Episode 79 - Putih dan Putih


Pepohonan besar-besar menjulang tinggi seperti hendak menggapai langit. Saking besarnya ukuran pepohonan, maka diperlukan setidaknya dua puluh orang dewasa yang bergandengan tangan untuk dapat mengelilingi setiap satu pohon. Tinggi pepohonan pun tak tanggung-tanggung, dibutuhkan ratusan orang yang bergendongan untuk pencapai pucuk teratas.

Tidak hanya satu, namun ada ratusan bahkan mungkin ribuan pepohonan raksasa yang terbentang luas. Ya, raksasa. Lebar dedaunannya saja bisa seukuran tubuh manusia. Di permukaan tanah, akar-akarnya berjumpalitan, bertumpang-tindih, dan berlomba-lomba mencari gizi dari dalam tanah.

Seekor Binatang siluman terlihat sedang bersiap. Ukuran tubuhnya mirip seekor kambing. Cokelat muda adalah warna rambut di sekujur tubuhnya. Di bagian bawah leher, terlihat garis-garis rambut keperakan. Motif serupa juga terlihat di kedua sisi luar kaki belakangnya.

“Tirai Putih!” seru Sang Kancil.

Pupil di kedua bola mata binatang siluman Kasta Perak itu tetiba berubah berwarna putih. Kemudian, sekujur tubuhnya pun menyibak warna putih. Bukan cahaya, tapi warna putih. Demikian putih, selayaknya jalinan kapas yang baru merekah dan siap dipanen.

Perlahan, di depan Sang Kancil terbuka sebuah terowongan selayaknya gerbang dimensi. Walau, gerbang dimensi ini sangat berbeda dengan yang biasanya. Sebagaimana diketahui umum, gerbang dimensi merupakan terowongan gelap berwarna hitam dengan sedikit kilatan listrik di beberapa bagian. Akan tetapi, gerbang dimensi yang dibuka oleh binatang siluman tersebut berwarna… putih!

“Hei, Balaputera! Apa yang kau lamunkan!?” sergah Sang Kancil ke arah teman seperjalanannya.

Balaputera sedari tadi menatap kosong ke arah barat. Dahinya berkerut. Apakah benar ia melamun, ataukah mungkin sedang berpikir keras? Apa pun itu, suara melengking Sang Kancil menyadarkannya untuk kembali fokus pada sesuatu yang sedang mereka kerjakan.

“Apakah kau merindukan kampung halamanmu…?” ujar Si Kancil yang terlihat demikian putih dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Hm….”

“Bila tak ada kendala berarti, maka kewajibanmu di Pulau Belantara Pusat akan berlangsung cepat…,” sambung Sang Kancil sambil melangkah ke dalam gerbang dimensi berwarna putih itu.

Balaputera masih terdiam. Ia pun berjalan perlahan ke arah gerbang dimensi, lalu melompat cepat ke dalam, menyusul Sang Kancil.


***


“Segera kerahkan seluruh pasukan!” seru Gubernur Pulau Dua Pongah ketika mendengar bahwa anak gadisnya menghilang.

“Baik, Yang Mulia Gubernur.”

“Apa yang terjadi dengan para pengawalnya!?” sergah sang Gubernur.

“Bunglon Malam masih tak sadarkan diri. Merpati Lonjak terluka parah, juga belum sadarkan diri. Sedangkan Monyet Centil turut menghilang.”

“Ck…,” sang Gubernur hanya mendecakkan lidah. Sejak mendapati ada yang menerobos Segel Benteng Bening, ia telah berfirasat buruk.

Tikus Awan melangkah pincang ke arah ruang singasana Gubernur Pulau Dua Pongah. Sepanjang perjalanan ia menyaksikan kesibukan para pejabat istana. Mereka berlari hilir-mudik. Panik.

“Ampun beribu ampun, Yang Mulia Gubernur Pulau Dua Pongah,” ujar Tikus Awan bersembah sujud.

“Tak perlu berbasa-basi! Segera sebutkan ciri-ciri penyusup yang kau temui beberapa waktu lalu!”

“Kita lengah… Tak disangka masih ada pengawal lain!”

“Sialan!” hardik seorang pria berbaju gelap sampil meninju perut seorang gadis muda yang terikat di sebatang pohon.

Monyet Centil pun memuntahkan darah. Wajahnya sudah tak karuan. Oleh lima orang yang menyekap, semalaman ia disiksa untuk memberi tahu ke arah mana lari dan tempat persembunyian Lampir Marapi. Sedangkan kelima orang lainnya, mereka mendapat tugas melakukan pengejaran.

Sepertinya ada beberapa pihak yang kali ini berniat menculik Nona Lampir, batin Monyet Centil. Meski menderita, benaknya masih cukup sadar dalam berpikir. Semalam ia sempat menyaksikan putri dari Gubernur Pulau Lima Dendam dibawa lari oleh seorang anak remaja yang juga menyusup ke pulau. Bersama pengawal lain, ia mengira bahwa anak remaja tersebut meregang nyawa ketika jatuh ke jurang.

“Kami terkecoh…. Remaja yang membawa lari sasaran kita sepertinya memiliki kemampuan Reka Tubuh,” tetiba terdengar suara menyapa, yang disusul derap langkah beberapa orang. Rupanya kelima orang yang mengejar telah kembali dengan tangan kosong.

Remaja itu bukan bagian dari kelompok mereka…, batin Monyet Centil. Bahkan, mereka mengira dia bagian dari regu pengawal. Meski dalam keadaan terluka dan lemah, Monyet Centil terus menyimak pembicaraan para penyekapnya. Sepuluh orang jumlah mereka, mengenakan penutup wajah dan berpakaian serba gelap.

“Nyawa kita menjadi taruhan bila tak membawa pulang si Perawan Putih itu…,” terdengar suara menyela.

Perawan Putih! Siapakah gerangan orang-orang ini!? Mereka mengetahui jati diri Nona Lampir! Bahkan di Pulau Dua Pongah, hanya beberapa orang saja yang mengetahui akan perihal ini! Monyet Centil yang masih terikat di pohon spontan meronta.

“Bug!” Sebuah tinju menghantam rahang Monyet Centil. Beberapa buah giginya terlepas dari gusi. Darah mengucur deras dari mulutnya.

“Tawanan ini enggan membuka mulut!”

“Kalian terlalu kasar,” ujar salah seorang yang baru saja kembali. Ia pun mendekati Monyet Centil, dan melepaskan ikatan dari pohon.

“Srek!” Lelaki itu lalu melucuti pakaian gadis yang tak berdaya itu. Meski wajahnya tak karuan, tubuh Monyet Centil hampir tak tersentuh.

“Aku akan memberikan kenikmatan sampai ia hendak memberi tahu dengan suka rela…,” ujarnya sambil memapah Monyet Centil ke arah semak-semak.

“Kita tak memiliki waktu untuk kau berbuat biadab!” terdengar suara seorang perempuan menyergah. Rupanya, sepuluh orang berpakaian serba tertutup itu tak hanya terdiri dari laki-laki.

“Oh… kau juga hendak ikut serta?” ujar lelaki tersebut dengan nada mengejek.

“Jleb!” sebuah belati menusuk dada Monyet Centil, tepat di antara sepasang payudara lembut yang begitu menggoda. Seketika itu juga gadis tersebut tak lagi bernapas.

“Kau…!”

“Kau hanya akan membuang-buang waktu. Lagipula, ia telah mendengar terlalu banyak,” ujar perempuan yang menusuk Monyet Centil dingin.

“Hentikan pertengkaran kalian! Kita memiliki tugas yang lebih utama,” sergah satu di antara mereka. Sedari tadi, ia berpikir keras mencari jalan keluar.

“Segera berpencar dalam pasangan. Sepasang berjaga di kota. Sisanya menyisir hutan…”

“Bilamana ada yang menemukan mereka, segera aktifkan lencana kalian agar yang lain dapat segera datang dan memberikan dukungan,” tambah suara lain lagi mengingatkan.

“Aku bersedia mengantarkanmu ke ibukota,” Bintang Tenggara berhenti sejenak. “Akan tetapi, ada satu syarat yang harus kau penuhi,” ujar Bintang Tenggara bersunguh-sungguh.

“Apakah gerangan yang Kakak kehendaki…,” tetiba nada bicara Lampir Marapi terdengar gelisah.

“Aku kehilangan lencana Partai Iblis,” Bintang Tenggara berbohong. “Oleh karena itu, sebagai anak pejabat, harusnya kau bisa mengakali agar aku dapat menggunakan gerbang dimensi menuju Dunia Luar.”

“Pergi ke dunia luar…?” Lampir Marapi terlihat lega. “Baiklah,” ujarnya sambil mengamati lawan bicaranya. Memang tak sedikit generasi muda di Partai Iblis yang tak sabar ingin menjelajah ke dunia luar.

Bintang Tenggara hanya mengangguk dan meneruskan langkah.

“Bila diperkenankan, bolehkah diriku mengetahui nama Kakak Penyelamat?”

“Namaku…? Hm… Kau boleh memanggil aku… Gemintang!” ujar Bintang Tenggara. Entah dari mana ia dapatkan gagasan akan nama tersebut. Yang jelas, sementara ini sebaiknya menyembunyikan jati diri saja dulu.

“Gemintang…? sepertinya diriku pernah mendengar nama itu….”

“Hm…” Bintang Tenggara acuh tak acuh.

“Kalau tak salah terkait sebuah legenda…,” sambung Lampir Marapi berupaya mengingat-ingat. Langkah kakinya melambat sejenak.

Keduanya kini menyusuri bantaran sungai. Semalaman Bintang Tenggara dan Lampir Marapi terus melangkah. Berdasarkan kesepakatan bersama, diputuskan bahwa untuk sementara waktu mereka tidak kembali ke kota terlebih dahulu. Karena, bisa saja masih ada para penculik yang kemungkinan hendak menyergap Lampir Marapi.

Secara kebetulan pula, Bintang Tenggara memiliki tempat untuk bernaung yang ideal di balik sebuah tebing. Jadi, ke sanalah tujuan langkah kaki mereka. Bintang Tenggara juga setengah berharap akan ada regu penyelamat yang akan datang menyelamatkan gadis tersebut.

“Mengapa mereka hendak menyergapmu?” tanya Bintang Tenggara ke teman seperjalanannya yang baru itu. Ini adalah kali pertama ia berinisiatif membuka percakapan.

Lampir Marapi hanya diam. Sepertinya ia tak hendak membahas lebih lanjut. Ada rahasia yang tak mungkin ia sampaikan kepada orang yang baru saja ia kenal. Meski, ia tak tahu mengapa, ada semacam kedekatan rasa percaya yang tak ia ketahui berasal dari mana.

“Kitab apakah yang tadi kau gunakan?” ujar Bintang Tenggara menyadari bahwa pertanyaannya sebelum ini tak mendapat jawaban.

Lampir Marapi hanya menoleh. Sebagai penghuni Pulau Dua Pongah, lawan bicaranya selalu menggunakan kata ‘kau’ dalam menyapa. Sungguh di luar kebiasaan. Semua orang yang ia kenal, kecuali kerabat keluarga, selalu menyapa dengan hormat menggunakan sebutan ‘Nona’. Apakah anak remaja tersebut sebenarnya bukan berasal dari Pulau Dua Pongah. Lampir Marapi mulai curiga.

“Pernahkah Kakak Gemintang mendengar tentang Tujuh Senjata Pusaka Baginda?”

“Tujuh Senjata Pusaka Baginda merupakan senjata yang dimiliki oleh Sembilan Jenderal Bhayangkara,” jawab Bintang Tenggara ringan. Benaknya kemudian mengingat Dayung Penakluk Samudera dan Selendang Batik Kahyangan. Ia pun secara naluriah menebar mata hati ke mustika tenaga dalam retak milik Komodo Nagaradja. Belum ada tanda-tanda bahwa kesadaran Super Guru tersebut telah kembali.

“Oh!” Lampir Marapi tak menyembunyikan keterkejutannya. Tak banyak ahli yang mengetahui bahwasanya Tujuh Senjata Pusaka Baginda merupakan senjata dari Sembilan Jenderal Bhayangkara. Sebaliknya, pengetahuan yang dimiliki khalayak umum adalah bahwa Tujuh Senjata Pusaka Baginda merupakan senjata-senjata yang digunakan oleh Sang Maha Patih saat Perang Jagat. Kecurigaan Lampir Marapi semakin mendalam.

“Kitab Kosong Melompong ini adalah salah salah satu dari Tujuh Senjata Pusaka Baginda,” ujarnya mengabaikan kecurigaan di hati.

“Bagaimanakah cara kerjanya?” lanjut Bintang Tenggara tak menyembunyikan rasa ingin tahu.

Lampir Marapi mengeluarkan Kitab Kosong Melompong dari cincin Batu Biduri Dimensi. Ia pun membuka kitab besar itu dan membolak balik halaman. Beberapa halaman terlihat kosong.

“Halaman-halaman Kitab Kosong Melompong adalah sesuai namanya, yaitu kitab yang kosong tak terisi. Akan tetapi, setiap halaman dapat menampung berbagai benda mirip Batu Biduri Dimensi, serta menampung binatang siluman mirip Kartu Satwa,” terang Lampir Marapi.

“Namun, yang lebih penting lagi, ia juga dapat menampung kesaktian dan keterampilan khusus.” Lampir Marapi menunjukkan halaman dimana puluhan peluru unsur api terlihat dipermukaan halaman. Di halaman lain, terlihat pula beberapa buah formasi segel kerangkeng berbentuk persegi panjang.

Bintang Tenggara segera menyadari bahwa peluru-peluru tersebut adalah milik Merpati Lonjak, sedangkan formasi segel kerangkeng merupakan milik Tikus Awan. Ia juga langsung dapat menyimpulkan betapa istimewanya Kitab Kosong Melompong. Dengan kemampuan kitab tersebut, seorang ahli yang tak memiliki kesaktian unsur api atau keterampilan khusus segel, dapat mengerahkan jurus keduanya dengan mudah. Syaratnya, kesaktian dan keterampilan khusus harus disimpan terlebih dahulu di halaman-halaman kitab. Kitab Kosong Melompong, sungguh layak menjadi salah satu dari Tujuh Senjata Pusaka Baginda, pikirnya.

“Akan tetapi, saat ini diriku hanya mampu membuka enam halaman saja,” tambah Lampir Marapi.

Tak terasa malam semakin larut dan keduanya telah sampai di sisi tebing. Bintang Tenggara melompat tinggi dan membuka gua yang tak sengaja ia temukan beberapa hari yang lalu. Lampir Marapi menyusul masuk ke dalam.

“Diriku tak pernah mengetahui ada tempat seperti ini,” ujar Lampir Marapi terkesima. Suaranya demikian lembut, seolah dapat melelehkan tebing batu yang keras.

“Aku tak sengaja menemukannya,” ujar Bintang Tenggara. Ia pun segera menyalakan batu-batu kuarsa sebagai penerang ruangan.

Lampir Marapi duduk perlahan di atas dipan kayu. Ia mengamati seluruh isi ruangan. Kedua matanya yang jernih jega menemukan beberapa buah kotak kayu di salah satu sudut.

“Kita akan beristirahat di sini sampai esok pagi,” ujar Bintang Tenggara.

Jauh di udara di atas tebing, tanpa mereka sadari, sesosok manusia terbang dengan kecepatan tinggi ke arah kota. Sosok itu menebar mata hati mencari-cari seseorang. Ia kemudian berhenti sejenak ketika menangkap beberapa pasang mustika tenaga dalam bergerak di dalam hutan. Satu Kasta Perak dan tujuh Kasta Perunggu. Namun, ia abaikan saja karena bukanlah aura mereka yang sedang ia telusuri.

Wajah Gubernur Pulau Dua Pongah terlihat sangat gusar. Bagaimana tidak, putri semata wayangnya diserang. Begitu mendengar tentang putrinya yang menghilang, ia segera memberi perintah pencarian. Namun tindakan tersebut tak dirasa memadai. Ia sendiri terbang melesat dari ibukota dengan niat hendak menelusuri sendiri.

Yang tak Gubernur Pulau Dua Pongah sadari bahwasanya ia telah melintas tepat di atas posisi putrinya yang bersembunyi di sebuah ruangan di balik tebing batu. Umumnya, sebuah tebing batu seharusnya tak akan mampu menghalangi pantauan mata hati seorang ahli Kasta Emas. Namun, demikianlah yang terjadi. Ia tak bisa merasakan aura putrinya dari balik tebing itu.

Benak sang Gubernur lalu mengingat tentang penyusup yang diketahui dapat menyembunyikan diri dari pantauan mata hati. Mungkinkah penyusup tersebut telah menawan putrinya? Semakin gusar, ia pun melanjutkan terbang menuju kota. Ia hendak bertemu langsung dengan Merpati Lonjak dan Bunglon Malam. Begitu mereka tersadar, ia hendak menginterogasi langsung.

“Hah!” tetiba Lampir Marapi terkejut.

“Ada apa?" ujar Bintang Tenggara yang sedang mengeluarkan perbekalan yang sempat ia beli di kota. Malam sudah larut, sedangkan ia belum sempat mengisi perut.

“Salah satu cincin Batu Biduri Dimensi milikku tertinggal di sungai saat membasuh tubuh,” ujar gadis tersebut gelisah.

Bintang Tenggara menghela napas panjang. Bukanlah hal mendesak, pikirnya dalam hati. Ia pun mulai menyantap hidangan makan malam seadanya.

“Kita harus segera kembali ke sungai. Aku meletakkan cincin itu di atas sebuah batu besar…,” ujar Lampir Marapi semakin gelisah. Ia pun segera berdiri dan hendak melangkah keluar. Akan tetapi, ia tak mengetahui cara membuka pintu batu di hadapannya.

“Apakah yang demikian penting sehingga engkau rela menempuh bahaya?” ujar Bintang Tenggara.

“Di dalam cincin itu tersimpan banyak pakaian, sepatu, serta tas kesayanganku. Bahkan ada beberapa pakaian yang sedang populer dan baru aku beli,” rintihnya semakin gelisah. Meski demikian, raut wajahnya justru semakin anggun.

Bintang Tenggara terpana. Mulutnya berhenti mengunyah makanan. Bukan…. Kali ini ia terpana bukan karena keanggunan wajah Lampir Marapi. Ia terpana karena alasan yang menurutnya sangatlah tak penting.

“Kumohon… Kumohon Kakak Gemintang bersedia membukakan pintu batu ini.”

Gemintang alias Bintang Tenggara masih enggan percaya akan kehendak Lampir Marapi untuk menempuh bahaya hanya karena alasan sepele. “Aku akan membelikan barang-barang baru untukmu setibanya di ibukota nanti.”

“Di antara pakaian, tas dan sepatu itu banyak yang sudah tak lagi tersedia di pasar mana pun…,” Lampir Marapi semakin gelisah.

Bintang Tenggara hanya menatap dalam diam.

“Bila Kakak Gemintang tak membukakan pintu ini, maka aku menolak memintakan ijin penggunaan gerbang dimensi menuju Dunia Luar,” ujar Lampir Marapi terlihat kesal.

“Apa yang kau pikirkan!?” Bintang Tenggara tetiba kesal karena Lampir Marapi tak berpikir rasional dan tak hendak menepati janji. “Jangan manja! Tidakkah kau tahu bahaya yang mengancam di luar sana!”

“Kitab Kosong Melompong!” seru Lampir Marapi mengeluarkan Senjata Pusaka Baginda miliknya. Sorot matanya tajam, bibirnya mengerucut. Ia siap bertarung!

Rahang Bintang Tenggara menganga sedemikan lebar sampai seolah hendak menyentuh dadanya. Bertarung tanpa alasan adalah sesuatu yang paling tak suka ia lakukan. Bertarung dengan alasan tak jelas lebih-lebih lagi sangat ia benci.

“Bum!” Lampir Marapi mengeluarkan peluru-peluru unsur api milik Merpati Lonjak dan melempar ke arah lawannya!

Bintang Tenggara menghindar ke samping. Akan tetapi, sebuah formasi segel berbentuk persegi panjang lalu menjerat tubuhnya.

“Aku tak hendak melukai Kakak Gemintang… Mohon segera membukakan pintu ini…,” ujar Lampir Marapi ke arah tawanannya.

“Swush!” Bintang Tenggara segera membuka dan melompat keluar dari formasi segel yang ia ketahui milik Tikus Awan.

“Tenanglah sejenak!” seru Bintang Tenggara. “Aku akan pergi mengambilkan cincin milikmu itu…”

“Benarkah?” Lampir Marapi setengah tak percaya.

“Benar. Esok pagi…”

“Tidak!” Lampir Marapi segera meraih beberapa butir peluru lagi.

“Baiklah! Aku akan pergi sekarang! Kau tunggu di sini!” teriak Bintang Tenggara benar-benar kesal.

Bintang Tenggara menyadari bahwa akan lebih mudah bila dirinya yang pergi keluar dan mengambil cincin itu seorang diri. Berdua hanya akan memperlambat gerak. Membiarkan gadis itu pergi sendiri maka akan membuka risiko tertangkap oleh siapa pun itu pengejarnya. Saat ini, Lampir Marapi adalah satu-satunya harapan untuk meninggalkan Pulau Dua Pongah.



Cuap-cuap:

Sungguh liburan yang menyegarkan. Menulis dan ditemani secangkir kopi. :D