Episode 5 - Akhir Festival



Matahari hampir tenggelam. Pertanda bagi mereka yang masih beraktifitas harus berhenti sejenak sebelum memulai kembali.

Lapangan yang menjadi lokasi festival pun menjadi sepi. Hanya menyisakan mereka yang masih membereskan stan.

Dan juga ada pula yang membersihkan lokasi dengan mengutip sampah atau menyapu.

Beberapa orang terlihat sedang menyiapkan sesuatu di tengah-tengah lapangan. Kumpulan papan yang tadi digunakan untuk menjadi kandang kerbau di kumpulkan menjadi satu. Berdiri dan menjadikan sebuah gunung.

Di sisi lain ada yang sedang menyiapkan obor. Ada pula yang sedang menyiapkan alat musik seperti gendang dan juga gitar.


***


Suasana malam yang gelap dan dingin tak membuat semangat para warga yang ingin melakukan acara penutupan luntur sedikitpun. Malah sebaliknya, mereka terlihat lebih bersemangat daripada waktu siang tadi.

Mungkin hal itu dikarenakan acara yang mereka adakan berjalan dengan sukses. Membuat rasa lelah mereka tak terbuang dengan sia-sia.

Api unggun yang besar juga ikut merayakan acara penutupan. Memberikan rasa hangat bagi mereka yang berada di sekelilingnya.

Lain halnya dengan siluet yang muncul dari balik bayangan pohon. Melihat ke arah sekelompok orang yang tertawa dengan riang gembira, dan bersenang-senang menikmati malam yang indah itu.

Sosok itu adalah seorang pemuda, tapi wajahnya tak kelihatan karena bersembunyi dalam bayangan.

Sebuah senyum muncul dari balik bayangan itu. Perasaan lega sekaligus bahagia sepertinya sedang dirasakannya. Dan entah bagaimana membuatnya tak ingin berpaling dari pemandangan itu.

Beberapa orang yang dia kenal juga ada di sana. Tertawa gembira dengan perbincangan soal acara perayaan yang mereka laksanakan hari itu.

Namun, sebuah perasaan aneh muncul dari hatinya ketika teman lamanya menyinggung soal ketidakhadirannya.

“Apa ada yang melihat Bagas hari ini..?”

Sosok Rian, meskipun wajahnya terkesan seram. Hanya saat dia sedang menyinggung soal orang-orang terdekatnya membuat kesan seram itu menghilang.

Tiga orang sahabatnya yang juga ada di situ tak menjawab pertanyaannya. Ekspresi sedikit kecewa diperlihatkan oleh mereka, karena mereka tahu. Sosok Bagas bukanlah sosok yang akan memperlihatkan wajahnya dengan mudah.

“Yah, lagipula hal ini bukanlah yang pertama kalinya dia tak datang.”

“Bukannya itu berarti, dia hampir tak pernah peduli dengan acara seperti ini...”

Euis mengungkapkan pendapatnya. Rini yang berada di sebelahnya setuju, tapi kelihatannya dia tak senang dengan hal itu. Wajahnya sedikit muram ketika mengatakan hal itu.

“Maaf.”

“H-hei, sudahlah. Dia memang keras kepala seperti biasanya, jadi tak perlu dikhawatirkan. Nanti kalau dia sudah lapar, dia juga bakal keluar kok!”

Terhadap suasana yang semakin muram. Beni selaku penghubung di antara teman-temannya membuat sebuah lelucon yang terdengar garing.

“Seperti biasa. Kau sama sekali tak bisa membuat lelucon yang bagus ya, Beni.”

Siluet itu menampakkan dirinya kala sinar bulan menyentuh bayangan tempat dia bersembunyi.

Rambut ruby kehitamannya bergoyang kala tertiup angin malam. Dengan memakai baju yang menghalau dingin, Bagas, melangkahkan kakinya untuk menjauh dari lapangan serba guna.

Tetapi hal itu tertunda saat seorang dari teman—sahabat-sahabatnya mengeluarkan sosoknya yang sebenarnya.

“..kalau saja dia orang yang sama sewaktu umur kita 7 tahun. Aku pasti akan mengejar, mencari, melacak sosok menjengkelkan itu dan menghajarnya ketika sudah ketemu..!!”

Terdengar seperti sebuah ancaman dari seorang yang memakai kacamata. Dengan aura dari perawakan orang batak yang terkesan seram dan galak. Rian juga terlihat menakuti sosok pemuda yang berada di depannya.

“H-hoi, ada aura seram yang muncul di belakangmu. H-hentikan itu...”

Hampir seperti sebuah candaan, atau memang iya. Dengan dua gadis yang bersama mereka mengembalikan sosok mereka seperti biasanya. Di tambah dengan senyum dan tawa ketika dua pemuda di depan mereka terlihat lucu.

Bagas sempat memperlihatkan senyuman lega sebelum dia akan melanjutkan langkah kakinya.

Malam yang memang tak terlalu sepi. Itu dikarenakan lapangan serba guna jaraknya tak terlalu jauh dari desa. Jadi suara sorak ramai dari para penduduk masih terdengar dengan jelas dan cukup kuat.

Namun, hal itu tak menutup kemungkinan kalau desa sekarang sedang dalam keadaan sepi.

Meskipun tak sedikit seram dan mencekam seperti yang diperkirakan. Tetap saja suasana seperti itu harus diwaspadai karena bisa saja sebuah tindak kejahatan terjadi.

Bagas yang memang sengaja melangkahkan kakinya menuju desa. Memperjatam penglihatan dan pendengarannya. Mewaspadai jika ada sesuatu yang aneh dan kemungkinan berbahaya terjadi.

Hal itu telah benar-benar dilakukan olehnya. Dan dia yakin kalau tak ada sesuatu yang tak dia lihat dan dengar. Sampai sesuatu mengejutkannya.

“Aaahh-!”

Sebuah suara terdengar saat sesuatu menabraknya.

Bagas yang tak bisa memperkirakan hal itu terjadi spontan terkejut. Tak bisa berbuat apa-apa selain menerima rasa sakit yang diberikan oleh seorang yang menabraknya.

Posisi mereka sedikit mengejutkan, Bagas berada di bawah dan si penabrak berada di atas dadanya.

“Aduduh..”

Rambut pirang dengan kulit seputih salju. Atau dia memang sedang tertabrak oleh boneka salju, apapun itu, sosok itu adalah sesuatu yang melambangkan kecantikan.

Satu tangannya memegang kepalanya yang merasakan pusing. Matanya masih tertutup dan dia tak tahu siapa dan apa yang telah dia tabrak.

Di sisi lain. Bagas hampir tergoda dengan pemandangan itu. Membuatnya diam melongo melihat seseorang yang tak dia sangka kehadirannya.

Mata mereka bertemu ketika Erina, si penabrak telah sembuh dari rasa pusingnya. Cukup lama mereka melakukan itu, sampai Bagas menyadari kalau hal itu cukup aneh untuk dilakukan.

“Minggir.”

“E-eh, m-maaf!”

Erina yang hampir tak mendapat luka apa-apa, bangkit dengan mudahnya. Sedangkan, Bagas yang menjadi korban memakai sedikit tenaga untuk bangkit.

“Kamu tidak apa-apa...?”

“Ya, berkatmu tentunya. Putri yang kesasar.”

Bagas menjawab seperti itu dengan membersihkan kotoran yang dia dapatkan sewaktu terjatuh tadi.

“M-maaf, aku terlalu takut untuk terus berada dalam suasana ini. Jadi aku berlari dengan menutup mataku. Aku sungguh-sungguh minta maaf.”

Erina yang mengucapkan hal itu dengan tulus. Membuat Bagas tak memiliki pilihan lain selain memaafkannya.

“Sudahlah, tak perlu sampai segitunya. Jadi, kau ingin kembali ke acara itu kan. Jalanan dari sini tak terlalu gelap dan sepi, jadi kau tak perlu berlari seperti tadi.”

Erina mengerti apa yang dimaksudkan Bagas. Tetapi, ada sesuatu hal yang membuatnya penasaran.

“Um, tapi... kenapa kamu di sini?”

Bagas tak memberikan jawaban atas pertanyaan Erina, malahan dia memasang wajah aneh dengan mengalihkan pandangannya dan menggigit bibirnya sampai masuk ke dalam.

“Aku ada urusan.”

Bagas dengan cuek kembali melangkah, tapi langkah kakinya terhenti ketika seorang yang berada di belakang menarik tangannya.

“Apa..!?”

“Y-ya, itu.. ini memang bukan urusanku sih. Tapi apa urusan itu lebih penting daripada berkumpul dengan teman-teman yang mengharapkan kedatanganmu...!?”

Erina mengatakan hal itu tanpa melepaskan baik pegangan tangan maupun pandangannya dari Bagas.

Tanpa tahu harus membalas apa. Bagas terdiam dan cukup terkejut dengan sikap yang cukup aneh dari Erina.

“Lihatkan, bukannya lebih baik kalau kita kembali ke sana. Meskipun tak bersama mereka, setidaknya kita bisa melihat acara itu dari jauh daripada tidak sama sekali. Ayo!”

Ajakan yang cukup kuat dari Erina. Bagas seperti merasa tak pernah merasakan hal yang dia hadapi saat itu. Mengakibatkan diam dan tanpa kata pada ajakan dan tarikan tangan Erina.

“T-tunggu-”

“Sudahlah, ikut saja!”

Pada akhirnya Bagas seperti mau tak mau mengikuti tarikan tangan Erina.

Membuatnya melangkahkan kakinya kembali dari arah dia tadi berjalan. Jarak mereka dengan lapangan sudah cukup dekat. Dan Bagas, masih dengan ekspresi bodoh, terus mengikuti kemana Erina menuntunya.

Sampai mereka berada di pinggir lapangan, jarak dengan di adakan acara penutupan tak terlalu jauh. Cahaya api unggun memang tak sampai ke tempat mereka berhenti, tapi itu sudah cukup untuk dijadikan pencahayaan.

“Jadi, aku harus memberikan popok ini ke kak Afita. Kamu duduk di situ saja, jangan ke mana-mana ya! Aku peringatkan lagi, jangan bergerak sedikitpun dari situ!”

Erina mengatakan hal itu sambil berjalan mundur, menuju ke tengah-tengah lapangan. Berlari dengan maksud mempercepat waktu kembalinya dari memberikan popok bayi ke seorang ibu yang dia sebut Afita.

Dengan tak menyangka hal seperti itu bisa terjadi. Bagas masih dalam mode kacau sambil melihat Erina pergi.

Saat itu pula, tak memerlukan waktu lama untuk kembali ke dirinya yang biasa. Dan dia ingin mengakhiri drama bodoh itu dengan akan berjalan pergi dari lapangan. Tepat sebelum dia menjauh, Erina datang dengan berlari meneriakinya.

“Hee~i, apa yang kukatakan padamu untuk berdiam diri di situ!!”

Seperti habis berlari 1 km, nafas Erina terengah-engah saat dia sampai di mana Bagas berdiri.

“Kamu... masih kutinggal beberapa detik saja... sudah akan pergi...”

Nafasnya memburu oksigen sambil memegangi lututnya karena tak kuat berdiri tegak.

“Seharusnya kau tak perlu juga berlari dan berteriak di waktu yang sama.”

Bagas terlihat kesal dengan perilakunya, entah bagaimana, dia berpikir kalau hal seperti itu bukanlah sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh bangsawan yang dia kenal ini.

“Jadi, mari duduk di situ, kita bisa melihat acaranya dari arah sini bukan.”

Erina menunjuk ke kursi kayu yang ada di dekat mereka. Sambil membalikkan tubuh Bagas dan mendorongnya untuk melangkah maju.

Bagas yang lagi-lagi terkejut dengan perilaku orang yang terus memaksanya ini berpikir ‘kenapa kau tak membawaku ke acara itu’ dan ‘malah membawaku ke sini?’. Pemikiran yang cukup aneh menurutnya, tapi memang itulah yang dilakukan Erina sekarang.

Memaksanya untuk duduk di satu kursi yang sama. Mereka bisa melihat pemandangan orang-orang yang sedang berpesta dari situ.

Lalu selanjutnya apa?

Pikir Bagas setelah mereka cukup lama duduk di situ. Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, dan juga tanpa ada niat untuk berinteraksi. Mereka sedari tadi terus saja diam.

Merasa aneh dengan suasana itu, Bagas melirik ke arah Erina yang duduk di sebelah kanan.

Hal yang cukup aneh dilakukan Erina saat mereka hanya berdua di situ, sedangkan para warga mengerumuni api unggun dengan bersenda gurau. Menundukkan kepalanya saat wajahnya terlihat memerah, sepasang tangan dan kakinya dimain-mainkan saat dia merasakan gugup.

Hampir 10 menit saat mereka masih dalam kondisi yang sama. Dan Bagas tahu kalau mereka juga tak ada harapan untuk terus berada dalam kondisi seperti itu. Hanya melihat Erina yang seperti itu saja, sudah membuatnya ingin pergi tanpa ingin mengatakan apapun.

Tetapi Erina pasti akan menghentikanya dan kondisi yang sama akan terjadi—lagi.

“Hei.”

“Y-ya, apa kamu butuh sesuatu, minuman atau makanan mungkin. Mereka menyediakannya di sana, jadi aku bisa mengambilnya untuk kita berdua.”

Dengan cepat dan tanpa henti Erina mengatakan hal itu.

Lalu Bagas seperti melihat sebercak harapan—harapan agar dia bisa terlepas dari kondisi itu.

“Baik, bisa pergi dan ambil minuman. Aku merasa sedikit haus.”

“M-minuman ya! Baik, akan kuambilkan!”

Tanpa mengatakan apapun lagi, Erina segera berlari ke arah kerumunan warga desa. Dengan maksud untuk mengambilkan minuman untuk mereka berdua.

Tak ingin kehilangan kesempatan untuk pergi. Bagas langsung bangkit dari kondisi di mana dia tak bisa berpikir jernih karena sesuatu yang tak dapat dia duga.

Langkah kakinya sedikit dipercepat karena dia tak ingin kejadian di mana Erina meneriakinya terulang.

Walaupun cukup santai, dia berhasil untuk memperjauh jarak jangkauan yang mungkin bisa di ambil oleh Erina.

Dan saat dia sudah cukup jauh, langkah kakinya terhenti, menatap ke langit dan membiarkan rambut yang cukup panjang menyapu wajahnya.

“Kenapa.. aku bisa tak seberdaya itu dibuatnya...?”


***


Tak butuh waktu lama, Erina kembali dari mengambil minuman dan berlari ke tempat duduk di mana Bagas seharusnya menunggu. Tapi dia tak ada di situ, Bagas yang seharusnya menunggu untuk minuman malah menghilang.

Erina memutar kepala dan tubuhnya untuk mencari sosok Bagas yang sesaat lalu masih ada di tempat duduk. Tanpa ada hasil walaupun dia sudah melakukan itu beberapa kali, membuat perasaan kecewa dan sedih mendatanginya.

Akan tetapi, hal itu malah membuatnya sedikit kesal dan dia bermaksud untuk terus mengejar Bagas.