Episode 78 - Lampir Marapi


Bintang Tenggara sedang duduk di atas sebilah tombak panjang. Kedua kakinya bergelayutan. Ia tak baik-baik saja. Siapa yang menyangka bahwa di balik semak belukar yang ia tuju untuk melarikan diri, malah terdapat jurang terjal nan dalam. Akan tetapi, ia sengaja membiarkan dirinya yang terluka terjatuh. Setelah melempar beberapa Segel Penempatan, ia lalu menancapkan Tempuling Raja Naga ke sisi jurang.

Jurang tanpa dasar, pikir Bintang Tenggara memantau dalamnya warna hitam di bawah sana. Ia belum sepenuhnya yakin untuk memanjat ke atas. Bisa saja ketiga ahli pemburu masih menunggu. Ya, pastinya tiga ahli. Pertama Merpati Lonjak yang menyerang dari udara; lalu Bunglon Malam yang sesuai namanya dapat menyembunyikan diri, bahkan aura tenaga dalam; serta seorang pawang binatang siluman yang mengomandoi puluhan monyet beringas!

Kurang beruntung, simpul Bintang Tenggara. Andai saja kedua temannya tidak muncul, maka dirinya sedikit lagi dapat mengecoh Merpati Lonjak yang sudah hampir kehabisan tenaga dalam. Andai saja berhasil, maka saat ini pastilah ia sedang melenggang menuju kota terdekat. Akan tetapi, masih tersisa seberkas peruntungan karena ketiga ahli itu tak menyusul ke bawah jurang ini.

Menahan nyeri di bahu, Bintang Tenggara lalu bergerak perlahan ke sisi jurang. Bebatuan keras. Ia lalu melempar beberapa Segel Penempatan lagi, mencari tempat berpijak dan memeriksa cedera di bahu kirinya.

Beberapa waktu kemudian, ia menemukan sebongkah batu yang menjorok keluar. Setelah memeriksa kekuatan batu, ia pun duduk beristirahat. Rasa perih di bagian bahu kembali terasa berdenyut. Ia menyandarkan tubuh…

“Brak!” Sisi tebing jurang dimana pundaknya hendak bertumpu pecah! Bintang Tenggara terjatuh berguling-guling ke dalam sebuah lubang yang dalam. Kepalanya terhantuk batu… dan ia pun tak sadarkan diri.

“Sejauh ini belum ada hambatan berarti,” ujar salah satu dari sepuluh orang berpakaian serba gelap yang lebih dari sepekan lalu menyusup ke dalam wilayah Pulau Dua Pongah. Akan tetapi, kini mereka hanya berdelapan.

“Tetaplah waspada!” sergah seorang dari mereka.

Saat ini mereka sedang beristirahat di balik tirai malam. Tak ada api unggun yang menyala. Hanya kegelapan tak berujung.

“Istana Gubernur Pulau Dua Pongah sudah di depan mata, apalagi yang kita tunggu…?”

“Kita tak bisa bertindak gegabah. Walau, aku pun tak merasa nyaman berada di pulau keramat ini…”

“Tugas adalah tugas. Harus dilaksanakan… tak penting apakah kau nyaman atau tidak.”

“Sudah, hentikan diskusi kosong kalian! Beristirahatlah selagi ada waktu!”

Tetiba terdengar suara jejak-jejak langkah. Dalam suasana dingin, terlihat uap napas terengah.

“Lapor, Ketua. Sasaran sedang tidak berada di ibukota.”

“Cih… kemana gerangan perginya dia?”

Lebih dari sehari semalam berlalu. Bintang Tenggara akhirnya tersadar. Padahal kepalanya hanyalah terbentur ringan. Yang membuatnya tak sadarkan diri kemungkinan adalah rasa lelah dan kurangnya istirahat. Bagaimana tidak, berhari-hari ia berlari. Meski dapat mengisi tenaga dalam, yang lebih lelah adalah kondisi mentalnya, bukan tubuh.

Bintang Tenggara mengeluarkan batu kuarsa dari dalam tas punggung, lalu mengirimkan sedikit tenaga dalam. Seluruh penjuru arah perlahan menerima penerangan temaram. Ia mendapati sebuah ruang yang demikian luas. Kedua matanya lalu mendapati beberapa potong kayu besar, sebuah dipan dari kayu, sebuah tungku dan beberapa alat-alat rumah tangga. Terdapat pula beberapa buah peti kayu yang terlihat amat tua di satu sudut.

Kedua mata Bintang Tenggara lalu menangkap beberapa bongkah batu kuarsa yang tergeletak di salah satu sudut ruang. Segera ia raih dan alirkan tenaga dalam. Ruangan yang tadinya tamaram mendapat tambahan sinar dan semakin jelas terlihat.

Ada yang pernah menetap di tempat ini, pikir Bintang Tenggara. Ia berjalan mengelilingi ruang, memastikan bahwa lubang tempatnya terperosok masih dapat dimanfaatkan untuk keluar. Mungkinkan ini sebenarnya lubang angin? Setidaknya, ia tak terperangkap di ruangan ini.

Di salah satu sisi ruang, Bintang Tenggara lalu menyadari ada perbedaan yang kentara. Samar-samar, ia juga merasakan semacam formasi segel. Perlahan ia menyentuh sisi dinding tersebut dan mulai mengutak-atik segel yang terkesan sudah sangat tua sekali.

“Brak!” tetiba sisi dinding tersebut terbuka dengan sendirinya. Sinar matahari pagi menerpa masuk menyilaukan mata, namun terasa hangat membelai sekujur tubuh. Rupanya ini adalah pintu!

Bintang Tenggara melongok ke luar. Ia berada di sisi lain jurang semalam. Kali ini sebuah tebing yang terlindung berkat pepohonan lebat. Hamparan hutan rimba lalu terlihat membentang luas. Aliran sungai berkelok-kelok membelah hamparan pepohonan. Di kejauhan, terlihat sebuah kota. Segera ia membolak-balik buku Bunga Rampai Partai Iblis, dan mendapati bahwa itu adalah kota yang ia tuju!

Kediaman siapakah ini? Bintang Tenggara kembali ke dalam ruangan. Ia mengeluarkan sisa bekal makanan yang dibeli di pasar tempo hari. Masih cukup baik untuk disantap. Kemudian, ia memutuskan untuk beristirahat dan memulihkan tubuh.

Berkat sinar matahari yang menerpa masuk, di salah satu sudut ruangan terlihat tiga buah kotak kayu. Dua di antaranya dilindungi oleh formasi segel yang teramat rumit. Setelah menghabiskan waktu beberapa jam untuk membuka, akhirnya Bintang Tenggara menyerah. Kotak kayu ketiga cukup ramah. Di dalamnya ia menemukan sebuah buku catatan nan lusuh.

Kalau sampai waktuku. ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu. Tidak juga kau. Tak perlu sedu sedan itu.

Aku ini binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang.

Biar peluru menembus kulitku. Aku tetap meradang menerjang. Luka dan bisa kubawa berlari.

Berlari. Hingga hilang pedih peri.

Dan aku akan lebih tidak perduli. Aku mau hidup seribu tahun lagi.*

Hm? Binatang? Seribu tahun? Mungkinkah tempat ini kediaman siluman sempurna? batin Bintang Tenggara. Ia teringat akan goa milik Komodo Nagaradja. Walau, gurunya yang sedang tak sadarkan diri itu tak mungkin menulis sebuah jurnal harian.

Bintang Tenggara pun menghentikan kegiatan membaca. Sungguh kurang nyaman rasanya membaca jurnal harian yang bukan miliknya.

Dua hari berlalu cepat. Bintang Tenggara merasakan tubuhnya pulih. Ia kembalikan jurnal harian tanpa nama, milik sang siluman sempurna pemilik ruangan tempat ia bernaung, ke dalam kotak. Hari ini adalah saatnya menuju ke kota itu.

Bintang Tenggara berjalan perlahan, cukup waspada dengan keadaan sekeliling. Diperlukan waktu sekitar delapan jam untuk tiba di kota. Dari waktu ke waktu, ia berpapasan dengan beberapa orang ahli. Berpura-pura layaknya warga setempat, ia pun berlagak normal. Tak ada yang mencurigai.

Kota itu sangatlah besar. Tak kalah besarnya dengan Kota Taman Selatan di pulau Dewa. Anehnya, baik di pasar maupun di kota ini, kehidupan warganya normal-normal saja, selayaknya dapat ditemukan di berbagai kota di Negeri Dua Samudera. Keadaan ini menepis bayangan tentang Partai Iblis yang dikenal angker oleh banyak ahli. Benarkah Partai Iblis seperti yang digambarkan oleh mayoritas ahli di Negeri Dua Samudera?

Di satu wilayah kota, Bintang Tenggara menemukan lokasi gerbang dimensi. Sejumlah ahli terlihat mengantri untuk memanfaatkan gerbang tersebut. Mereka diwajibkan menunjukkan sebuah lencana yang memuat jati diri, semacam kartu tanda pengenal.

“Nenek ahli, bilamana aku kehilangan lencana Partai Iblis, apakah aku diperkenankan menggunakan gerbang dimensi?” tanya Bintang Tenggara kepada seorang perempuan tua penjaga gerai makanan. Ia pun memanfaatkan kesempatan membeli sejumlah bekal makanan.

“Sepertinya kau berasal dari desa…,” ujar perempuan tua itu. “Tentu kau tak bisa menggunakan gerbang dimensi tanpa jati diri yang jelas.”

Tubuh Bintang Tenggara lemas. Tanpa gerbang dimensi itu, setidaknya memerlukan waktu sepekan untuk berlari ke ibukota Pulau Dua Pongah. Iya, berlari… demikian dijelaskan dalam buku Bunga Rampai Partai Iblis.

“Akan tetapi, esok pagi engkau bisa menyewa binatang siluman terbang. Itu pun bila engkau memiliki cukup keping-keping perak,” sambung perempuan tua itu melihat wajah anak remaja yang berubah gelisah.

Malam hari tiba. Bintang Tenggara menyisir kota untuk mencari penginapan. Tanpa sadar, kedua kakinya melangkah ke salah satu sudut kota. Di kejauhan, terlihat sebuah kereta kuda bergerak lambat. Baru ia tersadar bahwa langkah kaki justru membawa dirinya ke luar dari batas kota.

Di saat hendak memutar arah, kedua mata Bintang Tenggara menangkap empat atau lima bayangan hitam menerkam ke arah kereta kuda itu. Apakah ia akan menjadi saksi mata tindakan perampokan?

“Brak!”

Sesosok tubuh diterjang dan melayang menghantam pohon di sebelah posisi berdiri Bintang Tenggara! Tanpa sengaja, ia segera menoleh ke arah tubuh tersebut. Perawakannya seperti tak asing. Oh, bukankan itu… Bunglon Malam!?

Spontan Bintang Tenggara menoleh ke arah kereta kuda. Puluhan ekor monyet sedang berhadapan dengan bayangan-banyangan hitam. Sungguh malang, satu persatu monyet beringas tersebut ditebas oleh lawan yang lebih lincah. Bercak darah berhamburan ke segala penjuru, aroma amis pun mulai menyibak tajam.

“Nona! Segera lari ke arah kota!” terdengar suara seorang gadis berseru.

Pintu kereta kuda terbuka. Seorang gadis muda yang mengenakan pakaian bertahta keemasan melompat keluar. Menyelempang di bahunya adalah seutas kain dengan bordir berwarna-warni. Ia mengenakan semacam tutup kepala berbentuk segitiga terbalik, sehingga terlihat seperti sepasang tanduk kerbau.

Beberapa ekor monyet mengikuti di belakang gadis itu. Dua bayangan hitam lain lalu terlihat melesat dari balik pepohonan. Rupanya, masih ada anggota yang lain yang mengamati dan menanti saat yang tepat. Mereka membabat monyet-monyet yang hendak melindungi gadis itu.

“Bum! Bum! Bum!”

Tetiba terdengar beberapa ledakan menghantam bayangan hitam yang sedikit lagi menggapai si gadis. Di udara, seorang remaja terlihat terbang berbekal rompi yang bersayap. Ia memegang katapel dan menembakkan peluru-peluru yang diimbuh unsur api tepat ke bayangan-bayangan hitam. Merpati Lonjak!

Sudut mata Bintang Tenggara lalu menangkap bayangan hitam lain di balik pepohonan membidikkan anak panah! Beberapa detik kemudian, Merpati Lonjak terlihat oleng, salah satu sayapnya terkena tembakan panah. Satu lagi anak panah melesat dan menancap di pundak kanannya. Merpati Lonjak ibarat layang-layang yang limbung akibat benangnya putus… ia pun terjatuh di pepohonan.

Gadis yang berpakaian mewah kini bersimbah darah dari monyet-monyet yang berupaya melindungi. Ia terus berlari ke arah gerbang kota. Dengan kata lain, ia berlari tepat ke arah Bintang Tenggara…

Bintang Tenggara sedari tadi telah menepi ke balik pepohonan. Ia tak hendak ikut campur urusan orang lain. Apalagi, mereka berasal dari kelompok yang berusaha sekuat tenaga memburu dirinya.

Gadis tersebut terus berlari. Wajahnya cemas. Ia melintas di depan Bintang Tenggara yang bersembunyi. Akan tetapi, kecemasan tak bisa menghapus kecantikan wajahnya. Sepanjang hidup Bintang Tenggara, baru kali ini ia menyaksikan wajah yang demikian anggun. Embun Kahyangan adalah ayu, Canting Emas menawan, Kuau Kakimeran jelita… Akan tetapi, gadis itu sungguh, sungguh anggun tiada tara!

Sudut mata Bintang Tenggara lalu menangkap dua orang keluar dari arah gerbang kota. Sepintas terlihat seperti warga biasa… Akan tetapi, tetiba keduanya bergerak menghadang si gadis. Ia terkepung. Lima orang dari belakang dan dua orang dari depan. Langkah lari si gadis terhenti. Sebentar lagi ia akan menjadi korban penculikan!

Salah seorang dari pengejar di depan terlihat mengeluarkan sebuah cangkang siput berukuran besar. Beberapa yang lain menghunuskan pedang, belati dan tombak.

Bintang Tenggara menyesal. Ia menyesal telah melangkah tanpa arah karena kurang fokus sehingga berpapasan dengan situasi ini. Sungguh ia tak hendak ikut campur. Ia hanya ingin tiba secepat mungkin di ibukota Pulau Dua Pongah, menyelinap ke gerbang dimensi, lalu kembali ke Negeri Dua Samudera. Di mana pun itu, asal tiba di dalam wilayah Negeri Dua Samudera, maka dipastikan bahwa ia akan dapat dengan mudah kembali ke Perguruan Gunung Agung.

Si gadis anggun lalu terlihat mengeluarkan sebuah buku, atau lebih tepatnya… kitab besar. Apa yang hendak ia lakukan dalam keadaan terjepit!? Membaca!? Bahkan aku tak berani membaca di saat dikepung musuh. Pemandangan ini mengingatkan pada perasaan saat dirinya hampir diculik. Bintang Tenggara menggeretakkan gigi…

Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!

Bintang menghantam ke arah tanah di antara enam orang pengejar di bagian belakang si gadis. Tinju kecepatan supersonik menghasilkan gelombang kejut yang demikian perkasa, menghasilkan kawah di tanah dan melontarkan lawan yang terkejut karena kehadiran seorang anak remaja dari balik semak-semak. Akan tetapi… tak terdengar suara dentuman memekak telinga selayaknya ciri khas maha jurus silat ini!

Sudut mata Bintang Tenggara menangkap cangkang siput besar di tangan salah seorang yang berdiri di depan. Mungkinkah peredam suara? Saat ini bukan waktunya menduga-duga dan berkesimpulan. Saat ini adalah waktu untuk bertindak. Bintang Tenggara segera menarik lengan si gadis… dan segera mereka berlari bersama-sama.

Hampir satu jam berlalu. Berkat hantaman Tinju Super Sakti, mereka mendapat kesempatan untuk memisah jarak yang cukup lebar dari kelompok yang tadi menyerang. Bintang Tenggara berlari di depan, disusul oleh gadis yang mengenakan pakaian yang sepertinya tak nyaman.

“Kumohon berhenti!” ujar gadis itu ke arah Bintang Tenggara. Suaranya lebut sekali. “Sebaiknya kita bergerak menyusuri sungai.”

Bintang Tenggara menoleh, dan mengangguk. Si gadis lalu mengeluarkan kitab tebal yang tadi sempat ia pegang saat berhadapan dengan kelompok penyerang. Di salah satu halaman, terdapat gambar beberapa lembar daun Sirih Kemuning, lalu ada kapur, buah pinang dan gambir. Si gadis meraih ke permukaan halaman seolah hendak meraih gambar-gambar tersebut. Bintang Tenggara melihat formasi segel, namun hanya diam menyaksikan.

“Plop!” tetiba daun sirih, kapur, buah pinang dan gambir yang tadinya hanya gambar terlihat keluar dan menjadi nyata! Si gadis membungkus kapur, buah pinang dan gambir menggunakan daun sirih dan melemparkan ke dalam mulutnya. Sambil mengunyah, ia meracik satu set lagi dan menyerahkan kepada Bintang Tenggara.

“Aku tak terbiasa nyirih,” ungkap Bintang Tenggara ringan. Apa yang gadis ini pikirkan? Sempat-sempatnya ia menyirih ketika hampir menjadi korban penculikan…

“Cuih!” si gadis meludahkan gumpalan berwarna merah layaknya emak-emak yang baru selesai menyirih. Gumpalan merah pekat yang jatuh di atas tanah lalu menggelembung cepat, semakin cepat membesar. Perlahan gelembung mengambil bentuk layaknya manusia. Bintang Tenggara memerhatikan dengan seksama. Dari wajah, bentuk tubuh, sampai pakaian yang dikenakan sama persis dengan si gadis!

“Reka Tubuh,” ucap si gadis kembali menyerahkan sebungkus sirih yang telah diracik.

Bintang Tenggara mengambil sirih tersebut dan memasukkan ke dalam mulutnya. Ia mulai mengunyah. Kelat. Pahit. Setiap kali ia mengunyah membuat kepala pening. Sama sekali tak enak!

“Cuih!” Bintang Tenggara segera meludah setelah melumat rasa tak enak. Hal yang sama pun terjadi. Kini ada dua Bintang Tenggara!

“Kirimkan perintah menggunakan mata hati. Mereka akan mengecoh para pengejar.”

Keduanya tiba di pinggir sungai. Bintang Tenggara tak hendak berlama-lama. Ia telah menjalankan kewajiban sebagai orang baik, dan sekarang ingin kembali ke kota. Baru saja Bintang Tenggara hendak mengucapkan perpisahan…

“Mohon Kakak Penyelamat berjaga sejenak. Diriku hendak membasuh diri…,” ujar si gadis mulai membuka tutup kepalanya.

Bintang Tenggara tercengang. Rambut si gadis tergerai indah dibelai angin malam. Ia lalu mulai melepaskan pakaian satu persatu. Jemarinya lentik. Beberapa bentuk cincin tersemat di jemari itu, dua di antaranya memiliki batu Biduri Dimensi berukuran kecil.

Seluruh gerakannya sungguh gemulai. Ditambah dengan keanggunan wajahnya, sungguh pemandangan yang tak sepatutnya dilewatkan. Bintang Tenggara tak sadar bahwa dirinya sampai tertegun.

“Apakah Kakak Penyelamat hendak menonton diriku membasuh diri?” si gadis berujar pelan.

Bintang Tenggara sontak tersadar. Ia pun segera memutar tubuh dan membelakangi si gadis yang mulai membuka pakaian. Akhirnya, ia putuskan untuk melangkahkan kaki menjauh, mengamati situasi sekeliling. Namun, sempat ia menoleh ke belakang sekali lagi ingin memastikan bahwa tak ada yang membuntuti mereka…

Saat itulah Bintang Tenggara menyaksikan kulit cerah seolah menjadi sinar penerang malam. Mulus, bahkan mungkin membuat bulir-bulir air sungai tak akan menempel di kulitnya, karena akan langsung jatuh berguguran. Sang gadis hanya mengenakan pakaian dalam. Kedua payudaranya belum sepenuhnya tumbuh, pinggulnya pun seperti baru hendak mekar.

Si gadis hanya menatap Bintang Tenggara, yang tetiba terlihat kikuk dan akhirnya pergi menjauh…

“Namaku Lampir Marapi. Biasanya aku dikenal sebagai Nona Lampir. Aku putri dari Gubernur Pulau Dua Pongah,” ucap si gadis yang kini telah berganti pakaian. Ia mengenakan terusan yang lebih sederhana, gelap warnanya. Akan tetapi, di kepalanya masih bertengger kain tutup kepala yang mirip tanduk kerbau, serta memakai selempang di bagian bahu.

“Tutup kepala ini bernama Tingkuluak,” ujar Lampir Marapi menanggapi keheranan Bintang Tenggara. “Pakaian ini merupakan ciri khas daerah asal keluargaku di wilayah barat Pulau Barisan Barat.”

Wilayah barat Pulau Barisan Barat? Bintang Tenggara membatin. Kampung halaman Kakak Panggalih Rantau?

“Diriku mengucapkan terima kasih karena Kakak Penyelamat bersedia menolong,” ujar Lampir Marapi. “Diriku dapat merasakan bahwa Kakak Penyelamat tak memiliki maksud jahat. Mohon Kakak Penyelamat bersedia mengantarkan diriku ke ibukota.”

Bintang Tenggara hanya terpana menyaksikan gadis bernama Lampir Marapi itu. Pembawaannya sungguh anggun. Setiap kata-katanya lembut bagai angin sepoi-sepoi di petang nan damai. Wajahnya yang berbentuk oval demikian memesona. Bahkan, tak ditemukan ada cela dari raut wajah itu.

Lampir Marapi menyibak senyum. Senyuman itu kemudian menyirap dan meluluhkan hati Bintang Tenggara.



Catatan:

*) Kutipan dari puisi bertajuk ‘Aku’, karangan sastrawan nusantara, Chairil Anwar.