang satu ini menangkap tendangan Bagas seakan dia juga memberi umpan.

Lalu dengan gesit tangan kanan pria itu di naikkan ke atas, serangan siku yang coba dia lakukan untuk melumpuhkan kaki. Tetapi dengan cepat Bagas meluncurkan serangan antisipasi yang memang ditujukan kalau situasi seperti itu terjadi. Sebuah pukulan dengan telapak tangannya yang kuat menuju telinga pria itu.

Serangan kali ini berakibat fatal karena bisa membuat aliran berpikir otak terganggu. Dan benar saja, pria itu melemahkan pegangannya dan menghentikan serangannya.

Bagas melancarkan serangan selanjutnya dengan mengandalkan kakinya yang masih terjepit. Serangan balasan itu pula memanfaatkan serangan lawan, dengan tengkuk kakinya dia menjepit tangan pria itu dan mendekatkannya padanya.

Tubuh pria itu tertarik dengan aksi Bagas, lalu serangan yang bukan pukulan tetapi mematikan diluncurkan ke arah rahang pria itu. Satu kali di bagian kiri, selanjutnya dengan sebuah tebasan seperti pedang tengkuk leher bagian kanan pria itu tertebas.

Serangan yang cukup fatal yang dia terima karena itu juga termasuk serangan yang mengganggu aliran berpikir otak. Pikiran pria itu kacau karena serangan beruntun yang diluncurkan Bagas.

Tak berhenti sampai di situ, Bagas segera ingin benar-benar mengakhiri perkelahianya dengan pria ini.

Dan pukulan kuat di arahkan tepat di tengah wajah pria itu. Wajahnya terhempas dengan kekuatan besar yang digunakan Bagas. Tak sampai di situ saja, kerah baju pria itu ditarik dengan kedua tangannya.

Lalu sebuah hantaman keras mengarah ke dada pria itu lewat lutut. Satu kali, dua kali, dan tiga kali. Selesai dengan serangan itu, Bagas menjatuhkan pria itu tapi dengan satu tangan masih menggenggam kerahnya.

Pria itu tampak tak berdaya karena perbedaan kekuatan yang mereka miliki. Berlutut di hadapan Bagas dengan wajahnya menghadap ke atas. Tak telalu tampak kacau, namun melihat serangan-serangan yang dia terima. Kali ini dia tak bisa menghindar ataupun menangkis pukulan Bagas yang akan di arahkan padanya.

“Berhenti-!!”

Akan tetapi, sebuah teriakan menghentikannya.

Berasal dari belakang—dari posisi Erina berdiri. Di belakangnya, pria yang dianggap sebagai pemimpin mendekap Erina dengan satu tangan. Dan tangan satunya lagi memegang pisau yang di arahkan ke leher Erina.

“T-tolong.”

Erina bersuara dengan lirih karena ketakutan yang dia rasakan.

Bagas menatap pemandangan tak menyenangkan itu dan melepaskan pria yang habis dihajarnya.

“Kau, keparat!!”

Ada satu kata yang keluar dari mulut pria itu yang membuat Bagas sangat jengkel.

“Brengsek. Kalau kau mendekat aku akan-“

“Membunuhnya?”